Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Menculik dan menyandera Nadhira


__ADS_3

Setelah cukup lama menunggu akhirnya seorang lelaki datang juga menemui Syaqila ditempat yang dia maksud saat ini, Syaqila terlihat begitu serius dan dengan perasaan yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan terhadap apa yang terjadi kali ini.


"Kenapa? Bantuan apa yang kau inginkan dariku?" Tanya lelaki itu kepada Syaqila.


"Aku ingin kau membunuh seorang wanita yang telah ikut campur dalam urusanku sekarang juga".


"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Bukannya kau hebat dalam mantra hitam? Kenapa tidak membunuh wanita itu sendiri dengan ilmu santet?"


"Aku merasa ada yang aneh dari wanita itu, cepat bunuh dia untukku sebelum dia berulah dan menghancurkan setiap rencanaku" Ucap Syaqila sambil menyodorkan hp kepada lelaki itu, yang terdapat foto Nadhira disana.


Lelaki itu lalu mengambil hp milik Syaqila dan memperhatikannya dengan baik baik, wajah Nadhira yang begitu cantik membuat lelaki itu menjadi ragu untuk dapat membunuh wanita cantik seperti itu, apalagi dengan seutas senyum yang dari Nadhira dibalik foto tersebut.


"Kenapa dengan wanita ini? Bayaran apa yang akan kau berikan jika aku membunuhnya? Apa kau akan membayar semuanya dengan tubuhmu itu?" Ucap lelaki itu dengan wajah sumringah.


"Lakukan saja tugasmu, maka aku akan memberikan hadiah yang sangat besar nanti".


"Baiklah, dengan senang hati".


Beberapa hari kemudian, Syaqila sedang berada didalam sebuah hutan dan berdiri dibawah pohon yang rindang seorang diri tanpa ada yang menemaninya saat ini, hutan itu adalah tempat dimana dirinya mendapatkan kekuatan dari permata abadi setelah bertapa bertahun tahun dan menyembah sebuah mahluk astral yang terkuat.


Tiba tiba datanglah seorang pemuda yang langsung memeluknya dari belakang, Syaqila merasa terkejut dengan hal itu dan langsung membuka dirinya segera menoleh kebelakang, ia mendapati bahwa pemuda itu adalah orang yang paling dikenalinya.


"Kenapa?" Tanya Syaqila.


"Aku sangat merindukan dirimu La, sampai kapan kau akan bersama dengan orang lain?".


Pemuda itu nampak seperti sosok yang dicintai oleh Syaqila, dan dirinya bersikap begitu manja kepada Syaqila akan tetapi Syaqila seperti tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran pemuda itu.


Disatu sisi Nadhira sedang berjalan jalan diarea sekitar tempat dimana Syaqila berada, Nimas mengatakan akan ada sesuatu yang harus Nadhira ketahui ditempat itu sehingga Nimas membimbing Nadhira menuju ketempat itu.


Tanpa sengaja Nadhira melihat Syaqila bersama dengan seorang pemuda ditempat itu, ia merasa curiga karena pemuda itu bersikap begitu manja kepada Syaqila, itu tidak benar biar bagaimanapun juga dia telah bertunangan dengan Rifki tidak seharusnya dia bersikap seperti itu dengan laki laki.


Dan hal itu membuat perhatian Nadhira terarah kepadanya, Nadhira pun bersembunyi dibalik sebuah semak semak yang cukup rimbun dan ingin mendengarkan apa yang hendak mereka katakan, ia tidak akan membiarkan Rifki terluka nantinya jika dia menikah dengan seseorang yang tidak menghargai dirinya itu.


"Algra, aku tau kau pasti tidak sabar, biarkan aku menyelesaikan tugasku dulu, setelah itu kita akan bersama nanti".


"La, apa kau tidak bosan terus mengatakan itu? Aku tidak ingin kau bersama dengan lelaki itu, walaupun hanya sampai dimalam pertama".


"Bersabarlah Al, dia adalah kunci satu satunya untuk membuat kekuatanku bertambah, aku harus mendapatkan keris pusaka xingsi secepatnya".


"Apakah tidak ada cara lain selain melakukan hubungan suami istri?".


"Hanya ada cara itu agar aku bisa memiliki keris pusaka xingsi untuk selamanya, setelah malam pertama dia akan mati dan keris itu akan menjadi milikku, setelah itu kita akan menikmati kehidupan kita berdua".


"Berjanjilah, hanya sekali saja kalian melakukan itu".


"Itu sudah pasti Al, karena energi keris pusaka xingsi itu akan masuk dengan sendirinya kedalam permata abadi yang aku miliki".


"Baguslah, ku harap rencanamu akan terlaksana dengan lancar".


"Pasti".


Mendengar itu membuat Nadhira membelalakkan matanya, artinya Syaqila benar benar ingin merenggut nyawa Rifki, dan jika itu terjadi maka Rifki akan tiada ditangan Syaqila.


Hanya dengan melakukan hubungan badan, Syaqila mampu menarik kekuatan keris pusaka xingsi kedalam tubuhnya, dan itulah tujuan keluarganya untuk menikahkan dirinya dengan Rifki.


Jika Rifki melakukan itu dengan Syaqila maka nyawanya akan terancam, dan dirinya bisa saja kehilangan nyawanya karena kekuatan keris pusaka xingsi akan diserap sampai keris pusaka xingsi tidak memiliki kekuatan lagi.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi" Guman Nadhira pelan sambil mengepalkan kedua tangannya.


Nadhira pun segera bangkit dari tempat itu, akan tetapi dirinya tanpa sengaja menginjak sebuah ranting hingga berbunyi dan hal itu menarik perhatian dari Syaqila dan pemuda itu.


"Siapa?" Tanya Algra.


"Cepat tangkap dia!"


Seketika begitu banyak orang yang mengitari tempat tersebut, dan Nadhira pun terperangkap dalam kepungan orang orang tersebut, melihat itu membuat Syaqila tertawa karena ia tidak menyangka bahwa Nadhira sendiri yang akan datang kepadanya.


"Ternyata dirimu Dhira, senang sekali bisa bertemu denganmu disini" Ucap Syaqila.


"Dasar wanita licik, aku tidak akan membiarkan dirimu mencelakai Rifki, jika kau ingin melakukan itu maka langkahi dulu mayatku".


"Ah ternyata kau sudah mendengar semuanya, lalu apa yang kau bisa lakukan sekarang? Rifki dan yang lainnya sudah berada dibawah kendaliku, bukankah itu sangat menyenangkan?".

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, jika sampai Rifki kenapa kenapa, kau sendiri pun akan mati ditanganku nanti".


"Kalian tangkap wanita ini!" Perintah Syaqila kepada orang orang yang telah mengepung Nadhira.


"Baik Nona".


Mereka pun langsung bergegas untuk menangkap Nadhira akan tetapi Nadhira tidak tinggal diam begitu saja, ia pun mengeluarkan tongkatnya dan dengan sekejap tongkat itu pun menjadi panjang hingga membuat semuanya terkejut dengan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh Nadhira.


Nadhira pun langsung menyerang kearah mereka tanpa menunggu mereka menyerang terlebih dahulu, Syaqila begitu terkejut dengan apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Nadhira, Syaqila tidak menyangka bshwa Nadhira adalah ahli beladiri.


Tidak hanya disitu saja akan tetapi Nadhira lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk pena dari sakunya dan membuka penutup pena tersebut, tanpa diketahui oleh orang orang itu Nadhira segera menusuk mereka satu persatu hingga membuat tangannya kini sudah bersimbah darah.


Setelah cukup lama mereka bertarung akhirnya semuanya tumbang ditangan Nadhira, meskipun dengan nafas yang mulai tersengal sengal Nadhira menatap tajam kearah Syaqila, Syaqila yang tidak pernah melihat darah itu pun langsung berdegup kencang dihadapan Nadhira.


"Kau bilang kau ingin mencelakai Rifki bukan? Sudah begitu banyak nyawa yang telah mati ditanganku, apa kau ingin menjadi salah satu dari mereka?" Tanya Nadhira sambil menggenggam erat tongkat dan pisau kecil yang ada ditangannya.


"Kau hebat dalam senjata, lalu bagaimana bisa kau terhindar dari obat biusku" Ucap Syaqila langsung melemparkan sebuah serbuk kepada Nadhira.


"Arghhhh..." Teriak Nadhira.


Kedua mata Nadhira langsung terasa panas dan perih akibat dari serbuk tersebut, hal itu membuat Nadhira langsung terjatuh terbaring diatas tanah sambil menahan rasa sakit dikedua matanya.


"Kau sangat licik" Umpat Nadhira.


"Bagaimana? Bukankah ini hal yang menyenangkan? Aku tidak akan membunuhmu Dhira, aku ingin kau tetap hidup dan melihat secara langsung Rifkimu itu akan mati ditanganku, tapi aku janji kepadamu aku akan membunuhnya dengan cepat agar dia tidak merasakan sakit begitu lama, setelah dia mati aku akan membunuhmu juga agar kalian bisa bersama dineraka nantinya" Ucap Syaqila sambil menunduk kepada Nadhira dan memegangi dagu Nadhira.


"Jangan harap kau bisa melakukan itu!".


"Penjaga! Bawa dia".


Beberapa orang pun langsung muncul dihadapan Syaqila, perlahan lahan kesadaran Nadhira mulai menghilang, mereka pun segera membawa Nadhira pergi dari tempat tersebut.


*****


Nadhira pun tersadarkan diri didalam sebuah goa yang cukup asing bagi dirinya, ia mencoba menggerakkan kedua tangannya akan tetapi dirinya tidak mampu melakukan itu karena adanya sebuah tali yang saat ini sedang mengikat dirinya.


Tali tersebut juga mengikat kedua kaki Nadhira dengan sangat eratnya, dan hal itu membuat Nadhira tidak mampu bergerak ataupun hanya sekedar melepaskan ikatan tali tersebut.


"Lepaskan aku! Qila! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu kepada Rifki! Lepaskan aku!" Teriak Nadhira dari dalam goa tersebut.


"Kau bagun begitu cepat Dhira" Ucap Syaqila.


"Lepaskan aku! Kau tidak bisa menahanku seperti ini, lepaskan!".


"Kau terlalu ganas Dhira, jangan berteriak seperti itu atau tenggorokanmu akan sakit, aku tidak akan memberikan minum kepadamu".


"Apa yang kau inginkan sebenarnya!"


"Cukup sederhana, jadilah tawanan yang penurut dan jangan kebanyakan teriak, kau membuat telingaku sangat sakit dengan teriakanmu itu Dhira".


"Lepaskan aku!" Teriak Nadhira sambil mencoba untuk memberontak agar ikatan tersebut segera terlepas dari tubuhnya.


Nadhira terus berteriak untuk meminta dilepaskan, ia tidak akan membiarkan Syaqila mencelakai Rifkinya, ia pun terus memberontak agar tangan dan kakinya terlepas dari ikatan yang sangat kuat tersebut, tanpa Nadhira sadari bahwa saat ini Syaqila sedang merekam dirinya untuk memaksa Rifki menikah dengannya secepatnya.


Plakk...


Sebuah tamparan yang sangat keras mengenai pipi Nadhira hingga membuat ujung bibirnya sobek begitu saja dan mengeluarkan secercah darah segar, tamparan itu dilakukan oleh Syaqila agar Nadhira berhenti untuk memberontak.


"Kau sangat berisik Dhira, aku bisa saja membunuhmu disini sekarang juga jika aku mau".


"Aku tidak peduli dengan nyawaku, lepaskan aku!"


"Sebaiknya kau menghemat tenagamu itu, agar kau bisa bertahan hidup sampai aku berhasil untuk membunuh Rifkimu itu, hahaha....".


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku tidak akan membiarkan kau membunuh Rifki! Tidak akan ku biarkan itu terjadi!".


"Lalu apa yang kau bisa Dhira, tidak akan ada orang yang akan menolongmu disini".


"Kau jahat Qila!".


Syaqila lalu mengeluarkan selembar kain yang cukup panjang dan segera menutup mulut Nadhira tersebut menggunakan kain itu dan mengikat kain itu dengan sangat erat agar suara Nadhira tidak mampu didengar dari luar.


"Mmmmm...mmmmmm"

__ADS_1


"Apa? Kau mau mengatakan apa lagi Dhira? Nikmati saja hidupmu disini, setelah itu kau pun akan segera menyusul Rifki diakhirat".


"Mmmmm...mmmmmm" Nadhira mencoba untuk berteriak akan tetapi dirinya tidak mampu melakukan itu karena ada kain yang sedang menyumpal didalam mulutnya itu.


Nadhira yang tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini akhirnya menangis, nyawa Rifki dalam bahaya akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan nyawa Rifkinya itu, apalagi didalam goa itu terdapat sebuah perisai hingga membuat Nimas tidak mampu untuk menembus perisai itu.


Syaqila sengaja membari perisai ditempat itu agar tidak ada yang menolong Nadhira, apalagi dirinya tau bahwa Rifki mampu untuk menyuruh mahluk gaib untuk menyelamatkan dirinya itu, perisai yang dibuatnya begitu kuat hingga tidak mampu ditembus oleh Nimas saat ini.


"Rifki, maafkan aku, kau harus selamat demi diriku Rifki, maafkan aku karena aku tidak bisa melindungi dirimu untuk saat ini, maafkan aku" Batin Nadhira menjerit.


"Sebentar lagi pernikahanku dan Rifki akan segera berlangsung, kau tidak akan bisa mencegah diriku".


"Mmmm...mmmm..."


"Sampai jumpa nanti Dhira, aku akan datang lagi untuk memberitahukan bahwa Rifkimu sudah mati".


"Mmmm...mmmmmm...".


Syaqila lalu bergegas pergi dari tempat itu untuk meninggalkan Nadhira, ia pun menyuruh beberapa penjaga untuk menjaga tempat tersebut dan tidak membiarkan Nadhira untuk pergi dari sana.


Kain yang menutupi mulut Nadhira itu pun berubah menjadi merah karena darah Nadhira yang mengenai kain tersebut akibat dari tamparan yang diberikan oleh Syaqila kepadanya, Nadhira yang sudah terbiasa dengan rasa sakit pun tak lagi memperdulikan lukanya itu.


Yang ada didalam pikiran Nadhira hanyalah keselamatan dari Rifki, ia tidak peduli dengan nyawanya sendiri akan tetapi dirinya tidak ingin Rifki kenapa kenapa ataupun bahkan terluka.


*****


"Plakkk"


"Lihatlah, dia begitu tersiksa bukan?" Ucap Syaqila.


Syaqila lalu menunjukkan sebuah vidio tentang dirinya yang saat ini sedang menyandera Nadhira kepada Rifki, melihat Nadhira yang ditampar oleh Syaqila membuat hati Rifki merasa sangat marah kepada gadis itu.


"Apa yang kau lakukan dengan Nadhira!" Teriak Rifki.


"Aku bisa membunuhnya kapan pun yang aku mau, Nadhira sekarang sudah ada ditanganku, jika kau macam macam denganku maka kau akan melihat dia mati dihadapanmu sendiri".


"Kau! Apa yang kau inginkan sebenarnya! Lepaskan Nadhira sekarang juga maka aku akan menuruti apa keinginanmu itu"


"Mudah saja, aku ingin menikah denganmu besok".


"Apa!".


"Kenapa? Apa kau keberatan dengan keinginanku itu? Jika seperti itu aku akan menyuruh anak buahku untuk segera membunuh gadis itu".


"Tidak! Baiklah aku terima, kita akan menikah besok tapi jangan pernah sakiti Nadhira".


"Oke... Jangan macam macam dengan diriku Rifki, ingatlah Nadhira ada ditanganku dan kau tidak akan pernah bisa menemukan dirinya, sekali kau melawanku maka Nadhiramu akan mendapatkan cambukan dariku".


"Aku mohon kepadamu tolong jangan sakiti Dhiraku, aku akan melakukan apapun asalkan kau tidak menyakiti dirinya".


"Bagus".


Syaqila lalu bergegas pergi meninggalkan Rifki seorang diri ditempat itu, melihat Nadhira disandera oleh Syaqila membuat Rifki meneteskan air matanya karena dirinya tidak mampu untuk berbuat apa apa, jika dia bertindak gegabah maka Syaqila bisa saja menyakiti dirinya dengan mudah.


Bhukk


Rifki pun meninju sebuah tembok yang ada disebelahnya dengan sangat kerasnya hingga menimbulkan bekas merah kepada tembok tersebut karena kerasnya pukulan Rifki hingga membuat tangannya berdarah saat ini.


"Arghhh... Kenapa harus Dhira yang dalam bahaya! Aku sama sekali tidak berguna!" Teriak Rifki.


Beberapa kali dirinya pun meninju tembok besar itu untuk melampiaskan kemarahannya, ia tidak peduli dengan banyaknya darah yang mengalir disela sela jarinya, hingga akhirnya tembok itu roboh karena kelelahan menahan pukulan Rifki.


"Nak, ada apa?" Tanya Aryabima ketika melihat Rifki menyakiti dirinya sendiri.


"Kek, semuanya salah Rifki, gara gara Rifki, Dhira disandera oleh Syaqila, Dhira pasti kesakitan disana, Rifki tidak berguna Kek" Tangis Rifki pecah seketika.


"Apa! Dia menyandera Dhira? Kenapa?" Tanya Aryabima yang terkejut mendengarnya.


"Pernikahan ini harus dilanjutkan besok Kek, aku tidak mau Nadhira kenapa kenapa".


"Tapi Nak, kau tau sendiri kan, pernikahan itu akan membahayakan dirimu sendiri, apalagi dia memiliki permata abadi"


"Lalu bagaimana dengan Nadhira Kek? Apapun akan Rifki lakukan asalkan Nadhira selamat".

__ADS_1


"Baiklah jika itu kemauanmu".


__ADS_2