
Ana yang baru saja selesai membersihkan piring kotor yang ada di rumah itu, dirinya sekilas melihat sebuah bayangan yang berjalan di balik sebuah jendela yang ada di rumah itu. Nyatanya bayangan itu lebih dari satu orang, karena suasana sudah malam sehingga Ana merasa curiga.
"Kenapa ada begitu banyak orang? Apa anggota Gengcobra sedang berjaga?" Tanyanya pelan entah kepada siapa.
Ana segera bersembunyi di tempat itu, dirinya ingin melihat siapa yang telah datang ke rumah itu dengan diam diam. Karena suasana sudah larut malam sehingga Bi Sari pun mematikan lampu yang ada di sana, Bi Sari tidak melihat adanya Ana di tempat itu sehingga dirinya bergegas pergi begitu saja.
Rumah itu terlihat sangat gelap saat ini, dan seluruhnya mungkin sudah dalam keadaan terlelap dalam tidurnya. Dengan diam diam, Ana berkeliling dirumah itu tanpa ada yang menyadarinya, dirinya hanya merasa tidak tenang selama bayangan bayangan itu belum dirinya ketahui keberadaannya itu.
Ana merasa curiga bahwa mereka adalah orang orang jahat yang ingin mencelakakan Rifki, dirinya tidak akan membiarkan siapapun itu untuk bisa melakukan hal yang membahayakan bagi Rifki. Gerakannya begitu pelan, pakaiannya yang hitam legam membuat tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya itu, dan hal itu sangat memudahkannya untuk bisa menyelidiki apa yang terjadi dirumah itu.
"Mencurigakan, kemana perginya mereka? Aku harus segera menemukannya sebelum mereka memang berniat untuk membahayakan Rifki. Aku harus mencari mereka kemana? Cepat sekali hilangnya."
Ana terus berkeliling dihalaman rumah itu untuk mencari bayangan yang dirinya lihat sebelumnya itu. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak mengetahui atau melihat mereka setelahnya, seakan akan kepergian mereka seperti ditelan oleh bumi karena tidak memiliki jejak apapun itu.
Ana menjadi panik ketika tidak mengetahui keberadaan dari orang orang yang dicarinya itu, dirinya tidak mengetahui diposisi lainnya, dimana sebagian anggota Gengcobra sudah tidak sadarkan diri dan diikat dengan eratnya. Selama dirinya mencari, firasatnya terus semakin tidak nyaman dan dirinya terus mengkhawatirkan sosok Rifki.
"Mereka tidak mungkin anggota Gengcobra, pasti mereka adalah penyusup yang masuk kemari untuk mencelakakan Rifki. Aku harus segera menemukannya, dan menghalangi apa yang ingin mereka lakukan."
Ana kembali masuk kedalam rumahnya disaat dirinya tidak menemukan keberadaan siapapun diluar rumah itu, Ana lalu bergegas untuk menuju kekamar Rifki demi memeriksanya. Sesampainya disana dia langsung membuka pintu kamar itu dengan hati hati, agar tidak ada yang mengetahui tentang apa yang dirinya lakukan itu.
Setelah pintu dibuka, dirinya pun langsung masuk kedalam kamar itu. Dirinya sangat terkenal ketika tidak menemukan keberadaan dari Rifki, dan hanya melihat Keysa yang tertidur dengan nyenyaknya. Ana lalu menuju kekamar mandi yang ada didalam kamar itu, akan tetapi dirinya juga tidak menemukan keberadaan dari Rifki.
"Apa jangan jangan, Rifki dalam bahaya saat ini. Tidak mungkin, ini tidak boleh terjadi kepada Rifki, aku harus segera mencarinya. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk mencelakainya,"
Ana langsung bergegas untuk keluar dari ruangan itu. Dirinya sangat panik saat ini, apalagi ketika mengetahui bahwa Rifki tidak ada didalam kamarnya itu, dirinya sangat takut jika Rifki dalam bahaya saat ini. Dirinya sangat menyalahkan tindakan karena tidak menemukan keberadaan dari Rifki, seharusnya dirinya mengawasi Rifki sebelumnya sehingga dirinya bisa tau kemana perginya lelaki itu.
Ana langsung bergegas untuk mencari Rifki didalam rumah itu, dan dirinya terus melangkah diantara kegelapan yang ada didalam rumah tersebut. Seluruhnya pun sudah tertidur dijam segini, sehingga rumah itu terlihat sangat sepi dan bahkan sangat gelap karena cahaya yang ada disana tidak terlalu terang karena sebagian lampu sudah dimatikan.
"Kemana aku harus mencari Rifki? Dimana dia sekarang? Kenapa tidak ada didalam rumah? Rifki, kamu dimana?"
Ketika dirinya melewati ruang dapur yang ada didalam rumah itu, dirinya pun melihat seseorang tengah berdiri sambil mengacak acak dapur yang ada dirumah itu. Karena suasananya yang gelap, membuat Ana tidak dapat mengetahui wajah dari orang yang ada didapur tersebut.
Ana mematung saat ini, entah dirinya harus maju atau menunggu aksi yang akan dilakukan oleh orang itu. Ana takut jika dirinya bertindak gegabah justru akan membahayakan nyawanya sendiri, dirinya tidak mau hal itu terjadi karena biar bagaimanapun juga ada nyawa Rifki yang harus dirinya lindungi saat ini. Ana tidak mempedulikan soal nyawanya sendiri, akan tetapi dirinya hanya takut kalau sampai Rifki dalam bahaya apalagi terluka.
Ana langsung bersembunyi dibalik sebuah kursi yang berada tidak jauh darinya, dirinya pun terus memperhatikan bayangan tersebut tentang apa yang bayangan itu lakukan. Ana sama sekali tidak menemukan hal yang mencurigakan dibalik bayangan itu, akan tetapi bayangan itu seakan akan tidak melakukan tindakan apapun meskipun dirinya sudah mengawasinya sangat lama.
"Dia mau ngapain sebenarnya? Kenapa hanya berdiam diri saja tanpa melakukan tindakan apapun disana? Apa jangan jangan dia memang merencanakan sesuatu yang besar?" Guman Ana pelan sambil terus mengawasi bayangan hitam itu.
Karena sekian lama tidak kunjung bertindak, hal itu membuat Ana semakin merasa tidak tenang. Dirinya pun melihat ke sekelilingnya untuk mencari kawan bayangan itu, dan mendapati bahwa bayangan itu memang seorang diri didalam kegelapan itu.
__ADS_1
Ana pun mendekat kearah bayangan itu dengan perlahan lahan, dirinya takut jika dia adalah orang yang ingin berniat jahat dirumah itu. Ketika anda mendekat ke arah bayangan itu, seketika orang tersebut langsung bergegas menghampirinya dan menangkap Ana.
"Siapa kamu!"
"Tuan Muda ini saya, Ana."
Ana pun mencoba untuk memberontak, dan alhasil keduanya pun jatuh dilantai. Ana baru menyadari bahwa itu adalah Rifki yang sedang berada didapur rumah itu, dan mendengar suara Ana langsung membuat Rifki merubah posisi hingga Ana terjatuh diatasnya sementara dirinya dibawah untuk menghalangi wanita itu terbentur lantai.
Pandangan keduanya pun bertemu dengan dekatnya, Ana mampu melihat dengan jelas kedua mata Rifki begitupun juga dengan Rifki. Jantung Ana berdetak dengan kencangnya, bagaimana tidak berdegup kencang sementara Rifki berada begitu dekat dengannya bahkan tidak ada ruang yang menghalangi keduanya bersentuhan.
Ana merasa lega ketika mengetahui bahwa Rifki baik baik saja saat ini, kedua tangannya itu pun menyentuh dada Rifki dan merasakan detak jantung milik Rifki yang berdetak kencang. Bahkan, jantungnya sendiri pun demikian ketika dirinya merasakan bahwa tubuhnya dan tubuh Rifki bersentuhan tanpa adanya jarak yang memisahkan.
Ana langsung bangkit dari tubuh Rifki, dirinya pun langsung duduk didepan Rifki. Sementara Rifki sendiri pun langsung duduk setelahnya, dirinya merasakan hal yang beda dengan wanita itu, bahkan mendadak jantungnya sendiri pun berdetak dengan keras dan dirinya menjadi salah tingkah dihadapan Ana.
"Maafkan sa...."
Belum sempat Ana menyelesaikan perkataannya, Rifki langsung menutupi mulut Ana dengan membungkamnya. Tangan Rifki dan wajah Ana hanya terpisahkan dengan cadar tipis yang dipakai oleh Ana saat ini, Rifki tidak terlalu memperhatikan Ana karena dirinya tengah sibuk memandangi sekitarnya karena merasa aneh.
Pandangan Rifki pun terarah kepada tirai yang terpasang dicendela yang berada jauh dari tempat itu, begitupun juga dengan Ana yang langsung tau kemana arah Rifki memandang saat ini. Ana menduga bahwa Rifki juga melihat adanya beberapa orang yang masuk kedalam rumah itu, dan hal itu langsung membuatnya curiga pada lingkungan sekitarnya.
"Jangan berisik, aku merasa ada penyusup yang masuk kemari. Sekali lagi kau bersuara, ku pastikan akan membunuhmu disini," Ancam Rifki dengan nada berbisik kepada Ana. Ana sendiri pun melihat sebuah pisau yang tengah diarahkan kepada lehernya oleh Rifki sendiri.
Ana hanya bisa menurut dengan ucapan dari Rifki, daripada nantinya dirinya akan mati sia sia ditangan suaminya itu. Ancaman yang dilakukan oleh Rifki begitu serius, dirinya tidak pernah main main dengan ucapannya, karena Ana mengenalnya dengan jelas tentang lelaki itu.
Ketika dirasa situasinya sudah aman, Rifki langsung menarik tangan Ana dengan kasarnya hingga membuat Ana merasa sakit dibagian pergelangan tangannya itu. Rifki menariknya dengan kasar, akan tetapi ketika mendengar rintihan kesakitan dari wanita itu langsung membuatnya sedikit melonggarkan pegangan tangannya itu.
Rifki pun membawanya masuk kedalam ruang kerjanya, apa yang dilakukan oleh Rifki selanjutnya membuat Ana merasa sangat terkejut, bahkan Rifki sampai mendorongnya hingga jatuh kelantai dengan kasarnya. Bukan hanya itu saja, Rifki lalu mengunci pintu ruangan itu, dan setelahnya dirinya pun menodongkan sebuah pisau kepada Ana.
Ana pun menangis ketika diperlakukan seperti itu oleh Rifki, sekuat kuatnya dia bahkan tidak akan sanggup jika suaminya bersikap kasar kepadanya. Ana tidak takut dengan todongan pisau itu, justru dirinya menangis karena dorongan yang diberikan oleh Rifki kepadanya itu.
Rifki tidak tau jika istrinya sendiri yang ia perlakukan seperti itu, akan tetapi hatinya merasa sakit dan sedikit ada penyesalan setelah mendorong tubuh Ana hingga jatuh kelantai. Seandainya dia tau apa yang ia lakukan itu, pasti adanya penyesalan yang teramat sangat mendalam didalam hatinya bahkan dirinya tidak akan sanggup melakukan itu, dan dia lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri daripada melakukan itu kepada Nadhira.
"Siapa kamu sebenarnya? Apa hubunganmu dengan orang orang jahat itu?" Tanya Rifki dengan nada marahnya kepada Ana.
"Saya tidak tau, Tuan Muda. Orang orang jahat apa yang Tuan Muda maksudkan itu? Saya tidak tau apa apa tentang ini," Ucap Ana sambil sesenggukan bahkan air matanya tak henti hentinya untuk terus mengalir membasahi cadar yang dirinya pakai.
Ana pun memeluk lututnya yang ditekuk dengan eratnya, hatinya terasa sangat sakit saat ini. Rifki sendiri pun mampu mendengar isakan tangis yang sangat menyayat hatinya itu, apalagi didalam ruangan itu membuat suara isakan tangis Ana terlihat sangat jelas sekali.
Rifki pun menyentuh dadanya yang terasa sakit, dirinya bahkan tidak mengenali wanita yang ada dihadapannya, akan tetapi tangisan wanita itu seketika membuat hatinya terasa sangat sakit. Bahkan dirinya hanya beberapa hari bertemu dengan Ana, akan tetapi dirinya merasa bahwa keduanya telah lama saling mengenali.
__ADS_1
"Terus mengapa kamu didapur jam segini?"
"Saya tadi habis cuci piring, terus saya lupa untuk mematikan lampu dapur lalu saya balik untuk memeriksanya ternyata sudah gelap, hiks.. hiks.. hiks.. Saya terkejut ketika melihat bayangan hitam didapur, saya tidak tau kalau itu adalah Tuan Muda. Maafkan saya hiks.. hiks.. hiks..."
Mendengar penjelasan Ana, hal itu langsung membuat Rifki melemparkan pisau yang ada ditangannya dengan sembarangan. Ana pun memejamkan matanya karena takut kepada Rifki, hingga sebuah bunyi nyaring dari pisau itu terdengar ditelinganya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Maafkan saya,"
"Jangan main main denganku, Ana. Jika kau berniat untuk mencelakakan diriku, aku tidak akan segan segan untuk mengambil nyawamu."
"Saya tidak berani melakukan itu, Tuan Muda. Saya hanya wanita biasa yang membutuhkan pekerjaan, saya sama sekali tidak berniat untuk mencelalakan Tuan Muda. Ampuni saya,"
"Kau boleh keluar."
Rifki merasa yakin bahwa ucapan yang diucapkan oleh Ana adalah kejujuran, sehingga dirinya menyuruhnya keluar dari ruangannya itu. Ana pun bangkit jadi duduknya perlahan lahan, karena tangan kirinya terasa nyeri akibat dorongan yang diberikan oleh Rifki yang menyebabkan tangannya itu terbentur lantai dimana dirinya berada.
Setelah kepergian Ana, dirinya pun ikut keluar dari ruangan itu. Dirinya pun melihat Ana berjalan menuju kearah kamarnya, sementara disatu sisi tiba tiba seseorang membungkam mulutnya. Bukan hanya satu orang saja, melainkan ada sekitaran 5 orang yang memegang tangan dan mengikat kaki Rifki, sementara Rifki tidak bisa berteriak karena mulutnya yang dibungkam dengan kain.
"Bawa dia pergi dari sini," Ucap salah satu dari mereka.
Rifki pun dibawa pergi oleh mereka dari tempat itu, Rifki melihat bahwa seluruh anggota Gengcobra yang berjaga disana semuanya tergeletak dilantai. Bahkan Pak Mun dan Pak Santo sendiri pun juga ikut tidak sadarkan diri, ketika dirinya sudah berada didepan halaman dirinya melihat kearah langit dan ternyata gerhana bulan merah berdarah pun terjadi saat ini.
Rifki lupa akan hal itu, disaat gerhana bulan merah terjadi maka disaat itu orang orang tersebut berusaha untuk menangkapnya dan mengambil apa yang mereka inginkan. Karena lalainya, hal itu membuat Rifki tidak sempat untuk menggerakkan seluruh anggota Gengcobra untuk berjaga dirumah itu, dan ini adalah kesalahannya karena lalai.
*****
Salah satu kaki Rifki pun dipukul dengan kerasnya menggunakan kayu, hingga membuatnya pun berlutut didepan seseorang yang ada disana. Rifki pun menggeram kesakitan akibat pukulan itu, dan kedua tangannya dipegangi dengan eratnya hingga tidak bisa berbuat apa apa.
"Dimalam ini, kau telah membunuh semua keluargaku, Rifki. Aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama lagi, gerhana bulan merah membuat ilmu gaib yang ku miliki bertambah. Meskipun kekuatan keris pusaka xingsi hanya tinggal setengah, itu tidak akan bisa menyelamatkan dirimu," Ucap lelaki yang ada dihadapan Rifki.
"Apa maumu sebenarnya? Lepaskan aku!" Teriak Rifki diantara kegelapan itu.
Rifki menggeram dengan kerasnya akibat rasa sakit yang dirinya rasakan, keringatnya membasahi tubuhnya saat ini. Melihat kondisi Rifki yang seperti itu, membuat orang orang tersebut merasa sangat gembira dan tertawa dengan kerasnya.
"Mauku? Menghabisi keluargamu secara perlahan lahan. Agar kau tau apa yang aku rasakan selama ini, gara gara kau diriku kehilangan Adik tercintaku, sepupuku, bahkan seluruh keluargaku. Aku akan merebut keris pusaka itu darimu,"
"Aku sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk menghabisi keluargamu, keluargamu sendiri yang datang kepadaku dan membunuh orang orang terdekatku. Kalian yang memulai!" Rasa sesak pun menyeruak didalam hati Rifki.
Rifki berusaha untuk memberontak setelahnya, kedua matanya memerah menahan kemarahan yang bergejolak didalam hatinya. Dirinya telah kehilangan semuanya, bahkan kebahagiaannya pun ikut serta lenyap dan kini orang orang ini datang kepadanya untuk mengantarkan nyawanya sendiri.
__ADS_1