
Anggota Gengcobra dan yang lainnya segera menyusul anggota Gengters yang berlari tersebut akan tetapi tiba tiba anggota Gengters lainnya langsung menghadang mereka agar tidak mampu untuk menghentikan orang tersebut untuk membawa seseorang dalam karung itu.
Hal itu semakin membuat anggota Gengcobra merasa bahwa orang yang ada didalam karung tersebut benar benar Rifki karena dia sangat dilindungi oleh anggota Gengters.
"Tidak, itu bukan Rifki" Ucap Nadhira yang pertama kali tersadarkan dan langsung menghentikan langkahnya, "Ternyata kau mau mencoba mengecohku rupanya Theo, kau menjauhkan aku darimu untuk berbalik mengejar orang itu".
Nadhira merasa ada yang janggal dengan orang itu, jika memang benar dirinya ingin menculik Rifki dan membawanya pergi dari tempat itu tapi kenapa mereka memasukkannya kedalam karung? Bukankah itu akan membuat perhatian semuanya tertuju kepadanya?
Akan jauh lebih berbahaya jika membawa tawanan dengan cara terang terangan seperti itu apalagi tawanan tersebut menjadi incaran dari anggota Gengcobra, bukankah sama saja dengan bunuh diri ditangan musuhnya sendiri?
Oleh sebab itu Nadhira merasa janggal dengan hal itu dan dirinya merasa sangat yakin bahwa itu bukanlah Rifkinya melainkan orang lain yang sengaja membuatnya mengejar orang tersebut agar Theo mampu membawa Rifki pergi dari tempat itu tanpa kendala apapun.
Nadhira pun bergegas kembali menuju ketempat dimana dirinya mencurigai bahwa disanalah Theo dan Rifki ada, akan tetapi setibanya dirinya disana, ia tidak menemukan siapapun dan bahkan tempat itu terlihat sama sekali tidak ada yang mencurigakan.
"Mau lari kemana kau Theo, kau tidak akan pernah bisa untuk mengecoh diriku"
Nadhira menghirup nafas dalam dalam, ia pun mencium aroma parfum milik Rifki yang masih tertinggal ditempat itu, dan dirinya sangat yakin bahwa Theo membawa Rifki untuk bersembunyi ditempat itu.
Orang orang itu mungkin diperintahkan oleh Theo untuk mengecoh dirinya sehingga dirinya tidak mampu untuk menemukan keberadaan dari Rifki, dan hal itu membuatnya kehilangan jejak kemana perginya Theo yang menculik Rifki.
Semua orang berusaha untuk mengejar anggota Gengters yang membawa seseorang dalam karung tersebut akan tetapi tidak dengan Nadhira yang tidak mudah untuk dikecoh ataupun dilabuhi oleh siapapun itu, karena insting wanita begitu tajam.
Nadhira mengepalkan kedua tangannya karena dirinya tidak berhasil untuk menemukan keberadaan dari Theo yang sedang membawa Rifki, ia pun memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk mengetahui posisi keris pusaka xingsi melalui permata yang ada didalam tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa melakukan itu Dhira" Ucap Nimas yang tiba tiba muncul.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa melakukannya" Ucap Nadhira panik.
"Karena permata iblis tidak dapat merasakan keberadaan dari keris pusaka xingsi akan tetapi hanya keris pusaka xingsi yang mampu untuk melakukan hal itu untuk melacak keberadaan dari permata iblis".
"Lalu bagaimana caraku untuk mencari tau tentang keberadaan dari Rifki?".
"Ikuti kata hatimu saja untuk sekarang Dhira, aku tidak bisa membantumu untuk saat ini, karena aku memiliki batasan tersendiri yang tidak bisa aku lalui, ini adalah ujianmu untuk dapat bersatu dengan keris pusaka xingsi".
"Maksudmu? Aku sama sekali tidak paham Nimas".
"Hanya cinta yang tulus yang mampu untuk menyatuhkan permata iblis itu dengan keris pusaka xingsi, dengan cinta energi dari keduanya bisa bersatu, aku baru tau setelah Dilham datang untuk memberitahukan hal ini kepadaku, hanya kamu yang bisa membangunkan Rifki, karena dia bukan hanya terkena obat bius tapi terkena sihir jahat yang mampu melemahkan kekuatan keris pusaka xingsi".
"Apa bagaimana bisa?".
"Seseorang telah mendatangi Theo dengan diam diam, dan berpura pura untuk membantunya menganggalkan pernikahan kalian, dia memberikan sesuatu kepada Theo untuk dapat mencelakai Rifki"
*Flash back on*
Theo merasa begitu murka ketika mengetahui bahwa Nadhira akan menikah dengan Rifki, ia pun mengamuk hingga membuat anggota Gengters kewalahan untuk menghadapi amukan dari Theo.
Tiba tiba seseorang datang menemuinya, awalnya Theo terlihat sangat murka apalagi anggota Gengters membiarkan orang itu datang menemuinya begitu saja akan tetapi kemarahannya itu mereda ketika mengetahui bahwa orang itu akan menawarkan bantuan kepadanya.
"Kau tidak akan bisa mengalahkannya seorang diri dan kau tidak akan bisa merusak acara pernikahan orang yang kau cintai itu"
"Maksudmu apa ha! Jika kau datang kemari hanya untuk mengatakan itu, sebaiknya kau pergi dari sini!" Usir Theo kepada orang misterius.
"Aku kemari untuk menawarkan bantuan untukmu"
"Bantuan seperti apa?".
"Kau mencintai gadis itu kan? Aku menginginkan pemuda itu, bagaimana jika kita kerja sama kau bisa memiliki gadis itu dan aku bisa melakukan tugasku"
"Kenapa aku harus percaya dengan dirimu? Bagaimana kalau kau justru menghianatiku? Kau seorang lelaki, dan aku yakin kau akan terpana dengan garis itu nantinya"
"Tidak, aku tidak butuh gadis itu, aku hanya butuh pemuda itu"
"Bagaimana bisa aku mempercayaimu?"
Orang itu mengeluarkan sesuatu dari balik kantung bajunya, sebuah botol kecil yang berukuran segenggaman anak kecil dan memberikannya kepada Theo, sementara Theo langsung menerima botol kecil tersebut.
"Apa ini?" Tanya Theo.
"Obat bius, gunakan itu untuk pemuda itu, maka pemuda itu tidak akan bisa bangun lagi, ketika dia sudah tidak sadar, bawalah dia kepadaku dan kau bebas untuk menikah dengan gadis yang kau cintai itu tanpa takut dirusak oleh pemuda yang kau maksud itu"
__ADS_1
"Apakah obat ini sekuat itu sampai bisa membuat orang yang aku maksud tidak bangun lagi?
"Karena didalam obat itu, ada kekuatan sihir yang sangat kuat, siapapun tidak bisa mematahkan kekuatan sihir itu, termasuk juga pelindung gaib yang selalu mengikuti mereka"
"Kenapa kau sangat menginginkan pemuda itu? Apa yang akan kau lakukan dengan dia?"
"Aku akan membunuhnya, karena dendam masa lalu keluargaku kepadanya dan akan merebut kembali apa yang seharusnya aku dapatkan"
"Baiklah kalau begitu, aku setuju dengan kerja sama ini dan aku pastikan akan membawanya kepadamu secepat mungkin"
"Baiklah, aku tunggu itu"
Orang yang menemui Theo tersebut langsung pergi begitu saja, Theo tidak mengenali orang itu karena wajahnya yang tertutup oleh sebuah slayer berwarna hitam dan juga memakai topi dan jaket hitam.
"Siapapun orang itu aku tidak peduli, Dhira bersiaplah aku akan datang untuk menghancurkan pesta pernikahanmu dan ucapkan selamat tinggal kepada orang yang kau sayangi itu" Ucap Theo sambil tersenyum licik.
Theo merasa seperti ada angin segar yang menerpanya hingga membuatnya merasa sangat bahagia kali ini, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain merusak acara pernikahan dari orang yang sangat ia cintai itu.
Theo mengatakan bahwa dia sangat cinta dengan Nadhira akan tetapi itu hanyalah sebuah ambisi untuk memiliki Nadhira, cinta sejati tidak akan merusak kebahagiaan dari orang yang dicintainya akan tetapi cinta yang sejati adalah melakukan apapun asal orang yang dicintainya bahagia meskipun bukan bersama dengannya.
*Flash back off*
"Jadi Rifki terkena sihir?" Ucap Nadhira yang terkejut ketika mendengar cerita yang disampaikan oleh Nimas tersebut.
"Benar Dhira, maafkan aku karena aku tidak bisa membantumu kali ini, kau harus melakukannya sendiri untuk dapat menyelamatkan Rifki"
"Baiklah, aku akan melakukan apapun asalkan Rifki selamat"
Tiba tiba Nimas menghilang dari tempat itu, Nadhira yang melihat kepergiannya itu langsung menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan, ia pun bergegas menuju kesuatu arah yang dirinya yakin bahwa Theo membawanya kesana.
*****
Anggota Gengcobra masih mengejar orang yang mereka kira saat ini sedang membawa Rifki pergi, akan tetapi Bayu dan Fajar menyadari bahwa Nadhira tidak berada diantara mereka, keduanya pun langsung menghentikan langkahnya.
"Dimana Dhira?" Tanya Bayu.
"Bukankah dia tadi dibelakang kita?" Tanya Fajar balik kepada Bayu.
Bayu yang baru menyadari bahwa orang itu bukan Rifki segera berbalik arah untuk mencari Nadhira, ia juga merasa curiga kenapa mereka menutupi tubuh Rifki padahal jika mereka melakukan itu mungkin akan menarik perhatian seluruh anggota Gengcobra.
Melihat Bayu yang berlari kearah yang berlawanan membuat Fajar segera berteriak agar anggota Gengcobra menghentikan pengejaran itu, dan dia mengambil alih untuk memerintahkan mereka menjaga gerbang bangunan itu.
"Jangan biarkan siapapun keluar dari gerbang! Dia bukan Rifki kita hanya dijebak" Teriak Fajar.
Mendengar itu membuat anggota Gengcobra sebagian segera berlari kearah gerbang bangunan yang besar itu, sementara yang lainnya mengikuti kemana perginya Bayu dan Fajar.
Mereka semua kembali berpencar untuk mencari anggota Gengters yang membawa Rifki, bukan hanya begitu saja akan tetapi anggota Gengcobra telah menangkap beberapa anggota Gengters yang mencoba menyerang mereka.
Anggota Gengcobra mengikatnya dan menjaganya agar tidak ada yang bisa melepas anggota Gengters dari tangan mereka, siapapun yang berusaha untuk melepaskan anggota Gengters maka mereka pun akan langsung ditangkap oleh anggota Gengcobra.
"Bos, posisi kita sedang dikepung" Ucap anggota Gengters yang sedang bersama dengan Theo.
"Apapun yang terjadi, kita harus membawanya pergi dari sini sesuai dengan kesepakatan"
"Lalu kemana lagi kita akan bersembunyi, sepertinya mereka sudah menyadari bahwa anggota kita sedang mengecohnya"
"Kembali kekamar, tempat yang berbahaya bagi kita adalah tempat yang teraman, mereka tidak akan mencarinya ketempat itu karena mereka tidak akan berpikir bahwa kita kembali kesana"
"Baiklah Bos".
Mereka segera mengangkat tubuh Rifki lagi dan membawanya pergi ketempat dimana yang dimaksud oleh Theo saat ini, bagi Theo hanya tempat itu yang tersisa dan yang paling aman untuk menyembunyikan Rifki saat ini.
Ketika akan melangkah untuk pergi dari tempat itu menuju ketempat yang dimaksud oleh Theo tiba tiba Nadhira melompat didepan mereka yang sedang membawa Rifki pergi, mereka terkejut karena Nadhira sudah berada didepan mereka saat ini.
"Kemana kau akan membawanya pergi! Kau tidak akan bisa melakukan itu selama masih ada diriku" Teriak Nadhira dihadapan Theo.
"Kau tidak terkecoh?" Tanya Theo terkejut ketika melihat Nadhira sudah ada didepannya.
"Tidak akan ada yang bisa mengecohku, begitupun dengan dirimu sekaligus itu"
__ADS_1
"Ah sepertinya ideku kurang matang"
"Cepat serahkan Rifki kepadaku!"
"Kau mau merebut Rifki dariku? Jangan harap kau bisa melakukan itu Dhira, aku tidak akan pernah menyerah Rifki kepadamu".
"Aku tidak butuh persetujuan darimu, aku akan merebutnya sendiri darimu Theo" Ucap Nadhira dan langsung mengeluarkan tongkatnya.
Melihat itu membuat anak buah Theo langsung bergegas untuk menyerang Nadhira, Nadhira dengan sigap menerima serangan tersebut dan langsung menyerang balik kearahnya, tak beberapa lama kemudian terjadilah pertarungan antara Nadhira melawan anggota Gengters.
Nadhira kini sedang melawan empat orang sekaligus, dan hal itu membuat Nadhira dikepung oleh keempatnya akan tetapi Nadhira sama sekali tidak merasa takut ataupun gelisah untuk menghadapi keempatnya secara bersamaan.
Nadhira sama sekali tidak memiliki rasa takut untuk berhadapan dengan orang yang lebih banyak seperti ini, meskipun dia kalah dalam jumlah akan tetapi kemampuannya sama sekali tidak dapat untuk diragukan sedikitpun itu.
"Aku akan tunjukkan kepada kalian seberapa nekatnya seorang wanita! Haa...." Teriak Nadhira.
Bhuk... Plak... Bhuak...
Nadhira pun langsung memukul balik keempatnya secara bersamaan, dua orang langsung terkapar setelah terkena tendangan dari Nadhira secara beruntun pada pangkal kepalanya, dan dua orang lagi terkena pukulan Nadhira tepat ada titik terlemahnya.
Dalam sekejab saja Nadhira sudah mampu untuk mengalahkan keempat anggota Gengters tersebut, dengan nafas yang tersengal sengal Nadhira masih mampu untuk berdiri dengan tegaknya dihadapan Theo dan beberapa anggota Gengters lainnya.
"Maju kalian semua! Hadapi aku sekarang juga! Apa hanya seperti itu saja kemampuan kalian semua, benar benar lemah!" Teriak Nadhira.
Nadhira sama sekali tidak mempedulikan dirinya sendiri yang saat ini sedang kelelahan karena yang ada didalam pikirannya hanyalah keselamatan dari Rifki orang yang paling dia cintai.
"Apakah dia benar benar seorang wanita" Ucap salah satu anggota Gengters dengan lirih.
"Dia seperti seorang monster, bagaimana mungkin dia bisa memiliki tenaga seperti itu" Sahut temannya yang ada disebelahnya.
"Kau benar, kita harus berhati hati dengannya"
"Maju semuanya! Aku sama sekali tidak pernah takut dengan kalian semua, aku pastikan aku akan merebutnya kembali dari kalian!" Teriak Nadhira lagi.
Theo memerintahkan anggotanya lagi untuk menyerang kearah Nadhira, melihat itu membuat Nadhira segera memasang kuda kuda untuk berjaga jaga serangan yang akan diberikan oleh anggota Gengters kali ini.
"Bunuh dia!" Teriak Theo.
Rasa sayangnya kepada Nadhira mendadak berubah menjadi sebuah kebencian atas apa yang telah Nadhira lakukan kepadanya, ia pun menginginkan Nadhira juga mati bersama dengan Rifki nantinya dan dirinya lalu memerintahkan kepada anggota Gengters untuk membunuh Nadhira.
"Oh rupanya kau ingin sekali bermain main nyawa denganku Theo, kenapa tidak kau sendiri yang maju untuk berhadapan dengan diriku, kenapa harus anak buahmu yang lemah itu, apa nyalimu sangat kecil daripada anak buahmu?" Ucap Nadhira mengejek.
"Kau hanyalah seorang wanita lemah, tidak pantas menjadi lawanku"
"Justu kau yang lemah! Karena tidak bisa melawan wanita yang lemah seperti diriku"
"Aku tidak akan membiarkan dirimu merebut kembali Rifkimu ini Dhira"
"Aku tidak butuh izin darimu Theo, aku masih mampu untuk merebutnya sendiri darimu"
"Kau terlalu nekat Dhira, jangan salahkan aku jika kau akan terluka karena kau yang nekat itu"
"Kau pikir aku akan peduli? Aku sama sekali tidak peduli dengan nyawaku Theo!"
Theo mencoba untuk memancing emosi Nadhira akan tetapi Nadhira dengan santai menjawab ucapan tersebut karena ketika emosi bukannya mampu membuatnya terlihat hebat akan tetapi justru akan melemahnya karena tidak bisa berpikir dengan jernih.
Orang yang emosional dalam pertarungan akan menjadi orang yang paling kalah dalam pertarungannya, bukan hanya membutuhkan kekuatan otot saja akan tetapi berkelahi itu juga membutuhkan pikiran yang jernih dan tenang.
Orang yang emosional akan lebih mementingkan serangan yang membabi buta untuk dapat mengalahkan lawannya dan tenaganya akan cepat habis, akan tetapi orang yang tenang dan berpikiran jernih akan memanfaatkan hal tersebut untuk menemukan kelemahan dari lawannya.
Tanpa basa basi lagi, anggota Gengters langsung menyerang kearah Nadhira menggunakan senjata rahasia milik mereka, Nadhira sama sekali tidak gentar dengan itu karena dirinya sering berhadapan dengan seseorang yang menggunakan senjata tajam ataupun yang lainnya.
Hanya ada dua anggota Gengters yang menjadi lawan Nadhira kali ini, dan tinggal tersisa tiga orang saja anggota Gengters yang berdiri disamping Theo untuk menjaga Theo dan membantu Theo mengangkat tubuh Rifki yang tidak sadarkan diri.
Fisik Nadhira yang semakin melemah tersebut seakan akan membuat Nadhira sedikit kewalahan untuk menghadapi kedua anggota Gengters yang memakai senjata tajam tersebut, ia pun sedikit terlena akan tetapi disatu sisi anggota Gengters melakukan serangan tusukan kepada Nadhira.
"Dhira! Awas!" Teriak seseorang dari kejauhan ketika melihat serangan benda tajam yang digunakan oleh anak buah Theo kepada Nadhira.
Jleb...
__ADS_1
"Akh.."