
"Ini sudah larut malam Dhira, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, jangan main kabur kabur lagi, sekarang harus nurut sama aku, Dhira ngak boleh pergi seperti tadi, pake lewat cendela segala lagi".
"Berjanjilah kalau kau tidak akan meninggalkan diriku, saat ini dan nanti".
"Aku berjanji kepadamu Dhira, bahwa aku akan berjuang untuk mendapatkan dirimu, jangan mabuk lagi seperti ini, kau boleh marah kepadaku tapi jangan lampiaskan semuanya kepada dirimu sendiri".
Rifki membantu Nadhira untuk tidur, Nadhira jauh lebih tenang ketika Rifki telah berjanji kepadanya, dan dirinya mampu untuk tidur dengan nyenyaknya ditempat itu, sementara Rifki lalu membantunya untuk memasangkan selimut untuk menutupi tubuh Nadhira ketika dirinya sudah tertidur.
"Selamat malam Dhira, tidurlah yang nyenyak untuk malam ini, ku harap kau melupakan apapun yang aku katakan saat ini, aku hanya tidak ingin kau celaka gara gara diriku Dhira, sepertinya aku harus memberimu minum agar mabuk deh, gemes banget lihatnya pengen ku lempar kejurang" Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
Melihat Nadhira yang sudah tertidur dengan nyenyaknya malam ini membuat Rifki merasa damai, ia pun segera bergegas pergi dari kamar tersebut untuk membiarkan Nadhira istirahat didalamnya dengan tenang.
Karena kelelahannya hal itu membuat Nadhira mampu tertidur dengan tenang apalagi ketika dirinya telah mendengar janji yang diucapkan oleh Rifki, entah setelah dia sadar nanti dia akan mengingatnya atupun dia sudah melupakannya.
Rifki menatap kearah Nadhira yang sedang terbaring tidur dengan tatapan yang penuh dengan kelembutan, ia pun mengusap kepala Nadhira untuk membuatnya mampu tertidur dengan nyenyak dimalam hari ini.
"Maafkan aku karena aku telah membuatmu jatuh cinta, akankah cinta itu sangat menyakitkan Dhira, jika aku tau akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan terlalu jauh membuatmu mencintaiku, biarkan aku yang menahan semua rasa sakit ini Dhira, melihatmu menangis bagaikan tersayat sayat hatiku Dhira, tapi aku tidak punya pilihan lain".
Rifki mengenggam erat tangan Nadhira seakan akan dirinya begitu sulit untuk melepaskan Nadhira, akan tetapi dirinya tidak punya pilihan lain, dia tidak akan pernah bisa untuk membunuh Nadhira dengan keris pusaka xingsi meskipun dia harus menghancurkan permata iblis itu.
"Akulah yang berhak hancur pertama kali Dhira, biarkan aku yang akan kehilangan nyawa daripada harus melihatmu merenggangkan nyawa dihadapanku, bahkan itu jauh lebih menyakitkan".
*****
Keesokan paginya, burung burung sudah berkicauan diluar markas besar Gengcobra, sejak pagi hari Rifki sudah pergi meninggalkan kamar tersebut untuk melakukan pekerjaannya, sementara Nadhira perlahan lahan mulai membuka kedua matanya dengan kepala yang masih terasa begitu pusing entah apa yang terjadi semalam kepadanya.
"Aku dimana?" Tanya Nadhira pelan ketika pandangannya masih terlihat begitu buram.
Nadhira pun memegangi kepalanya yang terasa nyeri, yang dirinya ingat hanyalah ketika dia bersama dengan Theo didalam sebuah ruangan akan tetapi ruangan yang ia tempati kali ini berbeda dari yang dia ingat semalaman itu.
Nadhira mengedipkan matanya beberapa kali agar pandangan jelas dan memandangi sekelilingnya, dan perlahan lahan pandangannya mulai terlihat begitu jelas, ia merasa pernah masuk kedalam kamar ini sebelumnya dan bahkan seisi kamar tersebut tidak ada yang berubah sama sekali.
"Bagaimana aku bisa berada disini lagi? Apa yang terjadi denganku semalam? Apa dia yang telah membawaku kemari?".
Ia pun membuka selimutnya untuk melihat tubuhnya, ia begitu terkejut ketika melihat jas milik Rifki sedang tersematkan ditubuhnya, ia membuka jas tersebut dan melihat bahwa pakaian yang ia pakai kini tengah ia terbuka sedikit dan hampir menampakkan belah dadanya tersebut.
"Apa Rifki telah melakukan sesuatu kepadaku semalam? Aku tidak akan pernah memaafkanmu Rif, aku benci dirimu" Nadhira merasa seperti dirinya telah ternodai oleh Rifki semalam.
Nadhira pun melepas jas tersebut dan segera merapikan pakaiannya yang hampir terbuka tersebut, ia pun merasa merinding jika membayangkan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya kemarin malam yang sama sekali tidak ia sadari.
Padahal yang sesungguhnya meskipun dalam keadaan berkelahi Rifki masih tetap memikirkan kehormatan Nadhira dan memakai jasnya Seca terbalik untuk menutupi dada Nadhira yang sudah sedikit terbuka itu.
Tiba tiba seseorang masuk kedalam kamar tersebut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan hal itu sontak membuat Nadhira segera menutupi tubuh dengan selimut yang sedang ia pegangi saat ini.
"Kau sudah bangun Dhira" Ucap orang itu yang tidak lain adalah Bayu.
"Kenapa kau tiba tiba masuk kedalam?" Tanya Nadhira dengan gugup.
"Aku hanya khawatir dengan kondisimu Dhira, apa Rifki telah melakukan sesuatu kepadamu kemarin? Rifki bilang kamu sangat kelelahan".
"Apa Rifki telah menodaiku?" Tanya Nadhira dengan gelisah dan juga sedihnya.
"Aku ngak tau soal itu, apa kau sama sekali tidak ingat kejadian kemarin malam?".
"Aku sama sekali tidak ingat Bay, kenapa aku bisa berada disini?".
"Aku yang membawamu kemari Dhira, dan jas itu memang milik Rifki, seingatku kemarin kau tidak memakai jas tersebut, apa malam malam Rifki mendatangimu kemarin?".
"Dimana Rifki saat ini? Aku ingin bertanya kepadanya Bay, aku ingin tau apakah dia telah benar benar melecehkan diriku disini atau tidak"
__ADS_1
"Tidak usah melakukan hal itu Dhira, dia tidak ada dimarkas sekarang, dia hanya berpesan setelah kau terbangun dia nemintaku untuk menyuruhmu pergi dari markas ini, karena dia tidak mau melihatmu lagi dimarkas Gengcobra".
"Dia mengusirku setelah melecehkanku semalam? Kurang ajar sekali dia, apakah aku sudah tidak suci lagi sekarang"
"Apa kau sudah mengingat sesuatu tentang kejadian semalam antara dirimu dengan Rifki, Dhira? Coba kau ingat ingat lagi soal kejadian semalam itu".
"Tidak, aku sama sekali tidak bisa mengingat apa apa soal kemarin Bay, yang aku ingat aku sedang bersama dengan Theo, tapi kenapa aku bisa tiba tiba berada disini sekarang? Dan juga resletingku sedikit terbuka, aku pikir dia telah melakukan sesuatu kepadaku semalam".
"Aku tidak tau soal itu Dhira, sebaik kau segera pergi dari markas ini, aku tidak ingin membuat Rifki marah nantinya jika kau masih tetap berada disini".
"Tanpa kau beritahu pun aku akan pergi dari sini Bay, tolong bilang kepada Tuan Muda mu itu, jangan pernah menemuiku lagi, aku sangat membencinya Bay, dan aku tidak akan pernah memaafkannya atas kejadian kemarin malam".
Dengan penuh kekecewaan Nadhira segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan membanting jas milik Rifki kelantai, perasaannya terasa begitu campur aduk saat ini, ia tidak menyangka bahwa Rifki akan melakukan hal itu kepadanya, dan kepergian Nadhira dari tempat itu membuat Bayu merasa bersalah karena telah membohonginya.
Bayu berdiam diri ditempat itu sambil menatap kepergian Nadhira dari markas besar Gengcobra tersebut dengan perasaan sedihnya, tak beberapa lama kemudian seseorang bangkit dari duduknya dari balik sebuah lemari buku yang ada ditempat itu.
"Kau sudah melakukan hal yang benar Bay, aku sangat berterima kasih kepadamu karena telah mengatakan itu kepada Nadhira" Ucap seseorang itu yang tidak lain adalah Rifki.
Rifki sengaja duduk dibalik lemari buku agar Nadhira tidak melihatnya, Rifki tidak akan bisa meninggalkan Nadhira begitu saja dalam keadaan mabuk karena ia tidak mau kejadian sebelumnya terjadi lagi, oleh karena itu ia duduk dibalik lemari buku sambil membaca beberapa buku disana.
"Aku telah melukai hati sahabatku, bagaimana bisa kau sebut apa yang aku lakukan itu benar Rif, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri Rif".
"Bay aku tau itu, ini juga demi Nadhira, biarkan dia membenciku, jika dia membenciku maka dia tidak akan pernah melakukan tindakan yang ceroboh hanya untuk diriku nanti, semakin dia membenciku maka semakin aku merasa tenang".
"Kau tidak bisa berbohong denganku Rif, aku tau bahwa kau hanya sedang menghiburku saja saat ini, padahal kau sendiri pun merasa sakit ketika Nadhira mengatakan itu bukan? Dia pasti berpikir bahwa kau telah melecehkan dirinya semalam, padahal yang sebenarnya terjadi adalah justru kau yang menyelamatkan dia agar dia tidak dilecehkan".
"Aku sangat menyayangi Dhira, bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain melecehkan dirinya Bay, harga diri seorang wanita begitu berarti, jika dia sampai kehilangan harga dirinya kemarin malam, aku tidak tau lagi hal nekat apakah yang akan dilakukan olehnya ketika mengetahui bahwa dia tidur bersama dengan Theo ditempat terbuka".
"Lalu kenapa kau memintaku melakukan ini Rif? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu, apa hanya karena keris pusaka itu kau tega menyakiti hati Nadhira seperti ini?".
"Meskipun aku menjelaskannya kepadamu sekalipun itu kau tidak akan pernah mengerti tentang apa yang aku lakukan Bay, kau boleh pergi dari sini, aku ingin sendirian sekarang".
"Iya Bay".
Bayu segera bergegas keluar dari kamar Rifki dan meninggalkan Rifki yang termenung seorang diri dikamarnya itu, ia pun menatap kearah jendelanya dimana terdapat sebuah tangkai bunga mawar merah yang sedang terpajang rapi didalam Vas yang berisi sedikit air itu.
"Bunga ini perlahan lahan akan layu juga pada akhirnya, seberapa pun aku berjuang untuk memberi kehidupan dengan memberinya air jika sudah takdir maka usahaku pun akan sia sia, apakah hubungan kita akan sama seperti bunga ini Dhira?".
Rifki menyentuh kelopak bunga tersebut dengan pelan, bunga itu adalah pemberian dari Nadhira ketika dirinya sedang mabuk kemarin malam, dan Rifki masih menyimpan bunga tersebut.
"Bagaimana bisa aku membunuhmu dengan keris pusaka xingsi ini? Kalaupun harus mati, aku lebih memilih mengorbankan kehidupanku untuk dirimu Dhira" Rifki pun menyentuh dadanya yang dimana keris pusaka xingsi itu berada.
Sepertinya tidak ada jalan lain yang mampu untuk ia pilih kali ini, ia sangat mencintai Nadhira akan tetapi orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan wanita lain, dan ia sangat mencintai Nadhira akan tetapi takdir menyuruhnya untuk menghancurkan permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira.
Takdir benar benar tidak berpihak kepadanya saat ini, entah langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya, ia pun tidak dapat memikirkan soal itu karena dirinya begitu sangat mencintai Nadhira.
Antara menikah dengan Syaqila ataupun membunuh Nadhira dengan keris pusaka xingsi bukanlah sebuah pilihan bagi Rifki, melainkan sebuah kewajiban yang harus ia lakukan untuk keduanya itu, ia adalah keturunan dari Pangeran Kian sehingga dirinya harus melaksanakan tugas yang belum dapat diselesaikan oleh pendahulunya.
"Rifki, ikuti kata hatimu Nak, apapun keputusan yang akan kau ambil nantinya, itulah yang terbaik untuk kita semua, jangan salahkan dirimu atas semua yang terjadi kepada mu saat ini"
Tiba tiba terdengar suara seseorang disekitar kamarnya, ia pun langsung menoleh kebelakangnya dan mendapati sebuah sosok seorang pria paruh baya yang tengah berdiri dihadapannya saat ini.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke kamarku?" Tanya Rifki yang tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat saat ini.
"Aku adalah leluhurmu Nak, bagaimana mungkin aku tidak bisa menembus perisai yang telah kau buat ini? Sementara aku yang telah mengajarkannya, perisai ini tidak berlaku untuk ku".
"Aku sama sekali tidak mengenalmu".
"Aku adalah Abiyoga anak dari Panji dan kau juga adalah keturunanku satu satunya yang masih hidup Nak, memang tugasmu dilahirkan kedunia ini sangat berat karena dirimu harus menyelesaikan tugas yang belum sempat aku selesaikan, jangan jadikan cinta sebagai kelemahanmu tapi jadikanlah cinta sebagai kekuatan dan juga keberanianmu untuk melangkah, jangan menyerah aku sangat yakin kepada dirimu bahwa kau bisa melalui ini".
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Tugas seperti apa yang menjadi tanggung jawabku?"
"Kau harus menghancurkan permata itu Nak, jangan biarkan permata itu menjadi bahan rebutan ataupun jatuh ketangan orang yang salah"
"Apa ada cara lain untuk dapat mengeluarkan permata itu selain membunuhnya dengan keris pusaka xingsi? Aku mohon beri aku petunjuk untuk itu, aku tidak ingin membuat orang yang aku cintai mati ditanganku sendiri".
"Kau akan menemukannya nanti, untuk saat ini ikuti saja isi hatimu Nak, karena disana kau akan tau apa yang harus kau lakukan".
Setelah mengatakan itu perlahan lahan sosok tersebut mulai menghilang dari hadapan Rifki, dan Rifki pun terus mencari cari keberadaan dari sosok tersebut akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya.
"Kakek Abiyoga, dimana dirimu? Tolong beritahu aku, apa yang harus aku lakukan Kakek, kenapa kau tidak memberiku petunjuk sedikitpun itu" Teriak Rifki.
*****
Nadhira duduk seorang diri disebuah bangku taman yang tidak jauh dari danau, ia pun masih memikirkan tentang apa yang tengah terjadi kepadanya semalam itu, ia benar benar sama sekali tidak mengingat apapun tentang kejadian kemarin.
Akan tetapi ucapan Bayu masih terngiang ngiang didalam ingatannya, apalagi dengan bajunya yang sedikit terbuka dan itu pun ditutupi oleh sebuah jas milik Rifki, semakin Nadhira mencoba untuk mengingat semakin sakit pula kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku kemarin? Apakah dia telah melecehkan diriku seperti yang diucapkan oleh Bayu, Oh Tuhan bertapa bodohnya diriku malam itu".
Nadhira pun berkeringat dingin membayangkan hal tersebut, bagaimana bisa dirinya dilecehkan dengan mudah oleh Rifki, bahkan ia sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi malam itu, sangat sulit untuk menerima kenyataan tentang kepahitannya sekarang ini.
Ia pun membenamkan wajahnya pada sebuah meja yang ada didepannya dengan melipat kedua tangannya didepan, bertapa bodohnya dirinya malam itu dan dia tidak menyangka bahwa Bayu telah membawanya kemarkas Gengcobra.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Rifki telah menyelamatkan kehormatannya dari laki laki seperti Theo itu, dan yang membawanya kemarkas adalah Rifki sendiri bukan Bayu, seandainya Nadhira mengetahuinya sendiri mungkin dirinya akan merasa sangat bahagia karana Rifki masih peduli kepadanya.
"Aku membencimu Rifki, sangat membencimu".
Hati Nadhira benar benar kacau kali ini, ia sangat kecewa dengan sosok Rifki yang berubah tiba tiba itu dan bahkan Rifki telah berani melecehkan dirinya, Rifki yang ia kenal dengan sikap yang mementingkan harga diri seorang wanita kini tak lagi seperti yang ia kenal sebelumnya.
"Hai, boleh aku duduk disini?" Tiba tiba terdengar suara seorang gadis disebelah Nadhira.
Nadhira yang mendengar suara tersebut segera mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang sedang berada disebelahnya kali ini, seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang terurai terlihat sedang tersenyum tipis kearahnya.
"Silahkan" Jawab Nadhira acuh tak acuh.
"Kamu Nadhira ya?" Tanya Gadis itu.
"Iya, kenapa kamu bisa tau namaku?" Tanya Nadhira keheranan dengan gadis itu yang mengetahui namanya tersebut.
"Perkenalkan aku Syaqila" Ucap gadis itu sambil menyodorkan tangan kepada Nadhira.
Nadhira langsung menjabat tangan tersebut untuk bersalaman dengan sosok yang baru ia kenali itu, "aku Nadhira, kalo boleh tau kenapa kamu bisa mengetahui namaku?".
"Aku tau dari Tante Putri ibunya Rifki, oh iya aku calon tunangannya Rifki, jadi tidak ada salahnya kan berteman dengan dirimu, lagi pula kata Tante Putri kau adalah sahabatnya".
Nadhira tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu langsung dengan sosok yang telah dijodohkan kepada Rifki, dan gadis itu terlihat begitu cantik dan anggun daripada dirinya, Nadhira hanya mampu tersenyum kecut dihadapan gadis tersebut.
"Oh jadi kamu orang yang dipilih oleh Tante Putri, selamat ya" Ucap Nadhira sambil menghela nafas.
"Terima kasih, teman Rifki adalah temanku juga, jadi bolehkan aku berteman dengan dirimu Dhira?"
"Boleh kok".
"Oh iya, menurutmu Rifki itu seperti apa?".
"Rifki adalah orang yang baik, suka menolong sesama tanpa membeda bedakan kedudukan, penyayang, bijaksana dalam bertindak, kau sangat beruntung dapat memilikinya" Ucap Nadhira dengan menahan air matanya meskipun hatinya kini tengah menangis sesenggukan.
Nadhira berpikir Putri telah memilihkan jodoh untuk Rifki orang yang begitu cantik dan tidak seperti dirinya, jika dibandingkan dengan Syaqila dirinya kalah dari segalanya, pantas saja Putri lebih memilih Syaqila daripada dirinya.
__ADS_1
"Benarkah?".