Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira dirawat dirumah sakit


__ADS_3

Nadhira terkejut ketika dia membuka matanya untuk pertama kali dan mendapati bahwa Rifki sudah ada disampingnya dengan kondisi tubuh yang semakin kurus, ia pun bertanya kepada Rifki akan tetapi Rifki tidak menjawabnya dan akhirnya dia bertanya kepada Nandhita siapa tau dia mendapatkan jawabannya dari Kakaknya itu.


"Kenapa lagi kalau bukan karena memikirkan dirimu Dhira, dia bahkan tidak pernah meninggalkan dirimu sendiri disini, karena dia takut terjadi sesuatu dengan dirimu, makan pun dia jarang selalu saja alasannya aku tidak lapar Kak, begitu".


"Pagi ini apakah dia sudah makan Kak?".


"Entah, Kakak juga tidak tau".


"Kak aku mau duduk, tolong bantu aku".


"Kau masih terluka Dek, bekas jahitan dipunggungmu masih belum kering".


"Dhira ngak apa apa Kak, Dhira hanya ingin duduk duduk saja kok".


"Baiklah".


Nandhita langsung bangkit dari duduknya dan segera membantu Nadhira untuk duduk, Bi Ira pun juga ikut membantu Nadhira untuk duduk, dengan kondisi tubuh yang masih lemas membuat keduanya sedikit kesulitan untuk mengangkat tubuh Nadhira untuk duduk sesuai dengan keinginan Nadhira.


Setelah cukup lama berusaha akhinya mereka berhasil membuat Nadhira duduk, Nandhita segera memberi bantalan pada punggung Nadhira agar Nadhira bisa bersandar dengan nyaman.


"Rifki ada didepan sekarang Kak, tolong panggilkan dia, suruh dia masuk, dia pasti belum makan sejak pagi tadi".


"Rifki didepan sekarang? Bukannya dia ada urusan? Bagaimana kau tau bahwa Rifki sekarang ada didepan? Kenapa dia bilang kalau ada urusan?".


"Coba Kakak lihat dulu, aku merasa bahwa Rifki masih ada didepan saat ini".


"Iya bentar".


Nandhita pun segera bergegas keluar dari ruangan tersebut untuk melihat apakah benar Rifki ada didepan, dan benar saja ia pun melihat Rifki sedang duduk seorang diri sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.


Nandhita pun perlahan lahan mendekat kearah dimana Rifki berada, ia langsung duduk disebelahnya, dan mendapati bahwa Rifki sedang menangis tanpa suara didepan sana.


"Ada apa Rif?" Tanya Nandhita dengan pelan sambil menyentuh punggung Rifki.


"Kak Dhita, Rifki tidak kuat melihat Nadhira kesakitan seperti itu, meskipun dia tidak bilang tapi aku merasa bahwa dia sedang menyembunyikan sakitnya" Ucap Rifki sambil menatap kearah Nandhita.


"Masuklah, jangan membuat Nadhira semakin cemas didalam, dia memintaku untuk mengajakmu masuk, jangan bersedih lagi, kau harus tetap tegar didepam Nadhira agar dia tidak ikut bersedih".


"Iya Kak" Rifki pun mengambil nafas dalam dalam dan menghapus air matanya itu.


Rifki bangkit dari duduknya dan segera berjalan kearah ruang rawat Nadhira, ia pun terkejut melihat Nadhira sudah dalam keadaan duduk saat ini, ia pun segera bergegas untuk mendatangi Nadhira dan langsung duduk disampingnya.


Melihat kedatangan Rifki dengan penuh kekhawatiran dengan dirinya membuat Nadhira tersenyum tipis kearah Rifki, Nadhira tau bahwa Rifki tidak benar benar meninggalkan dirinya sebelumnya karena ia hanya menunggu diluar saja.


"Dhira kenapa kau tidak istirahat dulu sih" Omel Rifki.


"Bagaimana aku bisa istirahat dengan nyaman kalau kau sendiri belum makan sama sekali".


"Kau sendiri belum makan juga kan? Bi, mana buah buahan pesanan Rifki yang sudah Bibi potongi kecil kecil?" Tanya Rifki kepada Bi Ira.


"Bentar Bibi ambilkan dulu".


Bi Ira pun langsung berjalan kearah dimana dia menaruh tas yang ia bawa sebelumnya, dan dia pun mengeluarkan sebuah tepak makan yang sedikit besar dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Rifki.


Rifki pun segera membukanya dan nampaklah beberapa jenis buah yang sudah dipotong kecil kecil didalamnya, Rifki pun menusuk buah tersebut dan menyuruh Nadhira untuk membuka mulutnya, melihat itu membuat Nadhira mau tidak mau harus membuka mulutnya dan mengunyahnya.


"Kau harus lebih banyak makan makanan yang sehat Dhira, kau juga tidak boleh kelelahan" Ucap Rifki sambil menyuapi Nadhira dengan buah itu dan langsung dibalas anggukan oleh Nadhira.


Nadhira pun mengunyah buah buahan itu sampai terkoyak dengan halus, setelah itu dia menelannya secara perlahan lahan, Rifki begitu perhatian kepadanya entah kenapa Nadhira merasa ada sesuatu yang beda dari Rifki.


"Aku sudah kenyang Rif" Ucap Nadhira menghentikan suapan Rifki.


"Baiklah" Rifki pun menaruh kotak makan tersebut dimeja terdekat dengan dirinya.


Setelah menyuapi Nadhira dengan buah buahan itu, Rifki tidak ikut makan dan hal itu membuat Nadhira merasa khawatir dengan Rifki, wajah Rifki terlihat begitu sayup dan tanpa bertenaga dan hal itu terlihat begitu sangat memperihatinkan bagi Nadhira.


"Rif, kenapa kau tidak ikut makan?"


"Kau lebih penting Dhira".

__ADS_1


"Ngak ngak, Bu apakah Ibu juga membawakan Rifki nasi? Dia belum makan Bu"


"Ada Nak, Ibu ambilkan dulu".


Bi Ira lalu menyerahkan sekotak lagi kepada Rifki dan langsung diterima oleh Rifki, Rifki pun menaruhnya didekat Nadhira tanpa ingin membuka kotak nasi tersebut, melihat itu membuat Nadhira meraih kotak nasi tersebut.


"Makanlah Rif"


"Aku belum lapar Dhira, nanti saja".


"Kenapa? Kau tidak perlu terlalu memikirkan tentang diriku Rif, aku sudah siuman sekarang, aku pasti akan baik baik saja".


"Kau masih bilang bahwa kau baik baik saja? Ucapanmu semakin membuat orang khawatir Dhira"


"Rifki, ada apa? Kenapa kau terlihat seperti sedang menahan marah? Apa kau marah kepadaku?" Tanya Nadhira sambil mengusap pelan kepala Rifki.


"Kau masih bertanya ada apa Dhira? Bagaimana aku bisa tidak marah denganmu, kau selalu bertindak ceroboh, dan tidak memikirkan tentang nyawamu sendiri, kenapa kau melakukan itu?" Rifki yang tidak sanggup menahan rasa sedihnya akhirnya dia meneteskan air matanya.


"Rifki dengarkan aku, selama aku masih bernafas aku tidak akan bisa melihat orang lain terluka didepan mata kepalaku sendiri, apalah arti hidup ini jika tidak mampu untuk membantu yang lainnya".


"Entah hati seperti apa yang kau miliki Dhira, kau bahkan rela mengorbankan hidupmu demi orang lain, bagaimana mungkin aku bisa membencimu, aku sangat mencintaimu Dhira, aku hanya takut kau kenapa kenapa".


"Kenapa kau jadi cengeng seperti ini Rif? Bukankah kau sudah melihatnya sendiri bahwa aku baik baik saja sekarang?".


Meskipun kondisinya sedang tidak baik baik saja akan tetapi Nadhira mengatakan bahwa dia baik baik saja, Rifki sama sekali tidak mempercayai kata baik baik saja itu, bagaimana mungkin orang yang hanya memiliki satu ginjal mengatakan bahwa dia baik baik saja dengan tubuh yang sangat lemas seperti itu.


"Iya sekarang, lalu bagaimana nanti? Apa kau akan terus melakukan hal hal yang akan membahayakan nyawamu sendiri lagi Dhira?"


"Jika itu diperlukan untuk dilakukan maka aku akan terus melakukannya Rif, selama aku bisa melakukan itu, aku akan melakukannya"


"Apa kau tidak memikirkan perasaanku Dhira? Aku sangat terluka melihatmu terluka seperti ini Dhira, kau begitu berarti bagiku Dhira, jangan lakukan hal ini untuk diriku lagi Dhira".


"Lalu bagaimana bisa aku melihatmu kehilangan nyawa didepan mata kepalaku sendiri Rif? Aku juga tidak akan sanggup untuk hal itu".


"Aku lebih baik kehilangan nyawa Dhira daripada harus melihatmu terluka, sakitnya disini" Ucap Rifki sambil menunjuk kearah dadanya.


"Jangan katakan itu Rif, sama saja kau juga menyakiti hatiku sendiri Rif, yang terpenting sekarang adalah aku sudah baik baik saja, makanlah kau pasti belum makan kan?".


"Kau tidak bisa berbohong kepadaku Rif, sekarang makan ya, demi diriku Rifki".


"Boleh aku minta sesuatu?"


"Katakan saja Rif, selama aku masih mampu untuk memberikannya maka aku akan memberikan apapun itu untuk dirimu".


"Aku menginginkan dirimu Dhira, aku tidak ingin kau membahayakan dirimu sendiri demi orang lain, aku ingin kau hidup bahagia dan aku tidak ingin melihatmu terluka karena orang lain, berjanjilah kepadaku bahwa kau tidak akan membahayakan dirimu sendiri lagi"


"Aku sudah bahagia Rifki, melihatmu baik baik saja itu sudah cukup bagiku, untuk janji itu aku akan memikirkannya lagi, aku hanya takut kalau aku tidak bisa menepatinya".


"Apa kau tidak bisa memenuhi keinginanku?".


Nadhira terdiam mendengar pertanyaan Rifki, Rifki pun mengenggam tangan Nadhira dan berharap bahwa Nadhira segera memenuhi keinginannya itu untuk tidak membahayakan nyawanya sendiri.


"Dhira, kenapa kau diam?"


"Baiklah aku berjanji, aku tidak akan membahayakan nyawaku untuk orang lain, tapi itu tidak berlaku untuk dirimu Rifki, apapun akan aku lakukan untuk terus melindungimu".


"Dhira kenapa kau lakukan ini".


"Kau menginginkan aku berjanji kan? Aku sudah berjanji kepadamu, sekarang makan ya".


"Tapi janjinya kurang".


"Kau pun kurang makan"


Rifki sedikit tersenyum mendengar ucapan Nadhira, Nadhira sendiri pun langsung menyuruh Rifki untuk makan makanan yang telah dibawakan oleh Bi Ira sebelumnya, Rifki dengan terpaksa lalu membuka kotak bekal tersebut.


"Makanan ini kesukaanmu Dhira" Ucap Rifki ketika melihat isi dari kotak tersebut.


"Kenapa? Apa kau tidak suka lauknya? Biar Ibu yang belikan saja untukmu, kamu mau makan apa Rif?" Ucap Nadhira.

__ADS_1


"Bukan begitu Dhira, aku suka apapun yang kau suka Dhira, hanya saja Bi Ira pasti sudah menyiapkan ini untuk dirimu"


"Sudah makanlah, aku ingin lihat kamu makan Rifki".


"Aneh banget keinginanmu itu Dhira".


Nadhira hanya tersenyum kepada Rifki, Rifki pun akhirnya pasrah dan segera memakan makanan tersebut sesuai dengan keinginan dari Nadhira, melihat Rifki makan dengan lahapnya membuat Nadhira merasa sangat senang.


Melihat Nadhira yang tersenyum kepadanya membuat Rifki tersenyum balik kearah Nadhira, tak beberapa lama kemudian Rifki telah selesai makan, Nadhira pun langsung menyodorkan sebotol air putih kepada Rifki dan Rifki langsung menerimanya.


"Rif bantu aku, aku ingin tidur" Ucap Nadhira sambil mengerutkan keningnya seakan akan menahan rasa sakit dipunggungnya.


"Kamu kenapa Dhira? Apa lukamu kembali terasa nyeri? Biar aku panggilkan Dokter".


"Ngak apa apa Rif, hanya terlalu lama bersandar mungkin, cepat bantu aku".


"Baiklah Dhira".


Rifki pun membantu Nadhira untuk berbaring seperti sebelumnya, dengan perlahan lahan Rifki melakukan itu karena ia tidak ingin luka dipunggung Nadhira bertambah parah, dan akhirnya Nadhira kembali berbaring ditempatnya.


"Rif, selama aku tidak sadarkan diri, aku bermimpi sangat aneh dan menakutkan"


"Mimpi apa itu Dhira?".


"Aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan anggun, dengan pakaian yang layaknya seperti seorang permaisuri, namanya kalau ngak salah adalah Radhity, dia bilang bahwa dia adalah Ibunda dari Pangeran Kian".


"Lalu apa yang terjadi Dhira?"


"Dia menceritakan semuanya kepadaku, tapi aku lupa apa yang dia katakan" Ucap Nadhira dengan sedikit cengengesan pada bagian dia lupa.


Ucapan Nadhira itu seketika membuat Rifki menghela nafasnya dengan kasar, biar bagaimanapun juga mimpi adalah bunga tidur hanya sebagian saja yang diingat akan tetapi sisanya biasanya pun akan dilupakan disaat bangun tidur.


"Rif, jangan tinggalkan aku" Sekarang ekspresi Nadhira berubah menjadi serius.


"Tenang saja Dhira, aku akan selalu ada disisimu".


"Aku juga pernah bermimpi waktu itu bahwa aku akan kehilangan dirimu Rif, aku melihat bahwa kau ingin dibunuh oleh begitu banyak orang yang sama sekali tidak aku kenali, seseorang melontarkan sebuah tembakan kepada dirimu disaat kau tengah sibuk melawan yang lainnya, aku berteriak memanggilmu tapi kau sama sekali tidak mendengar panggilanku, aku sangat takut kalau itu benar benar terjadi Rif"


Rifki pun tersenyum kepada Nadhira dan mengusap pelan puncak kepala Nadhira, "Jangan pikirkan soal itu Dhira, aku akan baik baik saja selama kau selalu ada disampingku, itu hanya bunga tidur dan belum tentu hal itu akan terjadi".


"Tapi hal itu terlihat begitu nyata".


"Aku tau itu Dhira, jangan dipikirkan lagi, sekarang istirahatlah aku akan menjagamu disini".


"Berjanjilah bahwa kau akan baik baik saja".


"Aku berjanji Dhira, selama kau baik baik saja maka aku juga akan baik baik saja".


Nadhira tersenyum mendengar ucapan Rifki, usapan lembut Rifki membuat Nadhira mengantuk dan perlahan lahan mulai memejamkan kedua matanya, sepersekian detik kemudian Nadhira sudah masuk kedalam alam mimpinya.


"Itu bukan sebuah mimpi belaka Dhira, mungkin karena keris pusaka xingsi dan permata iblis memiliki hubungan oleh karena itu kau bisa melihat kejadian yang pernah aku alami, begitupun sebaliknya ketiak kau sakit, aku pun merasakan sakit yang sama seperti yang kau alami, tapi kau tenang saja Dhira, aku akan selalu baik baik saja selama kau selalu ada disampingku untuk diriku" Batin Rifki.


Melihat Nadhira yang tidur dengan nyenyaknya membuat Rifki merasa lebih tenang, ia pun memutuskan untuk pergi kesebuah sofa yang ada diruangan tersebut untuk mengistirahatkan tubuhnya juga karena ia merasa begitu mengantuk setelah melihat Nadhira tidur.


*****


Beberapa hari kemudian, Nadhira sedang duduk ditempat tidurnya bersama dengan Rifki yang sedang menyuapinya makanan, seperti biasa setelah Nadhira selesai makan Rifki juga ikut makan makanan yang dibawakan oleh Bi Ira.


"Rif, kapan aku akan dibolehkan pulang?" Tanya Nadhira yang sudah mulai bosan berada didalam ruang rawat inap tersebut.


"Kau belum sepenuhnya sembuh Dhira, lukamu saja belum kering sekarang".


"Aku sudah sembuh kok Rif, tanganku terasa perih jika terus dipasang infus seperti ini, lihatlah tanganku sudah mulai sedikit membengkak" Ucap Nadhira sambil menyodorkan tangannya didepan Rifki.


"Baiklah aku akan bilang kepada pihak rumah sakit biar infusmu dipindah ke tangan yang satunya saja kan katanya sakit karena infus".


"Rifki itu sama saja, malah dua kali sakitnya nanti, kau tega sekali Rif dengan diriku" Rengek Nadhira.


"Sudahlah, ini juga demi kebaikanmu Dhira, kau harus sembuh total terlebih dahulu, jangan banyak merengek rengek seperti itu, sudah kayak anak kecil saja kamu Dhira".

__ADS_1


Entah kenapa sikap Nadhira saat ini sudah seperti anak kecil saja dihadapan Rifki, hal itu membuat Rifki semakin gemas dengan dirinya itu, dan ingin sekali untuk mencubit cubit Nadhira.


__ADS_2