Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pengorbanan seorang Nenek


__ADS_3

Nimas memandangi wajah Rifki dengan teliti, ia menemukan sedikit kemiripan antara wajahnya dengan wajah dari Pangeran Kian, Nimas hanya penasaran bagaimana Rifki bisa menyamarkan energi keris pusaka xingsi itu sementara hal itu sangat sulit untuk dilakukan.


"Lakukan sekarang Nimas" Ucap Rifki dengan mantapnya dan langsung menyadarkan Nimas dari lamunannya itu.


"Ini pasti akan sedikit menyakiti Rifki, kau akan merasa seperti energimu diserap begitu cepatnya, apa kau yakin untuk melakukan itu?".


"Aku tidak peduli soal apapun itu Nimas, cepat lakukan sudah tidak ada waktu lagi jika kau terus mengulurnya seperti ini".


"Rifki, apa yang akan kau lakukan? Aku tidak mau kau kenapa kenapa karana diriku" Tanya Nadhira khawatir ketika mendengar ucapan Nimas.


"Kamu tenang saja ya Dhira, bantu doa saja".


"Iya Rif"


"Apa kau sudah siap Rifki?" Tanya Nimas.


Rifki menarik nafas dalam dalam seraya berkata, "Lakukan sekarang" dengan tegasnya.


Nimas segera mengarahkan telapak tangannya kepada punggung Rifki untuk menyalurkan energi permata kedalam keris pusaka xingsi, energi itu mengalir dengan derasnya dan dapat Rifki rasakan, Rifki mencoba untuk mengalirkannya kembali kedalam ruangan itu, dan akhirnya energi permata iblis dan energi keris pusaka xingsi bersatu membentuk sebuah perisai tak kasat mata.


Rifki memejamkan kedua matanya seraya merasakan sebuah energi yang diberikan oleh Nimas kepadanya, energi itu mengalir begitu saja dan sesekali meninggalkan rasa sakit didalam tubuh Rifki hingga membuat pernafasannya semakin cepat dan keringat dingin yang membasahi keningnya tersebut.


Hal itu terus terjadi sepanjang proses pembuatan perisai itu hingga akhirnya terciptalah sebuah perisai yang tidak akan mampu untuk ditembus oleh mahluk gaib yang tengah berada dipihak para dukun itu sebelum kekuatan Nimas yang melemah.


Sementara disatu sisi para dukun tersebut melihat kearah langit dimana gerhana bulan sudah tercipta disana dan itu artinya kekuatan permata iblis telah melemah saat ini, dan hal itu membuat mereka segera mendekat kearah rumah Nadhira dan segera masuk kedalamnya.


Rifki mampu merasakan kehadiran mereka didalam rumah tersebut, karena dirinya merasakan energi yang sangat besar diluar perisai yang telah ia buat itu, diluar sana terdapat 10 orang dukun sakti yang sedang bekerja sama untuk dapat merampas permata itu dari Nadhira, dan mereka terlihat begitu sangat kuat dan hebat.


"Mereka sudah datang, seperti gerhana bulan merah sudah terjadi malam ini" Ucap Rifki sambil membuka kedua matanya.


"Kau benar Rifki, kekuatanku juga sudah melemah, aku tidak tau apakah perisai ini akan aman nantinya atau tidak" Ucap Nimas.


"Nimas apa kau tau bagaimana caranya untuk memperkuat sebuah perisai seperti yang dilakukan oleh Pangeran Kian dahulu?"


"Aku tidak tau soal itu Rifki, karena perisai itu dibuat sebelum aku lahir didunia, aku dengar bahwa perisai itu adalah kekuatan penuh dari inti jiwa yang dimiliki oleh Ibunda dari Pangeran Kian sendiri, hingga dirinya harus mengorbankan nyawanya".


"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu Rif, aku tidak mengizinkan dirimu untuk itu" Ucap Nadhira menyela pembicaraan keduanya.


"Kau tenang saja Dhira, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, sekarang kita hanya bisa berdoa semoga mereka tidak mampu untuk menembus ruangan ini".


"Kau adalah keturunan Pangeran kian, mungkin saja kau mengetahui sebuah tempat dimana Nadhira akan aman" Ucap Sarah.


Rifki mencoba untuk memikirkan apa yang dikatakan oleh Sarah saat ini, hanya ada satu tempat dimana Nadhira akan aman dibawah perisai yang dibuat oleh Pangeran Kian sebelum akan tetapi itu adalah tempat yang sia sia bagi Nadhira karena dirinya tidak akan bisa masuk kedalamnya dan memang Nadhira bukanlah keturunan dari Pangeran Kian.


"Aku tidak tau soal itu Oma, yang aku tau bahwa memang ada sebuah tempat yang sangat aman tapi Nadhira sendiri tidak akan pernah mampu untuk memasuki tempat tersebut, karena hanya keturunan dari Pangeran Kian sendiri yang mampu" Ucap Rifki.


"Maafkan aku karena membuat kalian harus berada didalam situasi seperti ini" Ucap Nadhira dengan rasa bersalahnya karena telah melibatkan keduanya.


Nadhira nampak begitu sedih saat ini, entah apa yang harus ia lakukan agar mampu melewati malam gerhana bulan merah itu, bahkan ia merasa bersalah karena melibatkan Rifki dalam hal ini, hingga Rifki harus menahan rasa sakit untuk dapat membuat perisai untuk dirinya.


Rifki menyentuh pundak Nadhira dan sesekali mengusapnya dengan pelan, dan hal itu sontak membuat Nadhira menoleh kearahnya dengan linangan air mata, melihat itu membuat Rifki segera menghapus air mata tersebut dari wajah Nadhira.


"Ini bukan salahmu, ini adalah tugasku sebagai keturunan dari Pangeran Kian untuk melindungi permata yang ada didalam tubuhmu itu".


"Sama saja aku telah membawamu kedalam masalahku Rif, kalau saja permata ini tidak bersamaku mungkin hal ini tidak akan terjadi".


"Sudah jangan menyalahkan diri sendiri, salahkan saja takdir, eh.. jangan deh Dhira, nanti takdir malah marah lagi kepada kita, sudah tidak perlu ada yang disalahkan disini Dhira, kau tau kan bahwa kita hanya manusia yang tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi dimenit kedepannya".


"Entah apa yang membuatmu setenang ini Rif".


"Kenapa aku harus gelisah? Sementara ada dirimu disini bersama denganku".


Brakk...


Seketika terdengar suara seperti seseorang yang sedang berusaha untuk mendobrak pintu yang ada disana, dan juga terdengar seperti banyak barang barang yang berjatuhan diluar sana, ketiga orang itu saling bertatapan ketika mendengar hal itu.

__ADS_1


"Rifki bukakan jalan untukku, aku akan menghadang mereka dari luar" Ucap Nimas.


"Apa kau yakin bahwa kau akan sanggup untuk melawan mereka Nimas?" Tanya Rifki.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba, aku akan meminta pasukan alam gaib yang ada didesa Mawar Merah untuk datang kemari dan membantu, dan berusahalah menahan perisaimu agar tidak ditembus oleh mereka yang ada diluar".


"Jika itu keputusanmu, maka aku akan bukakan jalan untukmu agar kau bisa keluar".


Rifki segera menutup kedua matanya dan berusaha untuk membuka labirin tersebut agar Nimas bisa keluar dari sana, setelah itu dirinya menutup kembali labirin tersebut, menggunakan energi dari keris pusaka xingsi yang ia miliki.


"Akan banyak mahluk gaib yang akan datang kemari, semoga saja hal ini cepat berlalu" Ucap Rifki.


"Rifki, aku sangat takut".


"Aku juga sangat takut Dhira, aku takut labirin ini tidak akan bertahan lama, dan aku paling takut kalau kamu terluka nantinya".


Rifki memandangi seluruh tembok yang ada diruangan itu, hanya dia yang mampu untuk melihat sebuah perisai yang telah ia buat bersama Nimas sebelumnya, setelah cukup lama ia memperhatikan perisai itu seketika pandangannya tertuju kepada perisai yang terdapat sedikit keretakan karena serangan mahluk gaib dari luar.


"Ini tidak akan bertahan lebih lama lagi Dhira, sepertinya pagar gaib yang aku buat kini tengah mengalami keretakan yang parah, energiku juga seperti terkuras dengan derasnya".


"Lalu apa yang harus kita lakukan Rifki?" Tanya Nadhira sambil mendekat kearah Rifki.


"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, sebelum orang orang itu bisa menangkap Nadhira" Ucap Sarah dan menyuruh keduanya untuk pergi dari tempat tersebut.


"Aku tidak bisa meninggalkan Oma, kita harus pergi bersama sama Oma".


"Oma tidak bisa berlari, jika Oma ikut dengan kalian justru Oma akan menghambat lari kalian, Oma tidak ingin kalian celaka karena Oma".


Rifki terus memandangi kearah perisai yang telah ia buat itu, dan perlahan lahan keretakan itu mulai menjalar disetiap ujung dari perisai tersebut hingga hal itu membuat Rifki begitu paniknya.


"Dhira cepat keluar dari cendela, tidak ada waktu lagi untuk menawar ataupun membantah, aku akan berusaha untuk menghadang para dukun itu agar tidak berhasil menangkapmu" Teriak Rifki.


"Apa yang kau katakan Rifki, aku tidak ingin meninggalkan dirimu disini".


"Apa kau masih sanggup untuk berlari Dhira?" Tanya Rifki.


"Kalau begitu pergilah dulu dari sini, aku akan segera menyusulmu, kau tidak perlu cemas soal Oma".


"Tapi Rif".


"Kau tenang saja, Raka akan melindungimu".


Nadhira justru menangis mendengar ucapan Rifki, ia tidak ingin kenapa kenapa dengan kedua orang yang ia sayangi itu, Rifki berusaha untuk meyakinkan Nadhira bahwa dirinya akan baik baik saja akan tetapi Nadhira masih tetap pada pendiriannya untuk selalu bersama dengan Rifki dan juga Sarah.


Rifki memegangi pundak Nadhira dengan kedua tangannya, tatapannya terlihat seperti begitu sangat khawatir terhadap Nadhira, akan tetapi Nadhira menatapnya dengan linangan air mata, seakan akan tidak ikhlas untuk meninggalkan tempat itu.


"Jangan menangis Dhira, aku akan baik baik saja, yang terpenting adalah keselamatanmu Dhira dan jangan pedulikan tentang diriku, Nimas sedang berjuang diluar sana untuk dirimu, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirimu, tolong mengertilah".


"Iya Nak, sebaiknya kau segera pergi dari sini, cendela kamar Oma tidak terlalu tinggi, hingga kau bisa turun dengan mudah" Ucap Sarah membenarkan perkataan dari Rifki.


"Cepat pergi Dhira, aku sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankan perisai ini".


Rifki merasakan bahwa ada sebuah energi yang berhasil masuk kedalam ruangan tersebut, dan energi itu menyerang kearah Rifki melalui serangan rohnya, hingga membuat Rifki terlihat seperti sedang menahan rasa sakitnya.


"Bagaimana aku bisa meninggalkan kalian".


"Cepat pergi dari sini Dhira".


Serangan energi itu seketika membuat Rifki memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, dan hal itu membuat Nadhira semakin panik begitupun dengan Sarah yang berada tidak jauh dari Rifki saat ini, Rifki segera mengapus noda darah yang ada diujung bibirnya menggunakan ibu jarinya.


"Apa yang terjadi dengan dirimu Rif?".


"Tidak ada waktu lagi, kau harus cepat pergi".


Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk menuju kearah cendela yang ada dikamar tersebut, Nadhira begitu berat untuk meninggalkan tempat itu dan Rifki hanya menganggukkan kepalanya kepada Nadhira dan menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik baik Dhira, tunggu aku disana, aku pasti akan datang menyusulmu".


"Ku harap kau cepat datang Rif"


"Iya Dhira"


Nadhira segera memanjat cendela tersebut dan Rifki membantunya untuk bisa keluar dari cendela tersebut, dengan perlahan lahan Nadhira berusaha untuk mencapai tanah yang berada diluar rumah tersebut, keberadaannya sengaja disamarkan oleh Raka agar tidak menarik perhatian dari para mahluk gaib maupun dukun itu.


Akhirnya Nadhira mampu keluar dari dalam rumah melalui cendela yang ada dikamar tersebut dengan keadaan baik baik saja, dan berhasil mencapai tanah dengan selamat, melihat itu membuat Rifki tersenyum kearah Nadhira dan menyuruh Nadhira untuk pergi dari tempat itu.


"Dhira, jaga diri baik baik" Ucap Sarah.


"Iya Oma" Jawab Nadhira dengan beratnya.


Ketika Rifki sibuk menatap kepergian dari Nadhira, tiba tiba Sarah berjalan dengan perlahan kebelakang Rifki, tanpa aba aba dirinya segera mendorong Rifki kearah cendela tersebut hingga membuatnya terjauh, seketika itu juga Rifki melakukan roll depan agar dirinya tidak terjauh ditanah dengan kerasnya.


Melihat Rifki mendarat dengan selamat membuat Sarah tersenyum kearahnya, Nadhira berhenti melangkah ketika mendengar teriakan Rifki yang terkejut karena tiba tiba dorong oleh Sarah begitu saja dari dalam kamar tersebut melalui cendela.


Bhuukk


"Akh..".


"Rifki!" Teriak Nadhira ketika melihat Rifki tengah terduduk ditanah dibawah cendela kamar Sarah.


Nadhira segera berlari untuk menghampiri Rifki untuk membantunya bangkit berdiri, Nadhira segera mengalungkan tangan Rifki kelehernya untuk membuat Rifki kembali berdiri dari jatuhnya tadi.


"Apa yang Oma lakukan?" Tanya Rifki dengan terkejut dan sambil membersihkan tanah yang melekat pada pakaiannya karena didorong oleh Sarah.


"Cepat bawa Dhira pergi dari sini, jangan pedulikan diriku, aku sangat percaya kepadamu kalau kau akan melindungi Dhira dengan baik" Ucap Sarah yang masuh berada dikamarnya.


"Kenapa Oma melakukan itu!" Rifki benar benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Sarah kepadanya kali ini.


Tanpa aba aba sedikitpun, Sarah mendorongnya keluar dari cendela kamar tersebut, sehingga membuatnya begitu terkejut dan tidak siap untuk bersentuhan dengan tanah begitu cepat, akan tetapi untung saja dirinya mampu mendarat dengan tepat.


"Ku harap kalian baik baik saja" Ucap Sarah yang juga meneteskan air matanya.


"Oma, kenapa Oma harus berkorban seperti ini demi Dhira? Hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah.


"Tidak ada waktu lagi Dhira, sebaiknya kalian cepat pergi dari sini" Ucap Sarah.


"Oma maafkan Dhira".


"Kau! Berjanjilah kepadaku, bahwa kau akan melindungi Dhira dengan baik, aku serahkan dirinya kepadamu, jaga dia dengan baik" Ucap Sarah sambil menunjuk kearah Rifki.


"Aku Rifki, berjanji kepada Oma bahwa aku akan selalu menjaga dan melindungi Nadhira, meskipun harus dengan mengorbankan nyawaku sendiri" Ucap Rifki dengan tegasnya.


"Cepat bawa Dhira pergi dari sini".


Tanpa Rifki sadari bahwa kini dirinya tengah meneteskan air matanya, dengan terpaksa dirinya harus menarik tangan Nadhira untuk pergi meninggalkan tempat itu, ia merasa sakit hati ketika melihat Nadhira menangis seperti itu, rasanya begitu sangat menyiksa batinnya sendiri.


"Rifki lepaskan aku! Aku tidak mau meninggalkan Oma sendirian disana! Tolong selamatkan Oma! Rifki! Biarkan aku menyelamatkan Oma Rifki, lepaskan aku, aku mohon" Teriakan Nadhira yang berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Rifki dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipinya.


Rifki seakan akan tidak peduli dengan suara isak tangis dari Nadhira tersebut tapi disatu sisi, kini dirinya juga tengah meneteskan air matanya dengan begitu derasnya akan tetapi Nadhira tidak mampu melihat wajahnya itu karena Rifki menarik tangannya sambil membelakangi dirinya.


Seandainya Rifki mampu untuk menyelamatkan Sarah dari orang orang jahat itu, sudah pasti ia lakukan sejak tadi tanpa berpikir panjang, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan itu karena kekuatannya sangat terjangkau dan kini ia harus menyelamatkan Nadhira dari kejaran orang orang itu.


"Maafkan aku Dhira, aku telah berjanji kepada Oma untuk menjaga dan melindungimu, dan ini adalah salah satu janjiku" Ucap Rifki dengan lirih dan perasaan penuh dengan rasa bersalah.


Nadhira tidak mendengar suara lirih Rifki tersebut, akan tetapi Nadhira terus berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan Rifki, dirinya ingin kembali kerumahnya untuk menolong Omanya yang tengah berada didalam kamar tersebut, akan tetapi Rifki memeganginya dengan sangat erat dan bahkan dirinya menahan rasa sakit karena pukulan yang diberikan oleh Nadhira berkali kali kepadanya.


"Lepaskan aku Rif! Aku harus kembali untuk Oma" Air mata tak lagi mampu terbendungkan disaat Rifki dengan paksa membawanya pergi dari tempat itu.


Seketika itu juga Nadhira menjatuhkan dirinya dan duduk ditanah tempat dimana dirinya berdiri sebelumnya, dan hal itu sontak membuat Rifki menghentikan langkah kakinya, ia berusaha untuk bersikap tegar dihadapan Nadhira.


"Jika kau tidak mau menolong Oma, biarkan aku yang melakukan itu Rifki" Ucap Nadhira putus asa.

__ADS_1


Rifki segera menghapus air matanya yang ada dipipinya, dan berusaha untuk bersikap tegar, setelah itu ia menghadap kearah Nadhira yang kini tengah berusaha untuk memohon kepada Rifki agar dirinya membiarkannya untuk kembali dan menyelamatkan Omanya itu.


__ADS_2