Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki diserang


__ADS_3

Rifki berlarian kesana kemari untuk mencari Nadhira, akan tetapi dirinya tak juga menemukannya, bahkan tidak ia temukan sama sekali petunjuk apapun soal kepergian Nadhira. Rifki yakin bahwa Nadhira telah diculik oleh orang orang yang telah menyerangnya sebelumnya, karena keteledorannya sehingga dirinya kehilangan jejak.


"Arghhhh.... Ini semua salahku!" Teriak Rifki frustasi. "Aku tidak akan pernah mengampuni kalian jika sampai Nadhira ku kenapa kenapa, akan aku habisi kalian semua!"


Rifki mengepalkan kedua tangannya dengan sangat eratnya, hanya ada kemarahan didalam hatinya. Dirinya mengutuki kecerobohannya itu, sangat sangat menyesal karena telah menyuruh Nadhira untuk pergi lebih dulu menyelamatkan diri tanpa berjuang bersama sama.


Rifki pun mendengar langkah beberapa orang dari kejauhan, mendengar itu langsung membuat Rifki bersembunyi dibalik semak semak yang ada disana. Rifki yakin bahwa itu adalah bagian dari orang orang yang telah menyerang dirinya dirumahnya sebelumnya.


"Dia berhasil membawa Manda kabur, kalian harus bisa mencarinya dan membawa Manda ke hadapanku. Apapun yang terjadi, jangan pernah mencelakakan Manda,"


"Tapi Bos, kami tidak tau kemana mobil pick up itu membawa mereka. Bahkan kami telah kehilangan jejak,"


"Aku nggak mau tau apapun itu, cepat cari Dhira dan Manda! Jangan sampai kalian tidak menemukan keduanya."


"Baik Bos!"


"Kau tidak akan bisa lolos dariku kali ini, Dhira. Akan ku pastikan kau dan anakmu akan mati di tanganku, Mau kabur kemana lagi kau? Kau tidak akan bisa mengelabuhi diriku." Guman Sena sambil tersenyum jahat.


Mendengar ucapan mereka, Rifki pun merasa lega bahwa Nadhira ternyata mampu meloloskan diri dan tidak ditangkap oleh mereka. Rifki tidak menyangka bahwa seseorang yang ada dibalik penyerangan kali ini adalah Sena, bahkan dirinya tidak tahu bahwa Sena telah lolos dari dalam penjara.


"Kira kira tujuan Dhira membawa Manda kemana? Manda pasti cepat atau lambat akan menghubungiku kecuali kalau Dhira berbuat macam macam kepada wanita itu," Guman Sena lagi dan masih didengarkan oleh Rifki.


"Apa mungkin Nona Manda dibawa ke desa Mawar Merah?" Tanya salah satu anak buah Sena kepada Sena.


"Nggak mungkin. Lalu ngapain dia dibawah ke desa itu? Desa itu tidak berguna bahkan tidak bisa melindungi dia. Hanya sebuah goa yang terkunci sampai saat ini, dan hanya keturunan dari Pangeran Kian yang bisa masuk. Dhira ataupun Manda bukanlah keturunan dari Pangeran Kian, jadi tidak ada gunanya mereka kesana."


"Mungkin untuk memastikan saja, anda perlu mengirim beberapa anak buah anda untuk datang kesana dan memeriksanya."


"Bagus juga idemu."


Mereka pun langsung berpencar, beberapa dari mereka langsung menuju kearah desa Mawar Merah dan yang lainnya mencari ditempat tempat lain. Ketika mereka semua sudah pergi meninggalkan tempat itu, Rifki segera keluar dari persembunyiannya itu.


"Dhira tidak mungkin ada di desa Mawar Merah, terlalu beresiko untuk pergi kesana. Tapi tidak tau lagi bagaimana jalan pikirnya. Tempat yang aman belum tentu aman, dan tempat yang berbahaya belum tentu memang berbahaya. Aku tau harus kemana," Ucap Rifki yakin.


Ketika hendak pergi dari tempat itu, mendadak langkahnya berhenti begitu saja. Rifki melihat Sena dan anak buahnya tengah mengepungnya saat ini, mereka menatap remeh kearah Rifki karena dirinya yang hanya sendirian sementara Sena masih ditemani beberapa anak buahnya.


"Ternyata kau adalah dalang dibalik semua ini," Ucap Rifki dengan santainya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Rifki Rifki, kau tidak akan bisa berbuat apa apa sekarang. Bisa dengan mudah kami mengalahkan dirimu yang seorang diri sekarang," Ucap Sena bangga akan adanya anak buahnya.


"Mengalahkan diriku karena jumlah? Hanya seorang pengecut yang berani melakukan itu."


"Kami tidak peduli."


Sena pun menggerakkan tangannya untuk memberi arahan kepada anak buahnya, dan mereka semua pun langsung menyerang kearah Rifki dengan bersama sama. Tenaga Rifki benar benar terkuras habis walaupun dirinya masih bisa untuk menghindari setiap serangan yang diarahkan kepadanya, akan tetapi dirinya tidak tau sampai kapan dia bisa bertahan dalam posisi seperti ini.


Serangan demi serangan diarahkan kepadanya tanpa hentinya, bahkan dirinya sampai kewalahan dalam menghadapi mereka. Hal itu membuat fokus Rifki pun teralihkan, sehingga Rifki berkali kali menerima serangan berupa tendangan maupun pukulan.


Pelipisnya pun mengeluarkan darah akibat pukulan yang dirinya terima, bahkan diujung bibirnya pun sampai sobek akibat pertarungan itu, dan dirinya pun terjatuh ditanah sambil memegangi dadanya yang nyeri. Melihat kondisi Rifki yang seperti itu, hal tersebut langsung membuat Sena tertawa dengan bahagianya.


"Hanya segitu saja kemampuanmu, Rifki? Ternyata kau semakin lama semakin lemah." Sena tertawa penuh dengan kemenangan melihat wajah dan anggota tubuh Rifki penuh dengan luka.


Mendengar itu, justru langsung membuat Rifki tertawa begitu saja. Tawa yang mengandung rasa sakit yang sengaja tidak diperlihatkan oleh Rifki. Sontak tawanya langsung membuat Sena keheranan, entah apa yang menyebabkan lelaki itu tertawa begitu saja padahal tubuhnya sudah penuh dengan luka dan bercak darah.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Sena dengan keheranan. Sena pun berpikir sangat keras, "Apa kau tertawa karena kau akan mati?" Tanyanya lagi setelah lama berpikir.


"Bukankah sebuah kemenangan adalah kematian? Dunia begitu menyakitkan, untuk apa bertahan lama dengan rasa sakit?" Tanya Rifki balik sambil tersenyum dengan lebarnya.


"Kalau begitu, biar aku percepat sekarang."


"Tunggu. Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan semuanya, bahkan jika Allah sudah berkehendak maka seluruh anak buahmu tidak ada apa apanya."


"Panggil Tuhanmu itu, lalu bagaimana caranya untuk menyelamatkan dirimu saat ini. Itu semua tidak akan terjadi, karena kau ditakdirkan untuk mati di tanganku."

__ADS_1


"Kau begitu sombong hanya dengan kemampuan yang bagaikan debu itu, itu semua tidak akan bisa menyelamatkan dirimu dari kemurkaan-Nya."


*****


Srettt...


"Akh..." Pekik seseorang yang tidak lain adalah Nadhira.


"Kain kenapa, Dhira?" Tanya Amanda, dan langsung memegangi tangan Nadhira.


"Aku nggak tau, Manda. Tiba tiba pisau kecilku melukai diriku sendiri, mungkin diriku lupa untuk berhati hati."


Nadhira pun mengeluarkan pisau kecilnya dari saku bajunya, dirinya pun melihat bahwa pisau tersebut terbuka dari tutupnya sehingga bisa melukainya begitu saja. Nadhira pun menatap ke arah telapak tangannya yang sudah banjir akan darahnya, akan tetapi setiap tetesan darah itu langsung membuatnya menjadi resah.


"Manda ayo kembali, aku takut," Ucap Nadhira dengan gelisahnya.


"Tapi disana tidak aman, Dhira. Bagaimana kalau mereka berhasil mencelakakan dirimu?"


"Nyawaku tidak penting saat ini, aku hanya ingin memastikan Rifki baik baik saja, Manda. Aku sangat takut jika dia sampai kenapa kenapa, aku mohon sekali saja." Nadhira pun meneteskan air matanya dengan tubuh yang gemetaran lantaran takut.


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu, Dhira. Aku tidak mau kau sampai bertindak gegabah."


"Baiklah aku akan kesana sendiri. Kau tidak perlu ikut denganku, aku mau menyelamatkan suamiku, bagaimana pun caranya itu. Perasaanku tidak tenang sebelum memastikan dia baik baik saja,"


"Aku tidak akan membiarkan dirimu kesana untuk kali ini, Dhira. Maafkan aku, maafkan aku untuk kali ini, maafkan atas keegoisan ku kali ini,"


"Maksudmu apa?"


"Maaf ya."


Nadhira seketika merasakan sesuatu yang menusuk di lengan kanannya, sebuah cairan masuk kedalam tubuhnya dan ketika dirinya melihat itu, Nadhira langsung berusaha untuk mencabutnya. Dengan kerasnya, dirinya pun melemparkan suntikkan yang berisikan obat bius ke sembarangan arah.


"Apa yang kau lakukan, MANDA!!!" Teriak Nadhira dengan nada tinggi. "Aku sudah mempercayaimu, tapi kau ingin aku tidak sadarkan diri begitu saja? Kau jahat, sungguh sangat jahat, Manda."


"Aku tidak punya pilihan lain selain ini, maafkan aku, Dhira."


"Kenapa tidak sekalian kau bunuh diriku saja? Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalanku untuk menyelamatkan suamiku. Meskipun itu dirimu sekalipun itu!" Dengan kerasnya, Nadhira pun mendorong tubuh Amanda untuk menjauh darinya sampai Amanda terjatuh di tanah.


Nadhira langsung bangkit dari duduknya begitu saja, ketika dirinya sudah berdiri, tiba tiba tangan kanan bekas suntikan itu terasa nyeri. Nadhira berusaha menahan rasa sakitnya itu, dirinya memaksakan diri untuk bergegas pergi dari tempat tersebut.


"Kalau harus mati, kita mati berdua ya sayang. Tunggu aku datang," Ucap Nadhira lirih.


Nadhira menatap lurus ke depan, seakan akan tengah menerawang jauh ke depan. Rasanya bagaikan ajal yang sebentar lagi mendatanginya, bahkan dirinya tidak memiliki keraguan sedikitpun itu untuk bertemu dengan ajalnya sendiri.


"Dhira kau mau kemana?" Tanya Amanda.


"Menuju ke alam keabadian bersama dengan Rifki,"


"Jangan pergi, aku mohon, Dhira. Jangan pergi!"


"Seharusnya kau senang, Manda. Aku bisa bersatu kembali dengan Rifki dan tidak akan pernah ada lagi yang bisa memisahkan kita berdua disana, dan aku tidak lagi menyusahkan kalian semua."


Nadhira perlahan lahan melangkah maju ke depan dengan pelannya, sementara Amanda langsung bergegas bangkit dari duduknya untuk mengejar Nadhira. Ketika mereka berdua ada di perbatasan desa itu, mendadak kepala Nadhira terasa pusing hingga membuatnya menabrak sebuah pohon untuk menyangga tubuhnya itu.


Dengan eratnya Nadhira memegangi kepalanya, rasa pusing yang pernah ia rasakan pun kembali terasa. Melihat itu, Amanda langsung bergegas untuk menghampirinya dan memegangi tubuh Nadhira agar tidak jatuh.


"Kau jahat kepadaku, Manda. Kau jahat," Nadhira pun memukul pelan bahu Amanda karena tubuhnya yang mendadak lemas.


"Aku tau kalau aku jahat kepadamu, Dhira. Kau boleh marah kepadaku, tapi apapun yang aku lakukan itu hanya untukmu."


"Kau membuatku kehilangan banyak orang. Aku tidak akan sanggup untuk hidup jika aku kehilangan Rifki, Rifki adalah hidupku, jika tidak ada Rifki maka aku akan mati."


"Bertahanlah demi anakmu, Kinara. Dia sangat membutuhkan dirimu,"

__ADS_1


"Rifki adalah kekuatanku untuk bertahan hidup, Manda. Apalah hidupku tanpa dia,"


Tubuh Nadhira semakin lama semakin lemah, bahkan untuk menyangga tubuhnya sendiri dia sudah tidak mampu untuk melakukan itu. Amanda sendiri langsung merangkulnya karena takut jatuh, pandangan Nadhira mulai memburam.


"Setelah kau terbangun nanti, mungkin aku sudah tiada lagi di dunia ini, Dhira. Aku hanya ingin kau tau, bahwa kau adalah Kakak terbaik untukku selamanya. Aku Adik yang begitu bodoh, hingga menyia nyiakan Kakak yang baik sepertimu." Bisik Amanda disaat Nadhira setengah sadar dan tidak sadar.


Nadhira masih mampu mendengar kata kata itu, disaat ucapan terakhir Amanda, pandangannya mendadak menggelap bahkan suara suara yang dirinya dengar sebelumnya menjadi suram dan sangat hening. Amanda pun menangis sambil mengusap pelan punggung Nadhira, rasa sesak seakan akan menyerangnya saat ini dan tidak membiarkan dirinya bernafas dengan nyaman.


Amanda pun membawa Nadhira kembali masuk kedalam desa Flamboyan itu, hingga keduanya berhenti disebuah gubuk yang ada ditengah tengah hutan Flamboyan. Amanda pun menidurkan Nadhira sebuah ranjang yang telah disediakan disana olehnya, dan membaringkannya dengan perlahan lahan.


"Kau memang sudah mencabut jarum suntiknya, tapi tidak dengan obat bius yang telah masuk di tubuhmu, Dhira. Obat bius ini sudah lebih dari cukup untuk membuatmu tidur nyenyak," Ucap Amanda sambil menatap wajah damai Nadhira.


Amanda berjalan sedikit menjauh dari Nadhira, dirinya menatap cukup lama wajah Nadhira untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya, Amanda pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu setelahnya, sementara Nadhira dibawah alam sadarnya, setetes air mata pun meluruh diujung matanya.


Ketika Amanda keluar dari gubuk itu, tiba tiba ada sosok dua orang laki laki didepannya.


"Jaga dia dengan baik, jangan biarkan dia pergi dari sini sampai keadaan semuanya aman, bagaimanapun caranya itu." Ucap Amanda kepada kedua orang lelaki yang berdiri didepannya.


"Lalu bagaimana kalau Mama anda sampai datang ke tempat ini?" Tanya salah satu dari mereka.


"Itu tidak akan terjadi, karena mereka semua tidak akan menyangka bahwa aku membawanya kemari. Sapta akan segera datang, setelahnya biar dia yang membawa Nadhira pergi dari tempat ini."


"Anda mau kemana?"


"Aku percaya kepada kalian berdua, jangan pedulikan aku karena yang terpenting adalah nyawa dari saudara tiri ku. Aku akan pergi melakukan tugasku, dan jaga diri kalian baik baik."


"Nona Manda, apa anda yakin soal langkah anda selanjutnya?"


"Aku tidak akan kembali dengan nyawaku, Ndra. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, dan aku tau semua konsekuensi yang harus aku tanggung."


Amanda pun mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya, rasanya sangat berat untuk melangkah akan tetapi dirinya harus bisa melakukannya. Meskipun hatinya benar benar menderita, akan tetapi dirinya tetap memaksakan diri untuk bisa tersenyum kepada kedua orang lelaki yang ada dihadapannya itu.


"Ibu, sebentar lagi kita akan bertemu. Anakmu akan datang untuk menyusulmu yang ada disana, tunggu diriku datang, ya? Ini tidak terlalu menyakitkan kok, paling setelah itu semuanya akan menggelap dan tidak akan terasa sakit lagi."


"Nona Manda!" Seru kedua lelaki itu ketika melihat Amanda yang mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Tepati janji kalian, hanya itu yang aku butuhkan," Ucap Amanda sambil berlalu pergi dari sana.


"Baik Nona," Keduanya langsung berlutut ditempatnya.


Amanda pun tertawa pelan membayangkan nasibnya, bahkan dirinya sudah melangkah begitu jauh dari tempat itu. Hingga bayangannya sudah tenggelam di kejauhan, kedua lelaki itu sudah tidak bisa melihatnya.


"Bahkan sampai detik ini, aku belum juga menikah. Seharusnya aku cobain dulu yang kata orang orang itu enak, tapi itu semua tidak sempat, hehe..." Amanda pun tersenyum kecut meratapi nasibnya yang belum mencoba dimalam pertama dengan pasangan, justru dirinya malah langsung mencoba untuk bermalam pertama di alam kubur dengan malaikat mungkar dan nakir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Haduhh maaf ya telah updatenya, kadang kala hp susah untuk di kondisikan man teman. Ingat ini belum akhir ya!


Masih banyak air mata yang harus di kuras.


🗣️ : Haduh thor. kenapa alurnya seperti ini sih?


🗣️ : Thor, kapan mereka bisa bersama?


🗣️ : Othor jahat ih, nggak ada rasa kasihan sedikit pun


Author : Alurnya sesuai judul ya, man teman. Sesuai dengan kisah "Cinta Terakhir Dalam Hidupku". Author berusaha untuk membawa kalian masuk kedalam kisahnya, jadi kisah ini sudah bener bener dipikirin oleh Author secara matang matang agar tidak menjadi kisah asal asalan belaka. Setiap ada kelahiran pasti ada?


Nah, kalau kisahnya bahagia berarti itu awalan bukan akhiran. Author juga bingung harus di akhiri seperti apa, kerjaan numpuk kadang susah buat mikir pluss ngeblank nih kepala.


Semangat!! Hidup itu capek, mau santai? Awas ketinggalan kereta ya.


See you again besti. Jangan lupa selalu dukung Author ya? Biar Author semangat dan tidak menunggu lama episode selanjutnya.

__ADS_1


Akan banyak hal yang menegangkan, jangan lupa siapkan tissu yang banyak!


__ADS_2