
Rifki pun memandang kearah Bayu dengan antusiasnya untuk mendengarkan informasi yang akan disampaikan oleh Bayu itu. Ia tidak mau ketinggalan satu informasi apapun mengenai anak dan istrinya itu, sehingga dirinya bersiap untuk mendengarkan semuanya dengan jelas.
"Sebelum kita datang kemari, dia telah diusir dari desa itu, Rif. Dia dituduh mengandung anak haram karena tidak diketahui siapa Ayahnya itu,"
"APA! BAGAIMANA BISA DIA DIUSIR DARI DESA ITU, BAY! ANAKKU BUKAN ANAK HARAM!" Bentak Rifki ketika mendengarnya, dirinya sangat tidak terima jika anaknya dikatakan sebagai anak haram.
"Jangan marah dulu, Rif. Justru bagus dia pergi dari desa itu,"
"Bagaimana aku ngak marah? Itu anakku bukan anak haram! Apanya yang bagus? Pala lo peang! Kalo sampai dia kenapa kenapa, hancurkan saja desa itu. Berani sekali mereka mengusir Nadhira dan anakku,"
"Tenang, Rif. Dengarkan dulu penjelasan dariku, kita ngak boleh gegabah dalam bertindak,"
"Tapi Bay, karena mereka mengusir anak dan istriku begitu saja. Lalu mereka akan tinggal dimana? Dia pasti sedang kesusahan sekarang, dan aku harus mencarinya kemana lagi, Bay? Pokonya harus menemukan dia secepatnya,"
"Iya, Rif. Aku lahan kok, tapi kejadian ini adalah sebuah keberuntungan untuknya,"
"Maksudmu apa? Beruntung apanya?"
"Dengan kejadian itu, beruntung dia segera pergi dari desa itu, Rif. Karena setelahnya puluhan orang datang kedesa tersebut untuk mencari anak kalian, dan mengobrak obrak desa itu, aku menduga bahwa dia adalah musuhmu yang mengincar nyawa anakmu, Rif. Beruntung Nadhira tidak ditemukan olehnya,"
"Maksudnya?"
"Aku akan jelaskan semuanya kepadamu, Rif. Tapi jangan motong ucapanku begitu saja, agar kau paham dengan apa yang akan aku sampaikan kepadamu saat ini,"
"Baiklah, katakan semuanya dengan jelas, Bay. Aku ngak mau ada sesuatu yang terlewatkan dari ucapanmu itu,"
"Iya, Rif."
Setelah kembali dari warung sebelumnya itu, Bayu telah mendapatkan bergitu banyak informasi mengenai kejadian yang telah terjadi ditempat itu. Dirinya pun memceritakan semua yang ia ketahui kepada Rifki, dan Rifki pun mendengarnya dengan cermat tanpa ingin ada yang terlewatkan.
*Flash back on*
Kepergian Nadhira dari desa itu membuat warga sekitar merasa puas, karena merasa bahwa aib yang ada didalam desa itu telah pergi. Baru saja Nadhira datang dari puskesmas, akan tetapi dirinya langsung diusir dari desa tersebut karena entah siapa yang telah menyebarkan sebuah fitnah tersebut.
Setelah 2 jam kepergian dari Nadhira, tiba tiba datanglah puluhan orang dengan menggunakan jas yang terlihat gagah dan memiliki jaringan luas ( pengusaha kaya raya ), kedatangan mereka pun membuat begitu banyak pertanyaan dibenak para warga yang ada disana.
"Maaf, kalian semua siapa ya?" Tanya Pak RT.
"Dimana wanita dan anaknya itu?" Tanya seorang lelaki sambil menarik kerah baju Pak RT.
"Wa.. wa.. wanita siapa yang anda maksud?" Tanyanya dengan terbata bata karena dirinya tengah ketakutan saat ini.
"Wanita yang datang beberapa bulan yang lalu didesa ini, dimana dia? Bukannya dia sudah melahirkan?"
"Dia telah diusir dari desa," Ucapnya dengan lirih karena takut.
Brakkkk...
Lelaki tersebut langsung melemparkan tubuh ketua RT itu kesebuah gerobak hingga gerobak tersebut pun langsung roboh. Tak beberapa lama kemudian, terjadilah kericuhan ditempat itu, bahkan anak buah yang dibawanya itu pun berhamburan untuk mengacak acak rumah warga disana demi mencari Nadhira dan anaknya itu.
Kejadian tersebut langsung membuat warga merasa trauma dengan sosok seorang yang memakai jas yang rapi. Karena tidak mengetahui keberadaan dari Nadhira, orang tersebut beserta anak buahnya tak segan segan untuk memukul orang yang menghalangi jalannya mencari Nadhira dan anaknya.
Begitu banyak orang yang cidera akibat kejadian tersebut, akan tetapi tidak ada yang berani untuk melaporkan kepada pihak berwajib karena ancaman yang mereka terima itu.
Mendengar bahwa Nadhira telah diusir dari desa, hal itu langsung membuat pria tersebut sangat marah. Dirinya tidak segan segan untuk melukai masyarakat yang ada disana, bayi yang selama ini dirinya incar itu pun telah diusir dari desa dan tidak tau kemana perginya keduanya itu.
"Kalian telah menggagalkan rencanaku! Maka kalian harus menanggung semuanya!" Sentak lelaki tersebut kepada seluruhnya.
Mereka pun dikumpulkan diruang lapang ( lapangan ) yang ada disana, tidak ada yang berani untuk berbicara ataupun hanya sekedar bergerak saja. Kumpulan para pria itu nampak begitu kekar dan seakan akan kekuatan mereka mampu untuk menguabisi para lelaki yang ada didesa itu.
__ADS_1
"Kemana wanita itu pergi!"
"Kami tidak tau Tuan, kami benar benar tidak tau," Ucap salah satu dari mereka dengan ketakutannya.
Ditempat itu, dipenuhi oleh suara tangisan anak anak yang tengah ketakutan. Mendengar jawaban tersebut langsung membuat lelaki itu mengeluarkan pistol yang ada didalam saku bajunya dan mengarahkan mata pistol tersebut ke kepala, lelaki yang menjawab pertanyaannya tadi.
"BUKAN JAWABAN ITU YANG AKU INGINKAN!" Bentak lelaki tersebut dengan berapi api.
Doorrrrr
"Aku ngak pernah main main dengan ucapanku!"
Lelaki tersebut langsung menembakkan pistol tersebut kelangit, dan langsung membuat mereka semua percaya bahwa itu bukanlah pistol mainan melainkan pistol sungguhan. Tembakkan tersebut berhasil membuat seluruhnya menundukkan wajahnya, mereka semua tengah ketakutan saat ini
"Jangan sakiti kami Tuan," Ucap seluruh penduduk ketakutan setelah mendengar suara tembakan tersebut yang menggeleggar ditempat tersebut.
"Dimana wanita itu?" Tanya pria tersebut sambil menjambak salah satu warga.
"Kami tidak tau Tuan, tolong ampuni kami,"
Plakkk...
Jawaban tersebut langsung membuat pria bertubuh kekar tersebut menampar pipi salah satu warga dengan kerasnya hingga membuat ujung bibirnya sobek setelah tamparan itu. Pria tersebut sama sekali tidak main main dengan pukulannya, bahkan dirinya tidak segan segan menyakiti mereka.
"Tuan Besar, wanita itu sudah tidak ada ditempat ini, kamu sudah mencarinya kerumah rumah warga tapi tidak ada juga," Lapor salah satu anak buah dari si pria bertubuh kekar.
"Cari ditempat yang lainnya, dia baru saja melahirkan dan tidak mungkin bisa berjalan terlalu jauh,"
"Baik Tuan Besar!"
"Aku tidak akan pernah melepaskan kalian semua, kalian akan menanggung resikonya nanti, berani sekali bermain main dengan diriku!" Seru pria tersebut dan langsung bergegas pergi dari tempat tersebut beserta seluruh anak buahnya.
Melihat kepergian dari puluhan orang tersebut langsung membuat seluruh warga menghela nafas lega, tidak jarang diantara mereka yang saling berpelukan karena ketakutan yang mereka hadapi sebelumnya itu.
"Wanita yang mana, Pak?" Tanya balik salah satu warga.
"Wanita yang telah memprovokasi kita sehingga kita semua mengusir Dhira dari desa ini, kemana dia?"
Sebelum kejadian itu terjadi, ada seorang wanita yang tidak mereka kenali datang kedesa tersebut, dirinya pun mengatakan hal yang buruk tentang Nadhira sehingga Nadhira dan anaknya diusir dari desa tersebut.
Kalau saja mereka tidak terprovokasi oleh wanita tersebut, mereka tidak akan mengusir Nadhira dari tempat tersebut. Sehingga, orang orang tersebut tidak akan membuat keributan seperti itu saat ini, mereka semakin bingung dengan siapa jati diri dari wanita yang tinggal didesa tersebut itu.
"Sepertinya wanita itu tidak ada diantara kita," Ucap salah satu warga sambil celingukan kesana kemari untuk mencari wanita yang dimaksudkan itu.
Orang orang itu menyebarkan teror didesa tersebut, hingga seluruhnya merasa ketakutan dan trauma apalagi ketika melihat begitu banyak lelaki yang memakai jas seperti apa yang sekumpulan orang orang yang telah membuat kekacauan didesa itu.
Kejadian baru kemarin, akan tetapi hal itu berhasil membuat ketakutan dihati mereka masing masing. Oleh karena itu, mereka seakan akan ketakutan ketika melihat kedatangan dari Rifki beserta dengan anggota Gengcobra yang ikut bersamanya.
Masyarakat sekitar berpikir bahwa anggota Gengcobra adalah bagian dari sekumpulan orang orang yang sebelumnya itu, dan mereka juga tengah mencari seseorang yang bernama Dhira. Yang mereka tahu hanyalah Dhira, bukan Nadhira.
Hal itu jugalah yang membuat Bayu dipukuli oleh masyarakat sekitar, hingga wajahnya terlihat bonyok seperti itu karena pakaian yang dirinya gunakan. Untung saja Bayu bisa lolos dari amukan warga, kalau tidak entah jadi seperti apa nasibnya saat ini.
*Flash back off*
Rifki mendengarkan cerita dari Bayu dengan seksama, jika seperti itu maka beruntunglah Nadhira segera pergi dari tempat tersebut sebelum orang orang yang tidak dikenal itu menangkapnya berserta dengan anaknya itu.
"Siapa wanita itu?" Tanya Rifki keheranan setelah mendengar cerita dari Bayu.
"Aku tidak tau, Rif. Menurut warga setempat, wanita itu tidak dikenali karena memakai masker dan juga kacamata hitam, jadi tidak ada yang tau mengenai wajahnya itu. Ini yang aku pikirkan Rif, bagaimana bisa wanita itu tau kalau hal ini akan terjadi?"
__ADS_1
"Apa kita mengenali wanita itu? Siapa wanita itu sebenarnya? Apakah wanita itu adalah wanita yang sama waktu dirumah sakit dulu?"
"Tapi yang aku herankan adalah bagaimana bisa wanita itu tau mengenai Nadhira? Secara kan Nadhira habis terjatuh dari jurang dan hilang, kenapa wanita itu bisa menemukannya dengan mudah?
"Aku tidak tau soal itu, sebaiknya kita harus segera mencari Nadhira, Bay. Aku takut kalau dia dalam bahaya jika kita telat menemukannya,"
"Iya Rif, semoga saja Nadhira bisa ditemukan oleh kita sebelum orang orang itu. Tapi jika Nadhira menyamar maka kita akan kesulitan untuk menemukannya, mungkin karena ini dirinya tidak mau kembali dan dia tidak mau anak dan dirimu dalam bahaya,"
"Tapi jika berjalan sendiri sendiri, bukankah itu malah membahayakan, Bay? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nadhira. Bagaimana dia bisa melakukan hal ini sendirian? Wanita itu benar benar nekat dan keras kepala," Ucap Rifki sambil mengeratkan kepalan tangannya.
"Sabar lah, Rif. Kita berdoa saja semoga dia baik baik saja, yang terpenting kita sudah mengetahui bahwa dia memang masih hidup."
*****
Nadhira kini tengah duduk dikursi dekat dengan cendela kamarnya, dirinya pun tengah melamun saat ini. Ditangannya ada sebuah cincin pernikahannya yang tengah dirinya genggam saat ini, setetes air mata pun jatuh dipipinya.
Nadhira kini tengah tidak memakai cadarnya, sehingga terlihat dengan jelas bahwa Nadhira tengah menangis saat ini. Nadhira sangat merindukan sosok Rifki dalam hidupnya, akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa saat ini.
"Maafkan aku, Rif. Kau boleh membenciku suatu saat nanti, untuk kali ini aku harus berbuat egois, aku ngak ingin Kinara juga terlibat dalam hal ini. Aku sangat menyayangi anak kita, dan juga dirimu. Maafkan aku, aku ngak mau kehilanganmu Rif, aku sangat menyayangimu hingga aku ngak bisa melihat dirimu terluka lagi,"
Dirinya mengenggam erat cincin tersebut hingga telapak tangannya terlihat memutih karena eratnya genggamannya tersebut, betapa besar kerinduannya kepada Rifki saat ini. Mungkin diluar dirinya akan terlihat bahagia bersama dengan keluarga barunya, akan tetapi didalam hatinya yang terdalam, dirinya ingin sekali bertemu dengan Rifki dan bahagia bersama dengan suaminya itu.
*Flash back on*
Puluhan orang kini tengah mengejar Nadhira diantara rimbunnya pepohonan, setelah selamat dari jatuh kejurang Nadhira kini langsung dikejar oleh begitu banyak orang. Dalam keadaan yang tengah terluka itu pun membuat Nadhira harus berjuang seorang diri untuk terus menghindar dari kejaran mereka.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Nadhira berlari dengan sempoyongan, dirinya yang sedang hamil muda itu pun harus lebih berhati hati untuk terus melangkah. Ia tidak mau anak yang ada didalam kandungannya akan keguguran lagi, sehingga dirinya harus berusaha sebisa mungkin untuk pergi dari tempat itu dan menghindari kejaran orang orang tersebut.
Orang orang yang tengah mengejarnya saat ini pun berpencar untuk mencari keberadaan dari Nadhira yang tidak mereka temukan itu, Nadhira sedang duduk diantara semak semak yang menjulang tinggi itu. Dirinya merasa kelelahan saat ini, dan perutnya terasa sedikit sakit, oleh karena itu dirinya memutuskan untuk istirahat terlebih dulu.
"Bertahanlah, Nak. Kamu anak Rifki, harus kuat ya, Nak."
Nadhira pun mengusap usap perutnya yang masih rata itu. Ditengah tengah rimbun ilalang yang menutupi dirinya, Nadhira tengah merintih kesakitan tepat dibagian perutnya. Tubuhnya yang tengah bersimbah darah itu pun membuatnya terlihat sangat menakutkan, dan dirinya harus berada disana sendiri untuk berjuang.
Nadhira seakan akan tidak berdaya saat ini, tubuhnya begitu lemas dan dirinya berpikir bahwa kali ini dirinys tidak akan selamat. Pikiran itu terus menari nari didalam benaknya, sakit yang ia rasakan semakin membuat pikirannya merasa yakin.
Beberapa orang tengah mengitari tempat tersebut, Nadhira yang merasakan itu pun langsung terpaku dan berharap bahwa mereka tidak akan menemukannya saat ini. Nadhira tidak ingin kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya, apapun yang terjadi kepadanya anak yang ada didalam rahimnya harus selamat.
Ketika merasa bahwa mereka telah pergi, Nadhira mencoba untuk bangkit dari duduknya itu. Dengan perlahan lahan dirinya pergi dari tempat tersebut untuk mencari bantuan, ia tidak tau kemana kakinya akan melangkah saat ini, dan yang ia tau bahwa dirinya harus segera pergi dari tempat itu.
Bhukkk
Kaki Nadhira pun tersandung sebuah akar pohon yang timbul diatas tanah, rasa sakit yang dia rasakan diperutnya itu pun semakin bertambah. Ketika hendak bangkit dari jatuhnya, dirinya pun melihat sepasang sepatu tengah berdiri dihadapannya.
"Mau lari kemana lagi kamu?" Tanya seseorang yang baru tiba itu kepada Nadhira.
"Tolong jangan sakiti saya," Ucap Nadhira ketakutan sambil berusaha untuk menjauh dari tubuh lelaki itu.
Nadhira sangat ketakutan saat ini, tubuhnya pun gemetaran hingga dirinya melupakan rasa sakit yang ia rasakan. Melihat senyuman lelaki itu, membuat Nadhira merasa ketakutan, meskipun dirinya hebat dalam beladiri akan tetapi saat ini dirinya tidak mampu melakukan itu karena rasa sakit yang ia rasakan.
Nadhira tidak ingin jika perutnya nanti malah akan terkena tendangan, dan akan berakibat dirinya akan kehilangan anaknya lagi. Dirinya pun memundurkan diri dengan merayap diantara rerumputan tinggi, dan tanpa sengaja dirinya menyentuh sesuatu.
Nadhira mengenggam erat sesuatu yang dirinya pegang itu, sebuah pasir yang kering. Nadhira dengan segera langsung melemparkan pasir tersebut dikedua mata lelaki yang ada didepannya, dirinya lalu mencoba untuk bangkit kembali dan berlari dari tempat itu.
"Wanita sialan! Arghhhh... Tangkap wanita itu!" Umpat lelaki tersebut ketika kedua matanya sakit akibat pasir yang masuk kedalamnya.
Nadhira sama sekali tidak mempedulikan itu, dirinya pun langsung bergegas untuk bangkit kembali dan berlari untuk menjauh dari kejaran orang orang yang menginginkan janin yang ada didalam kandungannya itu. Sampai mati pun, Nadhira tidak akan membiarkan anak yang ada didalam perutnya kenapa kenapa.
__ADS_1
Nadhira berlari sambil memegangi perutnya itu, rasa sakit kian terasa semakin parah. Ia terus berdoa semoga anak yang ada didalam kandungannya itu baik baik saja, dia tidak mau kehilangan seorang anak untuk kedua kalinya.
"Kamu harus bertahan, Nak. Beri Mama kekuatan," Ucap Nadhira yang terus berusaha untuk berjalan menjauh dari tempat tersebut.