
Dalam perjalanan pulang, Ana mampir terlebih dulu disebuah toko yang berada tidak jauh dari tempat itu untuk membeli sesuatu. Ia tidak tau bahwa Bayu tengah mengikutinya dengan diam diam saat ini, Ana langsung masuk kedalam toko tersebut.
"Mau cari apa, Bu?" Tanya karyawan toko yang menyambutnya dengan hangat ketika dirinya masuk kedalam toko.
"Ada susu formula, Mbak?" Tanya Ana.
Bayu yang mendengar pertanyaan Ana mendadak menjadi bingung, kenapa wanita yang dirinya ikuti justru mencari susu formula ditempat itu. Itu menjadi sebuah tanda tanya yang besar bagi Bayu, entah mengapa ditoko itu dirinya jutru mencari sesuatu yang entah sulit dijelaskan.
"Susu formula untuk apa? Emang dia punya anak kecil?" Guman Bayu dengan lirih dan tidak didengar oleh Ana.
"Untuk anak usia berapa ya, Bu?"
"Usia 5 tahun, Mbak. Anak saya paling suka minum yang merknya A. Ada nggak, Mbak?"
"Oh ada Bu, bentar saya ambilkan dulu ya, Bu."
Menunggu untuk diambilkan barang yang dimau, Ana pun sambil berkeliling mengitari toko tersebut siapa tau ada barang yang diminati nantinya. Sementara Bayu, dirinya langsung keluar dari dalam toko itu untuk menelpon seseorang menggunakan ponselnya itu.
"Halo..." Ucap Bayu ketika sambungan telepon tersebut terhubung.
"Gimana Bay? Ada sesuatu yang kamu ketahui?" Tanya Seseorang dari seberang sana, yang tidak lain adalah Rifki.
"Kayaknya dia bukan Nadhira deh, Rif. Ini aku ngikutin dia ke toko, dan dia mencari susu formula untuk anak usia 5 tahun. Dia bilang anaknya suka, mana mungkin Dhira melahirkan anak lagi, kan? Atau mungkin dia sudah menikah lagi?" Ucap Bayu yang keheranan dibuat Ana, padahal baru saja mengikutinya.
Rifki pun terdiam mendengar ucapan Bayu, kali ini apa yang diketahui oleh Bayu selama mengikuti Ana, sangat berbeda jauh dari ketika Reno mengikuti Ana. Reno akan memberikan informasi yang jelas dan hal apa yang dimintai oleh Rifki, akan tetapi hasil dari ucapan Bayu malah berbeda dari yang dirinya harapkan.
"Bagaimana mungkin? Reno tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki anak kecil, jika usianya 5 tahun maka ketika kerja dirumahku anaknya masih usia setahun. Mana mungkin seorang Ibu tega meninggalkan anaknya yang masih balita?"
"Mungkin karena kebutuhan, Rif. Seorang Ibu bisa melakukan apa saja untuk anaknya, kan?"
"Tetap ikuti dia, Bay. Apapun yang mencurigakan, segera laporkan kepadaku."
"Baik Tuan Muda."
Bayu pun langsung memutuskan sambungan telponnya itu, dirinya pun langsung memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya. Bayu kembali masuk kedalam toko itu, dirinya mengawasi Ana dari jauh sambil memilih makanan agar tidak dicurigai oleh Ana.
"Totalnya 300 ribu."
"Ini Mbak."
Ana pun menyerahkan uangnya untuk membayar barang barang yang telah dirinya beli, setelah itu dirinya langsung keluar dari toko itu begitupun juga dengan Bayu yang langsung menyambar sebotol minuman dan membayarnya. Bayu langsung terburu buru untuk mengejar Ana, dirinya tidak mau kehilangan jejak wanita itu.
Kaki Ana terus melangkah hingga kedua kakinya berhenti didepan sebuah kios yang berjualan buah buahan segar, dirinya pun langsung menuju kearah buah jeruk yang telah tertata rapi disana. Ia pun mengambil buah tersebut dan dirinya tersenyum tipis dibalik cadarnya.
"Ini adalah buah kesukaan anakku, anakku pasti senang kalau aku membawakannya ini." Ana pun langsung memanggil penjual yang berjualan itu.
Bayu masih setia untuk mengawasinya, dirinya melihat bahwa Ana tengah membeli buah buahan tersebut, mungkin untuk buah tangannya nanti. Benar benar membingungkan bagi Bayu, kenapa Ana tidak buru buru untuk pulang dan menemui anaknya itu? Justru dirinya terlihat santai sambil berbelanja.
Beberapa jam kemudian...
Nampaknya Bayu mulai lelah ketika mengikuti Ana, seakan akan tidak ada hal yang dibutuhkan untuk memberi laporan kepada Rifki saat ini. Bukannya langsung menuju kerumahnya, akan tetapi Ana mampir dulu ke pasar yang ada disana, entah apa yang ingin dirinya beli akan tetapi dirinya hanya terlihat seperti memutari pasar itu saja.
Mengikuti wanita belanja adalah hal yang membosankan bagi lelaki, Bayu sudah merasa sangat jenuh ketika mendapatkan perintah seperti itu. Ingin sekali dirinya langsung mendatangi wanita tersebut dan bertanya kepadanya secara langsung, akan tetapi dirinya takut jika tindakannya jutru akan membahayakan nyawanya karena ancaman Rifki.
"Kenapa kau memberiku tugas yang membosankan seperti ini, Rif? Ah mending latihan beladiri daripada harus muter muter nggak jelas seperti ini." Bayu pun mengeluh, dan ingin sekali istirahat sejenak karena bosannya.
__ADS_1
Bayu nampaknya sudah kelelahan mengikuti wanita itu, seakan akan tidak ada hal yang mencurigakan dari wanita tersebut. Itu hal wajar bagi seorang wanita yang ingin membawakan buah tangan untuk anaknya, atau untuk anggota keluarganya.
"Nadhira itu licik, dan cerdik. Sekali kau lengah, kau akan kehilangan jejaknya," Suara Rifki pun menggema didalam ingatannya.
Mengingat perkataan itu langsung membuat Bayu terlihat bersemangat lagi, dirinya tidak mau kehilangan jejak wanita itu untuk saat ini. Oleh karena itu, Bayu pun langsung membuang jauh jauh rasa bosan dan malasnya itu, iya tidak mau kehilangan kesempatan untuk menemukan Nadhira dan anaknya.
"Mama!!" Tiba tiba terdengar suara seorang anak keci yang berteriak.
"Shandra!" Teriak Ana balik.
"Shandra?" Guman Bayu heran, dan langsung menoleh kearah apa yang dilihat oleh Ana.
Seorang wanita bercadar lainnya berdiri disebelah anak kecil yang berada tidak jauh dari Ana, anak kecil tersebut langsung berlari menuju kearah dimana Ana berada. Sementara Ana langsung berjongkok dan merentangkan tangannya lebar lebar untuk menangkap tubuh gadis kecil yang tengah berlari kearahnya.
Gadis kecil itu langsung menubruk tubuh Ana begitu saja, dan langsung memeluknya dengan sangat eratnya. Ana sendiri pun juga memeluknya, dan langsung menggendongnya saat itu juga.
Sosok wanita yang bersama dengan anak itu pun berjalan mendekat kearah Ana, kedua wanita itu langsung berpelukan untuk menuangkan rindu yang sekian lama tidak bertemu.
"Kakak pulang kok nggak bilang bilang Siska dulu, sih? Kan Siska bisa jemput Kakak naik motor," Ucap Siska kepada Ana.
"Kalau bilang bilang, nanti nggak sepesial lagi. Oh iya, gimana kabar Ibu?"
"Ibu baik, Kak. Kakak sendiri gimana?"
"Alhamdulillah baik seperti apa yang kamu lihat saat ini, Sis. Andra juga semakin berat, ya? Anak Mama cantik," Ucap Ana sambil mendekatkan wajahnya kepada gadis kecil itu.
"Mama, Andla kangen banget sama Mama Ana. Mama Ana kok nggak pernah pulang sih? Mama nggak kangen sama Andla?" Shandra paling tidak bisa mengatakan huruf R dan selalu meleset mengatakan L, karena dirinya masih kecil.
"Kangen banget dong, Sayang. Mama tuh selalu mikirin Andra loh, Mama beli sesuatu untuk Andra," Ana pun mengangkat kantung belanjaan yang dirinya beli sebelumnya untuk menunjukkannya kepada Shandra.
"Iya, untuk perkembangan Andra."
"Andla juga bisa berkembang kayak bunga ya, Ma?"
Ana dan Siska pun tertawa pelan mendengar pertanyaan dari Shandra, bagaimana bisa manusia berkembang seperti bunga? Itulah yang dipikirkan oleh bocah kecil tersebut. Tanpa disadari keduanya Bayu tengah merekam aktivitas mereka, Bayu semakin yakin bahwa tanah bukanlah Nadhira yang dirinya cari.
Ana dan Nadhira itu berbeda, raut wajahnya pun menjadi buruk ketika tidak menemukan hasil yang sesuai dengan apa yang dirinya cari. Bayu pun langsung mengirimkan rekaman itu kepada Rifki, dengan penuh kekecewaan dirinya pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan entah pergi ke mana.
Shandra adalah anak yatim piatu yang dibuang oleh orang tuanya didepan panti asuhan, karena masih baru lahir beberapa hari dan dapat dilihat dari adanya tali pusar yang masih melekat. Siska merasa sangat kasihan dengan bayi mungil itu, sehingga dirinya mengadopsinya dan menjadikannya anaknya.
Shandra memanggil Ana dengan sebutan Mama, sementara ketika memanggil Siska dengan sebutan Bunda. Shandra memiliki dua Ibu sekaligus, akan tetapi dirinya hanya memiliki satu Ayah, yakni suami dari Siska akan tetapi tidak tau dengan suami dari Mamanya.
Ana langsung mengajak keduanya untuk pergi dari tempat itu, keduanya dengan cepat langsung bergegas meninggalkan tempat itu. Sesampainya dirumah, Ana langsung menutup pintu rumahnya rapat rapat.
"Untung kamu segera datang, Sis. Kalau nggak mungkin aku bisa ketahuan," Ucap Ana setelah masuk kedalam kamarnya, dan menghela nafas lega.
Ana merasa lega setelah sampai di rumah, dan tidak ada yang mengikutinya lagi. Dirinya ternyata tahu bahwa Bayu tengah mengikutinya sebelumnya, ketika berada di toko sebelumnya Ana tanpa sengaja melihat sekilas bayangan. Ketika dirinya sedang menunggu untuk diambilkan barang yang dirinya minta, Ana tanpa sengaja mendengar percakapan Bayu dan Rifki melalui telepon.
Ana merasa lega bahwa dirinya mengetahui keberadaan Bayu sebelumnya, kalau seandainya tidak mungkin dirinya akan ketahuan saat itu juga. Dirinya harus lebih berhati hati untuk melangkah saat ini, karena dia tahu bahwa Rifki sudah curiga kepadanya dan harus lebih berhati hati untuk melangkah selanjutnya.
"Kak, seperti Kakak sudah nggak aman dirumah itu. Banyak yang mencurigai Kakak, kalau Kakak ketahuan bagaimana?" Tanya Siska yang ikut merasa khawatir dengan Kakaknya itu.
"Mungkinkah aku harus pergi dari rumah itu?" Tanya Ana.
"Jika keadaannya seperti ini, pergi dari sana jauh lebih tepat, Kak. Aku nggak mau Nara kenapa napa, Nara sudah aku anggap sebagai anak sendiri selama ini, aku takut kehilangan dia."
__ADS_1
"Terima kasih sudah menjaga Nara selama ini, dan menyayanginya seperti anakmu sendiri, Sis. Aku tetap tidak akan pergi meninggalkan Rifki meskipun nyawaku taruhannya. Kalau aku mati tolong beritahu Nara siapa Ayahnya sebenarnya, kalau dia marah bujuklah agar bisa menyayangi Ayahnya. Aku nggak mau, anakku membenci Ayahnya sendiri karena diriku." Ana pun mengenggam erat tangan Siska.
"Kakak nggak boleh berbicara seperti itu, tugas untuk memberitahukan hal itu sebenarnya adalah Kakak, bukan aku. Akan sulit untuk diterima oleh Nara, tapi itulah yang sebenarnya."
Ana pun terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Siska. Siska tidak memiliki hak untuk mengatakan hal tersebut kepada Kinara, jika dirinya mengatakan itu sama saja membuat Kinara berpikir bahwa memang ibunya merahasiakan semuanya dari dirinya, dan justru akan semakin membuat Kinara sakit hati.
Mungkin bisa saja Kinara akan semakin marah pada Rifki, dan akan sulit untuk menerima kenyataan. Apalagi Kinara sudah dewasa saat ini, pikiran seorang remaja masih belum bisa berpikir dengan jernih, dan masih tercampur dengan emosi dan keegoisan.
Jika Kinara sangat sulit untuk menerima kenyataannya, maka mentalnya bisa hancur saat itu juga dan Siska tidak mau itu terjadi. Akan sangat sakit jika mengetahui kebenarannya dari orang lain, kenapa orang tuanya tidak memberitahunya lantas kenapa harus orang lain yang memberitahu hal itu kepadanya.
"Dimana Nara sekarang, Sis?" Tanya Ana tiba tiba dan mengalihkan pembicaraan.
"Dia bilang mau kerumah temannya, Kak. Entah kenapa, sampai sekarang dirinya belum pulang juga."
Siska pun memandang ke arah sebuah jam untuk melihat waktu, bahkan sudah sore tetapi Kinara belum juga pulang. Keduanya pun langsung panik seketika itu juga, di tengah tengah kepanikannya tiba tiba suara seseorang mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok... Tok... Tok...
"Tante! Nenek! Ih... kenapa pintunya dikunci dari dalam sih? Kalian nggak ada dirumah ya? Bukain dong! Panas nih diluar!" Itu suara Kinara yang tengah berusaha untuk membuka pintu rumah tersebut.
Kinara pun terlihat sangat kesal karena tidak ada seorangpun yang membukakan pintu untuknya, mendengar suara Kinara yang sangat keras membuat Ana menepuk jidatnya saat itu juga. Ana lupa bahwa pintu tersebut ia kunci sebelumnya, sehingga Kinara tidak bisa masuk kedalam rumah itu.
Dasar memang anak Rifki, tidak memiliki akhlak.
Ana langsung bergegas menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu tersebut, dirinya tahu bahwa Kinara sedang kesal saat ini karena dikunci dari dalam olehnya. Mendengar suara pintu yang tengah dibuka, hal itu membuat Kinara segera bersiap siap untuk memarahi orang yang membukakan pintu itu karena lambat.
Ketika dirinya hendak mengeluarkan kata kata untuk orang tersebut, bayangan Mamanya langsung muncul saat itu juga hingga membuatnya mengurungkan niatnya itu. Ekspresi kesal Kinara seketika langsung berubah menjadi senyum canggung di depan Mamanya.
"Mama kok sudah pulang?" Tanya Kinara ngeri melihat tatapan Mamanya.
"Kenapa? Nggak suka lihat Mama dirumah?" Tanya Ana tanpa nada lembut sedikitpun itu.
"Bu.. Bukan begitu, Mamaku cantik. Ke.. Ke.. Kenapa Mama pulang tiba tiba?" Tanya Kinara dengan terbata bata dan sesekali meneguk silvanya dengan susah payah.
"Kenapa? Terkejut lihat Mama dirumah?"
"Aku suka kok lihat Mama dirumah, serius deh."
"Darimana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?"
"Dari rumah temen kok, Ma. Aku nggak kemana mana kok,"
Entah ada apa, kenapa Mamanya itu begitu banyak pertanyaan saat ini hingga membuat Kinara kesulitan untuk menjawabnya. Seakan akan dirinya telah melakukan kesalahan yang besar, tapi dirinya tidak tau kesalahan apa yang telah dia lakukan saat ini.
"Dimana tongkat itu?" Ana langsung to the point dengan pertanyaannya.
"Tongkat apa?" Kinara tidak paham apa yang dimaksud oleh Ana.
"Tongkat milik Mama yang bisa dipendekkan."
"Ada kok, Ma. Tongkatnya selalu Nara bawa kok,"
"Mana sekarang!" Ana pun mengangkat tangannya untuk meminta tongkat itu dikembalikan kepadanya.
Kinara pun langsung membuka resleting tasnya dan mencari tongkat yang dimaksud itu, setelah cukup lama akan tetapi dirinya tidak menemukannya hingga membuatnya berkeringat dingin. Kinara lupa menaruhnya dimana, dan dirinya ketakutan saat ini ketika dia tau bahwa tingkat itu hilang.
__ADS_1