Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Berbelanja untuk Nadhira


__ADS_3

Rifki meringis kesakitan ketika gigi Nadhira mulai mengoyak dagingnya itu, Rifki berusaha untuk menahan suaranya agar tidak berteriak sampai Nadhira melepaskan gigitannya itu, seketika muncul bercak darah dilengan Rifki tepat dimana gigi Nadhira menancap disana.


"Makasih sayang" Nadhira lalu kembali terlihat manja dan bersandar didada bidang suaminya.


"Sudah lega belom? Demi Dhira deh rela berdarah, udah kayak vampir aja nih anak" Rifki menatap nanar kearah lukanya tersebut.


"Sudah sayang, tapi pengen ngigit lagi sekarang ini" Wajah Nadhira nampak begitu sumringah saat ini daripada sebelumnya.


"Hah lagi?" Tanya Rifki dengan sedikit melototkan kedua matanya kearah Nadhira.


"Bercanda sayang" Jawaban itu seketika membuat Rifki bernafas lega.


"Sedihnya diriku, istriku sendiri telah melakukan KDRT kepadaku, nasibmu sangat tidak beruntung Rif, benar benar sial" Guman Rifki pelan.


"Apa yang kau katakan! Mau digigit lagi?"


"Ngak sayang ngak, sebenernya kamu punya dendam apaan sih dengan diriku? Tega banget deh"


"Gemes aja lihat wajahmu yang lucu itu sayang, beneran tidak ada maksud yang lainnya kok, kamu ngak suka aku gigit seperti itu?"


"Oh tentu saja suka sayang, sangat sangat suka, saya suka saya suka, nanti kalo mau gigit lagi sampe putus ya dagingnya, biar makin lebar sayang" Rifki harus benar benar berbohong kepada Nadhira saat ini karena dirinya tidak ingin Nadhira marah.


"Kau memang yang paling terbaik sayang, sayang banget sama Rifkiku" Nadhira mencium pipi Rifki sebentar dan langsung memeluk erat tubuh suami tercintanya itu.


"Ya sudah ayo diminum obatnya sayang, ini sudah halus banget kayak bubur ayam rasa masako"


"Hah? Bubur rasa masako gimana? Jelas jelas ini obat bukan bubur apalagi rasa masako"


"Bayangin aja seperti itu biar ngak pahit, atau gini aja kamu bayangin saja rasanya kayak bubur rasa roiko"


"Apa bedanya sayang! Kenapa ngak sekalian aja rasa teh jus gula batu?"


"Boleh juga sayang, rasa sambal balado juga bisa, sudah buka mulutmu"


Rifki telah mencairkan obat tersebut dengan cara mencampurnya dengan sedikit air diatas sendok, setelah itu menyuruh Nadhira untuk meneguk cairan obat yang ada disendok tersebut.


Glek


Dengan menahan rasa paitnya Nadhira pun meneguk cairan obat tersebut dan langsung meminum minuman hangat yang telah disiapkan untuknya itu, minuman yang manis itu dapat ia rasakan meskipun rasa pahit tidak kunjung meninggalkan lidahnya.


"Pahit kan?" Tanya Rifki dengan memincingkan sebelah matanya kearah Nadhira.


"Manis, karena wajahmu sayang"


"Ngak usah bohong, pahit pahit aja Dhira jangan bilang manis seperti itu, wajahmu tidak bisa berbohong sayang, mengerikan sekali, pasti pahit"


"Kamu kok gitu sih! Masih sakit ya? Sini aku tambahin nanti biar sembuh, kan katamu sakit ditambah sakit bakal jadi sembuh nantinya" Kedua pipi Nadhira menggembung sangat lucu dan imut.


"Mau gigit lagi?"


"Iya mau" Ucap Nadhira sambil meringis dan memperlihatkan gigi giginya kepada Rifki.


"Ayuk lah main gigit gigitan lagi, kamu bisa gigit aku juga bisa"


"Ngak mau ah, kau selalu curang dengan tangan nakalmu itu"


"Itu bukan salahku sayang, itu karena tanganku yang tidak bisa dikendalikan"


"Masak?" Nadhira menempelkan kedua tangannya dipipi dan berpose seimut mungkin dihadapan Rifki, ia pun beberapa kali mengedipkan sebelah matanya, sementara Rifki yang melihat itu pun hanya bisa menelan ludahnya saja.


"Sudah ah, jangan membuatku terpancing Dhira, kau kan sedang halangan, beruntunglah dirimu lolos saat ini Dhira, kalo tidak sudah ku makan dirimu itu" Rifki merasa ingin memakan Nadhira jika seperti itu.


Rifki pun mengambil botol minyak kayu putih yang ada dinakas dekat tempat tidurnya lalu membukanya, ia pun mengoleskan cairan minyak kayu putih itu ke perut Nadhira secara perlahan dan dengan lembutnya dirinya mengusap perut Nadhira yang sakit tersebut.


Rasa hangat dan nyaman membuat sakit perut Nadhira sedikit meredah, biasanya meskipun minum obat akan membutuh waktu yang cukup lama untuk meredahkan sakit perut entah kali ini sakit perut itu redah dengan cepatnya.


"Rif, boleh minta tolong ngak?"


"Ada apa?"


"Belikan pembalut dong, pembalutku sudah habis"


"Hah? Biar Ibu saja ya yang beli soal begituan, aku tidak paham Dhira"


"Ngak mau, pengennya kamu yang beli, nanti setelah sampai di minimarket langsung vidio call aku"


Rifki menghela nafasnya, "Baiklah, aku akan berangkat sekarang sayangku"

__ADS_1


Rifki pun mencium kening Nadhira dan langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu, setelah cukup lama Nadhira menunggu dirumah ia pun menelpon Rifki karena Rifki tak kunjung mengabari kalo dirinya sudah berada ditoko.


"Dimana? Lama banget deh" Tanya Nadhira ketika telponnya sudah diangkat oleh Rifki.


"Masih dijalan sayang, jalannya macet parah"


"Cepetan!"


"Iya sabar bentar ya, nanti kalo sudah sampe aku pasti kabarin kok"


Nadhira pun mematikan telponnya sepihak begitu saja, Rifki hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja melihat tingkah Nadhira yang sedikit aneh hari ini karena kesalahan sedikitpun itu akan membuat Nadhira marah padanya.


"Pak Mun, cari toko dekat sini saja ya Pak, daripada dia marah marah seperti ini, gegara macet total seperti ini, sebelum kita kena macet lebih parah nanti" Ucap Rifki kepada Pak Mun yang tengah menyopir.


"Baik Tuan Muda, Non Dhira beruntung sekali mendapatkan suami seperti anda"


"Pak Mun bisa saja, butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan dirinya jadi aku tidak akan menyia nyiakan orang seperti itu Pak"


"Semoga kalian selalu bersama selamanya"


"Aamiin"


Pak Mun langsung memutar arah mobil yang dirinya naiki itu sebelum keduanya benar benar terjebak dalam kemacetan panjang, ia pun mencari arah yang berlawanan dengan tujuan pertama mereka, meskipun tempatnya sedikit jauh akan tetapi akan keduanya tempuh selama tidak terjebak dalam kemacetan parah.


Setelah cukup lama berada didalam mobil, akhirnya mereka sampai juga disebuah minimarket yang berada cukup jauh dari rumahnya itu, Rifki segera turun dari mobil tersebut dan langsung masuk kedalam minimarket untuk mencari barang yang dibutuhkan oleh Nadhira.


"Mereknya apaan ya, banyak banget deh, bedanya apaan sih kan sama sama pembalut"


Rifki pun menggeleng gelengkan kepalanya ketika melihat terlalu banyak merek dihadapannya itu, ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya dan langsung menelpon Nadhira dengan panggilan vidio.


"Hai yang mana ini sayang? Banyak banget bentuk kemasannya sayang, tapi isinya sama kan?" Keluh Rifki sambil menunjukkan kamera kearah beberapa merek pembalut tersebut.


"Yang hitam sayang, yang pojok kanan atas itu" Ucap Nadhira menyahuti dari ujung seberapa.


"Apa? Yang pink ini kah?" Ucap Rifki sambil mengambil bungkus warna pink.


"Yang hitam Rifki!" Ucap Nadhira kelihatannya sangat sebal untuk saat ini.


"Oh jadi yang warna ungu ini ya"


"Bukan! Aku bilang yang hitam sayang, bukan yang lainnya, yang hitam kanan atas itu loh"


"Ngak mau! Ngerti warna hitam ngak sih nih anak"


"Warna warni aja ya, biar kayak pelangi pelangi alangkah indahmu, merah, kuning, hijau, dilangit yang biru" Rifki malah bernyanyi.


"Ngak usah pulang sekalian!"


"Beneran? Asik ah bisa main, main sama temen temen anggota Gengcobra" Rifki terlihat begitu girang ketika Nadhira mengatakan itu.


"Rifki! Jangan bercanda deh"


"Iya ya sayang, terus mau apa lagi? Mumpung masih didalam toko nih"


"Coba kameranya arahkan kepada cemilan, aku mau pilih dulu"


"Iya sayangku, cintaku, darlingku, love love you ku"


Nadhira pun menunjuk nunjuk makanan yang pengen ia makan dari layar hp tersebut dan hal itu membuat Rifki segera mengambilnya dan memasukkannya kedalam keranjang belanja yang ia bawa.


Keinginan Nadhira begitu banyak hingga membuat Rifki sedikit kewalahan untuk membawa keranjangnya sendiri dan akhirnya dirinya meminta pegawai toko tersebut untuk membantunya mengangkat keranjang kearah kasir.


"Sudah sayang? Apa lagi?" Tanya Rifki setelah memutari tempat itu.


"Sudah, cepat pulang" Jawab Nadhira dari seberang telpon itu.


"Mau ini sekalian?" Tanya Rifki sambil mengangkat sebuah kemasan yang bertuliskan sutra.


Karyawan toko yang sejak tadi mengikuti Nadhira itu pun merasa salting dengan kelakuan dari Rifki, dia merasa malu sendiri ketika Rifki dengan terang terangan mengangkat hal itu didepan kamera hpnya.


"Ngak usah, ngak butuh itu sayang" Jawab Nadhira.


"Langsung saja ya, ngak usah pengaman biar cepet jadi dedeknya, dedek gemes yang imut imut kayak kamu sayang"


"Ya ampun ini orang, bisa bisanya mengatakan itu didepan umum lagi" Batin Karyawan toko tersebut menjerit mendengar ucapan Rifki.


"Cepat pulang, aku laper"

__ADS_1


"Iya sayang, tunggu dirumah ya"


"Iya"


Nadhira pun mematikan telpon tersebut, Rifki lalu menoleh kearah karyawan wanita yang ada disebelahnya itu dengan tatapan tajam, karyawan yang sedang tersenyum senyum sendiri itu pun langsung terdiam ketika melihat tatapan tajam dari seseorang Rifki.


Rifki pun menerbitkan sebuah senyuman tipis setelah memandangi kearah karyawan toko tersebut, hal itu membuat karyawan toko yang ditatapnya langsung terpana dengan senyuman manis yang ada diwajah Rifki saat ini.


"Kenapa jantungku mendadak berdetak kencang seperti ini" Batin karyawan toko itu.


Rifki pun berjalan mendekat kearah karyawan toko itu tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah karyawan itu, sang karyawan sendiri pun terpaku dibuatnya, sosok lelaki yang tampan semakin mendekatkan wajah kearahnya.


Rifki pun sedikit tersenyum kearah perempuan itu, senyuman itu langsung melelehkan perasaan sang karyawan toko, karena dirinya yang masih sendiri sehingga ketika ditatap oleh Rifki dengan cara seperti itu membuatnya merasa gugup.


"Akhirnya aku menemukanmu juga disini" Ucap Rifki dengan kedua mata yang berbinar binar.


"Mas saya masih polos dan suci, jadi tolong jangan lakukan sesuatu kepada saya, memang saya belom nikah tapi saya tidak mau dijadikan yang kedua Mas, kasihan istri anda" Ucap karyawan itu sedikit gemetaran dihadapan Rifki.


"Hah! Maksudnya apaan ya Mbak? Siapa juga yang mau menggoda dirimu Mbak apalagi menjadikanmu sebagai yang kedua, dihatiku hanya ada istriku satu satunya Mbak, aku sudah punya istri juga dirumah yang lagi nungguin, minggir dong Mbak, orang aku mau ngambil sesuatu"


"Eh iya Mas, maaf maaf, saya sudah salah paham dengan anda"


"Aneh emang".


Karyawan tersebut yang kepedean pun langsung minggir dari hadapan Rifki, duh bertapa malunya dirinya dibuat seperti itu oleh Rifki, Rifki mendekat kearah dimana beberapa parfum terpajang disana dan langsung mengambil salah satu untuk dimasukkan kedalam keranjangnya.


Rifki pun kembali memutari tempat tersebut untuk mencari barang barang yang akan dibutuhkan olehnya, ia pun berhenti didepan sebuah etalase kaca disekitar tempat kasir dan melihat sekotak salad buah yang menggoda selera makan.


"Ada yang bisa dibantu lagi Mas?" Tanya sang kasir yang masih disibukkan dengan totalan belanjaan Rifki sebelumnya.


"Bungkus semua saladnya, aku mau semuanya Mbak" Ucap Rifki.


"Baik Mas" Ucap karyawan yang lainnya, "Mau tambah apa lagi Mas?"


Rifki pun nampak berpikir barang apa lagi yang ia butuhkan sebelum keluar dari toko tersebut, Rifki pun mengeluarkan sebuah bungkus pembalut yang ada dikeranjang belanjaannya dan mengangkatnya dihadapan wanita tersebut.


"Tolong keluarkan semua stok benda seperti ini, tanpa tersisa sedikitpun"


"Apa? Saya ngak salah dengar kan Mas?"


"Ngak, keluarkan semuanya saya beli"


"Baik Mas" Karyawan toko tersebut nampak berbinar binar ketika mendengar bahwa Rifki akan membeli semua jualannya.


Beberapa orang pun akhirnya keluar dari dalam gudang untuk mengambilkan stok pembalut yang tersedia ditoko tersebut seperti yang dipegang oleh Rifki saat ini.


"Banyak banget Mas beli pembalutnya, lima tahun ngak bakalan habis ini Mas" Ucap sang kasir sambil senyum senyum sendiri.


"Benarkah? Jadi awet gitu ya Mbak? Buat stok istriku dirumah, biar ngak beli beli lagi" Jawab Rifki yang nampak biasa saja.


"Oh istrinya banyak ya Mas, mangkanya stoknya juga banyak begini"


"Iya banyak sekali, banyak maunya, orangnya satu sikapnya seribu"


"Mas bisa aja"


Mendengar jawaban Rifki membuat orang itu terkagum kagum dengan sosok seperti Rifki, udah tampan dan berkarisma, mau aja disuruh beli beli barang seperti ini, dan kasir tersebut mengambil kesimpulan bahwa Rifki adalah sosok yang setia.


"Totalnya dua juta lima ratus delapan puluh ribu Mas" Ucap kasir tersebut.


"Nih tiga juta, kembaliannya ambil saja, sekalian tolong masukkan kedalam mobil semuanya" Ucap Rifki sambil menyodorkan uang bernominal 3 juta itu.


"Baik Mas, terima kasih banyak Mas".


Setelah selesai membayar, Rifki segera keluar dari minimarket tersebut, dirinya berjalan masuk kedalam mobilnya, sambil menunggu barang barang yang ia beli dimasukkan kedalam mobil Rifki membuka ponselnya untuk mengecek perkembangan dari perusahaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai kakak! kali aja berkenan untuk mampir dinovel temenku yang ini, yuk kak mampir juga,, heppy reading


***


Milannita adalah seorang artis papan atas sekaligus istri dari pengusaha kaya raya bernama Caviar Klan. Dia harus menelan rasa sakit hati karena menyaksikan sendiri suaminya berselingkuh dengan assisten pribadinya sendiri bahkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami bercinta di kamar pribadinya, di ranjang yang sama yang selalu mereka gunakan untuk melakukan hubungan suami-istri.


Milan biasa dia di sapa, yang notabenenya adalah artis papan atas yang memiliki penampilan yang sempurna bahkan di puja banyak pria dan memiliki ribuan penggemar, merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh suami serta asistennya itu.


Akhirnya Milan memutuskan untuk menyembunyikan rapat-rapat perselingkuhan suaminya dan menjalani rumah tangga seperti biasa layaknya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dengan tujuan membalaskan dendam kepada dua orang yang telah mengkhianatinya itu.

__ADS_1


Sampai akhirnya, dia bertemu dengan laki-laki bernama Zergo yang merupakan penggemar berat dirinya.



__ADS_2