
Rifki memutar mutar sebuah sedotan yang ada ditangannya tersebut, sementara itu Nadhira sudah menghabiskan setengah dari gelasnya, Nadhira melihat Rifki yang hanya memutar mutar sedotan plastik yang ada ditangannya itu pun langsung memegangi tangan suaminya.
"Kenapa sayang? Kok ngak diminum?" Tanya Nadhira.
"Ini terlalu manis Dhira, aku agak ngak suka dengan yang manis manis" Jawab Rifki.
"Ah iya aku lupa Rif, tadi tidak bilang kalo punyamu tanpa gula"
"Terus gimana sayang? Sudah ngak apa apa"
"Bentar aku tukarkan sama Bapaknya yang jualan"
"Emang bisa ditukar Dhira? Kan sudah aku minum sedikit"
"Bisa dong"
Nadhira pun memanggil penjual tersebut dan meminta diganti dengan yang tidak pakai gula, penjual tersebut langsung segera membawa gelas es kelapa muda milik Rifki untuk masuk kedalam warungnya untuk menggantinya dengan es kelapa muda tanpa gula.
Tak beberapa lama kemudian datanglah penjual tersebut sambil membawakan segelas es kelapa muda tanpa gula, ia pun langsung menyerahkannya kepada Rifki yang tengah asik membenahi rambut Nadhira yang berantakan karena tertiup angin.
"Ini Mas, minumannya" Ucap penjual tersebut sambil menyerahkan segelas es kelapa muda kepada Rifki.
"Makasih Pak" Ucap Rifki seraya menoleh kearah penjual es tersebut.
Rifki pun segera meminum es kelapa muda itu, rasanya sedikit asam khas air kelapa muda akan tetapi begitu segar bagi Rifki daripada jika diberi air gula sebelumnya, Rifki tidak suka manis sehingga biasanya dirinya akan meminum air kelapa muda yang asli tanpa gula.
Brakkk..
Tak beberapa lama kemudian meja yang ada didekat keduanya tiba tiba digebrak oleh dua orang pemuda sambil membawa sebuah celurit yang sangat tajam dan lancip, hal itu membuat Rifki menghentikan aksinya yang sedang meminum es kelapa muda.
Sementara Nadhira hanya menoleh sesaat saja kepada kedua orang itu, setelahnya dirinya kembali fokus kepada minumannya itu, Rifki sama sekali tidak bertindak untuk hal itu dan lebih memilih untuk memperhatikan situasi disekitarnya.
"MANA SETORAN HARI INI!" Bentak salah satu dari mereka kepada penjual es tersebut.
"Maaf Tuan, saya belom bisa memberikan uang itu hari ini, uang itu mau saya gunakan untuk membayar sekolah anak saya Tuan, tolong ampuni saya" Ucap pemilik warung tersebut dengan ketakutannya.
"Aku tidak mau tau! Cepat serahkan uangmu!"
"Tidak Tuan, tolong jangan ambil uang saya"
"Arghh... Cepat serahkan atau aku hancurkan warungmu ini!" Ancam kedua pemalak itu.
"Tolong jangan lakukan itu Tuan" Pemilik warung tersebut berusaha untuk memohon kepada keduanya untuk tidak menghancurkan usahanya itu.
"Ngak ada setoran, kau tidak akan aman ditempat ini! Ingat itu"
"Tuan, saya butuh dana untuk sekolah anak saya Tuan, tolong jangan diambil"
Kedua orang itu nampak seperti seorang pemalak, mereka pun memporak porandakan meja diwarung tersebut hingga berbunyi begitu nyaring seketika, pemilik warung tersebut sangat ketakutan dan berharap bahwa mereka tidak dapat mengambil uang hasil jualannya hari ini.
Kedua orang tersebut lalu mendorong tubuh pemilik warung itu dengan kencangnya hingga tubuhnya itu bertabrakan dengan tembok warungnya sendiri, salah satu dari mereka pun langsung menuju ketempat dimana penjual itu menyimpan uang hasil jualannya tersebut.
"Tolong jangan lakukan itu Tuan, saya mohon" Pemilik warung itu berusaha untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh dua orang pemalak itu.
"DIAM KAU! ATAU AKU HABISI DIRIMU SEKARANG JUGA!" Bentak salah satu pemalak itu.
"Itu hasil jualan saya Tuan! Tolong jangan diambil"
Salah satu dari kedua pemalak itu pun mengangkat sebuah celurit yang sedari tadi ia bawah dan ia arahkan kepada pemilik warung dan hal itu langsung membuat pemilik warung tersebut berdiam diri tanpa berani untuk berkutik.
Kedua pemalak itu nampak begitu senang karena adanya beberapa lembar yang seratus ribu dan sisanya hanya lembaran puluhan saja, keduanya pun mengambil hasil jualan itu tanpa tersisa sedikitpun, uang koin milik penjual itu juga telah diambil oleh kedua pemalak tanpa perasaan itu.
"Tuan tolong sisakan beberapa lembar uang ratusan itu Tuan, saya butuh banget buat anak saya" Air mata penjual warung tersebut pun menetes.
Akan tetapi kedua orang itu nampak sama sekali tidak peduli dengan tangisan dari penjual itu, ia pun memasukkan hasil pemalakannya kedalam saku celananya, ketika hentak melangkah pergi dari warung itu keduanya terpanah dengan sosok Nadhira yang sama sekali tidak bergeming dari posisinya itu.
"Cantik juga nih cewek" Puji salah satu dari mereka ketika melihat Nadhira yang tengah sibuk dengan minumannya tersebut.
Nadhira sama sekali tidak terganggu dengan ulah kedua orang tersebut, apalagi dengan ucapan salah satu dari mereka, ucapan itu hanya dianggap angin lalu oleh Nadhira saja, sementara Rifki memperhatikan kedua orang tersebut dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Ketika salah satu dari mereka hendak menyentuh Nadhira tiba tiba pemilik warung tersebut langsung menghadang orang tersebut, pemilik warung itu tidak ingin pembelinya merasa terganggu dengan ulah kedua orang tersebut.
"Tolong jangan ganggu pelanggan saya Tuan"
"Minggir kau!"
__ADS_1
Bhuk bhuk
Keduanya pun langsung memukuli pemilik warung tersebut karena melindungi Nadhira, beberapa kali mereka menghujani perut penjual tersebut dengan pukulan dan juga tendangan bebas hingga membuat pemilik warung tersebut menggeram kesakitan.
"Jangan ikut campur urusanku!" Teriak salah satu pemalak itu.
"Sekarang Dhira?" Tanya Rifki yang tanpa disadari tengah mengepalkan kedua tangannya.
"Belom dimulai Rif, biarkan mereka berbuat semau mereka dulu" Ucap Nadhira yang masih sibuk dengan minumannya.
Nadhira terlihat sangat santai dengan situasi seperti itu, dirinya sama sekali tidak memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua pemalak itu, meskipun begitu telinganya tak berhenti untuk mendengarkan situasi disekitarnya itu.
Kedua orang itu pun langsung menghampiri Nadhira yang tengah menikmati minuman dingin itu, melihat Nadhira yang terlihat santai itu membuat keduanya merasa aneh dengan Nadhira apalagi Rifki, salah satu dari mereka langsung merebut minuman yang diminum oleh Nadhira.
Tindakan yang ia lakukan itu membuat Nadhira menatap tajam kearah keduanya, Nadhira lalu bangkit dari duduknya dengan tatapan yang sangat tajam kearah keduanya.
"Hai cantik, main sama Abang yuk" Ucap orang tersebut sambil menjilat minuman bekas Nadhira.
"Cih... Hanya seekor kutu rambut saja beraninya menantang singa" Umpat Nadhira sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Hahaha... Kutu rambut dia bilang? Dia belom tau saja siapa kita berdua disini, kita adalah pereman yang ditakuti disini"
"Emang aku peduli? Kalo haus itu beli, bukan ngerebut milik orang lain, orang kere yang hanya bisa merebut hak milik orang lain aja sok sok an mau mendapatkan wanita cantik, ngak level sama dirimu"
"Wih, galak banget Mbak, jangan galak galak Mbak nanti kami takut" Ucapnya sambil berpura pura takut dihadapan Nadhira.
"Bodoamat!"
"Tuan tolong jangan sakiti pelanggan saya, mereka tidak terlibat dalam urusan ini, lepaskan mereka Tuan" Pemilik warung tersebut mencoba untuk bangkit dari terbaringnya setelah mendapatkan luka memar diwajah dan juga tubuhnya.
"Ini urusanku, bukan urusanmu" Ucap pemalak itu seraya mendorong tubuh sang penjual.
"Berani kok sama orang kecil? Ngak ada harga diri ya? Jangan jangan emang udah ngak punya harga diri" Tanya Nadhira dengan sinisnya sambil mengambil segelas es kelapa muda lainnya yang ia pesan sebelumnya.
"Dasar cewek laknat! Apa yang kau katakan ha! Kau berani sama kita?"
"Emang aku takut?" Tanya Nadhira dengan santainya tanpa menoleh sedikitpun kearah mereka.
Nadhira seakan akan menganggap remeh kedua orang itu, bahkan sama sekali tidak ada rasa takut dengan keduanya, hal itu membuat keduanya merasa marah terhadap Nadhira hingga keduanya itu menggerakkan tangannya hendak menyentuh Nadhira.
Ketika pemalak itu hendak menyentuh Nadhira, hal itu membuat Rifki langsung bangkit dari duduknya dan menangkap tangan itu sekaligus mencengkeram erat pergelangan tangan dari keduanya, dengan sigap Rifki lalu menghempaskan kedua tangan tersebut hingga suara tulang remuk terdengar.
"Dia istrimu? Dia akan menjadi mainan baru kami, aku akan menghancurkan kesombongan dan keangkuhannya nanti" Ucap salah satu dari mereka yang diduga oleh Rifki sebagai bosnya.
"Sebelum kau melakukan itu, langkahi dulu diriku"
"Lelaki sepertimu tidak akan bisa menghadapi kami berdua! Kau yang pertama kali akan kami bunuh!"
"Jangan mimpi! Kalo memang berani lawan aku sekarang juga" Ucap Rifki dengan nada yang dipertegas olehnya.
"Asik... Kita akan lihat Papamu bertarung Nak, kau harus belajar dari Papamu ya Nak" Ucap Nadhira girang sambil pandangannya menuju ke perutnya, ia pun langsung mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Seneng banget deh kalo ngelihat orang bertarung" Ucap Rifki seraya mengusap pelan puncak rambut Nadhira.
"Itu sangat menyenangkan sayang" Jawab Nadhira.
"Tunggu disini ya"
"Siap sayang"
Tanpa berlama lama lagi, Rifki lalu menendang perut mereka satu persatu hingga membuat keduanya terhempas keluar dari warung itu, tendangan dari Rifki itu tidak mampu untuk ditangkis oleh keduanya sehingga membuat keduanya terpental begitu saja.
Rifki lalu berlari keluar dari warung tersebut dengan berlari untuk menghadap kedua orang itu, ia tidak ingin membuat keributan didalam warung yang sempit itu sehingga dirinya tidak akan leluasanya untuk menghajar kedua orang yang kurang ajar itu.
Sementara itu Nadhira langsung bergegas untuk mendatangi pemilik warung tersebut, ia pun membantu orang itu untuk berdiri, pria sepuh yang berusia 50 tahun tersebut langsung berusaha untuk bangkit dari terbaringnya.
"Anda tidak apa apa Pak?" Tanya Nadhira.
"Alhamdulillah saya tidak apa apa Mbak, tapi suami anda terlibat dalam pertarungan gara gara saya"
"Dia memang hobi bertarung, maaf ya Pak, kami telat untuk membantu anda, kami hanya memperhatikan situasi saja untuk melawan mereka".
"Sabaiknya kalian segera bergegas pergi dari sini, sebelum mereka memanggil kawanannya Mbak, disini ada sekitar lima belasan orang pembalak" Ucap pemilik warung dengan ketakutannya.
"Apakah biasanya juga seperti ini Pak?" Nadhira sepertinya tidak mempedulikan ucapan lelaki itu yang mengatakan bahwa ada lima belasan orang pemalak.
__ADS_1
"Iya Mbak, kalo kami tidak memberi mereka, mereka akan bertindak semau mereka, bahkan akan menghancurkan dagangan kami semua"
"Sepertinya mereka harus diberi pelajaran deh Pak, sekali kali" Nadhira tersenyum dengan anehnya.
Melihat Nadhira yang tersenyum seperti itu membuat penjual es kelapa muda itu merasa sangat bingung, memang sejak tadi Nadhira terlihat sangat santai apalagi merasa sangat tidak terganggu dengan situasi disekitarnya itu.
Nadhira pun mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya, ia pun mencari nomor Bayu untuk dihubungi, setelah menemukannya ia segera memencet nomornya, dan tak beberapa lama kemudian Bayu mengangkat telponnya tersebut.
"Halo Bay, tolong bawa beberapa polisi kejalan halmahera sekarang juga, aku tunggu!"
Setelah mengatakan itu Nadhira langsung memutuskan sambungan telponnya itu, ia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya, kini dirinya tengah fokus menyaksikan Rifki yang tengah bertarung itu.
"Semangat Papa!" Teriak Nadhira menyemangati Rifki yang tengah bertarung.
Rifki hanya tersenyum mendengar itu dan langsung menghantam perut keduanya dengan sangat kerasnya hingga membuat kedua orang itu langsung terkapar diatas tanah, sementara Rifki masih tetap terlihat santai seperti dirinya tidak melakukan pertarungan sebelumnya.
Tak beberapa lama kemudian beberapa orang langsung berlari kearah Rifki, Rifki pikir bahwa itu adalah warga setempat yang akan membantu dirinya akan tetapi pikirannya itu salah, mereka langsung menyerang kearah Rifki dengan bersama sama.
Melihat itu membuat Nadhira tidak tinggal diam, ia pun langsung mengeluarkan sebuah benda berbentuk tabung kecil yang ada disaku bajunya itu, setelah ia pun menekan benda itu hingga membuat benda kecil tersebut langsung memanjang bagaikan sebuah tongkat rahasia.
"Kita akan bertarung untuk membantu Papamu Nak, lihat ya bagaimana cara Mama bertarung, Mama berharap kau juga bisa belajar didalam perut Mama ya Nak" Ucap Nadhira sambil mengusap perutnya yang rata itu.
"Mbak itu sangat berbahaya, apalagi anda sedang mengandung saat ini" Pemilik warung itu begitu ketakutan dan menyadari apa yang dikatakan oleh Nadhira kepada perutnya itu.
"Bapak tenang saja, aku mampu untuk melakukan itu kok, lagian hamil bukanlah kelemahanku Pak" Ucap Nadhira yang menyadari akan kekhawatiran dari pemilik warung itu.
"Jangan lakukan itu Mbak, saya mohon, saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan perut anda"
"Aku harus membantu suamiku Pak, aku tidak mungkin membiarkan dia kenapa kenapa disaat melawan mereka sendirian"
"Maafkan saya Mbak, saya telah melibatkan anda dalam masalah ini"
"Bukan masalah Pak, mereka harus diberi pelajaran agar tidak melakukan hal yang semena mena seperti ini, jika dibiarkan begitu saja mereka akan semakin bertindak semau mereka sendiri"
"Tapi Mbak, itu sangat berbahaya"
"Bukan diriku namanya jika takut dengan bahaya, aku sama sekali tidak takut dengan bahaya Pak"
"Jangan lakukan itu Mbak, saya mohon"
"Bapak tenang saja, suamiku pasti akan menjaga diriku didalam pertarungan itu"
Nadhira segera berlari untuk menghampiri Rifki yang tengah dikepung oleh kelima belas orang itu, melihat kedatangan Nadhira disebelahnya membuat Rifki merasa sangat terkejut dengan sigap Nadhira lalu memgambil alih musuh Rifki.
Dengan tongkat yang ada ditangannya, Nadhira menghadapi mereka dengan sebuah senyuman yang terbit diwajah cantiknya itu, Rifki pun tidak tinggal diam dan langsung melakukan gerakan ganda bersama dengan Nadhira untuk melawan mereka.
Nadhira dan Rifki pun saling membelakangi untuk melindungi satu sama lain, keduanya kini tengah dikepung oleh orang orang itu dengan berbagai macam bentuk senjata yang sedang mereka pegang saat ini.
"Apa kau siap Dhira?" Tanya Rifki tanpa mengalihkan perhatian dari musuh yang ada didepannya itu.
"Selalu siap sayang" Jawab Nadhira dengan memegangi erat tongkat yang ada ditangannya.
Senyuman diwajahnya Nadhira seketika berubah menjadi tatapan tajam yang begitu dingin kearah orang orang yang tengah mengepung mereka saat ini, sementara Rifki menampakkan wajah santainya dihadapan orang orang itu.
"Mulai!" Teriak Rifki.
Nadhira lalu menyerang kearah musuh yang ada didepannya dengan sebuah tendangan, dirinya juga menangkis beberapa serangan pukulan menggunakan tongkat yang ada ditangannya saat ini, keduanya saling membelakangi untuk saling menjaga saat ini.
Keduanya tidak peduli dengan senjata yang kini diarahkan kepada mereka untuk keduanya itu, seketika itu juga Nadhira melakukan tendangan T dan tepat mengenai leher dari salah satu pemalak itu hingga membuat orang itu terpental jauh kebelakang dari tubuh Nadhira.
Tendangan T adalah serangan yang mengunakan sebelah kaki dan tungkai, lintasannya lurus ke depan dan serangannya pada tumit, telapak kaki dan sisih luar telapak kaki, posisi lurus, biasanya digunakan untuk serangan samping, dengan sasaran seluruh bagian tubuh.
Tendangan T biasanya menggunakan satu kaki sebagai tumpuannya, tubuhnya agak condong kebelakang sementara kaki satunya melayang melakukan tendangan hingga postur tubuh layaknya sebuah huruf T.
Nadhira berpegangan dengan erat kepada tubuh Rifki dan melakukan sebuah tendangan berputar, sementara Rifki memegangi Nadhira dengan erat untuk Nadhira agar dapat melakukan tendangan tersebut demi menumbangkan mereka.
Satu persatu dari mereka sudah mampu dikalahkan oleh Nadhira dan Rifki, Nadhira segera meninggalkan pertarungan itu untuk mengikat orang orang yang tengah berusaha untuk kabur itu, jika mereka memberontak maka akan mendapatkan sebuah kepalan tangan dibagian pipi mereka dari Nadhira.
Dua orang sudah ditangkap oleh Nadhira dan dirinya ikat dibawah pohon yang ada ditempat itu, pemilik warung tersebut telah memberikan Nadhira sebuah tali yang cukup panjang dan sangat kuat, dirinya juga membantu Nadhira untuk menangkap pemalak yang telah dikalahkan oleh Rifki.
"Dhira, tangkap!" Teriak Rifki seraya melemparkan tubuh musuhnya tepat dikaki Nadhira.
"Siap Bos!" Ucap Nadhira.
Author: Heh itu manusia bukan bola anjay
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena Authornya baik jadi beberapa hari ini Author kasih yang manis manis dulu, bakal banyak menguras air mata loh nantinya, siap siap ya readers 😘