Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira atau bayinya


__ADS_3

Rifki lalu menggendong tubuh Nadhira dan mengeluarkannya dari dalam mobil, ia lalu membaringkan tubuhnya diatas bangkar yang telah disediakan untuk Nadhira sebelumnya dengan perlahan lahan.


"Tolong selamatkan istri saya" Ucap Rifki.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin"


Mereka lalu membawa Nadhira masuk kedalam UGD dan langsung diikuti oleh Rifki dan Bayu, seorang Dokter wanita pun langsung memeriksa keadaan Nadhira, ia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa kondisi janin yang ada diperut Nadhira sama sekali tidak meresponnya.


"Kita harus segera melakukan operasi, untuk mengangkat janin ini, kami meminta persetujuan dari anda Pak" Ucap Dokter tersebut kepada Rifki.


"Apa tidak ada cara lain selain itu Dok? Tolong selamatkan keduanya" Ucap Rifki.


"Jangan lakukan itu! Aku tidak mau anakku kenapa kenapa" Teriak Nadhira histeris.


"Tidak ada pilihan lain Pak, jika janin itu tidak diangkat maka Ibunya tidak bisa diselamatkan, mungkin ini pilihan yang sulit, antara anaknya atau ibunya"


Mendengar itu membuat hati Rifki terasa sakit, dimana dirinya dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit baginya, menyelamatkan Nadhira ataukah anak yang ada didalam kandungan Nadhira saat ini, suara teriakan Nadhira semakin menyiksa perasaannya yang berkecamuk.


"Baiklah, lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya Dok, tolong selamatkan istri saya Dok" Ucap Rifki dengan linangan air mata.


"Tidak Rif! Kau harus menyelamatkan anak kita hiks.. hiks.. jangan lakukan itu, aku mohon" Teriak Nadhira yang tidak setuju dengan keputusan Rifki.


"Maafkan aku Dhira, maafkan aku" Air mata Rifki tak lagi dapat dibendung.


"Aku mohon selamatkan anak kita Rif, biarkan dia melihat dunia hiks.. hiks.. hiks.. dia tidak bersalah, kenapa kau menginginkan dia mati, tolong Rif jangan lalukan itu aku mohon kepadamu"


"Maafkan aku Dhira, aku tidak mau kehilangan dirimu sayang, maafkan aku"


"Kalo begitu tolong tanda tangani berkas ini Pak, agar kami bisa segera melakukan tindakan operasi itu" Ucap Dokter tersebut dan langsung memberikan sebuah map dan pena kepada Rifki.


"Tidak Rif, jangan lakukan itu aku mohon kepadamu, nyawa anak kita lebih berharga Rif, jangan tanda tangani itu, kau sama saja membunuh anak kita!"


"Maafkan aku Dhira, aku tidak bisa melihatmu tiada, kau sangat berarti bagiku"


"Kau jahat Rif! Aku benci denganmu! Aku sangat membencimu!"


Rifki mengenggam erat pena yang ada ditangannya itu, tanpa berlama lama lagi ia pun menandatangani berkas tersebut dengan berat hati, teriakan memilukan dari Nadhira membuatnya sangat berat untuk melakukan itu, tapi dia tidak bisa kehilangan sosok Nadhira secepat ini.


"Tidak!!!" Teriak Nadhira ketika melihat Rifki mulai menandatangani berkas tersebut.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok, saya akan membayar berapapun asalkan istri saya selamat" Ucap Rifki seraya menyerahkan berkas tersebut.


"Aku membencimu Rifki! Kau telah membunuh anakku hiks.. hiks.. hiks.. aku tidak akan pernah memaafkan dirimu, aku benci!" Nadhira pun terus memberontak dengan tangan terkepalkan.


Nadhira tidak membiarkan seorang suster untuk menyuntik dirinya karena ia yakin bahwa jika dirinya terkena suntikan itu maka nyawa dari anaknya punya akan melayang saat itu juga dan hal itu membuat pihak rumah sakit kesusahan.


Melihat itu pun membuat Rifki langsung menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Nadhira agar suster dapat melakukan tindakan lanjutan untuk Nadhira, mendapatkan pelukan dari Rifki membuat Nadhira terus terusan memukul tubuh Rifki agar Rifki segera melepaskannya.


Rifki sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini, bukan hanya karena pukulan Nadhira akan tetapi juga karena luka jahitan yang ada dipunggungnya, isakan tangis mulai terdengar dari mulut Rifki yang sedang memeluk Nadhira itu.


Nadhira terus menerus memukul Rifki agar Rifki menjauh dari tubuhnya itu, ia sangat marah dengan Rifki karena keputusan yang telah ia ambil tersebut tanpa memikirkan tentang perasaannya, kehilangan anak yang didalam kandungan itu sangat menyakitkan baginya.


"Maafkan aku sayang, aku tidak mau kehilanganmu, tolong mengertilah Dhira, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu, maafkan aku" Ucap Rifki ditelinga Nadhira dengan terisak.


"Kenapa kau harus membunuh anak kita Rif, biarkan dia melihat dunia, ini sama sekali ngak adil baginya, dia adalah anak kita berdua, kenapa kau tega melakukan ini kepadanya? Kenapa Rif? Kenapa?"


"Aku tidak punya pilihan lain Dhira, aku tidak mau kehilangan dirimu secepat ini, aku tidak mau"


"Aku membencimu Rif, sangat sangat membencimu sekarang, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu sampai kapanpun itu, kau telah membunuhnya, buah hati kita yang tidak berdosa"


"Maafkan aku sayang, maafkan aku, kau harus selamat Dhira, aku tidak mau kehilanganmu begitu saja, aku tidak mau"


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Rif, kau jahat! Aku benci denganmu, aku tidak mau hidup lagi tanpa anakku, aku benci, aku sangat membencimu Rifki, aku tidak mau hidup lagi"

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku Dhira, aku mohon kepadamu, kau harus baik baik saja demi diriku, aku tidak mau kehilanganmu Dhira"


"Aku tidak mau hidup tanpa anakku, kau jahat, kau menginginkan anakku mati, aku membencimu Rif, sangat membencimu"


"Maafkan aku Dhira, aku egois untuk kali ini"


"Hiks.. hiks.. hiks.. kau jahat kepadaku Rif, aku tidak mau melihatmu lagi, aku membencimu Rif, sangat membencimu" Ucapan itu sangat menyiksa bagi Rifki yang kini tengah memeluknya.


"Dhira mengertilah perasaanku saat ini"


"Kau sendiri tidak pernah mengerti aku Rif, anak yang selama ini aku jaga dengan baik, kau tega membunuhnya begitu saja"


"Ini demi kebaikanmu Dhira, kau harus baik baik saja"


"Kebaikan apa yang kau maksud, kau membunuhnya disaat dia belom bisa melihat dunia"


Nadhira pun merasakan jarum suntik menusuk kulit tangannya, cairan itu pun langsung membuat kepala Nadhira terasa pusing dan berat, pandangannya mulai berkunang kunang saat ini.


"Aku membencimu Rifki" Ucap Nadhira sebelum dirinya benar benar tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


"Dhira..."


Perlahan lahan tubuh Nadhira pun terkurai lemah diatas bangkar rumah sakit, melihat itu pun membuat Rifki melepaskan pelukannya dari tubuh Nadhira dengan sangat berat, Rifki menatap sekilas kearah Nadhira yang memejamkan matanya sebelum pihak rumah sakit membawanya masuk kedalam ruangan operasi.


"Tolong lalukan apapun yang terbaik untuk istri saya Dok, saya akan membayar berapapun itu asalkan istri saya baik baik saja" Ucap Rifki.


"Kami akan berusaha semampu kami, selebihnya hanya Allah yang bisa menyelamatkannya, berdoalah kepada-Nya agar operasi yang akan ia jalani lancar dan dia bisa diselamatkan"


"Saya akan selalu berdoa Dok, tolong selamatkan nyawanya Dok"


Para perawat itu pun langsung menutup pintu ruangan operasi tersebut, sementara Rifki masih berdiri didepan pintu ruangan tersebut, dari kejauhan terlihat Bayu tengah berdiri menatap kearah sahabatnya itu dengan adanya air mata diujung pelupuk matanya.


*****


Kini Rifki beserta inti Gengcobra tengah menunggu operasi Nadhira berjalan didepan ruangan operasi tersebut, Rifki tampak melamun disepanjang jam dan dirinya sama sekali tidak mau diganggu oleh siapapun dan lebih memilih untuk duduk sendirian.


Dikejauhan darinya pun terdapat kedua orang tua Rifki beserta Kakeknya yang senantiasa menunggu operasi tersebut selesai dilaksanakan, Putri bersandar dipundak suaminya dengan linangan air mata yang terus mengalir.


Tak beberapa lama kemudian pintu ruang operasi tersebut dibuka, terlihat seorang suster cantik membuka ruangan tersebut dan diikuti oleh seorang Dokter keluar dari sana, melihat itu membuat Rifki segera bangkit dari duduknya dan mendekat kearahnya.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tanya Rifki dengan nada bergetar seakan akan dirinya menahan sebuah kesedihan yang mendalam.


"Alhamdulillah operasinya berhasil, karena pasien yang hanya memiliki satu ginjal membuat kami tidak tau kapan dia akan sadar, kami akan memindahkan ke ruang ICU, tapi maaf anak yang ada didalam kandungannya harus tiada"


Seketika itu juga air mata Rifki menetes dengan derasnya, anak yang selama ini ia nanti nantikan itu pun telah tiada, mendengar itu membuat kedua orang tua Rifki lalu mendekat kearah anaknya untuk menenangkan lelaki itu.


"Ya Allah, kenapa ini harus terjadi, dimana jenazah anak saya Dok"


Dokter pun mempersilahkan Rifki untuk masuk kedalam ruang operasi itu seorang diri, Rifki pun memakai sebuah APD ( Alat Pelindung Diri ) sebelum memasuki ruangan tersebut.


Tubuh Rifki tanpak begitu lemah ketika melihat Nadhira yang terbaring didalam sana dengan begitu banyak selang dan alat alat medis lainnya yang terpasang pada tubuhnya itu, ia pun mendekat kearah box bayi yang tidak jauh dari tempat dimana berdiri, tempat dimana anaknya yang sudah tidak bernyawa berada.


Disana ada seorang bayi kecil yang tidak bersalah dan berbalutan dengan selimut, tubuhnya bergetar hebat ketika melihatnya hingga terdengar suara isakan lirih tapi penuh dengan kesedihan dari mulut Rifki saat ini.


"Anakku" Hanya ucapan itu yang dapat terdengar dari mulutnya lirih.


Rifki pun mendekat kearah Box bayi tersebut untuk melihat bayi mungil yang tidak berdosa tersebut, bayi itu sangat kecil dan masih merah, Rifki pun tidak tega melihatnya hingga membuat air matanya terus berjatuhan disana.


"Anakku sudah tiada"


Tangannya gemetaran ketika menyentuh box bayi tersebut, tak kuasa untuk menahan air matanya lagi, dadanya merasa sesak ketika memandangi tubuh mungil yang tidak bernafas itu, sakit hatinya yang ia rasakan saat ini, dan juga tubuhnya yang terlihat lemas setelah melihat bayi itu.


"Maafkan Papa Nak, maafkan kelalaian Papa hingga membuatmu harus tiada sebelum dapat melihat indahnya dunia, syurga tempat terbaikmu Nak, maafkan Papa ya"

__ADS_1


Rifki tak kuasa menahan air matanya yang terus berjatuhan itu, wajah Rifki pun memerah dengan penuh keringat yang membasahi tubuhnya karena menangis, karena lamanya menangis membuat wajah lelaki tersebut pun memerah.


"Maafkan aku sayang, mungkin keputusanku akan membuatmu membenciku, tapi aku tidak mau kehilanganmu Dhira, maafkan aku" Ucap Rifki sambil menatap kearah Nadhira yang terbaring lemah.


Kedua orang tua Rifki langsung mengurusi kematian anak Rifki tersebut sehingga Rifki langsung diperbolehkan untuk membawa bayi tersebut pulang untuk segera dimakamkan, sementara itu Nadhira langsung dipindahkan diruang ICU.


Rifki mendekap tubuh bayinya dengan berbalutkan selimut tersebut didadanya, dirinya berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan diikuti oleh Bayu dan Reno dibelakangnya, wajah lelaki itu nampak kelelahan dan kedua matanya pun terlihat sangat sayup memandang lurus kedepan.


Pandangan Rifki seakan akan kosong, dia harus menerima kenyataan bahwa anaknya yang selama ini dirinya nanti nantikan itupun sudah tiada, Bayu yang ada dibelakangnya itu pun mampu merasakan kesedihan yang dialami oleh Rifki.


*****


Rifki dan anggota Gengcobra kini tengah memakamkan bayi tersebut, terlihat Rifki begitu terluka saat ini karena pandangannya seakan akan memandang kekosongan yang ada didepannya itu, seakan akan gairah untuk terus hidup sudah lenyap dari tubuhnya itu.


Bayi mungil tersebut dimakamkan disebelah Theo, nampaknya anggota Gengcobra telah selesai memakamkan almarhum Theo dan anggota Gengters lainnya yang telah tiada, Rifki menatap nanar kearah makam anaknya itu dan bergantian menatap kearah makam Theo.


"Maafin Papa Nak, Theo tolong jaga anakku disana ya, maafkan aku yang tidak bisa menjaganya dengan benar, kau pasti sangat marah kepadaku saat ini karena aku tidak bisa menjaga anakku dengan baik, maafkan aku" Ucap Rifki sambil berlutut didepan makam Theo dan anaknya.


Rifki pun tak henti hentinya untuk mengucapkan kata maaf kepada kedua makam tersebut, ia pun tak lupa untuk mendoakan keduanya agar bahagia di syurga-Nya, melihat Rifki yang tak kunjung bangkit dari berlututnya itu membuat Bayu mendekat kearahnya dan menepuk dua kali pundaknya.


"Rifki jangan terlalu larut dalam kesedihan , aku tau apa yang kau rasakan saat ini Rif, kau harus kuat demi Nadhira yang ada dirumah sakit, jika kau lemah lalu bagaimana bisa Nadhira kuat? Kaulah satu satunya kekuatan yang dia miliki Rif, kau harus bangkit demi dirinya" Ucap Bayu dan langsung jongkok disamping Rifki.


"Nadhira pasti akan membenciku Bay, membenci keputusan yang telah aku ambil, aku tidak sanggup untuk hal itu"


"Rif aku tau bahwa dia akan membencimu karena kau telah menyelamatkannya bukan bayinya, tapi kau juga harus kuat karena kau adalah kekuatannya sekarang ini"


"Kau benar Bay"


Rifki pun bangkit dari berlututnya diikuti oleh Bayu, tempat itu adalah tanah kosong yang dibeli oleh Bayu untuk pemakaman pribadi anggota Gengcobra dan keluarga besar Rifki, rencananya makam Sarah akan dipindahkan ketempat itu juga.


"Ayo kita kerumah sakit Bay" Ucap Rifki setelah memanjatkan doa untuk semua orang yang dimakamkan ditempat itu.


"Istirahatlah dirumah dulu Rif, kita obati luka dipunggungmu dulu" Ucap Bayu yang melihat bercak darah dibaju Rifki yang sudah mengering.


"Aku ingin menemui Nadhira"


"Nanti Rif, aku tidak mau pemimpin kita kenapa napa, sebaiknya kita obati dulu setelah itu kita kembali kerumah sakit"


"Aku tidak peduli dengan lukaku Bay, itu tidak terlalu sakit daripada perasaanku"


"Rif, kau harus kuat demi Nadhira, dia membutuhkan dirimu untuk selalu menyemangatinya, apa kamu mau jika nanti Nadhira sembuh justru kau yang sakit?"


"Dia membenciku Bay"


"Itu hanya sekedar ucapan yang terlontar dari seorang Ibu yang kehilangan anaknya Rif, dia tidak akan bisa membencimu, kau adalah orang yang paling dia sayangi"


"Dan aku orang yang telah merenggut kebahagian yang ia miliki Bay, aku jahat, aku kejam, dan aku telah membuatnya tersiksa"


"Dibalik cobaan selalu ada hidayah Rif, mungkin sekarang kalian diuji untuk menjemput kebahagiaan yang luar biasa Allah ciptakan untuk kalian suatu saat nanti, kau tidak boleh menyerah begitu saja"


Rifki akhirnya menuruti ucapan Bayu setelah Bayu terus membujuknya, keduanya pun bergegas menuju kerumah Rifki untuk mengantar lelaki itu kerumahnya dan mengobati luka yang ada dipunggungnya itu.


Rifki pun membuka bajunya setelah sampai dikamarnya, Bayu pun membawakan kotak P3K yang ada dirumah tersebut untuk mengobati luka Rifki, ia lalu membuka perban yang ada ditubuh Rifki secara perlahan lahan dan perban tersebut nampak kaku karena darah Rifki yang telah mengering.


"Luka jahitanmu berdarah lagi Rif" Ucap Bayu.


"Bersihkan saja darahnya, setelah itu perban balik" Ucap Rifki dengan dingin.


"Iya Rif"


Bayu pun mengambil sebuah kain lalu dia basahi dengan air dikamar mandi, setelahnya dirinya lalu membersihkan darah yang ada dipunggung Rifki dengan perlahan lahan, setelah terkena air tersebut membuat Rifki merasakan perih dipunggungnya kembali.


Rasa perih itu tidak seberapa daripada rasa sedih yang ia rasakan saat ini, ia seakan akan kehilangan pelita yang selalu menerangi hari harinya, pelita itu kini tengah redup dan jika terkena hembusan angis sedikit pun akan padam.

__ADS_1


Setetes air mata Rifki berjatuhan, ketika dirinya mengingat kembali ucap Nadhira sebelumnya bahwa Nadhira sangat membencinya karena dia telah memisahkan Nadhira dengan anaknya, mungkin akan terlihat seperti Ayah yang kejam akan tetapi dirinya tidak akan sanggup untuk kehilangan Nadhira.


__ADS_2