
Nadhira memejamkan kedua matanya merasakan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki kepadanya dengan rasa yang aneh baginya itu, Rifki pun mendekatkan bibirnya kepada bibir Nadhira dan melum*tnya sambil memasukkan satu tangan kedalam baju Nadhira.
Nadhira yang merasakan tangan nakal Rifki pun merasa geli sambil memejamkan kedua matanya itu, Rifki merem*s gundukan suci tersebut dengan pelannya hingga membuat Nadhira sedikit mendes*h karena perbuatannya.
Tanpa terasa bahwa air mata Rifki sedang mengalir dari ujung matanya, sebelum Nadhira menyadarinya hal itu membuat Rifki segera menghapusnya agar Nadhira tidak mengetahuinya bahwa saat ini dirinya sedang menangis.
"Bahkan sampai detik ini pun kau tidak jujur kepadaku Dhira, apa selama ini kau tidak pernah menganggap kehadiran diriku ada disisimu? Apakah aku tidak berhak untuk mengetahuinya Dhira? Aku sangat kecewa kali ini" Ucap Rifki tiba tiba dengan nada yang berubah menjadi sedih.
"Maksudmu apa? Aku tidak mengerti, tolong katakan kepadaku yang sebenarnya Rif, kesalahan apa yang telah aku lakukan?" Tanya Nadhira sambil membuka kedua matanya.
Rifki pun menghentikan aksinya dan lebih memilih untuk duduk ditempatnya, melihat itu membuat Nadhira ikut serta duduk disebelah Rifki dan menatap wajah sembab Rifki, Nadhira bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rifki.
"Kamu kenapa Rif? Kenapa kau bersedih seperti itu? Katakan kepadaku, ada apa Rif? Apa aku telah menyakitimu?" Tanya Nadhira khawatir dan memegangi tangan Rifki dengan eratnya.
"Kau sangat menyakitiku kali ini Dhira, sangat sangat menyakiti hatiku, karena kau tidak bisa berkata jujur kepadaku yang bahkan saat ini aku adalah suamimu, kenapa kau masih tetap merahasiakan semuanya dariku? Kenapa Dhira? Kenapa?"
Mendengar ucapan Rifki yang seperti bagaikan menahan tangisannya itu membuat Nadhira merasa begitu khawatir dengan Rifki, Rifki tidak pernah menangis seperti itu jika bukan karena hal yang sangat menyakiti hatinya.
"Aku tidak paham dengan apa yang kau katakan Rif, aku sama sekali tidak pernah berbohong kepadamu Rif, kebohongan apakah yang telah aku katakan? Tolong katakan kepadaku, jangan seperti ini"
"Kau tidak pernah berbohong kepadaku Dhira, tidak pernah membohongiku, kau hanya menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dariku, yang bahkan aku sendiri tidak boleh mengetahuinya, sampai kapan rahasiamu akan selamanya kau sembunyikan apalahi dengan suamimu ini?" Setelah mengatakan itu air mata Rifki langsung merembes keluar.
Air mata yang sejak tadi ditahannya itu pun seketika leleh begitu saja, Nadhira adalah kelemahannya, jika terjadi sesuatu kepada Nadhira maka dirinya pun pasti akan terluka dan bahkan sangat terluka.
"Sesuatu apa yang kau maksud itu Rif? Kenapa kau menangis? Ada apa? Apa yang kau ketahui? Kesalahan apa yang telah aku lakukan kepadamu? Katakan Rif, katakan kepadaku" Tanya Nadhira sambil memegangi wajah Rifki.
"Kenapa kau sama sekali tidak mau terbuka denganku Dhira? Sampai berapa lama lagi kau harus menyembunyikan semuanya dariku? Aku merasa bahwa kau sama sekali tidak menganggap kehadiran diriku didalam hidupmu"
"Rif katakan, jangan seperti ini, aku benar benar tidak tau tentang apa yang kau katakan, kita baru saja menikah jangan sampai hal ini membuat keributan didalam rumah tangga kita Rif"
"Kenapa kau pura pura tidak tau dengan apa yang aku katakan Dhira?" Air mata Rifki meleleh begitu saja keluar dari pelupuk matanya.
"Rif, jangan menangis, jika aku salah kau boleh memarahiku dan bahkan memukulku, tapi tolong beritahu kesalahanku dimana?"
"Aku sangat marah kepadamu Dhira, kemarahanku sudah tidak bisa dibendung lagi"
"Maka marahlah Rif, lampiaskan semuanya kepadaku jika memang benar aku memiliki salah dengan dirimu, tapi aku mohon jangan menangis"
"Apakah kau mau jujur denganku Dhira?"
"Iya, aku milikmu sekarang ini Rif"
"Katakan yang sebenarnya kepadaku Dhira, aku hanya menginginkan kejujuran darimu, apakah kau tidak ingin mengatakan hal itu kepadaku? Sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku? Kenapa Dhira? Kenapa bisa ada dua luka jahitan diperutmu saat ini? Apa yang terjadi Dhira katakan"
Nadhira pun terdiam mendengar pertanyaan dari Rifki saat ini, ia pun melepaskan pegangannya dari pipi Rifki dan lebih memilih untuk menundukkan kepalanya dengan sebuah keristal kecil tercipta diujung matanya.
__ADS_1
Rifki menghela nafasnya melihat kediaman dari Nadhira saat ini, dan berkata, "Sudah ku duga bahwa kau tidak akan pernah terbuka kepadaku soal itu, mungkin aku tidak berarti bagimu Dhira sehingga kau tidak mau berbagi sesuatu kepadaku"
"Rif, aku bisa jelasin kepadamu itu"
"Katakan sekarang Dhira, aku tidak mau lagi ada kebohongan diantara kita berdua"
"Soal bekas jahitan ini... Maafkan aku Rif, aku telah menyembunyikannya darimu selama ini, aku hanya tidak ingin membuat orang yang ada disekitarku khawatir terhadapku karena sekarang aku hanya memiliki satu ginjal saja ...." Kalimat Nadhira seakan akan menggantung dan dia tidak sanggup untuk melanjutkannya lagi.
"Katakan Dhira, kenapa bisa kau hanya memiliki satu ginjal? Dimana ginjal yang satunya?"
"Aku... Telah mendonorkannya kepada Papa" Jawab Nadhira sedikit takut dihadapan Rifki.
"Kenapa kau harus melakukan itu Dhira? Kenapa kau sama sekali tidak memikirkan keselamatanmu?"
"Aku melakukan ini demi Papa Rif, aku tidak ingin kehilangan orang yang begitu berarti bagiku selama ini, aku tidak punya pilihan lain selain mendonorkan ginjalku kepada Papa" Tangis Nadhira pecah seketika setelah mengatakan itu.
"Kau tau betapa hancurnya hatiku setelah mengetahui semuanya Dhira, apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku? Tentang bagaimana khawatirnya diriku kepadamu? Ini sangat sangat menyakitkan Dhira, kau tau setelah Dokter mengatakan semuanya kepadaku, hatiku bagaikan tersayat sayat, lihatlah sekarang kemana orang yang telah kau selamatkan itu? Dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan dirimu Dhira, aku kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Papamu yang sama sekali tidak peduli soal perasaanmu"
"Maafkan aku Rif hiks.. hiks.. maafkan aku, aku salah, aku minta maaf, dia orang yang membesarkanku Rif, bagaimana mungkin aku bisa berdiam diri disaat Papa membutuhkan donor ginjal?"
Rifki tidak habis pikir dengan apa yang dia dengar saat ini, hidup dengan satu ginjal bukanlah hal yang mudah apalagi dengan sosok Nadhira yang terlalu aktif dalam bidang ilmu beladiri, dan hal itu pasti akan menghambat dirinya untuk berlatih.
Entah kenapa Rifki seperti menyalahkan dirinya sendiri denhan apa yang terjadi kepada Nadhira, seandainya dirinya tidak pergi ke luar negeri waktu itu mungkin kejadian saat itu tidak akan terjadi kepada Nadhira sehingga Nadhira tidak perlu mengorbankan ginjalnya hanya untuk Rendi.
"Tapi apa yang telah dia lakukan kepadamu Dhira? Dia bahkan tidak mau menemuimu, sejak mengetahui bahwa kau bukan anaknya hatiku merasa sakit Dhira, apalagi mengingat perlakuannya selama ini kepadamu, aku tidak bisa menerimanya begitu saja"
Bahkan dia sempat untuk mendatangi rumah baru Rendi sebelumnya tapi justru apa yang dia dapatkan? Dia mendapatkan penolakan disana, dan hal itulah yang membuat Rifki tidak mampu untuk menahan rasa kekecewaan yang ada didalam hatinya.
Memang benar perkataan bahwa dia memang bukan anak kandungnya, tapi setidaknya hanya Rendi yang Nadhira punya, seharusnya dia ada untuk Nadhira disaat Nadhira membutuhkan perhatiannya bukan malah seperti ini kelakuannya.
"Meskipun dia tidak menganggapku sebagai anaknya sendiri, tapi setidaknya dia pernah membesarkanku Rif, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas jasa jasanya terhadapku"
"Tapi tidak dengan cara mengorbankan diri sendiri seperti itu Dhira, aku sangat marah, aku sangat kecewa, aku sangat terluka, dengan apa yang mereka lakukan kepadamu waktu itu, bahkan Adik tirimu itu sendiri dengan beraninya terang terangan ingin mencelakakan dirimu dan ingin membunuhmu".
"Aku tidak punya pilihan lain saat itu Rif, aku tidak ingin terlambat untuk menyelamatkan Papa, Amanda tidak salah Rif hanya saja Mama Sena yang selama ini telah mempengaruhinya, semarah marahnya aku dengan dia aku tidak pernah membencinya, ini hanya sebuah dendam dimasalalu Rif, dan aku tidak ingin dendam ini terus berlanjut"
"Kenapa kau sangat baik Dhira? Kenapa mereka gagal untuk memahamimu, seandainya mereka tau tentang pengorbananmu selama ini, mereka tidak akan melakukan hal itu kepadamu"
"Tidak Rif, aku mohon kepadamu jangan beritahukan hal ini kepada siapapun, jangan sampai ada yang mengetahuinya Rif, aku tidak ingin orang lain tau tentang hal ini"
"Entah hati seperti apa yang kau miliki saat ini Dhira, bagaimana mungkin aku bisa tidak mencintaimu? Aku sangat menyayangimu, kau boleh melakukan apapun asalkan jangan mengorbankan dirimu hanya untuk orang yang tidak tau bagaimana pengorbananmu".
"Berjanjilah kepadaku Rif, jangan memberitahukan hal ini kepada siapapun, aku mohon"
Rifki dihadapkan dengan janji yang begitu sangat memberatkan baginya, dia tidak boleh melakukan itu, janji itu hanya sebuah kebohongan yang harus tersimpan, dia tidak mau melakukan itu tapi tatapan nanar yang Nadhira berikan kepadanya membuatnya merasa berkecamuk dalam dadanya.
__ADS_1
"Tidak Dhira, aku tidak mau melakukan itu" Penolakan tegas dari Rifki langsung membuat air mata Nadhira berjatuhan.
"Rif, hanya kamu yang aku punya sekarang, aku tidak tau lagi harus berbuat apa, aku mohon jangan beritahukan ini kepada siapapun itu Rif, jika semua orang tau, aku tidak mau terlihat lemah didepan mereka semua karena keadaanku yang hanya memiliki satu ginjal saat ini"
"Aku akan memikirkannya lagi" Ucap Rifki sambil membuang muka dari wajah Nadhira karena dia tidak tahan melihat Nadhira menangis.
"Aku mohon Rif, berjanjilah kepadaku, tolong mengertilah perasaanku Rif"
"Kau sendiri saja tidak mengerti perasaanku Dhira"
"Maafkan aku, maaf, aku benar benar minta maaf kepadamu Rif, aku mohon Rif tolong"
"Baiklah aku berjanji kepadamu Dhira, tapi aku tidak bisa berjanji sampai kapan rahasia ini akan tetapi tersimpan dan terjaga dengan rapinya, aku tidak yakin bisa menyimpannya jika melihatmu seperti ini yang selalu dilukai oleh mereka semua, mungkin saat ini aku bisa berjanji tapi tidak dengan esok ataupun lusa nanti, aku tidak tau sampai kapan aku akan bisa untuk merahasiakannya"
"Setidaknya kau harus menjaga rahasia ini sampai aku mati Rif, aku harap rahasia ini tetap terjaga selamanya, biarkan aku bawa rahasia ini sampai diriku masuk kedalam liang lahat, sama sekali tidak ada penyesalan dalam diriku dan bersamamu itu sudah cukup bagiku, aku mohon kepadamu tolong jaga rahasia ini untukku Rif"
"Jangan katakan soal kematian Dhira, aku hanya ingin bersamamu, aku tidak mau kau pergi meninggalkanku Dhira"
"Aku pernah berdoa meminta kepada Allah, agar Allah menjemputku sebelum dirimu, aku harap akulah yang pergi terlebih dulu daripada dirimu, karena sehari saja tanpamu aku tidak akan bisa Rif, mungkin dengan satu ginjal ini impianku akan terwujud, aku sama sekali tidak menyesal karena hanya memiliki satu ginjal untuk saat ini, itu sudah cukup bagiku untuk dapat bersama denganmu hari ini dan nanti"
"Kita akan menua bersama Dhira, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, dan aku juga berdoa kepada Allah semoga Allah memanggilku satu jam setelah dirimu, agar kita bisa bersama sama sampai disyurga-Nya nanti"
"Kita akan selalu bersama Rif, bahkan maut sendiri tidak akan bisa memisahkan kita"
"Apa alasanmu untuk tidak memberitahu hal ini kepada mereka Dhira? Kenapa kau menyembunyikan ini semua dari mereka?"
"Aku tidak ingin hal ini membuat mereka begitu segan kepadaku, aku belajar untuk melupakan mereka Rif, dengan seperti ini mereka tidak perlu lagi untuk datang menemuiku"
"Aku tau apa yang kau rasakan saat ini Dhira, sebenarnya kau sangat menyayangi Papamu itu, mulutmu berkata demikian tapi itu berbeda jauh dari apa yang hatimu katakan"
"Maafkan aku Rif, aku hanya tidak bisa membenci seseorang yang pernah hadir dalam hidupku, aku hanya berusaha saja untuk melupakannya"
"Aku tidak tau lagi apa yang harus aku katakan kepadamu Dhira, aku sangat menyayangimu dan aku tidak ingin kau kenapa kenapa"
Rifki pun memeluk tubuh Nadhira yang sedang menangis itu, meskipun Rifki mengatakannya dengan nada pelan bahkan halus didengar akan tetapi mampu membuat Nadhira meneteskan air matanya, Nadhira yang merasakan pelukan tersebut merasa lebih tenang.
Sebenarnya ada setitik rasa sesal dihati Nadhira ketika mengingat bahwa dirinya hanya memiliki satu ginjal saat ini, akan tetapi penyesalan itu segera ditepis olehnya karena biar bagaimanapun juga ini adalah keputusannya untuk menyelamatkan Rendi meskipun Sarah dan Bi Ira dulu telah melarangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil menunggu Update yuk mampir dikarya temen Author
ini blubnya
Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?
__ADS_1