
Ditengah tengahnya kegelapan, Rifki dan Nadhira kini berlarian dibawa rimbunnya pepohonan yang ada didalam hutan, suasana yang sunyi itu membuat langkah kaki keduanya terdengar begitu jelas dan diikuti oleh suara suara hewan melata yang nampak begitu menyeramkan untuk didengar.
Rifki tiba tiba menghentikan langkahnya dan memandangi wilayah sekitarnya, ia merasa ada yang aneh dengan tempat itu, akan tetapi setahunya tempat tersebut memang dihuni oleh para mahluk gaib yang sangat menyeramkan.
Rifki melihat begitu banyak mahluk gaib yang tengah mengitarinya saat ini, mulai dari bentuk manusia yang sangat menyeramkan sampai ke bentuk hewan yang begitu ganas, hal itu membuat Rifki menghentikan langkahnya dengan nafas yang sedikit memburu.
"Kenapa kalian menghalangi jalanku tiba tiba seperti ini wahai penghuni tempat ini?" Tanya Rifki kepada para mahluk gaib yang ada didepannya.
Para mahluk itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Rifki, mereka malah berjalan mendekat kearah dimana keduanya berada, dia Rifki yang melihat itu segera menarik tangan Nadhira untuk berjalan mundur menjauh dari sekawanan mahluk gaib itu.
"Ada apa Rif? Apa didepan ada sesuatu?" Tanya Nadhira dengan berbisik.
"Banyak mahluk gaib didepan sana Dhira, mereka tidak mau menjawab pertanyaan dariku dan malah mendekat kearah kita sekarang, entah aku sendiri juga tidak tau apa yang sedang mereka inginkan saat ini" Ucap Rifki.
Nadhira seketika merangkul lengan Rifki begitu erat, dirinya sangat takut ketika mendengar ucapan Rifki tersebut yang mengatakan bahwa didepan mereka kini terdapat begitu banyak mahluk gaib, dan sekarang mereka mencoba untuk mendekat kearah dimana Rifki dan Nadhira berada.
"Apa kalian menginginkan permata iblis itu juga?" Tanya Rifki sambil berjaga jaga.
Rifki menduga bahwa mereka kini tengah menginginkan energi dari permata iblis itu sehingga mereka berusaha untuk mendekat kearah keduanya, akan tetapi mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Rifki dan malah terus mendekat kearah keduanya.
"Tidak ada pilihan lain, mengobrol dengan kalian sama seperti mengobrol dengan batu" Ucap Rifki sambil mengeratkan giginya.
Rifki pun mengeluarkan khodam macan putih yang ada pada tubunya dan khodam macan putih itu diperkuat oleh aura keris pusaka xingsi, seketika itu juga keluar sebuah cahaya putih terang dari dalam tubuh Rifki akan tetapi hanya bisa dilihat oleh para mahluk gaib tersebut.
Nadhira begitu takjub ketika melihat wajah Rifki seakan akan begitu berkarisma dan berwibawa tersebut, entah apa yang terjadi, sejak aura itu keluar dan diikuti oleh khodam keturunan miliknya itu wajah Rifki sedikit memancarkan aura karismanya hingga akan membuat gadis yang melihatnya akan terpesona karenanya.
"Apa yang kalian inginkan dariku! Aku bisa saja menghancurkan jiwa kalian menggunakan keris pusaka xingsi ini" Ucap Rifki lagi.
"Kalian telah memasuki wilayah kami dengan sembarang, kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini dan kalian harus menjadi penghuni tempat ini, jangan harap kalian bisa keluar dari wilayah ini".
"Kalian tidak bisa melakukan itu, kami terpaksa memasuki wilayah kalian karena kami sedang berada didalam incaran para dukun sakti, kami tidak berniat untuk menganggu kalian" Ucap Rifki.
Para mahluk itu seakan akan tidak mendengarkan ucap Rifki, mereka malah berusaha untuk menyerang keduanya, akan tetapi Rifki tidak tinggal diam dan segera memerintahkan kepada khodamnya untuk menyerang balik kearah mereka, energi Rifki seakan akan diserap begitu derasnya hingga dirinya terjatuh bertumpuan tangan diatas tanah.
"Rifki kau kenapa?" Tanya Nadhira khawatir.
"Mereka menyerap energi positifku Dhira, akh..." Ucap Rifki sambil memegang dadanya.
"Rifki hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah.
"Aku ngak apa apa Dhira, jangan menangis, ini hanya terasa mual dan lemas saja kok, jangan khawatir ya".
"Rifki, aku takut kamu kenapa kenapa Rif".
"Aku pasti baik baik saja, selama kamu ada disini untukku Dhira".
Nadhira meneteskan air matanya ketika melihat Rifki kesakitan seperti itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa apa, seketika itu juga Nimas muncul dihadapan keduanya dan langsung menghentikan pertarungan itu, dan khodam macan putih milik Rifki segera memberikan energi yang telah diambil oleh para mahluk gaib itu kepada Rifki.
"Kalian cepat pergi dari sini, biar aku yang akan mengurus mereka disini" Ucap Nimas.
"Baiklah Nimas, hati hati" Ucap Nadhira sambil membantu Rifki untuk berdiri.
Rifki dan Nadhira segera pergi dari tempat itu sesuai dengan permintaan dari Nimas, mereka pun berlari entah kemana yang mereka tuju, mereka harus menghindari kejaran dari para dukun tersebut, ilusi yang Raka buat begitu mudah untuk ditembus oleh mereka karena lemahnya kekuatan yang Raka miliki.
"Hidup berpuluh puluh tahun tapi kekuatanku sama sekali tidak meningkat, huft.. bagaimana sih caranya meningkatkan kekuatan" Gerutunya.
"Hei hantu kecil, kau tidak akan bisa melawan kami disini, sebaiknya segera pergi dan jangan menghalangi kami atau jiwamu akan kami lenyapkan" Ucap salah satu dari mereka.
"Aku bukan hantu kecil, tubuhku saja memang yang kecil tapi hidupku jauh lebih lama daripada kalian semua" Raka tidak terima jika dipanggil sebagai hantu kecil.
__ADS_1
"Karena itu, sudah waktunya kau untuk meninggalkan dunia ini, kami akan membantumu untuk dapat melenyapkan jiwa mu itu"
"Tangkap aku dulu, kalian tidak akan bisa melakukan itu kepadaku"
Raka langsung menghilang dari tempat itu begitu saja, dan hal itu berhasil membuat mereka merasa geram dengan apa yang kini dilakukan oleh Raka, dan dirinya terus menciptakan sebuah ilusi ilusi yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya, dan hal itu membuat para dukun semakin merasa marah kepada Raka dengan apa yang dirinya lakukan saat ini.
"Sialan tuh hantu kecil!" Umpat salah satu dukun.
Disatu sisi Rifki dan Nadhira terus berlari untuk menghindari kejaran dari para dukun itu, tanpa sengaja Rifki melihat kearah langit malam ini, dan menemukan bahwa gerhana bulan merah akan mencapai puncaknya, dan itu akan sangat berbahaya bagi Nadhira.
"Bertahan lah Dhira, sebentar lagi gerhana bulan merah akan segera berlalu" Ucap Rifki.
"Aku sangat takut Rif"
Nadhira teringat kembali ketika Haris dan Aryabima membawanya kedalam sebuah goa dimana dirinya sangat kesakitan disaat gerhana bulan merah darah tepat pada puncaknya, dan dirinya tidak akan mampu untuk membantu Rifki nantinya apalagi didalam situasi yang kejar kejaran seperti ini.
"Jangan takut Dhira, aku akan selalu menjagamu".
Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki dan keduanya segera bergegas pergi dari tempat itu, keduanya terus berlari seperti tiada tujuan untuk mereka capai, bahkan untuk mendatangi desa Mawar Merah sekalipun itu.
Ditengah tengah kegelapan, Nadhira dan Rifki tak henti hentinya terus menggerakkan kedua kaki mereka untuk melangkah entah kemana, semak semak disana cukup tinggi hingga membuat keduanya sedikit kesulitan untuk berlari maupun hanya sekedar berjalan.
Dapat terlihat bahwa keduanya kini tengah kelelahan karena berlari cukup jauh, dan hal itu membuat Nadhira terjatuh tiba tiba, Nadhira tidak boleh terlalu kelelahan dan akan berbahaya bagi kondisinya juga, sehingga Nadhira tiba tiba terjatuh begitu saja akan tetapi Rifki dengan sigap segera menangkap tubuhnya yang hendak jatuh itu.
"Kamu baik baik saja Dhira?" Tanya Rifki sambil memegang tubuh Nadhira dengan erat.
"Aku hanya kelelahan saja Rif, sejak dari tadi kita berlari terus terusan".
"Sebentar lagi puncak gerhana bulan akan terjadi, setelah itu kita akan baik baik saja".
"Aku berharap juga begitu Rif".
Rifki berhenti dibawah sebuah pohon yang cukup berar dan diduganya adalah pohon yang dapat menghasilkan mata air disaat genting, lokasi saat ini berada didekat sebuah rawa sehingga akan mudah untuk menemukan pepohonan yang dapat menghasilkan air tersebut, Rifki segera mengambil sebuah daun talas yang ia gunakan sebagai penampung air yang keluar nantinya.
"Dhira dimana pisau kecilmu itu?" Tanya Rifki.
"Ada Rif, kamu mau ngapain?" Tanya Nadhira balik sambil menyerahkan sebuah pisau yang berbentuk seperti pena tersebut.
"Lihatlah apa yang akan aku buat saat ini".
Rifki segera membuat lubang kecil dipohon tersebut dibagian atas dan dia juga membuat lubang kecil lagi dibagian terdekat dengan akar pohon tersebut, setelah menunggu lama akhirnya pohon tersebut mengeluarkan air yang begitu murni.
Rifki tersenyum melihat apa yang terjadi, dan Nadhira sangat takjub dengan apa yang dilakukan oleh Rifki, Rifki segera menadahi air itu menggunakan daun talas yang ia petik sebelumnya, setelah air itu terkumpul banyak ia segera menyerahkannya kepada Nadhira.
"Minumlah, kau pasti haus bukan? Ini bisa dibuat untuk memulihkan tenaga juga" Rifki menyuruh Nadhira untuk meminumnya.
"Kamu tidak meminumnya juga?" Tanya Nadhira sambil menatap wajah Rifki.
"Kondisimu lebih utama Dhira, kau pasti sangat kelelahan setelah berlari cukup jauh, sudah minum saja kau tidak perlu cemas soal diriku".
Rifki segera membantu Nadhira untuk dapat meminum mata air itu menggunakan daun talas, Nadhira segera meminumnya sesuai dengan keinginan Rifki, rasa segar dan manisnya air tersebut mengalir begitu saja melewati tenggorokan Nadhira hingga membuat Nadhira merasa lebih baik.
Rifki yang melihat Nadhira meminumnya hanya bisa tersenyum lembut kearahnya, Nadhira meminumnya hingga tandas tak tersisa karena rasa hausnya yang terus menyerangnya sejak tadi.
"Ini sangat manis dan menyegarkan sekali Rif, bagaimana kau tau soal tanaman seperti itu?" Tanya Nadhira yang mulai kembali ceria.
"Kau benar Dhira, air yang dihasilkan oleh pepohonan begitu menyegarkan, aku hanya membaca sebuah buku saja, tidak ku sangka bahwa itu akan berguna untuk saat ini" Ucap Rifki sambil menyengir kearah Nadhira.
"Kau tidak minum juga?"
__ADS_1
"Sudah tadi Dhira, mungkin hanya seteguk saja tadi, sebaik kita segera pergi dari sini Dhira".
Rifki segera mengajak Nadhira untuk pergi dari tempat itu karena ia merasa ada segerombolan orang yang akan mendekat kearah tempat itu, sehingga membuat Rifki harus secepatnya pergi dari tempat itu sebelum mereka mendangkap keduanya.
Benar saja dugaan Rifki, tak beberapa lama kemudian para dukun tersebut telah sampai ditempat Nadhira dan Rifki sebelumnya, sebelumnya mereka mendengar suara seseorang dari arah itu akan tetapi setelah sampai disana mereka tidak menemukan apapun ataupun seorangpun disana.
"Sial! Mereka lolos lagi" Ucap salah satu dukun yang paling sakti diantara yang lain.
"Lalu kemana kita harus mencari mereka Tuan?".
"Ke arah utara, sebentar lagi gerhana bulan merah akan memcapai puncaknya, dan itu adalah kesempatan yang bagus untuk kita mengambil permata iblis itu".
"Baik Tuan".
Mereka segera menuju kearah utara dimana Nadhira dan Rifki tengah berlari saat ini, keduanya dapat melihat bahwa kini jarak mereka begitu dekat dengan orang orang itu yang artinya mereka jauh lebih cepat daripada laju lari keduanya.
"Berhenti kalian!" Teriak salah satu dukun dan langsung meminta kepada anak buahnya untuk mengepung Rifki dan Nadhira.
Melihat itu Rifki tidak tinggal diam dan langsung menyerang kearah orang terdekat yang dapat ia jangkau saat ini, Rifki bertarung sambil memutari Nadhira dan sesekali melontarkan sebuah pukulan maupun tendangan kepada seseorang untuk menjauhkan orang orang itu dari tubuh Nadhira.
Melihat itu membuat Nadhira mengepalkan kedua tangannya, ia tidak mau melihat Rifki yang kini sedang bertarung sendirian, akhirnya Nadhira memutuskan untuk bergabung dengan Rifki dan menyerang kearah orang orang itu dengan gerakan kombinasi antara keduanya.
"Jangan jauh jauh dariku Dhira" Ucap Rifki kepada Nadhira meskipun kini dirinya tengah sibuk melawan orang orang yang ada disekitarnya.
"Iya Rif".
Kini Rifki dan Nadhira saling membelakangi untuk dapat menyerang dan saling melindungi satu sama lain, hingga tidak akan terjadinya penyerangan dari belakang dan tiba tiba, Nadhira pun mengeluarkan tongkat miliknya dari dalam saku bajunya.
Nadhira dan Rifki memegang tongkat mereka masing masing ditangan kanan mereka dengan memasang kuda kuda untuk siap bertarung, dan seluruh orang yang ada ditempat itu kini sedang memutarinya, Nadhira dan Rifki memandangi satu persatu musuh mereka yang sedang mengitarinya.
"Kemana lagi kau akan lari gadis cantik, menyerahlah dan serahkan permata itu dengan baik baik, maka kami akan memberikan kematian yang cepat" Ucap dukun tersebut yang mengetahui kalau permata itu diambil secara paksa maka nyawa Nadhira akan menjadi taruhannya.
"Aku tidak akan lari dari sini, sepertinya sedikit pemanasan juga bagus untukku" Ucap Nadhira dengan santainya meskipun sebenarnya dirinya sangat takut apalagi ketika mengingat bahwa gerhana bulan akan mencapai puncaknya.
"Aku ingin lihat, sampai kapan kau akan bertahan dari serangan kami, aku beri dirimu kesempatan lagi sekali, menyerahlah maka kami tidak akan menyiksa dirimu nantinya, dan kau pasti tidak akan merasakan sakit lagi nanti".
"Air beriak tanda tak dalam, dan orang yang banyak bicara biasanya akan mudah dikalahkan" Ucap Rifki yang sengaja memanasi mereka.
"Rupanya kau memang menantang kami".
"Syukurlah kalau kalian sadar" Setelah mengatakan itu Rifki dan Nadhira segera mengeratkan pegangannya kepada tongkat yang ada ditangannya.
Rifki segera menyerang orang terdekatnya begitu pun dengan Nadhira sehingga orang orang yang tadinya belum siap kini menjadi kewalahan karena serangan keduanya yang begitu ahli dalam beladiri itu dengan sangat tiba tiba tanpa memberi aba aba terlebih dahulu sebelumnya.
Ketika Rifki melihat adanya sebuah cela yang dapat mereka gunakan untuk kabur dari tempat itu, Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk menjauh dari sana dan keduanya kembali berlari sementara para dukun tersebut terlihat begitu murka dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Rifki dan Nadhira yang sudah jauh.
Setelah berlari beberapa menit akhirnya mereka sampai disebuah tanah lapang yang cukup luas akan tetapi ilalang ilalang yang ada disana terlihat cukup tinggi, mereka mampu dengan jelas melihat gerhana bulan merah berdarah tersebut, dan akan sepenuhnya menutupi bulan yang bersinar terang.
"Sebentar lagi gerhana bulan akan mencapai puncaknya Dhira, dan sebentar lagi gerhana bulan ini akan selesai" Ucap Rifki sambil memandang kearah langit tinggi.
"Iya Rif, aku ingin hari ini akan segera berlalu".
Nadhira dan Rifki memandang kearah yang sama dimana bulan yang bulat terang, kini tengah tertutup oleh gerhana hanya butuh hitungan detik maka gerhana itu akan menutupi bulan dengan sempurna, dan seketika itu juga pernafasan Nadhira mulai tidak setabil dan semakin cepat.
"Kamu kenapa Dhira?" Ucap Rifki panik sambil memegangi bahu Nadhira.
"Aku tidak tau Rif, tiba tiba jantungku terasa begitu sakit dan terasa seperti tersayat sayat" Ucap Nadhira sambil memegangi dadanya.
Nadhira pun terjatuh dari berdirinya, hingga Rifki segera menangkap tubuh Nadhira sebelumnya dirinya terjatuh ditanah dan segera mengalungkan tangannya kelehernya, ia pun menuntun Nadhira menuju kesebuah bebatuan besar yang tidak jauh dari tempat dimana keduanya berdiri saat ini, dengan perlahan Rifki menyandarkan tubuh Nadhira ke bebatuan itu.
__ADS_1
Rifki merasakan bahwa kini energi permata yang ada didalam tubuh Nadhira sedang bergejolak dengan dahsyatnya, dan hal itulah yang membuat Nadhira merasa lemas dan merasakan sakit.