
Nadhira langsung masuk kedalam kamarnya untuk menyiapkan kejutan untuk Rifki dihari ulang tahun pernikahan keduanya. Nadhira duduk dikasur tempat dirinya tidur saat ini, ia mengeluarkan tespek miliknya dari dalam laci.
"Rifki pasti bahagia ketika melihat kejutan ini, ini adalah kejutan yang membahagiakan. Aku berharap bahwa rumah tanggaku akan bertahan untuk selamanya, dan Rifki akan selalu mencintaiku seperti ini sampai tua nanti,"
Nadhira langsung memasukkan hasil tespek tersebut kedalam kotak yang paling kecil, ia juga menuliskan sesuatu dikertas putih yang berhiaskan bunga bunga. Setelah menuliskannya Nadhira langsung memasukkan kertas tersebut didalam kotak kecil yang ia bawa saat ini, baju hitam yang ia pesan sebelumnya pun ia keluarkan dari kantung.
"Kinara, dengan nama ini semoga kau selalu mengingatku Rif, meskipun aku sudah tidak lagi ada disampingmu,"
Entah mengapa, perpisahan itu terasa begitu nyata saat ini. Perpisahan yang tidak pernah ia inginkan terasa begitu dalam, ia sangat takut bahwa dirinya akan berpisah jauh dari Rifki, dan dirinya sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi kepada keluarga kecilnya itu.
Nadhira mengusap pelan baju yang saat ini ia pegangi itu, dengan sebuah senyuman tipis yang mengembang sempurna, Nadhira menatap kearah pakaian yang ada ditangannya. Tiba tiba tangannya bergetar lirih sambil memegangi pakaian yang ada ditangannya itu.
"Semuanya akan baik baik saja,"
Nadhira lalu menata pakaian tersebut didalam kotak yang sedang itu, Nadhira juga memberinya sebuah hiasan sehingga nampak terlihat sangat indah, dengan perlahan lahan dirinya mulai menata kotak kecil yang ia pegang didalam kotak yang besar. Setelah selesai, Nadhira lalu menutupnya dengan perlahan lahan dan menyembunyikan kotak itu didalam loker nakasnya.
"Ngak bakalan seru kalo ketahuan sekarang, semoga saja dia tidak melihatnya sebelum hari itu tiba."
Nadhira lalu berjalan menuju ke balkon yang ada dikamarnya itu, dia mengusap perutnya pelan. Rasa mual yang terus menyerangnya itu sudah mendingan setelah mendapatkan obat dari Dokter, sehingga saat ini rasa mual tersebut sudah tidak terasa lagi.
"Rif, aku hamil. Kau pasti akan senang mendengarnya saat ini, kita akan menjadi keluarga yang lengkap. Aku berjanji, akan menjaga anak kita dengan sebaik mungkin,"
Nadhira menatap kearah langit yang membentang luas diangkasa, siang itu terlihat sangat cerah dengan awan awan yang seakan akan tengah menari nari dilangit yang luas itu. Nadhira mengusap perutnya perlahan lahan, perut yang masih rata tersebut membuatnya tak henti hentinya untuk terus tersenyum cerah.
"Oma, aku dipercayakan lagi untuk mengandung seorang anak, aku merasa sangat bahagia, Oma. Aku harap, Oma juga bahagia disana"
*****
"Dhira, aku pulang."
Mendengar suara itu langsung membuat Nadhira keluar dari dalam kamarnya, ia segera bergegas turun kelantai bawah untuk menyambut kedatangan suaminya dirumah. Dengan segera, Nadhira menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Rifki.
"Aku kangen," Ucap Nadhira seraya membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.
"Eihhh,, ada apa ini? Tumben banget,"
"Pengen peluk,"
"Tadi ke swalayan beli apa aja? Ngak sabaran banget nunggu aku pulang,"
"Beli es cream lah, enak banget, Rif. Apalagi es creamnya ditaburi dengan susu kental manis, rasanya manis sekali. Tadinya aku mau ajak kamu, tapi kamunya masih meeting, jadi aku berangkat dulu"
"Kayak anak kecil tau ngak? Mana coba sini aku rasain, beneran manis atau ngak."
Rifki pun mendekatkan bibirnya dibibir Nadhira akan tetapi sebelum keduanya bersentuhan, Nadhira segera menutup mulut Rifki dengan tangannya.
"Rifki, ini dilantai bawah, bukan kamar kita," Keluh Nadhira yang melihat pembantunya melintas.
"Baiklah, ayo kekamar. Aku mau mandi juga sayang, bau baru pulang kerja,"
Nadhira langsung menggandeng lengan suaminya itu, keduanya pun bergegas menuju keanak tangga. Nadhira segera membantu Rifki untuk melepaskan jasnya setelah sampai dikamarnya, setelah Rifki pun bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Nadhira pun mencium bau jas milik suaminya itu, bau itu langsung membuatnya kembali rileks dan tenang. Nadhira mengusap pelan perutnya, terciptalah sebuah senyuman diujung bibirnya.
"Papamu belum tau kalo ada kamu didalam sini, Nak. Mama akan memberitahu disaat hari ulang tahun pernikahan kita berdua nanti," Ucap Nadhira lirih.
*****
Setelah kembali dari markas Gengcobra, Rifki masuk kedalam rumahnya sendirian. Ketika ia membuka pintu rumahnya, ia tak sengaja melihat sebuah kertas yang sudah terletak dimeja ruang tamunya itu. Rifki langsung membuka kertas tersebut, dan dirinya terkejut bukan main setelah membacanya.
"Siapa yang menulis ini!" Sentak Rifki.
Rifki pun menoleh kearah sekitarnya untuk mencari seseorang yang berada disaan, akan tetapi dirinya tidak menemukan apa apa diruang tamu tersebut. Rifki langsung bangkit dan mencari siapa saja yang ia temui dilantai bawah.
"Ada apa Tuan Muda?" Tanya Bi Sari ketika tidak sengaja melihat Rifki yang sedang panik.
"Bibi tau siapa yang masuk kerumah ini tadi?" Tanya Rifki.
"Ngak ada Tuan Muda, saya dari tadi dihalaman depan rumah untuk menyapu," Jawab Bi Sari sambil mengingat ingat.
"Dhira dimana?"
"Nona Dhira, dia belum balik. Tadi Mama anda mengajaknya jalan jalan, bukankah dia sudah izin kepada anda sebelumnya?"
Rifki menghela nafasnya, memang Putri tadi sudah meminta izin kepada untuk mengajak Nadhira jalan jalan. Rifki pun memijat keningnya yang terasa pusing itu, entah surat yang ia temukan tersebut langsung membuatnya panik.
Rifki langsung bergegas untuk menuju kekamarnya. Sesampainya dikamarnya itu dirinya langsung menaruh kertas yang ia temukan diatas meja yang ada dikamarnya itu. Ia pun bersiap siap hendak pergi entah kemana, ia memakai baju biasa dan membawa beberapa senjata rahasia.
Rifki langsung bergegas keluar dari dalam kamarnya, ia menuju kearah bagasi dan akan menyetir mobilnya sendiri tanpa Pak Mun yang ikut bersamanya. Rifki mengeluarkan mobilnya tersebut dari dalam bagasi hingga membuat Pak Mun langsung mendekati kearahnya.
__ADS_1
"Tuan Muda mau kemana?" Tanya Pak Mun, karena tidak biasanya Rifki akan membawa mobilnya sendiri tanpa memintanya untuk menyopir.
"Bukakan gerbang, aku mau keluar," Jawab Rifki singkat.
"Baik Tuan Muda,"
Pak Mun segera berlari kearah gerbang utama rumah tersebut untuk melaksanakan perintah dari Rifki, ketika gerbang sudah dibuka dengan lebarnya, Rifki langsung melajukan mobilnya untuk keluar dari halaman rumah tersebut dengan cepatnya.
"Ada apa dengan Tuan Muda?" Tanya Pak Santo kepada Pak Mun.
"Ngak tau, aku tanya juga ngak dijawab tadi," Ucap Pak Mun.
"Lalu kalo Non Dhira tanya gimana? Apa yang harus kita jawab nantinya?"
"Kita jujur aja kali ya, tapi takutnya membuatnya khawatir, tapi dia juga harus tau, kan mereka berdua adalah suami istri,"
"Itu urusan nanti, kalo Nona Muda tanya saja,"
*****
"Ma, ini enak sekali, dingin dan manis. Dhira merasa senang ketika memakannya seperti ini," Ucap Nadhira sambil menikmati es cream yang ia beli.
"Ternyata kamu sangat suka es cream ya," Ucap Putri sambil tersenyum hangat.
"Bukan aku yang suka, Ma. Tapi anak Rifki yang didalam perutku," Ucap Nadhira tanpa sadar.
"Hah? Kamu hamil?" Ucap Putri sontak langsung terkejut mendengarnya.
"Astaga aku lupa. Ma, tolong jangan kasih tau ini kepada Rifki ya, aku mau memberi kejutan mengenai kabar ini dihari ulang tahun pernikahan kita," Ucap Nadhira sampil menepuk jidatnya pelan.
Putri pun langsung memeluk tubuh Nadhira tiba tiba, Nadhira mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum membalas pelukan dari Mama mertuanya itu. Pelukan Putri membuat Nadhira mampu merasakan kehadiran Mama kandungnya.
"Selamat ya, Nak. Mama senang mendengarnya, kamu harus lebih berhati hati," Ucap Putri lirih.
"Iya, Ma. Dhira janji, Dhira akan menjaga anak ini dengan baik, tapi Mama harus janji untuk tidak memberitahukan ini kepada siapapun, aku tidak ingin kalo kejutan yang akan Dhira berikan kepada Rifki diketahui lebih dulu" Ucap Nadhira.
"Iya, Mama janji kepada Dhira. Semoga hubungan kalian tidak akan ada yang bisa memisahkan, bahkan maut sekalipun itu,"
"Aamiin"
Putri pun mengantarkan Nadhira pulang setelahnya, Nadhira dan Putri kini sudah memasuki halaman rumah Rifki dan Nadhira. Nadhira langsung keluar dari mobil Putri, sementara Putri berdiam diri didalam mobilnya itu.
"Mama ngak mampir dulu?" Tanya Nadhira.
"Iya Ma,"
"Jaga dirimu baik baik, kalo ada apa apa cepat bertahu Mama ya, jangan sungkan sungkan untuk segera memberitahu Mama,"
"Iya Ma, Mama juga,"
"Ya sudah, Mama pulang dulu ya, Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam, hati hati Ma."
Putri langsung menutup kaca mobilnya itu, dirinya langsung memerintahkan sopirnya untuk melaju pergi dari rumah anak anaknya itu. Nadhira melambaikan tangannya ketika melihat mobil yang dinaiki oleh Putri pergi menjauh dari halaman rumahnya.
"Rifki," Mendadak rasa khawatir langsung menyelimuti hati dan pikirannya.
Nadhira menepis pikirannya itu karena dirinya tidak mau memikirkan hal yang buruk, Nadhira langsung bergegas masuk kedalam kamarnya dengan membawa beberapa bungkus makanan yang telah ia beli bersama Putri sebelumnya.
Sesampainya didalam kamarnya, Nadhira langsung menaruh makanan yang ia beli diatas meja yang ada didalam kamarnya itu. Nadhira langsung mengeluarkan sekotak salad buah yang dirinya beli sebelumnya. Nadhira langsung memakannya dengan lahap karena itulah makanan kesukaanya, Nadhira sangat menikmatinya.
Nadhira pun menghabiskan salad buahnya itu, ia langsung membereskan mejanya ketika selesai makan. Dirinya tidak sengaja melihat sebuah kertas yang ditaruh oleh Rifki sebelumnya itu, Nadhira langsung mengambilnya.
"Eh, kertas apaan ini? Aku tidak ingat pernah menulisnya, apa ini tulisan dari Rifki?"
Nadhira langsung membuka kertas tersebut, dengan perlahan lahan dirinya mulai membaca tulisan yang ada didalam kertas itu. Mendadak raut wajahnya berubah menjadi cemas setelah membacanya, ia langsung bangkit dari duduknya.
"Bi Sari! Bi Sari!" Teriak Nadhira sambil berlari turun dari tangganya.
Bi Sari yang tengah membersihkan dapurnya itu pun langsung bergegas untuk menyahuti panggilan dari Nadhira, ia langsung menemui Nadhira yang tengah memanggilnya berkali kali itu.
"Ada apa, Non?" Tanya Bi Sari.
"Rifki dimana?" Tanya Nadhira dengan paniknya.
"Tadi keluar Non, ngak tau keluarnya kemana," Jawab Bi Sari yang ikut panik.
Nadhira langsung bergegas untuk menelpon Rifki akan tetapi panggilannya tidak dijawab oleh Rifki. Hal itu membuatnya semakin cemas, ia kembali kekamarnya untuk bersiap siap hendak pergi sambil terus menghubungi nomor ponsel Rifki.
__ADS_1
Ketika sampai dikamar, dirinya mendengar suara nada dering ponsel Rifki. Ia langsung mencari dimana ponselnya itu berada, dan dirinya menemukan ponselnya tengah berada diatas kasurnya. Nadhira mengenggam erat ponsel tersebut dengan khawatirnya.
"Rifki kemana? Kenapa dia tidak membawa ponselnya sih! Apa jangan jangan karena surat ini?"
Nadhira pun langsung memencet ponselnya untuk mencari nama Haris disana, ketika sudah menemukan dirinya pun langsung menghubungi nomor tersebut, tak beberapa lama kemudian Haris pun mengangkat telponnya itu.
"Halo ada apa, Nak?" Ucap Haris dari seberang telponnya itu.
"Papa baik baik saja kan?" Tanya Nadhira gelisah.
"Papa baik kok, ada apa? Kenapa gelisah seperti itu?"
"Pa, aku menemukan sebuah surat ancaman dirumah, aku takut kalo Rifki dijebak, Papa segera kemari ya," Ucap Nadhira panik.
"Apa! Kamu tenang saja, Papa akan kesana sekarang, jangan bertindak sebelum Papa datang ya!" Sentak Haris dan langsung mematikan sambungan telponnya itu.
Nadhira pun menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dengan pandangan yang kosong, ia sangat khawatir dengan Rifki yang pergi entah kemana. Tangisannya mulai terdengar menggema dikamarnya itu, Rifki tidak membawa ponselnya membuatnya semakin gelisah dan panik.
Telah cukup lama Nadhira menunggu kedatangan Haris, akhirnya Haris datang bersama dengan Aryabima kerumah itu. Nadhira pun berlinangan air mata ketika melihat kedua orang yang ada didepannya itu, Nadhira mendekat kearah mereka dengan isak tangisnya.
"Pa, Rifki pergi entah kemana, aku ngak tau," Ucap Nadhira dengan air mata yang terus bercucuran.
"Apa dia sama sekali tidak pamit, Nak?" Tanya Aryabima kepada Nadhira.
"Ngak, dia bahkan tidak membawa ponselnya, Kek. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia,"
"Coba Papa lihat suratnya,"
Nadhira lalu menyerahkan lipatan kertas yang ia bawa dan dia berikan kepada Haris. Haris mengerutkan keningnya ketika membaca surat tersebut, begitupun dengan Aryabima yang ikut serta membacanya.
"Ini tidak benar, ini jebakan," Guman Haris.
"Mungkin ada yang sengaja menjebak Rifki, kita harus segera mencari Rifki," Ucap Haris.
"Iya Yah, kita datangi saja alamat ini, mungkin Rifki sedang menuju ketempat ini,"
"Baiklah, ayo berangkat,"
"Dhira ikut!" Seru Nadhira.
"Kamu dirumah saja, Nak. Biar Papa dan Kakek yang mencarinya, Papa ngak mau kamu kenapa kenapa nantinya." Putus Haris.
"Ngak mau, Pa. Pokoknya Dhira mau ikut mencari Rifki, Dhira ngak mau diam saja dirumah sementara Rifki dalam bahaya disana,"
"Dhira dengarkan Papa, ini sangat berbahaya, Nak. Bagaimana kalau kamu kenapa kenapa disana? Sebaiknya kamu dirumah saja, menunggu kabar dari Papa nantinya dan nanti datang bersama anggota Gengcobra,"
"Pa, Dhira tidak takut dengan bahaya. Dhira sudah biasa menghadapi bahaya selama ini, biarkan Dhira ikut bersama kalian, Dhira mohon,"
"Tidak, Papa tidak mengizinkannya. Justru nyawamu yang akan dalam bahaya jika ikut, kamu dirumah saja dan tunggu kabar dari Papa,"
Haris memang tidak suka dibantah, ia melakukan ini hanya untuk Nadhira. Sebelum Haris berangkat kerumah Nadhira, Putri mengatakan kepadanya bahwa Nadhira tengah hamil saat ini sehingga hal itulah yang membuat Haris melarang dengan tegas untuk Nadhira ikut bersamanya.
"Pa, Dhira mohon,"
"Ngak, jangan membantah ucapan Papa!" Sentak Haris kepada Nadhira.
Haris dan Aryabima langsung bergegas keluar dari kamar Nadhira, Nadhira pun mengejar keduanya akan tetapi Haris langsung menutup pintu kamar Nadhira dan menguncinya dari luar sehingga Nadhira tidak bisa keluar dari ruangan itu.
"Pa!! Bukain pintunya! Dhira ingin ikut"
Nadhira terus berteriak meminta Haris untuk membuka pintu kamarnya itu, akan tetapi Haris sama sekali tidak mempedulikan teriakannya itu. Didepan pintu kamar Nadhira sudah terdapat banyak anggota Gengcobra yang tengah berkumpul.
"Sebagian dari kalian, jaga Nadhira dengan baik disini, jangan biarkan dia keluar dari kamar ataupun siapapun yang ingin bertemu dengannya. Jika kalian lalai, aku bisa menghukum kalian dengan sadis!" Ucap Haris kepada anggota Gengcobra yang ada ditempat itu.
"Baik Tuan!" Jawab mereka serempak.
"Maafin Papa, Dhira. Papa melakukan ini agar kau dan anak yang ada didalam perutmu baik baik saja, sudah cukup kalian kehilangan anak pertama kalian, dan jangan kehilangan lagi," Guman Haris sebelum dirinya dan Aryabima pergi dari tempat tersebut.
*****
"Ternyata benar, kau pemilik dari keris pusaka xingsi itu. Berani sekali datang kemari sendirian," Ucap seseorang yang berada tidak jauh dari Rifki saat ini.
"Siapa kau? Dimana Papa!" Sentak Rifki.
Kini Rifki berdiri didepan beberapa orang yang sama sekali tidak ia kenali itu. Setelah membaca surat yang ia temukan didalam rumahnya itu, Rifki segera datang ketempat yang dimaksud didalam surat itu tanpa membawa anggota Gengcobra karena dirinya sendiri yang panik saat itu.
Didalam surat itu tertuliskan:
Nyawa Haris berada didalam genggaman tanganku, jika kau menginginkan dia selamat maka temui aku segera dihutan dekat mawar merah, tempat dimana goa Kian Jayaningrat berada. Segera datang atau kau akan menyesal nantinya, nyawa Ayahmu tidak akan bisa kembali. Rifki Chandra Abriyanta
__ADS_1
"Papamu sudah mati!" Seru lelaki itu.
"Kau!"