
Rifki merasa puas dengan perkembangan perusahaannya dibawah kendali Bayu beberapa minggu ini, meskipun Rifki tidak pergi bekerja akan tetapi dirinya masih memantau perkembangan perusahaan perusahaannya yang ada didalam negeri ataupun luar negeri.
"Bagus juga nih anak kerjaannya, tapi kasihan juga semua dikerjain satu orang" Guman Rifki sambil menatap puas kearah teleponnya.
Rifki pun terus berkutik dengan ponselnya sementara Pak Mun beserta karyawan toko itu tengah sibuk untuk mengemasi barang barang yang dibeli oleh Rifki itu, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka selesai menata didalam mobil itu.
"Tuan Muda semuanya sudah siap" Ucap Pak Mun seraya masuk kedalam mobil.
"Kita langsung kerumah saja Pak"
"Baik Tuan Muda"
Mobil tersebut segera melaju meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan sedang, tiba tiba Nadhira menelpon Rifki lagi dan mengatakan bahwa menyuruh Rifki untuk segera sampai dirumah.
"Iya sayang, ini masih dijalan"
"Lama banget ya ampun, aku rindu"
"Lah baru beberapa jam saja tidak ketemu sudah rindu aja nih anak"
"Pokoknya cepat pulang"
"Iya sebentar sayang, ini masih dijalan pulang kok, tunggu 15 menit lagi sampe dirumah kok"
"Iya" Jawab Nadhira singkat dan langsung mematikan telponnya.
Rifki hanya menghela nafasnya saja melihat telpon tersebut mati begitu saja, ia pun meminta kepada Pak Mun untuk mempercepat laju mobilnya itu agar dirinya segera sampai dirumah sebelum Nadhira akan semakin bertambah marah lagi.
"Cewek yang pms sensitif sekali ya Pak" Ucap Rifki seraya menatap jalan kedepan.
"Mending jangan macem macem kalo sama cewek seperti itu Tuan Muda, nyari aman saja, bisa bisa harus puasa berbulan bulan"
"Emang Pak Mun pernah seperti itu?" Rifki tidak bisa membayangkan apa yang dikatakan oleh Pak Mun.
"Pernah sih, hanya masalah kecil tapi ya begitu, masalah dari masa jahiliah pun akan terbawa bawa"
"Emang Pak Mun membuat masalah seperti apa? Sampe sampe dihukum seperti itu?"
"Cuma salah beli rasa minuman, dia mau coklat tapi saya belinya malah capuccino"
"Ngeri gitu Pak Mun, yang sabar ya"
"Mangkanya itu, harus hati hati kalo berhadapan dengan wanita yang lagi PMS"
"Benar Pak, bisa bisa nanti aku malah disuruh tidur diluar lagi Pak, Bapak dulu juga seperti itu apa sama istri Bapak?"
"Lebih parah lagi Tuan Muda, bukan hanya tidur diluar saja, sampe tidur dikolong jembatan, apalagi kalo lagi ngidam byuhh aneh aneh mintanya dan harus siap siaga loh"
"Ngenes banget sih apa, anak Bapak laki laki atau perempuan pas lagi ngidam aneh aneh?"
"Anak pertama laki laki Tuan Muda terus yang kedua baru perempuan"
"Kalo anaknya laki laki atau perempuan ngidamnya sama apa Pak? Mungkin saja beda"
"Sama saja Tuan Muda yang jelas akan mengusahakan kaum adam"
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mobil tersebut telah memasuki gerbang utama, setelahnya Rifki segera bergegas untuk masuk kedalam dan meminta Pak Mun untuk mengangkat semua barang barangnya dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Terlambat 3 menit" Ucap Nadhira ketika Rifki melangkah masuk melewati pintu.
"Astaga sayang, maafin ya, nih aku bawakan salad buah untukmu, aku kedapur dulu untuk mengambil sendok tadi sayang, jangan marah ya, jelek loh kalo marah marah seperti itu" Ucap Rifki sambil berjalan kearah Nadhira yang tengah bersandar disofa kamarnya.
"Salad buah?" Nadhira lalu menoleh kearah Rifki.
Rifki berjalan kearah Nadhira dan langsung duduk disamping Nadhira, ia pun membuka tepak salad tersebut dengan perlahan lahan, Nadhira yang melihat itu pun merasa sangat senang karena itu adalah makanan kesukaannya.
"Di minimarket tadi ada salad buah, lalu aku beli deh untuk kamu, masih banyak dibawah sana, aku masukkan kedalam lemari es"
"Makasih ya sayang, makin cinta deh"
Rifki pun menyendok potongan buah tersebut dan langsung menyuapi Nadhira, melihat Nadhira mengunyah buah buahan itu dengan lahap membuatnya merasa sangat bahagia.
"Mereka salah menilai dirimu Dhira" Ucap Rifki sambil mengusap ujung bibir Nadhira yang sedikit belepotan mayonaise.
"Salah menilaiku? Siapa?"
"Tetanggamu, kata mereka kau sangat tegas, pemberani, terus pandai bertarung, hem apa lagi ya aku lupa, oh iya, ngak bisa bercanda tapi nyatanya sekarang dirimu sama persis kayak anak kecil udah manja, suka marah, dan makan pun masih suka belepotan kayak gini"
"Kapan mereka bilang aku seperti itu?"
"Kemaren lusa"
"Sudahlah itukan hanya mereka, mereka hanya menilai dari apa yang mereka lihat, dan kisah yang sebenarnya tidak akan mereka ketahui, baik dimata mereka hanyalah sesaat, tapi baik dimata Allah itu selamanya".
"Tumben istriku bijak"
__ADS_1
"Kau saja yang tidak pernah mendengar kebijakanku dan selalu meremehkan diriku"
Setelah mengatakan itu Rifki segera menempelkan bibirnya pada bibir Nadhira dengan tiba tiba, hal itu sontak membuat Nadhira begitu terkejut karena tiba tiba Rifki melakukan itu padahal dirinya sendiri saat ini masih mengunyah buah.
Rifki merasakan sensasi manis dari mulut Nadhira yang tengah mengunyah salad buah, merasakan itu Nadhira hanya menutup matanya saja membiarkan Rifki melakukan hal yang diinginkan itu karena tenaganya kalah dari Rifki.
"Apa yang kau lakukan Rif, aku lagi makan salad nih, kau mengangguku makan" Nadhira mencoba untuk mendorong tubuh Rifki sedikit menjauh darinya.
"Gemes banget dengan mulutmu itu Dhira, kapan diriku pernah meremehkan dirimu sayang? Ingin ku makan sekarang juga kamu Dhira, tapi sayangnya kamunya lagi halangan"
"Sabar ya Rif, seminggu lagi baru suci"
"Lama banget Dhira, ngak bisa dicepetin apa?"
"Ini bukan laju sepeda motor yang bisa dicepetin begitu saja tau, tanya saja sana kepada Allah".
Melihat Nadhira yang cemberut membuat Rifki segera menempelkan bibirnya kembali, sensasi manis kini tengah Rifki rasakan, manis karena mayonaise dan buah buahan yang dimakan oleh Nadhira hingga membuat jakun Rifki naik turun.
Tok tok tok
"Kyakkkk......" Teriak seorang wanita yang baru saja membuka pintu kamar tersebut.
Mendengar teriakan dari seorang wanita itu membuat Nadhira langsung membuka matanya lebar lebar dan berusaha untuk menghentikan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki saat ini.
"Ada apa Bi? Bisa ngak sih jangan asal masuk seperti itu!" Nada suara Rifki langsung berubah drastis ketika dirinya menoleh kearah seseorang yang kini tengah membuka pintu kamarnya, dan terdapat Bi Sari yang tengah mematung didepan pintu.
"Maafkan saya Tuan Muda, saya benar benar tidak tau soal itu" Bi Sari sedikit ketakutan ketika melihat Rifki marah sedemikian rupanya kepada dirinya.
"KELUAR!!" Bentak Rifki.
Mendengar bentakan tersebut langsung membuat Bi Sari meneteskan air matanya, ia merasa sangat bersalah karena telah masuk kedalam kamar tersebut tanpa meminta izin terlebih dulu, ia pun langsung bergegas pergi dari tempat itu dan menutup pintu kamar majikannya dengan erat.
"Sudah dong Rif, jangan membentaknya seperti itu" Ucap Nadhira seraya mengusap pelan lengan Rifki.
"Dia sudah keterlaluan sayang" Dan seketika itu juga nada bicara Rifki langsung berubah menjadi halus.
"Itu juga belom sepenuhnya salah dirinya sayang, lihatlah kantung plastik yang dia tinggal, bukankah itu adalah belanjaanmu tadi?"
"Iya sih, tapi aku ngak suka dengan sikapnya yang seenaknya saja masuk kedalam kamar Dhira"
"Besok aku akan memberitahu Bi Sari soal itu Rif, sudah jangan diperpanjang lagi"
"Baiklah" Rifki segera bangkit dari duduknya untuk melihat kantung plastik tersebut.
Ia pun membuka kantung plastik tersebut dan terlihat beberapa cemilan yang dirinya beli sebelumnya, ia pun berjalan menuju ketempat dimana Nadhira sedang duduk untuk menikmati salad buah yang dibelikan oleh Rifki sebelumnya.
"Cemilan sayang, sebenarnya masih banyak lagi cuma ada diluar sana"
"Hah? Pesananku kan ngak banyak sayang, apa jangan jangan kamu milih milih lagi disana?"
"Iya Dhira, nanggung banget kalo cuma beli segitu"
"Terus mana pembalutku?"
"Ada diluar juga sayang"
"Kamu beli berapa sayang?"
"Masuk!" Teriak Rifki menyuruh seseorang untuk masuk kedalam kamarnya.
"Hah?"
Tiba tiba Pak Mun dan Pak Santo masuk kedalam kamar tersebut sambil membawa sebuah karung beras yang cukup besar, Nadhira hampir tidak bisa bernafas ketika melihat tingkah Rifki yang membeli pembalut untuknya begitu sangat banyak.
"Ya Allah sayang, buat apa banyak banyak seperti ini, beli pembalut kayak beli cemilan aja, banyak banget" Nadhira pun menghentikan makannya.
"Biar kamu tidak kekurangan pembalut lagi sayang, aku kan perhatian denganmu Dhira"
"Tapi ngak begini juga kali sayang, buat apa banyak banyak seperti ini"
"Buat kasur Nona Muda, enak juga dan empuk, biar kasurnya tidak kotor kalau ada badai tiba tiba menerjang" Sela Pak Mun.
"Emang dah, lelaki sulit untuk dimengerti"
"Kalo begitu kami permisi dulu ya Tuan Muda dan Nona Muda, masih banyak pekerjaan"
"Iya Pak"
Nadhira menatap kearah sekarung pembalut yang ada didepannya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, ia bingung harus ditaruh dimana itu pembalut yang banyak dan dirinya hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.
"Oh iya sayang, nanti atau besok ada sekitar 6 pembantu baru yang datang kemari, aku yang memperkerjakan mereka, tolong ditangani ya"
"Banyak banget Rif, wanita semua?"
"Laki laki dua, wanitanya empat, tapi tenang saja mereka sudah ibu ibu dan memiliki cucu, mereka akan memperhatikan dirimu dari bangun tidur sampai tidur lagi dan akan melayanimu, besok aku sudah mulai masuk kerja sayang jadi aku takut kamu kenapa kenapa dirumah"
__ADS_1
"Ya ampun Rifki, kan ada Ibu dan juga Bi Sari yang bisa menjaga diriku nanti"
"Ngak, Ibu Ira akan pulang kerumah lamamu dan menjadi Ibu rumah tangga disana sama Pak Santo, Pak Santo akan tetap bekerja disini untuk menafkahi keluarganya, kalau Bi Sari doang yang bekerja disini nanti dia akan kewalahan untuk membersihkan rumah ini yang besar"
"Baiklah terserah dirimu saja sayang"
*****
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya" Ucap Rifki sambil memasang gelang jam ditangannya.
"Iya sayang, hati hati"
"Jaga kesehatannya dirumah, saladnya jangan lupa dimakan, kalo habis nanti aku suruh Bi Sari untuk beli"
"Iya iya sayang"
Nadhira pun meraih tangan Rifki untuk menicum tangan Rifki, sementara Rifki langsung mencium kening Nadhira dengan penuh kasih sayang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Rifki pun langsung bergegas untuk masuk kedalam mobilnya dan disopir oleh Bayu, sementara melihat itu membuat Nadhira melambaikan tangannya kearah Rifki, Bayu yang ada didalam dan melihat kemesraan kedua insan itu membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kenapa? Jutek banget" Ucap Rifki setelah masuk kedalam mobil dan melihat wajah Bayu.
"Bisa ngak sih ngak usah bermesraan gitu, kasihan nih yang jomblo"
"Itu urusanmu, cepet nikah sana biar ngak sendiri"
"Emang nikah gampang apa? Jodoh aja belom ketemu sampe sekarang"
"Noh ada Susi, pepet gih sebelom dimiliki orang lain, kan kalian sama sama jomblo"
"Enak aja kalo bilang, bisa bisa tubuhku remuk semua gara gara dia suka main tangan"
"Mangkanya kendaliin lah, cowok kok lemah"
Bayu sudah tidak peduli dengan ucapan Rifki, ia pun melajukan mobil tersebut untuk menuju ke perusahaan Abriyanta Groub, sementara Nadhira yang menyaksikannya tersebut langsung masuk kedalam rumahnya.
Nadhira lalu mengambil sebuah salad buah yang ada dilemari es setelah itu menyalakan televisi, dirinya merasa sunyi tanpa kehadiran Rifki dirumah tersebut, biasanya Rifki akan menganggu dirinya dan selalu menciptakan tawanya akan tetapi kali ini dirinya pergi bekerja dan meninggalkan dirinya dirumah.
"Sangat bosan"
Nadhira pun menyuapkan salad buah itu kedalam mulutnya, sambil melihat acara televisi yang entah apanya yang dilihat, dirinya hanya memainkan remotenya untuk mengubah siaran televisi, benar benar hari yang membosankan baginya.
"Bi Sari!" Panggil Nadhira.
Bi Sari yang sedang berada didapur itupun langsung bergegas untuk mendatangi Nadhira, ia pun meninggalkan cucian piring yang sangat menumpuk tersebut demi menyahuti panggilan Nadhira.
"Ada apa Non?" Tanya Bi Sari ketika sudah sampai ditempat dimana Nadhira berada.
"Aku bosan sekali Bi, enaknya ngapain ya"
Ting tung
Belum sempat Bi Sari menjawab tiba tiba bel rumah berbunyi, entah siapa yang datang pagi hari ini, Bi Sari segera bergegas untuk membukakan pintu dan memeriksa siapa yang datang saat ini.
"Permisi, ini rumah Tuan Muda Rifki?" Tanya salah satu dari mereka.
"Iya Benar, kalian siapa ya"
"Kami dari yayasan permata indah, kami dikirim kemari untuk menjadi pembantu Bu"
"Masuk dulu, saya panggilkan Nona Muda"
Mereka pun masuk kedalam ruang tamu dan duduk disana, mereka menatap ke sekelilingnya, rumah itu cukup besar dan mengira ngira ada berapa yang harus mereka layani ditempat itu, sementara Bi Sari langsung bergegas untuk menemui Nadhira.
"Siapa Bi?" Tanya Nadhira yang masih memakan salad buah didepan televisi.
"Katanya mereka pembantu baru Non, mereka ada diruang tamu sekarang"
"Baiklah, aku akan menemui mereka sekarang"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai kak, yuk mampir dikarya temenku ini, pasti seru loh,,, oh iya jangan lupa mampir, heppy reading all
***
Akibat kejadian di masa lalu, Clarissa Dianti Jenia (23 tahun) terpaksa menjalani profesinya sebagai seorang pelakor. Ia menggunakan kecantikannya untuk menjerat para lelaki hidung belang yang dianggapnya pantas untuk mendapatkan ganjaran karena telah berselingkuh di belakang pasangannya yang juga ternyata sama-sama bermain api dengan lelaki lain.
Clarissa terus menekuni profesinya selama tiga tahun, hingga suatu hari ia mendapatkan kabar bahwa seseorang yang berkaitan dengan masa lalunya kembali ke Indonesia dan telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Lantas, bagaimana cara Clarissa membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah menghancurkan kebahagiaannya? Akankah ada seseorang yang tulus mencintai Clarissa setelah tahu masa lalunya yang kelam?
__ADS_1