Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kekecewaan


__ADS_3

Ana takut kalau sampai anaknya sakit karena tidak tidur semalaman, dan hal itulah yang membuatnya panik. Siska sendiri pun merasa bersalah karena gagal menjaga Kinara, dan bahkan Kinara harus begadang hanya demi menunggu kepulangan dari Mamanya semalaman.


"Nara memang tidak bisa tidur dengan mudah kalau tidak dinyanyikan sholawatan, Siska. Kenapa membiarkan Nara terjaga?"


"Maafin aku, Kak. Aku tidak tau soal itu, bahkan ketika Ibu menyanyikannya pun Ibu dulu yang tertidur bukan Nara,"


Siska meras tidak enak dengan Ana, apalagi ketika melihat wajah gelisah dan kecewa didalam wajah Kakak angkatnya itu. Tanpa sengaja Siska memegangi lengan panjang Ana, dan langsung terlihat sebuah bercak darah ditelapak tangannya itu. Awalnya Siska tidak menduga bahwa tangannya terkena noda darah, akan tetapi rasa lengket akibat darah itu langsung membuatnya menyadari akan hal tersebut.


Melihat adanya darah tiba tiba ditangannya, hal itu membuat Siska begitu sangat terkejut. Dirinya bertanya tanya dari mana asalnya darah itu? Dirinya pun berpikir bahwa Ana tengah terluka saat ini, Ana yang melihat noda darah ditangan Siska itu hanya bisa berdiam diri, entah jawaban apa yang akan dirinya beri ketika Siska bertanya kepadanya.


"Tangan Kakak kenapa bisa berdarah seperti ini? Apa yang terjadi dengan Kakak?" Tanya Siska sambil melihat kearah telapak tangannya itu.


Siska panik ketika melihat adanya secercah darah ditelapak tangannya setelah memegangi lengan panjang Kakaknya itu, apalagi ketika merasakan rasa yang sangat lengket akibat dari darah yang keluar akibat sayatan sebuah pisau yang sangat tajam itu.


"Aku nggak papa kok, Sis. Jangan terlalu mempedulikan kondisiku," Ucap Ana.


"Tapi Kak, kenapa Kakak bisa terluka seperti ini? Kakak semalaman dari mana? Kenapa Kakak bisa terluka parah begini, aku akan memberitahu Ibu soal ini,"


"Sis, jangan katakan ini kepada siapapun soal luka yang ada ditanganku. Aku tidak mau membuat orang lain khawatir soal diriku apalagi Ibu, kamu tau sendiri kan kalau Ibu mudah sekali kepikiran," Ucap Ana sambil memegangi tangan Siska.


"Tapi luka Kakak gimana?"


"Nanti juga bakal sembuh sendiri kok, aku sudah menghentikan pendarahannya tadi,"


"Tapi Kak, pasti rasanya sakit kan? Bagaimana bisa Kakak terluka?"


"Ini tidak sebanding dengan rasa kecewaku terhadap seseorang, Sis. Luka ini tidak ada artinya bagiku,"


Ana pun mengingat tentang penghianatan yang dilakukan oleh Hendra sebelumnya, dirinya masih tidak menyangka bahwa orang yang dianggap setia justru menghianati suaminya. Memang rasa sakit yang dialaminya tidak sebanding dengan hal itu, akan tetapi luka itu sudah cukup mampu untuk membuat orang orang yang ada disekitarnya khawatir.


"Apa yang sebenernya terjadi Kak? Semalam Kakak kemana saja? Kenapa Kakak bisa terluka seperti ini? Bukan hanya Kinara saja yang cemas, aku juga merasa khawatir dengan Kakak," Ucap Siska dengan sedihnya hingga terlihat setetes air mata yang mengalir dari pelupuk mata hingga menetes mengenai cadar yang dirinya pakai saat ini.


Ana langsung menghapus air mata adik angkatnya itu, beberapa tahun tinggal bersama membuat hubungan keduanya sangat erat sehingga ketika salah satu yang terluka diantara mereka membuat mereka bersedih. Ana tidak suka melihat Siska menangis sementara Siska sangat khawatir ketika melihat Ana terluka seperti itu.


"Ceritanya panjang, Sis. Aku tidak bisa menceritakan semuanya kepadamu saat ini, karena aku tidak mau menyusahkan kalian. Ini berhubungan dengan suamiku," Ucap Ana.


"Hah? Memang apa yang terjadi dengan suami Kakak? Terus yang melakukan ini juga suami Kakak?" Siska sangat terkejut.


"Bukan. Musuhnya begitu banyak, mereka mencoba untuk mencelakainya waktu acara pesta bunga api itu. Yang mengadakan pesta bunga api tersebut adalah suamiku, entah darimana dirinya mengetahui hari ulang tahun dari Nara,"


"Jadi itu suami Kakak? Dulu waktu Nara lahir dan kita diusir dari desa, beberapa hari kemudian ada yang datang kedesa itu Kak. Aku dengar mereka mencari Kakak dan anak Kakak itu, tapi cara mereka melebihi pikiran seorang manusia,"


Mendengar itu langsung membuat Ana sangat terkejut, dirinya tidak mengetahui soal itu. Dia tidak mengetahui siapa yang mencarinya, bahkan Siska sendiri tidak menceritakan hal itu kepada Ana selama ini sehingga Ana baru mengetahuinya hari ini.


"Ada yang datang kedesa itu? Kenapa kamu baru bilang sekarang kepadaku, kenapa tidak bilang sejak dulu sih, Sis?"


"Aku nggak berani mengatakan itu, Kak. Apalagi orang orang itu sampai melukai para warga disana, dan membuat seluruh warga ketakutan selama beberapa bulan karena takut orang orang itu akan datang lagi. Aku nggak berani memberitahukan ini kepada Kakak, karena saat itu Kakak juga dalam masalah yang berat,"


"Tapi Sis, aku harus tau dengan hal yang berhubungan dengan diriku. Apalagi sampai membuat orang lain terluka karenaku, aku tidak ingin hal itu terjadi, Sis. Kenapa kamu tidak bilang kepadaku sebelumnya?"


"Maafin aku, Kak. Waktu itu aku tidak berani untuk mengatakannya kepada Kakak, apalagi kita habis diusir dari desa dan Kakak habis melahirkan. Siska takut, kalau kabar itu akan membuat kondisi Kakak menjadi parah karena banyak hal yang harus Kakak pikirkan sendirian,"


"Rifki nggak mungkin melakukan itu, dia tidak akan mungkin tega mencelakakan orang orang yang tidak bersalah. Apalagi para warga yang sama sekali tidak mengetahui apapun, aku tau betul tentangnya,"


Sikap manusia memang mampu berubah ubah, jadi jangan berharap berlebihan kepada seorang manusia. Kita tidak tau bagaimana sikapnya suatu hari nanti, meskipun kita mengenalnya dengan dalam akan tetapi tidak dengan bertambahnya hari yang akan datang.


"Tapi kenyataannya seperti itu, Kak. Bisa jadi yang melakukan itu suami Kakak, soalnya kata mereka semua, orang orang itu terlihat memakai jas hitam dan seperti orang kaya. Tapi anehnya kenapa dia bisa tau kalo Kakak masih hidup?"

__ADS_1


"Tidak mungkin dia melakukan itu, Sis. Rifki bukan tipe orang seperti itu, itu pasti bukan dirinya,"


"Aku tidak tau soal itu, Kak. Tapi kejadian itu benar benar telah terjadi didesa itu,"


"Aku mengenalnya sejak kecil, Sis. Aku sangat paham dengan sikapnya, jika dirinya yang melakukan itu maka..."


Ana pun memegangi dadanya yang terasa sakit, setetes air mata pun meluruh dipipinya. Ia tidak terima jika memang benar yang melakukan itu adalah Rifki sendiri, tega sekali Rifki melakukan hal seperti itu apalagi kepada masyarakat biasa yang tidak bersalah hanya untuk bisa menemuinya.


"Kakak!" Teriak Siska.


"Rifki tidak mungkin melakukan itu, Rifki tidak mungkin bisa menyakiti orang lain hanya karena ambisinya. Dia tidak mungkin melakukan itu," Ucap Ana lirih sambil memegangi dadanya.


Tubuh Ana sedikit terhoyor hingga membuat Siska dengan sigap menangkapnya, Siska pun menyentuh kening Ana yang terasa panas. Ana tidak menyangka dengan apa yang dirinya dengar saat ini, bagaimana mungkin Rifki tega melakukan itu kepada orang yang tidak memiliki sangkut pautnya seperti mereka.


Mendengar perkataan dari Siska, hal itu langsung membuat kondisi Ana mendadak menurun. Yang tadinya dirinya baik baik saja dan hanya ada luka dikedua tangannya, mendadak suhu tubuhnya menjadi panas dan tubuhnya gemetaran tiba tiba.


Ana mendadak merasa sangat lemas ketika mendengarnya, apalagi dia sangat mengenal sosok Rifki itu seperti apa selama ini. Mendengar ucapan Siska membuatnya langsung terluka hatinya, dan membuat kondisinya tiba tiba berubah drastis.


Ana sama sekali tidak mempercayai apa yang dirinya dengar tentang kejadian waktu itu, dirinya merasa sangat yakin bahwa itu bukanlah Rifki yang melakukannya. Meskipun keduanya tidak pernah bertukar kabar, akan tetapi hati keduanya saling terhubung sampai detik ini.


"Kakak kenapa?" Tanya Siska khawatir dengan kondisi dari Kakaknya itu.


"Rifki tidak mungkin melakukan itu, kan?" Ana menatap nanar dengan penuh luka dihatinya kepada Siska.


"Kak..."


"Tidak mungkin dia seperti itu, Siska. Itu bukanlah Rifki yang melakukannya,"


"Kakak tenangin diri dulu, kakak kenapa? Kakak sakit?"


"Aku nggak papa kok, Sis. Hanya pusing saja, nanti juga sembuh sendiri," Jawab Ana sambil memegangi kepalanya.


"Siska bantu masuk kedalam ya? Biar Kakak bisa istirahat," Ana hanya menjawabnya dengan anggukan kepala pelan.


Siska lalu memapah Ana dengan pelan karena takut kalau Ana terjatuh, karena kondisi yang terlihat lemas. Ana merasa shock ketika mendengar apa yang diceritakan oleh Siska, dirinya merasa kecewa atas apa yang dilakukan oleh Rifki sebelumnya.


Cerita itu memang benar terjadi, tapi bukan Rifki pelakunya melainkan orang lain. Akan tetapi, Ana salah paham soal itu dan menganggap bahwa Rifki telah menindas masyarakat biasa yang tidak ikut campur dalam urusannya itu.


Siska pun menyuruh Ana untuk duduk ditepi kasur yang ada didalam kamarnya, karena pakaian Ana yang terlihat lengket akibat bercak darah yang ada dipakainya itu. Siska pun membuka sedikit lengan baju Ana, dan dirinya pun terkejut ketika melihat banyaknya luka sayatan yang ada disana.


"Ya Allah, bagaimana bisa ada luka ditangan Kakak seperti ini?" Tanya Siska terkejut.


"Sudah. Jangan dibahas soal ini, ini hanya luka kecil saja kok," Jawab Ana.


"Tapi Kak, pasti ini sangat sakit kan? Aku saja yang terkena goresan pisau ketika masak saja sudah sakit banget, apalagi ini. Kenapa Kakak bisa menganggap ini sebagai luka biasa?"


"Sudah biasa terjadi, Sis. Dan ini sudah biasa,"


"Aku tidak mau dengar lagi, Kak. Aku tidak tau kehidupan Kakak sebelumnya seperti apa, sekarang luka Kakak harus diobati secepat mungkin," Ucap Siska dengan tegasnya.


Siska pun mengambil peralatan p3k, dirinya pun langsung mengobati Ana. Meskipun lukanya cukup banyak, akan tetapi darahnya sudah berhenti untuk mengalir, dan bahkan lukanya sudah sedikit mengering.


Ana sebelumnya telah mengobati lukanya itu, hingga luka tersebut tidak terlalu parah. Ana telah melakukan pertolongan pertama menggunakan manfaat dari tanaman tanaman yang mampu untuk mencegah pendarahan sebelum dirinya bisa mendapatkan pertolongan.


"Sis, soal penyerangan itu ..." Ana tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi, Kak. Aku tidak mau Kakak seperti tadi,"

__ADS_1


"Tapi Sis, dia bukan suami Kakak kan? Dia tidak mungkin melakukan itu kepada orang lain, dia bukan Rifki kan?"


"Jika itu keyakinan Kakak, maka yakinlah bahwa itu bukanlah suami Kakak. Mungkin itu hanya orang lain, yang ingin membuat Kakak membenci suami Kakak sendiri," Jawab Siska sambil terus mengobati luka yang ada ditangan Kakak angkatnya itu.


Siska tidak mau Kakaknya itu terus memikirkan tentang ucapannya tersebut, yang akan berakibat kepada menurunnya kesehatan dari Kakak angkatnya itu. Siska sendiri juga tidak terlalu paham soal kejadian yang pernah terjadi, karena dirinya hanya mendengarkan cerita dari mulut orang lain bukan melihatnya sendiri.


"Musuhku dan Rifki terlalu banyak, Sis. Mungkin bisa jadi memang ada yang sengaja melakukan itu hanya untuk merebut Kinara dariku. Banyak yang menginginkan harta hingga tidak memedulikan orang lain, bahkan sampai berambisinya mereka ingin membunuhku dan juga anakku,"


"Lalu apa yang harus Kakak lakukan sekarang? Sampai kapan Kakak harua berpisah dengan suami Kakak? Bukannya itu termasuk tidak adil juga untuknya karena dirinya juga berhak atas Nara? Apalagi Nara adalah darah dagingnya. Siska tidak ingin ikut campur dalam urusan Kakak, tapi tidak ada salahnya jika Kakak kembali kepada suami Kakak dan berjuang bersama sama untuk menjaga Nara. Nara sendiri juga berhak mengetahui siapa Ayah kandungnya,"


Siska merasa kasihan dengan kehidupan dari Ana dan Kinara selama ini, dirinya harus hidup jauh dari orang yang dicintainya bahkan jauh dari keluarganya sendiri. Siska ingin mengatakan hal ini kepada Ana agar dirinya mau kembali bersama dengan suaminya, akan tetapi dirinya takut kalau Ana justru akan marah kepadanya dan memutuskan untuk pergi bersama dengan Kinara.


Siska tidak ingin itu terjadi, karena Siska sendiri sangat menyayangi Kinara dan sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Siska tidak mau jauh dari Kinara, sudah lama dirinya menikah akan tetapi belum juga dikaruniai keturunan bahkan suaminya saat ini sedang merantau jauh.


"Maaf Kak, Siska tidak bermaksud untuk menyuruh Kakak pergi, tapi Siska dapat merasakan bagaimana diposisi suami Kakak. Seandainya suami Kakak pergi membawa Kinara dan kalian bertukar posisi, Kakak pasti tidak akan sanggup bukan jika harus menjauh dari anak Kakak sendiri?" Ucap Siska lagi karena takut kalau Ana sampai salah paham karena ucapannya sebelumnya itu.


"Aku juga ingin kembali kepadanya, Sis. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan Nara, mereka menginginkan nyawa Nara dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku juga sangat menyayangi Rifki dan bahkan lebih daripada nyawaku sendiri, jika aku kembali kepadanya justru dia akan dalam bahaya karena terus berusaha untuk melindungiku dan Nara,"


"Semua keputusan ada ditangan Kakak, tapi tolong pikirkan baik baik soal ini, Kak. Aku hanya takut kalau Nara sampai membenci Ayahnya sendiri, apalagi semakin bertambah hari semakin dewasa juga dirinya tapi belum tentu pikirannya. Bagaimana juga Nara masih membutuhkan kasih. sayang dari Ayahnya, hidup tanpa kasih sayang seorang Ayah juga bisa berpengaruh terhadap mental dan tingkat emosinya. Tolong pikirkan baik baik Kak,"


Ana pun terdiam mendengarkan ucapan dari Siska. Memang benar selama ini, bahkan Kinara sendiri jarang sekali mendengarkan ucapannya. Kinara sering membantah ucapannya itu, apalagi sering membuat ulah terhadap warga sekitar tempat dirinya tinggal saat ini.


Siska hanya tidak ingin kalau Kakaknya sampai menyesal dikemudian hari, dan ingin sekali mengulangi kemasa lalu. Biar bagaimanapun kejadian yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diulangi lagi, apalagi jika mengakut dengan nyawa seseorang sehingga jiwanya tidak akan bisa kembali lagi.


Ana jug takut jika anaknya sampai membenci Ayah kandungnya sendiri, akan tetapi disatu sisi dirinya juga tidak ingin kalau sampai suaminya dalam bahaya karenanya tapi disisi lain dirinya juga ingin kembali berkumpul seperti sebelumnya. Tak beberapa lama kemudian, Kinara pun datang dan menemui Mamanya sambil membawa sebungkus makanan.


"Mama lihat, Nara dapat ini," Ucap Kinara dengan senangnya karena menerima bungkusan makanan dari seseorang.


Keduanya langsung menoleh kearah dimana Kinara berada, Ana sendiri langsung menutup kembali lukanya ketika mendengar suara Kinara berteriak memanggilnya sebelumnya. Nampak gadis kecil yang polos dengan sebuah senyuman yang mengembang dipipinya, sambil membawa sebungkus makanan.


"Nara dapat dari mana?" Tanya Ana.


"Dikasih sama Om Om, Ma." Kinara menjawab pertanyaan dari Ana dengan jujur.


"Nara. Lain kali jangan asal menerima pemberian dari orang lain, emang tadi Nara habis ngapain? Kenapa bisa dikasih makanan olehnya?" Omel Ana.


Bukannya senang ketika anaknya pulang sambil membawa makanan, justru Ana mengomeli anaknya itu karena dirinya yang diberikan makanan oleh orang yang tidak dikenalnya. Ana hanya takut kalau orang tersebut ingin berbuat macam macam kepada Kinara, apalagi mengingat bahwa banyak musuh yang menginginkan nyawa dari Kinara sendiri.


"Nara nggak ngapa ngapin kok, Ma. Tadi ada orang yang bagi bagi makanan dipanti asuhan, katanya mereka membuka restoran baru didekat sini," Jawab Kinara jujur.


Sebelumnya, dirinya memang main bersama dengan anak anak panti, yang bahkan rumahnya memang tidak jauh dari sebuah panti asuhan. Ketika Kinara bermain dengan teman temannya, tiba tiba ada yang datang kedalam panti itu dan ingin membagi bagikan makanan sebagai ucapan syukur atas dibukanya sebuah restoran didaerah sekitar tempat itu.


Ana merasa lega ketika mendengar penjelasan dari anaknya itu, ketakutannya sebelumnya pun menjadi hilang. Selama keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain, Kinara akan tetap aman dari bahaya yang ingin sekali mengincarnya.


Ana tidak ingin merenggut kebebasan dari Kinara, dirinya ingin anaknya bisa tumbuh seperti anak anak lainnya pada umumnya. Jika dirinya kembali kepada Rifki, maka kebebasan Kinara akan hilang dan dirinya akan terus diawasi oleh anggota Gengcobra sehingga Kinara tidak akan bisa bergaul dengan anak seusianya dengan bebas.


"Ya udah, Nara makan saja. Nara belum makan kan?" Tanya Ana kepada anaknya.


Ana tau bahwa anaknya itu belum makan, karena biasanya anaknya akan menunggunya untuk bisa makan bersama sama. Apalagi sekarang adalah hari minggu, sehingga sekolah Kinara pun libur dan dirinya bisa bermain dengan teman teman dipantinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huftt... Jangan seneng dulu kalau Othor ngak jadi buat mereka musuhan yak. Kemunculan Lia ( Ibu Nadhira ) nanti, akan menjadi akhir cerita, eh bukan akhir deh lebih tepatnya pertemuan Rifki dengan Kinara, dan segala rahasia akan terungkap.. Siapkan tissu setelah ini, ini pikiran Othor mulai agak oleng lagi, hati hati baper, dan hati hati sesenggukan


Akhirnya Othor bisa update juga, dan terima kasih atas spam minta updatenya


Jangan bosan untuk menunggu update ya, dunia real live Othor sangat kejam... Othor juga sudah menulis kisah hidup Othor dinovel lain, pengen tau? Yuk mampir juga, kalau ngak pengen tau juga ngak papa..

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya reader,,, lope lope sekebon deh ♥️😗


__ADS_2