Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki terluka cukup parah


__ADS_3

Tepat disaat gerhana bulan merah darah mencapai puncaknya, Nadhira terjatuh dan terlihat begitu lemas sekaligus rasa sakit di dadanya menyerangnya begitu saja tanpa ampun, dan hal itu membuat Rifki nampak begitu panik


"Dhira! Dhira! Kau dengar suaraku kan?"


Rifki beberapa kali memanggil nama Nadhira sambil menepuk pelan pipi Nadhira ketika melihat Nadhira perlahan lahan mulai memejamkan kedua matanya, agar Nadhira mampu untuk mempertahankan kesadarannya untuk saat ini.


"Iya Rif" Ucap Nadhira dengan lemahnya.


"Tetap pertahankan kesadaranmu Dhira".


"Ini sakit sekali Rif".


"Bertahanlah Dhira" Ucap Rifki menyemangati Nadhira, "Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk menolongmu Dhira, bertahanlah Dhira demi diriku" Gumannya kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Nadhira saat ini.


Rifki segera menyentuh punggung Nadhira dan mencoba untuk menyalurkan energi keris pusaka xingsi itu kepada Nadhira, dia berharap bahwa hal itu akan meringankan rasa sakit yang dirasakan oleh Nadhira saat ini, akan tetapi itu sia sia saja karena energi keris pusaka xingsi tidak berguna bagi permata iblis untuk saat ini.


"Kenapa ini tidak berguna!"


Nadhira sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit itu, dan dirinya memutuskan untuk memejamkan kedua matanya, akan tetapi dirinya masih mampu untuk mendengarkan ucapan Rifki kepadanya saat ini.


"Nimas" Ucap Nadhira lirih dan bahkan tidak mampu didengar oleh Rifki, Rifki hanya melihat bibir Nadhira seakan akan mengatakan sesuatu.


"Dhira apa yang kau katakan?"


"Nimas"


Nadhira mencoba untuk mengatakan nama Nimas akan tetapi dirinya begitu sulit untuk memberitahukan hal itu kepada Rifki karena lemahnya dirinya saat ini, dan bahkan untuk menyatakan satu kata saja dirinya tidak mampu.


Ditengah tengah kebingungannya itu tiba tiba Nimas muncul didekat Nadhira dan Rifki, kemunculannya yang mendadak itu sontak membuat Rifki begitu terkejut dan mengira bahwa Nimas adalah orang orang yang tengah mengejar keduanya saat ini.


"Dhira bertahanlah, aku akan membantumu"


"Apa yang akan kau lakukan kepada Dhira, Nimas?" Tanya Rifki.


"Hanya aku yang bisa mengendalikan kekuatan permata ini, sebaiknya kau segera mengurusi para dukun yang hampir sampai ditempat ini saja Rifki, jangan biarkan mereka mendekat kearah kami berdua atau mereka akan mengagalkan usahaku".


"Baiklah, aku serahkan Nadhira kepadamu, jaga dirinya dengan baik baik, kau harus menyelamatkan Nadhira".


"Kau tenang saja Rifki, aku akan menolongnya segera agar kekuatan permata itu kembali normal seperti semula, mungkin saja setalah Nadhira terbangun, jiwaku akan menghilang untuk bertapa dalam waktu yang sangat lama".


"Iya aku tau itu".


Nimas segera memejamkan kedua matanya dan seketika tubuhnya berubah menjadi sebuah cahaya merah darah yang berbentuk bundar seperti kelereng, dan cahaya merah darah tersebut segera masuk kedalam tubuh Nadhira begitu saja, seketika tubuh Nadhira bersinar dan hanya Rifki yang mampu melihat itu karena indranya yang terbuka.


Dari kejauhan Rifki dapat melihat sekumpulan orang tengah berjalan mendekat kearah mereka, Rifki tidak akan membiarkan hal itu begitu saja sehingga dirinya segera bergegas mendekat kearah mereka untuk mencegah mereka mendatangi tempat dimana Nadhira kini terbaring lemah dengan bantuan dari Nimas yang berusaha untuk mengendalikan kekuatan permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira.


Segerombolan itu begitu terkejut ketika melihat Rifki tengah menghadang mereka akan tetapi mereka tidak menemukan keberadaan dari wanita tersebut hingga membuat mereka berpikir bahwa Nadhira sudah tidak mampu untuk melawan mereka.


"Jangan menghalangi langkah kami!" Teriak salah satu dukun yang diduga sebagai paling kuat.

__ADS_1


"Jika kalian menginginkan permata itu, maka langkahi dulu mayatku, jika kalian tidak bisa maka jangan harap kalian akan mendapatkan permata itu nanti" Ucap Rifki dengan tegasnya.


Rifki segera mengeluarkan tongkatnya, Rifki sendiri dapat melihat bahwa mereka kini sudah semakin lemah karena sebelumnya mereka telah melawan keduanya dalam waktu yang cukup lama, akan tetapi dirinya sendiri pun demikian dan dia bertekad untuk tidak menyerah kali ini.


Rifki begitu terkejut ketika melihat beberapa orang tengah mengeluarkan senjata tajam berupa golok dan lain sebagainya dari balik bajunya, akan tetapi hal itu tidak membuatnya gentar sedikitpun, jika dia mampu memainkan tongkatnya dengan benar maka senjata seperti itu akan mudah untuk ditaklukkan.


"Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan mereka mencelakai Nadhira meskipun taruhannya adalah nyawaku sendiri" Guman Rifki pelan.


Rifki segera maju untuk menyerang kearah mereka, dan memainkan tongkat yang ada ditangannya dengan hebatnya, Rifki menyerang begitu ganasnya seakan akan tanpa ampun sedikitpun, bukan hanya itu saja akan tetapi Rifki juga berusaha untuk merebut senjata tajam yang mereka pakai.


Rifki bergegas menghindar ketika sebuah serangan berupa tebasan terarah kepada lehernya, dengan cepatnya Rifki bergerak hingga tebasan tersebut mengenai ruang hampa, dan Rifki segera menendang dengan kerasnya orang yang telah melontarkan sebuah tebasan itu kepadanya.


Seluruh senjata kini tengah terarah kepadanya, dan Rifki menangis senjata tersebut dengan tingkat yang ada ditangannya, menahan agar senjata mereka tidak sampai menyentuh tubuhnya itu, dengan sekuat tenaga Rifki berusaha untuk menahan serangan itu.


"Allahu akbar!" Ucap Rifki dengan tegasnya dan mendorong tubuh mereka semua dengan sepenuh tenaganya hingga membuat mereka semua langsung berjatuhan diatas tanah.


Dengan nafas yang sudah memburu, Rifki berdiri diatas tanah dengan memegangi sebuah tongkat ditangan kirinya dengan sangat eratnya, dan juga memegang sebuah golok yang cukup panjang ditangan kanannya, golok tersebut adalah milik dari salah satu orang yang mengejarnya.


"Siapa pemuda ini, kenapa dia begitu kuat" Ucap salah satu orang yang terbaring diatas tanah sambil memegangi dadanya yang sakit.


"Sayang sekali pemuda hebat sepertimu harus mati ditanganku" Ucap dukun sakti yang juga kini tengah mengangkat senjata tajam kearah Rifki.


"Hidup dan matiku hanya Allah yang maha mengetahui, bukan orang orang seperti kalian!" Ucap Rifki dengan tegasnya.


"Besar juga nyalimu bocah, tapi itu tidak akan bertahan lebih lama, karena kau akan mati ditanganku, dan aku akan mendapatkan permata itu hahaha...".


Rifki tanpa segan segan segera maju kearah dukun sakti tersebut dan langsung mengayunkan sebuah golok yang ada ditangannya dengan ayunan yang penuh dengan tenaga, sementara dukun itu langsung menangkis serangan Rifki, karena kuatnya tebasan yang diberikan oleh Rifki hingga membuat dukun sakti tersebut termundur beberapa langkah.


Tiba tiba seseorang mengayunkan senjatanya dan berniat untuk menebas tubuh Rifki dari belakang, karena ia berpikir bahwa kini Rifki sedang fokus dengan dukun sakti itu sehingga Rifki tidak akan menyadarinya, akan tetapi hal itu salah justru Rifki dengan segera menghindarinya dan langsung menusukkan golok tersebut kepada perut orang itu.


Seketika itu juga darah mulai bercucuran keluar dan membasahi golok yang ada ditangan Rifki saat ini, dengan segera Rifki mencabut golok tersebut dan langsung menyerang yang lainnya, dan ia tidak segan segan untuk melukai lawannya.


Dari tiga puluh orang yang mengejarnya kini hanya tersisa lima belas orang yang masih mampu untuk bangkit berdiri meskipun dengan luka sayatan yang telah ditorehkan oleh Rifki sebelumnya, begitupun dengan Rifki yang saat ini pernah dengan luka sayatan dilengan dan punggungnya.


Kini tangan yang memegang golok tersebut sudah bersimbah darah, darah milik orang orang itu atau bahkan darahnya sendiri, bau anyir pun langsung menyelimuti tempat itu, hanya tinggal separuh saja orang yang harus ia kalahkan untuk saat ini.


Darah bercucuran membasahi pakaiannya, hingga membuatnya sedikit tidak nyaman karena darahnya yang mulai mengering dan terasa begitu lengket dikulitnya, dan hal itu membuat Rifki tidak berdaya karena dirinya yang telah kehilangan darah begitu banyaknya.


"Aku harus bertahan demi Dhira, sampai dia bisa pergi dari tempat ini" Guman Rifki.


Sementara disatu sisi kini Nimas sedang berusaha untuk menyetabilkan kembali energi permata yang sedang bergejolak tersebut, karena hilangnya kekuatannya yang tiba tiba saat gerhana bulan merah terjadi hingga hal itu membuat disaat gerhana bulan merah puncaknya energi itu akan kembali bergejolak.


Setelah cukup lama berusaha akhirnya energi itu perlahan lahan mulai stabil kembali, Nimas segera keluar dari tubuh Nadhira ketika mengetahui bahwa energi permata itu kini sudah mulai stabil akan tetapi Nadhira masih belum sadarkan diri.


"Dhira bangun, kau harus bangun secepatnya dan selamatkan Rifki dari orang orang itu, jika kau tidak bangun kau akan menyesalinya nanti, dan bisa saja kaj kehilangan Rifki untuk selamanya" Ucap Nimas yang berusaha untuk membangun Nadhira.


Nadhira masih belum sadarkan diri, dan entah kapan dirinya akan membuka kedua matanya itu, Nimas terus berharap bahwa Nadhira akan segera sadarkan diri, sementara jiwanya kini perlahan lahan menghilang dari tempat itu untuk melakukan pertapaan setelah kembalinya energi itu.


Setelah ini Nimas tidak akan mampu untuk menolong Nadhira ataupun Rifki, karena dirinya harus pergi untuk bertapa dalam waktu yang lama, sehingga Nimas hanya berharap bahwa Nadhira secepatnya bangun dari pingsannya dan segera membantu Rifki untuk melawan para dukun itu.

__ADS_1


Nadhira masih berada didalam alam bawah sadarnya, dirinya hanya melihat sebuah kegelapan yang tanpa ujung, sekilas ia melihat Rifki yang tengah bertarung sendirian untuk melawan mereka dengan luka yang ada diseluruh tubuhnya.


"Aku harus bangkit" Suara Nadhira dialam bawah sadarnya.


Nadhira mulai membuka kedua matanya dengan perlahan lahan dan menatap kesekelilingnya yang panehh dengan semak semak yang menjulang tinggi, ia pun berusaha untuk menguatkan tubuhnya untuk bangkit dari tidurnya.


Nadhira pun mendengar teriakan memilukan dari arah yang tidak jauh darinya, Nadhira dapat mengenali bahwa suara itu adalah teriakan dari Rifki, Nadhira mengepalkan kedua tangannya begitu eratnya dan berusaha untuk terus dapat bangkit dari tidurnya, Nadhira mencoba untuk duduk.


Dari kejauhan terlihat bahwa Rifki sedang bertarung dengan lima orang, dan beberapa orang tengah terbaring sambil menggerang kesakitan akibat dari serangan yang Rifki berikan kepada mereka, Nadhira juga melihat bahwa kini Rifki sedang terluka parah.


"Rifki" Ucap Nadhira dan berusaha untuk bangkit.


Rifki terus menyerang kearah mereka tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, ia hanya berharap bahwa dirinya dapat mengalahkan orang orang itu agar tidak ada lagi yang akan mengincar nyawa Nadhira saat ini.


Karena Rifki yang mulai melemah itu dengan mudahnya dukun yang paling sakti itu menancapkan sebuah pisau yang ada ditangannya itu kepada perut Rifki, dan hal itu sontak membuat Rifki tidak berdaya untuk saat ini, tenaganya benar benar telah habis.


"Akh..." Desah Rifki ketika sebuah pisau yang ada ditangan dukun sakti itu menancap pada perutnya.


Rifki tidak menduga bahwa akan ada sebuah pisau yang tajam menancap didalam perutnya saat ini, dan Rifki memandang kearah pisau yang kini sudah bersemayam diperutnya dengan darah yang mengalir membasahi tangan dukun sakti itu.


Rifki menyentuh perutnya yang telah tertancap pisau, dengan rasa sakit yang teramat sangat, seketika itu juga mengalir setetes darah dari dalam mulutnya, Rifki mengalihkan pandangannya kearah orang yang melakukan itu kepasanya, dan orang itu tertawa begitu bahagianya karena dapat melukai Rifki.


"Dimana kesombonganmu itu anak muda, apa hanya ini saja kemampuan dirimu itu? Kau tidak akan bisa mengalahkan diriku dan tidak akan bisa menghalangi diriku untuk mendapatkan permata iblis tersebut, apakah ini terasa sangat menyakitkan bukan?" Ucap dukun sakti kepada Rifki.


"Hahahaha...." Tiba tiba Rifki tertawa dengan kerasnya ketika mendengar ucapan dari pria paruh baya tersebut.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau merasa bahagia karena sebentar lagi kau akan bertemu dengan penciptamu" Tanya dukun itu dengan penasaran ketika melihat Rifki tiba tiba tertawa.


Rifki melihat sekelilingnya dan hanya ada empat orang yang bertahan disana dan keempat belum sempat dikalahkan oleh Rifki, akan tetapi keempatnya hanyalah orang biasa dan tidak memiliki ilmu hitam seperti yang lainnya, dan hal itulah yang membuat Rifki tertawa.


"Jika aku harus mati sekarang ini, maka kau harus ikut serta bersamaku ke akhirat, aku tidak ingin mati sendiri tanpa membawa teman bersamaku".


Rifki memegangi tangan dukun itu dengan sangat eratnya dan berusaha untuk mencabut pisau tersebut, karena dia begitu kuat sehingga membuat Rifki ikut serta menancapkan golok yang ada ditangannya kepada perut dukun sakti itu dengan seluruh tenaganya yang tersisa.


"Akh.."


Rifki terus menekan golok yang ada ditangannya itu dengan berseringai tipis, hingga darah pun mengalir dari perut dukun sakti itu, begitu pun dengan dukun itu yang masih memegangi pisau yang tertancap pada perut Rifki dengan sangat eratnya.


"Apakah itu sakit? Jika aku harus mati saat ini, maka kau pun harus ikut bersamaku, kita akan berpesta diakhirat bersama sama" Tanya Rifki dengan geramnya juga tawanya dan menahan rasa sakitnya.


"Kau! "


"Bukankah ini sangat menyenangkan? Kita akan segera bertemu dineraka".


"Akh..."


Mendengar dukun itu masih dapat berbicara membuat Rifki menarik goloknya tersebut dengan kencangnya dan menancapkannya kembali ke perut dukun itu hingga membuatnya menjerit kesakitan, akan tetapi jeritan tersebut membuat Rifki merasa sangat puas.


Dukun sakti itu merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Rifki saat ini, tanpa dia sadari bahwa kini Rifki tengah tersenyum tipis kearahnya meskipun kini mulutnya tengah penuh dengan darah dan mengalir hingga kedagunya, senyuman itu adalah sebuah senyuman kebahagiaan karena dirinya mampu untuk menyelamatkan Nadhira.

__ADS_1


__ADS_2