
Gilang sama sekali tidak mengerti apa yang tengah terjadi saat ini, dan bahkan Rifki terlihat begitu emosi dengan orang yang begitu penting didalam anggota Gengcobra tersebut, sementara Bayu terlihat berusaha untuk menenangkan perasaan Rifki.
"Saya hanya mengawasi rumah Nona Nadhira selama ini Tuan Bayu" Jawab Gilang pelan.
"Hanya mengawasi saja? Lantas apa yang kau dapatkan dari sana?" Tanya Bayu.
"Saya menemukan bahwa rumah itu semakin lama semakin sunyi, entah kenapa tidak ada yang keluar dari rumah itu beberapa minggu ini".
"Apa kau tau dimana perginya Nadhira sekarang?" Tanya Rifki yang menyela pembicaraan keduanya.
"Nona Nadhira berada dirumahnya Tuan Muda, dia tidak pernah keluar da... ".
Plakk...
Dengan ringannya, Rifki segera menampar kembali orang tersebut dengan sangat kerasnya, dan hal itu membuat orang tersebut memuntahkan darah yang begitu segar lagi dengan diikuti oleh benda kecil yang berwarna putih nan keras seperti kristal, benda itu tidak lain adalah gigi taringnya yang telah copot.
"Sudah Rifki sudah, kasihan dia" Ucap Bayu sambil menenangkan Rifki.
"Kau bahkan tidak tau bahwa Nadhira telah pergi dari rumah itu!" Ucap Rifki dengan marahnya.
"Nona Nadhira pergi?" Guman Gilang dengan pelannya, dan akhirnya dirinya mengetahui kesalahan apa yang telah ia lakukan kali ini.
Gilang pun mengutuki tindakan sendiri tersebut, yang akan membawanya kepada kehancuran hidupnya sendiri, bagaimana dirinya bisa selalai itu dalam melaksanakan tugasnya hingga dirinya kehilangan keberadaan dari orang yang ia awasi tanpa dirinya sadari selama ini.
"Dhira pergi dari rumah itu? Sejak kapan?" Bayu pun begitu terkejut mendengarnya.
Bayu pun terkejut mendengarnya, sekarang dirinya tau alasannya kenapa Rifki saat ini begitu murka dan sangat sulit untuk dikendalikan, ternyata Nadhira pergi meninggalkannya begitu saja, dirinya bahkan tidak mengetahui bahwa Nadhira sudah tidak ada didalam rumahnya saat ini dan baru mengetahuinya setelah Rifki mengatakan hal itu kepadanya.
"Kenapa kau lalai dalam tugasmu ha?" Tanya Bayu dengan kecewa kepada Gilang.
"Maafkan saya Tuan, saya janji tidak akan melakukan hal ini untuk kedua kalinya" Ucap Gilang sambil memohon kepada Bayu dengan darah yang terus mengalir dari ujung bibirnya.
"Kau sangat membuatku kecewa Gilang! Bahkan untuk mengawasi satu orang saja kau tidak bisa ha! Entah hukuman apa yang pantas untuk kau dapatkan saat ini"
Rifki terlihat sedang menghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan cepat karena memendam emosi yang sangat sulit untuk dikendalikan apalagi hal itu menyangkut dengan perasaan Nadhira.
Situasi ditempat itu terlihat begitu menegangkan dan mencengkeram, apalagi aura yang dipancarkan oleh Rifki dari kemarahannya membuat siapa saja yang ada ditempat itu terlihat ketakutan dan merinding bahkan mereka tidak berani untuk menatap kedua mata Rifki secara langsung.
"Hukuman apa yang pantas untuk dia?" Tanya Bayu kepada Rifki.
"Aku tidak ingin melihat orang ini ada dimarkas ini lagi, cepat bawa dia pergi dari sini! Jangan biarkan dia masuk kemarkas ini lagi!" Ucap Rifki sambil menatap tajam kearah Bayu.
"Reno, cepat bawa orang ini pergi dari sini sekarang juga!" Perintah Bayu kepada Reno.
"Tuan Muda, maafkan saya, maafkan saya Tuan Muda" Ucap Gilang dengan ketakutan.
"Baik Tuan".
Mendengar namanya dipanggil membuat Reno segera bangkit dari berlututnya dan segera bergegas mendekat kearah Gilang dan menarik tangannya tersebut, dan hal itu juga diikuti oleh Vano, kedua orang itu segera membawa Gilang pergi dari hadapan Rifki sekarang juga.
Bayu pun mengajak Rifki untuk duduk disebuah kursi yang berada tidak jauh dari tempat keduanya berdiri saat ini, Bayu juga menyuruh Bi Lina untuk membersihkan pecahan kaca yang berceceran ditempat itu agar tidak mengenai Rifki nantinya.
"Bay, apa kau tau kemana perginya Nadhira? Nomornya pun tidak bisa dihubungi Bay, aku sangat takut dia kenapa kenapa"
"Sejak kapan Nadhira pergi? Kapan terakhir kalinya kau menghubungi Nadhira?".
"Satpam yang ada dirumahnya bilang kalau dia sudah pergi beberapa minggu ya lalu, dan nomornya sendiri sudah tidak bisa dihubungi sejak aku pulang dari rumah sakit waktu itu".
Bayu pun mendadak diam seketika, dirinya teringat dengan kejadian malam itu dimana Putri mengajak Nadhira untuk mampir disebuah cafe yang berada tidak jauh dari rumah Nadhira, setelah Nadhira masuk bersama dengan Putri disaat itulah Nadhira keluar dengan linangan air mata.
"Apa yang harus aku katakan kepada Rifki? Aku sendiri tidak mengetahui tentang kejadian waktu itu, apa mungkin Tante Putri telah mengatakan sesuatu hingga melukai hati Nadhira?" Batin Bayu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bay, kenapa kau diam saja? Apa yang dilakukan oleh Mama kepada Nadhira waktu itu?"
"Aku tidak tau Rif".
"Aku tau Bay, pasti telah terjadi sesuatu waktu itu kan Bay? Jangan bohong kepadaku Bay, aku sangat tidak suka dibohongi, katakan dengan jujur kepadaku apa yang terjadi dengan Nadhira waktu itu?".
"Aku benar benar tidak tau Rif, waktu itu aku memang yang mengantarkan Tante Putri dan Nadhira tapi aku tidak tau apa apa soal itu, Tante Putri meminta kepadaku untuk berhenti disebuah cafe katanya dia ingin berbicara dengan Nadhira mengenai sesuatu yang penting katanya waktu itu".
__ADS_1
"Kenapa kau membiarkan keduanya masuk begitu saja Bay? Kenapa kau tidak mengawasi mereka?".
"Aku tidak berani untuk melakukan itu Rif, aku pikir tidak ada salahnya jika membiarkannya Tante Putri yang ingin lebih dekat dengan Nadhira".
"Lalu apa yang terjadi disana? Jangan bilang kau juga tidak tau soal itu".
"Setelah sekitar 20 menitan mereka masuk, Nadhira keluar dengan menangis, aku mencoba untuk menghentikannya dan menanyai apa yang terjadi dengannya akan tetapi dia mengabaikan diriku Rif, aku ingin mengejarnya tapi Tante Putri segera menghentikan diriku dan memintaku untuk segera pergi dari tempat itu bersama dengannya".
"Kau membiarkan Nadhira begitu saja ha!".
"Rifki, aku benar benar bingung waktu itu, disatu sisi ada Nadhira tapi disatu sisi lain ada Tante Putri, aku juga tidak menduga bahwa Nadhira akan pergi seperti ini, aku telah melakukan kesalahan Rifki, kau boleh menghukum diriku sekarang".
Bayu benar benar merasa bersalah kali ini, karena dirinya tidak mengikuti keduanya yang telah masuk kedalam cafe tersebut dengan diam diam, seandainya waktu itu dia melakukannya mungkin dia akan mengetahui masalah apa uang yang telah terjadi didalam sana.
Bayu sangat pasrah saat ini, dirinya memang telah melakukan kesalahan karena telah membiarkan Nadhira pergi begitu saja waktu itu, entah apapun hukum yang akan diberikan oleh Rifki, ia pun akan menerimanya dengan ikhlas meskipun dirinya harus dikeluarkan dari anggota Gengcobra sekalipun itu.
Nyatanya Rifki langsung berdiri dari tempat itu dan melangkah untuk pergi dari sana tanpa menghukum Bayu terlebih dahulu, itu adalah pilihan yang paling sulit bagi Bayu antara harus memilih Nadhira atau memilih Ibu dari pemilik markas Gengcobra.
"Rifki kau mau kemana?" Tanya Bayu yang juga bangkit dari duduknya dan segera mengejar Rifki.
"Aku mau bertemu dengan Mama sekarang juga".
"Biarkan aku mengantarkan dirimu ya, aku takut terjadi sesuatu denganmu dijalan".
"Ngak usah!".
"Rifki!"
Rifki pun bergegas pergi menuju ketempat dimana sepeda motornya terparkir dan segera melaju dengan cepatnya pergi dari markas tersebut, sementara Bayu segera memanggil anak buahnya untuk segera menyusul Rifki, karena ia takut terjadi sesuatu kepada Rifki disaat emosi seperti ini.
Rifki segera menambah kecepatan laju sepedahnya, dibelakangnya diikuti oleh beberapa mobil yang mengangkut para anak buahnya, Rifki sama sekali tidak mempedulikan hal itu dan justru dia semakin melaju untuk segera sampai dirumahnya.
Orang orang yang melihat itu segera minggir dari jalanan tersebut, mereka mengira bahwa Rifki telah membuat masalah dengan sebuah anggota geng, sehingga dirinya dikejar kejar oleh beberapa mobil dibelakangnya apalagi dengan kecepatan tinggi.
Didalam sebuah mobil, Bayu merasa sangat khawatir dengan Rifki yang tengah menambah kecepatannya itu, ia sangat merasa cemas ketika melihat Rifki sedang mengebut dijalanan.
"Sepertinya Tuan Muda begitu nekat" Ucap salah satu anak buah Rifki yang menyopir mobil paling depan dan mengangkut Bayu dan yang lainnya.
"Baik Tuan"
Sementara diposisi Rifki, kini Rifki sendiri merasa sangat tidak tenang dengan apa yang terjadi, ia tidak tau harus mencari Nadhira kemana lagi, Rifki tidak tau apa yang dikatakan oleh Mamanya kepada Nadhira waktu itu sehingga Nadhira memutuskan untuk pergi dari rumah.
Rifki melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah rumahnya tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi kepadanya jika dirinya sedang berada di kecepatan seperti itu, yang ia pikirkan hanyalah segera sampai dirumahnya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nadhira kepada Mamanya itu.
Setelah cukup lama mengendarai sepeda motornya akhirnya dirinya segera memasuki halaman rumahnya, melihat kedatangan Rifki dengan terburu buru membuat satpam yang menjaga gerbang pintu rumahnya segera bergegas membukakannya sebelum dirinya terkena marah oleh Rifki.
Melihat Rifki yang telah masuk kedalam halaman rumahnya dengan selamat membuat anggota Gengcobra merasa lebih tenang daripada sebelumnya, dan hal itu membuat Bayu segera meminta untuk menghentikan mobilnya sebelum masuk kedalam gerbang tersebut.
"Tuan, apa kita tidak ikut masuk kedalamnya?" Tanya anak buahnya yang menjadi sopir.
"Tidak usah, kita hanya memastikan bahwa Tuan Muda baik baik saja dijalan, untuk soal rumah tangga mereka, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikannya, kita tidak berhak untuk ikut campur didalamnya".
"Baiklah Tuan, apa kita akan menunggu disini? Ataukah kembali kemarkas?".
"Kita kembali saja".
"Baik Tuan, saya akan memberitahukan hal ini kepada yang lainnya juga".
Beberapa mobil yang mengikuti Rifki sebelumnya perlahan lahan mulai meninggalkan tempat itu satu persatu tanpa terkecuali, ketika mereka sudah memastikan bahwa Rifki baik baik saja dan selamat sampai tujuannya.
Rifki segera turun dari sepedahnya dan bergegas masuk kedalam rumahnya dengan langkah gontai, melihat itu membuat seluruh pembantu rumah tangga Rifki yang sedang membersihkan halaman depan segera menghentikan aktivitasnya.
"Mama! Mama! Ma!" Teriak Rifki memanggil Putri.
"Kakak kenapa mencari Mama dengan nada seperti itu sih? Apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Ayu yang mendekat kearah Rifki.
"Mama dimana Ay?"
"Ada dihalaman belakang sama Papa, emang ada apa Kak? Kenapa Kakak terlihat gelisah seperti itu?".
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan dari Ayu, Rifki segera bergegas masuk kedalam rumah tersebut menuju kehalaman belakang rumah, melihat itu membuat Ayu segera buru buru untuk mengikutinya karena tidak biasanya Rifki akan seperti itu.
"Kak, Kakak kenapa?" Tanya Ayu sambil mengejar Rifki yang menuju ke halaman belakang.
Mendengar teriakan Ayu membuat Putri dan Haris yang sedang sibuk mengobrol segera menghentikan obrolannya, keduanya segera menatap kearah dimana suara itu berasal, ia mendapati bahwa Rifki datang ketempat itu dengan sebuah kekecewaan.
"Ada apa ini?" Tanya Putri kebingungan.
"Apa yang telah Mama katakan kepada Nadhira?" Ucap Rifki dengan berkaca kaca.
"Maksud kamu apa Rifki? Mama sama sekali tidak mengerti apa yang kau maksud".
"Ma! Jawab pertanyaan Rifki Ma, apa yang telah Mama katakan kepada Nadhira? Rifki tau bahwa Mama telah mengatakan sesuatu kepada dia".
"Apa yang terjadi dengan Nadhira?" Tanya Haris.
"Aku datang kerumahnya, tapi Nadhira pergi dari rumah itu beberapa minggu yang lalu, bukanlah Mama yang terakhir kali bersama dengan Nadhira waktu itu? Mama pasti mengatakan sesuatu kepadanya waktu itu kan?".
"Mama tidak mengatakan apapun Rifki".
"Kalau Mama tidak mengatakan sesuatu bagaimana Nadhira bisa pergi dari rumahnya, padahal dia janji kepadaku kalau dia akan selalu menemaniku, dia juga tidak pernah menghubungiku".
Putri sama sekali tidak mengetahui bahwa Nadhira memang benar benar pergi dari kehidupan Rifki, ia pun menoleh kearah suaminya untuk memintanya membantu dirinya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rifki kepadanya.
"Nak, Mama melakukan itu demi kebaikanmu".
"Demi kebaikan Rifki? Atau kebaikan kalian?"
"Rifki!"
"Apa Ma? Cepat katakan kepada Rifki! Apa yang telah Mama katakan kepada Nadhira waktu itu?".
Putri sama sekali tidak bisa berkata kata dengan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki saat ini, Putri dan Haris melakukan itu hanyalah demi kebaikan Rifki, karena keduanya tidak ingin kehilangan dirinya untuk selama lamanya.
Seandainya mereka mengatakan bahwa keduanya akan mati jika mereka berdua bersama, itu akan menjadi hari terhancur bagi semua orang, karena keris pusaka xingsi dan permata iblis tidak akan pernah bisa bersama untuk selamanya.
"Baiklah akan Mama katakan sekarang juga, Mama telah menjodohkan dirimu dengan anak dari teman Mama, itu sudah menjadi keputusan Mama!".
"APA!".
Rifki sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini, menjodohkannya tiba tiba? Bahkan tanpa pembicaraan terlebih dahulu, bagi Rifki itu adalah hal yang sangat menyakitkan karena sama saja bahwa kedua orang tuanya sama sekali tidak menyetujui hubungan dengan Nadhira.
"Rifki Mama melakukan ini hanya demi kebaikanmu Nak, Mama tidak ingin mendengar adanya penolakan darimu Rifki".
"Demi kebaikan Rifki apanya Ma? Ma! Hanya Nadhira yang bisa membuat Rifki bahagia, kenapa Mama melakukan itu kepada Rifki, Rifki bukan anak kecil lagi Ma, Rifki berhak menentukan dengan siapa Rifki akan bersama nantinya"
"Rifki dengarkan Mamamu, Mama melakukan ini agar kau mendapatkan wanita yang terbaik, dan bahkan dia jauh lebih baik daripada Nadhira" Ucap Haris sambil memegangi bahu Rifki.
Merasakan bahunya tengah dipegangi oleh Haris membuat Rifki menyingkirkan tangan tersebut, ia tidak menyetujui keputusan dari kedua orang tuanya itu yang akan menjodohkan dirinya dengan orang lain bahkan tanpa persetujuan darinya.
"Bagi Rifki, didunia ini hanya Nadhira yang terbaik, kalian tega memisahkan aku dari Nadhira!" Ucap Rifki dengan nada sedikit tinggi.
Plakk...
Haris menampar Rifki begitu saja ketika melihat Rifki menggunakan nada tinggi dihadapan keduanya, Rifki memegangi pipinya yang terasa kebas karena tamparan itu, dirinya pun menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan.
"Mas!"
"Kakak!" Teriak Ayu dan langsung berlari kearah Rifki untuk memegangi tangan Rifki satunya.
"Kau sudah berani melawan kedua orang tuamu ya Rifki, Papa tidak pernah mengajarkan kepadamu seperti itu" Ucap Haris yang tidak menyangka dengan tindakan yang dilakukan oleh Rifki.
"Sudah Mas, jangan pukul Rifki lagi" Ucap Putri menenangkan suaminya.
"Apa kau sudah menjadi anak durhaka sekarang Rif? Jawab pertanyaan Papa! Apa ini yang telah Papa ajarkan kepadamu selama ini Rifki! Apakah pantas seorang anak meninggikan suaranya dihadapan kedua orang tuanya? Jawab Rifki jawab!".
Rifki hanya bisa diam membisu sambil memegangi pipinya yang terasa panas, baru pertama kali Haris menamparnya dengan begitu keras seperti itu, Ayu pun menatap kearah wajah Rifki dan terlihat ada setitik air mata diujung mata Rifki.
"Kenapa Papa harus memukul Kakak seperti itu? Ayu tidak suka melihat Papa bersikap kasar kepada Kak Rifki, Kakak ngak apa apa kan?" Tanya Ayu sambil memegangi tangan Rifki yang sedang memegangi pipinya itu.
__ADS_1
"Kakak ngak apa apa kok Ay" Ucap Rifki terdengar seperti sedang menahan bendungan air mata nya.