
Rifki mencari kesana kemari akan tetapi menemukan keberadaan dari Nadhira, dirinya hampir frustasi karena mencari Nadhira kemana mana. Dia tidak bisa membiarkan Nadhira sampai kenapa kenapa, bahkan dia akan menyalahkan diri sendiri ketika Nadhira sampai dalam bahaya.
"Dhira! Kemana aku harus mencari dirimu? Ya Allah.. Beri hamba petunjuk untuk menemukan istri hamba, hamba mohon kepada-Mu. Hanya kepada-Mu hamba meminta pertolongan, dan hanya kepada-Mu hamba memohon."
Rasanya dirinya begitu hancur saat ini, sama sekali tidak mendapatkan petunjuk kemana perginya Nadhira. Surat yang dirinya temukan pun tidak tertulis kemana orang orang jahat itu membawa Nadhira pergi, benar benar tidak ada petunjuk apapun soal keberadaan dari Nadhira.
Rifki pun membuka ponsel miliknya, dirinya mengetikkan sesuatu di ponselnya tersebut. Rifki memiliki nomer ponsel milik Nadhira, karena dulunya Nadhira bekerja dengannya dan merubah identitasnya menjadi Ana.
Rifki mencoba untuk menghubungi nomer tersebut, akan tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari Nadhira. Sementara disatu sisi, Nadhira dan Amanda turun dari mobil pick up setelah sampai didekat desa Flamboyan. Butuh waktu untuk mereka berjalan menuju desa tersebut, apalagi desa itu harus memasuki sebuah hutan terlebih dulu.
"Mungkin disini kita akan aman untuk sementara waktu, Dhira. Sampai Rifki datang ketempat ini," Ucap Amanda.
"Aku tidak berharap dia datang, Manda. Aku hanya ingin dia baik baik saja, aku takut jika dia sampai kenapa napa, aku takut itu."
"Aku tau kalau kau sangat mencintai Rifki, Dhira. Rasa cinta kalian tidak akan mampu untuk dipisahkan walaupun hanya sesaat, dan semoga rasa cinta itu tetap abadi selamanya. Sabarlah, kalian pasti mampu melewati ini semua,"
Nadhira pun menganggukkan kepalanya pelan, pikirannya benar benar kacau saat ini bahkan tidak bisa berpikir dengan jernihnya, untung saja ada Amanda yang mampu membuat Nadhira tidak sampai terlena oleh keadaan seperti saat ini. Sangat sulit rasanya, bahkan ingin sekali dirinya menyerah kepada keadaan, karena telah begitu banyak luka dalam dirinya.
"Aku itu penuh luka, jika bersamaku kau akan terluka, Rif. Mama Putri benar bahwa kita tidak seharusnya bersama, seharusnya kau lebih mendengarkan dia daripada ego mu waktu itu. Maafkan aku, karena aku telah melukaimu. Biarkan aku saja yang terluka, jangan dirimu," Ucap Nadhira dengan linangan air mata.
Amanda dapat merasakan bahwa begitu banyak luka yang dirasakan oleh Nadhira hanya dengan perkataannya, luka yang tidak mampu untuk diceritakan dan tidak akan mampu untuk dirasakan oleh orang lain. Seseorang tidak akan pernah saling memahami sebelum mereka saling merasakan satu sama lain.
"Coba hubungi Rifki, Dhira. Dan beritahu dia bahwa kita ada di desa Flamboyan," Ucap Amanda sambil mengusap pelan punggung Nadhira.
Nadhira menganggukkan kepalanya, dirinya pun mencari ponselnya didalam sakunya. Akan tetapi dirinya tidak menemukannya, Nadhira sebelumnya menaruh ponselnya pada saku pakaian syar'i yang dirinya kenakan itu, akan tetapi dirinya tidak menemukannya.
"Manda, ponselku hilang sepertinya," Ucap Nadhira panik.
"Hilang dimana? Bagaimana bisa hilang, Dhira? Terus bagaimana cara kita menghubungi Rifki kalau seperti ini?" Tanya Amanda yang juga ikut panik.
"Kau tidak membawa ponsel, Manda?"
"Ponselku mati, Dhira. Tadi tanpa sengaja ponselku terbelah jadi dua,"
Amanda pun mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya, dirinya pun menunjukkan kepada Nadhira mengenai keadaan ponselnya itu. Kejadian sebelumnya membuat ponsel itu pecah, bahkan sampai terbelah menjadi dua bagian.
"Kalau ponselku bisa aku gunakan sejak awal, aku tidak akan memintamu untuk menghubungi Rifki, Dhira. Aku menyuruhmu karena ponselku tidak bisa digunakan," Tambah Amanda.
"Terus kita harus bagaimana?"
Amanda pun menempelkan tangannya di dagunya seraya berpikir harus bagaimana selanjutnya, pada saat itu juga Nadhira menatap kearah Amanda. Pandangan Nadhira tertuju kepada pergelangan tangan Amanda, disana tersemat kan sebuah gelang tangan warna hitam dengan ukiran yang tidak asing bagi Nadhira.
"Manda, gelang ini..." Nadhira tidak mampu menyelesaikan perkataannya, dan mendengar itu Amanda langsung menyembunyikan tangannya kebelakang.
"Bukan apa apa," Ucap Amanda dengan cepat.
"Apa kau adalah wanita itu?" Tanya Nadhira sambil menatap lekat lekat kedua mata hitam milik Amanda.
Amanda pun menganggukkan kepalanya pelan, dirinya tau apa yang dimaksud oleh Nadhira saat ini. Nadhira pun menarik nafas dalam dalam ketika melihat anggukan kepala Amanda, bahkan dirinya tidak mempercayai apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Aku sudah mengetahui semuanya, Dhira. Ibu kandungku sudah tiada, tanpa aku tau siapa dia. Awalnya aku tidak bisa menerima kenyataannya, tapi dengan diam diam aku melakukan tes DNA dengan Mama Sena dan ternyata tidak cocok. Sapta sudah menjelaskan semuanya kepadaku, awalnya aku memberontak disaat dia mengatakan semuanya itu, tapi aku sadar kau yang paling terluka dengan ini semua, Dhira."
"Aku tau perasaanmu, Manda. Berat rasanya untuk menerima sebuah kenyataan, tapi itulah takdirnya Manda, kamu yang sabar ya. Semoga almarhum Ibu kamu tenang di alam sana,"
"Dhira, maafin aku ya selama ini sudah jahat kepada dirimu, bahkan aku pernah hampir membunuhmu waktu itu. Aku menyesali semuanya, aku ingin meminta maaf kepadamu sejak dulu, tapi aku takut untuk melakukannya, aku takut kau semakin membenciku dan menyuruhku untuk pergi jauh dari hidupmu."
"Aku tidak pernah membenci dirimu, Manda. Karena aku tau bahwa kau terpengaruh sama Sena waktu itu, aku hanya membenci sifatmu bukan dirimu. Tapi sekarang, sama sekali tidak ada kebencian untukmu dalam hatiku, Manda."
"Makasih Dhira, kau begitu baik kepadaku. Selama ini aku tau bahwa kau masih hidup bahkan setelah jatuh dari jurang waktu itu, ketika kau diculik aku berusaha untuk memberitahu Rifki keberadaanmu meskipun melalui pesan misterius,"
Tanpa berlama lama lagi, Nadhira pun langsung menghamburkan pelukannya kepada Amanda. Merasakan itu membuat Amanda memeluk balik Nadhira, kedua saudara itu saling melepaskan maaf untuk mengeratkan hubungan keduanya yang pernah sangat renggang, bahkan tidak ada jalan untuk bisa menyatukan keduanya.
Nadhira berpikir bahwa dirinya dan Amanda tidak akan pernah bisa bersama, bahkan keduanya terlihat seperti bermusuhan. Akan tetapi takdir berkata lain, ternyata takdir sendiri lah yang telah menyatukan keduanya seperti ini indahnya, bahkan tanpa pernah diduga sekalipun itu.
Setelah sekian lama keduanya tidak pernah bertemu, Nadhira sendiri tidak mengetahui apa saja yang pernah terjadi kepada Amanda, akan tetapi Amanda tau jejak langka Nadhira selama ini. Amanda selalu mengawasinya, bahkan terus berusaha untuk melindunginya dengan kemampuan yang dirinya bisa.
Amanda terus berjuang meskipun tidak diketahui oleh siapapun, bahkan Nadhira sendiri tidak pernah menyangka bahwa Amanda adalah seorang wanita yang selalu menyelamatkan dirinya selama ini. Amanda melakukannya dengan diam diam agar tidak ada yang curiga kepadanya, bahkan rencananya itu hanya diketahui olehnya saja tanpa pernah melibatkan orang lain selain Sapta.
"Apa kau juga yang membantuku setelah terjatuh waktu itu?" Tanya Nadhira setelah sekian lama mereka berpelukan, dan dirinya melepaskan pelukannya itu sambil memegangi kedua pundak Amanda.
"Iya, mereka semua menginginkan dirimu bahkan bayimu waktu itu. Aku tidak mau keponakanku itu sampai kenapa kenapa, oleh karena itu aku datang mencarimu dan untung saja semuanya belum terlambat. Aku juga yang telah membuat kalian terusir dari desa dengan memberitahu para warga bahwa bayi yang kau kandung adalah anak haram, maafkan aku karena aku terpaksa melakukan itu untuk menyuruhmu pergi dari sana. Setelah ke pergianmu, orang orang jahat itu datang dan memporak porandakan semuanya karena tidak menemukan dirimu dan anakmu."
"Kau tau bahwa mereka akan datang mencariku, bagaimana kau bisa tau soal itu, Manda?"
"Kau ingat tentang Clara? Temanmu waktu sekolah dulu," Tanya Amanda.
Nadhira pun mengingat ingat tentang nama itu, nama yang sudah ia lupakan sejak dulu. Nama itu tidak asing baginya, karena wanita itu pernah berkelahi dengan Nadhira dan wanita itu pernah berusaha untuk merebut Rifki darinya. Sosok gadis yang angkuh karena Ayahnya adalah seorang kepala yayasan tempat dimana Nadhira pernah menimba ilmu disana.
"Dia pernah berselisih denganmu, kan?"
"Iya. Memang apa hubungannya dia dengan masalah ini?"
"Dirinya pernah bergabung dalam sebuah geng waktu itu, dan mengajakku untuk bergabung dengannya. Aku menyetujui soal itu, dan Clara juga menyuruhku untuk mencelakakan dirimu. Geng yang diikuti oleh Clara ternyata adalah sebuah komunitas yang ingin merebut permata iblis dan keris pusaka xingsi. Dari sana lah aku tau pergerakan mereka, karena aku juga bagian dari mereka. Tapi jangan salah paham soal itu, aku bergabung dengan mereka untuk mengetahui langkah mereka dan melindungimu."
"Untuk apa kau melakukan semuanya ini, Manda? Bagaimana jika kau kenapa kenapa karena berkhianat kepada mereka?"
"Lebih baik aku kenapa kenapa karena tindakanku untuk melindungi kalian, daripada aku tidak bisa berbuat apa apa untuk membalas kebaikanmu kepadaku. Kau sering menyelamatkan diriku bahkan tanpa mempedulikan nyawamu yang ada diambang batas, dan aku begitu jahat sampai sampai tidak pernah menghargai perjuanganmu, Dhira. Kini giliran diriku yang akan berkorban untukmu, bahkan jika aku harus mati sekalipun itu aku sudah ikhlas."
"Tidak. Tidak ada yang boleh mati disini, entah itu kau ataupun Rifki."
"Lantas bagaimana dengan dirimu? Jangan egois, Dhira. Kau memang tidak mempedulikan nyawamu, tapi apa kau tau ada seseorang yang takut kehilangan dirimu, dia adalah suamimu, Dhira. Lindungi nyawamu karena itu berarti bagi Rifki, bukan untuk dirimu melainkan untuk suamimu. Hidup tanpa seseorang yang dicintai akan terasa sangat sunyi, itulah yang dirasakan oleh Rifki selama ini tanpa dirimu ketahui."
"Kau tau banyak tentang diriku, Manda. Kau tau alasanku kenapa tidak kembali kepada Rifki selama ini?"
"Aku tau itu, kau melakukan itu karena Kinara, bukan? Dan sekarang dia sudah besar, dia juga berhak tau siapa Ayahnya, dan pastinya dia bakalan terus mencari tau soal itu meskipun dirimu tidak memberitahu kepadanya."
Amanda mengetahui semuanya tentang Nadhira, bahkan tanpa diketahui oleh Nadhira sendiri. Bahkan selama ini dirinya selalu menyelamatkan Nadhira, diwaktu perayaan pesta bunga api sendiri, Amanda yang telah melemparkan seekor kucing hanya untuk menyelamatkan Nadhira.
Bahkan hal kecil seperti itu pun tidak diketahui oleh Nadhira, Amanda pun menceritakan semuanya kepada Nadhira. Bukan untuk dipuji ataupun untuk di sanjungi, dirinya menceritakan itu agar Nadhira tau bahwa dirinya benar benar ingin meminta maaf kepadanya dan ingin menjalin sebuah hubungan baik dengan Nadhira.
__ADS_1
"Manda, boleh aku minta satu hal kepadamu?"
"Apa itu?"
"Jika aku tidak selamat, maukah dirimu berusaha membujuk Kinara agar tidak membenci Ayahnya?"
Amanda pun menatap lekat lekat kearah wajah Nadhira, dirinya tidak mempercayai permintaan yang diucapkan oleh Nadhira saat ini. Kenapa dirinya harus meminta seperti itu? Bukankah saat ini keduanya yang ada dalam bahaya, bukan salah satu dari mereka.
"Soal itu, aku tidak bisa melakukannya, Dhira. Karena yang wajib memberitahukan hal itu adalah dirimu, jika Nara tau dari orang lain maka hatinya pasti akan hancur dan bahkan tidak akan bisa menerima Rifki sebagai Ayahnya. Kau harus tetap hidup, setelah ini kalian pasti bisa bersama lagi dan membujuk Nara agar mau menerima Ayahnya."
"Aku takut tidak mampu melakukan itu, Manda. Nara pasti sangat kecewa dan marah kepadaku,"
"Itu sudah menjadi pilihanmu, Dhira. Jalan hidupmu ada ditelapak tanganmu, bukan orang lain."
"Kau benar, seharusnya diriku yang akan memberitahu Nara soal ini. Setelah ini selesai, aku akan memberitahu semuanya kepada Nara, tentang bagaimana Ayahnya dan siapa Ayahnya."
"Akun yakin kau bisa melakukannya, sudah banyak rintangan yang kau lalui didunia ini, Dhira. Dan kali ini kau tidak boleh menyerah begitu saja, ingat anak dan suamimu."
Nadhira pun menerbitkan sebuah senyuman, keyakinan dari Amanda membuatnya kembali bersemangat untuk bisa bersatu kembali dengan Rifki. Nadhira sendiri semakin yakin bahwa dirinya bisa melalui semuanya, karena dia tidaklah berjalan sendirian melainkan banyak orang yang menyayanginya.
"Manda, bagaimana keadaan Papa? Sudah bertahun tahun aku tidak bertemu dengannya," Tanya Nadhira tiba tiba.
"Papa ada diluar kota, Dhira. Beberapa tahun terakhir ini dirinya sangat sibuk dengan pekerjaannya, bahkan jarang sekali menghubungi diriku," Jawab Amanda sambil menatap ke arah langit siang itu.
"Tapi dia baik baik saja, kan?"
"Dia baik baik saja kok, kamu tenang saja soal itu. Lusa nanti dia akan pulang, tapi entah waktunya kapan soalnya aku juga tidak tau."
"Kalau Papa pulang, beritahu aku, ya? Aku sangat rindu dengan dia..." Ucap Nadhira menggantung. "Tidak perlu, Manda. mendengar kabarnya saja sudah cukup bagiku, aku tidak mau bertemu dengannya."
"Kenapa? Kamu masih memikirkan soal tes DNA itu, ya?"
"Bukan. Tapi..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers... bagaimana kabarnya? Insya Allah baik ya. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan ya.
Ada sedikit pemberitahuan dari Author, belakangan ini Author memang tidak bisa update dengan rajin lantaran harus kerja cari uang. Semenjak Ayah Author meninggal, Author berserta Ibunya Author diusir dari rumah oleh keluarga dari Ayah.
Begitu banyak fitnah dan tuduhan yang terus menghantui Author selama ini dan selalu berdatangan dari arah mana saja, Author berusaha sebisa mungkin untuk update ya, tapi sabar dan belum tau juga waktunya. Author harus bener bener kerja cari uang supaya bisa beli rumah untuk Author dan Ibu Author tinggali.
Pekerjaan apapun Author lakukan supaya dapat uang untuk makan dan lain lain. Jadi waktu untuk menulis begitu tipis dan tiap hari Author sudah nyicil beberapa kata agar bisa update.
Author juga ingin seperti dulu lagi, bisa nulis dan update tiap hari, tapi keadaan yang membuat Author tidak bisa melakukan itu. Mohon Maaf yang sebesar besarnya ya, besti bestinya Author.
Terima kasih juga yang sudah mendukung Author dan selalu menantikan Author untuk update. Dukungan kalian adalah semangat untuk Author.
Cukup sekian pemberitahuan ini, atas waktunya Author ucapkan terima kasih. Tetap tungguin Author update ya, jangan lupa dukungannya untuk Author.
__ADS_1
Berkarya itu tidak mudah, oleh karena itu dukungan kalian adalah semangat untuk Author.
See you, and thanks for time.. ❤️🩹