Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki sadarkan diri


__ADS_3

Setelah mendapatkan beberapa daun obat, Nadhira lalu kembali masuk kedalam goa tersebut dan mendapati bahwa Rifki masih tertidur dengan nyamannya. Nadhira lalu merem*as dedaunan itu menjadi halus, dirinya membuka sedikit pakaiannya yang terdapat luka dan langsung mengobati lukanya sendirian.


Rasanya sangat perih ketika dedaunan yang halus itu menyentuh lukanya, bahkan hal itu sampai membuat Nadhira memekik menahan rasa sakitnya itu. Luka yang sejak tadi dirinya abaikan itu, kini terasa sangat sakit dan perih dirasanya.


Bahkan bekas sayatan itu terlihat mulai membiru, dirinya harus bisa menahan rasa sakitnya itu. Itu adalah akibat dari tindakannya sendiri, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak menyesalinya. Meskipun akhirnya dirinya yang merasa sangat sakit, sehingga menahan rasa perih yang teramat sangat mendalam, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menyesal karena bisa menyelamatkan Rifki.


Dengan perlahan lahan, Nadhira mulai mengobati lukanya itu, meskipun bekasnya tidak akan hilang begitu saja. Bekas luka seperti itu akan membutuhkan waktu bertahun tahun agar bisa hilang dengan sempurna, sehingga untuk sementara waktu bekas itu akan terus ada dilengan Nadhira.


"Akh... Semoga saja tidak terjadi infeksi nanti, sayatannya sangat dalam. Kalo ngak sembuh sembuh gimana diriku bisa ngelindungin orang orang yang aku sayang? Pokoknya harus sembuh!"


Nadhira langsung menutup kembali pakaiannya itu, dirinya pun duduk didepan sebuah perapian sambil memandangi wajah Rifki dari kejauhan . Dirinya masih belum puas untuk melihat wajah lelaki yang sangat dirinya rindukan itu, bahkan dirinya tidak tega meninggalkan lelaki itu lagi.


Nadhira duduk didepan sebuah perapian untuk mengeringkan bajunya yang sedikit basah karena habis mencari tanaman obat untuk lukanya itu. Rasanya sangat hangat jika duduk didepan sebuah perapian, meskipun rasa perihnya sama sekali tidak meredah saat ini.


Rasa panas yang tercipta dari api itu, seakan akan tengah menusuk nusuk kulitnya. Akan tetapi, hal itu begitu nyaman karena udara dingin yang terus menyerangnya sejak tadi itu. Kobaran api itu perlahan lahan membuat pakaian Nadhira kering, bahkan hal itu membuatnya merasa sangat nyaman.


Dirinya melihat kearah luar goa yang terlihat bahwa hujan telah berhenti, udara semakin dingin itu artinya pagi akan segera tiba. Udara dingin ketika subuh akan jauh berbeda daripada udara dingin ketika tengah malam.


Nadhira lalu bangkit dari duduknya, dirinya pun bergegas untuk mendatangi dimana Rifki berada. Dirinya masih ingin terus bersama Rifki, akan tetapi waktulah yang harus memisahkan mereka. Nadhira tidak ingin anaknya mengkhawatirkannya, karena dirinya yang tidak pulang semalaman itu.


"Rif, sebentar lagi matahari akan terbit. Aku pergi dulu ya? Aku akan berusaha untuk membawa anggota Gengcobra kemari untuk menolongmu, jaga dirimu baik baik. Aku sangat mencintaimu, kau harus baik baik saja, dan kau tidak boleh terluka sedikitpun itu. Sayang, aku sangat mencintaimu bahkan aku rela melakukan apapun demi dirimu, aku tidak peduli dengan nyawaku sendiri asalkan kau dan anak kita baik baik saja itu udah cukup bagiku. Aku sangat menyayangimu, lebih dari nyawaku sendiri,"


Nadhira lalu mencium kening Rifki dengan sangat lamanya, Nadhira melakukan itu hanya sebagai obat kerinduannya terhadap Rifki selama ini. Pertemuan keduanya begitu singkat saat ini, dan bahkan Rifki tidak tahu bahwa dirinya saat ini bertemu dengan Nadhira orang yang paling dicintainya.


Seandainya Rifki mengetahui bahwa Nadhira hadir disampingnya saat ini, dirinya tidak akan membiarkan Nadhira untuk pergi lagi. Akan tetapi Rifki tidak bisa melakukan itu, karena dirinya sedang tidak sadarkan diri saat ini. Nadhira lalu melepaskan ciumannya itu, dirinya pun lalu bangkit berdiri disamping Rifki yang sedang terbaring tidak sadarkan diri itu.


Berat rasanya untuk meninggalkan Rifki ditempat itu, apalagi Nadhira seakan akan tidak ingin berpisah lagi dengan lelaki itu. Akan tetapi, dirinya tidak punya pilihan lain selain pergi dari sana sebelum Rifki sadarkan diri, karena jika Rifki sampai sadarkan diri ketika Nadhira masih disana, maka identitasnya akan terbongkar. Hal itu membuat musuh musuhnya akan mengincar nyawa dari Kinara, Nadhira tidak mau kalau hal itu sampai terjadi.


"Aku harus memeriksa Hendra, apakah dia sudah mati atau belum,"


Nadhira lalu melangkah pergi dari tempat itu, ketika dirinya sudah berada diluar goa, dia langsung bergegas untuk menuju ketempat dimana Hendra berada. Dia melihat bahwa Hendra masih belum mati, akan tetapi kesadarannya begitu tipis dan terlihat sangat lemas.


Wanita bercadar itu langsung mengangkat pedangnya yang tertinggal disana untuk menghabisi lelaki itu, akan tetapi sebelum dirinya melakukan itu dia mendengar suara langkah beberapa orang yang mendekat, mendengar itu langsung membuat Nadhira bersembunyi dibalik sebuah semak semak.


"Kalian cari Tuan Muda disekitar tempat ini," Suara Bayu pun terdengar oleh Nadhira.


"Anggota Gengcobra," Guman Nadhira lirih.


Nadhira melihat beberapa anggota Gengcobra menuju ketempat itu, mereka begitu terkejut ketika melihat begitu banyak tubuh tanpa nyawa disana. Mereka pun juga sangat terkejut ketika melihat Hendra yang diikat disebuah pohon, dan Bayu langsung bergegas untuk mendatanginya.


"Pak Hendra, apa yang terjadi?" Tanya Bayu yang selesai memeriksa pernafasan Hendra.


Hendra masih hidup, akan tetapi dirinya begitu lemah saat ini karena begitu banyak darah yang keluar dari dalam tubuhnya itu. Mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi ditempat itu, apalagi melihat Hendra yang tengah terluka sangat parahnya itu.


Sebelumnya, mereka panik untuk segera mencari Rifki yang tiba tiba menghilang dari acara itu. Mereka langsung menghentikan acara tersebut karena mengetahui bahwa Rifki telah diculik dari sana, hal itu membuat anggota Gengcobra berhamburan demi mencari keberadaan dari Rifki.


Kejadian itu benar benar begitu cepat, hingga mereka tidak menemukan keberadaan dari Rifki. Bayu yang menemukan sebuah suntikkan berisikan obat bius itu langsung panik, dirinya sendiri langsung memberi arahan kepada anggota Gengcobra untuk segera mencari keberadaan dari Rifki.


Bayu langsung menghubungi Haris karena Rifki yang hilang tiba tiba itu, Haris pun demikian dan dirinya langsung bergegas untuk mencari keberadaan dari Rifki. Mereka tidak menyangka bahwa diacara pesta bunga api seperti ini akan menimbulkan bahaya untuk Rifki, bahkan kejadian itu sudah direncanakan sejak lama sehingga mereka dengan mudah membawa Rifki pergi dari tempat itu tanpa ada yang mengetahuinya.


"Apa ada yang hidup?" Tanya seseorang kepada Bayu, orang itu tidak lain adalah Haris.


Sebelumnya, Haris curiga bahwa Rifki akan dibawa ketempat itu, karena hanya ditempat itu lah mereka bisa mengambil keris pusaka xingsi yang bahkan keris itu sudah lenyap saat ini. Kecurigaannya itu terbayar, ketika mereka menemukan beberapa mayat yang berserakan ditempat itu, seperti telah terjadi sebuah pertarungan yang sengit.

__ADS_1


Mereka tidak tau mana mengapa begitu banyak mayat disana, apalagi mereka juga tidak tau siapa yang telah membunuh orang orang itu. Bahkan mereka tidak tau mana yang jahat dan yang baik, karena mereka tidak mengenali orang orang itu.


Seandainya mereka tau bahwa semuanya dibunuh oleh orang yang sama, mereka pasti akan sangat terkejut. Nadhira yang menyaksikan kedatangan dari Haris pun tersenyum, ternyata Papa mertuanya masih dalam keadaan baik baik saja dan meskipun dirinya juga sedih atas kehilangan sosok seorang Kakek yang baik seperti Aryabima.


"Papa, Alhamdulillah Papa baik baik saja. Papa orang yang selama ini menyayangiku seperti anaknya sendiri, melihat Papa sehat sehat saja membuatku senang," Guman Nadhira pelan.


"Tuan Besar, tidak ada yang tersisa disini. Hanya Pak Hendra yang masih bernafas akan tetapi kondisinya sangat lemas," Jawab Bayu.


Bayu langsung berlutut didepan lelaki yang bernama Hendra itu, dirinya memerhatikan wajah kesakitan yang tercipta diwajah Hendra. Hendra adalah orang yang paling dekat dengan Bayu, karena ketika Bayu berada didalam Surya Jayantara, dirinya selalu diperlakukan dengan baik oleh Hendra.


Bayu semakin bingung mengapa Hendra ada ditempat ini dan bahkan dirinya terluka sangat parah saat ini. Bayu mencoba untuk mengajaknya berbicara, akan tetapi Hendra yang dengan lemasnya itu tidak mampu untuk menyahuti ucapannya.


"Pak Hendra, apa yang terjadi?" Tanya Bayu ketika melihat Hendra yang perlahan lahan membuka matanya.


Melihat itu langsung membuat Nadhira mengepalkan tangannya dengan erat, jangan sampai lelaki itu membuka suara. Jika sampai dirinya mengatakan hal yang sebaliknya, akan sangat bahaya bagi Nadhira dan Kinara nantinya.


"Tu... Tuan..." Ucap Hendra terbata bata sambil memuntahkan seteguk darah.


"Apa anda melihat Rifki? Diman dia?" Tanya Bayu.


"A... Da... Di... Goa..." Jawabnya dengan susah payahnya.


"Didalam goa?" Tanya Bayu mengulangi jawaban dari Hendra dan dijawab anggukan olehnya, "Lalu siapa yang telah melakukan ini kepada anda? Katakan kepada kami, Pak. Kami tidak akan membiarkan pelakunya bebas begitu saja,"


Bayu tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Hendra kepada Rifki, yang Bayu ketahui hanyalah lelaki itu yang sedang terluka dengan parahnya. Bayu berpikir bahwa lelaki itu terluka karena ingin melindungi Rifki, akan tetapi siapa pelakunya? Mengapa Hendra mengetahui bahwa Rifki berada didalam goa? Mungkinkah pelakunya telah membawa Rifki masuk kedalam goa?


Tercipta sebuah pertanyaan yang besar dikepala mereka masing masing mengenai hal yang sebenarnya terjadi, dan tidak ada yang mengetahuinya bahwa kejadian tersebut telah direncanakan oleh Hendra.


"No....."


"Pak Hendra mau mengatakan apa?" Tanya Bayu yang tidak paham dengan ucapan dari Hendra.


"No? No siapa maksudnya?" Tanya Vano yang sekilas mendengarnya.


Hendra mencoba untuk membuka mulutnya lebar lebar, akan tetapi tidak ada kata yang keluar dari sana. Dirinya seakan akan tengah menahan rasa sakit yang teramat sangat saat ini, bahkan rasanya seperti seluruh anggota tubuhnya terasa sakit.


"Pak Hendra mau ngomong apa?" Tanya Bayu.


"Non..."


Jlebbb...


Belum sempat Hendra mengatakan siapa yang melakukan ini kepadanya, sebuah pisau kecil berbentuk pena pun menancap dilehernya hingga membuat dirinya langsung termuntahkan seteguk darah. Bahkan saat itu juga nyawanya telah melayang, bahkan dia belum sempat mengatakan siapa pelakunya.


"Woi siapa yang melakukannya! Tangkap dia!" Teriak Bayu ketika menyaksikan hal itu.


Dari kejauhan, terlihat sebuah bayangan hitam yang berlari pergi dari tempat itu. Melihat itu langsung membuat anggota Gengcobra segera mengejarnya, mungkinkah Nadhira akan tertangkap kali ini? Nadhira terus berlari dengan kemampuan yang dirinya bisa, agar anggota Gengcobra tidak mampu untuk menangkapnya saat ini.


Karena pakaiannya yang hitam legam itu, hingga membuat mampu untuk lolos dari kejaran para anggota Gengcobra. Bahkan anggota Gengcobra sampai kehilangan jejaknya, dan tidak ada yang mampu untuk menangkapnya saat ini.


Anggota Gengcobra yang tidak mendapatkan hasil apapun itu, langsung bergegas untuk kembali ketempat sebelumnya. Mereka tidak tau lagi harus mencari sosok itu kemana, karena sosok itu begitu cepat menghilang dari kejaran mereka semua.


"Tuan, larinya begitu cepat. Sampai sampai kami tidak berhasil untuk menangkapnya," Lapor salah satu anggota Gengcobra yang mengejar bayangan hitam yang tidak lain adalah Nadhira.

__ADS_1


Bayu pun merasa sangat kesal karena anggota Gengcobra sama sekali tidak bisa menangkap orang itu. Bayu lalu bergegas untuk mendatangi Hendra, dirinya lalu mencabut pisau kecil yang menancap dileher Hendra itu, pisau itu sangat dirinya kenali.


"Tuan Besar, pisau ini milik Nadhira," Ucap Bayu ketika menyadari pemilik dari pisau kecil itu.


Mendengar itu langsung membuat Haris mengambil pisau tersebut dari tangan Bayu, dirinya lalu memperhatikan pisau kecil itu dengan teliti. Milik Rifki dan Nadhira begitu mirip, bahkan pisau kecil yang dimiliki oleh keduanya tidak ada bedanya, hal itulah yang membuat Haris ragu.


"Apakah Dhira benar benar masih hidup?" Tanya Haris sambil memegangi pisau kecil itu.


"Tuan Bayu, mungkinkah bayangan tadi adalah Nona Muda?" Tanya Reno kepada Bayu.


"Aku tidak tau soal itu, apa mungkin itu benar benar Nadhira?" Ucap Bayu.


Disatu sisi, Nadhira merasa lega bahwa anggota Gengcobra sudah tidak mengejarnya lagi. Dirinya yakin bahwa Hendra sudah mati saat ini, dia tidak akan membiarkan lelaki itu hidup dan akan membuatnya semakin dalam bahaya nantinya. Nadhira lalu keluar dari hutan itu dengan diam diam, dirinya takut kalau semisal masih ada anggota Gengcobra yang masih berjaga diluar hutan.


"Sepertinya sudah aman, aku harus segera pergi dari tempat ini. Untung saja Rifki masih membawa pisau kecil itu, jadi aku bisa menggunakan pisau itu untuk membunuh Hendra,"


Sebelum keluar dari goa itu, Nadhira merogoh saku celana yang dipakai oleh Rifki. Rifki biasanya menyimpan senjata rahasia itu disana, Nadhira tidak mungkin menggunakan pisau miliknya itu karena itu adalah barang berharga miliknya yang diberikan oleh Rifki untuk melindungi dirinya.


Jika Nadhira menggunakan pisau miliknya untuk membunuh Hendra, pisau itu akan dibawa oleh Haris dan tidak akan kembali kepadanya. Hal itulah yang membuat Nadhira mengambil pisau milik Rifki sebelumnya, sekaligus melabuhi mereka mengenai pisau kecil itu.


*****


Haris dan seluruh anggota Gengcobra langsung bergegas untuk menuju kearah goa tersebut, Haris masuk kedalam goa itu bersama dengan Bayu sementara anggota Gengcobra lainnya menunggu diluar goa.


Mereka begitu terkejut ketika melihat Rifki seorang diri berada didalam goa itu dengan api unggun yang masih menyala sebagai penerangan didalam goa yang gelap itu. Haris lalu bergegas untuk mendatangi dimana Rifki berada, dan dirinya berusaha untuk membangun Rifki dengan menggunakan minyak kayu putih.


"Rifki, apa yang terjadi? Bangun, Nak. Buka matamu," Ucap Haris menepuk pelan pipi Rifki.


"Om, dia sepertinya masih terpengaruh oleh obat bius. Sebaiknya kita bawa dia pergi dari sini saja," Ucap Bayu yang akan memanggil Haris Om ketika mereka hanya berdua tanpa adanya anggota Gengcobra disampingnya.


"Baiklah, kita bawa dia pergi sekarang,"


Haris dan Bayu langsung mengalungkan kedua tangan Rifki dileher mereka masing masing. Keduanya mencoba untuk membangkitkan Rifki, akan tetapi keduanya merasakan ada pergerakan ditangan Rifki saat ini.


"Om sepertinya Rifki akan sadar," Ucap Bayu.


Perlahan lahan, Rifki mulai membuka kedua matanya karena efek obat bius itu sudah habis. Merasakan itu, keduanya langsung membantu Rifki untuk duduk kembali ke batu yang besar itu,


"Rifki kamu ngak papa kan, Nak?" Tanya Haris ketika melihat Rifki mencoba membuka matanya itu.


"Pa, kepala Rifki sakit banget," Ucap Rifki lirih.


Rifki mulai membuka matanya perlahan lahan, karena cahayanya remang remang membuatnya mampu untuk membuka matanya dengan sempurna. Dirinya menatap kearah sekitarnya, dia begitu terkejut ketiks berada didalam sebuah goa.


"Kita pulang ya, Nak? Nanti kamu bisa istirahat dirumah saja," Ucap Haris.


"Kenapa Rifki dibawa kesini, Pa? Apa yang sebenarnya terjadi sama Rifki?" Tanya Rifki.


"Kamu tidak ingat apapun soal itu, Rif? Mungkin kamu ingat siapa yang membawamu kemari," Tanya Bayu.


"Aku ngak ingat apapun, Bay. Terakhir kalinya yang aku ingat seseorang mendatangiku didalam kamar hotel, setelah itu aku tidak sadar apa yang terjadi," Jawab Rifki mencoba untuk mengingatnya.


Rifki tidak tau apa yang terjadi kepadanya, kepalanya terasa sangat berat saat ini. Dia juga merasa aneh tentang siapa yang menolongnya saat ini, bahkan orang itu sampai menyalakan api unggun didalam goa itu agar Rifki tidak kedinginan.

__ADS_1


Dirinya juga terkejut ketika menemukan bekas darah dibajunya, darah milik siapa itu? Bahkan dirinya tidak ingat telah melakukan pertarungan hingga berdarah sebelumnya. Entah mengapa noda darah itu melekat dibajunya saat ini, apa yang sebenarnya terjadi dirinya pun tidak mengetahuinya.


__ADS_2