Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Berujung tidak sadarkan diri


__ADS_3

Rifki memeluk tubuh Nadhira yang penuh dengan darah itu dengan erat, isak tangis lirih dari mulutnya terdengar sangat memilukan, air mata Nadhira berjatuhan karena menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


Tubuh Nadhira pun gemetaran dengan nafas yang tersegal segal, wajahnya semakin memucat seakan akan tiada darah yang mengalir keseluruh tubuhnya, tangannya mulai terlihat begitu dingin dan berkeringat seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Dhira bertahanlah".


"Hangat dan nyaman untukku, biarkan aku merasakan pelukan hangatmu sesaat Rif, aku sangat menyayangi dirimu, saat ini dan selamanya" Ucap Nadhira sambil memejamkan kedua katanya dan merasakan pelukan yang diberikan oleh Rifki akan tetapi masih dapat terlihat senyum tipis diwajah Nadhira.


Nadhira merasa lega karena dia dapat menyelamatkan Rifki dari bahaya untuk saat ini, dan bahkan Nadhira sama sekali tidak peduli dengan nyawanya sendiri, Nadhira tidak pernah takut jika kematian itu akan menjemputnya akan tetapi yang ia takutkan hanyalah dirinya yang tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan nyawa orang yang paling dicintainya.


"Kenapa kau harus melakukan ini untukku Dhira, kenapa kau membahayakan nyawamu sendiri, Ya Allah, kenapa kau melakukan ini Dhira".


"Aku tidak pernah takut dengan kematian, aku hanya takut kehilanganmu Rifki, dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dirimu selama aku masih hidup didunia yang luas ini".


"Seharusnya kau biarkan saja aku yang mati Dhira, kenapa kau melakukan tindakan seperti ini Dhira, kenapa kau harus mengorbankan nyawamu seperti ini hanya untukku".


"Jika harus mati, biarkan aku yang mati terlebih dulu Rifki, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan dirimu untuk selamanya, jika aku yang pergi terlebih dulu maka aku tidak perlu merasakan sakit akan kehilangan dirimu"


"Jangan katakan seperti itu Dhira, bertahanlah".


"Rifki, aku sangat mencintaimu, mungkin saatnya aku bertemu dengan Mama, jangan menangis" Ucap Nadhira yang semakin lemah.


Permata iblis itu pun langsung bereaksi ketika merasakan bahwa Nadhira terluka oleh pisau milik Syaqila, energi itu pun meluap luap dengan bantuan dari Nimas, kini giliran Nimas yang akan menghancurkan permata abadi tersebut.


Dengan darah Nadhira kekuatan permata iblis tersebut semakin bertambah kuatnya, Nimas segera menggerakkan energi permata iblis dan juga menyerap energi keris pusaka xingsi atas bantuan dari Rifki juga.


Kedua energi itu bersatu dan terbentuklah sebuah energi yang cukup besar dan hanya mampu dilihat oleh orang orang yang mampu melihatnya, dan yang mampu melihatnya adalah seseorang yang memiliki ilmu gaib ataupun yang Indra keenamnya terbuka.


Sementara untuk manusia biasa mereka tidak akan melihat apapun itu, dan bahkan yang mereka lihat hanyalah Nadhira yang berada dipelukan Rifki saat ini, dengan luka yang cukup mengerikan.


Nimas segera mengarahkan energi tersebut kepada Syaqila dan hal itu langsung membuat Syaqila meraung kesakitan akibat energi yang ditimbulkan dari keris pusaka xingsi dan permata iblis yang menyatu menjadi satu.


Beberapa detik kemudian membuat Syaqila langsung tidak sadarkan diri ditempat itu dengan wajah yang berubah menjadi jelek dan hanya tersisa tulang dan kulitnya saja, melihat itu membuat semua orang begitu sangat terkejut dengan apa yang terjadi.


Nadhira pun merasa lega ketika melihat bahwa Rifki baik baik saja, ia pun menjatuhkan tubuhnya yang kini tengah penuh dengan luka itu, sementara Rifki langsung siaga untuk menangkap tubuhnya tersebut.


"Dhira bertahanlah" Ucap Rifki sambil meneteskan air matanya kepada Nadhira.


Nadhira tersenyum kearah Rifki, bibirnya yang sobek itu pun mengeluarkan darah kembali hingga darah itu mengalir dari ujung bibirnya, meskipun begitu Nadhira tetap tersenyum kepada Rifki, sebuah senyum yang penuh dengan luka.


"Tugasku untuk melindungimu sudah selesai Rifki, aku berhasil melakukannya, seharusnya kau senang atas keberhasilanku kali ini, aku merasa sangat bahagia saat ini, bahwa aku bisa melindungi orang yang sangat aku cintai" Ucap Nadhira dengan lemas.


"Tidak, jangan tinggalkan aku Dhira, kau harus bertahan Dhira aku mohon kepadamu, hiks... Hanya kau satu satunya wanita yang ada didalam hatiku, bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu Dhira" Tangis Rifki pecah seketika.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Rifki, aku akan selalu ada didalam hatimu, mungkin ini sudah takdirnya kita harus berpisah".


"Dhira aku mohon bertahanlah".


Nadhira pun mengangkat tangannya dengan perlahan lahan, ia pun menyentuh pipi Rifki dan menghapus air mata yang membasahi pipi tersebut, dengan pelannya Nadhira mengusap air mata dari wajah Rifki.


"Jangan menangis, kau terlihat jelek ketika menangis seperti ini Rifki, tersenyumlah Rifki untuk menyambut hari bahagiaku yang akan datang, aku akan bertemu kembali dengan Mama, seharusnya kau bahagia karenaku bukan menangis".


"Dhira jangan katakan seperti itu, kenapa kau melakukan ini, jangan tinggalkan aku seperti ini Dhira, aku mohon, kau harus tetap hidup Dhira aku mohon kepadamu, kenapa kau melakukan ini, kenapa Dhira".


"Aku tidak bisa melihatmu tiada didepan mata kepalaku sendiri Rifki, bukanlah sudah aku bilang bahwa aku akan selalu melindungimu, aku mohon tersenyumlah kepadaku sekali saja, biarkan aku terus mengingat senyamanmu itu".


Rifki pun mengeratkan pelukannya kepada tubuh Nadhira yang terbaring lemas saat ini, dan pelukan itu seketika membuat Nadhira merasa sangat nyaman dan damai.


"Jangan tinggalkan aku Dhira" Bisik Rifki.


Nadhira menatap kearah Rifki dengan tatapan yang begitu sayup seakan akan sedang menahan rasa sakit yang mendalam, akan tetapi dirinya masih tetap menampakkan sebuah senyuman yang tulus kepada Rifki karana dia tidak ingin membuat Rifki cemas karena keadaannya saat ini.


"Tersenyumlah untukku Rifki, aku ingin melihat senyuman indahmu itu, aku mohon biarkan aku melihatnya untuk terakhir kalinya".


"Tidak Dhira kau harus bertahan, jangan katakan bahwa ini adalah terakhir kalinya, aku tidak ingin kau pergi meninggalkan diriku Dhira, aku mohon".


"Rifki, kabulkan permintaanku, aku ingin melihatmu tersenyum saat ini".


Rifki pun mengangguk kepada Nadhira, Rifki memaksakan diri untuk tersenyum dihadapan Nadhira saat ini meskipun air matanya sudah tidak lagi mampu untuk dibendung ditempat itu, bagaikan sebuah bendungan yang airnya sudah tidak mampu ditampung lagi.

__ADS_1


"Indah sekali, terima kasih Rifki, melihat senyummu aku sudah tidak merasakan sakit lagi" Setelah mengatakan itu darahnya pun merembes keluar dari sudut bibirnya.


"Dhira bertahanlah, kau pasti kuat, jangan tinggalkan aku seperti ini Dhira, aku mohon kepadamu".


"Apa kau tidak malu menangis didepan keluargamu Rifki, kau sudah besar kenapa masih cengeng seperti itu" Tanya Nadhira dengan sedikit tertawa.


Meskipun Nadhira mengatakan itu akan tetapi air matanya juga terus mengalir dengan derasnya, ia merasa bahagia karena dapat menyelamatkan Rifki, akan tetapi dirinya juga sudah tidak mampu untuk menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Aku sudah tidak kuat lagi Rifki, biarkan aku tidur untuk kali ini, jika aku masih diizinkan untuk bangun kita akan bertemu lagi, tapi jika aku sudah tidak bangun lagi maka ikhlaskanlah kepergianku Rifki, jangan pernah menangis untukku, kau harus hidup bahagia".


"Tidak Dhira, jangan bicara seperti itu aku mohon, Bay! Cepat siapkan mobil, aku harus membawa Dhira kerumah sakit".


"Tidak Rifki jangan bawa aku pergi dari sini, biarkan aku tidur dipangkuanmu untuk sebentar saja, aku ingin menikmati langit yang indah kali ini bersamamu" Ucap Nadhira sambil mengenggam erat tangan Rifki.


"Dhira hiks.. hiks.. hiks.. jangan katakan itu".


"Kenapa kau menangis? Aku baik baik saja Rifki, aku merasa bahagia karena aku bisa menyelamatkan orang yang aku cintai uhuk.. uhuk.." Nadhira pun terbatuk darah setelah mengatakan hal yang begitu banyak kepada Rifki.


"Dhira... Kau harus bertahan, kau pernah berjanji kepadaku bahwa kau sendiri yang akan merenggut nyawaku, tapi kenapa kau melakukan ini kepadaku Dhira, aku pernah berjanji kepadamu bahwa kita akan menikah suatu saat nanti, apa kau ingin membiarkan janjiku tidak terpenuhi".


"Maafkan aku Rifki akh.. aku sudah tidak sanggup lagi akh... Aku tidur sebentar ya, bangunkan aku disaat hendak sholat nanti akh... Jika aku tidak bangun jadilah imam terakhirku"


"Kau harus bertahan, Dhiraku adalah gadis yang kuat dan tidak mudah menyerah begitu saja, demi diriku kau harus kuat Dhira".


Air mata Nadhira mengalir begitu saja dari ujung pelupuk matanya, sebuah senyuman tersungging diwajah Nadhira dan memperlihatkan giginya yang memerah karena darah yang sebelumnya mengalir dari mulutnya.


"Ma af kan a ku Rif ki" Ucap Nadhira terbata bata.


"Dhira, aku akan segera membawamu kerumah sakit, bertahanlah aku mohon".


Nadhira menggelengkan kepalanya pelan, ia menatap kearah langit siang ini, ia pun kembali mencoba mengusap pipi Rifki akan tetapi dirinya sudah tidak mampu untuk mengangkat tangannya.


Perlahan lahan Nadhira mulai memejamkan kedua matanya dan seketika dirinya sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari ujung bibirnya yang sobek itu, Nadhira jatuh tidak sadarkan diri disaat berada didalam pelukan Rifki.


"Dhira, Dhira, buka matamu Dhira aku mohon" Beberapa kali Rifki menepuk pipi Nadhira pelan dan berharap bahwa Nadhira akan membuka kedua matanya akan tetapi itu sia sia.


Teriakan keputusasaan Rifki terdengar sangat menyayat hati, teriakan itu membuat Bayu dan yang lainnya ikut menangis menyaksikan kejadian itu, suasana ditempat itu langsung berubah menjadi suasana kesedihan yang mendalam.


Melihat hal itu membuat Putri menangis karena begitu besar pengorbanan yang diberikan oleh Nadhira kepada Rifki, ia tidak menyangka bahwa cinta diantara keduanya begitu besar, sampai sampai Nadhira rela kehilangan nyawanya hanya untuk menyelamatkan nyawa Rifki.


Melihat Putri menangis membuat Haris segera memeluk istrinya dan menjatuhkan Putri dalam pelukannya itu, Haris pun mengusap pelan kepala orang yang dicintainya itu agar Putri merasa lebih tenang daripada sebelumnya.


Tubuh yang penuh luka kini sudah terlihat tidak ada tenaga sama sekali, dan bahkan pemilik dari tubuh itu sendiri tidak menyadari apa yang saat ini tengah terjadi kepadanya.


"Kau harus tetap hidup Dhira, aku mohon jangan tinggalkan diriku seperti ini"


Rifki pun mengangkat tubuh Nadhira dengan perlahan lahan, ia pun membawanya menuju kemobil yang telah disiapkan sebelumnya oleh Bayu, dengan pelan pelan Rifki membawanya masuk kedalam mobil dan membaringkan tubuh Nadhira dalam pangkuannya itu.


Melihat itu membuat Bayu langsung bergegas menuju ke mobil untuk menyetir, Bayu langsung masuk kedalam mobil setelah itu dirinya langsung menjalankan mobil itu untuk menuju kerumah sakit yang paling dekat dengan gedung tersebut.


"Dhira bertahanlah, Bay lebih cepat sedikit".


"Baik Rif".


Bayu menambah kecepatan laju mobilnya itu, didalam mobil itu hanya ada tiga orang saja sementara yang lainnya menyusul mereka dengan mobil yang lainnya dan berada dibelakang mobil yang dinaiki oleh Rifki saat ini.


Rifki pun terus mengusap pelan kepala Nadhira dan berharap bahwa Nadhira akan segera membuka kedua matanya itu, ia pun merasa sakit ketika melihat begitu banyak luka yang ditubuh Nadhira saat ini, entah bagaimana rasa sakitnya itu, untuk membayangkannya saja hal itu membuat Rifki merasa sangat sedih apalagi yang mengalaminya.


"Entah bertapa sakitnya dirimu Dhira, kenapa kau melakukan ini untukku".


"Kita akan segera sampai Rifki".


"Iya Bay".


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai disebuah rumah sakit, melihat kedatangan mobil tersebut membuat pihak rumah sakit segera bergegas untuk menghampiri mereka dan melakukan tindakan pertama untuk menangani Nadhira.


Sebuah bangkar dikeluarkan dan beberapa perawat segera mengangkat tubuh Nadhira dan membaringkannya dibangkar tersebut, mereka pun lalu mendorong bangkar itu untuk menuju keruang operasi untuk mengetahui lebih lanjut tentang luka yang dialami oleh Nadhira.


"Maaf Mas, Mas tunggu diluar" Ucap Suster yang mencegah Rifki untuk masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


"Tolong selamatkan Nadhira, aku mohon".


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, sebaiknya anda tunggu diluar".


Bayu pun mendekat kearah Rifki, ia pun mengangguk kepada Suster tersebut, Bayu mengajak Rifki untuk duduk disebuah kursi yang tidak jauh dari ruangan itu, dan Rifki hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Bayu.


"Kita doakan saja semoga Nadhira baik baik saja"


"Iya Bay, tolong hubungi Bi Ira, dia pasti sangat mencemaskan keadaan Nadhira".


"Iya Rif, aku akan menghubungi Bi Ira sekarang".


Bayu pun segera mengeluarkan ponselnya dan memencet tombol nomor Bi Ira, ia pun segera memberitahukan hal ini kepada Bi Ira, setelah mengatakan hal itu Bi Ira langsung bergegas menutup telponnya.


"Bi Ira akan segera kemari Rif" Ucap Bayu.


Rifki hanya mengangguk, tak beberapa lama kemudian salah seorang Suster keluar dari dalam ruangan dimana Nadhira ditangani saat ini, melihat itu membuat Rifki segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Suster tersebut.


"Bagaimana kondisi Nadhira?" Tanya Rifki.


"Dia sedang ditangai oleh dokter didalam, dia mengalami kritis karena kehilangan begitu banyak darah seandainya dia terlambat untuk dibawa kerumah sakit mungkin kami tidak mampu untuk menolongnya".


"Kritis Sus? Tolong lakukan yang terbaik untuk Nadhira, tolong selamatkan nyawa Nadhira Sus".


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin yang kami bisa, selebihnya berdoalah kepada Allah semoga dia selamat, karena kematian hanya ada ditangan Allah".


Beberapa jam menunggu diluar akhirnya Bi Ira beserta Nandhita telah sampai dirumah sakit itu, Nandhita langsung bergegas untuk menemui Rifki, dan menanyakan kondisi Nadhira saat ini.


"Bagaimana keadaan Nadhira saat ini Rif?".


"Kak Dhita, sudah tiga jam dokter belum keluar juga, Nadhira kehilangan begitu banyak darah Kak"


"Astaghfirullah hal azim, apa yang terjadi dengan Dhira, kenapa dia bisa seperti ini" Ucap Nandhita dan langsung menjatuhkan tubuhnya dilantai.


"Maafkan Rifki Kak, ini semua salah Rifki" Ucap Rifki sambil membantu Nandhita untuk bangkit.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nak?" Tanya Bi Ira.


Rifki menceritakan tentang apa yang dilakukan oleh Nadhira demi melindungi dirinya itu kepada Bi Ira, mendengar itu membuat Bi Ira menyandarkan tubuhya kepada tembok yang ada dibelakang dengan rasa keterkejutan yang mendalam.


"Dhira hiks hiks" Tangis Bi Ira pecah seketika.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya seorang dokter keluar dari dalam ruangan tersebut, dan melihat itu membuat Rifki segera bangkit dari duduknya dan menghampiri dirinya.


"Bagaimana kondisi Nadhira, Dok?" Tanya Rifki.


"Salah satu keluarganya mari ikut dengan saya keruangan saya" Ucap Dokter itu.


Rifki pun menoleh kearah Bi Ira karena hanya dirinya lah Ibu angkat Nadhira, akan tetapi Bi Ira sama sekali tidak berani untuk ikut keruangan Dokter tersebut, Rifki pun menoleh kearah Nandhita yang saat ini sedang melamun.


"Saya Dok" Ucap Rifki.


"Baiklah, mari silahkan ikut saya".


"Iya Dok".


Dokter tersebut lalu berjalan menuju keruangannya diikuti oleh Rifki dari belakangnya, keduanya lalu masuk kedalam sebuah ruangan dan Rifki langsung duduk disebuah kursi yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit itu.


"Kalau boleh tau, anda siapanya pasien ya?" Tanya Dokter tersebut kepada Rifki.


"Saya... saya adalah calon suaminya Dok, dan beberapa bulan lagi kami akan menikah"


Entah kenapa Rifki tiba tiba menjawab seperti itu, ia merasa sangat yakin bahwa dia akan menikah dengan Nadhira beberapa bulan kedepan, mendengar jawaban dari Rifki, Dokter itu hanya mengangguk anggukkan kepalanya.


"Bagaimana kondisi Nadhira, Dok?" Tanya Rifki yang mengulangi pertanyaan sebelumnya.


"Pasien mengalami keritis karena kehilangan begitu banyak darah, dan kami minta maaf... " Ucap Dokter itu menggantung.


"Apa yang terjadi dengan Dhira?" Tanya Rifki dengan berlinang air mata dan memegangi tangan Dokter tersebut dengan sangat eratnya.

__ADS_1


__ADS_2