Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kau datang disaat diriku hampir mati


__ADS_3

Rifki terus menyerang ke arah mereka dengan serangan membabi buta, dirinya bahkan tidak mempedulikan mengenai dirinya sendiri asalkan dia bisa menghabisi orang orang yang kini tengah berurusan dengan dirinya. Rifki tidak akan pernah memaafkan orang orang itu, karena merekalah yang telah membuatnya menjadi seperti ini.


Ada sekitar dua puluh orang yang kini tengah menjadi lawan Rifki yang bahkan dirinya seorang diri melawan mereka, seakan akan tidak ada rasa takut didalam hatinya saat ini. Diarah yang berlawanan, kini terlihat seorang wanita yang sedang berdiri dengan rambut yang terurai, wanita itu menyaksikan pertarungan itu dalam diamnya.


"Kau lihat kan? Jika ini terus berlangsung, maka diantara kita tidak akan ada yang selamat," Ucap seorang lelaki yang berada tidak jauh dari wanita itu dan juga tengah mengawasi pertarungan itu.


"Lalu apa maumu sebenarnya?" Tanya wanita itu.


"Mudah saja. Aku hanya anak angkat mereka, aku sendiri juga tidak terlalu terlihat dalam dendam itu, kau bisa percayakan itu kepadaku. Aku ingin menyelamatkan keluargaku, dan kau pasti juga ingin menyelamatkan anakmu kan? Bisa kita bekerja sama?"


"Apa perkataanmu bisa dipercaya? Bagaimana jika kau mengingkari ucapanmu sendiri?"


"Maka kau bisa mencariku dimanapun, aku tidak memiliki waktu untuk lari dari masalah. Dengan kita bekerja sama, mungkin dendam dimasa lalu akan lenyap, kau bisa hidup dengan tenang, sementara aku tidak perlu kehilangan anggota keluargaku meskipun itu keluarga angkat sih sebenarnya. Tapi kau bisa percaya denganku,"


"Banyak omong!"


Lelaki yang berada disebelah wanita itu pun mengedikkan pundaknya beberapa kali, sangat sulit untuk meyakinkan seorang wanita, apalagi seorang wanita yang ada disampingnya saat ini. Wanita itu tidak mudah percaya dengan ucapannya, lelaki itu hanya ingin menghentikan dendam yang selama ini ada untuk menyelamatkan keluarganya.


*****


Rifki terus menyerang dengan kemampuan yang dirinya bisa, meskipun dirinya hebat dalam beladiri akan tetapi dia masihlah memiliki sebuah kelemahan tersendiri. Sehebat hebatnya manusia, pasti masih memiliki titik kelemahannya tanpa ada yang mengetahuinya.


Menyerang mereka yang bersamaan hanya dengan seorang diri akan membuat pertarungan itu tidak seimbang. Dua puluh orang menyerang Rifki secara bersamaan, langsung membuat Rifki kewalahan karena dirinya hanya sendirian untuk saat ini tanpa ada yang membantunya.


Rifki pun merasa lelah, dan akhirnya dirinya pun terjatuh diatas tanah sambil menggeram kesakitan. Tendangan yang sangat keras telah mengenai uluh hatinya, hingga menciptakan sebuah sensasi yang teramat sangat menyakitkan bagi Rifki.


"Cuma segitu saja kemampuanmu? Seorang CEO Abriyanta ternyata adalah pria yang lemah. Dimana kekuatanmu itu? Apakah sudah menghilang?"


Ketidakadaannya Nadhira dalam hidupnya membuat Rifki sangat lemah, bahkan tidak mempedulikan tentang nyawanya sendiri. Seakan akan dirinya sangat lelah untuk meladeni mereka yang mengincar nyawanya, dirinya hanya tinggal menunggu maut menjemputnya.


"Kita habisi saja dia, Kak. Mumpung tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya,"


"Jangan buru buru, Adikku. Dia tidak akan mati dengan mudah sebelumnya tersiksa,"


"Bagaimana kalo kita patahkan tangan dan kakinya itu? Bukankah tanpa tangan dan kaki dia tidak akan bisa berbuat apa apa?"


"Ide yang bagus. Seseorang yang kehilangan kemampuannya akan terasa sangat menyakitkan, bahkan bisa saja dia sendiri yang memutuskan untuk bunuh diri, kita lihat saja nanti."


Rifki mengepalkan tangannya dengan kuat, akan tetapi dirinya tidak mampu untuk berdiri saat ini. Rifki kalah telak saat ini, karena musuhnya ternyata jauh lebih kuat daripada dirinya, sementara dirinya hanya seorang diri dalam melawan mereka semua. Rifki pun memegangi dadanya yang terasa sakit saat ini, dirinya tidak mampu untuk bangkit saat ini.


"Pegangi dia!"


Tak beberapa lama kemudian, dua orang pun langsung meraih tangannya dan membangkitkannya dengan kasarnya. Wajah Rifki pun terlihat lebam saat ini, dengan luka memar yang ada diwajahnya Rifki memandangi kearah mereka dengan sebuah tawa yang penuh dengan penderitaan.


"Kau masih bisa tertawa rupanya."


"Bunuh aku sekalian, aku telah kehilangan semuanya. Sudah tidak ada yang bisa membuatku bertahan," Ucap Rifki kepada mereka.


Semakin sakit luka yang ia rasakan, semakin terobati pula sakit didalam hatinya. Ada sekitar empat orang yang memegangi tangan Rifki masing masing, dua orang memegangi tangan kiri, dan dua orang lagi memegangi tangan kanannya.


Bhukkk..


"Akh..."


Bhukkk...

__ADS_1


"Akh..."


Mereka pun menendang perut Rifki dengan kerasnya secara bergantian, hal itu membuat Rifki terus memekik kesakitan akibat dari tendangan itu. Hingga akhinya Rifki pun memuntahkan seteguk darah segar, dan juga badannya yang semakin lemah dan tidak memiliki tenaga.


Disaat tidak memiliki harapan untuk hidup, sekilas dirinya melihat bayangan orang yang dicintainya berdiri jauh dihadapannya, akan tetapi terlihat samar karena pandangannya yang mulai memburam. Rifki pun tersenyum kearah bayangan itu, dirinya begitu sangat merindukan sosok Nadhira.


"Kau hadir disaat diriku hampir mati," Guman Rifki pelan sambil menatap kearah bayangan itu.


Rifki tidak salah melihat, bayangan sosok itu memang tidak lain adalah Nadhira. Nadhira dengan rambut yang terusai bebas, yang saat ini tengah berdiri tidak jauh dari tempat dimana Rifki berada. Air mata Nadhira pun menetes ketika melihat Rifki yang tidak berdaya seperti itu, apalagi ketika melihat orang orang itu terus melontarkan sebuah pukulan dan tendangan kepada Rifki.


"LEPASKAN DIA! ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI DITANGANKU!" Bentak Nadhira dengan kerasnya dan disertai dengan kemarahan.


Seketika semuanya langsung menoleh kearah sumber suara, mereka menemukan adanya seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wanita cantik dengan rambut yang terurai panjang yang saat ini menatap tajam kearah mereka, dirinya menatap kearah Rifki yang terlihat tidak berdaya itu.


Tatapan Rifki dan Nadhira pun bertemu, ada sebuah kerinduan tersendiri dibalik tatapan mereka. Keduanya tidak mempedulikan lingkungan disekitarnya, karena keduanya fokus untuk saling menatap satu sama lain saat ini. Rifki pun tersenyum kearah Nadhira, sementara Nadhira menatap kearahnya dengan penuh kesedihan akibat luka memar yang ada diwajah Rifki.


11 tahun, dalam waktu selama itu Rifki tidak pernah bertemu dengan istri tercintanya. Entah seberapa besar rasa kerinduannya saat ini, akan tetapi dirinya tidak berdaya saat ini karena tubuhnya sendiri pun merasa sangat lemas dan tidak bisa berbuat apa apa.


"Siapa kau? Berani sekali seorang wanita datang kemari," Ucap salah satu dari mereka.


"Apa kau sengaja datang untuk mengantarkan nyawanya sendiri?"


"Rupanya nyalimu cukup besar cantik."


Mereka pun memandang remeh kepada Nadhira, mereka sendiri pun tidak mengenali siapa wanita yang berdiri dihadapannya itu. Mendengar mereka yang terus mengejek Nadhira, membuat Nadhira hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman, seakan akan senyuman itu menginginkan nyawa mereka semua.


"Kalian tidak mengenaiku rupanya. Lepaskan suamiku, atau kalian akan menyesal nantinya," Ucap Nadhira sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat.


Mendengar wanita itu memanggil Rifki adalah sebagai suami, langsung membuat mereka sangat terkejut ketika mengetahui bahwa wanita yang ada dihadapan mereka adalah wanita yang telah tiada beberapa tahun yang lalu. Bagaimana mungkin wanita yang diisukan telah tiada bisa bangkit kembali, dan bahkan saat ini tengah berdiri dihadapan mereka semua.


"Bukannya kau telah tiada?" Tanya salah satu dari mereka yang termasuk sebagai pemimpin mereka.


"Tidak mungkin! Kalian semua, cepat habisi dia sekarang, jangan biarkan dia hidup lagi!"


Pemimpin dari mereka pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kearah Nadhira. Melihat mereka yang berlari kearah Nadhira membuat Rifki mengepalkan tangannya dengan erat, akan tetapi dirinya pun langsung dipukul oleh orang yang tengah memeganginya, dirinya pun kembali termuntahkan darah melalui ujung bibirnya.


"RIFKI!!" Teriak Nadhira disaat melihat Rifki memuntahkan seteguk darah segar.


Nadhira mengepalkan tangannya dengan eratnya, dirinya menatap nyalang kearah orang orang itu yang telah melukai Rifki nya. Pertarungan pun tidak terelakkan lagi, Nadhira berusaha untuk menghindari serangan mereka karena mereka sama sekali tidak membiarkan Nadhira untuk menyerang balik kearah mereka.


"Aku tidak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya, Dhira harus baik baik saja," Guman Rifki lirih disaat melihat Nadhira yang bertarung.


Melihat orang yang dicintainya dalam bahaya, hal itu menciptakan kekuatan tersendiri bagi Rifki. Rifki yang tadinya lemah, kekuatan cintanyalah yang kembali menguatkan dirinya agar bisa menyelamatkan Nadhira. Rifki langsung berusaha untuk mengibaskan tangannya, agar dua orang yang memegangi tangannya itu melepaskannya.


"Arghhh...." Teriak Rifki serta diikuti dengan kibasan tangannya dengan sangat kasar dan penuh bertenaga itu.


Keduanya yang tidak siap dengan kekuatan penuh milik Rifki pun langsung terpental begitu saja, hingga membuat keduanya langsung melepaskan pegangannya tangannya dari tangan Rifki. Rifki pun memegangi dadanya yang terasa sakit dan dirinya langsung bergegas untuk berlari mendatangi tempat dimana Nadhira berada.


"Dhira awas!"


Rifki melihat seseorang yang tengah menodongkan senjata kearah Nadhira dari belakang, dirinya pun langsung menabrakkan tubuhnya kepada Nadhira agar Nadhira tidak terkena todongan pisau itu. Keduanya pun langsung jatuh ketanah dengan berpelukan, sebelum jatuh Rifki menendang orang itu terlebih dulu hingga orang tersebut pun langsung terpental jauh darinya.


Ketika jatuh pun Rifki tidak membiarkan Nadhira terluka, keduanya terguling dengan berpelukan. Hingga keduanya berhenti berguling dari posisi awal hingga jauh, kedua tangan Rifki memegangi kepala Nadhira agar Nadhira tidak terbentur oleh bebatuan yang ada disana.


"Kamu nggak papa kan, sayang?" Tanya Rifki khawatir kepada Nadhira.

__ADS_1


"Aku nggak papa," Jawab Nadhira sambil menitihkan air matanya ketika melihat memar diwajah Rifki dengan sangat jelasnya.


Rifki langsung bangkit dari jatuhnya setelahnya dan membantu Nadhira untuk bangkit, ke dua puluh orang itu langsung mengitari keduanya. Rifki dan Nadhira langsung bergegas untuk saling membelakangi untuk menjaga satu sama lain dari serangan mereka.


Keduanya pun berpegangan tangan dengan eratnya, pegangan tangan Nadhira seakan akan menyalurkan sebuah kekuatan untuk Rifki, sehingga dirinya bisa melupakan rasa sakitnya sendiri. Rifki dan Nadhira pun berjalan memutari mereka untuk melihat satu persatu wajah mereka sambil mengukur kemampuan mereka untuk menyerang.


"Kalian berdua tidak akan bisa selamat dari tempat ini," Ucap salah satu dari mereka.


"Kalian berdua tidak akan bisa mengalahkan kami,"


"Menyerahlah, maka kami akan memberikan kematian yang mudah untuk kalian. Sehingga kalian tidak perlu merasakan sakit yang lama,"


"Nona Muda Abriyanta, kau datang disaat yang tidak tepat. Kenapa kau harus berjuang untuk menyelamatkan orang yang lemah itu? Lebih baik hiduplah bersamaku dan bersenang senang. Sayang sekali jika kami harus melukaimu,"


"Benar. Kami tidak akan tega melukai wajah cantikmu itu, suamimu hanya bisa menyakitimu dan melibatkan dirimu dalam pertarungan ini. Serahkan dirimu maka kami akan membebaskanmu,"


"Hidup dan matiku, hanya Allah yang menentukan. Hanya Rifki yang berhak atasku, karena diriku sepenuhnya adalah miliknya!" Ucap Nadhira dengan nada tegasnya.


Mendengar ucapan Nadhira langsung membuat Rifki mengenggam erat tangan Nadhira, dan Nadhira mampu merasakan genggaman erat dari Rifki. Meskipun telah berpisah jauh, akan tetapi cinta mereka tidak akan bisa terpisah, bahkan tidak ada yang bisa untuk memisahkan keduanya.


"Jika kalian ingin mencelakakan Rifki, maka langkahi dulu mayat ku," Pungkas Nadhira.


"Dhira!" Seru Rifki mendengarnya.


"Aku akan selalu ada disisimu, Rif. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua,"


"Apa kau yakin dengan ucapanmu Dhira?"


"Aku sangat yakin dengan ucapanku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu untuk selamanya."


Meskipun sambil berbicara, akan tetapi keduanya masih tetap fokus untuk berjaga jaga dan saling melindungi dengan cara saling membelakangi. Pertarungan itu tidak terelakkan lagi, seseorang langsung mengarahkan sebuah pukulan kepada Nadhira dan Nadhira sendiri pun tidak tinggal diam begitu saja.


Nadhira dengan penuh tenaganya langsung melontarkan sebuah tendangan yang tepat mengenai leher dari orang itu, dan tendangannya itu berhasil membuat orang tersebut terpental dan terjatuh diatas tanah.


Nadhira merasakan bahwa tubuh Rifki sedikit tak bertenaga dan untuk berdiri dengan tegak pun membuat Rifki kesulitan, Nadhira sangat takut jika Rifki sampai kenapa kenapa saat ini. Nadhira pun bergerak memutari Rifki untuk melindungi lelaki itu, dan melakukan sebuah tendangan berkali kali.


"Rif, apa kau masih sanggup?" Tanya Nadhira khawatir kepada suaminya itu.


"Biarkan aku memulihkan tenaga sebentar," Ucap Rifki sambil menahan sakitnya.


"Baiklah. Aku tidak akan membiarkanmu terluka,"


Rifki mencoba untuk mengatur nafasnya, sementara Nadhira terus berjuang untuk melindunginya. Nadhira terus bergerak untuk melontarkan sebuah serangan kepada mereka yang berniat untuk mencelakakan Rifki, dirinya bahkan tidak memedulikan rasa sakitnya karena hanya memiliki satu ginjal saja.


"Seharusnya aku yang melindungi dia, bukan dia yang melindungiku. Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk bisa melindungi istri hamba," Batin Rifki sambil melihat Nadhira yang terus berjuang.


Nadhira dengan kemampuan yang dirinya bisa, dirinya terus berusaha untuk melindungi Rifki. Melihat Nadhira yang kewalahan menghadapi mereka, membuat Rifki tidak punya pilihan lain selain bangkit dengan tekatnya untuk menyelamatkan Nadhira.


Karena kewalahan, Nadhira hampir saja terkena sebuah tendangan, akan tetapi beruntunglah saat ini Rifki langsung melindunginya dan melontarkan sebuah tendangan kepada orang itu.


"Kita lawan mereka dengan bersama sama, Sayang."


"Rifki, jangan paksakan dirimu. Aku tidak mau kau kenapa kenapa,"


"Hidupku tidak akan berarti tanpa dirimu, Dhira. Jika harus mati maka kita akan mati bersama sama,"

__ADS_1


"Baiklah jika itu keputusanmu, Sayang. Serang!"


Rifki dan Nadhira langsung melakukan gerakan kombinasi untuk menjatuhkan musuh musuhnya itu, gerakan yang indah akan tetapi sangat menatikan karena memiliki tenaga yang cukup kuat. Nadhira dan Rifki terlihat seperti menari diantara mereka, akan tetapi keduanya terus melontarkan sebuah serangan kepada mereka.


__ADS_2