Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pembantu baru


__ADS_3

Rifki merasa bahwa dirinya tidak memerlukan pembantu lagi, karena sudah cukup banyak pembantu yang ada didalam rumahnya itu. Dirinya tidak bisa menerima sembarangan orang, apalagi wanita yang ada didepannya itu menggunakan sebuah cadar yang artinya menutupi identitas pribadinya itu.


Terlalu banyak musuh yang harus dirinya hadapi, sehingga dia harus berhati hati dalam menerima seseorang dirumahnya. Apalagi seorang wanita yang tiba tiba datang kerumahnya dengan melamar sebuah pekerjaan, entah darimana wanita itu berasal dirinya bahkan tidak mengetahui soal itu.


"Tuan Muda, tolong izinkan saya bekerja ditempat ini. Saya bisa melakukan pekerjaan apapun, asalkan anak saya bisa bersekolah lagi," Ana pun langsung berlutut dihadapan Rifki untuk meminta Rifki menerimanya bekerja dirumah itu.


"Carilah ditempat lain," Ucap Rifki sambil berlalu pergi.


"Tuan Muda! Tolong saya, saya mohon. Anak saya masih kecil, dan masih membutuhkan pendidikan,"


Seketika itu juga, langkah kaki Rifki pun terhenti. Rifki paling tidak tega dengan seorang anak kecil, apalagi anak tersebut sampai harus memutuskan pendidikannya karena kurangnya biaya untuk bersekolah. Dirinya pun langsung teringat dengan anaknya yang dibawa pergi oleh Nadhira, entah bagaimana keadaan anaknya diluar sana dan hal itu membuatnya menghentikan langkah kakinya.


"Bi, bawa dia keruanganku," Ucap Rifki langsung kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya.


Ana tau kelemahan dari Rifki, bahwa lelaki itu tidak akan tega melihat anak kecil yang kehilangan pendidikannya begitu saja, bahkan dirinya sampai membangun sebuah organisasi untuk membantu anak anak yang kehilangan pendidikannya. Ana pun tersenyum dibalik cadarnya itu, Bi Sari lalu menuntunnya untuk menuju keruangan dimana yang dimaksud oleh Rifki.


Padahal Ana sendiri mengetahui dimana letak ruangannya itu, akan tetapi dirinya hanya mengikuti langkah kaki dari Bi Sari. Dirinya pun memandangi sekeliling rumah itu, dan sama sekali tidak ada yang berubah didalamnya selama 11 tahun ini, bahkan disana terdapat sebuah foto pernikahannya dan Rifki yang terpasang diruang tamu.


Puluhan ingatan pun langsung terbayang didalam kepalanya, ingatan tentang hari harinya bersama dengan Rifki pun kembali terbayang. Dirinya tidak menyangka bahwa dia akan kembali kerumah itu, akan tetapi dengan identitas yang berbeda.


Ana lalu masuk kedalam sebuah ruangan yang dimana Rifki sudah duduk disana, Rifki lalu menyuruh dirinya untuk duduk didepannya. Rifki lalu meminta untuk menunjukkan sebuah KTP milik Ana, Ana pun ragu untuk memberikannya dan akhirnya dirinya pun memberikan KTP miliknya yang memang itu adalah identitas barunya.


"Novialiana? Ini namamu?" Tanya Rifki setelah membacanya.


"Iya Tuan Muda,"


Rifki pun menganggukkan kepalanya, dirinya sama sekali tidak merasa curiga dengan identitas itu, karena tanggal lahir yang ada didalam kartu tersebut berbeda jauh dari kelahiran Nadhira. Ana merasa gelisah karena Rifki yang memandangi terus kartu tanda penduduk itu, dan berharap bahwa Rifki tidak menaruh curiga didalamnya.


"Apa sebelumnya pernah bekerja?"


"Belum pernah, Tuan Muda. Ini adalah hal pertama yang pernah saya lakukan, tapi saya bisa bersih bersih rumah, masak, dan bahkan mencuci pakaian."


"Kenapa kamu sangat ingin bekerja ditempat ini? Padahal diluar sana masih banyak pekerjaan yang bisa kamu masuki. Aku lihat usiamu masih cukup untuk bisa mencari pekerjaan yang lainnya, lalu kenapa kamu memilih bekerja ditempat seperti ini?"


"Saya dengar, Tuan Muda adalah orang yang bijaksana dalam mengambil tindakan. Dan saya yakin, jika saya bekerja ditempat ini, saya bisa kembali menyekolahkan anak saya,"


"Apa kamu sangat yakin bahwa kamu akan diterima ditempat ini? Lagian diriku juga tidak membutuhkan seorang pembantu baru,"


Ana pun terdiam mendengarnya, dirinya tidak tau harus berbicara apa saat ini. Tak beberapa lama kemudian, ponsel milik Rifki pun berdering, hal itu langsung membuat Rifki merogoh sakunya dan mengambil ponselnya tersebut.


"Dokter Affan? Kenapa dia telpon," Gumannya setelah melihat nama Dokter Affan diponselnya itu.


Rifki pun lalu mengangkat telponnya tersebut dan bergegas pergi untuk menjauh dari Ana, Ana sendiri pun merasa gelisah karena mendengar gumanan dari Rifki. Entah apa yang dikatakan oleh Rifki kepada Dokter Affan saat ini, kelihatannya dirinya begitu sangat serius untuk bercakapan melewati jalur jaringan itu.


Cukup lama dirinya menerima telpon tersebut, dan akhirnya dirinya memutuskan sambungan telpon itu. Rifki lalu kembali duduk didepan meja kerjanya itu, dirinya pun menatap kearah Ana yang sedang menundukkan kepalanya dalam, karena takut kalau Rifki tidak akan menerimanya bekerja disana.


"Jadi kamu kenalan dari Dokter Affan?" Tanya Rifki lagi kepada Ana.


"Iya Tuan Muda, Dokter Affan sendiri yang menyarankan kepada saya untuk datang melamar ditempat ini," Ucap Ana.


"Sudah berapa lama kamu kenal dengan dia?"


"Dokter Affan adalah orang yang membantu kelahiran anak saya, Tuan Muda. Dan sejak itu kita jadi kenal,"


Rifki merasa aneh, mengapa wanita bercadar seperti yang ada dihadapannya itu melahirkan dengan bantuan dari Dokter laki laki seperti Dokter Affan. Biasanya wanita seperti yang ada dihadapannya akan memilih untuk dibantu oleh Dokter wanita, akan tetapi Rifki langsung menepis pikirannya itu karena bisa jadi waktu itu dalam keadaan genting.


"Baiklah. Kamu boleh bekerja disini karena Dokter Affan sendiri yang menyarankan, selanjutnya biar Bi Sari yang menjelaskan pekerjaan yang harus kamu lakukan dirumah ini. Jangan sampai melakukan kesalahan dirumah ini, atau kamu akan menanggung sendiri semuanya," Ucap Rifki yang dipertegas untuk bagian terakhir kalimatnya.


"Terima kasih Tuan Muda, terima kasih,"


Rifki pun memanggil Bi Sari untuk membawa wanita itu menuju kekamar yang telah disediakan, Bi Sari pun menjelaskan tentang hal hal yang perlu dilakukan dan hal yang tidak perlu dilakukan. Dirinya juga menjelaskan tentang kegiatan yang dilakukan oleh Rifki, dan juga hal apa yang harus dilakukan olehnya ketika berhadapan dengan Rifki.

__ADS_1


"Ini kamar kamu, mulai sekarang kamu akan tinggal disini. Oh iya, jangan panggil diriku Ibu ya, panggil saja Mbak. Kalau butuh apa apa, bilang saja kepadaku karena diriku adalah senior kalian," Ucap Bi Sari kepada Ana.


"Baik Mbak. Terima kasih atas penjelasannya," Ucap Ana.


"Aku mau beres beres dulu, kamu istirahat saja hari ini. Besok kamu mulai bekerja,"


"Iya Mbak."


Bi Sari pun lalu meninggalkan Ana disana, Ana sendiri langsung masuk kedalam ruangan yang memang disediakan untuk seorang pembantu. Ana yang sudah terbiasa tidur ditempat sempit pun sama sekali tidak merasa keberatan, dirinya pun langsung mengunci pintu kamar itu dan merebahkan tubuh dikasur yang agak keras itu.


"Setidaknya dengan cara seperti ini, aku bisa melindungi suamiku, dan bisa melihatnya setiap saat. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia masih terus bernafas," Guman Ana.


Ana rela menitipkan Kinara kepada Siska untuk dijaganya, Siska telah menganggap Kinara juga sebagai anaknya sendiri sehingga Ana merasa yakin dengan Siska. Sementara disini Ana berusaha untuk menjaga suaminya, dan melindunginya dari hal hal yang ingin membahayakan nyawanya itu.


*****


Dipagi ini, Ana mulai melakukan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga. Dirinya pun diperintahkan oleh Bi Sari untuk membersihkan halaman depan rumah itu, disaat itu dirinya melihat bahwa Rifki tengah memainkan ponselnya disebuah gazebo yang ada dihalaman depan.


Ana pun menyapu halaman rumah itu dengan sapu lidi, dirinya pun sesekali mencuri pandang kearah wajah Rifki. Ana lalu melihat sebuah cangkir teh yang ada dihadapan Rifki, entah mengapa Rifki tidak segera meminumnya.


"Biar saya ganti minumannya, Tuan Muda. Tuan Muda tidak bisa meminum ini," Ucap Ana sambil mengambil secangkir minuman tersebut.


"Kenapa?" Tanya Rifki yang merasa terkejut.


"Teh ini terlalu manis, Tuan Muda tidak suka manis," Ana lalu membawa minuman itu melangkah pergi.


"Tunggu!"


Rifki pun bangkit dari duduknya dan meletakkan ponselnya dimeja yang ada didepannya itu, dirinya lalu bergegas untuk menuju kearah dimana Ana berada saat ini. Ana sendiri langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Rifki yang menyuruhnya untuk berhenti, Rifki lalu berdiri dihadapan Ana hingga membuat wanita itu menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu tau kalau aku tidak suka minuman yang manis? Dan bagaimana kamu tau kalau minuman itu manis?" Tanya Rifki penasaran.


"Ini minuman buatan saya, Tuan Muda. Tadi Mbak Sari menyuruh saya untuk membuatkan minuman, tapi dia tidak bilang kalau minuman itu untuk Tuan Muda, jadi saya menambahkan banyak gula. Tuan Muda tidak suka terlalu manis,"


Deg...


Baru saja bekerja dirumah itu, dirinya sudah membuat Rifki merasa curiga kepadanya. Apa yang harus dirinya jawab selanjutnya, dia takut kalau sampai membuat Rifki semakin curiga kepadanya. Bahkan dirinya sendiri lebih tau tentang Rifki daripada orang lain, tentang kebiasaannya dan juga hal hal yang sangat dirinya sukai itu.


"Dokter Affan sendiri yang bilang kepada saya sendiri, Tuan Muda. Jadi sebelum saya bekerja disini, dia sudah menjelaskan tentang apa yang harus saya lakukan dirumah ini," Jawab Ana dengan ragu karena takut Rifki semakin curiga kepadanya.


Hanya kata kata itu yang bisa diucapkan olehnya, dirinya tidak mau membuat Rifki semakin curiga kepadanya. Dia tidak mau jika sendiri Rifki mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya, sehingga dirinya harus pergi dari rumah itu agar tidak membuat Rifki dalam bahaya.


Baginya sudah cukup membahagiakan jika bisa masuk ke dalam rumah itu meskipun tidak dengan sebutan Nona Muda, ia tidak masalah jika harus menjadi seorang pembantu di dalam rumahnya sendiri. Asalkan dirinya bisa bersama dengan Rifki dan melindungi suaminya itu, dirinya tidak ingin kejadian sebelumnya terjadi lagi kepada Rifki.


Rifki hanya berdiam diri mendengarkan penjelasan dari Ana, karena melihat kediaman Rifki membuat anak segera bergegas pergi dari tempat itu untuk mengganti minuman tersebut. Rifki memang tidak suka minuman yang terlalu manis, sehingga Ana ingin mengganti minuman tersebut.


"Kenapa aku merasakan kehadiran Nadhira di sini. Dhira, kapan kau pulang dan kembali kepadaku? Aku sangat merindukanmu," Guman Rifki pelan.


Rifki tidak ingin mempertanyakan lagi tentang wanita itu, dirinya pun kembali duduk di tempatnya sebelumnya sambil menunggu kedatangan seseorang. Tak beberapa lama kemudian, sebuah mobil hitam masuk ke dalam pintu gerbang rumah itu, sehingga hal itu segera membuat Pak Santo membukakan pintu gerbang agar mobil itu bisa masuk.


Melihat kedatangan mobil tersebut membuat Rifki kembali bangkit dari duduknya, seorang gadis kecil pun bergegas keluar dari dalam mobil tersebut. Melihat kedatangan gadis kecil itu membuat Rifki tersenyum, gadis kecil itu masih berusia sekitar 4 tahun.


"Om," Panggil gadis itu sambil berlari ke arah Rifki.


Rifki lalu berlutut sambil membentangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh gadis kecil itu, gadis itu pun langsung menabrak tubuh Rizki dan memeluk Rifki dengan sangat eratnya. Dua orang pun langsung keluar dari mobil tersebut untuk menyusul anak mereka, nampak seorang wanita yang sangat cantik sekaligus seorang pria yang terlihat sangat baik dengan pakaian syar'i nya.


"Keysa, salim dulu dong sama Om, masak iya langsung peluk gitu aja," Ucap wanita tersebut.


"Eh iya lupa, Ma. Maafin Keysa ya Om," Ucap gadis kecil itu. Gadis itu langsung meraih tangah Rifki dan menciumnya.


"Nggak papa, Nak. Tumen main kesini sama Mama tiba tiba, Om aja sampai kaget tadi waktu Keysa bilang mau main kesini, jadi Om nggak jadi berangkat kerja. Nungguin Keysa dirumah," Ucap Rifki.

__ADS_1


"Mama tadi ngajak main kemari, Om. Sebentar lagi Keysa mau masuk sekolah baru, Keysa minta beliin tas dong, Om."


"Baru juga sampai, sudah ditagih mulu nih sama bocah. Keysa mau tas yang seperti apa? Nanti Om beliin kesukaan Keysa,"


"Yang gambarnya princess itu loh, Om. Keysa suka,"


"Iya nanti Om belikan untuk Keysa, yang paling bagus deh. Keysa pasti suka nanti,"


"Makasih Om,"


Rifki pun tertawa mendengar perkataan dari Keysa, baru juga gadis itu menginjakkan kaki di rumahnya tapi dirinya sudah memajak Rifki. keysa adalah anak dari Ayu dan Hafis, sehingga gadis kecil itu adalah keponakan tersayang Rifki.


Rifki sangat menyayangi Keysa, karena gadis kecil itu mampu mengobati rasa rindunya kepada anaknya. Sejak kepergian dari Melda ke luar negeri waktu itu, kehidupan Rifki menjadi sangat sunyi dan bahkan dirinya merasa kesepian. Beruntunglah bahwa adik kandungnya itu dikaruniai oleh seorang anak, sehingga membuat Rifki masih mampu untuk bertahan.


"Papa juga mau kemari, Kak. Tapi entah kapan datangnya, Ayu juga nggak tau," Ucap Ayu.


"Kenapa nggak bareng sekalian kalau Papa mau kemari, Ay? Kenapa harus berangkat sendiri sendiri?"


"Masak nggak paham sama Adiknya sendiri sih, Kak. Kan Ayu juga pengen honeymoon sama suami Ayu, nanti kalo Papa ikut mobil kita kan jadi kagak bisa berduaan," Ucap Ayu.


"Kayak pengantin baru aja pake honeymoon segala,"


"Nggak papa lah, Kak. Ayu juga mau nitipin Keysa disini, Ayu mau ngerayain ulang tahun pernikahan Ayu nanti malam. Boleh ya, Kak?"


"Boleh. Nggak usah dijemput juga nggak papa, biar Keysa tinggal bersama Kakak disini,"


"Isshhh Kakak mah, Kalo Mas Hafis kerja kan Ayu sendirian dirumah tanpa Keysa. Terus Ayu nggak punya temen dong,"


"Buat lagi nanti, gimana?" Tanya Hafis.


"Nggak ah, sakit tau waktu ngelahirin. Emang laki laki tidak akan merasakan itu, mangkanya pengen nambah anak terus," Ketus Ayu.


"Lagian nggak ada salahnya kan, Sayang? Belum puas kalo belum dapat anak laki laki,"


"Kamu aja yang hamil, anak satu aja belum sekolah kok minta lagi. Nanti aja kalo Keysa sudah SMA,"


"Lama banget, Ay? Kenapa nggak sekalian waktu Keysa menikah aja?" Tanya Rifki.


"Boleh. Tapi nih bocah yang nggak sabaran, Kak. Kasih tau nih sama Adik ipar Kakak yang ini,"


Melihat Adiknya yang bahagia dengan Hafis, membuat Rifki merasa bahagia meskipun dirinya tidak dapat merasakan kebahagiaannya sendiri. Ternyata pilihannya benar, bahwa Hafis adalah orang yang terbaik untuk Adiknya itu, meskipun Hafis adalah anak yatim piatu yang ditemukan olehnya dulu.


"Masuk dulu yuk," Ajak Rifki.


"Duduk disini aja, Kak. Bosan lihat suasana rumah mulu, mending ditaman kan bisa ngelihat bunga bunga indah," Ucap Ayu.


"Baiklah, ayo duduk dulu,"


Rifki pun mengajak kedua orang itu untuk duduk digazebo miliknya itu, tak beberapa lama kemudian Ana datang sambil membawa minuman untuk Rifki. Dirinya pun terkejut ketika melihat seorang gadis kecil duduk dipangkuan Rifki, dan dua orang yang sangat dirinya kenali berada disana.


"Ini minumannya, Tuan Muda. Apa ada sesuatu yang dibutuhkan lagi?" Tanya Ana kepada Rifki.


"Tolong buatkan dua minuman lagi untuk mereka, Bi Ana. Dan juga susu hangat untuk anak ini," Ucap Rifki.


"Keysa nggak mau minum susu, Om. Keysa kan sudah besar, masak masih minum susu sih?" Ucap Keysa.


"Iya deh, Keysa emang sudah besar. Buatkan teh hangat aja untuk Keysa," Putus Rifki.


"Baik Tuan Muda."


Ana langsung bergegas untuk kembali kedapur untuk membuatkan minuman, Ana merasa gembira ketika mengetahui bahwa Ayu sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Ayu yang selalu bersikap manja kepadanya itu kini sudah dewasa, bagan dirinya sudah melahirkan seorang anak yang sangat cantik.

__ADS_1


Sudah lama dirinya tidak pulang ke rumah, dan begitu banyak hal yang tidak dirinya ketahui termasuk juga dengan lahirnya Keysa. Dirinya baru masuk ke dalam rumah itu tapi sudah dibuat terkejut dengan kehadiran seorang anak kecil di keluarga besar mereka, entah begitu banyak hal yang telah berubah semenjak kepergian dari dirinya.


__ADS_2