
Disebuah pemakaman, Rifki tengah terduduk didepan sebuah batu nisan dan pemakaman itu berukuran paling kecil yang ada disana. Dibelakangnya terdapat beberapa anggota Gengcobra, dan juga Vano yang memimpin mereka.
Rifki mengusap batu nisan itu dengan air matanya yang meleleh berjatuhan, dirinya hanya bisa menunduk dihadapannya. Rasa sesak seakan akan menyeruak didalam dadanya, dan terasa begitu banyak penyesalan yang dirinya rasakan.
"Maafin Papa ya, Nak. Papa tidak bisa menjagamu dengan baik, hingga kau harus kehilangan nyawa sebelum sempat melihat indahnya dunia. Papa begitu lemah, bahkan untuk menyelamatkan anaknya sendiri saja Papa tidak mampu melakukan itu untukmu, Nak. Papa menyesal atas kecerobohan yang telah Papa lakukan kepadamu dan Mamamu, Papa begitu bodoh hingga lalai menjaga kalian berdua.
Papa ingin bermain denganmu, Nak. Maafkanlah Papa yang telah membuatmu seperti ini didalam kandungan Mamamu, mungkin ini hukuman untuk Papa yang telah lalai menjaga kalian. Seandainya jika Papa bisa menukar posisi ini, Papa pasti sudah menggantikan dirimu untuk tidur disana, Papa sangat menyayangi kalian lebih dari hidup Papa sendiri.
Sekarang, Papa serahkan penjagaanmu kepada Allah. Penjagaan terbaik untukmu disisi-Nya. Anakku sayang, sekali lagi maafin atas keteledoran Papa ya, Nak? Papa pantas menerima semua kemarahan Mamamu, tapi Papa nggak sanggup jika harus berpisah lama seperti ini. Bahagia disyurga-Nya ya, Nak. Tunggu Papa disana,"
Isakkan lirih pun terdengar dari mulut Rifki, bertapa hancurnya lelaki itu saat ini, hingga membuatnya langsung bersimpuh didepan makam anaknya. Rifki lalu mencium batu nisan itu cukup lama, seakan akan dirinya tengah mencurahkan sebuah kerinduan yang teramat besar.
"Kalian bisa pergi," Ucap Rifki memberi perintah kepada anggota Gengcobra.
"Tapi Tuan Muda, kami diperintahkan untuk menjaga anda," Ucap Vano yang merasa berat jika harus meninggalkan Rifki ditempat itu.
"Kalian tidak perlu menjagaku seperti itu, hidupku tidak akan lama lagi," Ucap Rifki sambil menatap kearah Vano.
"Anda jangan berkata seperti itu, Tuan Muda. Jangan bikin kami khawatir seperti ini, anda tidak boleh kenapa kenapa,"
"Mereka menginginkan nyawaku, Van. Jika aku mati mungkin dendam ini akan segera berakhir, lantas kenapa aku harus terus hidup? Aku sudah kehilangan semuanya, tidak ada lagi harapan yang ada didalam hidupku!" Sentak Rifki.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan anda sampai kapanpun itu, Tuan Muda. Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri, aku ikhlas dengan itu,"
"Bod*h!!!" Rifki lalu bangkit dari duduknya dan langsung mencengkeram erat kerah baju Vano. "Kau melakukan hal yang sia sia, Van. Pergi dari sini, atau aku akan menghajarmu!" Dengan kasarnya Rifki lalu mendorong tubuh Vano.
"Meskipun aku mati saat ini, aku sama sekali tidak menyesalinya, Tuan Muda. Tapi tolong jangan mengusir diriku pergi dari sisi anda,"
"Kau lihat dia!" Rifki pun menunjuk kearah makam Theo yang berada disebelah makam anaknya. "Dia bahkan tidak bisa hidup kembali, Van! Mereka semua telah pergi dan tidak akan mungkin kembali. Apa kau ingin seperti mereka yang mati dengan sia sia karena diriku?"
Vano pun menatap sekitarnya, begitu banyak orang yang telah tiada ditempat itu, bahkan mereka adalah barisan orang orang yang berusaha untuk menyelamatkan Rifki dan Nadhira. Setetes air mata pun mengalir, dapat ia bayangkan bertapa sedihnya lelaki yang ada dihadapannya itu saat ini, dimana orang orang pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
"Aku tidak ingin mencelakakan kalian semua hanya demi melindungi diriku ini, aku hanyalah orang asing bagi kalian, tidak perlu kalian melakukan hal itu untukku."
"Bagiku anda bukankah orang asing, Tuan Muda. Anda sudah seperti saudaraku sendiri, anda selalu ada untukku disaat aku kesusahan. Aku tidak mungkin meninggalkan anda dalam keadaan apapun, hidupku tidak berarti tanpa anda, Tuan Muda."
"Kau sungguh bod*h, Van." Senyuman yang menyedihkan pun muncul diwajah Rifki dengan linangan air mata.
"Aku tidak masalah menjadi bod*h asalkan bisa melindungi anda, Tuan Muda."
Rifki pun menepuk pelan pundak Vano, dirinya merasa bangga dengan anggota inti Gengcobra itu. Akan tetapi, Rifki tidak ingin membahayakan nyawa mereka hanya untuk melindungi dirinya, bersamanya sama saja dengan bermain main dengan nyawa sendiri.
"Nak, Papa pamit pulang dulu, ya? Papa janji kepadamu bahwa Papa akan sering sering datang kemari untuk mengunjungimu," Ucap Rifki dan langsung melangkah pergi dari tempat itu.
"Tuan Muda!"
Vano langsung mengejar Rifki yang telah melangkah pergi dari tempat pemakaman itu, dirinya tidak boleh membiarkan Rifki lepas dari pengawasannya begitu saja. Kondisi Rifki belum sepenuhnya sembuh, dan dikhawatirkan jikalau ada yang ingin mencelakakan dirinya dalam kondisi seperti ini.
*****
"Kenapa kita ketempat ini, Tuan Muda?" Tanya Vano yang kini mereka tengah berada disebuah diskotik.
"Bawakan sebotol vodka kemari!" Ucap Rifki memberi perintah kepada pramusaji yang ada ditempat itu.
__ADS_1
"Baik Tuan," Ucap pramusaji yang berpakaian sangat minim bahan itu.
Hanya orang orang miliader yang mampu membeli minuman tersebut, minuman itu adalah minuman beralkohol yang paling mahal. Mendengar perintah Rifki itu, seketika langsung membuat Vano membelalakkan matanya, dirinya tidak mempercayai apa yang baru saja dirinya dengar itu.
Rifki pun meninggalkan mereka yang masih mematung tidak percaya dengan apa yang didengar itu, Rifki memilih untuk duduk disebuah sofa yang sepi ditempat itu. Suara bising yang ada ditempat itu membuat telinga mereka sedikit terganggu, akan tetapi Rifki sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
"Tuan Muda tidak salah pesan kan?" Tanya Vano yang sedari tadi menahan rasa penasarannya itu.
Rifki tidak pernah menyentuh yang namanya minum minuman beralkohol sebelumnya, tapi entah mengapa kali ini dirinya memesan minuman itu apalagi ditempat seperti ini. Rifki sama sekali tidak tergoda dengan para wanita yang berpakaian kurang bahan itu, bahkan pandangannya seakan akan tengah kosong saat ini.
Beberapa kali Vano bertanya, akan tetapi Rifki sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, bahkan Rifki hanya diam saja tanpa mempedulikan pertanyaan yang dilontarkan oleh Vano.
"Permisi Tuan, ini pesanan anda," Ucap seorang wanita sambil menyodorkan sebotol vodka dengan sebuah gelas kecil.
Rifki pun melemparkan beberapa lembar uang seratus ribuan diatas meja, "Tips untukmu," Ucapnya.
"Terima kasih, Tuan. Apakah anda butuh ditemani untuk minum?" Tanya wanita itu lagi.
"Nggak perlu."
"Baiklah kalau begitu, Tuan. Silahkan menikmati,"
Pelayan tersebut langsung pergi meninggalkan tempat itu. Rifki langsung mengambil sebotol vodka diatas meja itu, dan dirinya pun mulai membuka tutup botol tersebut.
"Tuan Muda, anda belum pernah meminum minuman seperti ini sebelumnya. Apa yang anda lakukan?" Tanya Vano sambil menghentikan pergerakan dari Rifki.
"Lepaskan atau pergi dari sini!" Sentak Rifki dengan tatapan tajam.
"Jangan menyiksa diri anda sendiri seperti ini, Tuan Muda. Saya mohon,"
Dengan kasarnya, Rifki lalu melepaskan pegangan tangan Vano dari tangannya. Rifki mulai menuangkan minuman tersebut kedalam gelas kaca kecil yang telah disediakan, dan dirinya pun mulai menenggak minuman tersebut.
Rasa panas sekaligus terasa pedas pun Rifki rasakan dalam sekali tegukan, melihat itu langsung membuat Vano menitihkan air matanya, karena tidak biasanya Rifki akan meminum minuman terlarang itu.
"Aku hancur tanpa dirimu, Dhira. Kenapa kau pergi meninggalkanku?" Ucap Rifki dan langsung meneguk kembali minuman itu.
Dapat dilihat bahwa bertapa hancurnya dirinya saat ini, barang yang tidak pernah dirinya dekati pun saat ini dirinya nikmati. Rifki pun meneguk minuman itu hingga menyisakan sedikit dibotol tersebut, dan seketika langsung membuat Rifki langsung mabuk setelahnya.
Rifki pun tertawa dengan kerasnya, akan tetapi kedua matanya seakan akan sulit untuk dibuka saat ini. Tubuhnya mendadak tidak memiliki tenaga untuk bangkit, akan tetapi tangannya terus bergerak untuk menuang minuman itu kegelas dan langsung meminumnya kembali.
"Dhira, aku mencintaimu sayang. Kenapa kau pergi meninggalkanku seperti ini?"
Rifki pun kesadarannya tengah melayang saat ini, beberapa kali dirinya terus memanggil nama Nadhira. Vano dapat merasakan bahwa lelaki itu sangat merindukan isterinya, tapi melampiaskannya kepada minum minumam seperti ini.
"Dhira pulanglah,"
*****
Ana merasa khawatir karena sudah pukul 10 malam akan tetapi Rifki tak kunjung pulang, Rifki beserta Vano dan anggota lainnya tengah berziarah kemakam anaknya sejak pukul 4 sore tadi, akan tetapi sampai malam mereka belum pulang juga.
Ana terlihat sangat cemas dan gelisah, dirinya tidak tau lagi harus berbuat apa saat ini. Ana hanya bisa menunggu kedatangan Rifki diruang tamu rumah itu, dan berharap bahwa Rifki baik baik saja.
Tok tok tok
__ADS_1
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu rumah tersebut, dan hal itu langsung membuat Ana segera membuka pintu rumah tersebut. Ana begitu terkejut ketika melihat Vano dan Reval memapah Rifki dengan cara melilitkan tangan Rifki dileher keduanya, Rifki sendiri terlihat seperti tengah tidak sadarkan diri.
"Ya Allah, apa yang terjadi dengan Tuan Muda?" Tanya Ana khawatir dan langsung shock melihatnya.
"Kebanyakan minum dia, Bi Ana. Biar kami bawa dia kekamarnya," Ucap Vano.
"Baiklah biar saya antar,"
Ana langsung bergegas untuk menuju kekamar Rifki, dirinya pun membukakan pintu kamar itu dan membersihkan tempat tidurnya itu. Vano dan beberapa anggota Gengcobra lainnya pun membawa Rifki menuju kekamarnya, mereka pun membaringkan tubuh Rifki diatas kasur tersebut dan tidak lupa untuk membenarkan selimutnya.
"Dhira, kamu dimana sayang? Jangan tinggalin aku." Suara Rifki lirih akan tetapi masih bisa didengar oleh Ana dan anggota Gengcobra.
"Tuan Muda, kami sedih jika melihat anda seperti ini. Jangan buat kami khawatir dan merasa bersalah seperti ini," Ucap Vano.
"Tuan, sebaiknya kita biarkan Tuan Muda istirahat untuk sementara waktu. Kita jaga diluar saja tanpa menganggu dirinya," Ucap salah satu anggota Gengcobra yang ada disana.
"Baiklah."
Vano dan yang lainnya langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut, mereka lupa bahwa Ana masih berada didalam sana. Dengan perlahan lahan Ana pun mendekat kearah pintu tersebut, dirinya lalu menguncinya dari dalam agar tidak ada siapapun yang masuk kedalam sana.
Ana lalu melepas cadar yang dirinya pakai, dia lalu mendekat kearah dimana Rifki tengah terbaring sambil memejamkan kedua matanya itu. Dirinya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Rifki, hingga jarak keduanya hanya terpisah satu senti saja.
"Bau alkohol. Sejak kapan dirimu mengonsumsi minuman seperti itu, Rif? Dengan cara seperti ini, kau sama saja memberatkan langkahku, Sayang. Kenapa kau sama sekali tidak mengerti? Aku memintamu untuk bertahan, bukan malah menghancurkan dirimu sendiri seperti ini. Kau tidak tau apa yang sedang aku perjuangkan, jangan melakukan hal bod*h seperti ini, Rif. Kau sangat menyakitiku," Isakkan tangis pun keluar dari mulut Ana yang sudah berubah menjadi Nadhira.
"Dhira, dimana kamu?" Ucap Rifki lirih.
Nadhira lalu mengenggam erat tangan Rifki, dan mendekatkan wajahnya ditangan Rifki, "Aku disini Sayang, aku ada didekatmu setiap hari. Aku tidak pernah meninggalkan dirimu," Ucapnya.
"Salahku kepadamu begitu besar ya, Dhira? Sampai sampai kau meninggalkanku selama ini, apakah tidak ada maaf sedikitpun yang tersisa untuk diriku? Jika kau mau, aku akan memberikan nyawaku untukmu. Aku mohon kepadamu, maafkanlah aku," Ucap Rifki lirih meskipun kedua matanya masih terpejam dengan eratnya.
"Kamu tidak salah, Sayang. Justru akulah yang bersalah karena pergi meninggalkanmu, jika orang itu mendengar bahwa Dhiramu masih hidup, mereka akan membahayakan nyawamu dan anak kita. Maafkan aku,"
Nadhira pun mengusap pelan puncak kepala Rifki, tiba tiba Rifki menarik tubuhnya untuk masuk kedalam pelukannya itu. Denyut jantung Rifki pun mampu didengar olehnya, karena kepalanya kini tengah bersandar didada bidang milik Rifki.
Rifki pun menggerakkan tangannya dan membuat Nadhira langsung berada didalam dekapannya, rasa nyaman pun langsung dirasakan oleh Nadhira saat itu juga. Inilah hal yang paling dirindukan oleh Nadhira, aroma tubuh Rifki sama sekali tidak berubah.
Rifki masih berada dibawah alam sadarnya, bahkan dirinya tidak menyadari dengan apa yang terjadi saat ini. Pikirannya benar benar melayang dibuat minuman itu, bahkan dirinya tidak akan mengingat kejadian hari ini.
"Tubuhmu terasa sangat kurus, Rif. Besok aku akan masakkan makanan kesukaanmu ya? Kamu makan yang banyak, biar kamu sehat," Ucap Nadhira dan menitihkan air matanya, sambil memeluk tubuh Rifki.
"Dhiraku, hanya milikku."
"Iya, aku hanya milikmu seorang, Rif. Milikmu seutuhnya,"
Rifki pun menenggelamkan wajahnya diantara lekuk leher Nadhira, sementara Nadhira masih memeluk tubuh Rifki sambil mengusap belakang kepala Rifki dengan penuh sayang. Nadhira pun merasakan bahwa kulit lehernya tengah dihisap mesra oleh Rifki, dan Nadhira hanya membiarkannya saja sambil menambah erat pelukannya ditubuh Rifki.
"Dirimu seperti anak kecil, Rif. Tapi aku sangat menyayangimu,"
Rifki membalas pelukan tersebut tidak kalah eratnya, tubuhnya mendadak terasa panas hingga membuatnya mengeliat begitu saja.
"Aku merindukan dirimu, Rif. Sangat merindukan,"
Nadhira sedikit melonggarkan pelukannya itu, dirinya pun memegangi kepala Rifki menggunakan kedua tangannya. Nadhira menatap lekat lekat wajah Rifki, akibat minuman itu langsung membuat kedua mata Rifki terlihat memerah.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Sudah lama aku tidak memberikan hakmu sebagai suami," Ucap Nadhira sambil memperhatikan wajah Rifki yang terlihat sayup itu.
Nadhira pun mendekatkan wajahnya kearah wajah Rifki, hingga bibirnya menyentuh bibir Rifki. Nadhira lalu meluma*nya, dan dirinya pun memegangi bekalang kepala Rifki untuk memperdalam ciu*annya itu.