Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Sapta


__ADS_3

Nadhira masih mencium kening Rifki dengan sangat lama, bahkan hingga terdengar suara isakkan tangis dari mulutnya itu. Rifki yang tidak sadarkan diri tersebut pun terlihat meneteskan air matanya, mungkin dialami bawah sadarnya dirinya merasakan ciuman tersebut.


"Biarkan mereka berdua membawa dia pulang untuk saat ini, aku ingin berbicara sesuatu yang penting denganmu," Ucap sosok lelaki yang sedari tadi berdiri disamping mereka.


"Tapi bagaimana dengan Rifki?" Tanya Nadhira.


"Dia akan aman bersama kami, Dhira. Apa kau tidak mempercayaiku dan suamiku?" Tanya wanita tersebut kepada Nadhira.


"Baiklah, tolong jaga dia baik baik. Aku tidak mau jika sampai dia kenapa kenapa," Ucap Nadhira yang menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Kau tenang saja."


Wanita tersebut pun tersenyum kepada Nadhira, dan wanita serta suaminya itu langsung membawa Rifki pergi dari tempat itu setelahnya. Nadhira berseta lelaki tersebut pun melangkah pergi dari tempat itu juga, Nadhira tidak tau kemana lelaki itu akan membawanya saat ini. Akan tetapi dirinya mengetahui bahwa jalanan itu hendak menuju ke desa Mawar Merah.


Keduanya berhenti didepan sebuah goa, goa dimana yang dimaksud sebagai goa milik Pangeran Kian. Nadhira bingung mengapa lelaki itu mengajaknya ketempat itu, bukannya tempat itu tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang karena ada energi gaib yang akan menolak orang lain selain keturunan dari Pangeran Kian.


"Kenapa kau membawaku kemari? Apa kau ingin berniat buruk denganku?" Tanya Nadhira dan langsung bergegas untuk menjauh dari lelaki itu.


Nadhira yang memang baru mengenal orang tersebut pun menjadi siaga, dirinya takut bahwa lelaki yang ada didepannya adalah musuh yang menyamar, dan ingin berniat jahat kepadanya untuk mengambil sebuah keuntungan darinya.


"Bagaimana mungkin aku ingin berniat buruk kepadamu, Saudariku?"


"Maksudmu apa? Siapa kamu sebenarnya?"


"Kita adalah saudara, kenapa kamu takut denganku?"


"Aku tidak memiliki saudara sepertimu,"


"Hayoyo... Kenapa kamu begitu sensitif seperti itu, kenapa beda jauh denganku ya?"


Nampaknya lelaki itu mencoba untuk mencairkan suana yang ada disana, Nadhira terus saja bersikap siaga kepadanya karena takut kalau lelaki itu berbuat aneh aneh terhadapnya saat ini. Dirinya baru saja bertemu dengan lelaki itu, sehingga dirinya harus siap siaga akan segala hal yang akan terjadi.


"Jangan banyak omong, cepat katakan apa maumu!" Sentak Nadhira.


"Tenanglah tenang, Saudariku. Gimana Kinara bisa tahan ya tinggal dengan Ibu sepertimu," Gumannya.


"Jangan macam macam dengan anakku! Atau ku bunuh kau sekarang," Sentak Nadhira sambil menodongkan sebuah pisau kecil kearah lelaki itu.


Lelaki itu hanya menyengir melihat pisau kecil yang telah ditodongkan kepadanya itu, dirinya pun menyingkirkan tangan Nadhira dengan ujung jarinya agar pisau itu tidak terarah kepadanya. Nadhira langsung bersiap siaga karena itu, akan tetapi lelaki itu justru terkekeh pelan seolah olah tidak takut dengan ancaman dari Nadhira.


"Jangan galak galak seperti itu lah, Dhira. Aku jauh lebih mengenali kalian daripada kalian mengenaliku,"


"Maksudmu apa!" Sentak Nadhira.


"Ayo masuk!"


Lelaki itu langsung memegangi lengan baju Nadhira, dan langsung menariknya untuk masuk kedalam goa tersebut. Awalnya Nadhira sangat marah karena lelaki itu tiba tiba menariknya begitu saja, akan tetapi setelah mengetahui bahwa lelaki itu bisa melewati tabir pelindung dan membawa Nadhira masuk, hal itu langsung membuat Nadhira terdiam.


"Kenapa kita bisa masuk?" Tanya Nadhira yang masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


"Hah? Emang kenapa dengan goa ini?" Tanya lelaki itu seolah olah tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira.


"Apa kamu juga keturunan dari Pangeran Kian? Hanya keturunan Pangeran Kian yang bisa masuk sekaligus membawa orang masuk kedalam goa ini. Apa kamu tidak tau soal itu?"


Lelaki itu justru tersenyum kearah Nadhira, senyuman itu langsung membuat Nadhira kebingungan seketika tanpa mengetahui jawabannya. Lelaki yang ada dihadapannya langsung menciptakan penuh tanda tanya didalam kepalanya, siapa lelaki itu? Dari mana asalnya lelaki tersebut? Kenapa lelaki itu tiba tiba muncul dan membuatnya sangat terkejut? Apalagi lelaki itu mengatakan bahwa dirinya sangat mengenalinya dan keluarga.


"Mungkin," Jawab lelaki itu.


"Kok mungkin?" Tanya Risda antusias.

__ADS_1


"Ya mungkin. Karena aku tidak bisa beladiri seperti keluargamu itu, lagian aku juga takut dengan luka tidak seperti kalian. Mana mungkin aku keturunan orang pemberani seperti dia,"


Mendengar jawaban itu, seketika Nadhira langsung menggerakkan tangannya untuk mengunci pergerakan dari lelaki itu. Nadhira takut jika keduanya bisa masuk karena Nadhira pernah bersatu dengan Rifki dalam sebuah hubungan, hal itu membuatnya bisa menerobos masuk kedalam goa tersebut.


"Siapa kamu!" Sentak Nadhira.


"Akh... Kakak Dilla, apa yang kamu lakukan?" Jerit lelaki itu dengan kerasnya karena merasakan tangannya yang terasa sakit akibat apa yang dilakukan oleh Nadhira.


Ketika nama Dilla dipanggil, Nadhira pun langsung teringat dengan sesuatu hingga membuatnya perlahan lahan melepaskan kunciannya itu. Tatapan Nadhira tiba tiba kosong dan dirinya pun terbengong seketika itu juga.


"Kakak Dilla," Panggil lelaki itu sambil melambai lambaikan tangannya didepan wajah Nadhira.


"Dilla," Ucap Nadhira lirih sambil terlihat seperti mengingat sesuatu yang telah lama hilang.


Nadhira langsung menatap kearah lelaki yang ada didepannya itu, tatapan dari Nadhira sangat sulit untuk diartikan dengan mudah. Sementara lelaki itu menatap miring kearah Nadhira sambil memicingkan sebelah matanya, seolah olah dirinya paham apa yang tengah dipikirkan oleh Nadhira saat ini.


Hanya ada seorang yang memanggilnya dengan nama Dilla, hal itulah yang membuat Nadhira terdiam beberapa saat. Tiba tiba sebuah senyuman muncul diwajah Nadhira, senyuman yang sangat sulit untuk diartikan maknanya.


"Kau masih hidup?" Tanya Nadhira dengan kedua mata yang berbinar binar.


"Tubuhku sudah mati, tapi jiwaku akan selalu hidup. Setelah kau menyelamatkan aku waktu itu, kita berpisah sampai detik ini, dan selama itu aku terus dikejar kejar oleh mereka yang berniat untuk membunuhku. Sekarang aku kembali, tapi dengan identitas yang baru,"


"Kau dikejar kejar? Kenapa?" Tanya Nadhira yang kebingungan setelah mendengarkan penjelasan dari lelaki yang ada dihadapannya.


"Ada begitu banyak rahasia yang aku ketahui, dan bisa dibilang aku keturunan dari Pangeran Kian dan juga Nyai Ratih. Sebelum keluar dari sini, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu, tapi kau harus janji untuk mendengarkannya dengan serius. Mungkin kau tidak akan mempercayai apa yang aku katakan nantinya, ini mengenai keluargamu dan keluarga suamimu. Mereka memburuku karena aku termasuk juga keluarga kalian, dan hanya aku hanya mengetahui semuanya."


"Apa yang kau ketahui tentang itu? Siapa dirimu sebenarnya?"


"Namaku adalah Sapta, anak dari Dwija tapi bukan dengan Sena melainkan dengan Rifa. Rifa dan Lia memiliki hubungan yang dekat, keduanya adalah saudara akan tetapi beda ibu, Nenekmu dan Nenekku adalah saudara kandung. Sementara Kakek buyutku dan Abiyoga memiliki hubungan saudara, sebenarnya Abiyoga memiliki seorang Adik tapi dirahasiakan identitasnya."


Sapta adalah seorang pemuda yang pernah diselamatkan oleh Nadhira pada waktu terjadinya peledakkan disebuah goa yang ada didesa Flamboyan. Waktu itu Sapta masih berusia 7 tahun dan belum mengerti apa apa, seorang bocah yang selamat dalam kejadian hal itu.


Waktu itu Sapta belum mengerti tentang apapun bahkan dirinya tidak mengenali Ayahnya sendiri karena sejak kecil dirinya telah diadopsi oleh orang yang ada didalam desa tersebut.


Deg


Nadhira begitu terkejut setelah mendengar nama Sena diucapkan, Sena adalah Mama tirinya yang pernah berusaha untuk membunuh Rendi. Mendengar itu membuat Nadhira sangat terkejut apalagi lelaki itu mengatakan bahwa Ibunya telah dibunuh setelah selesai melahirkan anak pertamanya.


"Tidak mungkin! Kau pasti berbohong soal ini kan?" Tanya Nadhira yang tidak percaya.


"Sudah ku katakan kan, kalau kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Jika kau masih menganggapku berbohong maka pergilah, tak payah diriku mengungkapkan rahasia ini kepadamu."


"Tapi kenapa dia melakukan itu? Apa alasannya?"


"Aku tak mau melanjutkan ceritanya." Sapta pun membuang muka dari hadapan Nadhira sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Kenapa kamu jadi merajuk seperti wanita?"


"Lebay."


"Sapta, kau tau banyak tentangku kan?" Sapta pun hanya menganggukkan kepalanya. "Ceritakanlah apa yang kau ketahui itu kepadaku,"


"Percuma aku cerita jika tidak dipercayai olehmu,"


"Kau bilang ingin mengakhiri dendam ini sebelumnya, bagaimana bisa mengakhiri jika kau tidak mau bercerita kepadaku?"


"Mangkanya itu dengarkan ucapanku dulu, dan jangan memotongnya begitu saja. Umurku tidak lama lagi, aku tidak memiliki waktu banyak untuk hal itu,"


"Maksudmu apa?"

__ADS_1


"Sebentar lagi, Sena akan keluar dari penjara, dan saat itu tiba maka akan ada kejadian yang besar yang akan terjadi. Untuk saat ini, kau dan keluargamu aman Dhira, tapi tidak dengan nanti."


Ucapan Sapta seakan akan mengatakan bahwa akan ada bahaya yang besar untuk mereka, dan Nadhira sendiri tidak mengerti kejadian seperti apa yang dimaksud akan terjadi nantinya. Nadhira semakin tidak mengerti maksud dari perkataan Sapta, ucapan lelaki itu sama sekali tidak jelas bagi Nadhira.


"Kejadian besar apa itu?"


"Sena sengaja mengadu domba kalian, hingga dua belah pihak kalian saling bermusuhan. Sebenarnya keturunan Galih tidak menginginkan keris itu, dan dendam itu telah lama hilang waktu Galih masih hidup dan hal itu telah diketahui olehnya setelah mendengarkan penjelasan dari Abiyoga."


"Lantas kenapa mereka terus menginginkan nyawa Rifki dan anakku? Jika dendam itu telah lama hilang, kenapa aku harus kehilangan orang orang yang ada disekitarku selama ini?" Tanya Nadhira dengan berlinangan air mata setelah mendengarnya.


"Waktu itu...."


*Flash back on*


"Mas! Mas! Tolong!" Teriak seorang wanita yang berada didalam sebuah ruang kamar.


Seorang lelaki yang mendengarnya pun langsung tergesa gesa untuk menemui istrinya yang tengah berteriak itu. Sesampainya didalam kamar, ia menemukan bahwa istrinya tengah terduduk lemas dipinggir sebuah kasur yang dimana terdapat seorang anak lelaki yang tengah terbaring tidak sadarkan diri sambil mulut yang penuh dengan busa.


"Mas anak kita," Ucap wanita itu lirih sambil menitihkan air matanya.


Lelaki tersebut langsung bergegas untuk menuju kearah anaknya, dirinya pun langsung segera memeriksakan denyut nadi dari anak yang berusia 10 tahunan itu. Dirinya pun menatap nanar kearah anaknya, disaat mendapati bahwa anaknya sudah tidak bernyawa.


"Aji... Aji, bangun Nak... Aji, jangan tinggalin Ayah. Dek apa yang terjadi dengan Aji? Kenapa Aji bisa seperti ini?" Lelaki itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa Anaknya yang bernama Aji telah pergi mendahuluinya.


"Mas, anak kita nggak papa kan?" Tanya wanita itu dengan sesenggukan kepada suaminya.


"Kamu apakan anak kita?" Tanya lelaki itu dengan nada tinggi kepada istrinya.


"Mas! Aku tidak tau, aku habis dari kebun dan masuk kemari untuk membangunkan anak kita untuk makan. Tapi aku sudah mendapati bahwa dia seperti ini, kalau aku tau, aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Mas!" Sentak wanita itu dengan perasaan yang teramat sangat sakit.


"Anak kita sudah nggak ada." Setelah mengatakan itu, lelaki tersebut pun meluruh kelantai karena sangking sedihnya.


Aji adalah anak semata wayangnya, dan dirinya telah kehilangan anaknya untuk selamanya karena kejadian yang tidak diketahui olehnya. Seketika itu pun pandangannya menjadi kosong, sementara wanita tersebut memeluk tubuh Aji dengan sangat eratnya karena telah kehilangan anak pertama dan semata wayangnya itu.


"AJI!!!" Teriak wanita itu dengan histerisnya.


Terasa sakit bagi orang tua jika kehilangan anaknya, apalagi anak semata wayangnya dan bahkan rasa sakit itu tidak mampu dijelaskan dengan kata kata. Bagi seorang ibu, rasanya seperti telah kehilangan seluruh hidupnya sendiri dan tidak ingin bernafas lagi jika mengetahui bahwa anaknya telah tiada.


Sangat sulit untuk menerima sebuah kenyataan yang teramat sangat pahit itu, dimana dirinya yang lelah setelah dari ladang akan tetapi langsung mendapati bahwa anaknya telah tiada akibat diracuni oleh seseorang yang tidak diketahui.


Suasana duka pun menyelimuti keluarga kecil itu, dimana penyemangatnya telah pergi mendahului keduanya. Tiba tiba, lelaki itu melihat adanya sebuah kertas yang tertempel ditembok rumah tersebut, dan berada diatas anaknya yang terbaring.


Dirinya tidak pernah melihat adanya kertas itu sebelumnya, akan tetapi sebuah bercak darah yang mempu menarik perhatiannya itu. Lelaki itu langsung membuka kertas tersebut dengan lebar, dirinya pun membaca tulisan yang ada disana.


Itu adalah surat perdamaian antara dirinya dengan Abiyoga, disana terdapat sebuah janji yang telah diucapkan oleh Abiyoga terhadap lelaki tersebut sebagai bukti bahwa keduanya telah kembali bersaudara dan tidak adanya permusuhan diantara keduanya. Akan tetapi surat tersebut kini tengah bersimbah darah, entah darah milik siapa yang membuat kertas tersebut kotor karenanya.


Didekat anaknya juga terdapat sebuah bungkus obat sekaligus badge yang bertuliskan Abiyoga, entah sejak kapan benda tersebut ada disana. Lelaki itu langsung mengambil bungkus obat tersebut dan menciumnya, bau racun pun terasa menyengat meskipun hanya sebuah sisa bau saja tanpa adanya obat.


"Anak kita telah diracuni," Ucap lelaki tersebut dengan histerisnya.


"Maksud Mas apa?" Tanya istrinya.


"Ini menunjukkan siapa pelakunya. Abiyoga! Kau pembohong besar! Tega kau membunuh anakku, untuk apa surat perdamaian ini jika kau sendiri yang merusaknya? Aku tidak akan tinggal diam, kau telah bermain main denganku. Kau telah membunuh anakku dan akan ku habisi seluruh keturunanmu, lihat saja nanti!"


*Flash back off*


"Sejak saat itu, keturunan Galih terus memburu keturunan Abiyoga. Dan saat itu juga Chandra telah melahirkan anak pertama dan terakhirnya, yaitu Haris. Didepan Aryabima sendiri, keturunan Galih membunuh Chandra hingga membuat Aryabima bertekad untuk tidak menikah demi menjaga Haris. Chandra mengorbankan nyawanya demi Haris," Ucap Sapta sambil mengingat.


Nadhira mendengarkannya dengan linangan air mata, dirinya pun pernah berada diposisi seorang ibu yang telah kehilangan putranya. Meskipun anaknya belumlah lahir kedunia akan tetapi rasa sakitnya teramat sangat luar biasa, dan tidak seorang pun akan paham dengannya selain mereka yang pernah merasakannya.

__ADS_1


"Siapa pelakunya?" Tanya Nadhira.


"Pelakunya adalah..."


__ADS_2