
Melihat Theo yang memapah Nadhira yang sedang terlihat begitu lemah membuat Pak Santo segera mendekati mereka, ia begitu takut kalau Nona Muda nya itu kenapa kenapa sehingga ia mendekat untuk memastikan keadaan Nadhira saat ini.
"Non Dhira kenapa?" Tanya Pak Santo yang langsung bergegas untuk menemui Theo dan Nadhira.
"Dia habis tidak sadarkan diri Pak, masih butuh untuk istirahat lebih" Ucap Theo.
"Aku ngak apa apa Pak, hanya kelelahan saja kok, setelah istirahat cukup aku akan baik baik saja" Ucap Nadhira menenangkan Pak Santo.
"Biar aku bantu Non".
Theo dan Pak Santo lalu membawa Nadhira untuk masuk kedalam kamarnya, Pak Santo pun segera memanggil Bi Ira untuk memberitahukan bahwa Nadhira saat ini sedang lemas, mendengar itu membuat Bi Ira langsung bergegas masuk kedalam kamar Nadhira untuk memeriksanya sendiri.
"Bagaimana bisa terjadi?" Tanya Bi Ira.
"Dhira baik baik saja kok Bu, hanya kelelahan saja".
"Apa? Kamu kan tidak boleh kelelahan Dhira".
"Theo, bisa ngak kamu meninggalkan kamarku? Aku ingin mengobrol dengan Ibu Ira"
"Tapi Dhira.... Baiklah, aku akan menunggu dipos depan dengan Pak Santo".
"Iya".
Theo lalu bergegas untuk keluar dari kamar Nadhira, ia memilih untuk bergabung dengan Pak Santo karena hanya Pak Santo yang bisa diajak untuk mengobrol dengan jelas, daripada dengan Pak Mun yang ada dirinya selalu disalahkan.
"Dhira, seharusnya kamu lebih berhati hati Nak, apalagi dirimu sekarang ini hanya memiliki satu ginjal saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dirimu nanti?"
"Dhira ngak apa apa Bu, selama Dhira masih bisa bernafas, Dhira akan melakukan apapun yang Dhira bisa untuk menolong orang yang Dhira sayang".
"Tapi kau harus memperhatikan kondisimu juga Nak, bagaimanapun kau tidak harus mempertaruhkan nyawamu hanya demi orang lain, Ibu tidak setuju jika kau berpikiran seperti itu".
"Bu, apa gunanya hidup lama jika Dhira tidak bisa menolong orang lain? Lalu apa yang harus aku katakan diakhirat nanti jika malaikat bertanya kepadaku apa gunanya diriku hidup didunia? Nyawa Dhira tidak berarti jika tidak bisa menolong orang lain yang membutuhkan uluran tangan".
"Tapi Nak, kenapa kamu harus bertindak gegabah seperti ini, bagaimana kalau banyak orang yang menjadi musuhmu nantinya?".
"Aku tidak pernah mempunyai musuh Bu, tapi jika mereka menganggap aku adalah musuhnya maka biarkan mereka membalas apa yang ingin mereka lakukan kepada Dhira, Dhira tidak akan melawan, tapi jika orang yang Dhira sayangi dilukai maka Dhira tidak akan bisa tinggal diam".
"Ibu tau itu, Ibu hanya tidak ingin kamu terluka Nak, apalagi sekarang dirimu hanya memiliki satu ginjal, dan jika kau terlalu kelelahan Ibu takut kehilanganmu Nak".
"Boleh aku mengatakan sesuatu dengan Ibu?".
Nadhira menatap dengan lekat wajah wanita yang ada disampingnya itu, meskipun sudah sedikit tua akan tetapi wajahnya masih terlihat muda dan cantik, ditatap oleh Nadhira sedemikian rupa membuat Bi Ira mengerutkan keningnya.
"Apa yang ingin Dhira katakan?".
"Pak Santo sangat mencintai Ibu, apa Ibu tidak ingin menikah dengannya?" Tanya Nadhira tiba tiba.
"Kenapa tiba tiba kamu menanyakan hal itu Nak?"
"Apa Ibu tidak ingin memiliki keluarga? Jika Dhira sudah tiada nantinya, Dhira takut Ibu sendirian".
"Apa yang kau katakan Nak? Kau tidak boleh meninggalkan Ibu begitu saja, Ibu akan marah kepadamu jika kau melakukan itu".
"Dhira hanya mengatakan apa yang ingin Dhira katakan, Dhira berpikir bahwa sudah saatnya Ibu hidup bahagia bersama dengan keluarga baru, lagi pula Pak Santo juga adalah orang yang baik, jika Ibu menikah dengannya Dhira yakin bahwa Ibu akan bahagia, Ibu juga berhak untuk bahagia".
"Apa Dhira sudah tidak ingin Ibu tinggal disini?".
"Bukan seperti itu Bu, hanya Ibu keluarga yang paling dekat dengan Dhira selama ini, setelah aku pikir, Pak Santo sangat cocok dengan Ibu, setelah menikah Ibu boleh kok tinggal disini bersama Pak Santo".
"Ibu akan memikirkan hal itu lagi nanti".
Bi Ira tidak tau lagi jawaban apa yang harus ia berikan kepada Nadhira saat ini, ia belum bisa untuk membuka hatinya pada orang lain, karena dia masih sangat mencintai suaminya yang telah tiada beberapa tahun yang lalu, dan kejadian itu sudah cukup lama akan tetapi Bi Ira masih setia kepada suaminya sampai detik ini.
Mendengar Bi Ira mencoba untuk menjawabnya lain waktu hal itu membuat Nadhira merasa tidak tenang jika harus digantung seperti itu, Nadhira hanya ingin Bi Ira bisa bahagia bersama dengan Pak Santo karena dia sangat yakin bahwa Pak Santo adalah orang yang terbaik untuk Bi Ira.
"Ngak Bu, Dhira butuh jawaban sekarang, apa Ibu bersedia untuk memenuhi keinginan Dhira? Meskipun nanti Dhira juga akan menikah, tapi Dhira hanya ingin Ibu bisa memiliki keluarga".
"Baiklah jika itu keinginan Dhira, tapi Ibu ingin menikah setelah Nadhira menikah, Ibu hanya ingin memastikan bahwa Nadhira akan baik baik saja".
"Iya Bu, itu artinya Ibu setuju dengan Pak Santo?"
__ADS_1
"Terserah Dhira, jika memang dia adalah pilihan yang terbaik dari Dhira, Ibu akan menerimanya".
"Makasih Bu, jawaban itu sudah cukup bagi Dhira, Dhira akan memberitahukan hal ini kepada Pak Santo, Dhira merasa senang jika Ibu bisa bahagia".
"Kau juga berhak untuk bahagia Nak, jangan hanya memikirkan kebahagiaan orang lain saja tapi juga pikirkan tentang dirimu juga Nak".
"Dhira tidak berhak untuk bahagia Bu, yang terpenting adalah orang yang ada disekitar Nadhira bahagia, maka Nadhira pun ikut bahagia, Dhira tidak bisa mementingkan diri sendiri sementara orang yang ada disekitar Nadhira tidak merasa bahagia".
"Entah hati seperti apa yang kau miliki Dhira, kau adalah anak yang baik, Ibu akan selalu berdoa semoga kebahagiaan segera kau dapatkan Nak, entah bagaimana cara Ibu untuk berterima kasih kepadamu karena kamu telah hadir dalam kehidupan Ibu selama ini".
"Kebaikan Ibulah yang membawa Ibu menemui diriku, aku bukan siapa siapa dan bukan apa apa, bahkan mungkin saja aku sudah tiada waktu itu kalau bukan karena Ibu yang menolongku dari hukuman, jika bukan karena Ibu mungkin aku sudah bunuh diri sejak awal, cinta Ibu lah yang membuat Dhira bertahan hingga detik ini".
"Beruntung sekali Lia memiliki anak sepertimu Nak".
Mendengar perkataan itu membuat Nadhira terdiam begitu saja, ia kembali teringat ketika Rendi mengatakan bahwa dia bukanlah anak kandungnya, lantas siapa kedua orang tuanya itu? Kenapa mereka meninggalkan Nadhira begitu saja.
Ekspresi Nadhira pun seperti sedang melamun dengan penuh kesedihan didalamnya, tak terasa tercipta sebuah keristal kecil diujung pelupuk matanya dan hal itu membuat Bi Ira kebingungan kenapa Nadhira seperti sedang menahan tangisnya.
"Kenapa Nak?" Tanya Bi Ira.
"Dhira ngak apa apa Bu, hanya saja Dhira rindu sekali dengan Mama Lia".
"Ibu tau perasaanmu Nak, kita doakan saja semoga Lia tenang dialam sana".
"Siapa orang tuaku yang sebenarnya? Jika aku bukan anak Papa lantas aku anak siapa? Aku hanya berharap bahwa aku dapat menemukan kedua orang tuaku suatu saat nanti" Batin Nadhira, Nadhira hanya mengangguk kepada Bi Ira.
"Jangan bersedih Nak, apa Dhira ingin Mama Dhira bahagia disana? Ketika melihat anaknya bersedih maka Lia pasti akan ikut bersedih nantinya".
"Dhira ngak sedih kok Dhira hanya bingung saja Bu".
"Bingung? Bingung kenapa Nak?".
"Dhira hanya bingung kenapa disaat pertunangan Rifki ada orang yang berniat jahat kepadanya, dan kenapa calonnya terlihat begitu tenang".
"Pertunangan Rifki? Apa kau hadir diacara itu Nak?".
"Sebenarnya Dhira tidak mau hadir Bu, tapi hati Dhira memaksa Dhira untuk datang kesana, Dhira merasa bahwa Rifki dalam bahaya oleh karena itu Dhira datang, benar saja dugaan Dhira bahwa ada orang yang berniat untuk mencelakai Rifki".
"Benarkah? Lalu bagaimana kondisi Rifki saat ini?"
"Semoga saja dia baik baik saja Nak, kenapa juga calonnya merencanakan itu kepadanya? Apakah ada dendam masa lalu diantara dirinya?".
"Kalau soal itu Dhira tidak tau Bu, yang jelas dia ingin membuat Rifki celaka".
Tak sengaja pandangan Dhira jatuh pada luka yang ada dikakinya tersebut karena rasa panas yang ia rasakan, ia pun melihat bahwa kakinya berubah menjadi membiru diarea sekitar lukanya tersebut.
"Bu, Dhira ingin istirahat"
"Baiklah, tidurlah Nak, Ibu mau kedapur dulu".
"Iya Bu".
Setelah itu Bi Ira segera bergegas meninggalkan kamar Nadhira, Nadhira pun langsung bergegas mengipasi lukanya itu karena rasa panas yang ia rasakan diarea lukanya.
"Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini" Ucap Nadhira panik ketika melihat lukanya sendiri.
"Dhira apa yang terjadi denganmu" Ucap Nimas yang tiba tiba muncul didekat Nadhira.
"Aku ngak tau, tiba tiba lukaku terasa panas".
"Astaga! Aku harus mengobatinya segera"
"Apa yang terjadi Nimas?".
"Ada energi jahat didalam lukamu itu, jika tidak segera ditangani maka energi itu akan merambat hingga keseluruh tubuhmu".
"Apa? Bagaimana bisa?".
Nimas segera menarik energi jahat tersebut kedalam tubuhnya sendiri, ia dapat menduga bahwa energi itu mampu untuk membuat keris pusaka xingsi melemah akan tetapi tidak dengan permata iblis yang justru akan semakin bertambah kuat jika terkena energi itu.
"Ada yang sengaja menjebak Rifki dengan energi ini, kalau saja ini terkena oleh Rifki maka akan berbahaya bagi dirinya".
__ADS_1
"Maksudmu? Aku tidak paham sama sekali".
Nimas menjelaskan kepada Nadhira bahwa energi tersebut berasal dari sebuah energi yang jauh lebih kuat daripada energi keris pusaka xingsi, dan mampu dengan mudah untuk mengendalikan, jika itu terkena oleh Rifki maka Rifki dengan mudah dikendalikan oleh orang yang telah menaruhnya.
"Apa?!".
"Iya Dhira, sepertinya energi itu sengaja ditaruh dilampu gantung itu".
"Untung saja bukan Rifki yang terkena, orang itu sengaja ingin mencelakai Rifki".
"Kau harus lebih berhati hati lagi Dhira".
"Iya Nimas".
*****
Didalam sebuah tempat yang dipenuhi dengan pepohonan, terdapat dua orang wanita berserta dengan dua orang lelaki, salah satu wanita itu nampak terlihat begitu marah dengan wanita satunya begitu pun dengan kedua lelaki itu, seakan akan wanita yang terlihat lebih muda tersebut telah melakukan sebuah kesalahan yang besar hingga dirinya dimarahi oleh semuanya.
"Kau bertindak begitu ceroboh kali ini, rencana yang kita susun sejak awal kenapa kau menghancurkannya begitu saja ha!"
"Ma bukan seperti itu, maafkan aku karena aku salah kali ini, karena gadis itu telah berani mempermalukan diriku didepan semuanya" Ucap gadis satunya lagi yang tidak lain adalah Syaqila.
"Lalu bagaimana sekarang! Bagaimana bisa Rifki akan menikah dengan dirimu setelah ini, kau tidak akan mendapatkan keris pusaka xingsi itu, percumah saja kau memiliki permata itu tapi tidak berguna kalau tidak memiliki keris pusaka xingsi".
"Qila masih bisa memaksa Putri untuk menikahkan Qila dengan Rifki Ma".
"Apa kau pikir laki laki tua bangka itu akan diam saja setelah mengetahui semuanya!"
Semua rencana yang telah disusun dengan rapi mendadak dengan mudah digagalkan oleh seorang wanita, sebelumnya mereka telah melaburi sebuah cairan kepada lampu gantung tersebut, cairan yang mampu untuk mengendalikan energi keris pusaka xingsi tapi semuanya gagal karena Nadhira telah menyelamatkan Rifki.
Begitupun dengan Syaqila yang bertindak ceroboh hingga membocorkan rencananya tersebut kepada semua orang, termasuk juga kepada Aryabima, hanya Aryabima yang bisa menyelamatkan keris pusaka xingsi dari permata abadi karena Rifki belum sepenuhnya dapat mengendalikan kekuatan dari keris pusaka xingsi.
"Hanya tinggal menikah dengan pemuda itu saja kau tidak mampu Qila?" Kini Papanya ikut memarahi Syaqila karena tindakan cerobohnya itu.
"Lalu kenapa Papa meminta tunangan terlebih dahulu bukannya langsung menikah saja" Ucap Syaqila dengan nada sebalnya.
Karena hanya Papanya yang meminta pertunangan terlebih dahulu daripada yang lainnya, Mamanya meminta untuk langsung menikah akan tetapi ditolak oleh Papanya begitu saja.
"Jika kau langsung menikah, apakah pemuda itu mampu untuk menerima dirimu?".
"Aku punya Tante Putri, biar bagaimanapun dia tidak akan menolak keinginan dari Mamanya itu".
"Memang kau akan menikah setelah itu, tapi apakah Rifki akan menyentuhmu? Dan melakukan hubungan badan dengan sukarela kepadamu? Seharusnya kau mengerti maksud Papa, Papa ingin membuat dia jatuh cinta dengan dirimu dan juga menghormati keinginan orang tuanya, jika kita langsung memintanya untuk menikah maka akan menimbulkan kecurigaan" Jelas Papanya.
"Sudahlah Pa, ini juga sudah terjadi, lagian Papa juga salah disini".
"Lalu apa yang akan kau lakukan nantinya setelah semuanya terbongkar? Apakah akan dengan mudah kau membuat pemuda itu jatuh cinta?"
"Aku masih punya satu rencana Ma, Rifki terlalu mencintai gadis itu, aku akan menggunakan gadis itu untuk membuatku menikah dengan Rifki"
"Terserah apapun maumu, Mama tidak mau tau pokoknya kamu harus segera merebut keris pusaka xingsi itu dari tangan Rifki".
"Iya Ma, Qila akan melakukan yang terbaik".
Setelah mengatakan tersebut orang yang dipanggil Mama itu segera meninggalkan tempat tersebut bersama dengan pasangannya, kini hanya tinggal Syaqila dengan seorang pemuda yang diduga adalah Kakak dari Syqila.
"Kau sangat mengecewakan hari ini Qila, kau telah membuat rencana kita gagal" Ucap pemuda itu.
"Kak, aku akan melakukan yang terbaik, maafkan atas kecerobohanku kali ini, aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi".
"Bagaimana bisa kau menangani semua ini setelah niatmu diketahui oleh pemuda itu, hanya tinggal selangkah saja tapi kau tidak mampu untuk melakukan itu, mungkin jalanmu tidak akan semulus sebelumnya"
"Aku akan berusaha untuk itu Kak, tolong bantu aku".
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau sudah merusak segalanya" Ucapnya langsung pergi.
"Kak" Panggil Syaqila akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan panggilan Syaqila.
Melihat semua orang kini tengah meninggalkan dirinya membuat Syaqila mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan berteriak diantara rimbunan pepohonan.
"Ini semua salahku, awas saja kau Dhira, aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia".
__ADS_1
Syaqila lalu mengeluarkan sebuah ponsel genggamannya dan menekan sebuah nomor seseorang disana lalu dia segera menelepon nomor tersebut dan pemilik nomor itu pun langsung mengangkat telponnya itu.
"Halo, aku butuh bantuanmu sekarang juga, temui aku segera dihutan" Ucap Syaqila dan langsung menutup telponnya tersebut.