Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pengorbanan Aryabima


__ADS_3

Nadhira memerhatikan pertarungan keduanya dengan perasaan yang campur aduk, disatu sisi Rifki sedang terluka sehingga dirinya bersimbah darah, sementara disisi lain Panji tengah merasukinya dan berusaha untuk dapat mengalahkan Aji yang saat ini menjadi lawannya bertarung.


"Ayah!" Teriak Haris ketika mengetahui bahwa Aryabima tengah terluka akibat pertarungan itu.


Aryabima kini melawan saudara kandung dari Aji, yakni Anhar. Anhar adalah Ayah kandung dari Syaqila, yang sengaja identitasnya disembunyikan. Anhar mau bekerja sama dengan Kakaknya untuk mengalah keluarga Abriyanta yang telah merenggut nyawa dari Syaqila.


Sejak Syaqila dikalahkan oleh Nadhira waktu itu, Syaqila menjadi tertekan karena fisiknya yang berubah menjadi keriput dan juga terlihat sangat memperihatinkan. Syaqila tidak mau makan dan bahkan tidak mau bertemu dengan siapapun, ia memilih untuk mengunci diri didalam kamarnya dan tidak mau menerima adanya orang lain dikamarnya.


Anhar merasa bingung dengan anaknya, ia tidak tau lagi harus bersikap seperti apa kepada anak gadis satu satunya itu. Karena tertekan sehingga membuat Syaqila harus meregangkan nyawanya dengan sangat mengenaskan, Syaqila mati dengan tubuh yang hanya tersisa tulang dan kulitnya saja.


Hal itu semakin membuat Anhar ingin membalaskan dendamnya kepada keluarga Abriyanta. Anhar maupun isterinya sama sekali tidak berniat untuk merebut keris pusaka xingsi itu, akan tetapi Aji terus membujuk anaknya untuk mengambil alih keris itu. Hal itu membuat Syaqila berambisi untuk mendapatkan keris pusaka xingsi.


Aji juga membujuk Anhar untuk mendapatkan keris pusaka xingsi untuk anak gadisnya itu. Awalnya Anhar tidak setuju akan hal itu, akan tetapi istrinya justru menjadi semakin tertarik untuk mendapatkan keris pusaka xingsi, dan pada akhinya mereka menjadi berambisi untuk mendapatkan keris pusaka xingsi tersebut.


Aryabima mendapatkan luka tusukan dari senjata tajam milik Anhar. Melihat itu langsung membuat Haris berlari kearah Aryabima, Haris langsung menangkap tubuh Aryabima yang sedikit terhuyur akibat serangan itu.


"Ayah, bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Haris dengan paniknya ketika melihat luka tusukan yang begitu dalam didada milik Aryabima.


"Keluarga Abriyanta harus musnah!" Teriak Anhar sambil memainkan pisau yang berlumuran darah ditangannya itu.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Teriak Haris kepada Anhar.


Haris memang tidak pandai beladiri akibat dulu dirinya pernah cidera parah sehingga harus merelakan beladiri hilang begitu saja, ia pun membantu Aryabima untuk bersandar dibawah sebuah pohon yang berada cukup dekat dengan tempatnya saat ini.


"Memangnya kau bisa apa? Kau sendiri sama sekali tidak cukup untuk melawanku," Ucap Anhar dengan sombongnya.


"Siapa bilang sendiri, masih ada aku yang bisa melawanmu," Ucap Nadhira dari kejauhan dan kini dirinya sedang bergegas mendekat kearah Anhar.


"Kau hanya seorang wanita lemah yang sama sekali tidak akan bisa melawanku,"


"Aku bukan hanya wanita lemah, aku adalah kekuatan seorang Ibu yang akan membalas dendam atas perbuatan yang diterima oleh anaknya. Kalian tidak akan bisa memusnahkan keluarga Abriyanta sampai kapanpun itu,"


Nadhira lalu menyerang kearah Anhar dengan serangan yang sangat sengit, perut Nadhira yang masih rata tersebut sama sekali tidak menghalangi Nadhira untuk bergerak dan bahkan menyerang kearah mereka. Dengan kemampuan yang dirinya miliki hal itu membuat Anhar sedikit terdesak karena apa yang dilakukan oleh Nadhira.


"Akh..." Pekik Nadhira ketika merasakan bahwa tangannya terkena sebuah luka sayatan yang telah diberikan oleh Anhar kepadanya.


"Menyerahlah, dan serahkan permata itu dengan baik baik kepada kami, maka kami akan memberikan kematian yang mudah untuk kalian semua," Ucap Anhar dengan kekehan pelan.


"Menyerah hanya untuk orang yang tidak memiliki iman didalan hatinya, aku punya Allah yang akan memberikanku kekuatan, dan Allah tidak suka bahwa hamba-Nya menyerah begitu saja." Pungkas Nadhira.


"Baiklah jika itu kemauanmu!"


Anhar langsung mengangkat senjata yang ada ditangannya dan bergegas untuk menyerang kearah Nadhira dan bukan hanya itu saja, melainkan anak buah dari Aji pun ikut menyerang kearah Nadhira saat ini. Melihat itu membuat Aryabima tidak bisa berdiam diri melihat Nadhira diserang bersama sama begitu saja.


"Dhira awas!" Teriak Aryabima dan langsung mendorong tubuh Nadhira untuk menjauh.


Anhar yang tadinya menggerakkan senjata yang ada ditangannya untuk menyerang kearah Nadhira dari belakang tersebut terkejut ketika melihat kedatangan Aryabima. Hal itu langsung membuat senjata yang ada ditangannya menusuk punggung Aryabima hingga tembus kedepannya.


"Brengs*kk! Seharusnya kau mati saja tua bangka!" Umpatnya keadaan Aryabima.


"Kakek!" Teriak Nadhira.


"Ayah!"


Sebuah darah segar mengalir dari ujung bibir Aryabima, akan tetapi bibir tersebut sedikit terangkat untuk memberikan sebuah senyuman kepada Nadhira. Anhar lalu mendorong tubuh Aryabima kearah anak buahnya, anak buahnya yang dituju tersebut langsung mengangkat senjatanya dan menusuk kearah Aryabima lagi.

__ADS_1


Aryabima menjadi bulan bulanan bagi seorang Anhar, entah berapa banyak luka tusukan yang didapatnya saat ini. Nadhira maupun Haris tidak mampu untuk menolong Aryabima saat ini, ketika Nadhira ingin menangkap tubuh Aryabima tapi tubuhnya itu sudah dilempar ke yang lainnya.


"Bukankah kau ingin menjadi penyelamat ha! Maka rasakan ini," Orang tersebut langsung mengarahkan ujung pisaunya keperut Aryabima hingga tembus kebelakang pinggangnya.


Aryabima pun langsung memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, suaranya tercekal hingga tidak mampu keluar akibat darah yang telah memenuhi seluruh tenggorokannya itu. Aryabima pun terlihat seperti kesulitan untuk bernafas akibat penuhnya tenggorokannya dengan darah.


"Tunjukkan kehebatanmu, Arya. Bukankah dulu Chandra juga melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan? Kau merasa hebat karena mampu membawa Rifki pergi dari tempat itu, tapi kini tidak lagi. Karena kau akan mati ditanganku,"


Jlebbb..


Anhar pun kembali mendaratkan sebuah tusukan tepat di jantung Aryabima. Darah pun keluar dari hidung dan mulutnya, mereka seakan akan tidak memiliki perasaan kepada manusia lainnya dan menganggap mereka seperti hewan saja.


"Kakek! Jangan lakukan itu,"


"Ayah! Hentikan semuanya!"


Haris dan Nadhira berusaha untuk menolong Aryabima akan tetapi keduanya sama sekali tidak mampu melakukan itu karena anak buah dari Aji menghalangi mereka, dan bahkan mereka tidak segan segan untuk menyakiti keduanya.


"Lihatlah Haris, Aryabima sudah tidak berdaya sekarang. Apa yang bisa kau lakukan? Kau akan menyaksikannya sendiri bagaimana dia akan mati."


"Keluargaku tidak pernah jahat kepadamu, tapi kenapa kau melakukan ini kepada kami? Meskipun Galih telah mencoba untuk membunuh Kakekku, tapi apa yang Kakekku lakukan? Dia sama sekali tidak melawannya, tapi kenapa justru kau melakukan hal seperti ini kepada keturunannya?" Tanya Haris dengan linangan air mata karena tidak kuasa untuk melihat kondisi Aryabima yang bersimbah darah.


"Dia sama sekali tidak adil terhadap Kakekku Galih, seharusnya Kakekku yang mendapatkan keris pusaka xingsi karena dia anak dari Abiyoga. Bukan Chandra, ataupun Aryabima,"


"Kau salah! Didalam tubuhmu sama sekali tidak ada darah keturunan dari Pangeran Kian!"


Jlebb..


"AYAH...!" Teriak Haris.


Mendengar itu membuat Anhar tidak segan segan untuk menusuk kembali tubuh Aryabima yang berada ditangannya saat ini. Anhar merasa kesal dengan ucapan dari Haris yang terus mengatakan bahwa Kakeknya bukanlah keturunan dari Pangeran Kian.


"Ayah! Tolong hentikan Anhar, kasihanilah dia. Jangan ditusuk lagi, aku mohon hentikan!" Teriak Haris justru membuat mereka tertawa.


"Kakek hiks.. hiks.. hiks.. tolong jangan lakukan itu kepada Kakek," Tangis Nadhira pecah ketika melihat ketidak berdayaan dari Aryabima.


Mereka seakan akan tidak memiliki dosa disaat melakukan hal seperti itu kepada Aryabima, Aryabima yang tidak berdaya itu pun tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah kepada takdirnya dan berharap bahwa malaikat maut akan segera menjemputnya agar dia tidak merasakan sakit dalam waktu yang terlalu lama.


"Inilah akibatnya melawan kami, kalian semua akan mati ditanganku dengan segera," Ucap Anhar sambil tertawa dengan penuh kemenangan.


"Lepaskan Kakek Arya, dia sudah tidak berdaya tapi kenapa kalian tidak mau mengampuninya,"


"Mengampuninya? Itu tidak akan pernah, dia yang memulai maka dia harus berakhir sekarang juga," Ucap Anhar.


"Jika kau menginginkan nyawanya, lebih baik kau segera habisi saja dia. Jangan siksa dia seperti itu, aku mohon kepadamu, habisi dia saja agar tidak merasakan sakit lagi," Tangis Haris pun pecah.


Lebih baik segera melenyapkan Aryabima daripada harus menyiksanya seperti itu menurut Haris, dengan kondisi yang sangat lemah itu tidak memungkinkan bahwa Aryabima bisa selamat. Apalagi jantung, paru paru dan bahkan ginjalnya pun sudah terkena luka tusukan akan tetapi dirinya masih mampu untuk bernafas dengan pelan.


"Menghabisinya begitu mudah bagiku, tapi itu tidak akan menyenangkan jika dia mati dengan mudahnya seperti yang kau harapkan,"


"Sampai kapan kau akan menyiksanya seperti itu? Tolong kasihanilah dia, sudah cukup jangan lakukan hal itu lagi,"


"Sampai aku merasa puas, dan kalianlah yang akan menjadi sasaran selanjutnya setelah Aryabima."


Anhar terus menghajar Aryabima dengan menghujani beberapa kali tusukan diperutnya, hal itu membuat isi perut Aryabima sedikit keluar bercampur dengan darah miliknya. Aryabima tidak mampu berkata kata lagi dan dirinya begitu lemah seraya merasakan perih yang teramat sangat mendalam itu.

__ADS_1


Ia pun meneteskan air mata karena sangking sakitnya luka yang dirinya terima saat ini, ia belum pernah merasa hal yang semenyakitkan itu selama ini. Hal itu membuatnya tidak berdaya dengan darah yang terus mengucur keluar dari dalam tubuhnya.


Wajahnya terlihat sangat pucat karena kehabisan darah, dengan luka tusukan sebanyak itu membuat siapapun tidak akan mampu untuk hidup lebih lama lagi. Akan tetapi, ajal tak kunjung menjemputnya sehingga dirinya harus bertahan dengan rasa sakit yang teramat sangat itu.


"Kakek!" Teriak Nadhira dengan kencangnya.


Teriakan tersebut langsung membuat Panji yang mengendalikan tubuh Rifki menoleh kearah dimana Nadhira berada. Melihat Aryabima yang lemah langsung membuat Panji mengepalkan tangan Rifki dengan sangat eratnya,


Panji langsung mendekat kearah dimana Aryabima berada dan meninggalkan pertarungan melawan Aji. Melihat itu membuat Aji tidak ingin menyia nyiakan kesempatan dan berusaha untuk menyerang kearah Rifki dari belakang. Akan tetapi, dengan sekali kibasan tangan Rifki saja, hal itu langsung membuat Aji terpental begitu saja.


Panji menggunakan kekuatan dari keris pusaka xingsi tersebut untuk menyerang kearah Aji, dan hal itu langsung membuat Aji memuntahkan seteguk darah segar. Sudah sekitar 15 kali tusukan yang didapatkan oleh Aryabima saat ini, dan tusukan ke 16 kalinya langsung membuat Aryabima terjatuh hingga menabrak tubuh Rifki yang digerakkan oleh Panji.


Melihat bahwa Aryabima sudah berada ditangan Rifki membuat Nadhira dan Haris merasa sedikit lega karena tidak harus melihatnya tersiksa lagi seperti sebelumnya. Darah milik Aryabima pun menggenang dibawah kakinya, seperti sebuah genangan kecil yang tercipta dari darah kental dan berwarna sangat pekat.


Bau anyir darah pun tercium dari tempat itu, bau yang sangat pekat tersebut membuat mereka semua merasa merinding karena hal itu. Panji yang menggunakan tubuh Rifki pun menatap tajam kearah Anhar dan anak buahnya itu.


"Bima bangun!" Teriak Panji kepada Aryabima dan memeluknya dengan erat.


Mendengar panggilan Bima, membuat Aryabima tersenyum didalam pelukan Rifki. Itu adalah panggilan kesayangan dari Kakeknya, tidak ada yang pernah memanggilnya dengan nama itu selain Panji. Bahkan ayahnya sendiri, Abiyoga. Selalu memanggilnya dengan sebutan Arya bukan Bima.


"Pa-nggi-lan i-ni, pa-nggi-lan yang su-dah la-ma ti-dak per-nah a-ku de-ngar la-gi. Ka-kek, a-ku tau i-ni a-da-lah ji-wa-mu yang ma-suk ke-da-lam tu-buh cu-cu-ku," Ucap Aryabima dengan lemahnya dan terbatah batah, bukan hanya itu saja tapi darahnya ikut serta keluar dari mulutnya.


"Kau harus bertahan, Nak. Mereka masih sangat membutuhkan dirimu,"


"A-ku te-lah me-la-ku-kan se-buah ke-sa-la-han yang sa-ngat be-sar, Kek. A-ku ga-gal un-tuk me-lin-du-ngi Ka-kak Chan-dra wak-tu i-tu, ji-ka dia ma-sih bi-sa ber-ta-han mung-kin ke-ris pu-sa-ka xing-si i-tu su-dah la-ma mus-nah,"


"Itu bukanlah kesalahanmu, itu adalah takdir. Sekarang kita harus melaksanakan tugas yang harus kita lakukan, kita bersama sama untuk menghancurkan kekuatan itu,"


"A-ku su-dah ti-dak mam-pu la-gi, Kek. Ra-sa-nya sa-kit se-mua,"


Wajah Aryabima pun terlihat sangat pucat saat ini karena kehabisan banyak darah, darah miliknya itu terus mengalir dari luka tusukan yang diterimanya sebelumnya itu. Aryabima pun terjatuh dan langsung membuat Panji menangkap tubuhnya dan membaringkannya dipahanya itu.


"Ka-kek, a-ku su-dah ti-dak sang-gup la-gi," Ucap Aryabima dengan terbata bata.


"Tidurlah Nak, tugasmu sudah selesai sampai disini. Jika kau sudah tidak sanggup maka pergilah dengan tenang, kita akan bertemu lagi nanti. Bima, aku bangga denganmu yang telah mendidik anak ini dengan baik,"


Panji yang mengendalikan tubuh Rifki itu pun mengusap kepala Aryabima dengan perlahan lahan. Aryabima merasa tenang ketika merasakan usapan lembut tersebut dan membuatnya perlahan lahan memejamkan kedua matanya.


"Kakak Chandra, kita akan bersama lagi," Ucap Aryabima lirih dan hampir tidak terdengar oleh siapapun yang ada ditempat itu.


Melihat itu membuat Haris tidak mampu untuk berkata kata lagi, ia lalu mendekat kearah Aryabima yang terbaring lemah itu. Perlahan lahan kesadarannya pun musnah, dan nyawa dari Aryabima pun mulai terpisah dari raganya.


"Tugasmu sudah selesai sampai disini, Nak. Tidurlah dengan damai mulai saat ini, biar aku yang akan menghabisi mereka semua dan menyelesaikan hal ini dengan secepatnya." Ucap Panji dengan menggunakan tubuh Rifki.


Panji yang menggunakan tubuh Rifki itu pun mengusap wajah Aryabima pelan, keturunannya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia tidak mampu untuk mengubah takdir yang telah ditentukan, dan dirinya tidak akan mungkin bisa mencegah kepergian dari Aryabima sendiri.


Meskipun dengan menggunakan kekuatan yang ia miliki, hal itu tidak akan mampu untuk melawan takdir. Dan justru hal tersebut akan membuat jiwa Aryabima tersiksa, oleh karena itu Panji harus mengikhlaskan kepergian dari anak cucunya itu. Mereka akan bertemu kembali disyurga-Nya, setelah dirinya selesai melakukan tugasnya.


"Maafkan Kakek, Nak. Kau harus kehilangan nyawa dengan sangat kejinya seperti ini, mereka akan menanggung dosanya sendiri kelak diakhirat nanti. Begitu banyak luka tusukan yang kamu terima, begitu banyak pula mereka akan disiksa," Ucap Panji menggunakan tubuh Rifki.


Aryabima pun berada didalam pelukan erat Rifki yang kini tengah dirasuki oleh Panji, dibawah alam sadarnya Rifki mampu untuk melihat kejadian ditempat itu saat ini akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong orang yang sangat berarti baginya itu.


"Ayah!" Teriak Haris yang tidak terima atas kepergian dari Aryabima.


"Kakek!" Teriak Nadhira.

__ADS_1


Panji pun membiarkan Haris untuk memeluk tubuh dari Ayah angkatnya itu untuk yang terakhir kalinya. Perasaan kehilangan sosok Ayah pun kembali ia rasakan sejak bertahun tahun yang lalu disaat Chandra pergi meninggalkannya untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi kedunia ini.


Haris lalu memeluk tubuh Aryabima yang terbaring tidak sadarkan diri, sementara Panji langsung berdiri dengan menggunakan tubuh Rifki. Kedua matanya menatap kearah Aji dan Anhar secara bergantian, tatapan tajam pun diberikan kepada kedua orang lelaki itu.


__ADS_2