Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Cerita masa kanak kanak Rifki


__ADS_3

Nadhira segera bergegas menuju keruang tamu untuk menemui orang orang yang datang itu, melihat kedatangan Nadhira membuat mereka semua langsung berdiri dan membungkukkan kepala didepan Nadhira, kata pemilik yayasan keluarga itu sangat galak dan kejam.


Nadhira memperhatikan satu persatu wajah yang menunduk tersebut dengan seksama, ia mencoba untuk membaca karakter dari mereka, akan tetapi sepertinya mereka sangat takut dan gelisah saat ini ketika pandangan Nadhira terarah kepada mereka cukup lama.


"Tidak perlu terlalu sopan seperti itu, tolong perkenalkan nama kalian" Ucap Nadhira.


"Nama saya Nanik" Ucap seorang perempuan yang tubuh sedikit pendek dan gemuk.


"Nama saya Siti" Ucap seorang perempuan yang tubuhnya tinggi akan tetapi sangat kurus.


"Nama saya Irvan" Ucap seorang lelaki yang postur tubuh sedikit besar.


"Nama saya Dewi" Ucap seorang perempuan yang tubuhnya sedikit gemuk dan memiliki rambut kriting.


"Nama saya Joko" Ucap seorang lelaki yang memiliki tubuh tinggi akan tetapi kurus.


"Nama saya Ani" Ucap seorang perempuan yang tubuhnya kurus dan pendek.


Nadhira mengangguk anggukkan kepalanya, dirinya mencoba untuk mengingat ingat nama mereka semua, agar dikemudian hari dirinya tidak salah untuk memanggil mama seseorang.


"Baiklah, kalian bisa mulai berkerja besok dan sekarang kalian harus istirahat dulu, untuk selebihnya biar Bi Sari yang akan memberitahu kalian, hal apa saja yang tidak boleh dilakukan disini"


"Iya Nona Muda" Ucap Bi Sari.


"Bi Sari tolong tunjukkan kamar mereka, untuk yang lelaki dikamar luar bersama dengan Pak Santo dan Pak Mun"


"Siap laksanakan tugas Nona Muda"


"Baik Nona Muda" Jawab mereka serempak.


Nadhira segera bergegas untuk kembali kekamarnya, ia benar benar merasa bosan saat ini karena tidak adanya Rifki dirumah tersebut, sementara Bi Sari langsung membawa para wanita tersebut untuk menuju kekamarnya.


"Apakah disini majikannya jahat jahat Mbak? Semuanya harus tepat dan ngak boleh ada kesalahan apapun" Tanya Bi Ani kepada Bi Sari.


"Kata siapa?" Tanya Bi Sari dengan memincingkan sebelah matanya.


"Pemilik yayasan"


"Kalian belom mengenal saja, yang harus kalian waspadai adalah suaminya majikan perempuan itu, tapi tenang saja kalian pasti betah kok disini"


"Dia sudah menikah Mbak? Wajahnya masih imut imut aku kira tadi dia anaknya majikan disini"


"Sudah tiga minggu yang lalu nikahnya, oh iya disini ada empat orang, mereka sepasang kekasih, wanita yang satunya sekarang sedang mengandung, mungkin lagi dikamarnya sekarang, kalo kalian butuh apa apa bilang ke saya, nanti saya akan laporan ke Nona Muda"


"Baik Mbak".


"Kami seluruh pembantu disini sangat menyayangi Nona Muda, jangan sampe kalian membuat kesalahan apapun atau Tuan Muda disini akan sangat marah kepada kalian, untuk tugas kalian nanti akan ku tanyakan pada Tuan Muda"


"Baik Mbak"


"Ya sudah, istirahat dulu, Nona Muda meminta kalian untuk istirahat karena dia tau kalian pasti kelelahan selama berada diperjalanan untuk datang kemari"


*****


"Aku bosan, sangat sangat bosan" Keluh Nadhira dibalkon kamarnya.


Klunting..


Tiba tiba telpon Nadhira berbunyi pertanda ada yang mengirim sebuah pesan kepadanya, wajahnya mulai terlihat cerah lagi ketika membaca nama siapa yang tertera disana, ya pesan dari Rifki.


"Iya ya aku tau kamu bosan, sudah jangan teriak teriak seperti itu, salad buahnya dimakan, jangan lupa sholat dhuhur juga, aku nanti pulang habis magrib ya sayang, jaga kesehatannya sayang, i love you" Isi pesan dari Rifki.


Seketika pesan tersebut langsung membuat Nadhira bahagia, bagaikan diterpa angin begitu sejuk hingga membuatnya merasa sangat bahagia mendadak, wajah yang semula ditekuk itu pun langsung menciptakan sebuah senyuman yang sangat cerah.


"Tau aja nih suami kalo aku bosan dirumah" Guman Nadhira.


"Ayu akan datang kesitu, menemanimu biar ngak bosan lagi" Pesan susulan dari Rifki.


"Ayu sendirian sayang?" Balas Nadhira.


"Ngak, sama Mama dan Papa, katanya pengen lihat cucu mereka" Balas Rifki.


"Diperutku belom ada anakmu"


"Hahaha.... Nanti juga ada sayang"


Setelah cukup lama berbalasan pesan dengan Rifki, Rifki pun kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Nadhira tak henti hentinya untuk terus tersenyum, tiba tiba bel rumah Nadhira berbunyi akan tetapi dirinya tetap dikamarnya.


"Kakak cantik!" Teriak Ayu yang langsung menyerobot masuk kedalam rumah itu segelah Bi Sari membukakan pintu untuk mereka.


"Ay jangan lari lari seperti itu, nanti jatoh loh" Teriak Putri yang melihat anak perempuannya itu berlarian.

__ADS_1


"Biarin saja Dek, namanya juga anak kecil" Sela Haris.


"Ayu sudah besar Pa!" Teriak Ayu sambil berlari melewati tangga.


Melihat itu membuat Haris hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya saja, ia pun mengerahkan beberapa bingkisan yang ia bawa sebelumnya kepada Bi Sari dan langsung diterima oleh Bi Sari.


"Itu snack dan buah buahan untuk Nadhira, masukkan saja ke lemari es, kalo dia ingin makan cuci dulu buahnya sampe bersih"


"Baik Tuan"


"Oh iya, aku dengar ada pembantu baru ya, dimana mereka?"


"Ada dikamar belakang Tuan, sedang istirahat, Nona Muda yang meminta mereka untuk istirahat".


"Ini ada makanan, kalian makan bersama sama, aku mau menemui memantuku dulu" Ucap Putri sambil menyerahkan sekantung makanan.


"Terima kasih Nyonya"


Putri hanya mengangguk kepada Bi Sari, dirinya pun langsung bergegas menuju kekamar atas untuk menemui Nadhira yang katanya Rifki sedang mengeluh bosan karena Rifki yang beberapa kali menelpon dirinya untuk datang kerumah menemani Nadhira yang ada dirumah.


"Nak" Ucap Putri sambil membuka pintu kamar Nadhira.


Putri melihat Nadhira yang tengah asik mengobrol dengan Ayu, entah apa yang sedang keduanya obrolkan itu, Ayu tengah menceritakan tentang kesehariannya dirumah dan disekolah kepada Nadhira, dan Nadhira menanggapi setiap ceritanya dengan antusias.


"Mama" Ucap Nadhira yang langsung bangkit dari duduknya dan langsung mencium tangan Putri.


"Kenapa mengeluh bosan dirumah Nak?"


"Ngak tuh Ma, pasti Rifki yang ngadu aneh aneh deh sama Mama" Ucap Nadhira tampak tersipu malu.


"Ngak, dia ngak ngadu kok, Mama sama Papa dan Ayu kemari untuk melihat kondisimu Nak" Ucap Putri beralasan.


"Kakak cantik, tadi Mama sama Papa bawain makanan yang banyak untuk Kakak" Ucap Ayu yang masih duduk ditempatnya saat ini.


"Makasih ya Ma, oh iya Papa dimana?"


"Dia... Lagi ngodain pembantu barumu Nak, Mama belom sempat melihat mereka"


"Mama bisa aja, mana mungkin Papa seperti itu"


"Sudah nikah dia"


"Hah!"


"Mama hampir membuat Dhira jantungan saja"


Keduanya pun tertawa bersamaan, Putri sudah menganggap Nadhira sebagai anaknya sendiri, karena Nadhira adalah pilihan dari anaknya, meskipun berbagai macam mereka ingin memisahkan keduanya akan tetapi cinta mereka tidak akan pernah bisa hilang.


"Mama dulu ngidam apa? Kok bisa memiliki anak seperti Rifki, udah baik hati, penyayang, bijaksana dan paket lengkap deh"


"Hem.... Ngidam apa ya? Mama lupa deh kayaknya"


"Bagi resep dong Ma"


"Dulu Mama sukanya lihat film film luar gitu, kan aktornya ganteng ganteng tuh, nah jadinya Rifki ganteng kayak mereka, terus suka banget ngangguin Papamu, sampe sampe sembunyi diketiaknya"


"Aneh banget ya Ma"


"Kau belum merasakan hamil Nak, kali aja nanti bakalan lebih aneh daripada Mama, dan akhlak seorang anak tergantung didikan orang tuanya Nak, oh iya kata Rifki kalian mau ngadain acara pernikahan? Kapan itu?"


"Rencananya sih Ma, tapi terserah Rifki saja Ma kalo soal itu, oh iya Ma, dulu waktu masih bayi Rifki seperti apa Ma?"


"Mau tau aja atau mau tau banget nih"


"Mau tau banget Ma"


"Waktu kecil Rifki itu sangat nakal sekali, benar benar nakal, sukanya menyusahkan orang tapi Ayah Arya selalu saja membela anak itu, setiap Mama dan Papa marah kepada Rifki, Ayah Arya selalu membawanya pergi, pulang pulang sudah dapat makanan tuh dua kantong platik sekalian"


"Dia suka jajan Ma?"


"Bukan suka lagi Nak, tapi suka banget, tapi sejak umur 3 tahun dia tidak pernah diberi uang sama Mama, Papa ataupun Ayah Arya"


"Kenapa Ma?"


"Dia dilatih untuk mandiri Nak, ini semua ide dari Ayah Arya sendiri"


"Masih usia 3 tahun sudah dilatih mandiri Ma?"


"Iya, bahkan dilatih langsung oleh Ayah Arya sendiri, dirinya pernah tinggal di Surya Jayantara juga sampai dirinya masuk kesekolah TK Nak, dan berbaur dengan anak anak seusianya disana, dia dijauhkan dari kedua orang tuanya dan kami sama sekali tidak boleh menemuinya walaupun hanya sebentar saja, entah kesulitan kesulitan apa yang dialami oleh Rifki saat itu, kami tidak tau"


"Jadi sejak kecil dirinya sudah tersiksa Ma? Lalu setelah dari Surya Jayantara apakah dia diizinkan pulang Ma?"

__ADS_1


"Tidak pernah diizinkan pulang, dia tinggal di markas Gengcobra dan sudah dilatih beladiri diusia dini, dia pulang hanya disaat Mama melahirkan Ayu"


"Betul tuh Kakak cantik, Ayu saja sampe ngak kenal siapa Kakak Ayu sendiri itu, tapi dia sangat hangat jadi Ayu betah jika bersamanya, Ayu merasa beruntung memiliki Kakak seperti itu" Tambah Ayu.


"Jadi selama ini Rifki tidak pernah dirumah? Dulu waktu sekolah dasar, dia sering mengangguku Ma, bahkan aku sampe nangis dibuatnya"


"Kau satu satunya gadis yang menarik perhatiannya sejak kecil Nak, dia tidak pernah melakukan itu kepada yang lainnya, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya sejak kecil, dan itu membuat sedikit keras kepala"


"Mama, Ayu kebawah dulu ya, Ayu mau lihat televisi" Ucap Ayu yang merasa bosan mendengar keduanya bercerita.


"Iya Nak" Jawab Putri dan langsung dibalas anggukan oleh Ayu, Ayu pun bergegas pergi dari tempat itu.


Putri tersenyum sendiri ketika mengingat masa kecil Rifki yang sudah dipisahkan darinya sejak usia 3 tahun, dirinya hanya mendapatkan kabar dari Aryabima tentang perkembangan dari Rifki akan tetapi dirinya sama sekali tidak diperbolehkan untuk menjenguknya.


Ketika Putri rindu dengan Rifki, Aryabima hanya mengirim sebuah foto Rifki saja, Aryabima benar benar mendidik Rifki dengan tegas, entah pelatihan seperti apakah yang dialami oleh Rifki selama ini.


"Kamu masih ingin tau bagaimana masa kecil Rifki?"


"Iya Ma"


"Mama akan ceritakan, bagaimana kerasnya Ayah Arya terhadap Rifki"


Putri pun mengajak Nadhira untuk duduk dibalkon kamar Nadhira sambil menikmati sejuknya udara disiang itu, karena rumah Nadhira yang dipenuhi oleh pepohonan membuat udara disana nampak begitu sejuk apalagi didekat balkon Nadhira ada sebuah pohon mangga yang cukup besar.


*Flashback on*


Sejak kecil Rifki selalu membuat Putri kesusahan karena Rifki sering mengadu kepadanya tentang mahluk mahluk halus yang dia lihat, Rifki memiliki indra keenam yang terbuka sehingga dirinya bisa melihat hal hal gaib yang ada disekitarnya.


Rifki bahkan sering berbicara sendiri dan hal itu membuat Putri merasa sedikit merinding jika berada didekat Rifki, dan sikap akal Rifki sampai sampai membuat mereka kewalahan karena akan ada hal yang selalu dibuat mainan olehnya itu.


"Ayo ucapkan selamat tinggal kepada kedua orang tuamu" Ucap Aryabima.


"Kita mau kemana Kek? Rifki masih mau tinggal bersama Mama sama Papa" Ucap Rifki kecil.


"Rifki ikuti Kakek, masa depanmu masih panjang Nak, jangan membantah Kakek, Kakek tidak suka itu"


"Rifki ngak mau Kek"


"Ayah, biarkan dia tinggal disini beberapa hari lagi ya, aku tidak tega melihat Rifki seperti ini" Ucap Putri memohon kepada Aryabima.


"Sampai kapan kau tidak tega seperti itu, tanggung jawab Rifki sangat besar nantinya, apa kau ingin Rifki kesusahan dimasa depan? Jika sampai mereka tau bahwa Rifki adalah anak kalian maka sama saja dengan menyerahkan nyawa anak kalian sendiri, aku tidak ingin keturunan dari Pangeran Kian mati sia sia, takdir Rifki begitu berat nantinya dan dia harus menghancurkan keris pusaka xingsi" Omel Aryabima.


"Rifki tidak mengerti Kek, tinggal dibanting saja keris itu nantikan hancur sendiri, kenapa harus menunggu Rifki dewasa" Rifki hanya menatap bulat kearah Aryabima yang sedang memarahi Mamanya.


"Belum saatnya kamu mengerti Nak, suatu saat nanti kau akan mengerti dengan sendirinya"


"Tapi Rifki ngak mau pergi sama Kakek, Rifki maunya sama Mama sama Papa" Terlihat setitik air mata diujung mata indahnya itu.


"Cepat pamitan sama mereka"


"Ngak mau! Kakek jahat!"


"Rifki dengarkan Kakek ya, kamu harus nurut sama Kakek, semua ini demi kebaikanmu Nak" Ucap Haris sambil membelai rambut Rifki.


"Papa ingin Rifki pergi?"


"Iya, Papa ingin kamu pergi" Ucap Haris dengan tegas kepada Rifki.


"Kenapa Pa? Rifki janji tidak akan nakal lagi, tolong jangan suruh Rifki pergi"


Haris pun berdiri membelakangi tubuh Rifki yang terus memohon mohon kepadanya itu, ia merasa tidak tega dengan anak satu satunya itu, ia pun meneteskan air mata akan tetapi air matanya itu tidak dilihat oleh Rifki.


"Bawa dia pergi dari sini sekarang Ayah" Ucap Haris tanpa menoleh kearah Rifki lagi.


"Mama tolongin Rifki, Rifki tidak mau pergi sama Kakek, Ma tolong"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai kak, kali aja berkenan untuk mampir dinovel temenku yang ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya :v heppy reading


Blurb :


Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.


Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.


Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.


Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.


Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?

__ADS_1


Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?



__ADS_2