Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pengungkapan


__ADS_3

Dibarisan anggota penembak terjadi sebuah keributan, karena belum memberikan arahan sampai tuntas akan tetapi justru peluru langsung dilontarkan. Ini sebuah kesalahan yang sangat fatal, bahkan sebelum itu terjadi Sapta masih berjuang untuk menghentikan dan memberikan bukti bukti bahwa Nadhira tidak bersalah.


Tapi apalah daya bahwa nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang bisa mengembalikannya. Bahkan sudah tidak lagi dapat diselamatkan, seseorang yang terkena tembak pada jantungnya hanya memiliki waktu kurang lebih 10 menit untuk bisa bertahan hidup.


Pundak Rifki pun bergetar sambil memeluk wanita yang dicintainya, Nadhira terasa sangat nyaman didalam pelukan Rifki. Nafasnya mulai sesak, dan Nadhira pun merasakan kedinginan yang luar biasa hebatnya akan tetapi dengan pelukan Rifki membuatnya masih mampu meredakan hangatnya pelukan itu.


Nadhira memejamkan kedua matanya dengan rapat, genggaman tangan Nadhira pun mulai renggang. Tangannya hendak terlepas dari tangan Rifki, akan tetapi Rifki langsung menggenggam tangan itu dengan sangat eratnya.


"Sama sekali tidak ada penyesalan dalam hatiku, kau adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidupku, Rif. Aku tunggu di syurga-Nya suamiku, jangan pernah ada wanita lain setelah aku," Ucap Nadhira lirih.


"Aku milikmu selamanya, Dhira. Tidak akan ada yang bisa menggantikan dirimu dihatiku, cepat atau lambat aku pasti akan menyusulmu,"


Nadhira pun tersenyum tipis kearah Rifki meskipun kedua matanya sudah terpejam, tubuhnya mendadak berkeringat dingin dan udara disekitarnya terasa sangat dingin. Area lukanya terlihat darah yang semakin deras mengalir, dan rasa panas peluru yang masuk pun semakin sakit dirinya rasakan.


"Rif, sakit," Ucap Nadhira pelan sambil meringis kesakitan.


Nadhira yang selama ini tidak pernah mengeluh dengan rasa sakit, hari ini pun dirinya mengeluhkan hal itu. Rifki pun setia untuk memeluknya, Rifki sangat terluka ketika melihat Nadhira terus mengeluh sakit dan hatinya merasa sangat tersayat ketika mendengarnya.


"Uhibbuki mitsla maa anti uhibbuki kaifa maa kunti. Wa mahmaa kaana mahmaa shooro, antii habiibatii anti. Zaujatii, antii habiibatii anti," Rifki pun menyanyikan lagu zaujati untuk Nadhira sambil mengusap kening Nadhira dengan lembutnya dengan air mata yang terus bercucuran.


Nadhira terus mendengarkan suara Rifki yang terasa sangat berat, dan terdapat sebuah kesedihan yang mendalam dibalik nyanyian itu. Darah pun keluar semakin banyak dari ujung bibir Nadhira, untuk berbicara saja Nadhira tidak mampu karena seakan akan darah itu memenuhi tenggorokannya.


"Aku ngantuk, Rif. Aku tidur ya?" Tanya Nadhira terbata bata.


"Tidurlah dengan damai, Sayang. Aku ikhlas melepaskan kepergianmu,"


"Terima kasih."


Rasa sakit yang teramat sangat luar biasa sakitnya, rasa sakit yang tidak pernah Nadhira rasakan, dan kini dirinya merasakan hal itu. Detak jantungnya semakin melambat, kedua matanya tak lagi mampu untuk dibuka, dan dirinya pun menghembuskan nafas terakhirnya didalam pelukan Rifki.


Rifki membelalakkan kedua matanya disaat Nadhira melepaskan pegangan tangannya, dan disaat itu juga rasanya dunianya sangat hancur. Rifki pun menyentuh nadi yang ada ditangan Nadhira, dan sudah tidak terdapat denyutannya disana.


"Dhira, Dhira, Arghhhhhhhh!!!!" Teriak Rifki sekencang kencangnya.


Sungguh sangat menyiksa baginya, memeluk tubuh orang yang paling dicintainya dan sudah tidak bernyawa. Wajah Nadhira terlihat tersenyum, akan tetapi ada setetes air mata yang keluar dari ujung matanya.


Rifki pun sesenggukan sambil mendekatkan wajahnya diwajah Nadhira, kenapa disaat dirinya sadar dari komanya justru Nadhira malah pergi jauh meninggalkan dirinya dan tidak akan pernah kembali lagi kedunia.


Semua diam membisu menatap kearah tubuh Nadhira yang sudah tidak bernyawa, dan mereka hanya bisa menangis tanpa suara. Hening pun terjadi ditempat itu, dan hanya suara angin kencang yang terdengar.


Kinara pun mendadak terjatuh dan tidak sadarkan diri, beruntung ada Reno yang siap siaga menangkap tubuhnya itu. Reno pun membawanya ke tepi lapangan yang panas itu, lalu Bayu menyuruhnya untuk membawa Kinara pulang kerumah Rifki.


Melihat itu, Rendi pun langsung berlutut ditempatnya, entah apa yang dirinya rasakan saat ini, seakan akan dia merasa kehilangan yang sangat besar. Lia pun langsung mendekat kearah Nadhira, dan meminta kepada Rifki untuk bisa memeluk anaknya untuk terakhir kalinya.


Rifki hanya menganggukkan kepalanya pelan kepada Lia, biar bagaimanapun juga Lia adalah Ibunya dan berhak atas anaknya. Setelahnya Lia pun langsung memeluk tubuh Nadhira dengan eratnya, dirinya terlambat untuk mengingat semuanya dan membiarkan nyawa anaknya dalam bahaya.


Rendi pun mendekat kearah Nadhira, dirinya melihat tubuh Nadhira yang sudah tidak bernyawa itu. Rendi menunduk kearah Nadhira, akan tetapi seketika tubuhnya didorong dengan sangat kuatnya oleh Rifki.


"Puas kau lihat anakmu meregangkan nyawa!" Sentak Rifki dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


Rifki begitu kecewa dengan Rendi, entah bagaimana bisa Rendi meminta hukuman mati untuk Nadhira yang bahkan anak kandungnya sendiri. Mendengar suara Rifki yang meninggi, Bayu pun langsung mendekat kearahnya dan menengahi keduanya.


"Dia bukan anakku," Ucap Rendi lirih.


"Bagaimana mungkin Nadhira bukan anakmu? Aku yang melahirkannya. Bisa bisanya kau berkata seperti itu!" Lia pun angkat bicara dan menatap tajam kearah Rendi.


"Dia adalah hasil perselingkuhanmu, kan!! Tes DNA itu mengatakan bahwa jelas jelas dia bukan anakku."


"Selingkuh? Justru kau yang selingkuh dibelakangku, Rendi. Dimana dirimu disaat aku melahirkan anakku? Kau bahkan sedang asik dengan wanita selingkuhanmu."


"Kau bahkan tidak pantas disebut manusia. Sebuas buasnya harimau, dia tidak akan pernah memangsa anaknya sendiri. Kau harusnya berterima kasih kepadanya, karena hidupmu atas belas kasihnya." Ucap Rifki menghela nafas berat.


"Aku tidak pernah meminta belas kasih darinya, untuk apa aku berterima kasih kepadanya?"


Kemarahan Rifki pun memuncak mendengar ucapan dari Rendi, tangannya mengepal sangat kuat untuk siap menghajar orang yang ada didepannya itu. Akan tetapi, melihat itu Bayu langsung mencegahnya agar tidak terjadi keributan lebih parah ditempat itu.


"Kau pikir darimana ginjalmu itu? Mana ada orang yang berbaik hati memberikannya begitu saja tanpa imbalan? Jika bukan Nadhira yang mendonorkannya, tidak akan ada yang mau melakukan itu. Jika dia bukan anakmu, mana mungkin ginjal kalian cocok?"


Duarrrr....


Bagaikan disambar petir disiang hari, Rendi begitu sangat terkejut mendengarnya. Dirinya pun teringat dengan seseorang yang pernah mendonorkan ginjal untuknya, tapi orang itu sengaja menyembunyikan identitasnya dan tidak ingin diketahui oleh siapapun.


Awalnya Rendi merasa curiga tentang siapa yang mendonorkan ginjal itu kepadanya, Entah mengapa identitas orang itu dirahasiakan sehingga dirinya tidak bisa berterima kasih kepadanya. Dan mendengar ucapan Rifki seketika membuat hatinya merasa hancur, dia pun tidak mempercayai hal itu.


"Tidak mungkin dia melakukan itu," Ucap Rendi dengan menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya.


Rifki pun membuka sedikit baju Nadhira, dan menampakkan sebuah bekas luka jahitan diperut Nadhira. Rendi tidak mempercayai apa yang dirinya lihat saat ini, memang bekas itu sedikit memudar akan tetapi dapat dilihat bahwa itu adalah bekas sebuah jahitan.


"Menurutmu bagaimana kondisi seorang yang hidup dengan satu ginjal? Dia begitu menderita selama ini, tapi dia berpura pura seakan akan dirinya baik baik saja. Aku sangat kecewa kepadamu, Rendi! Kau tidak pantas ku hormati!"


"Tidak mungkin... Tidak mungkin..."


"Dia bahkan tidak mempedulikan dirinya sendiri! Ataupun nyawanya sendiri. Kau tau seberapa banyak luka tusukan ditubuhnya? Seberapa banyak orang yang melukainya tanpa kau pedulikan? Dan kau tau seberapa menderitanya dia selama ini?" Tanya Rifki dengan beruntun dengan suara keras.


"Dhira, maafkan Papa," Ucap Rendi dengan histerisnya.


"Seharusnya kau yang mati, Rendi!!! Kau tidak pantas untuk hidup!!!" Bentak Rifki yang mulai kehilangan kendalinya.


Rifki ingin sekali menghajar lelaki yang ada dihadapannya itu, akan tetapi dirinya dihalangi oleh Bayu yang tau bagaimana kerasnya emosi Rifki. Rifki begitu terluka, bahkan dirinya tidak mampu berpikir dengan jernihnya.


"Aku satu satunya orang yang ada didalam ruangan operasi waktu itu, dan aku tau bagaimana Dhira kesakitan menahan semuanya. Dhira terbangun dari obat biusnya ketika operasi belum selesai dilakukan, dia bahkan harus menahan rasa sakit itu begitu lama ketika merasakan dagingnya disayat dan dijahit dalam keadaan hidup hidup tanpa bius." Ucap Susi ketika mengingat kejadian dimana Nadhira melakukan operasi pendonoran ginjal, karena memang Susi yang bekerja diwaktu itu.


Rifki pun menatap tidak percaya kepada Susi, bahkan Susi tidak pernah mengatakan hal tersebut mengenai kejadian itu kepadanya. Lalu pandangannya beralih kepada Nadhira yang terbaring tak bernyawa itu, begitu banyak hal yang ditanggungnya seorang diri bahkan sama sekali tidak mempedulikan rasa sakitnya.


"Dokter Evan yang mengoperasi dirinya waktu itu. Ketika mengetahui bahwa pengaruh obat biusnya hilang, dia menjadi panik dan tidak sanggup untuk melanjutkan hal itu. Dia tidak bisa membiusnya lagi karena resikonya akan tinggi, dan takut berpengaruh pada ginjal yang akan didonorkan sekaligus ginjal yang tertinggal. Kau tau apa yang dikatakan Dhira waktu itu? Dhira justru menyuruh kami melanjutkannya tanpa mempedulikan rasa sakitnya itu, dia....." Susi tidak mampu melanjutkan perkataannya, ini sangat menyakitkan untuk diceritakan.


"Dia kenapa, Sus?" Tanya Rendi.


"Nyawanya hampir melayang karena operasinya hampir gagal, itu semua dia lakukan untuk dirimu, Om!!! Dia tidak mau melihat Om meninggal, tapi kenapa Om justru menginginkan nyawanya!!!" Teriak penuh kekecewaan dari Susi.

__ADS_1


Rendi menatap nanar kearah Nadhira, begitu besar pengorbanannya untuk dirinya tapi dia justru menginginkan nyawanya. Orang yang telah menolong nyawanya, kini telah tiada dihadapannya dan karena dirinya.


"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa dia adalah Dhira selama ini? Seharusnya kau beritahu aku sebelumnya. Kenapa disaat seperti ini baru kau beritahu!!" Sentak Rendi yang frustasi.


"Dia memintaku untuk berjanji!!! Kenapa Om begitu bodoh hingga tidak mengenali dirinya!!"


"Dhira hanya pingsan, dia tidak mungkin meninggal," Ucap Rendi yang sulit menerima kenyataannya.


"Sudah terlambat untuk semuanya. Kau lebih percaya hasil tes DNA yang palsu itu daripada cinta anakmu sendiri, Sena telah memalsukan semuanya dan membuat kau membenci anakmu sendiri. Aku diam selama ini karena menghormati kemauan Dhira, tapi tidak untuk kali ini, Rendi. Kau bahkan tidak pantas disebut seorang Ayah!!" Rifki terlihat begitu kehilangan kesabarannya.


"Dhira..." Panggil Rendi lirih sambil menatap kearah tubuh Nadhira.


"Aku tidak akan membiarkan kau menyentuh tubuh istriku, walaupun hanya sekejap saja. Kau tidak pantas untuk menyentuhnya," Ucap Rifki sambil menghalangi tangan Rendi yang hendak menyentuh tangan Nadhira.


"Dia anakku,"


"Bukan!! Kau tidak pernah menganggapnya sebagai anakmu. Bahkan kau mengusirku ketika aku memintamu untuk datang kedalam pernikahanku dan Dhira. Dhira sangat menginginkan dirimu datang, tapi apa yang kau lakukan? Kau mengusirku, dan menganggap Dhira adalah orang asing bagimu."


"Maafkan aku..."


"Apa maafmu bisa mengembalikan nyawa Dhira? Maafmu sama sekali tidak berguna!"


Lia hanya bisa berdiam diri sambil menatap wajah putri tercintanya, dirinya benar benar menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu untuk menolong Nadhira. Hanya ada penyesalan didalam hatinya, penyesalan yang tidak akan pernah bisa diobati oleh waktu sekalipun itu.


"Dunia begitu kejam kepadamu, Nak. Bahkan Ayahmu sendiri meragukan dirimu, entah kesulitan seperti apa yang selama ini kau lalui seorang diri. Maafkan Mama karena tidak bisa ada disampingmu selama ini," Ucap Lia lirih sambil mengusap kening Nadhira pelan.


Lia begitu terpukul melihat keadaan Nadhira, baru saja dirinya mengingat semuanya tapi dia harus kehilangan anaknya yang baru ia ingat. Dunia seakan akan tidak adil baginya, kenapa Tuhan begitu kejam untuk mengambil putrinya dari dirinya disaat dia baru kembali.


Tidak ada yang tidak menangis ditempat itu, karena kebaikan Nadhira masih melekat didalam hati mereka. Kehilangan Nadhira adalah hal yang tidak pernah bisa mereka bayangkan, apalagi kematiannya dengan cara seperti ini.


Sapta pun baru tiba ditempat itu setelah mengurusi berkas berkas, akan tetapi dirinya terlambat karena Adik angkatnya itu telah tiada. Dirinya pun langsung berlutut disamping jenazah Nadhira, dan air matanya pun langsung mengalir begitu sangat derasnya.


"Dhira bangun. Aku datang membawa Mamamu kesini, tapi kenapa kau justru pergi secepat ini," Ucap Sapta sambil menangis sesenggukan.


Nadhira begitu dicintai oleh orang orang yang ada disekitarnya, sehingga kepergiannya membawa duka bagi semua. Tidak akan ada yang bisa mengembalikan semuanya seperti semula, dan hanya ada penyesalan didalam diri mereka.


"Kenapa kalian diam saja? Tangkap wanita itu! Jangan biarkan dia lolos begitu saja!" Teriak Sapta menyuruh anggota kepolisian untuk menangkap Sena.


Sapta memiliki bukti bukti yang sangat kuat sehingga dirinya bisa memerintahkan kepada mereka untuk menangkap Sena, dan seluruhnya langsung bergegas untuk menangkap Sena. Akan tetapi, Sena berhasil kabur dari tempat itu, dan keluar dari gedung tersebut.


Sena menjadi buronan, sehingga terjadilah kejar kejaran diantara Sena dan anggota kepolisian. Sebuah hal yang tragis pun dirinya alami, dan kejadian itu tidak terelakkan lagi. Ketika Sena berlarian di jalanan, sebuah truk yang bermuatan besi pun menabraknya.


Tubuhnya hancur lebur karena terlindas oleh ban truk yang sangat besar, sehingga dirinya langsung tewas ditempat. Anggota tubuhnya pun berceceran memenuhi jalanan itu, kepalanya sudah tidak terbentuk lagi, bahkan organ tubuhnya berserakan dimana mana.


Melihat Sena dan Nadhira yang meninggal disaat bersamaan, hal tersebut langsung membuat Rendi kehilangan akalnya. Rendi mengalami gangguan jiwa, sehingga dirinya harus dibawa kerumah sakit jiwa agar tidak membahayakan orang lain dan agar ada yang merawat dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai readers...

__ADS_1


Gimana tissue nya masih banyak? Ayo beli lagi. Gimana air matanya aman kan? Aman dong pastinya.


Sekali lagi ini bukan akhir ya! Selamat menikmati.


__ADS_2