
Mereka semua nampak begitu senang karena sebentar lagi mereka akan berlibur ditempat yang sangat jauh, Sarah pun nampak begitu bahagia kali ini, akan tetapi ekspresi semua orang berbanding terbalik dengan Nadhira yang nampak sedang membendung sebuah air mata dan rasa sakit yang ada didalam hatinya.
"Maaf ya Dhira telat" Ucap Nadhira ketika melihat semuanya sudah berkumpul dihalaman depan dengan berpura pura bahagia didapan semuanya.
"Ngak apa apa Non, kapan lagi kita akan berlibur seperti ini" Ucap Bi Sari dengan semangatnya.
"Soal liburan saja kau begitu semangat, kalau kerja pun pasti ngak sesemangat ini" Ejek Pak Mun.
"Biarin asal bisa liburan".
"Sudah sudah, ayo masuk kedalam mobil" Ucap Nadhira menengahi keduanya.
"Baik Non".
Sarah segera menggandeng tangan Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya, sementara Bi Ira dan juga Bi Sari segera duduk dibelakang Nadhira bersama dengan Pak Santo, sementara Pak Mun duduk didepan untuk menyopir dengan seorang satpam baru yang baru saja bekerja dirumah Nadhira, yang namanya adalah Pak Yono.
Mobil tersebut segera bergegas meninggalkan halaman rumah itu, dan satpam yang dipercaya oleh Nadhira didalam perusahaannya segera mengunci pintu gerbang rumah tersebut dari dalam.
Mobil itu melintasi jalanan yang semakin lama semakin menjauh dari rumah Nadhira, dan Nadhira memandangi kearah jalanan tersebut dengan perasaan yang entah tidak karuan.
"Aku tidak tau kapan aku akan kembali, ku harap disaat itu, aku sudah bisa melupakan dirimu Rifki, kau harus hidup bahagia tanpa adanya diriku disampingmu" Batin Nadhira.
"Semoga kedua orang tua Rifki secepatnya menyetujui hubungan keduanya, aku merasa sangat sedih ketika melihat Nadhira sedih seperti itu, Ya Allah, bukakanlah pintu hati untuk kedua orang tua Rifki, agar Rifki dan Nadhira bisa bersama untuk selamanya" Batin Bi Ira yang melihat Nadhira menatap keluar disepanjang perjalanan.
*****
Rifki telah sampai didalam rumahnya, Haris dan Putri langsung menyuruh untuk istirahat didalam kamarnya, sementara Ayu yang melihat kedatangan Rifki dia begitu bahagia dan langsung memeluk Kakak tercintanya itu.
"Kakak" Sapa Ayu.
"Ayu, biarkan Kakakmu istirahat dulu, dia baru saja pulang dari rumah sakit Ay".
"Ngak mau, aku maunya bersama dengan Kakak, lagian Kakak juga pasti lelah karena istirahat terus terusan dirumah sakit".
"Biarkan saja Ayu bersamaku Ma, lagian Ayu tidak akan mencelakai diriku juga kok Ma" Ucap Rifki.
"Ya sudah kalau begitu, Ay temani Kakakmu dikamar ya, jagain dia".
"Siap Ma".
Ayu segera menuntun Rifki menuju kekamarnya dengan perlahan lahan, ia tau bahwa Kakaknya kini tengah terluka dan oleh sebab itu dirinya tidak berani untuk membuat Kakaknya kesakitan karena langkah kakinya yang cepat.
Ayu segera membantu Rifki untuk duduk didalam diatas ranjang yang ada dikamarnya dengan perlahan lahan, Rifki hanya tersenyum melihat tingkah Adiknya itu, entah sejak kapan dirinya menjadi selembut itu kepadanya.
"Kak, apa itu sakit?" Tanya Ayu dengan meringis sambil menunjuk kearah perut Rifki.
"Apanya Ay?" Tanya Rifki keheranan, dirinya tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Adiknya itu.
"Luka diperut Kakak itu lo, apa itu sakit?"
"Oh, luka ini maksudmu?" Tanya Rifki dan langsung dibalas anggukan oleh Ayu dengan cepat, "Ngak sakit lah, ada apa tanya tanya gitu? Apa kau mau mencobanya Ay?"
"Is Kakak mah sensi banget sih sama Adik sendiri, aku kan hanya bertanya dengan baik baik, ngak usah ngegas juga kali".
"Sini duduk samping Kakak"
Rifki menarik tangan Adiknya itu dan langsung membuat Ayu terduduk tiba tiba disamping Rifki, Ayu merasa terkejut dengan hal itu, meskipun Rifki baru pulang dari rumah sakit akan tetapi dirinya mampu membuat Ayu jatuh terduduk disebelahnya.
"Bisa ngak sih Kak, jangan kasar seperti itu dengan Ayu, Ayu kan bukan anak kecil lagi, kenapa harus ditarik tarik seperti itu sih? Ayu kan bukan tali tambang" Gerutu Ayu dengan wajah sebalnya kepada Rifki.
"Sejak kapan kau tumbuh dewasa Ay? Yang Kakak lihat kau hanyalah gadis kecil, kecil sekecil kelingking Kakak".
"Sebel deh sama Kakak, Ayu sudah dewasa tau, awas nanti aku bilangin ke pacarku".
"Apa?! Kau pacaran? Masih kecil juga main pacar pacaran kalau gede mau jadi apa kau ini ha? Siapa pacarmu itu? Minta dihajar oleh Kakak apa?" Tanya Rifki dengan nada sedikit tinggi ketika mendengar ucapan Adiknya itu.
"Kenapa sih Kakak emosian mulu".
__ADS_1
Rifki menatap tajam kearah Adik perempuannya itu sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya, sementara Ayu hanya menatapnya dengan rasa ketakutan, Rifki segera menjitak kepala Adiknya itu.
"Akh... Sakit Kak".
"Katakan kepada Kakak! Mau jadi apa kamu pacar pacaran diusia seperti ini? Mau Kakak masukkan kedalam asrama sekarang juga?".
"Jangan Kak, Kakak sudah tidak sayang lagi kepada Ayu" Rengek Ayu.
"Jawab pertanyaan Kakak Ay, besok Kakak akan mengantarmu ke asrama, sekarang bereskan barang barangmu Ay, Kakak tidak mau adanya penolakan sedikitpun itu!".
"Kak, Ayu ngak mau masuk ke asrama Kak, tolong jangan masukkan Ayu kesana, Ayu maunya dirumah sama Kakak, di asrama ngak enak Kak".
"Kata siapa di asrama ngak enak? Apa Ay sudah tidak mau dengarkan Kakak lagi?".
"Bukan begitu Kak, jangan marahin Ayu lagi".
"Kamu masih kecil Ay, wajarlah kalau Kakak marah kepadamu, diusiamu seperti ini seharusnya banyak belajar bukan berpacar pacaran, Kakak tidak mau dengar apapun soal itu, kalau kau berani macam macam Kakak akan menghajar anak itu".
"Ngak ngak Kak, tadi Ayu hanya bercanda saja kok Kak, Ayu tidak pernah berpacar pacaran seperti yang lainnya Kak, beneran deh sumpah" Ucapnya sambil mengangkat tangannya.
"Beneran?"
"Iya Kakak, lagian Kak Rifki tidak ada tandingannya dihati Ayu, Ayu juga ingin mempunyai lelaki seperti Kakak yang baik hati".
"Awas saja ya, kalo Ayu berani bohongin Kakak lagi, Kakak tidak akan segan segan memasukkan Ayu kedalam asrama, Kakak tidak suka kalo Adek Kakak berpacar pacaran seperti itu".
"Iya Kakak, Ayu janji, tapi Kakak jangan masukkan Ayu kedalam asrama ya?".
"Baiklah Kakak pegang janjimu itu Ay".
"Makasih Kakak, sayang deh sama Kakak Ayu yang tampan ini".
"Sudah sudah, tolong ambilkan Kakak minum Ay, Kakak sangat haus".
"Kakak mau minum apa? Teh? Susu hangat? Atau minuman yang lainnya".
"Baiklah Kak, Kakak tunggu sini, biar aku buatkan dulu untuk Kakak".
Ayu segera bergegas keluar dari kamar Rifki untuk membuatkan minuman untuk Rifki, sementara Rifki menatap kearah cendela yang ada dikamarnya itu, Rifki masih kepikiran dengan Nadhira karena bahkan sampai sekarang Nadhira tidak membalas pesannya ataupun menelfon balik kepadanya.
"Kemana kau sebenarnya Dhira? Kenapa kau tidak datang untukku hari ini? Apa kau baik baik saja? Kenapa kau melupakan hari ini Dhira, bahkan kau juga tidak memberitahukan apapun kepadaku" Guman Rifki pelan.
Rifki merasa sangat sedih karena ketidak hadiran Nadhira kali ini, padahal Nadhira sendiri yang mengatakan bahwa dirinya akan menemani Rifki untuk pulang dari rumah sakit hari ini.
*****
Beberapa minggu kemudian, Rifki sudah pulih dari sakitnya, dan pagi ini dia berniat untuk mendatangi Nadhira karena dirinya sama sekali tidak mengetahui kabar tentang Nadhira, anak buahnya pun mengatakan bahwa Nadhira sama sekali tidak keluar dari rumahnya beberapa minggu belakangan ini bahkan hanya sekedar pergi bekerja.
"Dhira, sebenarnya apa yang terjadi dengan dirimu, kenapa sampai sekarang pun kau tidak pernah menghubungiku ataupun datang untuk menemuiku, dimana kau sebenarnya Dhira".
Karena kepergian Nadhira waktu itu tidak dilihat oleh mereka sehingga mereka mengira bahwa Nadhira masih ada didalam rumah tersebut akan tetapi dirinya sama sekali tidak keluar dari rumahnya.
"Kenapa rumahnya begitu sepi dan banyak dedaunan yang belum disapu ditempat ini?" Guman Rifki.
Rifki pun mendatangi rumah Nadhira, akan tetapi rumah itu terlihat begitu sunyi seperti tanpa ada yang menghuninya, ketika dirinya sampai digerbang rumah Nadhira, dua orang satpam yang tidak ia kenali segera bergegas mendatangi Rifki.
Rifki memandangi keduanya dengan rasa keheranan karena sebelumnya Rifki belum pernah melihat kedua orang yang berjaga ditempat itu sekarang, yang dirinya kenal hanyalah Pak Santo yang biasanya berjaga dipos rumah Nadhira.
"Mencari Non Dhira ya Mas?" Tanya satpam itu ketika Rifki berada didepan pintu gerbang rumah Nadhira.
Rifki pun mengangguk kearah keduanya itu seraya berkata, "Iya Pak, apakah Nadhira ada dirumah sekarang? Kenapa rumahnya terlihat begitu sepi? Kemana dirinya pergi Pak?" Tanya Rifki balik.
"Wah... Apa Non Dhira tidak memberitahukan kepada Mas sebelumnya, kalau Non Dhira pergi keluar kota beberapa minggu yang lalu?".
"Keluar kota beberapa minggu yang lalu? Kenapa dia tidak memberitahukan hal ini kepadaku? Oh iya Pak, apa Bi Ira ada didalam? Bisakah aku bertemu dengannya sebentar Pak? Tolong panggilkan dia Pak, aku ingin berbicara kepadanya".
"Bi Ira? Maaf sebelumnya Mas, tapi didalam tidak ada siapa siapa Mas, seluruh penghuni rumah ini juga ikut pergi keluar kota bersama Non Dhira waktu itu, termasuk juga satpam yang biasanya bekerja disini yang biasanya menjaga rumah ini".
__ADS_1
"Sama sekali tidak ada orang didalamnya? Kenapa dia pergi keluar kota dengan seisi rumah? Apakah telah terjadi sesuatu dengan Nadhira? Kapan dia akan pulang Pak?".
"Kalo soal itu saya tidak tau Mas, Non Dhira sendiri tidak memberitahukan hal itu kepada saya sebelum dia pergi waktu itu Mas, saya hanya ditugaskan untuk berjaga disini sampai dia kembali, soal kembalinya pun saya tidak mengetahuinya Mas".
"Tapi kenapa nomor hpnya juga tidak bisa dihubungi Pak? Apa Bapak tau nomor hpnya saat ini yang bisa untuk dihubungi? Aku hanya merasa sangat cemas dengan keadaan Nadhira Pak".
"Maaf sebelumnya Mas, kami juga sudah berusaha untuk menghubungi Non Dhira beberapa minggu belakangan ini sebelumnya, tapi telfon kami juga sama sekali tidak dijawab olehnya, jadi kami tidak mengetahui kapan dirinya akan kembali".
"Dhira.., kemana kau pergi, kemana aku harus mencarimu Dhira, Pak apakah sebelum dia pergi, dia mengatakan sesuatu kepada Bapak?"
"Nona Muda tidak mengatakan apapun Mas, beberapa hari yang lalu juga ada seseorang yang menanyakan hal yang sama seperti yang Mas katakan ketempat ini".
"Kalo boleh tau siapa Pak?"
"Kalo ngak salah dia juga anggota geng motor Mas, tapi saya lupa namanya".
"Mungkin itu adalah Theo" Guman Rifki.
"Nah itu namanya Mas, soalnya anggota geng motornya juga menyebutkan nama itu".
"Ya sudah Pak, kalau begitu saya permisi dulu Pak" Ucap Rifki dengan nada lesunya.
"Iya Mas, mungkin Mas bisa menanyakan langsung kepada Bu Citra yang kini menjadi sekertarisnya".
"Baik Pak, terima kasih atas infonya".
"Iya Mas, sama sama".
Rifki segera meninggalkan tempat tersebut, entah kenapa Nadhira sama sekali tidak memberitahukan hal ini kepadanya, Rifki pun segera menuju ketempat perusahaan Nadhira untuk menemui orang yang bernama Citra itu, karena Citra adalah sekertarisnya mungkin dirinya mengetahui tentang Nadhira.
"Tolong panggilkan Citra sekarang juga" Ucap Rifki kepada salah satu satpam yang menjaga dipintu utama perusahaan tersebut.
"Maaf Tuan, apakah anda sudah memiliki janji dengan Bu Citra sebelumnya? Beliau tidak bisa ditemui oleh sembarang orang Tuan" Jawabnya.
"Cepat panggilkan dia! Atau kalian ingin bermain main dengan perusahan Abriyanta Groub?"
"Ba baik Tuan, kami akan segera memanggilnya Tuan, mohon Tuan tunggu diruang tamu".
Rifki pun segera duduk ditempat yang dimaksud oleh satpam tersebut, satpam yang tengah berjaga ditempat itu pun segera berlarian untuk memanggilkan Citra karena dirinya tidak ingin bermain main dengan perusahaan Abriyanta Groub yang dikenal memiliki pengaruh kuat bagi negara ini.
Setelah sekian lama menunggu kedatangan Citra ditempat itu, tak beberapa lama kemudian akhirnya Citra keluar dari ruangannya dengan terburu buru dan dirinya segera bergegas menemui Rifki yang sudah lama menunggunya ditempat tersebut.
"Maaf Tuan telah menunggu kedatangan saya cukup lama, ada apa ya? Kenapa Tuan mencari saya? Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Citra kepada Rifki.
"Kemana Nadhira pergi beberapa minggu belakangan ini? Kenapa nomornya sangat sulit untuk dihubungi? Apa yang terjadi dengan Nadhira?" Tanya Rifki langsung to the poin kepada Citra.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa memberitahukan hal itu kepada siapapun, Nona Muda sendiri telah meminta kepada kami agar tidak mengatakan hal itu kepada siapapun yang menanyai tentang kepergiannya, siapapun itu tanpa terkecuali, kami hanya menjalankan perintah saja darinya".
"Kenapa dia pergi seperti itu? Apa telah terjadi sesuatu dengan Nadhira selama ini? Bertahu aku sekarang juga!".
"Maaf Tuan, kami tidak berani untuk melakukan itu, kami hanya mematuhi ucapan atasan kami saja".
"Aku bisa saja menghancurkan perusahaan ini dan memecat dirimu sekarang juga! Cepat katakan kepadaku! Apa yang terjadi dengan Nadhira!"
"Kami minta maaf yang sebesar besarnya Tuan, bahkan Nona Muda sendiri juga sangat sulit untuk dihubungi, sebelum pergi Nona Muda mengatakan bahwa dia ingin menenangkan pikirannya kepada kami, dia juga bilang 'kemana pun aku pergi, jangan pernah mencari diriku, jika perasaanku sudah tenang maka aku akan kembali dengan sendirinya' seperti itulah yang dia katakan kepada kami".
Brakkk
Rifki pun menggebrak meja yang ada didepannya dengan sangat kerasnya, hal itu seketika membuat Citra memejamkan matanya dan dirinya hampir lupa untuk bernafas karena hal itu.
Nadhira berpesan kepadanya sebelum dirinya pergi bahwa apapun yang akan dilakukan oleh Rifki, jangan pernah sekalipun memberitahukan hal ini kepadanya, meskipun dia mengancam akan menghancurkan perusahaan tersebut, ataupun melakukan sesuatu didalam perusahaan itu nantinya.
"Kami benar benar tidak tau kemana perginya Nona Muda, tolong tenangkan diri anda dikantor ini Tuan, jika perasaannya sudah tenang maka dia akan kembali dengan sendirinya Tuan, kami juga tidak tau kapan dia akan kembali Tuan".
"Jika perasaannya tenang? Apa telah terjadi sesuatu dengan Nadhira yang tidak aku ketahui?" Pertanyaan Rifki yang sedikit melunak.
"Untuk soal itu kami tidak tau Tuan, kami tidak berani ikut campur masalah Nona Muda, kami takut bahwa Nona Muda akan sangat marah kepada kami".
__ADS_1
"Dhira kau dimana? Apa yang terjadi dengan dirimu?" Guman Rifki pelan.