
Nadhira masih kepikiran dengan suara Rifki yang memanggil manggil namanya itu, ada perasaan yang berat kini menyerang kedalam hati dan pikirannya saat ini, langkahnya semakin lama semakin berat baginya itu, karena suara isak tangis dari Rifki yang ia dengar itu.
"Dhira, jangan pergi tinggalkan aku" Suara itu lagi lagi dapat didengar oleh Nadhira dan membuat langkah kakinya semakin berat untuk melangkah.
"Ada apa Nak? Kenapa berhenti tiba tiba seperti ini? Ayo jalan lagi" Tanya Sarah ketika merasakan bahwa Nadhira menghentikan langkahnya.
"Aku mendengar suara Rifki, dia terus memanggilku Oma, sepertinya aku tidak bisa meninggalkan dirinya"
"Kembalilah bersamanya sekarang Nak, dia sangat membutuhkan dirimu saat ini, kau masih memikirkan tentang dia, itulah yang memberatkan langkahmu"
"Ngak mau Oma, aku ngak mau kembali, dia begitu jahat kepada Dhira"
"Maka jangan pedulikan suara itu lagi, lupakan semuanya mengenai dunia, jangan pernah kembali"
"Tapi Oma..."
"Jika kau merasa berat, maka kembalilah Nak, Rifki sangat membutuhkan dirimu, merindukan pelukan hangat darimu, kau satu satunya penyemangatnya dan tugas kalian belum selesai didunia ini"
"Aku merasa bimbang Oma, aku tidak mau bertemu Rifki lagi, tapi langkahku begitu berat"
"Pikirkanlah baik baik sebelum kita benar benar pergi dari dunia ini"
Beberapa saat kemudian sosok Sarah pun menghilang dari pandangan Nadhira, Nadhira menoleh kesana kemari untuk mencari sosok tersebut akan tetapi tidak ia temukan juga, mendadak dirinya merasa bahwa ada yang memeluk kakinya dengan erat.
Seorang anak laki laki yang berusia 6 tahun tengah bergelantungan dikakinya, anak lelaki tersebut menarik narik tangan Nadhira, Nadhira lalu berlutut di depan anak kecil itu untuk mensejajarkan tingginya dengan bocah kecil itu.
Nadhira memandangi bocah itu dengan keheranan karena wajah anak itu mirip sekali dengan Rifki kecil, ia lalu mengusap kepala anak tersebut dengan linangan air mata, sementara anak itu tersenyum dengan manisnya kearah Nadhira.
"Mama" Panggil anak itu kepada Nadhira.
"Mama? Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Mama?" Tanya Nadhira dengan terkejutnya.
"Kamu adalah Mamaku, selamanya akan menjadi Mamaku" Ucap anak tersebut dengan mengecup kening Nadhira.
Kecupan dari anak itu pun membuat Nadhira tersenyum, entah mengapa dirinya merasa sangat bahagia bertemu dengan sosok anak kecil itu, ia tidak tau siapa anak itu dan mengapa anak itu memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Apa yang kau lakukan Nak?" Tanya Nadhira sambil memegangi keningnya yang telah dicium begitu saja oleh bocah yang ada dihadapannya.
"Memberi simbol cinta kepada Mama, aku sangat menyayangi Mama, aku merasa beruntung memiliki seorang Ibu seperti Mama, Mama dan Papa adalah orang yang paling baik untukku"
"Kenapa kau terus memanggilku dengan sebutan Mama? Aku tidak pernah melahirkanmu Nak, siapa dirimu sebenarnya?"
"Mama memang tidak pernah melahirkanku, tapi kita begitu dekat Ma"
"Namamu siapa Nak?"
"Aku belum punya nama, kalian berdua belum memberiku nama, aku adalah anak yang ada didalam kandungan Mama selama ini, aku sudah bahagia di syurga-Nya Ma, meskipun aku belum pernah melihat indahnya dunia tapi aku tau itu semua dari nafas Mama yang aku rasakan selama ini"
Nadhira langsung memeluk anak tersebut dengan eratnya, ia menumpahkan tangisannya ketika memeluk bocah berusia 6 tahun itu, wajahnya yang mirip dengan Rifki kecil itu membuat Nadhira semakin yakin bahwa ini adalah anaknya.
Usia anak itu masih baru menginjak 6 tahun, sama seperti usia kandungan Nadhira yang baru menginjak usia 6 bulan, Nadhira merasa sangat bahagia ketika memeluk bocah kecil yang ada dihadapan itu, seakan akan bocah itu penuh dengan kehangatan.
"Mama jangan sedih lagi ya, aku tidak mau melihat Mama sedih, aku akan membangunkan sebuah rumah yang mewah di syurga untuk kalian nanti, dan aku akan selalu menunggu kedatangan Mama sama Papa disana, aku akan menjadi perisai untuk kalian dari panasnya api neraka"
"Maafin Mama Nak, Mama tidak bisa melindungimu, Mama telah gagal menjadi orang tua yang baik untuk dirimu, maafkan Mama" Air mata Nadhira berjatuhan mengenai tubuh bocah kecil itu.
"Mama ngak salah, ini sudah menjadi takdir ku, aku datang kemari untuk bertemu dengan Mama, tolong maafkan Papa, Papa sangat menderita sekarang"
"Untuk apa peduli dengan dia, dia bahkan tidak mempedulikan kita berdua Nak, dia tega memisahkan kita berdua, dia menginginkan dirimu mati Nak"
"Papa tidak menginginkan itu terjadi Ma, dia bilang kalau bisa dia akan memberikan hidupnya untukku, tapi aku tidak menginginkan itu Ma, Papa orang yang baik untukku"
"Sama saja, Papamu salah Nak, dia pantas untuk mendapatkan hukuman ini"
"Papa tidak salah Ma, ini adalah takdirku, Allah telah memperlihatkan jalan hidupku akan seperti apa ketika lahir didunia nanti, aku tidak sanggup untuk melihatnya Ma, aku berdoa kepada Allah karena tidak akan mampu untuk menjalani hidupku itu, dan Allah mengabulkannya lewat Papa, kalian berdua adalah orang tua yang baik untukku, tapi di kehidupan itu aku berani melawan kalian berdua dan aku tidak ingin itu terjadi Ma"
"Mama merasa bersalah dengan dirimu Nak, Mama tidak mau hidup lagi tanpamu, kita akan sama sama menuju akhirat saat ini"
__ADS_1
"Tidak Ma, Mama tidak boleh berakhir saat ini, Mama memiliki tugas yang berat, Mama tenang saja, cepat atau lambat diperut Mama akan ada seorang anak yang akan menghapus setiap air mata Mama"
"Maafin Mama, Mama telah berdosa kepadamu Nak, karena Mama dirimu tidak bisa melihat indahnya dunia Nak, biarkan Mama menebus dosa Mana kepadamu Nak"
Anak kecil tersebut tersenyum dengan cerahnya kearah Nadhira, melihat senyuman itu sontak membuat Nadhira semakin menangis sejadi jadinya saat itu juga, akan tetapi anak kecil itu terus menghapus air matanya itu.
"Mama sayangkan kepadaku?" Tanya anak itu dengan tatapan yang sangat lembut.
"Mama sangat menyayangimu Nak, sangat sangat menyayangimu"
"Boleh aku minta sesuatu kepada Mama? Tapi Mama harus mengabulkannya untukku"
"Katakan Nak, jika Mama bisa, Mama pasti akan lakukan apapun untuk dirimu"
"Kembalilah Ma, tugas Mama belum selesai didunia ini, aku tidak mau Mama pergi dengan penyesalan, kasihan Papa yang tengah menangis saat ini"
"Mama tidak bisa melakukan itu Nak, Mama tidak mau kembali kedunia lagi, Papamu begitu jahat kepada kita, Mama benci dia"
"Mama tidak mungkin membenci Papa seperti itu, Mama hanya kesal atas kematianku, kasihan Papa yang sedang menangis Ma"
"Mama hanya mau bersamamu Nak, Mama tidak mau berpisah dengan dirimu"
"Dengan kembali kedunia bersama Papa, itu sudah membuatku bahagia Ma, Apa Mama tidak mau aku bahagia? Dengarkan suara Papa yang menangis, dia tidak pernah menangis selama ini Ma, tapi kali ini dirinya menangis disamping Mama, aku sedih jika melihat Papa seperti itu"
"Mama ngak mau Nak, Mama sudah sangat membenci dirinya itu, Mama tidak mau bertemu lagi dengan Papamu"
"Jangan Ma, kalo Mama membenci Papa nanti aku jadi sedih di surga-Nya, apa Mama ingin aku bersedih disana? Ini semua bukan salah Papa, Papa mengambil keputusan itu karena dia sangat menyayangi Mama"
"Biarkan Mama memelukmu Nak, Mama ingin sekali memelukmu, untuk menenangkan hati Mama yang sedang gelisah ini"
"Aku milik Mama, selamanya akan menjadi milik Mama, Mama boleh memelukku sepuas hati Mama"
Nadhira pun mengeratkan pelukannya kepada anak kecil tersebut, ia mampu merasakan adanya sebuah ikatan diantara keduanya dengan sangat erat, Nadhira merasa sangat bahagia ketika merasakan pelukannya itu.
"Anakku, maafin Mama ya, Mama tidak bisa melindungi dirimu dengan benar, maafkan Mama yang tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan dirimu"
"Papamu sudah memilihkan nama yang cocok untuk dirimu sebelumnya Nak, Mama akan menggunakan nama itu untuk menamaimu"
"Siapa Ma? Apa nama yang Papa berikan kepadaku? Ternyata Papa sudah memberikanku nama"
"Arifin, dan akan dipanggil dengan nama Arif, Arif anak Mama dan Papa"
"Nama yang indah, terima kasih Ma, kembalilah Ma, sampaikan rasa terima kasihku juga kepada Papa, sudah saatnya Arif pergi Ma, Arif sayang Mama dan Papa, Arif akan bangunkan istana yang megah untuk kalian di syurga-Nya nanti, Arif pamit ya Ma, Arif tidak memiliki banyak waktu untuk disini"
"Maafin Mama, kita akan pergi bersama sama Nak, Mama tidak bisa hidup tanpamu, Mama tidak mau berpisah dengan dirimu"
"Tapi Papa sangat membutuhkan Mama, apa Mama begitu tega dengan dirinya? Kasihan Papa Ma"
"Mama tidak mau bertemu dengan Papamu, Mama akan pergi bersamamu"
"Mama tidak boleh seperti itu"
( Author : Sebelum kita lahir kedunia, kita diperlihatkan gambaran gambaran tentang apa yang akan kita lalui nantinya, mulai dari lahir sampai kita mati, selama kita berada didalam kandungan malaikat datang menemui kita untuk bertanya apakah kita sanggup untuk lahir, bukan hanya sekali atau dua kali malaikat bertanya, tapi sebanyak 77 kali setiap harinya,
Bayangkan saja, setiap harinya ditanya seperti itu banyak kali, tapi kalian tetap memaksa diri untuk tetap dilahirkan, itu artinya kalian mampu untuk menghadapi kehidupan kalian, kalian hebat karena berani untuk dilahirkan,
Banyak janin yang keguguran karena mereka tidak sanggup untuk melihat jalan hidup mereka, apapun yang dihadapi, tetap semangat kalian itu luar biasa hebat, jangan menyerah, ayo bangkit lagi, sabarnya ditambahin karena dunia sering bercanda,
Asalkan jangan marah ke Authornya, Author pun manusia biasa, tanamkan dihati kalian jika kalian bersedih "Ada sesuatu yang luar biasa dikehidupan kalian, sehingga kalian nekat untuk lahir
Allah memberikanmu masalah yang besar agar membuatmu menjadi kuat, Allah tidak mengabulkan permintaanmu dengan cepat agar kamu belajar arti sebuah kesabaran
Tidak ada ciptaan Allah yang sia sia, ambil hikmahnya, jangan mengeluh, kamu itu hebat berani untuk lahir padahal sudah mengetahui jalan hidupmu akan seperti apa didunia ini sejak dalam kandungan"
Keep smile, meskipun alurnya bikin air mata mengalir deras, kayak cintaku pada kalian <3 )
Nadhira memeluk anak kecil yang ada didepannya itu sangat erat, ia sangat takut jika dirinya melepaskan pelukannya itu, anak yang ada didepannya akan menghilang untuk selama lamanya dari hadapannya, ia tidak ingin hal itu terjadi.
__ADS_1
"Mama sangat menyayangimu Nak, Mama tidak mau berpisah dengan dirimu"
"Cepat atau lambat, kita akan bertemu kembali disyurga-Nya, Arif sangat menyayangi Mama dan Papa"
****
Rifki mendatangi wajah Nadhira lekat lekat, wajah yang selalu ia rindukan kini terbaring lemah diatas bangkar rumah sakit, wajah yang selalu ceria itu pun terbaring tidak berdaya, Rifki sangat merindukan saat saat bersama dengan Nadhira selama ini.
"Sampai kapan kau akan tertidur seperti ini sayang? Kamu benar benar marah ya kepadaku? Maafin aku ya sayang, maaf, aku salah denganmu, tolong maafkan aku, maafkan aku Dhira, maafkan"
Rifki melihat kearah sebuah monitor yang terletak tidak jauh dari Nadhira, ia melihat garis yang ada disana pun seperti berdenyut begitu lama, ia pun menempelkan telinganya didada Nadhira dan merasakan denyutan jantungnya.
Detak jantung Nadhira semakin melambat dan hal itu membuat Rifki langsung panik melihat kondisi istri tercintanya itu, ia lantas menekan tombol darurat yang berada didekatnya itu berulang ulang kali, hingga beberapa petugas rumah sakit pun datang untuk memeriksanya.
"Dok, denyutannya makin lemah, tolong lakukan sesuatu untuknya Dok" Ucap Rifki dengan paniknya.
"Bentar saya periksa dulu"
Dokter tersebut pun mendekat kearah Nadhira dan melihat keadah monitor yang terletak didekat ranjang rumah sakit tersebut, ia pun mengarah sebua benda pipih ke dada Nadhira untuk memeriksa denyutan jantung Nadhira.
"Sus lakukan tindakan lanjutan! Denyutannya semakin melemah, kita harus segera menyelamatkannya" Perintah Dokter tersebut ketika merasakan detak jantung Nadhira yang semakin melemah.
"Pak, silahkan keluar dulu" Ucap suster tersebut mengusir Rifki pergi dari ruangan tersebut.
"Tolong selamatkan Nadhira, saya mohon" Ucap Rifki dengan tubuh yang gemetaran.
Dengan berat hati Rifki pergi dari ruangan tersebut untuk membiarkan Dokter dan para suster bekerja demi menyelamatkan nyawa Nadhira, Dokter tersebut lalu menyalakan alat AED (automated external defibrillator) yang digunakan untuk memberikan kejutan ke jantung Nadhira agar kembali berdetak normal.
Dug... Dug... Dug...
Dokter tersebut beberapa kali menempelkan alat tersebut kepada dada Nadhira akan tetapi Nadhira sama sekali tidak memberikan respon yang baik, jingkatan pelan pun dialami oleh tubuh Nadhira akan tetapi detak jantung Nadhira tak kunjung normal kembali.
"Mbak, bertahan Mbak, Mbak harus melawan masa kritis Mbak" Teriak Dokter tersebut.
"Dok, pasien sama sekali tidak mau merespon"
"Dia seperti tidak memiliki harapan untuk hidup lagi, kita harus berusaha untuk menyelamatkannya, Mbak! Mbak harus lawan kondisi kritis ini Mbak, Mbak harus bisa! Jangan menyerah seperti ini"
Nadhira sama sekali tidak mau memberikan responnya, seakan akan hidupnya itu sudah tidak berarti lagi sehingga Nadhira tidak mau berusaha untuk keluar dari masa kritisnya tersebut.
Beberapa kali Dokter tersebut menempelkan alat untuk memacu jantung tersebut akan tetapi hasilnya masih tetap sama dan bahkan denyutan jantungnya itu pun semakin bertambah lemah, Nadhira sama sekali tidak mau mendengarkan panggilan dari Rifki.
Denyutannya semakin melemah sehingga membuat semua yang ada ditempat itu langsung panik dan berjuang untuk mengembalikan denyutan jantungnya kembali normal seperti sebelumnya.
*****
"Ada apa dengan Dhira?" Tanya Putri ketika melihat Dokter dan beberapa suster berlarian untuk masuk kedalam ruangan ICU tersebut.
Tak beberapa lama kemudian Rifki keluar dari ruangan itu dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, lelaki itu seakan akan tidak memiliki harapan untuk terus bertahan hidup.
Melihat Rifki membuat Putri segera bergegas untuk menemui anaknya itu, ketika Putri bertanya kepada Rifki justru hal itu membuat Rifki menjatuhkan tubuhnya dikaki Putri tiba tiba.
"Apa yang terjadi dengan Dhira, katakan Nak" Ucap Putri cemas karena sikap anaknya.
"Dia menghukumku seperti ini Ma, dia menghukumku dengan begitu kejam, dia sangat marah kepadaku Ma, dia bahkan tidak mau membuka kedua matanya, dia ingin meninggalkan Rifki, tolong jangan ambil dia dariku Ma, selamatkan dia, Rifki mohon" Rifki berlutut didepan Putri.
Melihat itu membuat Putri pun berjongkok didepan Rifki dan memeluk tubuh anaknya itu dengan erat, suara isak tangis Rifki bagaikan sebuah cambukan untuk Putri, Aryabima dan Haris yang berada tidak jauh darinya pun beberapa kali menghapus air matanya karena tidak ingin terlihat lemah dihadapan Rifki dan Putri.
"Mama tau apa yang kamu rasakan Nak, akan sulit bagi Nadhira untuk menerima hal itu, kita hanya bisa berdoa semoga Nadhira baik baik saja" Putri yang tidak kuat mendengar isakan tangis anak lelakinya itu pun ikut terisak lirih.
"Kenapa dia menghukum Rifki seperti ini Ma? Kenapa dia begitu tega kepada Rifki, Rifki salah Ma, tapi kenapa dia menghukum Rifki begitu berat? Rifki tidak ingin hidup lagi Ma, Rifki ingin selalu bersama dengan dirinya"
"Dhira pasti baik baik saja, Mama sangat yakin bahwa dia itu wanita yang kuat"
"Jika kemarian Rifki yang dia inginkan, kenapa tidak tidak mau bangkit dan bunuh Rifki saja Ma, kenapa harus dia yang terluka seperti ini, Rifki ingin sekali menggantikan posisi Nadhira saat ini"
"Jangan katakan itu Nak, Dhira paling tidak suka kamu ngomong seperti itu, percayalah kepada Mama bahwa dia akan baik baik saja"
__ADS_1