Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Wanita bercadar


__ADS_3

Setetes air mata pun keluar dari pelupuk matanya, jujur dirinya sangat merindukan sosok Rifki, akan tetapi dirinya tidak mampu untuk menemui Rifki meskipun dirinya bisa melakukan itu. Dia tidak mau anak dan suaminya dalam bahaya karenanya, apalagi Kinara yang masih bayi itu.


"Mama begitu lemah hingga tidak bisa mempertemukan kalian berdua, maafin Mama ya Nara. Semoga suatu saat nanti kita memiliki jalan untuk kembali pulang, dan bertemu dengan Papamu kembali suatu saat nanti,"


Bukannya Nadhira tidak mau kembali, dia bahkan bisa kembali saat ini juga karena dia masih memiliki uang untuk kembali. Akan tetapi, ada suatu hal yang tidak mampu untuk membawa dirinya kembali pulang, dan dirinya terpaksa hidup seperti ini sekarang dengan Kinara.


Melihat Nadhira yang tengah meneteskan air matanya itu, Siska pun langsung memeluknya untuk menguatkan wanita itu. Meskipun keduanya tengah memakai sebuah cadar, akan tetapi Siska tau bahwa Nadhira tengah tidak baik baik saja saat ini.


"Kakak pasti sangat merindukan suami Kakak ya? Kakak pasti sangat mencintainya," Ucap Siska.


"Iya Sis, hanya dia yang bisa mengerti tentang Kakak selama ini, dia begitu berarti buat Kakak. Tapi Kakak tidak bisa berbuat apa apa untuk menemuinya saat ini, Kakak takut kalau dia dalam bahaya."


"Siska memang ngak tau masalah Kakak apa, tapi semoga semuanya segera berlalu ya, Kakak yang sabar untuk menghadapinya."


"Iya Sis. Makasih ya,"


"Iya Kak."


Mereka semua akhinya tiba ditempat yang dimaksudkan itu, Nadhira dan ketiganya langsung bergegas untuk memasuki rumah kontrakan setelah selesai melakukan administrasi dengan pemilik kontrakan itu. Kontrakan itu terlihat sangat sederhana, akan tetapi cukup layak untuk ditinggali oleh seorang bayi.


"Semoga mulai hari ini kita akan hidup bahagia ya, Nak. Jauh dari orang orang yang kita kenal, dan jauh juga dari kerabat dan saudara. Kita akan mulai hidup baru setelah ini," Ucap Bu Siti.


"Iya Bu, semoga aku bisa membesarkan Kinara disini tanpa ada yang mengungkit masalalunya. Kinara harus hidup bahagia nantinya," Ucap Nadhira sambil memandangi kearah bayi yang tengah dirinya gendong itu.


"Kinara adalah keponakanku, dan selalu akan seperti itu," Ucap Siska.


*****


Waktu pun menunjukkan pukul 4 pagi, dan adzan subuh berkumandang di awang awang. Rifki dan anggota Gengcobra mampir dulu disebuah masjid sebelum mendatangi tempat tersebut, setelahnya mereka melanjutkan perjalanan.


Yang menyetir kali ini adalah Vano, sementara Fajar tengah tertidur dibangku belakang karena kelelahan telah menyetir cukup lama. Sementara Rifki sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya, dirinya terus merasa khawatir dengan Nadhira yang dirinya duga bahwa dia masih hidup.


"Van berhenti, sepertinya itu ATM yang dimaksud deh," Ucap Bayu.


Vano pun menghentikan mobilnya tersebut dan memarkirkannya ditepi jalan, begitu juga dengan mobil mobil lainnya yang dinaiki oleh anggota Gengcobra itu. ATM tersebut bertuliskan 24 jam, itu artinya masih ada penjaga yang ada didalam sana.


Rifki pun langsung turun dari mobil tersebut dan diikuti oleh anggota Gengcobra lainnya juga, Rifki langsung bergegas untuk menuju kearah ATM tersebut. Disana dirinya melihat seorang satpam yang tengah berjaga, satpam tersebut terlihat sedang berkutik dengan ponselnya.


"Maaf Pak, boleh nanya?" Tanya Rifki.


"Iya Mas, ada apa ya?" Tanya Satpam itu balik.


"Kemarin sekitar jam 3 sore, apa ada yang datang ke ATM ini untuk mengambil uang yang banyak?" Tanya Rifki.


"Sejak kemarin banyak yang ngambil uang, Mas. Jadi sosok seperti apa yang tengah Mas cari?"


"Bentar Pak, saya ada fotonya."


Rifki pun langsung mengeluarkan ponsel miliknya itu, ia lalu menunjukkan kepada kepada Satpam. Dia juga menunjukkan bukti penarikan dijam yang menunjukkan pukul 2.05 sore itu, Satpam tersebut mengingat ingat tentang wajah Nadhira akan tetapi dirinya merasa tidak melihatnya.


"Ini istri saya, Pak. Kami sedang mencarinya," Pungkas Rifki setelah selesai menunjukkan foto Nadhira didalam layar ponselnya.


"Sepertinya saya tidak melihatnya, Mas."


"Boleh saya lihat cctv yang ada disini, Pak? Mungkin saya bisa menemukan dia, Pak. Saya mohon," Ucap Rifki sambil memohon kepada Satpam tersebut.


"Baik Mas, ikut saya masuk kedalam."


"Terima kasih, Pak."


Rifki dan Bayu pun ikut masuk kedalam kantor yang ada diATM tersebut, sementara anggota Gengcobra lainnya menunggu mereka diluar tanpa diperbolehkan untuk masuk kedalam dengan ramai ramai. Satpam tersebut terlihat sedang berkutik dengan layar komputer yang ada didepannya saat ini, Satpam tersebut pun mencari dimenit yang ditunjukkan oleh Rifki sebelumnya.


"Sepertinya tidak ada wanita yang anda cari, Mas. Sejak tadi tidak ada yang mirip," Ucap Satpam tersebut yang juga tengah menatap serius kearah cctv yang ada disana.


"Kenapa dimenit itu ada wanita bercadar yang membawa anaknya?" Tanya Bayu kepada Rifki.


"Pak coba di-zoom tepat diwanita bercadar itu," Ucap Rifki kepada Satpam itu.


"Baiklah,"


Rifki pun fokus untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh wanita bercadar itu, ia terlihat seperti tengah menggendong anak bayi yang sepertinya baru saja dilahirkan itu. Ia terkejut ketika melihat begitu banyak uang yang tengah dirinya ambil, ia yakin bahwa itu adalah Nadhira.


"Dia istriku," Guman Rifki pelan.

__ADS_1


"Apa wanita ini yang anda cari, Mas?" Tanya Satpam.


"Iya, Pak. Kemana perginya?"


"Kalo soal itu saya ngak tau, Mas. Dua kali dia datang kemari, mungkin dia tinggal disekitar sini,"


"Pak, boleh saya minta bukti rekaman ini?"


"Boleh Mas, bias saya copy kan,"


*****


"Kalian semua berpencar, cari dia sampai ketemu!" Perintah Rifki kepada anggota Gengcobra.


"Baik Tuan Muda!" Jawab mereka serempak.


Mereka semua pun berpencar didaerah sekitar tempat itu, dan mencari sosok Nadhira yang diduga oleh Rifki adalah wanita bercadar itu. Setelah cukup lama mencari, mereka tak kunjung menemukan apa yang tengah dia maksud itu.


"Pak, boleh numpang tanya?" Tanya Rifki kepada tukang becak yang ada disekitar tempat itu.


"Ada apa, Mas?" Tanyanya.


"Apa Bapak melihat wanita bercadar ini?" Ucapnya sambil menunjuk kearah ponselnya.


"Maaf Mas saya ngak tau," Ucapnya dengan panik.


Setelah mengatakan itu, tukang becak tersebut pun langsung bergegas untuk pergi meninggalkan Rifki ditempat itu. Aneh, kenapa tiba tiba seperti itu? Seakan akan mereka tengah ketakutan saat ini, tapi apa yang telah membuat mereka takut.


"Pak! Ada apa?" Teriak Rifki yang tidak didengar oleh tukang becak tersebut.


Rifki merasa aneh kenapa orang orang yang dirinya temui belakang ini seakan akan ketakutan jika membahas tentang wanita bercadar yang dirinya maksud itu. Bukan hanya dirinya saja, akan tetapi anggota Gengcobra juga mengalami hal yang sama.


"Rif, kenapa mereka ketakutan jika ditanya tentang wanita ini?" Tanya Bayu yang penasaran.


"Kamu juga ditolak? Sedari tadi aku bertanya juga mereka pada kabur," Ucap Rifki.


"Ada yang aneh disini, Rif. Sepertinya mereka telah mengalami trauma yang mendalam, bahkan jika ditanya seperti itu pun mereka seperti tengah menghindar dengan ketakutan."


"Baik Rif, dekat sini ada villa. Kalian bisa tinggal disana dulu, aku akan mencari informasi soal ini sampai dapat,"


"Kami tunggu divilla, jangan datang sebelum dapat informasi soal wanita itu," Ucap Rifki dengan tegasnya.


Bayu pun menganggukkan kepalanya, ia pun mengambil sebuah motor yang digunakan oleh salah satu anggota Gengcobra sebelumnya itu. Ia pun melaju pergi dari tempat tersebut meninggal semuanya, sementara Rifki langsung mengajak anggota Gengcobra menuju kearah villa yang terdekat dengan tempat itu.


*****


Bayu pun menghentikan motornya tepat dirumah salah satu warga sekitar, ia harus memulai bertanya tanya kepada masyarakat sekitar tempat itu tanpa membawa banyak orang. Hanya rumah yang dirinya datangi itu saja yang terbuka, akan tetapi sekitarnya semuanya pada tertutup pintunya.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum..." Ucap Bayu sambil mengetuk pintu kayu yang terpasang didalam rumah tersebut.


Memang pintunya terbuka saat ini, akan tetapi tidak ada orang yang menjawab salamnya itu. Cukup lama dirinya berdiri didepan pintu rumah sederhana itu, akhinya ada seseorang yang keluar dari dalam rumah tersebut.


"Waalaikumussalam, cari siapa ya Mas?" Tanya seorang wanita yang berusia sekitar 45 tahunan dengan penasarannya.


Penampilan Bayu yang rapi dan seperti memiliki kedudukan tinggi itu pun membuat wanita yang ada dihadapan gemetaran. Karena wanita itu sama sekali tidak mengenali sosok dari Bayu, yang memang belum pernah ketemu selama ini.


"Saya mau nanya, boleh ngak Bu?" Ucap Bayu dengan nada pelannya takut wanita tersebut akan lebih takut kepadanya nanti.


"Mau nanya apa ya, Mas?"


"Kalo boleh saya tau, Ibu kenal ngak dengan wanita ini," Bayu pun menunjukkan sebuah foto wanita bercadar yang sedang berada didalam ATM.


Melihat itu langsung membuat wanita tersebut membelalakkan matanya, Bayu tidak menyangka dengan aksi selanjutnya dari wanita tersebut.


"Pergi dari sini!" Sentak sang wanita sambil mengusir Bayu untuk pergi dari halaman rumahnya.


Brakkkk...


Dengan kerasnya wanita tersebut langsung menutup pintu rumahnya, Bayu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan wanita tersebut. Dengan ketakutannya dirinya mengusir Bayu untuk pergi dari tempat itu, Bayu sendiri pun langsung mengetuk pintu itu kembali.


"Bu! Tolong jelasin sesuatu kepadaku tentang wanita ini, tolong buka pintunya!" Teriak Bayu akan tetapi diabaikan oleh pemilik rumah.

__ADS_1


Bayu pun berdecak kesal dengan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut, kali ini dirinya tidak bisa menemukan informasi apapun mengenai wanita bercadar yang dirinya maksud itu. Ia pun bergegas untuk kearah sepeda motornya, dan dirinya melajukan motornya untuk pergi dari tempat itu.


Bayu pun mencari seseorang yang bisa ditanyai yang ada ditepi jalan, lagi dan lagi mereka seperti tengah ketakutan saat ini. Hal itu membuatnya sangat kesal, dan dirinya sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun mengenai wanita bercadar itu.


"Ada apa sih sebenarnya dengan wanita itu? Kenapa semuanya seakan akan tengah ketakutan dengan wanita itu? Apa yang membuat mereka takut?" Tanya Bayu dengan kesalnya entah kepada siapa.


Bukan hanya kabur atau mengusirnya saja, Bayu pun hampir dikeroyok warga ketika dirinya bertanya mengenai wanita bercadar yang dirinya ingin ketahui itu. Hal itulah yang membuatnya merasa sangat jengkel dan hampir putus asa untuk mencari tau identitas tentang wanita bercadar yang dirinya maksud tersebut.


Bayu semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi itu, kenapa disaat mereka melihat lelaki memakai sebuah jas rapi justru mereka ketakutan dan kabur begitu saja. Bahkan setelah berkeliling beberapa jam itu, Bayu sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun yang ingin dirinya sedari tadi itu.


"Mungkin perlu penyamaran kali ya? Sepertinya mereka takut dengan lelaki yang memakai jas," Guman Bayu lirih.


Ia pun mengganti pakaiannya menjadi pakaian seperti orang bias, dia hanya memakai sebuah kaos hitam polos dengan memakai celana pendek yang juga berwarna hitam. Dirinya pun memakai masker agar tidak diketahui oleh orang orang yang ditanyainya tadi dan memilih untuk kabur itu.


Itu adalah penyamaran yang akan dirinya lakukan demi mendapatkan informasi mengenai wanita bercadar yang dirinya maksud itu, ia pun menaruh motornya disebuah halaman masjid yang berada disana. Ia juga mengganti sepatu miliknya menjadi sebuah sandal japit yang dirinya beli sebelumnya itu, ia pun mengaca disebut cendela kaca yang ada dimasjid itu.


"Sudah kayak gembel belom ya?" Tanyanya entah kepada siapa.


Bayu pun mengacak acak rambutnya sendiri, rambut yang semulanya terlihat rapi itu pun langsung menjadi berantakan. Ketika merasa sudah pas, Bayu pun bergegas pergi dari halaman masjid itu dengan jalan kaki tanpa membawa motornya.


Bayu pun memperhatikan sekitarnya, mungkin saja dirinya bisa mendapatkan informasi dari seseorang. Cukup lama dirinya berjalan hingga akhinya dia menemukan sebuah warung tempat orang jualan nasi. Bayu pun berniat untuk mampir diwarung itu sekalian untuk mengisi perutnya yang terasa lapar, karena sejak kemarin dirinya belum makan.


"Bu, nasi uduknya satu," Ucap Bayu memesan nasi.


"Baik Mas, silahkan duduk dulu," Ucap penjual wanita mempersilahkan Bayu duduk.


Sambil menunggu makanannya itu jadi, Bayu pun memperhatikan sekitarnya yang nampak sepi itu. Entah kenapa semua orang sepertinya tidak melakukan aktivitas diluar kali ini, dan mereka memutuskan untuk tetap berada dirumahnya.


"Ngomong ngomong kenapa desa ini kayaknya sepi banget ya, Bu." Bayu pun memulai pembicaraan agar tidak merasa canggung didalam warung itu.


"Sejak kejadian kemarin, ngak ada orang yang berani keluar rumah, Mas. Masnya asalnya dari mana? Kok saya ngak pernah lihat?"


"Saya dari kota sebelah, Bu. Saya seorang pengemis, jadi harus berpindah pindah kota untuk bisa mendapatkan uang buat makan," Ucap Bayu yang tengah menyembunyikan identitasnya.


"Oh seperti itu, mangkanya tidak tau menau soal kejadian yang terjadi kemarin disini,"


"Memang ada apa, Bu?"


*****


Bayu kembali ke villa dengan tubuh yang sudah berganti pakaian seperti semula, dirinya pun terlihat bonyok setelah dikeroyok oleh warga sebelumnya, masker yang menutupinya itu pun membuat lukanya tidak nampak. Dirinya langsung bergegas untuk menemui Rifki dan inti Gengcobra lainnya.


"Bay, kenapa bonyok gitu?" Tanya Rifki ketika melihat kedatangan Bayu dengan beberapa luka diujung bibirnya dan juga pipinya.


"Kejadiannya sangat parah Rif, sepertinya dia sudah pergi dari kota ini. Kita tidak akan menemukan Nadhira disini," Ucap Bayu dengan seriusnya.


"Maksudmu apa?" Tanya Rifki dengan tegasnya, dia tidak suka digantung dalam ucapan.


"Wanita itu memang Dhira, dia sudah melahirkan anaknya kemarin lusa, selamat Rif kau sudah menjadi seorang Ayah, anakmu cewek, Rif. Tapi sayang sekali kita kehilangan jejak kepergiannya,"


"Dia sudah melahirkan? Bay, kau serius?"


"Iya Rif, menurut informasi yang aku dapatkan, dia memang telah melahirkan seorang anak perempuan. Warga desa juga memanggilnya dengan nama Dhira, soal anaknya mereka tidak tau diberi nama siapa."


"Aku sudah menjadi seorang Ayah, Bay? Dan bayi itu, itu adalah anakku sendiri?"


"Iya Rif,"


Kedua mata Rifki pun berkaca kaca ketika mendengarnya, ia pun kembali memandangi kearah layar ponselnya dimana terlihat sebuah foto wanita bercadar yang tengah menggendong anaknya itu. Ia tidak menyangka bahwa bayi mungil tersebut adalah anak kandungnya yang telah lahir dari rahim Nadhira.


"Jadi bayi ini adalah anakku? Anak gadisku sendiri, dan darah dagingku, Bay. Dia benar benar anakku, Bay? Dhira sudah melahirkannya dengan selamat? Bay... Dia anakku" Ucap Rifki dengan tangisan haru.


"Dia memang anakmu Rif, dan kamu harus tau informasi yang aku dapatkan saat ini, maka kamu akan paham dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira untuk kalian berdua."


"Ada apa Bay? Apa mereka dalam bahaya?"


"Iya Rif, menurut informasi yang aku dapatkan kali ini, pasti kamu tidak akan menyangkanya Rif, mengapa warga desa disini kelihatan takut jika ditanya dengan sosok wanita bercadar itu. Ternyata musuhmu belum lenyap sepenuhnya Rif, mereka tengah mengincar nyawa anakmu itu,"


"Kalau begitu, kita harus menemukan Dhira dan anakku secepatnya, Bay. Aku ngak mau Dhira sampai kenapa kenapa, Bay. Apapun yang terjadi, dia ngak boleh terluka, apa yang terjadi dengan Dhira sebenarnya? Katakan Bay!"


"Rif... Dia pergi dan tidak ada yang tau kemana perginya saat ini, dia benar benar menyembunyikan identitasnya, Rif. Kita tidak akan bisa mencarinya dengan mudah,"


"Apa yang terjadi, Bay?"

__ADS_1


__ADS_2