
Sapta terdiam mendengar pertanyaan dari Nadhira, dirinya memang tidak mengetahui pasti siapa pelakunya, akan tetapi dari mimpi yang dirinya dapatkan membuatnya yakin bahwa mimpi itu terjadi karena kekuatan dari Pangeran Kian yang menyuruhnya untuk menghentikan dendam tersebut.
"Pelakunya adalah Sena, dialah yang membunuh Aji bertujuan untuk mengadu domba keduanya. Usianya sama seperti Aryabima tapi dia menggunakan ilmu hitam agar terlihat awet muda, dia wanita yang licik," Jelas Sapta.
"Kenapa dia melakukan itu? Apa tujuannya melakukan itu? Siapa sebenarnya Sena?"
"Keturunan Galih dan Abiyoga adalah musuh terbesarnya, dia memiliki sebuah permata yang mampu membuatnya terlihat awet muda dan permata itu sangat berbahaya karena mampu membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Keduanya ingin menghancurkan permata itu, sehingga jalan satu satunya dia harus mengadu domba keduanya agar mempermudahkannya untuk mengalahkan keduanya."
Sena adalah yang dikenal jelek disebuah desa waktu dahulu, bahkan karena wajahnya yang penuh dengan jerawat membuatnya dikucilkan didesa itu. Hingga suatu ketika dirinya menemukan sebuah permata yang membuatnya terlihat cantik dan awet muda, permata itu mengandung kekuatan jahat sehingga mampu mengubah jalan pikirannya.
Sena dibutakan oleh ambisi untuk menjadi wanita tercantik diseluruh dunia menggunakan permata tersebut, hingga membuatnya lupa akan siapa Tuhannya dan bagaimana caranya untuk dapat memanusiakan manusia.
"Hingga suatu ketika, dirinya mendapatkan sebuah ramalan tentang seseorang yang akan menjadi lawannya, itu adalah dirimu, Dhira. Kamu adalah orang yang ditakdirkan untuk memiliki permata iblis, dan dirimu juga adalah keturunan dari Nyai Ratih."
"Kalau tau aku adalah orang yang ditakdirkan memiliki permata iblis, lantas kenapa Sena justru menaruhnya didalam tubuhku?"
"Itulah permainan takdir. Selama ini hanya keturunan pertama yang bisa memiliki benda pusaka dari nenek moyangnya, tapi berbeda denganmu yang bisa memilikinya meskipun bukan keturunan pertama, Dhira. Sena berpikir bahwa dengan seperti itu dirinya akan mudah mengendalikan dirimu, tapi nyatanya dia salah karena Rifki yang selalu melindungimu. Dirinya bahkan rela menanggung rasa sakit yang teramat sangat hanya demi dirimu, kau sendiri tidak akan tau bagaimana rasa sakit yang ditahannya selama ini,"
Sebuah rasa sakit seketika muncul dihati Nadhira disaat mendengar bahwa Rifki telah berkorban banyak untuknya, cinta yang dimiliki oleh Rifki kepada Nadhira begitu besar hingga membuatnya rela melakukan apapun hanya untuk Nadhira. Bahkan Nadhira sendiri tidak mengetahui akan hal itu, dan baru saat ini dirinya mengetahuinya.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Nadhira.
"Waktu dirimu masih kecil, bukankah kau selalu merasa sakit akibat ulah Sena? Ketika itu Rifki selalu membuatmu lebih baik bukan? Karena dirinya telah memindahkan rasa sakit yang kau rasakan itu kedalam tubuhnya sendiri, tanpa berpikir panjang akan nyawanya."
Seketika air mata Nadhira menetes begitu saja, bahkan dirinya sendiri tidak mengetahui akan hal itu sebelumnya. Nadhira menyesal karena terlambat untuk mengetahuinya, seandainya bukan karena adanya Rifki disisinya mungkin dirinya tidak mampu bertahan hingga detik ini, dan Allah telah mengirimkan sosok seperti Rifki dalam hidupnya.
"Sena telah membunuh Ibuku, disaat diriku baru saja dilahirkan, dan aku sendiri tidak tau bagaimana wajah dari Ibuku itu. Dengan kejinya dirinya melakukan itu kepada Ibuku, hingga suatu ketika ada orang baik yang menukarkan bayinya itu denganku, hingga Sena tidak mengetahui keberadaanku. Jika yang dilahirkan adalah anak perempuan maka dia akan selamat dari Sena, tapi jika yang dilahirkan adalah lelaki maka Sena akan membunuhnya."
*Flash back on*
Disebuah gubuk terdapat teriakan seorang wanita yang akan melahirkan anaknya, wanita itu merintih kesakitan dengan tangan yang berpegangan erat kepada suaminya. Dukun bayi yang membantunya untuk melahirkan tersebut sangat panik karena darah yang keluar cukup banyak dari normalnya, hingga beberapa lama kemudian lahirlah seorang anak lelaki yang dipanggil dengan nama Sapta.
Bayi mungil tersebut lahir dengan selamat, dan bahkan Ibunya pun selamat dengan kondisi yang baik. Keluarga tersebut begitu senang dan bahagia atas kedatangan dari malaikat kecil yang mereka nanti nantikan itu, karena bayi tersebut adalah anak pertama dan buah cinta dari keduanya.
Sehari setelah kelahiran dari anak tersebut, Dwija pergi dari rumah untuk mengantarkan dukun bayi yang telah membantunya untuk membantu kelahiran dari anaknya. Rifa sendiri sedang tidur disebelah si bayi yang telah selesai di adzani oleh Ayahnya itu, bayi tersebut pun menangis dan menggeliat meminta untuk minum karena haus.
Rifa pun membuka matanya, dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Rifa menatap kearah wajah anak lelaki yang baru saja dirinya lahirkan itu, wajahnya yang imut membuatnya tersenyum dengan cerahnya tanpa mempedulikan rasa sakit setelah selesai melahirkan itu.
"Anak Ibu kenapa nangis? Haus ya?" Tanya Rifa kepada bayinya dan mengangkat bayi tersebut kedalam gendongannya. "Minum yang banyak ya, Nak. Sampai kamu kenyang,"
Ditengah tengah itu, tiba tiba munculah seorang wanita yang tidak lain adalah Sena dihadapan Rifa. Rifa pun terkejut dengan kemunculannya itu karena tiba tiba, Rifa sendiri tidak mengenali siapa wanita yang ada dihadapannya itu.
"Kamu siapa?" Tanya Rifa sambil memincingkan sebelah matanya kearah wanita yang ada dihadapannya itu.
"Aku calon istri dari suamimu,"
Deg
Rifa begitu sangat terkejut mendengarnya, bagaimana bisa suaminya selingkuh dengan wanita yang ada dihadapannya itu. Dirinya baru saja berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anaknya, membuatnya sangat shock ketika mendengarnya bahwa wanita yang ada dihadapannya itu adalah calon istri dari suaminya.
__ADS_1
"Mas Dwija tidak mungkin menduakan aku, kamu bohong soal itu!" Teriak wanita itu histeris.
"Sebentar lagi kita akan menikah setelah aku selesai membunuhmu."
"Kau tidak bisa melakukan itu!"
Terjadilah sebuah insiden dimana Rifa berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari Sena, hingga akhirnya Rifa terbunuh disaat sebuah pisau menembus jantungnya. Untung saja pisau itu tidak mengenai bayi yang ada didalam gendongannya, hingga bayi itu selamat.
Tubuh Rifa pun terhoyor ketanah, akan tetapi tangannya masih memeluk dengan erat bayi yang ada didalam gendongannya itu. Sena pun mengambil bayi itu dan berniat untuk membunuhnya, tapi dirinya menghentikan aksinya ketika mengetahui bahwa bayi tersebut terpasang sepasang anting ditelinganya.
"Kenapa yang lahir perempuan? Bukankah ramalan itu mengatakan bahwa yang lahir adalah lelaki?"
Ketika Rifa sedang tertidur ternyata ada seorang wanita yang telah menukar bayi tersebut, bayi lelaki itu dibawa pergi olehnya dan dirinya tukar dengan bayinya yang juga baru selesai dirinya lahirkan. Dia harus melakukan itu agar bayi lelaki itu selamat, meskipun harus mengorbankan anaknya karena sebuah hal besar harus dirinya cegah.
Sena mengincar Sapta karena Sapta termasuk keturunan dari Pangeran Kian sekaligus Nyai Ratih, yang artinya dirinya memiliki kekuatan keris pusaka xingsi sekaligus permata iblis. Hanya memiliki kekuatan dan bukan pemiliknya sesungguhnya, tapi anak yang ada didalam gendongannya saat ini adalak anak perempuan dan bukan lelaki.
Wanita itu mendadak jadi histeris ketika merasakan kedatangan seseorang diruang itu, Dwija sendiri yang baru pulang pun sangat terkejut ketika mengetahui bahwa istrinya telah tiada. Dwija langsung menghampirinya dan memeluk tubuh Rifa dengan eratnya, dan dirinya pun menatap penuh amarah kearah Sena.
"Kau yang telah membunuh istriku, kan?" Tanya Dwija dengan marahnya.
"Tidak. Tadi ada seorang perampok yang datang kemari, istri anda langsung berteriak meminta bantuan lalu aku datang kemari dan menemukan bahwa kondisinya sudah seperti ini, dia pun menitipkan anaknya kepadaku."
Sena mengarang sebuah cerita setelahnya, dia mengatakan seolah olah kejadian itu benar terjadi karena disana juga terlihat barang barang yang ada dirumah itu berserakan dan berantakan.
Entah mengapa Dwija langsung mempercayai hal itu begitu saja, Dwija seakan akan terkena hipnotis dari Sena sehingga lelaki itu seakan akan seperti tengah kehilangan jati dirinya. Hingga beberapa bulan kemudian mereka pun menikah dan ketiganya hidup bersama sama sampai dimana adanya Rendi.
*Flash back off*
Sapta pun menggelengkan kepalanya, "Keduanya tidak memiliki hubungan darah, yang artinya Manda bukanlah anak dari Sena. Sampai sekarang Sena belum memiliki anak, sementara Amanda adalah anak dari wanita yang menolongku, tapi sangat disayangkan sekali karena wanita itu telah meninggal dunia. Dhira, jangan benci Manda ya?"
"Sapta, aku sama sekali tidak memiliki rasa benci kepada Manda. Dia bahkan sudah aku anggap sebagai adik sendiri walaupun tanpa diminta, kamu nggak perlu khawatir soal itu."
Sapta senang mendengarnya, meskipun didalam hatinya tersirat sebuah rasa sedih disaat dirinya kehilangan orang orang yang dicintainya. Ia teringat dengan jelas cerita yang disampaikan oleh Ibu angkatnya itu, wanita tersebut melakukan hal itu bukan tanpa alasan, ada sebuah rahasia yang mengharuskannya untuk melakukan hal tersebut.
Sapta adalah anak dari Dwija dan Rifa, sementara Dwija adalah anak dari Abila dan Hamzah. Abila sendiri adalah anak dari Abitama yang merupakan saudara kandung dari Abiyoga, keduanya adalah kakak beradik yang terpisahkan semenjak keduanya dilahirkan.
Abiyoga hendak memberitahukan kepada Chandra soal kembarannya yang telah lama hilang, akan tetapi dirinya belum sempat untuk memberitahukan hal itu akan tetapi Tuhan telah mengambil nyawanya terlebih dulu. Hingga sampai detik ini, Aryabima maupun Chandra tak seorang pun yang tau mengenai saudara dari Abiyoga.
"Dhira, aku ingin memberitahukan sesuatu hal yang aku alami kepadamu. Tapi dengarkan aku,"
"Hal apa yang kau maksud itu?"
"Semenjak Ayahku terkena ledakkan digoa itu, dan kematian dari Ibu kandung Amanda. Anhar, keturunan dari Galih telah mengadopsiku menjadi anak angkatnya, aku dibesarkan olehnya sampai detik ini. Mereka sangat baik kepadaku meskipun aku hanyalah anak angkat mereka, mereka menyayangiku seperti anak mereka sendiri. Sebenarnya mereka tidak jahat, hanya karena dendam dimasalalu membuat mereka kehilangan jati dirinya. Aku sangat menyayangi mereka, dan aku yakin kau mau membantuku untuk membiarkan mereka hidup. Kita sama sama menyelesaikan dendam ini, jika hanya satu pihak yang berjalan maka hanya akan ada harapan saja, tapi jika kedua pihak berjalan maka keduanya akan bisa didamaikan."
"Aku tau perasaanmu seperti apa, Sapta. Dan aku juga pernah kehilangan seorang anak, untuk mengikhlaskan saja itu tidaklah mudah, sangat sakit jika seorang ibu harus kehilangan anak anaknya. Memaafkan mereka adalah hal yang sangat sulit bagiku,"
"Dhira aku tau, kau dan Rifki pasti sangat terluka waktu itu. Tapi aku mohon, jangan sakiti keluargaku, mereka tidak sepenuhnya salah dalam hal ini, mereka hanya diadu domba oleh Sena. Aku mohon, maafkan mereka."
"Apakah kata maaf mampu mengembalikan nyawa anak laki lakiku? Mengembalikan nyawa Kakek Arya? Mengembalikan nyawa Oma Sarah? Nyawa Theo? Atau bahkan yang lainnya? Itu tidak mungkin terjadi kan, Sapta?"
__ADS_1
Air mata Nadhira semakin deras dan dirinya pun langsung memegangi dadanya yang terasa nyeri, dirinya tidak menyangka bahwa lelaki yang ada didepannya ternyata membela orang orang yang telah membunuh orang terdekatnya itu. Dirinya telah begitu banyak kehilangan seseorang yang dirinya sayang, sehingga sangat sulit untuk memaafkan pelakunya yang telah membunuh mereka.
"Memang maaf tidak bisa mengembalikan semuanya, Dhira. Tapi dengan kata maaf, kita bisa mencegah permusuhan ini,"
"Aku akan pikirkan soal itu, tapi tidak sekarang."
Sapta sendiri tau bahwa hal itu tidak akan mudah diterima oleh Nadhira saat ini, apalagi wanita itu telah menanggung luka yang sangat parah selama ini. Mungkin memang benar bahwa dirinya masih membutuhkan waktu akan hal itu, dan tidak akan bisa dengan mudah untuk mampu memaafkan orang yang telah melukainya begitu parah itu.
"Sebagai jaminannya, aku akan berusaha untuk menemukan Tante Lia."
"Maksudmu apa?"
"Tante Lia masih hidup, Dhira. Tapi dia berada ditempat lain, yang tidak diketahui oleh orang lain, aku akan berusaha untuk menemukannya asalkan kau mau untuk memaafkan keluarga angkatku."
Deg...
Nadhira sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Sapta bahwa Lia masih hidup, bertahun tahun dirinya mencari keberadaan dari Lia akan tetapi tidak pernah ia temukan selama ini. Orang yang selama ini dirinya rindukan ternyata masih hidup, Nadhira tidak mengetahui kenapa Mamanya sampai detik ini tak kunjung kembali kepadanya.
"Maksudmu apa?" Tanya Nadhira.
"Memang benar Tante Lia masih hidup, Dhira. Tapi dirinya berada jauh dari kalian semua, aku akan berusaha untuk mencarinya,"
"Mama beneran masih hidup? Kamu nggak bohong kan soal ini? Mama masih hidup kan? Sapta, jangan membohongiku soal Mama. Aku tidak suka dibohongi hanya untuk ambisimu,"
"Aku tidak berbohong kepadamu, Dhira. Tante Lia memang masih hidup, dan hanya Ayahku yang tau dimana keberadaannya,"
"Pak Dwija pernah mengatakan kepadaku kalau dia tidak berhasil menemukan Mama, dan dia mengatakan bahwa Mama sudah tiada dalam kecelakaan waktu itu."
"Ayah tidak mengatakannya karena dirinya ditahan oleh Sena waktu itu, Dhira. Sebelum Ayah ditahan dia sudah menceritakan semuanya kepadaku meskipun aku tidak terlalu paham soal itu, aku sendiri hampir tidak terima jika dirinya adalah orang tuaku karena aku bertemu dengannya disaat aku sudah sebesar itu. Lalu dia mengatakan sesuatu kepada Ibuku, aku tidak paham dengan kejadian waktu itu, tapi perlahan lahan dirinya menjelaskan semuanya kepadaku sebelum aku diangkat menjadi anak angkat dari keturunan Galih."
"Kau tidak membohongiku kan?" Tersirat sebuah rasa bahagia dihari Nadhira disaat mengetahui bahwa Mamanya masih hidup didunia ini.
"Kenapa Mama tidak mau kembali?"
"Mungkin ada alasan tertentu, Dhira. Aku akan mencarinya, tapi jika aku tidak kembali kau tidak perlu mencariku,"
"Maksudmu apa?"
"Aku mengajakmu kesini agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kita, jika aku tidak kembali mungkin diriku sudah dihabisi oleh mereka,"
"Siapa maksudmu?"
"Dia..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai.. sudah lama Author tidak menyapa kalian
Bagaimana kabarnya? Insya Allah baik ya, semoga dilancarkan aktivitasnya. Masih setia dengan Rifki dan Nadhira kan? Terima kasih yang sudah setia menunggu Author update bab baru dan selalu mendukung Author... Beberapa bulan ini Author sangat ngeblank soal ide, ditambah dengan masalah keluarga yang tak henti hentinya terus berdatangan, untung Author nggak sampai depresot...
__ADS_1
Jangan lupa jaga kesehatan, makannya jangan telat, tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri, mangkaknya kalian harus baik baik saja.
...See you again ...