Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pertengkaran antara ayah dan anak


__ADS_3

Ditampar oleh orang tua adalah hal yang sangat menyakitkan bagi perasaan anak anaknya, dan hal ini sangat menyakitkan bagi Rifki yang tidak menyangka bahwa ayah kandungnya akan melakukan hal ini kepadanya, apalagi dengan sangat kerasnya.


Selama ini Haris tidak pernah bersikap seperti itu kepada Rifki, dan baru pertama kalinya Haris menampar pipi Rifki dengan sangat kerasnya.


"Papa tidak menyangka bahwa anak yang Papa bangga banggakan selama ini akan mengatakan hal itu kepada Papa bahkan dengan memakai nada yang tinggi seperti itu"


Rifki kecewa dengan keputusan dari kedua orang tuanya itu, akan tetapi disisi lain Haris juga sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Rifki, Rifki tidak pernah bernada tinggi kepadanya selama ini akan tetapi kali ini Rifki melakukan itu.


"Sudah Mas jangan pukul Rifki lagi"


"Kenapa Papa memukul Kak Rifki? Ini pasti sangat menyakitkan bagi Kakak".


"Papa sama sekali tidak pernah mengajarkan hal seperti itu kepadamu Rifki! Kenapa kau begitu berubah sekarang? Tidak seperti Rifki yang Papa kenal selama ini".


Rifki segera melepaskan pegangan tangan Adiknya tersebut dari tangannya tersebut, melihat itu membuat Ayu merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Kakaknya itu, Ayu pun tidak mau melepaskan tangan Rifki dan hal itu membuat Rifki segera melepaskan pegangan tangannya dengan sangat kasarnya.


"Pukuli Rifki saja Pa! Sekalian bunuh Rifki juga! Rifki sudah tidak ingin hidup lagi, untuk apa Rifki hidup!Kalau kalian sama sekali tidak mengerti perasaan Rifki" Ucap Rifki dengan linangan air mata karena sudah tidak sanggup untuk menahan emosinya.


"RIFKI!" Bentak Putri.


"Kau sudah berani melawan Papa sekarang rupanya ha! Apakah gadis itu telah membutakan pikiranmu Rifki! Sadar Rifki!".


"Nadhira tidak salah Pa!"


Haris terlihat begitu kecewa dengan ucapan Rifki dan langsung memegangi kerah baju Rifki dengan sangat eratnya, anak dan ayah tersebut saling berpandangan satu sama lain dengan penuh emosi, dan hal itu membuat Putri dan Ayu mencoba untuk memisahkan keduanya.


"Sudah Mas, lepaskan Rifki" Ucap Putri sambil memegangi tangan suaminya itu.


"Pa, jangan berantem dengan Kakak, Ayu mohon, kasihan Kakak Rifki Pa" Ucap Ayu yang berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Haris dari kerah baju Rifki.


"Papa sangat kecewa denganmu Rifki".


"Pukul saja Rifki Pa!" Ucap Rifki marah dengan apa yang dilakukan oleh Haris kepadanya.


Bhukk..


"Mas!"


"Kak Rifki!"


Haris segera melontarkan sebuah tinju kepada pipi kiri Rifki dan hal itu membuat Rifki terjatuh ditanah dengan ujung bibir yang sobek sehingga adanya secercah darah diujung bibirnya, merasakan pedihnya luka itu membuat Rifki segera menghapus noda darah tersebut menggunakan ibu jarinya.


"Suatu hari kau pasti akan menyadari kesalahanmu Rifki, kami melakukan ini hanya untukmu Rifki, Papa merasa telah gagal mendidikmu dengan baik, suatu hari ketika kau sudah menjadi seorang Ayah kau akan paham dengan perasaan Papa, bagaimana kecewanya seorang orang tua seperti Papa Nak" Ucap Haris.


Rifki benar benar tidak menyangka bahwa Haris akan melontarkan sebuah pukulan yang sangat keras kepadanya, bahkan hingga membuatnya terbanting diatas tanah dengan kerasnya.


"Kakak, Kakak ngak apa apa kan?" Tanya Ayu yang segera mendekat kearah Rifki dengan air mata yang menetes dan membantunya untuk bangkit kembali.


Ayu merasa panik ketika mengetahui bahwa ujung bibir Rifki sekarang telah sobek dan mengeluarkan banyak darah hingga mengalir sampai kejanggutnya, meskipun Rifki sudah menghapusnya akan tetapi darah itu kembali mengalir.


"Kenapa Kakak berdarah seperti itu? Itu pasti sangat sakit kan Kak"


Luka seperti itu sudah biasa bagi Rifki dan luka itu tidak terlalu sakit baginya, akan tetapi yang membuatnya semakin menyakitkan adalah pelaku yang memberikan luka tersebut adalah orang yang selama ini ia hormati.


"Kakak ngak apa apa kok Ay, jangan nangis seperti ini Ay, Kakak tidak mau melihatmu menangis hanya karena Kakak" Jawab Rifki sambil memegangi pipi Adiknya itu dengan seutas senyuman yang terpancar diwajahnya itu.


"Kakak, Papa benar benar kelewatan saat ini, Papa telah menyakiti Kakak seperti ini".


"Ay, ini juga salah Kakak sendiri, sudah jangan nangis seperti itu hanya untuk Kakak, Kakak benar benar tidak kenapa kenapa kok Ay".


"PAPA! Kenapa Papa harus memukul Kakak seperti ini! Ayu kecewa sama Papa" Ucap Ayu dengan kerasnya sambil berlinangan air mata.


"Ay, Kakak ngak apa apa, ini hanya luka kecil saja kok, jangan benci kepada Papa ya, Ay kan Adik Kakak yang baik" Ucap Rifki sambil memegangi tangan Adiknya itu agar Ayu tidak ikut ikutan marah kepada kedua orang tuanya.


"Tapi Kak, Papa telah menyakiti Kakak".

__ADS_1


"Ay, sudah ya Kakak ngak apa apa kok".


"Mas! Apa yang kamu lakukan kepada Rifki, kenapa kamu harus memukul Rifki seperti ini? Apa tidak ada cara lain untuk melakukan itu?".


"Dek, biarkan dia sadar dengan kesalahannya itu, Rifki benar benar telah berubah gara gara gadis itu".


"Tapi ngak seperti ini juga Mas caranya, apa kau ingin menyakiti anak kita sendiri?".


"Pa! Nadhira tidak salah dalam hal ini! Rifki benar benar kecewa dengan kalian berdua, kenapa kalian melakukan ini kepada Rifki? Kenapa kalian pisahkan Rifki dari orang yang Rifki cintai, kenapa Pa? Kenapa Ma? Jawab pertanyaan Rifki, kesalahan apa yang telah Nadhira lakukan?"


"Rifki dengarkan Mama, Mama melakukan ini hanya untuk kebaikanmu Nak, Nadhira bukanlah gadis yang terbaik untuk dirimu".


"Arghhhh.... Kebaikan apa yang Mama maksud itu? Demi kebaikan Rifki ataukah hanya kepentingan kalian saja? Rifki berhak menentukan dengan siapa Rifki akan bersama suatu hari nanti".


"Rifki, Mama sangat menyayangimu Nak, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita, Mama melakukan ini hanya untuk memilihkanmu pasangan yang tepat, agar kau tidak menyesal dikemudian hari Nak".


"Bagaimana Mama bisa mengetahui pasangan yang tepat untuk Rifki? Hanya sepasang suami istrilah yang bisa mengetahui satu sama lain, bahkan orang terdekat pun belum tentu mengetahui watak seseorang yang sesungguhnya Ma".


"Rifki".


"Aku harus segera mencari Nadhira, aku tidak ingin kehilangan dirinya"


Rifki pun segera berbalik badan untuk melangkah pergi dari tempat itu, ia harus mencari tau tentang dimana keberadaan Nadhira saat ini dan membawanya kembali, Rifki tidak ingin membuat Nadhira pergi dari kehidupannya.


"Rifki berhenti!" Teriak Putri.


Teriakkan itu seketika menghentikan langkah Rifki, akan tetapi beberapa detik kemudian Rifki kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu, akan tetapi beberapa langkah kemudian dirinya menghentikan langkahnya lagi setelah mendengar teriakan dari Putri.


"Rifki! Apa kau menginginkan Mama mati!" Teriak Putri dan seketika membuat Rifki menoleh.


"Apa yang Mama lakukan?" Tanya Rifki terkejut ketika melihat kearah Putri.


Putri memegangi sebuah pisau yang sebelumnya berada di keranjang buah buahan yang ada dimana Putri dan Haris sedang berbincang bincang sebelumnya, Putri pun mengarahkan ujung pisau yang tajam itu kearah lehernya sendiri.


"Apa kau benar benar menginginkan Mama mati?" Tanya Putri sambil memandang kearah Rifki.


"Pergilah dan cari perempuan itu! Jangan pedulikan Mama lagi Rifki, mungkin setelah ini kau tidak akan bisa melihat wajah Mama".


"Pa! Kenapa Papa diam saja! Cepat hentikan Mama!" Rifki meminta kepada Papanya untuk menghentikan apa yang tengah dilakukan oleh Mamanya.


"Dek, turunkan pisaunya sekarang ya, jangan main main dengan benda tajam seperti itu" Ucap Haris kepada Putri.


"Biarkan saja, biar Mama mati sekalian, untuk apa Mama hidup kalau Mama sudah tidak berarti lagi bagi anak anak Mama".


Rifki begitu terkejut, kenapa tiba tiba Mamanya menjadi nekat seperti ini, ia bahkan rela mengancam dirinya dengan cara ingin membunuh diri sendiri, hanya untuk memisahkan antara dirinya dengan Nadhira orang yang paling ia cintai.


"Apa yang Mama inginkan dari Rifki sebenarnya? Tolong lepaskan pisau itu sekarang juga Ma, Rifki mohon kepada Mama" Tanya Rifki yang perlahan lahan mendekat kearah Mamanya.


Putri yakin bahwa Rifki tidak akan membiarkan dirinya dalam bahaya sekalipun itu, dan hal itu membuat Putri memanfaatkan situasinya agar Rifki segera melupakan Nadhira dan menerima perjodohan yang telah ditentukan olehnya.


"Kamu pilih Mama atau gadis itu Rifki?".


"Rifki tidak bisa memutuskan hal itu Ma, Rifki sangat menyayangi kalian berdua, bagaimana mungkin Rifki bisa memutuskan salah satu diantara Mama dan Nadhira".


"Mama tanya kepadamu Rif, apa kau memilih Nadhira? Jika kau melakukan itu maka biarkan Mama mati sekalian, tapi jika kau memilih Mama maka lupakan saja tentang Nadhira untuk selamanya".


"Ma, Rifki sangat menyayangi Mama, tapi Rifki juga tidak bisa kehilangan Nadhira".


"Jadi kau menginginkan Mama mati?" Putri segera mengeratkan pegangannya dan menempelkan sedikit ujung pisau itu dilehernya.


"Jangan Ma! Baiklah, Rifki akan menuruti keinginan Mama, Rifki tidak ingin kehilangan Mama, Mama taruh ya pisaunya".


Putri pun mengangguk kearah Rifki dan menaruh pisau yang ada ditangannya kembali kekeranjang buah buahan dan hal itu membuat Rifki mampu bernafas lega kembali.


Mendengar ucapan Rifki sekilas terlihat untaian senyuman diwajah Putri, sementara disatu sisi Rifki hanya memaksakan diri untuk dapat tersenyum kearah Mamanya padahal hatinya sendiri sedang hancur saat ini, karena dirinya tidak bisa bersama dengan Nadhira, orang yang paling dia cintai.

__ADS_1


"Mama akan atur pertemuan antara kalian, dia gadis yang baik Rifki, dia adalah anak sahabat Mama".


"Terserah Mama" Ucap Rifki acuh tak acuh.


"Nak, cinta datang karena terbiasa, mungkin setelah bertemu dengannya dan kenal lebih dekat dengannya, kau pasti akan terbiasa dengan dirinya".


"Rifki mau kekamar dulu Ma".


Tanpa kata kata Rifki segera bergegas meninggalkan tempat tersebut, Ayu yang hanya berdiam diri sejak tadi segera mengejar Kakaknya tersebut, Putri dapat melihat kesedihan dihati Rifki akan tetapi dirinya tidak punya pilihan lain, sementara Haris merasa bahagia karena Rifki akhirnya menerima perjodohan itu meskipun harus ada drama.


"Kak, tungguin Ayu lah" Keluh Ayu yang berusaha menyamakan langkahnya dengan Rifki.


"Ada apa sih Ay, pergi kekamar kamu saja sana Ay, Kakak pengen sendirian, jangan ganggu Kakak" Ucap Rifki dan terus melangkah pergi meninggalkan Ayu.


"Apa Kakak mencintai Kak Nadhira?" Tanya Ayu tiba tiba dan membuat Rifki berhenti melangkah ketika akan memasuki kamarnya.


"Ngerti apa kamu soal cinta, sudah belajar saja sana yang bener, jangan ikut campur urusan Kakak".


"Tapi Kak....".


"Kakak capek, Kakak pengen tidur".


Rifki segera menutup pintu kamarnya dan tidak membiarkan Ayu untuk masuk kedalam kamarnya, Rifki menguncinya dari dalam dan dia benar benar membutuhkan ketenangan batin dan pikirannya.


"Siapa kamu!"


Ketika Rifki membalik badannya dari menghadap kearah pintu, Rifki begitu terkejut ketika menemukan sosok pria paruh baya tengah berdiri dihadapannya dengan kedua matanya yang memancarkan warna merah keemasan, sedang menatap kearah Rifki.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rifki, sosok pria paruh baya tersebut mendadak hilang dari pandangan Rifki, dan hal itu membuat Rifki menoleh kesana kemari untuk mencari sosok tersebut.


"Kenapa sosok itu datang kemari? Apa tujuannya datang kemari? Bagaimana dia bisa masuk kesini? Bukankah aku telah memberi pagar gaib dikamarku"


Rifki pun memandangi kearah sekitarnya untuk mencari sosok tersebut, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya, dirinya sangat kebingungan dengan kedatangan dari mahluk itu tiba tiba apalagi kamarnya yang telah diberi pagar gaib itu, agar mahluk gaib tidak dapat masuk.


Rifki pun berjalan menuju ketempat duduknya yang ada dikamar tersebut sambil menghadap kearah luar kamarnya, menatap indahnya langit disore itu, dan adanya sedikit cahaya oren yang begitu indah.


"Dhira, kamu dimana? Maafkan aku, kamu pasti terluka karena ucapan Mama waktu itu kan, maafkan aku Dhira karena membiarkanmu pulang dengan Mama waktu itu, pulanglah Dhira aku sangat merindukan dirimu".


Rifki menatap kearah indahnya senja sore ini dengan penuh harap agar Nadhira segera pulang, seperti indahnya senja ini, Rifki berharap bahwa semuanya akan berakhir dengan bahagia.


*****


Sore ini, Nadhira duduk termenung di balkon sebuah villa yang ia sewa, Nadhira pun memandang kearah langit dimana adanya senja yang begitu indah, tanpa dia sadari bahwa adanya setetes air mata jatuh mengenai pipinya.


"Rifki, ku harap kau segera melupakan diriku, biarkan diriku yang akan menanggung rasa sakit ini sendirian, aku tidak ingin kau merasakannya".


Nadhira menyandarkan tubuhnya ke kursi tersebut sambil menatap kearah senja, senja itu begitu indah tapi hanya sesaat saja, dirinya begitu sangat merindukan Rifki akan tetapi dirinya tidak berani untuk menghubungi Rifki, walaupun hanya menanyakan kabarnya saja.


Entah kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga membuat Mamanya Rifki menjodohkan dirinya dengan orang lain, hubungan yang telah lama ia tunggu tunggu seketika lenyap begitu saja, setelah lama penantian panjang akan tetapi kedua orang tua Rifki tidak menyetujui hubungan tersebut.


Sudah lima tahun lamanya dirinya menunggu kepulangan Rifki dari luar negeri, menahan rindu yang sangat membara, dan kini penantian itu sia sia, ia harus mengikhlaskan Rifki bersama dengan orang lain walaupun dirinya harus terluka.


"Rifki, apapun akan aku lakukan asalkan kau bahagia, biarkan aku yang memendam semuanya dan rasa sakit ini, ku mohon cepatlah lupakan diriku agar kau tidak terlalu terluka karena ini"


Nadhira menatap dengan linangan air mata yang membasahi pipinya, penantian panjang yang ia tunggu tunggu selama ini seketika hancur begitu saja dan menciptakan sebuah luka yang sangat menyakitkan didalam hatinya.


Rifki adalah sosok seorang lelaki yang paling ia sayangi setelah Ayahnya, kekerasan mental dan fisik yang ia dapatkan sedari kecil membuatnya tidak mampu lagi mengenali siapa jati dirinya, akan tetapi kasih sayang yang diberikan oleh Rifki membuatnya mampu bertahan hingga detik ini.


Sosok Ayah bagi anak perempuan bagaikan cinta pertamanya akan tetapi ketika dirinya melukai hati putri kecilnya maka putri kecilnya akan melampiaskan kepada laki laki lain untuk dapat mencurahkan isi hatinya, seandainya Rifki tidak pernah hadir dalam kehidupannya mungkin dirinya tidak akan sanggup untuk bertahan hidup.


Setelah kepergian dari Mamanya paska kecelakaan mobil yang masuk kedalam sebuah jurang, disaat itu dirinya benar benar hancur, dirinya telah kehilangan rumahnya tempat dimana dia bisa mencurahkan seluruh isi hatinya, sejak kedatangan ibu tirinya rumah itu bagaikan seperti sebuah neraka.


Dan saat itu Nadhira merasa bahwa ketika semua orang membencinya, hanya ada satu laki laki yang menyayanginya dengan tulus dan menyemangatinya untuk terus melangkah meskipun banyaknya rintangan yang menerjang, laki laki itu adalah Rifki.


Apalah daya ketika takdir benar benar memisahkan keduanya, kehidupan harus terus berjalan dan akan banyak rintangan yang menerpa mereka nantinya, ia ingin sekali menghentikan kisah ini, akan tetapi dia tidak mampu untuk pergi meninggalkan orang yang ia cintai untuk selama lamanya.

__ADS_1


"Rifki, kau begitu sangat berarti bagiku, ku harap kau bahagia untuk selamanya meskipun bukan diriku yang akan membahagiakan dirimu Rifki, aku sangat menyayangimu Rifki untuk hari ini dan selamanya, Pangeranku Rifkiku, hanya kaulah alasanku untuk dapat bahagia Rifki".


__ADS_2