
Entah berapa jam keduanya berada diatas sepeda motor tersebut, Rifki pun mengajak Nadhira untuk berhenti disebuah masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur karena adzan sudah berkumandang.
"Kita sholat dulu disini sayang, setelah itu kita jalan jalan lagi" Ucap Rifki.
"Tapi aku lupa ngak bawa mukenah Rif"
"Didalam kayaknya ada deh mukenah yang disediakan untuk pendatang"
Nadhira lalu mengangguk kepada Rifki, kedua orang itu langsung menuju ketempat wudhu mereka masing masing, tempat wudhu wanita berada disisi kiri sementara laki laki berada disisi kanan, setelah selesai wudhu keduanya langsung masuk kedalam masjid dibagian mereka masing masing.
Nadhira bergabung dengan ibu ibu yang akan melaksanakan sholat berjamaah disana, sementara Rifki bergabung dengan para lelaki untuk melaksanakan kewajibannya disiang itu.
Setelah selesai Nadhira segera melepas mukenahnya dan melipatnya kembali seperti sebelumnya, ia pun kembali memakai jilbabnya yang sebelumnya ia lepas untuk memakai mukenahnya.
"Mbaknya cantik dan imut sekali" Puji salah satu wanita yang ikut sholat berjamaah.
"Terima kasih Bu, atas pujiannya" Ucap Nadhira sambil mengusap perutnya yang sedikit besar itu.
"Mbaknya sedang hamil ya" Ucap orang itu ketika melihat perut Nadhira.
"Alhamdulillah Bu, Allah telah mempercayakan kepada kami seorang malaikat kecil"
"Sama Mbak, saya masih satu bulan dan hamil anak kedua, melihat wajah Mbak membuat saya merasa gemes, boleh saya memegang pipi Mbak? Kali aja wajah anak saya nanti imut dan cantik seperti Mbak"
"Boleh kok Bu" Jawab Nadhira.
Dengan perlahan lahan wanita itu memegang pipi Nadhira, wajah wanita itu nampak berbinar binar ketika merasakan kedua pipi Nadhira nampak begitu halus dan lembut, memang ngidam seorang ibu hamil itu berbeda beda.
"Makasih ya Mbak"
"Sama sama Bu, semoga janinnya sehat sehat ya Bu"
"Aamiin, doa yang baik semoga kembali kepada pengirimnya yang paling terbaik, oh iya Mbaknya datang kemari sendirian?"
"Bersama suami saya Bu, itu dia orangnya" Nadhira menunjuk kearah Rifki yang baru keluar dari dalam masjid besar itu.
"Ya sudah saya permisi dulu ya Mbak, masih ada urusan dengan keluarga saya"
"Iya Bu"
Wanita itu menepuk dua kali pundak Nadhira dan berlalu pergi dari sana, sementara Nadhira bergegas untuk mendatangi Rifki dan langsung meraih tangan Rifki untuk menciumnya, hal itu sudah menjadi kebiasaannya setelah selesai sholat berjamaah bersama dengan Rifki.
"Siapa dia sayang?" Tanya Rifki.
"Ngak kenal sayang, oh iya dia lagi hamil juga dan masih berumur sebulan katanya, dia lagi ngidam pengen menyentuh pipiku tadi Rif"
"Oh, ya sudah ayo jalan jalan lagi"
"Ayo!" Nadhira kembali bersemangat.
Nadhira dan Rifki berlalu pergi dari sama menuju ketempat dimana Rifki memarkirkan sepeda motornya, keduanya langsung pergi dari sana untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Rif, tiba tiba aku pengen martabak manis yang ada dipinggir jalanan biasanya itu loh, ayo beli sekarang" Ucap Nadhira ditengah tengah perjalanan.
"Jam segini masih belom ada Dhira, belom buka".
Jawaban itu langsung membuat Nadhira terlihat lesu, tanpa sengaja Nadhira melihat sebuah rombong martabat manis ditepi jalan dan menyuruh Rifki untuk menghentikan sepedah motornya.
"Masih belom buka sayang" Ucap Rifki setelah berhenti ditepi jalan.
"Itu ada nomor telponnya sayang, coba kau telpon dulu sayang" Ucap Nadhira yang melihat nomor telepon tertera dirombong itu.
"Iya deh, bentar aku catat dulu"
Rifki lalu mengeluarkan ponselnya untuk mencatat nomor telepon itu, dan langsung menelponnya sesuai dengan permintaan dari Nadhira, tak beberapa lama kemudian akhirnya telpon tersebut diterima oleh orang yang ada diseberang sana.
"Assalamualaikum Pak, Bapak yang jualan martabak manis ya" Ucap Rifki ketika sudah terhubung.
"Waalaikumussalam iya Mas, ada apa ya Mas?" Jawab seseorang dari sebrang telpon yang sengaja di lostpicker ( diperkeras suaranya ).
"Saya mau beli martabak manis Pak"
"Maaf Mas, belom buka kalo untuk saat ini, biasanya bukanya sore Mas"
"Diusahakan sekarang ngak bisa apa Pak? Istri saya lagi hamil Pak, lagi ngidam pengen martabak manis"
"Ngak bisa Mas, belom buat adonannya"
"Saya bayar dobel deh Pak, mohon kerjasamanya"
"Baik Mas, saya siapkan dulu, sebentar lagi saya akan datang kesana"
"Iya Pak, ditunggu"
Rifki pun memutuskan sambungan telponnya itu dan mengajak Nadhira untuk duduk didalam warung martabak manis itu sambil berteduh untuk menunggu penjual martabak manis itu datang.
Satu jam kemudian
__ADS_1
"Rif, kok belom datang datang sih, lama banget"
"Sabar sayang, penjualnya masih buat adonannya"
"Aku haus"
"Kamu tunggu disini saja, aku belikan kamu jus buah dulu disebrang sana ya, disini aja jangan kemana mana nanti kamu capek" Ucap Rifki sambil menunjuk kearah penjual jus buah.
"Jangan lama lama"
Rifki mengangguk kepada Nadhira dan langsung melenggang pergi dari sana meninggalkan Nadhira, setelah kepergian dari Rifki tiba tiba dua orang pedagang martabak manis itu datang untuk menemui pembelinya.
"Mbak yang pesan martabak manis?" Tanya Penjual tersebut kepada Nadhira.
"Iya, Bapak yang jualan?" Tanya Nadhira balik.
"Iya Mbak, maaf ya Mbak lama nungguinnya, soalnya nunggu adonannya mengembang dulu tadi, dan juga jarak dari rumah saya agak jauh Mbak"
"Iya ngak apa apa Pak"
"Mbak mau dikasih toping apa martabaknya?"
"Martabak manis rasa coklat satu bungkus Pak, suami saya tadi bilang kalo jualan Bapak mau diborong olehnya juga, jadi untuk yang lainnya rasanya campur campur saja Pak"
Rifki merasa tidak enak jika harus membeli hanya satu bungkus saja akan tetapi sangat merepotkan penjualnya sehingga ia ingin memborong semuanya dan membagi bagaikan kepada anggota Gengcobra yang ada dimarkas.
Rifki juga telah meminta kepada Bayu untuk mengambil martabak manis tersebut menggunakan mobil pribadinya, saat ini Bayu sedang berada didalam perjalanan menuju ketempat dimana Nadhira dan Rifki membeli martabak manis itu.
"Mau beli semuanya Mbak?" Tanya pedagang itu seraya memastikan apa yang ia dengar sebelumnya.
"Iya Pak, untuk yang martabak manis rasa coklat itu full coklat dan susu ya Pak"
"Baik Mbak"
Rifki datang membawakan dua buah cup jus buah, dan memberikan jus buah alpukat kepada Nadhira sementara dirinya sendiri tengah meminum jus jambu merah, tanpa berkata kata lagi Nadhira segera menikmati jus tersebut begitupun dengan Rifki karena rasa hausnya itu.
*****
Disebuah tempat terdapat beberapa orang laki laki dan seorang perempuan, mereka tengah mengobrol dengan seriusnya, nampak sekali wanita tersebut terlihat begitu marah dan kecewa.
"Apa kau masih mengharapkan lelaki itu?" Tanya salah satu laki laki yang ada disana.
"Dia sudah menikah, tidak mungkin aku bisa merebutnya kembali, aku tidak akan mungkin mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan hati Rifki" Ucap sang wanita.
"Aku akan membantumu untuk mendapatkannya, kau menginginkan lelaki itu kan? Dan aku menginginkan anak yang ada dikandungan wanita yang menjadi istrinya saat ini"
"Iya, dan sudah tiga bulan dan akan memasuki usia kandungan empat bulan beberapa hari lagi, aku akan menculik wanita itu dan akan menyekapnya untuk mengambil anaknya"
"Kenapa begitu? Anaknya kan tidak salah"
"Kenapa kau membela wanita itu? Bukankah kau sangat membencinya?"
"Aku memang sangat membencinya, dan aku ingin dia mati secepatnya!"
"Itu soal gampang, setelah dia melahirkan maka aku akan menjadi malaikat maut untuknya, sementara kau bisa memilikinya setelah itu"
"Sepakat, aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan kepada wanita itu, tapi jangan pernah sakiti Rifki karena aku tidak ingin dia terluka"
"Baiklah, kau harus melakukan tugasmu dan aku akan melakukan tugasku"
"Kau memang terbaik Rel, senang bisa berkenalan dengan dirimu"
Lelaki itu tersenyum sangat mengerikan kepada wanita tersebut, entah rencana apa yang telah mereka rencanakan untuk memisahkan Rifki dan Nadhira, siapakah kedua orang itu? Dendam apa yang dimiliki oleh keduanya?
*****
"Rif, beberapa hari lagi usia kandunganku sudah empat bulan, nanti anterin periksa kehamilan rutinan ya" Ucap Nadhira yang kini tengah berada digazebo rumahnya sambil menikmati martabak manis.
Setelah adzan magrib keduanya tengah asik menikmati kebersamaan digazebo halaman rumah mereka, setelah magrib adalah saat yang sangat nikmat untuk dilalui dengan saling bercanda gurau dan menceritakan keluh kesah mereka sepanjang harinya.
"Bukankah selalu aku antar sayang? Aku juga ingin melihat perkembangan anak kita" Ucap Rifki sambil mengusap pelan perut Nadhira.
Tiba tiba Nadhira merasakan sebuah tendangan dari dalam perutnya hingga membuatnya terkejut, Rifki yang merasakan itu pun tak henti hentinya untuk mengusap perut Nadhira karena senangnya.
"Kau merasakan itu Rif? Dia menendang perutku" Ucap Nadhira dengan wajah berseri.
"Iya sayang, dia lagi main gelut gelutan didalam kayaknya sayang, keras banget nendangnya anak Papa ini, Papa makin semangat mau mengajarkan beladiri kepadamu Nak"
"Belom saatnya sayang, biarkan dia tumbuh dewasa dulu baru diajarkan ilmu beladiri"
"Ngak, itu sangat kelamaan, aku maunya usia satu tahun sudah bisa beladiri Dhira, jadi harus belajar dari sekarang ini, ayo Nak tendang lagi kamu pasti bisa Nak" Rifki terus bermain dengan perut Nadhira yang beberapa kali langsung mendapatkan tendangan dari dalam.
"Tapi diusia segitu belom bisa berdiri dengan benar Rifki, ngak boleh, aku ngak mau anak kita tersiksa sejak kecil"
"Mana ada tersiksa? Ngak mungkin lah Papanya akan menyiksa dirinya sejak kecil"
"Jangan jangan kau ingin balas dendam kepada anak kita karena waktu kau kecil sudah diajarkan beladiri?"
__ADS_1
"Sebagai Ayah yang baik untuk anaknya, aku ingin anakku menjadi hebat dan lebih hebat daripada Ayahnya sayang"
"Tapi ngak seperti itu juga sayang, nanti kalo sudah masuk sekolah dasar saja baru diajarkan beladiri"
"Ngak bisa, harus sekarang juga belajar beladirinya"
"Dia kan masih ada diperutku Rif, gimana cara ngajarin beladirinya"
"Ya dengan seperti ini" Rifki pun mencium perut Nadhira hingga membuat janin yang ada diperut Nadhira menendang lagi.
"Sakit Nak, jangan keras keras" Keluh Nadhira yang merasa perutnya sakit ditendang oleh anak yang ada diperutnya itu hingga membuat Nadhira memegangi perutnya itu.
"Bagus Nak, kamu memang sangat pintar" Puji Rifki dengan penuh kemenangan.
"Jadi kamu lebih mendengarkan Papamu daripada Mamamu ini hem?"
"Iyalah kan dia anak Papa"
"Dia anakku, aku yang hamil"
"Tapi aku yang ngehamilin sayang, tanpa usahaku tidak mungkin kamu hamil"
Nadhira pun cemberut mendengar ucapan Rifki, ia lalu mengambil sepotong martabak manisnya dan langsung mengigitnya dengan kasar seperti seekor singa yang tengah memangsa daging hewan yang menjadi buruannya itu
"Sebentar lagi adzan isya', ayo wudhu setelah itu sholat berjamaah" Ajak Rifki.
*****
"Jadi Dhira sudah hamil?" Tanya seorang pria sepuh.
"Iya Ayah, aku belom sempat memberitahukan hal ini kepada Ayah sebelumnya, kini usia kandungannya sudah tiga bulan"
"Inilah yang aku takutkan, kita harus lebih memperketat penjagaan terhadapnya, jangan sampai mereka tau tentang hal ini, atau nyawa Dhira dan anaknya akan dalam bahaya"
"Siapa sebenarnya musuh kita Ayah? Sejak dulu mereka sama sekali tidak beraksi"
"Dia adalah keturunan dari Galih, mereka sedang merencanakan hal ini tiba, anak dalam kandungan Dhira adalah keturunan dari Pangeran Kian dan akan mewarisi keris pusaka xingsi, itulah yang akan membuat mereka mengincar anak yang belom lahir itu, karena mereka akan dengan mudah merebutnya dari seorang bayi"
"Ayah benar, hal itu juga pernah terjadi kepadaku dan harus kehilangan nyawa Ayah Chandra untuk selama lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi"
Iya kedua orang itu adalah Aryabima dan Haris yang saat ini berada didalam goa milik keturunan dari Pangeran Kian yang berada tidak jauh dari desa Mawar Merah yang terbengkalai.
"Hanya kita saja yang tau tentang permata iblis itu, jika mereka tau maka aku tidak akan mampu mengalahkan mereka, dan misi kita untuk menghancurkan keris pusaka xingsi dan permata iblis itu tidak akan terwujud"
"Lalu apa yang harus kita lakukan Ayah? Syaqila yang licik itu sudah mengetahui tentang Rifki, dan dia akan mengatakan kepada keluarga besarnya mengenai keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuh Rifki"
"Ini kesalahan besar, kita tidak tau sosok Syaqila itu seperti apa sebelumnya, yang jelas kita harus lebih memperketat pengamanan disekitar Nadhira"
"Iya Ayah, aku akan memerintahkan anggota inti Gengcobra untuk selalu berada disekitar Nadhira"
"Lakukan itu, jangan biarkan seseorang yang tidak dikenal mendekat kearah Nadhira, dan bertahu juga hal ini kepada Rifki, agar dia lebih berhati hati kepada orang lain begitupun dengan para pembantunya"
"Para pembantunya? Maksud Ayah apa?"
"Rifki akan mengerti maksudku, beritahu saja hal itu kepadanya"
"Baik Ayah"
*****
"Rif, kenapa anggota Gengcobra ada disini?" Tanya Nadhira ketika melihat kedatangan anggota Gengcobra dirumah itu.
"Aku tidak tau Dhira" Rifki sendiri tidak mengerti kenapa anggota Gengcobra datang kerumahnya saat ini.
Rifki baru menyadari bahwa diantara mereka ada Haris yang tengah keluar dari dalam mobil itu, pertanyaan yang ada didalam benaknya akhirnya terjawab juga, dan pastinya anggota Gengcobra datang bersama dengan Haris.
"Papa" Ucap Rifki dan Nadhira sambil mendekat kearah Haris saat ini.
"Assalamualaikum" Ucap Haris.
"Waalaikumussalam" Jawab keduanya serempak sambil mencium tangan Haris bergantian.
"Tumben Papa datang dengan membawa anggota Gengcobra kemari? Ada apa Pa?"
"Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan berdua dengan dirimu Rif, bisa kita ngobrol berdua?"
"Hal penting apa itu Pa? Apa terjadi sesuatu yang sangat serius?"
"Nanti Papa akan jelaskan semuanya kepadamu"
"Kalo begitu Dhira masuk dulu ya, Rif ajak Papa ngobrol didalam saja, ngak enak kalo ngobrol diluar seperti ini, kayak siapa aja" Ucap Nadhira.
"Iya sayang" Jawab Rifki.
...----------------...
...Hayo ada apa ini? Yuk terus ikuti kisahnya, lop lop yang banyak dah buat kalian...
__ADS_1