
Ketika kebahagiaan pergi untuk selama lamanya dari dunia ini, rasanya dunia ini sama sekali tidak ia inginkan. Tidak ada yang mampu membuatnya untuk bertahan hidup, tidak ada yang mampu untuk membuatnya semangat dalam menjalani kehidupan itu, dan tidak ada keinginan lagi untuk bisa terus hidup lebih lama.
"Kamu dimana sayang, kenapa pergi secepat ini ninggalin aku? Apa kamu sudah tidak mau lagi untuk hidup bersamaku didunia ini?"
Rasa sesak yang mampu ia rasakan, tidak ada lagi kebahagiaan, tidak ada lagi keceriaan, tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi canda tawa, dan tidak ada lagi sosok yang mampu membuatnya bertahan hidup. Kini semuanya telah lenyap dan serta ikut lenyap bersama dengan sosok Nadhira yang jatuh kejurang kematian itu.
Tidak ada lagi yang tersisa didalam perasaanya, hanya kerapuhan yang tanpa tau kapan akan bangkit kembali, mungkinkah dirinya mampu untuk bangkit menjadi sosok Rifki yang sebelumnya ataukah dirinya ikut menyusul kepergian dari Nadhira? Semuanya hanyalah permainan takdir yang mempermainkan perasaannya saat ini.
Rifki benar benar rapuh kali ini, tidak ada seorangpun yang mampu membuatnya tersenyum kembali seperti sebelumnya. Ia tidak mengira bahwa dirinya akan kehilangan Nadhira untuk selamanya, ia tidak menyangka bahwa secepat ini istri tercintanya pergi meninggalkan dirinya seorang diri didunia ini.
Ia ingin marah, tapi marah kepada siapa? Ia ingin mengutarakan seluruh rasa dihatinya, akan tetapi sama siapa? Hidupnya benar benar terpuruk saat ini. Bagun dari koma adalah sebuah nasib buruk baginya, disaat dirinya harus kehilangan orang orang yang paling ia cintai.
Aryabima yang selalu ada untuknya, mendukung disetiap langkahnya, menemani disaat duka dan dukanya, yang selalu membimbingnya dengan penuh cinta dan kasih sayang, serta selalu menbelanya dan mengajarkan kebenaran kepadanya pun kini telah tiada untuk selamanya.
Tanah tempat dimana Aryabima dimakamkan tersebut pun mulai sedikit kering karena lamanya Rifki sadarkan diri. Rifki belum sempat untuk datang ketempat itu sebelumnya, karena sejak pulang dari rumah sakit dirinya ingin segera kembali kerumah dan menjauh dari keramaian.
Nadhira yang selalu membuatnya tertawa, selalu melindunginya disaat dirinya dalam bahaya dan menjadi perisai pertama untuk menjaganya, yang selalu menemaninya dan menyayanginya dengan sepenuh hati, mendukungnya dalam mengambil sebuah pilihan, dan bahkan menjadi alasan satu satunya untuk tetap hidup pun kini tak lagi ada didunia ini.
"Kenapa ini harus terjadi kepada orang orang yang aku cintai? Kenapa bukan aku saja yang mati untuk menggantikan posisi mereka, Dhira bawa aku bersamamu. Impianmu benar benar terwujud sayang, kau menginginkan mati sebelum diriku, agar kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Kau tau bahwa perpisahan ini sangat menyakitkan, sehingga kau memilih pergi sebelum diriku,"
Rifki pun memijat keningnya yang terasa sangat sakit itu, mendadak kepalanya seakan akan ingin pecah saat itu juga. Kepergian Nadhira dalam hidupnya benar benar membuatnya tersiksa, ia bahkan tidak ingin untuk berlama lama lagi didunia yang kejam ini.
Bayangan bayangan mengenai Nadhira masih terpampang jelas didalan ingatannya itu, ia mendekat kearah nakas yang ada disebelah tempat tidurnya untuk memandangi wajah istri tercintanya itu. Didalam foto tersebut terlihat wajah Nadhira yang sangat bahagia bersama dengan Rifki.
"Dhira kamu dimana? Kenapa pergi ninggalin aku secepat ini?"
Rifki mengusap pelan bingkai foto tersebut, ia merasa kehilangan yang teramat mendalam. Tanpa sengaja dirinya melihat sesuatu yang keluar dari dalam laci itu, ia ingin membenarkannya dan memasukkannya dengan rapi.
Ketika dirinya membuka laci tersebut, terlibat sebuah kotak hadiah yang telah disiapkan oleh Nadhira sebelumnya untuk memberi kejutan anniversary pernikahan mereka yang ke 1 tahunnya. Rifki pun mengeluarkan kotak tersebut dan menaruhnya diatas pahanya.
"Apa ini? Sejak kapan ini ada disini?" Tanya Rifki entah kenapa siapa.
Rifki pun membukanya karena penasarannya, ia melihat sebuah baju yang telah ditata dengan rapi disana dan terukir nama 'Kinara' dibaju tersebut, hal itu semakin membuatnya meneteskan air matanya. Ada rasa sesak didalam hatinya ketika melihat baju tersebut, ia pun mengeluarkannya dari dalam kotak yang ia pegang itu.
Ada sepucuk surat yang terdapat diantara lipatan baju itu, Rifki pun mengambilnya. Rifki lalu membuka secarik kertas yang sengaja ditulis oleh Nadhira sebelumnya, dan dirinya pun membacanya dengan perlahan lahan.
(
Teruntuk Rifki tercinta
Heppy anniversary yang ke 1 tahun ya sayang
Rifki sayang, terima kasih karena telah hadir dalam hidupku selama ini. Menjadi imam yang baik dan selalu membimbingku tanpa kenal lelah, kau selalu membuatku bahagia dan hanya dirimu yang mampu mengerti tentang diriku.
Suka dan duka telah kita lalui bersama, cintaku kepadamu begitu besar bahkan tidak mampu untuk dituliskan dengan kata kata. Terima kasih, kau adalah suami yang terbaik bagiku, memelukku dengan hangat disaat aku bersedih, dan menciumku dengan mesra saat aku bahagia.
Rifki, aku sangat mencintaimu dan akan selamanya seperti itu, dihari pernikahan kita terjadi waktu itu, kau telah menerimaku apa adanya. Mengajarkan banyak hal kepadaku, kau adalah imam terbaik bagiku yang mampu mendekatku kepada Tuhanku.
Semoga kedepannya, rasa sayang dan cinta kita tidak akan pernah hilang. Walaupun nantinya raga kita telah berpisah, tapi yakinlah bahwa aku akan selalu menyayangimu dan hanya ada dirimu didalam hatiku, dan semoga kau pun juga begitu ya.
Oh iya, aku sudah menyiapkan kejutan ini untukmu jauh hari sebelumnya. Aku tau kamu terlalu lelah bekerja untuk menghidupku, mungkin kejutan kecil dariku ini akan mengobati rasa lelahmu sayang. Semoga kau suka ya sayang, hadiahnya ada dikotak kecil yang berada didalam kotak ini, dan terima kasih sudah membacanya, aku harap bahwa aku akan mendapatkan ciuman darimu saat ini.
Dari istrimu tercinta, Nadhira
__ADS_1
)
Dan harapan terakhir Nadhira tersebut tidak akan pernah terwujud saat ini, Rifki terlambat untuk membuka kejutan tersebut sehingga Nadhira sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia pun menggenggam erat baju yang bertuliskan 'Kinara' itu, ada perasaan yang hilang didalam hatinya.
"Dhira, maafkan aku yang belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. Maafkan aku karena tidak mampu untuk menyelamatkan dirimu waktu itu, aku ngak menyangka bahwa dihari pernikahan kita waktu itu, kau justru pergi meninggalkan diriku untuk selamanya. Kembalilah sayang, beri aku petunjuk dimana keberadaanmu, kembalilah untuk diriku sayang,"
Air mata terus bercucuran dan membasahi baju yang ada ditangannya tersebut, tangannya bergetar untuk mengambil kotak kecil yang telah disebutkan didalam surat tersebut oleh Nadhira. Ia pun membukanya perlahan lahan dan terdapat sebuah tespek yang terdapat dua garis disana, ia pun mengambil benda kecil panjang tersebut dan memeganginya dengan kedua tangannya.
"Dhira hamil?"
Pertanyaannya itu seakan akan membuat hatinya seperti tersayat sayat sembilu, kejutan yang seharusnya akan membuatnya bahagia tersebut pun langsung membuatnya semakin merasa sedih karena ketidak adanya Nadhira disampingnya saat ini.
Ia terlambat untuk menyelamatkan nyawa Nadhira, sehingga Nadhira harus jatuh dari tebing tersebut beserta anak yang ada didalam perutnya saat itu. Rifki benar benar kehilangan mimpinya untuk bisa membesarkan anak tersebut bersama dengan Nadhira.
*Flash back on*
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu sendirian? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Tanya Rifki yang melihat Nadhira tersenyum ketika selesai membersihkan tubuhnya sepulang kerja.
"Ngak ada, kamu bakalan tau sendiri nantinya sayang, jika waktunya sudah tiba. Kamu pasti akan menjadi orang yang sangat bahagia," Ucap Nadhira sambil bangkit dari duduknya untuk mendekat kearah Rifki yang hanya berbalutkan handuk.
"Hemm... Ada apa ini? Bagiku, adanya dirimu disampingku suduh membuatku menjadi orang yang paling bahagia didunia ini,"
"Kamu bisa aja, Rif. Oh iya, sebentar lagi anniversary pernikah kita kan? Kamu sudah menyiapkan kejutan untukku? Ku harap kamu ngak lupa ya," Ucap Nadhira dengan cemberutnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa lupa sayang? Aku sudah menyiapkan kejutan yang sepesial untukmu, kamu bakalan tau apa yang aku beri nanti ketika hari itu tiba."
"Beneran? Kejutan apa itu?"
"Rahasia dong, kalo aku mengatakannya jadi ngak rahasia lagi. Emang kamu sudah menyiapkan kejutan untukku sayang? Awas aja kalo lupa, ngak akan aku beri ampunan dan akan menghukummu hingga tidak bisa jalan lagi,"
"Mau dihukum sekarang lagi? Aku sudah siap,"
"Ngak! Aku lapar, pengen makan masakan buatanmu sayang. Cepat buatkan!" Perintah Nadhira.
"Aku ganti baju dulu, masak keluar kamar hanya dengan handuk saja sih? Kan ngak lucu sayang. Yang ada nantinya akan membuat Bi Sari tergila gila loh, secara kan suamimu ini bertubuh kekar," Ucap Rifki dengan sombongnya.
"Berani nggoda Bi Sari, nanti tidur diluar!" Ucap Nadhira dengan tegasnya dan mencerucutkan bibirnya kedepan.
Melihat itu membuat Rifki tidak segan segan untuk menempelkan bibirnya kepada bibir Nadhira, Nadhira merasakan itu langsung membuatnya berdiam diru seketika, Rifki memang tidak suka jiks harus berdebat dengan Nadhira.
"Rifki!" Teriak Nadhira dengan kesalnya karena apanya dilakukan itu kepadanya.
"Maaf sayang, habisnya manis sekali, aku jadi kecanduan." Jawab Rifki tanpa rasa bersalah.
*Flash back off*
Hatinya terasa begigu sakit ketika menyadari bahwa Nadhira tengah hamil waktu itu, dan dirinya ingin membuat kejutan yang membahagiakan untuk Rifki. Akan tetapi, kejutannya itu kini berubah menjadi sebuah hal yang penuh dengan penyesalan baginya, menyesali akan kepergian dari Nadhira.
"Inikah kejutan yang kamu maksud sayang? Kau ingin memberitahuku bahwa kau tengah hamil disaat hari ulang tahun pernikahan kita?"
Rifki pun melihat sepucuk surat didalam kotak kecil tersebut, melihat itu langsung membuatnya menggerakkan tangannya untuk mengambil sepucuk surat tersebut. Rifki lalu membukanya dan membacanya dengan perlahan lahan, rasa sesak pun menyelimuti dadanya hingga membuat dirinya sedikit kesulitan untuk bernafas.
Surat itu nampaknya lebih panjang daripada surat sebelumnya, dengan perlahan lahan dia membaca surat tersebut karena rasa sesak didadanya yang tidak mampu untuk melajutkan membaca sepucuk surat yang ditulis oleh Nadhira sebelumnya.
__ADS_1
(
Selamat sayang, kau akan menjadi seorang Ayah.
Ini adalah kejutan dariku, semoga kau akan senang ketika membacanya dan tau bahwa aku tengah mengandung anakmu saat ini. Aku janji akan menjaga anak ini dengan baik sehingga kita berdua tidak kehilangannya seperti anak pertama kita.
Aku pernah bermimpi bahwa aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang cantik sekali, didalam mimpiku itu kita sedang bermain dengan gembiranya bersama gadis kecil kita. Kau terlihat sangat bahagia dan kau pun ikut berlarian bersama gadis itu.
Diantara bunga bunga yang indah, aku duduk sambil menikmati salad buah yang telah kau berikan, sementara dirimu bermain lari larian dengan anak kita ditaman itu. Kita akan menjadi orang tua, karena kehadiran anak kita yang ada didalam perutku ini.
Rifki, mimpimu untuk menjadi seorang Ayah kini terwujud, dan sebentar lagi sosok malaikat kecil akan melengkapi keluarga kita.
Semoga kamu terus menyayangiku ya, dan menjadikanku satu satunya yang ada didalam hatimu. Aku sangat menyayangimu Rif, aku tidak mau kasih sayangmu kau bagi dengan wanita yang lainnya, apapun yang terjadi nantinya, percayalah bahwa aku akan selalu mencintaimu.
Rifki aku takut, takut kejadian itu terulang lagi. Apapun yang terjadi kita harus bersama ya, dan melindungi anak anak kita, waktu itu aku pergi ke dokter dan dokter mengatakan bahwa aku tengah hamil anak kamu.
Rasanya aku sangat bahagia Rif, aku ingin membagikan kebahagiaan itu kepadamu tapi aku ingin kebahagiaan ini menjadi sepesial. Sebentar lagi kan ulang tahun pernikahan kita, dan aku ingin memberi kejutan kepadamu tentang kabar kehamilanku yang baru menginjak beberapa minggu.
Dihari sepesial itu, kau memberiku kejutan apaan? Kau janji kan katanya mau memberikanku kejutan yang terindah. Jangan lupa untuk memberikan kejutan untukku sayang, aku sangat mencintaimu.
Kau lelaki terhebatku, lelaki yang selalu menjadi penyemangatku untuk bertahan hidup. Aku tidak tau bagaimana jika hidup tanpa dirimu sayang, mungkin telah lama aku telah mati tanpa menikah denganmu. Karenamu aku mampu merasakan kebahagian sebuah keluarga.
Kasih sayang dan cintamu begitu besar untukku, seorang anak yang tidak pernah merasa dicintai oleh lelaki yang tulus, seperti Papaku. Nyatanya kau telah memberikanku cinta yang luar biasa besarnya, tak pernah mengeluh akan salahku, selalu berusaha untuk membuatku bahagia dengan sejuta caramu.
Maafkan aku ya, belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, aku akan berusaha untuk itu. Rifki, mungkin saat ini kau tengah tersenyum kearahku kan sambil membaca surat ini? Aku juga akan tersenyum kepadamu sebagai ucapan bahagiaku untuk hidup bersamamu didunia ini.
Aku akan selalu ada disampingmu dan menemani hari harimu, jika suatu saat nanti ragaku telah pergi maka ingatlah bahwa jiwaku akan selalu bersamamu disaat suka dan duka. Surga seorang istri ada telapak kaki suaminya, dan aku akan berusaha yang terbaik untuk dirimu seorang.
Dari istrimu tersayang, Nadhira
)
Rifki pun menangis sesenggukan setelah membacanya, tangisan seorang lelaki adalah tangisan sebuah penyesalan yang mendalam. Lelaki bukannya tidak bisa menangis, akan tetapi dirinya pun sama seperti seorang wanita yang mampu untuk menangis jika hatinya yang diserang.
"Jika kau ada disini mungkin ini menjadi kejutan terindah bagiku, Dhira. Tapi ketidak adanya kau disini, ini menjadi luka terbesar bagiku, aku terlambat untuk mengetahui bahwa aku akan menjadi seorang Ayah dari anak yang kau kandung."
Rifki masih tidak menyangka bahwa dirinya telah kehilangan raga Nadhira, kini Nadhira sudah tidak ada lagi disisinya. Tidak ada kebahagiaan yang kini Rifki rasakan, dan hanya ada penyesalannya yang tidak mampu untuk menyelamatkan Nadhira waktu itu, sehingga Nadhira terjatuh dalam jurang kematian.
Kejutan yang telah disiapkan sangat indah itu pun berubah menjadi sebuah air mata yang tiada habisnya, kabar mengenai kehamilan Nadhira membuatnya semakin terluka. Bukan karena dirinya tidak suka Nadhira hamil, akan tetapi karena dirinya yang tidak mampu untuk menyelamatkannya dari kejadian yang dialaminya waktu itu.
Nadhira merahasiakan semuanya darinya, Nadhira ingin memberitahukan kabar ini ketika dirinya sedang merayakan hari ulang tahun pernikahannya. Karena memang waktu itu adalah waktu yang dekat dengan hari dimana mereka menikah, pernikahan yang penuh kesedihan, bagaimana tidak? Dihari itu juga Sarah telah pergi meninggalkan semuanya untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali.
"Mama Putri, aku dengar Rifki sudah pulang ya dari rumah sakit? Dimana dia?" Tanya Nandhita yang baru tiba dirumah tersebut.
Nandhita sudah mendarat di negeri itu 1 bulan yang lalu, dan dirinya memutuskan untuk tinggal bersama dirumah Kakek dan Neneknya seperti sebelumnya. Kakek dan Neneknya yang memang sudah tidak ada sejak dulu itu pun membuat rumah tersebut kosong akan tetapi masih terawat dengan baik karena dirinya yang membayar seorang pembantu untuk membersihkan rumah tersebut.
"Dia mengurung diri dikamar, sejak tadi tidak mau membukakan pintu, dan bahkan dia belum makan sama sekali. Aku tidak tau harus bersikap seperti apa saat ini," Jawab Putri dengan sedihnya.
"Dia pasti tertekan, bangun dari koma akan tetapi tidak menemukan keberadaan dari istrinya. Sudah 5 bulan yang lalu Nadhira meninggalkan kita, tapi baru beberapa hari ini Rifki merasakan kehilangan, aku akan menemuinya." Putus Nandhita.
Sebenarnya Nandhita sangat merasa kehilangan sosok Nadhira, akan tetapi waktulah yang telah membuatnya mengikhlaskan kepergian Nadhira untuk selamanya itu. Ia tau bagaimana perasaan seorang Rifki saat ini, apalagi setelah bangun dari koma yang lama dirinya mengetahui bahwa istri tercintanya telah pergi meninggalkannya.
"Kamu benar, Nak. Oleh karena itu dirinya mengurung diri didalam kamar,"
__ADS_1
"Boleh kami menemuinya, Mama Putri? Siapa tau dia mau membukakan pintu untuk kami berdua," Ucap Stevan yang ikut angkat bicara.