
Rifki segera bergegas pergi dari tempat itu, sementara Nadhira melanjutkan obrolannya bersama dengan teman teman Kakaknya dan juga dengan Sarah yang ikut serta menyambut para tamu undangan ditempat itu.
Tanpa disadari oleh Rendi, saat ini Rifki tengah berdiri disampingnya, melihat Rendi yang terlihat murung membuat Rifki merasa iba dengan dirinya, akan tetapi Rifki teringat dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira selama dirinya berada diluar negeri.
"Dia sudah besar, apa mungkin dia benar benar membenciku sehingga tidak mau berbicara kepadaku? Melihatnya bahagia sudah cukup bagiku" Guman Rendi yang bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa Om sangat menyayangi Nadhira?" Tanya Rifki dan langsung duduk disebelah Rendi.
Rendi hanya menoleh sesaat kepada Rifki dan kembali memandang kearah Nadhira yang berada jauh darinya, Rifki pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Rendi.
"Bagaimana mungkin aku membenci Nadhira, dia sendiri yang menyuruhku untuk pergi dari hidupnya" Jawab Rendi dengan nada sedih.
"Seandainya bisa ku katakan, aku sangat kecewa dengan Om, apa yang Om lakukan kepada Nadhira selama ini? Jika memang benar Nadhira bukanlah anak Om, tapi kenapa Om sama sekali tidak hadir disaat Nadhira terluka selama ini?"
"Maafkan aku, aku adalah seorang Ayah yang gagal, aku telah menyia nyiakan putri kecilku, aku merasa telah kehilangan dirinya, aku benar benar telah kehilangan dirinya, aku tidak akan pernah bisa memiliki putri sepertinya".
"Tidak akan pernah ada yang namanya mantan Ayah, selamanya tidak akan pernah ada Om, bagi Dhira kau tetaplah Ayahnya sampai kapanpun itu Om dan tidak akan pernah ada yang bisa melakukan itu".
"Tapi Dhira sama sekali tidak mau berbicara denganku, dia terlalu marah kepadaku, aku telah melakukan kesalahan yang besar sehingga aku kehilangan putri kecilku itu".
"Sampai sekarang Nadhira tetaplah putri kecilmu Om dan dia bukanlah orang lain, Nadhira sangat membutuhkan kasih sayangmu, aku tau bertapa hancurnya hati Nadhira waktu itu ketika dia mengetahui bahwa Om bukanlah Ayah kandungnya, tapi siapa lagi Ayah kandungnya kalau bukan Om?".
"Aku tidak tau, seandainya Lia masih hidup mungkin dia akan mengatakan semuanya kepadaku".
"Sungguh berat untuk menjadi seperti Nadhira, dia berulang ulang kali menyelamatkan nyawa Om tanpa Om sadari".
"Maksudmu apa?".
"Setidaknya tolong hargailah pengorbanan Nadhira, lihatlah dia begitu bahagia saat ini, tapi yang sebenarnya terjadi adalah dia sedang menahan rasa sakitnya Om, meskipun dia tidak mengatakan apa apa, tapi aku tau Om bahwa dia sedang tidak baik baik saja saat ini".
"Apa yang terjadi dengan Dhira? Katakan kepadaku, kenapa dia harus menahan sakit? Sakit apa yang diderita olehnya? Katakan".
"Maafkan Rifki Om, Rifki tidak bisa mengatakan sesuatu kepada Om soal Nadhira, biarkan dia sendiri yang akan mengatakannya jika dia sudah siap untuk mengatakan itu, dan bahkan dia tidak mau jujur dengan diriku, waktu begitu cepat berlalu, sebaiknya Om temui dirinya dan berikan kasih sayang yang selama ini tidak Om berikan".
"Rifki, kau paling mengerti tentang Nadhira, apa yang terjadi dengan dirinya? Sakit seperti apa yang diderita olehnya saat ini? Kau pasti bercanda kan? Dhira baik baik saja kan, kau mengatakan itu kepadaku hanya ingin menyuruhku untuk menemuinya saja kan?"
"Terserah Om mau percaya atau tidak dengan ucapanku, yang jelas aku mengatakan itu bukan hanya aku ingin Om menemui Nadhira saja, tapi aku ingin Om lebih peduli dengan dirinya dan kondisinya saat ini, beberapa minggu lalu, dia sempat koma dalam waktu yang begitu lama, dan Dokter mengatakan semuanya kepadaku".
"Dhira koma? Kenapa bisa seperti itu?" Rendi begitu terkejut ketika mendengarnya.
"Om tidak tau? Padahal Rifki terus menghubungi Om dan mengatakan semuanya lewat pesan yang Rifki kirim ke nomor hp Om, tapi Om sama sekali tidak meresponnya bahkan telfon dari Rifki pun Om tolak"
"Aku benar benar tidak pernah menerima teleponmu ataupun sampai menolaknya, sama sekali tidak ada pesan masuk ataupun telpon darimu".
Rifki pun merasa heran dengan hal itu, bagaimana mungkin Rendi tidak mengetahui pesan dan telpon dari Rifki, Rifki pun berpikir bahwa ada seseorang yang menghapus pesan darinya dan membuat seolah olah tidak terjadi apapun.
"Aneh, apa mungkin ada seseorang yang mengotak atik hp Om?"
"Setahuku tidak ada"
"Sudahlah lupakan saja itu Om, sebaiknya Om segera menemui Nadhira, Nadhira pasti akan merasa senang ketika Om berbicara kepadanya" Ucap Rifki membalikkan pembicaraan.
"Bagaimana bisa aku menemuinya sekarang ini? Bagaimana kalau dia makin marah kepadaku dan aku merusak suasana hatinya saat ini?"
"Semarah marahnya Nadhira, dia tidak akan pernah melukai Ayahnya sendiri, percayalah kepadaku Om, semuanya akan baik baik saja, dia hanya butuh perhatian dari Ayahnya".
"Tidak, aku tidak bisa menemui dirinya, aku tidak ingin merusak kebahagiaannya saat ini, melihatnya tertawa bahagia seperti itu membuatku tidak ingin merusak kebahagiaannya itu".
"Soal kematian Tante Lia aku tidak bisa berkata apa apa lagi Om, biar bagaimanapun juga Tante Lia adalah orang yang paling berharga bagi Dhira, mengetahui hal itu membuat Nadhira semakin terluka, apalagi Om juga adalah orang yang berarti bagi dirinya, dan Om sendiri yang terlibat didalam kasus kecelakaan itu".
"Aku sangat menyesal karena itu Rifki, seandainya waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin bersama dengan Lia dan Nadhira seperti dulu, tapi aku tidak mampu untuk membalikkan keadaan".
"Tapi semuanya sudah berlalu Om dan hal itu tidak mungkin bisa diulang kembali, begitu banyak hal yang terlalu sulit untuk dilalui Nadhira, bahkan kematian pun seakan akan menjadi sahabatnya".
"Mungkin dia masih begitu marah kepadaku, kalau pikiran Dhira sudah tenang, aku akan menemuinya nanti, aku akan meminta maaf kepadanya, aku akan berusaha untuk memberanikan diri menemuinya".
"Baiklah jika itu mau Om, kapanpun jika Om ingin menemui dirinya maka temuilah dia, dan pasti dia akan marah tapi itu tidak akan berlangsung lama, Dhira sangat menyayangi Om, biar bagaimanapun juga Dhira masih menganggap Om sebagai Ayahnya sampai detik ini".
"Apa yang kau katakan itu benar?"
Rendi menatap kearah Rifki dengan penuh harapan, mendengar pertanyaan itu membuat Rifki menatap aneh kepada Rendi, Rendi adalah orang tua Nadhira tapi kenapa dia tidak mengetahui sikap anaknya itu.
"Dhira memang seperti itu orangnya Om, apa Om tidak memahaminya selama ini? Padahal Om dan dia sudah tinggal begitu lama dan bahkan dari usia Nadhira yang baru lahir" Ucap Rifki sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
"Memang benar kami tinggal bersama dalam waktu yang lama, tapi kami tidak pernah menghabiskan waktu bersama sama selama ini".
"Ya sudah Om, aku hanya ingin menyampaikan hal itu kepada Om, kalau begitu aku permisi dulu Om nanti Nadhira mencariku".
"Iya".
Rifki segera bergegas untuk menemui Nadhira yang saat ini sedang duduk seorang diri untuk menunggu kedatangan Rifki, Nadhira merasa jenuh disaat dirinya sendirian dan ditinggalkan oleh Rifki untuk pergi kekamar mandi.
"Maaf nunggu lama, toiletnya sangat antri Dhira" Ucap Rifki dan langsung duduk disebelah Nadhira.
"Sudah ku bilang kan jangan lama lama pergi kekamar mandinya, kau pergi begitu sangat lama, bosan tau aku nunggunya, apalagi harus duduk seorang diri seperti ini" Omel Nadhira tanpa rem.
"Maafin dong, lah Oma sama Kak Dhita kemana?"
"Ada didepan pelaminan, oh iya ada Mama sama Papa kamu, baru saja dateng kemari, dan Oma sedang menemuinya saat ini".
"Mama sama Papa? Tumben sekali dia datang diacara seperti ini, apalagi didepan banyak orang, biasanya kan mereka tidak pernah mendatangi acara acara seperti ini Dhira".
"Sudahlah, temui saja Rif".
"Tapi sama kamu ya?".
"Iya".
Rifki pun menggandeng tangan Nadhira dan mengajak Nadhira untuk menemui kedua orang tuanya itu, Nadhira hanya mengikuti kemana Rifki akan membawanya pergi tersebut tanpa banyak bertanya kepada Rifki.
"Mama" Panggil Rifki.
Rifki dan Nadhira segera menemui Haris dan Putri dengan senyum sumringah, melihat kedatangan kedua orang itu membuat Sarah berpamitan kepada Haris dan Putri untuk menyambut kedatangan tamu yang lainnya.
"Baiklah, kalian lanjutkan saja dan nikmati pestanya".
"Iya Bu, terima kasih atas jamuannya" Ucap Putri.
Sarah segera pergi dari tempat itu untuk menyambut kedatangan tamu yang lainnya, dan terlihat dirinya begitu sibuk hari ini, kepergian Sarah dari tempat itu membuat Nadhira menghela nafas pelan.
"Oma Sarah kenapa pergi Ma?" Tanya Rifki.
"Oh seperti itu".
"Rifki setelah ini pulang, Papa mau berbicara sesuatu dengan dirimu".
"Ada apa Pa? Bahkan pestanya saja belum selesai".
"Jangan membantah Papa".
"Iya Pa".
Mereka pun melanjutkan mengobrolnya sementara Rifki dan Nadhira hanya bisa berdiam diri ditempat itu hingga tiba waktunya Haris mengajak Rifki untuk pulang, Rifki tidak bisa menolaknya dan Nadhira mengantarnya sampai dihalaman depan rumahnya.
"Ada apa menyuruh Rifki pulang Pa?" Tanya Rifki ketika berada dihalaman depan rumah Nadhira.
"Apapun yang terjadi, kalian tidak boleh bersama Rifki, jangan membuat Nadhira terus berharap kepadamu" Ucap Haris.
"Tapi Pa, aku tidak peduli apapun itu, Rifki hanya mencintai Nadhira saja Pa, hanya Rifki yang berhak menentukan dengan siapa Rifki akan bersama Pa".
"Ada apa dengan Dhira Om? Apa Dhira telah melakukan kesalahan?" Tanya Nadhira dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca.
"Dengarkan Tante Dhira, ini demi kebaikan kalian berdua, kalian memang tidak boleh bersama" Ucap Putri kepada Nadhira.
"Kenapa Tante? Apa salah Dhira?"
"Jika kalian memaksa bersama maka Rifki akan tiada nantinya Dhira".
"APA?" Ucap Nadhira yang begitu sangat terkejut dan langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan Rifki.
"Tidak Ma, itu semua tidak benar, bersama Dhira atau tidak jika Rifki sudah ditakdirkan untuk mati, maka Rifki pun akan mati Ma, Rifki tidak percaya soal itu Ma, kalian semua bohong kepada Rifki".
"Rifki, pulang sekarang!" Perintah Haris.
"Rifki ngak mau Pa".
"Kenapa Om? Kenapa Rifki akan mati?" Tanya Nadhira dengan berderaian air mata.
__ADS_1
"Karena adanya permata dalam tubuhmu Dhira" Jawab Rendi dan langsung membuat Nadhira memegangi dadanya.
"Tidak Dhira itu tidak benar" Ucap Rifki sambil memegangi pundak Nadhira.
Nadhira merasa sedih ketika mendengarnya, ia pun melepaskan pegangan tangan Rifki dari pundaknya dengan perlahan lahan, Nadhira pun menangis dan mengibaskan tangannya dari tangan Rifki.
Nadhira merasa bahwa jika Rifki bersamanya maka hal itu hanya akan membahayakan nyawanya saja, ia kembali teringat tentang para dukun sakti yang mengejarnya ketika gerhana bulan merah darah dan disaat itu Rifki hampir kehilangan nyawanya.
"Apa kau ingin melihat Rifki tiada Dhira?" Tanya Putri kepada Nadhira.
"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi Tante, aku tidak mau kehilangan Rifki" Jawab Nadhira.
"Tidak Dhira, kau tidak boleh meninggalkan diriku, jangan lakukan itu kepadaku".
"Tinggalkan aku Rif, mungkin ini sangat berat, tapi inilah yang terbaik untuk kita berdua".
"Ngak Dhira, aku ngak mau".
"Apa yang dikatakan Dhira benar Rifki, kalian memang tidak boleh bersama" Ucap Haris.
"Aku tidak peduli Pa, entah Rifki akan mati atau tidak Rifki akan tetap menikah dengan Dhira, meskipun tanpa persetujuan kalian berdua!".
"RIFKI!" Bentak Haris.
"Kenapa Pa! Papa dan Mama tidak akan bisa memisahkan aku dengan Dhira!" Suara Rifki yang tidak kalah jauh dari Haris.
Haris mengepalkan tangannya dengan sikap anaknya tersebut, diparkir itu sangat sepi sehingga tidak akan yang melihat pertengkaran itu karena para tamu sedang sibuk didalam sambil menikmati pesta dan jamuan yang disiapkan.
"Kenapa Pa? Mau pukul Rifki lagi? Pukul saja Pa, kalau bisa bunuh Rifki sekalian Pa, biar Papa puas" Tanya Rifki ketika melihat Haris mengepalkan tangannya.
"Rifki sudah jangan melawan kedua orang tuamu hanya demi diriku" Ucap Nadhira sambil berusaha untuk menenangkan hati Rifki.
"Kenapa tidak bunuh Rifki sekalian Pa? Kenapa hanya ingin memukul Rifki saja? Lebih baik Rifki mati Pa, daripada hanya sekedar mendapatkan pukulan dari Papa".
"Sudah Mas, jangan bertengkar diacara seperti ini, jangan merusak suasana disini" Ucap Putri yang langsung menggenggam erat tangan Haris.
"Apa kau ingin jadi anak durhaka Rif?" Tanya Haris.
"Rifki hanya minta satu hal kepada Papa, biarkan aku bersama dengan Dhira Pa, hanya itu saja, Rifki tidak pernah meminta apapun dari Papa selama ini, Rifki mohon jangan pisahkan kami"
"Papa tidak akan pernah merestui hubungan kalian".
"Kenapa kalian melakukan itu kepada Rifki?"
"Karena kami sangat menyayangimu Nak, kami tidak ingin kehilangan dirimu, kalian memang tidak boleh bersama, kau sendiri bahkan hampir kehilangan nyawa karena permata itu" Ucap Putri.
"Ma, itu takdir yang harus Rifki jalani dan tidak semua itu penyebab dari Nadhira, ini bukan kesalahannya karena menelan pemata iblis itu Ma".
"Meskipun bukan kesalahan Nadhira, tapi dia telah memiliki permata itu, kau tidak bisa melupakan hal itu Rifki" Ucap Haris menanggapi.
"Sudah Rifki, jangan hanya karena diriku kau sampai bertengkar dengan orang tuamu Rifki" Ucap Nadhira sambil memegangi lengan Rifki yang terlihat sedikit gemetaran.
Pandangan Rifki masih tertuju kepada kedua orang tuanya yang ada didepannya saat ini dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca, melihat itu membuat Nadhira berusaha untuk menenangkan perasaan Rifki yang berantakan saat ini.
Tangan Haris terlihat semakin terlihat mengepal dengan sangat eratnya karena tindakan yang Rifki lakukan, sementara Putri memegangi tangan itu dengan sangat eratnya karena ia takut kalau suaminya akan memukul anaknya.
"Jika kau tidak mau menjauh dariku, lebih baik aku yang menjauh Rif" Ucap Nadhira lagi.
"Apa yang kau katakan Dhira? Jangan lakukan itu".
"Om dan Tante benar Rif, kita memang seharusnya tidak bersama, bersamaku hanya akan membuatmu bahaya Rif, karena permata ini akan membahayakan dirimu, kau bahkan hampir kehilangan nyawa karena diriku Rif".
"Dhira, apapun yang terjadi nantinya kita harus lalui semuanya bersama sama, percayalah kepadaku Dhira, kita pasti bisa melewati semuanya".
"Tidak Rif, sebaiknya kau menjauhi diriku, aku hanya akan membawa masalah bagimu, jangan melawan kedua orang tuamu, karena mereka tau apa yang terbaik untuk anak anaknya".
"Aku tidak mau Dhira, jangan memintaku untuk menjauhimu, aku tidak bisa melakukan itu Dhira".
"Kau harus bisa Rif, lupakan diriku" Ucap Nadhira sambil menghapus air matanya.
"Papa tunggu dirumah" Ucap Haris dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Putri yang ada disamping Haris pun ikut masuk kedalam mobil yang terparkir di depannya itu, sementara Rifki masih menatap kearah Nadhira dengan sedihnya, dan Nadhira pun melakukan hal yang sama seperti Rifki.
__ADS_1