
Stevan langsung memutuskan sambungan telponnya, tak beberapa lama kemudian dirinya mengirim sebuah foto seorang bayi perempuan yang amat lucu dan masih memejamkan kedua matanya itu, hal itu membuat Nadhira tersenyum bahagia melihat wajah keponakannya itu.
"Rif, dia cantik sekali," Ucap Nadhira sambil mengusap usap layar ponselnya.
"Iya sayang, sangat imut ya, lihatlah hidungnya mirip Kak Stevan banget" Jawab Rifki.
"Seandainya anak kita masih ada didunia ini, mungkin sebentar lagi aku juga pasti akan merasakan yang namanya melahirkan"
"Jangan sedih ya, kenapa kita ngak buat lagi aja?"
"Ha?"
Rifki langsung mengangkat tubuh Nadhira kedalam gendongannya ala bridal style, Nadhira sendiri pun langsung mengalungkan tangannya dileher Rifki karena tubuhnya yang diangkat tiba tiba itu, pandangan keduanya pun bertemu dan saling menatap dengan senyuman.
"Aku bisa jalan sendiri sayang, bagaimana kalo lukamu kambuh lagi nanti?" Ucap Nadhira lirih.
"Lukaku sudah sembuh, tidak perlu dikhawatirkan lagi soal itu sayang"
"Beneran sudah ngak apa apa?"
"Iya, sekarang pun sudah dibolehkan mandi"
Nadhira pun menyembunyikan wajahnya didalam dada bidang suaminya itu, aroma wangi dari tubuh Rifki pun membuatnya merasa semakin nyaman berada didalam pelukan Rifki, Rifki pun membawa Nadhira menuju kekamar keduanya itu yang berada dilantai atas.
Rifki lalu menutup pintu kamarnya tersebut sementara salah satu tangan Nadhira menguncinya dari dalam agar tidak ada yang masuk, dengan perlahan lahan Rifki menurunkan Nadhira diatas kasur kamarnya.
"Boleh?" Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Tumben nanya dulu?" Tanya Nadhira balik.
"Kan harus dapat kesetujuanmu dulu"
Nadhira pun tersenyum kearah Rifki seraya menganggukkan kepalanya pelan, hal itu membuat senyuam diwajah Rifki mengembang begitu sempurna dan sangat cerah untuk dipandangi.
Rifki pun melancarkan aksinya itu kepada Nadhira
*****
"Sayang, sudah selesai belom?" Tanya Rifki yang kini tengah duduk didepan televisi sambil memainkan ponselnya.
"Bentar lagi!" Teriak Nadhira dari lantai atas tempat dimana kamarnya berada.
20 menit kemudian akhirnya Nadhira keluar dari kamarnya dan sudah siap siap untuk berangkat melakukan foto prewedding bersama dengan Rifki, mendengar Nadhira membuka pintunya membuat Rifki bersandar disandaran sofa dan berpura pura sedang tidur.
Nadhira pun menuruni tangga yang menghubungkan kamarnya dengan lantai bawah tempat dimana Rifki berada saat ini, senyuman yang mengembang sebelumnya langsung luntur ketika melihat Rifki yang tertidur disofa.
"Rifki!! Kok malah tidur sih, ayo berangkat" Teriak Nadhira kesal karena Rifki yang tertidur.
Rifki sama sekali tidak merespon ucapan Nadhira dan justru lebih memejamkan kedua matanya dalam, Nadhira langsung mendekat kearah Rifki dan mengoyang goyangkan tubuhnya itu untuk membangun Rifki.
Merasakan itu membuat Rifki langsung menarik tangan Nadhira dan menjatuhkan tubuh Nadhira kedalam pangkuannya, Nadhira pun memejamkan matanya ketika dirinya tiba tiba ditarik seperti itu oleh Rifki.
"Rifki, apa apaan sih kamu ini, ini sudah siang, ayo berangkat sekarang" Omel Nadhira.
"Ngak jadi berangkat, kamu lama" Rifki pun merajuk.
"Jahat!" Nadhira langsung mencerucutkan bibirnya seraya membuang muka dari wajah Rifki.
Melihat itu membuat Rifki tidak tahan untuk tidak memakannya, ketika bibirnya hendak mendekati bibir Nadhira hal itu membuat Nadhira langsung menutupi mulut Rifki dengan kedua tangannya.
"Ngak boleh, nanti belepotan lagi lipstickku" Ucap Nadhira menahan Rifki.
"Habisnya jangan sepeti itu lah, kan jadi gemes aku melihatnya sayang"
"Mangkanya ayo berangkat sekarang Rifkiku sayang, katanya mau foto prewedding"
"Kamu lama banget sih, emang ngapain aja tadi?"
"Ngajarin ikan berenang dibak mandi"
"Astaga Dhira, gabutmu kebangetan sekali"
"Ayo berangkat sayang, sekarang" Rengek Nadhira sambil menarik narik pelan jas milik Rifki.
"Cium dulu"
"Ngak"
"Ya sudah ngak jadi berangkat"
Nadhira pun langsung menghujani ciuman diwajah Rifki setelahnya, dibagian pipi dan juga kening, hal itu langsung membuat Rifki terkekeh geli dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira saat ini, melihat Rifki tertawa membuat Nadhira merasa sangat puas.
"Sudah?" Tanya Nadhira.
"Iya ya sudah, ayo berangkat"
__ADS_1
Nadhira langsung bangkit dari pangkuan Rifki dan langsung menarik tangan Rifki untuk bangkit dari duduknya itu, ia langsung bergegas berlari keluar rumah dengan menggandeng tangan Rifki, terlihat seperti seorang anak kecil yang sudah tidak sabaran untuk diajak membeli mainan.
Melihat kedua majikannya yang keluar dari rumah tersebut membuat Pak Mun segera bangkit dari duduknya dan ikut berlarian masuk kedalam mobil yang telah ia sediakan sebelumnya, Nadhira dan Rifki langsung masuk kedalam mobil tersebut.
"Ayo jalan Pak!" Teriak Nadhira dengan semangatnya.
"Baik Non" Jawab Pak Mun dan langsung menyalakan mesin mobil tersebut.
"Semangat banget sih Dhira, tidak seperti biasanya saja kamu sayang" Ucap Rifki dengan senyuman mengembang ketika melihat wajah Nadhira yang terlihat sangat bahagia itu.
"Inikan hari kita berdua, bagaimana mungkin aku bisa tidak semangat seperti ini, sayang" Jawab Nadhira tanpa menoleh kearah Rifki dan justru fokus kepada jalanan yang ada didepannya.
"Terserahmu Dhira, pokok jangan salto salto sembarangan dijalan raya, nanti akunya yang bakal kewalahan menghadapimu"
"Nanti kamu salto salto ya, aku maunya tema kali ini adalah beladiri"
"Ngak ah, itu terlalu berat Dhira, bagaimana kalo temanya raja dan ratu saja?"
"Ngak, terlalu sering dipakai itu Rif, maunya yang beda dari yang lainnya"
"Itu beda sayang, nanti aku carikan model gaun yang paling beda"
"Ngak mau, maunya tema beladiri, titik ngak pake koma"
"Iya deh iya, terserah kamu saja, aku ngikut" Pasrah Rifki karena memang dirinya tidak akan bisa berdebat pendapat dengan Nadhira.
"Makasih sayang"
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai ditempat dimana dirinya dan pihak wedding organizer janjian, disebuah bangunan yang akan menjadi tempat keduanya untuk melakukan foto prewedding bersama.
Nadhira pun tengah sibuk untuk memilih pakaian yang akan ia gunakan untuk melakukan foto prewedding bersama dengan Rifki itu, dan setelah sekian lama memilih akhinya dirinya menemukan sebuah pakaian yang ia cari cari yakni pakaian beladiri yang dilengkapi dengan sabuknya.
"Pakek yang ini, Rif" Ucap Nadhira bersemangat.
"Coba sini aku lihat" Ucap Rifki dan langsung menerima pakaian tersebut dari Nadhira, dua buah pakaian beladiri akan tetapi beda warna.
"Bagus kan?"
"Iya, bagus banget, tapi kenapa warnanya berbeda?"
"Anggap saja sebagai pelatih dan siswanya, ini kan bagus sekali Rif"
"Ya sudah, buruan ganti pakaianmu, aku juga akan ganti pakaian yang ini"
"Syiap Bos besar"
Beberapa menit kemudian Rifki telah selesai mengganti pakaiannya dan dirinya kini tengah merapikan pakaian tersebut didepan cermin yang disediakan ditempat itu, setelah selesai merapikannya akhirnya Nadhira keluar juga dari dalam kamar mandi itu.
"Sangat tampan," Puji Nadhira ketika melihat Rifki yang telah selesai merapikan bajunya.
"Memang tampan, kau saja yang selama ini tidak melihat ketampanan suamimu ini," Jawab Rifki ketika mendengar pujian dari Nadhira.
"Kan jadi besar kepala, sia sia aku memujimu"
"Kau cantik sayang"
Mendengar pujian tersebut langsung membuat kedua pipi Nadhira langsung bersemu merah, hal itu langsung membuat Nadhira memegangi pipinya yang terasa sedikit panas itu, Rifki langsung tertawa ketika melihat apa yang dilakukan oleh Nadhira itu.
Mereka pun melakukan foto prewedding dengan begitu sangat lama dan entah begitu banyak gaya yang telah mereka lakukan sesuai dengan tema prewedding kali ini yakni tema beladiri yang dipilih oleh Nadhira sendiri.
Setelah cukup lama mengambil gambar akhinya mereka pun melihat hasil dari foto prewedding kali ini, terlihat begitu sangat lucu dan gagah sekali, dari 50 foto prewedding yang mereka lakukan kali ini hanya ada beberapa yang membuat Nadhira terpana sementara yang lainnya itu nampak begitu biasa.
"Sayang, wajahmu kok cemberut sih" Ucap Nadhira ketika melihat sebuah foto
Sebuah foto yang memperlihatkan keduanya tengah melakukan gerakan beladiri, Rifki melakukan gerakan tendangan kearah Nadhira sementara Nadhira melakukan gerakan menghindari serangan akan tetapi disana wajah Rifki terlihat cemberut.
"Kang fotonya yang tidak tepat Dhira" Ucap Rifki yang menyalahkan orang yang memegang kamera.
"Sayang sekali, padahal gayanya bagus, tapi wajahmu saja yang tidak bagus"
"Ayo foto lagi, tapi temanya beda"
"Tema apa lagi?"
"Pake gaun pengantin lah, masak acara resepsi pernikahan pakeannya beladiri seperti ini"
"Kan ngak apa apa"
"Emang ngak apa apa, pokoknya harus dua tema sekarang ini"
"Iya ya, kamu saja yang pilih, aku malas"
Mendengar itu membuat Rifki langsung mencerucutkan bibirnya seperti apa yang dilakukan oleh Nadhira sebelumnya, dirinya pun langsung berjalan menuju kearah etalase yang dimana ada beberapa gaun pengantin yang dipajang disana, ia pun mulai memilihnya.
"Ini bagus ngak sayang?" Tanya Rifki.
__ADS_1
"Ngak, ganti yang lainnya"
"Kalo yang ini bagaimana?"
"Seleramu begitu rendah Rif, warnanya ngak cocok dikulitku"
"Ya sudah yang ini saja"
Nadhira pun langsung bangkit dari duduknya untuk mendatangi kearah Rifki, ia pun mengambil sebuah gaun pengantin yang ditunjukkan oleh Rifki untuk pertama kalinya dan dirinya langsung memberikan gaun itu kepada Rifki.
"Ini bagus," Ucap Nadhira.
"Katamu tadi ngak, sekarang kok jadi bagus"
"Sudah, jangan banyak omong lagi Rif, yang ini saja bagus, yang lainnya ngak minat"
"Kan emang Nadhira itu aneh"
"Ngak mau kah? Yaudah ngak usah foto pake gaun ini, ribet juga sih"
"Iya ya aku mau, lagi pms atau gimana sih? Marah marah mulu deh dari tadi"
Nadhira hanya mendengus kesal karena ucapan Rifki tersebut, Nadhira lalu menuju keruang ganti beserta beberapa wanita yang akan menyiapkan gaunnya itu, mereka juga memake up i Nadhira dengan natural sesuai dengan tema yang mereka pilih saat ini.
Nadhira terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang berwarna putih tanpa noda itu, bibir Nadhira yang berwarna pink tersebut menambah kecantikan Nadhira hingga membuat Rifki tak henti hentinya untuk menatap wajah cantiknya itu.
"Cantik sekali," Guman Rifki pelan akan tetapi tidak mampu didengar oleh Nadhira yang sedang dirias saat ini.
Nadhira pun menoleh kearah Rifki yang baru saja selesai berganti pakaian dan kini dirinya memakai sebuah baju putih disertai jas yang berwarna hitam, ia juga memakai dasi kupu kupu yang serasi dengan warna jas yang ia gunakan saat ini.
Rifki terlihat begitu gagah dengan pakaian berjas yang siap untuk meminang pasangannya saat ini, setelah itu keduanya pun melakukan foto prewedding dan terlihat seperti pasangan yang baru menikah akan tetapi mereka sudah lama menikah.
Si fotografer pun mengarahkan keduanya untuk melakukan sebuah gaya yang akan mereka gunakan untuk melakukan foto prewedding, setelah cukup lama akhinya selesai juga acara keduanya hari ini.
"Capek," Ucap Nadhira dan langsung meluruh kelantai saat itu juga.
"Mau es cream atau salad buah?" Tanya Rifki dengan nada menggoda kepada Nadhira.
"Beliin yang banyak,"
"Ayo berdiri" Rifki pun mengulurkan tangannya untuk membantu Nadhira berdiri kembali.
Nadhira langsung menerima uluran tangan tersebut, Rifki menariknya perlahan lahan untuk membangkitkan Nadhira kembali, setelahnya Nadhira langsung masuk kedalam pelukan Rifki karena ulah Rifki yang membuatnya menabrak tubuhnya itu.
"Ayo beli sekarang," Rengek Nadhira.
"Ganti pakaian dulu sayang, kalo beli dengan pakaian ini nanti dikira pengantin kabur,"
"Gantiin,"
"Manja banget ya ampun, tadi pagi sarapan apa an sih kok beda banget,"
"Ngak tau, pokoknya males aja hari ini, pengen tidur tiduran lagi dirumah,"
"Iya deh iya, ayo kesana biar aku bantu lepasin pakeanmu didalam ruangan,"
"Gendonglah, males jalan"
"Hedeh, manjanya minta ampun deh,"
Rifki sedikit menunduk disamping Nadhira dan langsung mengangkat kedalam gendongannya itu, merasakan itu membuat senyuman diwajah Nadhira langsung mengembang sangat cerahnya, dan detik itu juga Nadhira langsung mengalungkan tangannya dileher sang suami tercintanya.
Rifki pun menurunkan tubuh Nadhira disebuah ruangan yang kosong tanpa adanya orang didalam, ia langsung mengunci pintu ruangan tersebut untuk membantu Nadhira melepaskan gaun pengantin tersebut dan langsung berganti pakaiannya sendiri.
*****
Nadhira dan Rifki pun kini tengah berada didalam mobil pribadi mereka dengan disopir oleh Pak Mun, sejak tadi Nadhira terus bersandar didada bidang milik suaminya itu sambil menikmati perjalanan yang tengah mereka lakukan saat ini.
"Sayang," Panggil Nadhira yang kini tengah memainkan jemari tangannya.
"Iya, ada apa sayang?" Tanya Rifki sambil mengusap kepala Nadhira pelan dengan penuh kasih sayang.
"Aku rindu Mama Lia dan Papa Rendi, aku ingin bertemu dengan mereka" Ucap Nadhira lirih.
"Maafin aku ya, untuk yang itu aku tidak bisa mengabulkan sayang, kita kerumah Mama Putri saja gimana?"
"Ngak mau, maunya Mama Lia" Ada secercah air mata dipelupuk matanya.
"Lalu aku harus gimana sayang? Mama Lia sudah ngak ada, dan Papa Rendi juga tidak tau kemana perginya sampai sekarang,"
"Kita ke makam Oma yuk," Ajak Nadhira penuh harapan kepada Rifki.
"Iya," Jawab Rifki, "Pak Mun, kita ke makam keluarga dulu ya Pak"
"Baik Tuan Muda," Jawab Pak Mun.
__ADS_1
Pak Mun terus menjalankan mobilnya itu berbelok arah melalui putaran yang ada dijalan tersebut untuk menuju kearah makam keluarga Rifki, disanalah tempat dimana anggota Gengters dan Sarah beserta anaknya dimakamkan.