Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki lemah


__ADS_3

Rifki masih merasa bingung dengan kejadian yang terjadi kepadanya saat ini, bahkan dirinya sama sekali tidak mengingat apapun soal itu. Ketika membuka kedua matanya, Rifki sangat terkejut ketika mendapati bahwa dirinya berada didalam sebuah goa bersama dengan Haris dan Bayu.


Kepalanya masih terasa pusing sehingga tidak bisa mengingat apapun yang telah terjadi kepadanya sebelumnya. Kondisinya masih terlihat sangat lemah saat ini, apalagi rasa pusing yang terus menyerangnya tanpa ampun sedikitpun.


"Kamu masih sanggup untuk berjalan kan?" Tanya Haris kepada anaknya.


"Bentar Pa, kepala Rifki masih sakit. Rasanya berat banget," Ucap Rifki samb memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Bay, minta kepada anggota Gengcobra minum. Biar dia rileks dulu," Ucap Haris kepada Bayu.


"Baik Om," Jawab Bayu.


Bayu pun bergegas untuk keluar dari goa tersebut, dan dirinya bergegas untuk meminta air kepada anggota Gengcobra yang sebagian membawa minuman. Bayu langsung menghampiri mereka yang ada didepan goa itu, dan langsung membuat mereka siap siaga didepan Bayu.


"Ada yang bawa minum?" Tanya Bayu.


"Ada apa Tuan Bayu? Apakah benar Tuan Muda ada didalam?" Tanya Reno kepada Bayu.


"Alhamdulillah dia telah ditemukan. Tuan Besar minta air untuknya, kamu cepat ambilkan dimobil," Perintah Bayu keadaan Reno.


"Baik Tuan Bayu," Jawab Reno.


Reno langsung bergegas untuk berlari menuju ke mobil yang mereka pakai sebelumnya, dan dirinya pun langsung mengambil minuma itu didalam mobil tersebut. Setelah mendapatkannya, Reno langsung bergegas untuk kembali menemui Bayu.


Sementara Rifki masih mencoba untuk menghilangkan rasa pusingnya itu, matanya ingin sekali terpejam akan tetapi dirinya terus mencoba untuk tetap terjaga agar tetap mempertahankan kesadarannya itu.


Tak beberapa lama kemudian, Bayu berlari menuju kearah goa itu sambil membawa sebuah botol kecil yang berisikan air minum. Dirinya lalu menyerahkan botol tersebut kepada Haris, setelahnya Haris pun membantu Rifki untuk meminumnya.


"Minum dulu, Rif. Biar lebih mendingan,” Ucap Haris.


Rifki meminumnya dengan perlahan lahan, dengan bantuan dari Haris. Tubuhnya yang masih lemas itu membuatnya agak kesulitan untuk memegangi sendiri botol air mineral tersebut, sehingga dirinya membutuhkan bantuan untuk bisa meminum minuman itu.


Rifki masih terlihat begitu lemas karena efek dari obat bius itu, sehingga dirinya masih bersandar dipundak Haris. Rifki mencoba untuk mengatur nafasnya, rasanya seperti dirinya sangat mengantuk dan juga ingin sekali memejamkan matanya karena mengantun dan pusing.


Meskipun telah meminumnya, akan tetapi Rifki masih merasa pusing saat ini. Itu karena obat bius yang dirinya terima dan juga racun yang mengenai dirinya karena perempuan misterius itu, sehingga membuatnya begitu lemas seperti saat ini.


"Gimana rasanya, Rif? Apa sudah membaik?" Tanya Haris kepada anaknya.


"Masih sama, Pa. Pusing banget,"


Tiba tiba, Rifki pun memuntahkan isi perutnya. Hal itu langsung membuat Haris segera memijat leher belakangnya, untuk mencoba meredahkan rasa pusing dan juga mual yang dialami oleh Rifki itu. Entah mengapa tiba tiba dirinya merasa begitu mual, sehingga membuatnya merasa semakin lemas.


"Minum lagi, Rif. Biar cairanmu tidak habis,"


Haris pun kembali untuk membantu Rifki meminum minuman itu, Rifki hanya bisa menurut saja tanpa membantah sedikitpun itu. Tubuhnya masih terasa begitu lemas, bahkan dirinya seakan akan tidak memiliki tenaga lebih saat ini, dirinya terus ingin memejamkan matanya.


Setelah meminum air itu Rifki lalu memuntahkannya, hal itu terjadi berulang ulang kali. Rifki mengeluarkan racun itu melalui muntahannya, setelah muntah cukup banyak akhirnya tubuhnya kembali melemah hingga tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya. Tubuh Rifki juga terlihat berkeringat dingin setelah memuntahkan isi perutnya cukup banyak, bahkan rasanya seperti tidak tersisa sedikitpun diperutnya saat ini.


Rifki merasa lega ketika dirinya tidak lagi merasa mual setelahnya, meskipun tubuhnya sangat lemas saat ini. Rifki masih menyandarkan kepalanya dipundak Haris, dengan terus menyetabilkan pernafasannya agar tidak terlalu memburu seperti sebelumnya ketika dirinya termuntahkan.


Haris pun memijat kepala Rifki perlahan lahan untuk menghilangkan rasa pusing yang dialami oleh Rifki saat ini. Pijatan demi pijatan membuat Rifki merasa nyaman saat ini, bahkan rasa pusing yang dirasakannya perlahan lahan mereda dengan sendirinya setelah dipijat oleh Haris.


Pijatan tangan Haris membuat Rifki merasa lebih rileks daripada sebelumnya, pijatan itu tidak sepenuhnya menghilangkan pusing yang dialami oleh Rifki, akan tetapi itu cukup untuk membuatnya merasa lebih mendingan daripada sebelumnya.


"Apa sudah mendingan, Nak?" Tanya Haris khawatir dengan Rifki.


"Udah mendingan kok, Pa. Daripada sebelumnya," Jawab Rifki.


"Syukur Alhamdulillah,"


"Pa, kenapa Rifki bisa ada disini?"

__ADS_1


"Apa kamu masih tidak mengingatnya? Sebelum kamu tidak sadarkan diri, apa yang kamu ingat?"


Rifki pun mencoba untuk mengingat kejadian sebelumnya, kejadian itu begitu cepat bahkan dirinya sedikit kesulitan untuk mengingatnya. Bahkan jika dipaksa untuk mengingatnya, rasa sakit itu akan muncul kembali dan akan membuat Rifki merasa sangat kesakitan.


"Aku tidak tau, Pa."


"Jangan dipaksakan, Nak. Biar nanti ingat ingat sendiri, apa ini punyamu?" Tanya Haris sambil menyodorkan sebuah pisau kecil.


Rifki pun mengambil pisau kecil itu dari tangan Haris, dirinya pun memeganginya. Hanya sekali memegangnya saja dia sudah tau pisau itu adalah miliknya, dia lalu merogoh sakunya untuk mencari pisau kecil miliknya itu.


"Pisau ini punya Rifki kok, Pa. Papa menemukannya dimana? Kenapa bisa sama Papa?" Tanya Rifki.


"Tadi ada seseorang yang melemparkannya kepada Pak Hendra, hingga membuatnya tewas sebelum mengatakan siapa pelaku yang telah menculikmu. Dan ketika Papa melihat pisau ini, Papa jadi teringat dengan menantu Papa," Jelas Haris.


"Pak Hendra tewas? Kenapa bisa, Pa? Pisau ini bahkan tidak bisa menewaskan seseorang begitu cepat, dan memang pisau seperti ini hanya Rifki dan Nadhira yang punya karena desain seperti ini adalah kemauan Rifki. Bagaimana bisa dia tewas begitu saja?" Rifki sangat terkejut mendengarnya.


Rifki sangat terkejut ketika mendengar bahwa Hendra telah meninggal dengan tragis hanya karena sebuah pisau kecil yang dirinya pegang saat ini. Dirinya merasa bingung kenapa pisau itu mampu untuk menewaskan seseorang, bahkan ukuran pisau itu sangat kecil dan hanya mampu untuk menyayat musuhnya akan tetapi tidak telalu dalam.


"Sebelumnya, sepertinya dia telah melakukan sebuah pertarungan diluar, bahkan kondisinya sangat lemas saat itu. Ketika kami bertanya kepadanya, belum selesai dia memberitahukan tiba tiba pisau milikmu itu menancap dilehernya, dia juga memiliki banyak luka sayatan didadanya. Seakan akan pelakunya menargetkan dirinya saja, karena yang lainnya lukanya tidak seperti dirinya. Ini sangat aneh, kenapa hanya Pak Hendra saja yang mengalami hal seperti ini? Siapa yang membunuhnya? Sama sekali tidak ada jejak," Jelas Bayu.


"Ada yang aneh tentang hal ini, lalu kalian menemukan siapa pembunuhnya?" Tanya Rifki.


"Tidak, Rif. Tadi ada sekilas bayangan hitam, seluruh anggota Gengcobra sudah mengejarnya tapi tidak ada yang berhasil menangkapnya. Mungkinkah dia pelakunya? Tapi anehnya, kenapa bayangan itu hanya seorang diri, bagaimana bisa satu orang mampu menghabisi banyak orang sekaligus?"


"Ada yang aneh tentang hal ini, Bay. Kamu selidiki masalah ini, dan segera tangkap pelakunya entah itu hidup atau mati aku tidak peduli, asalkan kalian menangkapnya dan membawanya ke hadapanku. Pak Hendra adalah orang yang baik, dia begitu berjasa dalam keluargaku, Aku tidak akan membiarkan pelaku yang telah membunuhnya lepas begitu saja. Di mana sekarang mayatnya?"


"Mayatnya ada didepan, Rif. Dan sedang dibawa anggota Gengcobra menuju ke mobil, sebaiknya kita segera pergi dari sini untuk memakamkan jenazah dari Pak Hendra,"


"Iya Bay, setelah itu makamkan dengan layak dipemakaman umum untuk anggota Surya Jayantara sendiri."


"Baik Rif,"


"Kamu harus segera menemukannya, Bay. Jangan biarkan pelakunya berkeliaran begitu saja,"


Rifki lalu bangkit dari duduknya dengan bantuan dari Bayu, ketiganya segera bergegas keluar dari dalam goa itu. Rifki yang baru sadar dari pengaruh obat bius itu terlihat sempoyongan ketika berjalan, karena kepalanya masih terasa begitu sakit dan bahkan dirinya masih belum bisa berdiri dengan tegaknya.


Bayu segera membawa Rifki ke mobil, dirinya pun langsung memerintahkan Reno untuk menjalankan mobil tersebut menuju kerumah Rifki. Di perjalanan menuju rumahnya Rifki masih terlihat begitu lemah, apalagi sehabis racun yang dirinya terima membuat kondisinya semakin melemah.


"Bay, kita ke rumah sakit dulu," Ucap Haris yang merasa bahwa anaknya semakin lemas.


"Baik Tuan," Jawab Bayu.


"Nggak perlu ke rumah sakit, Pa. Rifki baik baik saja kok, Rifki hanya butuh istirahat saja. Istirahat sebentar pasti nanti akan baik kok," Ucap Rifki lirih.


"Tapi apa salahnya untuk priksa sebentar, Nak? Atau mau dipanggilkan Dokter Kevin saja?"


"Nggak usah, Pa. Rifki nggak papa kok,"


"Nggak nggak, harus dipanggilkan,"


Tidak mau mendengar lagi bantahan dari Rifki, Haris segera mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya. Dirinya pun mencari nomor ponsel milik Dokter Kevin untuk dipanggil ke rumah, setelah dirinya menemukan nomor itu dia langsung memencetnya dan menelepon Dokter Kevin.


"Halo Dok, bisa datang ke rumah sekarang?" Tanya Haris ketika telpon tersebut sudah terhubung.


*****


Sesampainya dirumah, Rifki lalu dibawa masuk kedalam kamarnya oleh Bayu dan juga Haris. Ketika mereka sampai di rumah tersebut Dokter Kevin sudah menunggunya, setelah dirinya dihubungi dia langsung bergegas untuk mendatangi rumah Rifki tanpa berlama lama lagi.


Ketika Rifki sampai di rumah, Dokter Kevin pun mengikutinya untuk menuju ke dalam kamarnya. Dirinya pun langsung memeriksa keadaan Rifki setelahnya, dan mengeluarkan beberapa alat medis yang telah dibawanya untuk menuju ke rumahnya itu.


"Gimana kondisi Rifki? Dia nggak papa kan? Soalnya setelah sadar dari pingsan dirinya muntah muntah terus," Tanya Haris dengan khawatirnya.

__ADS_1


"Apa sebelumnya tuan muda makan atau minum apapun?" Tanya Dokter Kevin kepada Rifki.


"Seingatku tadi aku tidak makan apapun, bahkan aku tidak minum apapun. Karena pada waktu sebelum acara pesta bunga api tidak ada makanan atau minuman yang masuk ke dalam perutku," Jawab Rifki sambil mengingat.


"Tapi kenapa anda bisa diracun?"


Pertanyaan itu langsung membuat ketiganya sangat terkejut, bagaimana bisa Rifki diracun tanpa ada yang mengetahuinya. Bahkan racun jenis apa mereka pun tidak mengetahuinya, seingat mereka Rifki dijaga dengan sangat ketatnya sehingga tidak ada orang lain yang memberinya makan atau minum dengan sembarangan.


Bagaimana mungkin Rifki bisa diracuni oleh orang lain? Mungkin pelakunya begitu sangat licik dan mengetahui tentang Rifki, sehingga dirinya begitu mudah untuk meracuni Rifki. Bahkan ketika Rifki dijaga ketat oleh anak buahnya, sehingga bisa dengan mudah Rifki diracuni oleh seseorang.


"Apakah itu sangat berbahaya, Dok?" Tanya Haris panik.


"Kalian tidak perlu khawatir soal itu, racun ini tidak berbahaya tapi hanya melemahkan saja. Istirahat yang cukup nanti kondisinya akan perlahan lahan baik, saya akan buatkan resepnya dan nanti nyuruh bawaan saya untuk mengantarkan obatnya kemari,"


"Baik Dok, terima kasih."


"Setelah ini biarkan Tuan Muda istirahat dengan nyaman, agar ketika bangun nanti tubuhnya sudah kembali vit. Tuan Muda jangan kebanyakan pikiran dulu untuk sementara waktu, karena beban pikiran bisa saja membuat kondisi tuan muda menjadi lebih parah,"


"Iya Dok," Jawab Rifki.


"Kalau begitu saya permisi dulu, karena masih banyak pasien yang harus saya tangani."


"Mari Dok, biar saya antar," Tawar Bayu.


Bayu langsung berkas pergi dari kamar Rifki untuk mengantarkan Dokter Kevin, sementara di kamar itu hanya ada Rifki dan ayahnya saja. Hari sebelumnya menyuruh Bi Sari untuk membuatkan minuman hangat untuk Rifki, ketika dokter Kevin pergi Bi Sari langsung masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ini Tuan minumannya," Ucap Bi Sari sambil menyodorkan minuman tersebut kepada Haris.


"Terima kasih ya Bi," Ucap Haris.


"Iya Tuan."


Setelah memberikan minuman tersebut kepada Haris, Bi Sari langsung bergegas untuk pergi dari kamar itu. Mumpung minumannya masih terasa hangat, Haris selalu membantu Rifki untuk meminum minuman tersebut, hingga membuat tubuh Rifki terasa hangat.


"Setelah ini kamu istirahat saja dan jangan kemana mana," Ucap Haris memberi peringatan kepada Rifki.


"Iya Pa. Rifki tidak akan kemana mana,"


"Kalau begitu papa pulang dulu, Mamamu pasti mencarimu karena semalaman kamu hilang. Dia sangat khawatir mungkin dia tidak bisa tidur juga,"


"Terus Mama di mana sekarang, Pa? Kenapa Mama tidak datang ke rumah saja?"


"Semalam Papa menyuruh untuk pulang biar dia bisa istirahat, Papa takut kalau kondisinya akan memburuk sakit sakitan kalau kamu tidak ditemukan. Kamu tahu sendiri kan kalau Mama mau khawatir itu gimana? Papa juga nggak mau kalau mamamu sampai kenapa napa, mangkanya Papa suruh dia istirahat di rumah saja,"


"Iya, Pa. Memang harus seperti itu biar Mama tidak khawatir soal Rifki, Papa pulang saja dan temui Mama. Rifki nggak papa kok,"


"Biar ditemani Bayu ya?"


Belum sempat Rifki menjawab pertanyaan dari Haris, Bayu tiba tiba masuk ke dalam kamarnya. Setelah dirinya mengantar dokter Kevin untuk pulang, Bayu langsung bergegas Kembali menuju ke dalam kamar Rifki. Dirinya masih melihat Rifki duduk di tepi kasurnya dengan pakaian yang masih bersimbah darah, darah itu juga sudah berwarna coklat karena sudah lama mengering.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pengumuman:


Haii... Bagaimana kabar kalian? Kalian baik baik saja kan? Oh tentu saja baik. Sudah lama nih Author tidak pernah menyapa kalian, sebenarnya Author ingin sekali berhenti nulis beberapa saat karena banyak masalah yang Author hadapi, tapi demi kalian Author akan tetapi update kok hanya saja nggak tau kapan waktunya untuk update.


Terima kasih yang sudah komen, like dan memberi semangat Author melalui dukungan dukungannya. Author senang bisa menulis sekaligus berdakwah didalam novel ini, semoga tulisan Author bisa bermanfaat untuk kalian dan hal yang dialami oleh tokoh bisa kita pikirkan baik baik tentang sebab dan akibat.


Author juga manusia yang bisa merasa lelah dan sakit, jadi mohon dimaklumi dan dimengerti ya.


Insya Allah, Author akan terus melanjutkan novel ini sampai tamat. Kalau nggak tamat atau berhenti ditengah jalan, datangi aja tuh rumah Auhtor sambil bawakan uang segebok wkwkw... Canda yak..

__ADS_1


Selamat membaca, jangan lupa jaga kesehatan juga. Obat tidak berguna jika yang sakit adalah hati dan perasaannya, jadi usahakan untuk tetap bahagia.. See you next time


__ADS_2