
Nadhira duduk terdiam dalam ruangannya sambil membaca beberapa berkas yang harus ia tanda tangani, melihat Nadhira yang tengah fokus itu membuat Nimas hanya bisa menatapnya dalam diam tanpa adanya sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau hanya diam saja disitu Nimas? Aku butuh teman untuk ngobrol" Ucap Nadhira.
"Kau terlalu fokus dengan pekerjaanmu Dhira, ku pikir kau butuh ketenangan sekarang bukan teman mengobrol seperti diriku" Jawab Nimas dan langsung mendekat kearah Nadhira.
"Aku merasa bosan".
"Ah iya aku lupa, aku dengar bahwa Rifki sebentar lagi akan pulang ke tanah air, aku lupa memberitahukan hal ini kepadamu".
"Benarkah? Kau tidak bercanda kan? Rifki beneran akan pulang kan? Akhirnya dia akan pulang" Nadhira terlihat begitu bersemangat ketika mendengar bahwa Rifki sebentar lagi akan pulang.
"Iya, kenapa aku harus bercanda denganmu soal ini Dhira"
Nimas terlihat bersemangat ketika melihat Nadhira yang sangat bahagia ketika mendengar bahwa Rifki akan pulang, akan tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, seketika itu juga terlihat wajah sedih tercipta diwajah Nadhira.
Kebahagiaan itu bagaikan lenyap begitu saja diwajahnya, melihat perubahan itu membuat Nimas bertanya tanya kepada dirinya sendiri, apakah ada yang salah dari perkataannya ataukah ada hal yang menyakiti hati Nadhira tiba tiba.
"Aku tidak mampu untuk bertemu dengannya Nimas, aku telah merusak kepercayaan Nimas, dia percaya bahwa aku akan menjadi orang baik tapi nyatanya aku bahkan bukan orang baik seperti yang ia harapkan" Ucap Nadhira dengan sedihnya.
"Rifki pasti tidak akan mempermasalahkan hal itu Dhira, dia pasti akan bangga kepadamu karena kamu bisa bersikap tegas selama ini".
"Lantas kenapa dia tidak mengabari ku kalau dia akan pulang Nimas? Kenapa dia tidak memberitahukan hal ini kepadaku? Apa mungkin dia telah menemukan sosok yang baru, yang lebih baik dariku?".
"Jangan berpikiran seperti itu Dhira, ia menitipkan dirimu kepada Raka, dan dia tidak ingin melihat dirimu terluka, itu artinya kau sangat berarti bagi dirinya".
"Aku tidak akan menemui dirinya".
"Kenapa? Pikirkan baik baik Dhira, atau kau akan menyesalinya nanti, penyesalan selalu ada dibelakang Dhira bukan didepan".
"Ini adalah keputusanku Nimas, tidak akan ada yang bisa mengubahnya".
"Terserah dirimu saja Dhira, aku tidak ingin kau menyesalinya nanti".
Nadhira hanya diam saja, ia tidak tau harus berkata apa saat ini, ia begitu senang ketika mengetahui bahwa Rifki akan pulang akan tetapi dirinya begitu sedih karena Rifki sama sekali tidak memberinya kabar bahwa dirinya akan pulang.
Tanpa Nadhira ketahui bahwa Theo sudah kembali ke perusahaan dan mendengarkan ucapan Nadhira yang sedang berbicara sendiri, akan tetapi kenyataannya Nadhira tengah berbicara kepada mahluk gaib yang selalu mengikutinya selama ini.
Ucapan Nadhira itu seperti angin sejuk yang menerpa tubuh Theo, Theo merasa sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Nadhira tidak akan menemui Rifki ketika Rifki pulang nanti, dan hal itu membuat Theo begitu bersemangat untuk mendapatkan hati Nadhira.
"Dhira kau baik baik saja?" Sapa Theo yang tiba tiba masuk kedalam ruangan Nadhira.
Melihat kedatangan Theo membuat Nadhira segera menghapus air matanya buru buru, ia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya begitu lemah saat ini, setelah menghapus air mata itu, Nadhira kembali terlihat tenang dihadapan Theo.
"Aku baik baik saja kok? Ada apa datang kemari?".
"Apakah perlu alasan untuk aku datang mengunjungimu Dhira? Ini sudah sore, apa kau tidak pulang? Jangan memikirkan pekerjaan mulu Dhira, kau juga butuh istirahat yang banyak".
"Sore? Cepat sekali, perasaan baru siang hari".
__ADS_1
"Kau sih terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai lupa waktu, ini bahkan sudah jam 4 sore, sampai kapan kau akan terus bekerja seperti ini?".
"Sebentar aku bereskan dulu pekerjaanku setelah itu kita akan pulang".
"Baiklah aku tunggu didepan, jangan lama lama".
"Iya".
Nadhira segera membereskan berkas berkasnya dan memasukkannya kedalam brangkas yang ada diruangan itu, ia tidak ingin kalau sampai ada yang berhasil mencuri berkas berkas penting yang ada diperusahan miliknya sehingga ia menyimpannya dengan rapat.
Nadhira segera bergegas keluar dari ruangannya menuju ketempat dimana Theo berada, melihat kedatangan Nadhira membuat Theo segera bergegas mendatanginya dan mengajak Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya.
"Dhira, nanti malam kamu sibuk ngak?" Tanya Theo.
"Ngak kayaknya, ada apa?".
"Sudah lama kita tidak jalan jalan berdua, mau ngak nanti jalan bareng aku ke alun alun kota".
Nadhira berdiam diri sambil berpikir, apakah dia harus menerima ajakan Theo atau justru malah menolaknya, Nadhira berpikir bahwa dia juga butuh refreshing dari kerjaan yang menumpuk miliknya itu.
"Baiklah, nanti jemput aku setelah sholat isya' gimana?" Ucap Nadhira setuju dengan ajakan Theo.
"Sesuai dengan keinginan anda Tuan Putri".
"Biasa saja manggilnya jangan seperti itu, kan aku jadi malu".
"Ngak bisa, bagiku kau memang seorang Tuan putri".
"Tidak tidak, kau manusia yang luar biasa baiknya, aku sangat kagum dengan kebaikanmu itu".
"Sudah, fokus saja dengan jalan didepan".
"Baiklah".
Theo kembali memfokuskan dirinya kepada jalanan yang ada didepannya, kali ini Theo sendiri yang menyetir mobil tersebut dan membawa Nadhira pulang menuju rumahnya, dengan hati hati Theo membawa mobil itu agar tidak terjadi sesuatu kepada Nadhira.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai dirumah Nadhira, Nadhira segera turun dari mobil tersebut setelah Pak Santo membukakan pintu mobil untuk Nadhira.
"Kau tidak ingin mampir dulu Theo?".
"Tidak Dhira, aku mau bersiap siap untuk jalan nanti malam dengan dirimu".
"Itukan masih lama Theo, lagian butuh waktu berapa lama sih untuk bersiap siap nanti malam?".
"Aku ingin menyiapkan sesuatu yang terbaik untukmu Dhira, lihat saja nanti"
"Baiklah jika itu maumu, hati hati dijalan".
"Siap".
__ADS_1
Didalam mobil Theo melambaikan tangannya kepada Nadhira, Nadhira yang melihat itu segera menjawab dengan lambaian tangan juga, mobil tersebut segera melaju keluar dari halaman rumah tersebut dengan kecepatan normal seperti sebelumnya.
"Cie Non Dhira mau kencan ya dengan Theo" Ucap Pak Santo dengan senangnya.
"Kencan apa an si Pak, kencan itu dengan sepasang kekasih yang saling mencintai, tapi aku dan Theo hanyalah sebuah sahabat bukan kekasih" Ucap Nadhira.
"Non Dhira lupa ya, kalau perasaan cinta itu bisa datang karena terbiasa, nanti jatuh cinta beneran lo Non".
"Bapak sendiri saja masih jomblo sampai sekarang, pake nasehatin soal cinta lagi, carilah Pak, sudah tua lagi".
"Eh Non kenapa jadi ngomongin saya sih? Kalau saya menikah dengan Bi Ira apa Non setuju?" Celetus Pak Santo tanpa sadar.
Ketika Pak Santo sadar dengan apa yang ia katakan membuatnya segera menutup mulutnya dengan rapat rapat menggunakan kedua tangannya, ia tidak sadar bahwa apa yang ia katakan itu, mendengar itu membuat Nadhira tersenyum cerah.
"Sangat setuju sekali Pak" Jawab Nadhira dengan semangatnya.
"Lupakan saja Non, jangan dipikirkan terlalu mendalam, hanya candaan saja" Ucap Pak Santo dengan gugupnya ketika melihat senyum Nadhira.
"Jadi Pak Santo benar benar menyukai Bu Ira? Ini adalah kabar yang sangat baik Pak, aku akan membujuk Ibu Ira untuk menikah dengan Pak Santo, ini pasti sangat menyenangkan, itu artinya aku mendapatkan Bapak angkat juga, haha..." Ucap Nadhira sambil memikirkan ide yang sangat gila.
"Non, jangan gitulah, saya kan hanya bercanda Non, lagian Bi Ira juga tidak akan menyukai saya, jangan aneh aneh deh Non".
"Apa salahnya sih Pak kalau menyatukan dua insan yang saling mencintai" Ucap Nadhira sambil tersenyum licik.
"Non Dhira mah begitu, selalu saja dibuat serius".
"Tapi Pak, aku dengar Ibu Ira sepertinya begitu dekat dengan tukang sayur itu, entah siapa namanya itu aku lupa, rasanya sangat sulit untuk Pak Santo mendapatkan hati Ibu Ira".
"Benarkah itu Non? Sejak kapan mereka dekat?".
"Cie... Tuh kan khawatir kalau Ibu Ira direbut orang lain" Ucap Nadhira dengan cengengesan.
"Apaan sih Non".
Pak Santo dengan malunya meninggalkan Nadhira ditempat dan ia berjalan menuju kearah pos dimana dirinya berjaga selama ini, Nadhira menertawakan apa yang dilakukan oleh Pak Santo tersebut, sementara itu Nadhira sendiri juga tengah berjalan masuk kedalam rumahnya.
Melihat Nadhira yang tertawa sambil masuk kedalam rumahnya membuat Sarah segera bergegas mendatanginya karena khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Nadhira saat ini.
"Apa yang kau tertawa Dhira?" Tanya Sarah.
Melihat kedatangan Sarah yang tiba tiba membuat Nadhira menghentikan tawanya itu, dalam sekejap wajah tertawa Nadhira berubah menjadi wajah yang terlihat begitu seriusnya.
"Bukan apa apa kok Oma, Dhira masuk ke kamar dulu ya, mau membersihkan tubuh Dhira".
"Baiklah, Oma tunggu diruang makan, cepat datang kesana".
"Iya Oma".
"Rasanya aku seperti orang gila yang tertawa sendiri" Batin Nadhira.
__ADS_1
Nadhira segera menepis pikirannya itu dan dirinya segera bergegas masuk kedalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya disore hari itu, ia tidak menyangka bahwa Pak Santo menyukai Ibu angkatnya sendiri.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...