Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Jauhi Nadhira sekarang


__ADS_3

Melihat perhatian seluruh karyawan tertuju kepada keduanya membuat Rifki hanya bisa tersenyum pahit menatap kearah mereka, entah apa yang salah dari dirinya kali ini, sementara Nadhira tetap memasang wajah bahagianya didepan Nadhira.


"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" Tanya Rifki.


"Entahlah, mungkin saja hanya terkejut ketika melihat aku datang naik sepeda motor soalnya setiap hari Theo yang menjemputku, lagian disini mereka taunya aku adalah pimpinan mereka atau mungkin karena wajahmu yang menarik perhatian para wanita itu?". Ucap Nadhira dengan rasa cemburunya ketika dirinya mengucapkan kata kata terakhir itu.


"Apa kau cemburu mereka melihat wajahku dengan seperti itu Dhira?" Tanya Rifki.


"Sedikit, rasanya ingin membuat mereka berhenti untuk menatapmu Rif, tapi aku tau bahwa itu tidak mungkin terjadi sedangkan wajahmu sendiri saja sangat sulit untuk disembunyikan".


"Apa hanya sedikit saja?" Tanya Rifki dengan nada menggoda kepada Nadhira.


"Sudahlah" Jawab Nadhira dengan kedua pipi yang mulai terlihat merah merona.


"Apa kamu malu berangkat kerja denganku kali ini Dhira? Lihatlah para pekerjamu menatap kita seperti kita adalah *******" Tanya Rifki dengan ragu.


"Kenapa harus malu sih Rif? Bukankah dulu kita juga sering melakukan ini setiap berangkat sekolah? Lagian aku merasa bahagia denganmu Rif, jika kita bahagia dengan dunia kita sendiri, kenapa harus memikirkan pendapat mereka tentang kita yang akan membuat kita tertekan? Seandainya mereka tau siapa dirimu, mereka tidak akan berani menatapmu apalagi merebutmu dariku".


Rifki hanya tersenyum kepada Nadhira, entah apa yang dipikirkan oleh orang lain, mereka hanya belum tau saja kalau Rifki adalah pemilik dari perusahaan yang terbesar dinegara itu, akan tetapi Rifki lebih suka dengan kesederhanaan.


"Oh iya Dhira, nanti kamu pulang dari kantor jam berapa?" Tanya Rifki.


"Jemput aku jam 4 sore nanti" Ucap Nadhira yang langsung mengerti maksud dari Rifki.


"Siap Tuan Puteri, kalau begitu aku pergi dulu ya, nitip jagain Nadhira jangan sampai dia telat makannya ataupun meneteskan air matanya".


"Siap Tuan Muda Rifki, aku akan selalu menjaga diriku sendiri sesuai dengan perintahmu, hati hati dijalan juga ya Tuan Muda, jatuh dijalan tidak seindah jatuh cinta pandangan pertama loh".


"Siap komandan, da" Ucap Rifki sambil melambaikan tangan kepada Nadhira


"Da juga" Nadhira juga melambaikan tangannya kepada Rifki.


"Waalaikumussalam" Ucap Rifki sambil bergegas menuju kesepedah motornya.


"Hehe.. Kebalik Rifki, Assalamualaikum" Nadhira tertawa mendengar ucapan Rifki.


"Waalaikumussalam, nah ini yang benar bukan? Ya sudah Dhira, buruan masuk" Jawab Rifki dengan sebuah senyuman yang merekah kearah Nadhira.


"Baiklah Tuan Muda, hamba akan melaksanakan perintah dengan sebaik mungkin".


Nadhira segera masuk kedalam perusahaannya itu, sementara Rifki bergegas meninggalkan tempat tersebut untuk menuju kemarkasnya, beberapa karyawan Nadhira segera menyambut kedatangan Nadhira seperti biasa.


"Selamat pagi Nona Muda" Ucap mereka serempak.


"Pagi juga".


"Oh iya Nona Muda, dimana Pak Theo? Kenapa tidak berangkat bersama Nona pagi ini?" Tanya Citra.


"Theo belum datang?" Nadhira terkejut ketika mendengar bahwa Theo belum datang, karena sebelumnya mobil Theo melaju lebih cepat daripada sepeda motor yang Nadhira dan Rifki naiki.


"Belum Nona, apa Pak Theo kali ini tidak masuk kerja? Oh iya, ojek Nona tampan juga ya, rasanya pengen berkenalan dengan dia, seluruh karyawan mendadak terpanah begitu saja dengan dirinya Nona Muda".


"Jangan macam macam dengan dia, dia itu seorang singa yang ganas tapi sedang tertidur dengan nyenyaknya, kalau dia mengamuk perusahaan ini pasti akan hancur dengan mudah ditangannya itu".


"Maksud Nona bagaimana? Bukankah orang itu hanyalah seorang ojek saja?".


Nadhira tersenyum kearah Citra yang berpikir bahwa Rifki hanyalah seorang ojek belaka, "Dia lebih dari seorang ojek, dan memiliki pengaruh besar bagi negeri ini" Bisik Nadhira kepada Citra.


Mendengar itu membuat Citra langsung berdiam diri, sementara Nadhira segera bergegas masuk kedalam ruangan kerjanya diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya sebagai bodyguardnya, Citra sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nadhira soal pemuda itu.


Setelah Citra terbangun dari lamunannya ia segera menyusul Nadhira yang sudah masuk kedalam ruangannya itu, akan tetapi ketika dirinya masuk ia begitu terkejut ketika melihat Nadhira yang sedang tersenyum dengan sendirinya.

__ADS_1


"Nona Muda baik baik saja kan?" Tanya Citra dengan ragunya kepada Nadhira.


"Duduklah" Ucap Nadhira yang menyuruh Citra untuk duduk ditempatnya.


"Apa Nona Muda jatuh cinta dengan ojek itu? Bukankah dia begitu tampan Nona?" Goda Citra.


"Memang sangat tampan, sayang sekali terlalu banyak gadis yang memperebutkannya"


"Yah aku tidak akan bisa memilikinya dong, padahal tadinya aku ingin meminta dikenalkan kepada dia".


"Jangan macam macam, masih ingat dengan apa yang ku katakan tadi? Dia lebih ganas daripada Raja hutan sekaligus".


"Berarti benar dugaanku sebelumnya, bahwa Nona Muda telah jatuh cinta dengan dirinya, cie...".


"Apa an sih kamu Cit, sudah sudah lakukan saja pekerjaanmu" Usir Nadhira.


"Baiklah Nona Muda yang terhormat, yang sedang merasakan jatuh cinta, Cie Nona..."


"Citra mau aku kasih surat peringatan?" Tanya Nadhira sambil melipat kedua tangannya.


"Tidak! Tidak Nona, saya mohon jangan lakukan itu"


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu".


"Baik Nona Muda yang baik hati".


Citra segera kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sejak kemarin menumpuk begitu banyak hingga membuatnya begitu sangat pusing, apalagi dia harus menyiapkan beberapa proposal untuk dapat memenangkan sebuah tender.


*****


Sementara disatu sisi Rifki merasa sangat senang karena ucapan Nadhira, meskipun dengan kesederhanaan itu mampu membuat Nadhira merasa bahagia ketika bersama dengan dirinya, Rifki terus memikirkan kemana dirinya akan membawa Nadhira nantinya, dan dirinya harus menyiapkan sesuatu yang sepesial untuk Nadhira.


Ditengah tengah perjalanannya mendadak sebuah mobil menghentikan laju sepeda motor Rifki dengan cara memotong jalur Rifki, hal itu membuat Rifki segera menghentikan sepedanya dengan rasa sedikit kecewa ketika dihentikan tiba tiba seperti sekarang ini dan seketika itu juga pengemudi mobil tersebut segera turun dari mobilnya.


"Kau lagi kau lagi, bisa ngak sih jangan halangi jalanku? Atau ini sudah menjadi kebiasaanmu selama ini" Ucap Rifki dengan malasnya.


"Urusan kita belum selesai" Ucap Theo.


"Maumu sebenarnya apa sih? Apa kau ingin menyelesaikan ini dengan perkelahian? Emang kau pikir aku takut denganmu begitu?".


"Diam kau Rifki!".


Tanpa aba aba Theo segera menghantamkan tinjunya kearah wajah Rifki, akan tetapi Rifki tidak tinggal begitu diam ia segera menghindarinya dan membalasnya dengan memberi sebuah tendangan tepat diperut Theo dan hal itu membuat Theo termundur beberapa langkah.


Perkelahian itu tidak terelakkan lagi, Theo yang terlihat emosional itu menyerang kearah Rifki tanpa ampun sedikit, Rifki juga tidak tinggal diam dan akhirnya ia pun menyerang balik kearah Theo dan tidak kalah bruntalnya.


Dapat terlihat bahwa pelipis kiri Theo sedikit membiru karena sebuah tonjokan yang diberikan oleh Rifki kepadanya, ketika Theo menendang keadah Rifki dengan sigap Rifki menangkap tendangan tersebut dan menarik kaki Theo keatas hingga membuat keseimbangan Theo tergoncang dan akhirnya Theo terbanting oleh Rifki.


Theo terjatuh dengan kerasnya ditepi aspal hitam yang dimana jalan itu selalu sepi dengan pengendara lain, akan tetapi Theo tidak menyerah begitu saja karena ia segera bangkit dan kembali menyerang kearah Rifki.


"Sial ilmu beladiri jauh lebih tinggi daripada diriku, andai saja senjata rahasia milik Nadhira masih aku bawa, mungkin aku bisa mengalahkannya" Batin Theo menjerit.


Theo tidak mengetahui bahwa senjata milik Nadhira tersebut adalah sebuah senjata yang diberikan oleh Rifki kepada Nadhira, dan Rifki juga memiliki senjata yang sama seperti yang dimiliki oleh Nadhira.


Tak beberapa lama kemudian datanglah beberapa orang kearah mereka, Rifki pikir itu adalah warga sekitar tempat itu untuk menghentikan perkelahian mereka akan tetapi pikiran itu salah ternyata mereka adalah anak buah dari Theo anggota dari Gengters.


"Tidak bisa menghadapinya sendiri malah memanggil sekawanannya, tidak seperti jagoan malah mirip seperti binatang" Sindir Rifki.


"Kalian cepat serang orang itu" Ucap Theo memerintahkan anggotanya untuk menyerang Rifki secara bersamaan.


"Baik Bos" Jawab mereka.

__ADS_1


Rifki segera bersiap siap untuk melindungi diri, para anak buah Theo dengan segera menyerangnya secara bersamaan sehingga Rifki hanya bisa berada dalam posisi bertahan, akan tetapi Rifki mencoba untuk mencari celah agar dirinya bisa menyerang kembali orang orang itu.


Setelah cukup lama perkelahian itu terjadi akhirnya Rifki dapat mengalahkan para anak buah Theo itu, dan hal itu membuat Theo kembali menyerang kearah Rifki, karena pengetahuan ilmu beladiri Rifki jauh lebih tajam hingga akhirnya dirinya dapat mengalahkan Theo dengan mudahnya.


Melihat Theo yang kalah, para anak buahnya itu langsung bergegas untuk membantunya, mereka kembali melawan Rifki dengan bersamaan meskipun banyak yang merasa sakit karena tendangan dan pukulan yang diberikan oleh Rifki kepadanya.


Rifki dengan cepat mengeluarkan sebuah benda tabung yang berukuran kecil dari balik saku bajunya, dan ia segera menekannya hingga benda tersebut mampu memanjang dan menjadi sebuah tongkat yang kokoh untuk dapat melawan mereka semua.


"Kenapa kau memakai tongkat milik Nadhira!" Teriak Theo ketika melihat tongkat yang sama persis dengan milik Nadhira itu.


"Kau tau soal tongkat ini? Sepertinya keberadaan benda ini sudah tidak aman lagi" Ucap Rifki dengan santainya meskipun Theo berteriak kearahnya sekalipun itu.


"Serahkan itu kepadaku, karena itu adalah milik Nadhira" Ucap Theo sambil menyodorkan tangannya dan berharap bahwa Rifki akan memberikannya.


"Tidak semudah itu, dan aku tidak akan pernah menyerahkan benda ini kepadamu Theo" Ucap Rifki dengan tersebut mengejek Theo.


Rifki segera memasang kuda kudanya dan memutar tongkat yang ada ditangannya dengan sebuah gerakan yang terlihat begitu sangat indah bagi para lawannya, gerakan itu seakan akan begitu ringan dan lembut akan tetapi sangat mematikan, gerakan yang dilakukan oleh Rifki tersebut penuh dengan kekuatan dan kelincahan disetiap perpindahan gerakan.


Gerakan itu layaknya seperti pohon mawar, terlihat begitu indah dan menawan akan tetapi menyimpan sebuah duri yang sangat tajam dan mematikan disetiap tangkainya, begitupun yang dilakukan oleh Rifki, gerakan yang begitu anggun dan pelan akan tetapi terdapat kelincahan dan penuh tenaga didalam gerakan tersebut.


Jurus yang sedang dilakukan oleh Rifki saat ini lebih cocok untuk dilakukan oleh seorang wanita, karena terdapat keindahan, kelenturan, kelembutan dan keanggunan didalamnya, akan tetapi begitu fatal untuk melukai lawannya.


Para anak buah Theo seakan akan terpanah dengan gerakan yang dilakukan oleh Rifki, mereka begitu kagum dengan gerakan tersebut, hingga suara Theo segera menyadarkan mereka dengan tujuan awal mereka sebelumnya.


"Kalian cepat serang orang itu!" Ucap Theo dengan geramnya melihat tingkah anak buahnya tersebut yang begitu mengagumi gerakan Rifki.


Mereka semua segera menyerang Rifki kembali dan jauh lebih bruntal daripada sebelumnya, akan tetapi Rifki mampu menyeimbanginya dengan sebuah tongkat yang ada ditangannya saat ini, dan akhirnya seluruh anak buah Theo kembali terjatuh dengan kerasnya diaspal yang mulai sedikit panas karena terkena sinar matahari itu.


"Aku peringatkan kepadamu, jauhi Nadhira sekarang juga" Ancam Theo kepada Rifki.


"Menjauhi Nadhira kau bilang? Atas hak apa untukmu melarangku untuk dekat dengan Nadhiraku selama ini?" Tanya Rifki.


"Nadhira adalah milikku bukan milikmu, kau tidak bisa merebutnya dariku Rifki! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan kau tidak bisa merebutnya dariku".


"Sejak kapan Nadhira menjadi milikmu? Nadhira bebas memilih siapapun untuk dapat hidup bersama dengannya sebagai pendamping hidupnya nanti, lalu apa hakmu untuk memutuskan dengan siapa dia akan hidup dan dengan siapa dia akan bersama?".


"Karena aku sangat mencintainya dan Nadhira akan menjadi milikku nanti, karena aku yang paling mencintainya bukan dirimu, sejak kau pulang ke negeri ini, kau merebut Nadhira dari diriku".


Rifki hanya menghela nafasnya, "Jika kau adalah pilihan Nadhira maka aku akan dengan senang hati membiarkan Nadhira untuk hidup bersamamu, tapi aku tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu dengan Nadhira, siapapun pilihannya nanti aku pasti akan mendukungnya tanpa perlu memintaku untuk menjauhinya karena bagiku dia adalah sahabatku dan kebahagiaannya jauh lebih penting bagiku".


"Baguslah kalau begitu, ku harap kau tidak akan pernah merebut Nadhira dariku, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi".


"Yang merebut Nadhira darimu itu siapa? Yang aku tau adalah aku dan Nadhira sudah sejak kecil bersahabat, kita lihat saja siapa yang akan bersama dengan Nadhira nantinya, aku mencintai Nadhira dengan setulus hati dan tidak berambisi seperti dirimu Theo, cinta sejati adalah mengikhlaskan orang yang dicintainya bahagia dengan orang pilihannya, bukan hanya berambisi untuk memilikinya saja".


"Aku tidak butuh ceramah darimu Rifki, jika kau ingin ceramah pergi saja sana ke masjid".


"Aku hanya mengatakan kepadamu Theo, Nadhira berhak memilih siapapun untuk menjadi pasangan hidupnya nanti, aku ataupun dirimu itu sama sekali tidak berhak untuk menentukan apapun pilihannya nanti, dan tidak berhak untuk memaksanya dengan siapa dia akan bersama nanti, jika kau mencintai Dhira maka kau akan membiarkan Dhira hidup dengan orang pilihannya, bukan hanya berambisi untuk memilikinya saja".


"Aku sama sekali tidak peduli soal itu, Nadhira hanya akan menjadi milikku, dan aku yang berhak untuk dirinya bukan dirimu".


"Dan aku tidak akan membiarkan dirimu untuk memaksakan kehendaknya nanti ataupun menyakiti hatinya sampai kapanpun itu, ingat apa yang aku ucapkan itu Theo! Sekali saja kau menyakiti Dhira, kau akan berurusan dengan diriku, yang ambisius bakalan kalah dengan yang tulus".


"Kita lihat saja nanti siapa yang akan mendapatkan Nadhira, aku tidak akan membiarkan dirimu untuk bisa bersama dengan Nadhira, aku akan membuat perhitungan dengan dirimu Rifki, ingat itu!".


"Aku akan menunggu itu dengan senang hati".


Theo dengan marahnya segera bergegas meninggalkan tempat tersebut beserta dengan anak buahnya dan hal itu menciptakan sebuah senyuman diwajah Rifki.


"Bay Bay... Sampai jumpa lagi dilain waktu, sepertinya kita akan sering bertemu nantinya, oh iya jangan sampai lupa jalan pulang ya kawan" Ucap Rifki sambil melambaikan tangannya kepada Theo dan hal itu berhasil membuat Theo merasa sangat geramnya kepada Rifki.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2