
Putri lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, setelah itu ia menekan nomor 'Anak ganteng' disana, akan tetapi telponnya sama sekali tidak terhubung dengan Rifki dan bahkan terdengar suara 'Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi' dan hal itu membuat Putri langsung mematikan telponnya.
"Ngak bisa juga Nak" Ucap Putri yang terus mencoba untuk menghubungi Rifki.
"Dia tidak akan bisa dihubungi" Ucap Haris tiba tiba.
Haris menyerahkan sebuah ponsel kearah kedua orang itu, iya itu adalah ponsel Rifki yang telah hancur, layarnya pecah, kacanya sebagian telah hilang dan bahkan benda pipih itu sedikit parah.
"Mas! Kau sungguh keterlaluan" Sentak Putri.
"Aku tidak mau dengar namanya lagi, jangan berdebat denganku, aku tidak suka" Jawab Haris dan lalu membalikkan badannya untuk melangkah pergi dari sana, "Ayo pulang".
"Kenapa kau tega memisahkanku dari anakku lagi, sudah cukup kau pisahkan aku sejak Rifki kecil, kenapa kau pisahkan lagi saat Rifki sudah dewasa"
"Dia pantas mendapatkannya" Jawab Haris singkat.
"Pa.." Belum selesai Nadhira berbicara, Haris langsung segera memotong pembicaraannya.
"Bukankah kau tidak mau bertemu dengan dia lagi? Kenapa kau membelanya? Dia tidak akan pernah kembali, Papa hanya mencoba untuk memenuhi keinginanmu Nak" Nada suara Haris begitu lembut kepada Nadhira.
"Makasih Pa, tapi kenapa ponselnya bisa rusak seperti ini? Ini adalah ponsel kesayangannya"
"Papa banting"
Setelah mengatakan itu Haris kembali melangkahkan kakinya untuk menjauh dari tempat tersebut dan langsung diikuti oleh kedua wanita itu, jawaban Haris membuat perasaan Nadhira bercampur aduk menjadi satu, antara khawatir, benci, sedih, dan kecewa.
Nadhira mengenggam erat ponsel Rifki yang ada ditangannya itu, Haris benar benar telah mengusir lelaki itu dan bahkan telah menghajarnya, entah kemana perginya Rifki saat ini, dia bahkan tidak bisa untuk dihubungi oleh siapapun.
Keduanya langsung masuk kedalam mobil setelah Haris menyuruhnya untuk masuk kedalam, tanpa banyak bicara keduanya pun langsung bergegas masuk karena tidak mau lelaki itu akan marah nantinya kalau tidak dituruti.
Nadhira duduk disebelah Putri dan menyandarkan kepalanya dipundak Putri, sementara Haris duduk didepan dan bersebelahan dengan sopir pribadinya, Nadhira nampak memandang jauh kearah depan, meskipun begitu tangannya masih memegangi ponsel milik Rifki.
"Oh iya Nak, Papa tadi sudah membelikanmu salad buah, kamu suka salad buah kan?" Tanya Haris.
"Itu dulu Pa, Rifki yang selalu menyuapiku, sekarang udah ngak suka"
"Biar Papa saja yang menguapimu nanti, kamu harus lebih banyak makan makanan yang sehat"
"Ngak Pa, untuk Mama aja, nanti Dhira makin inget dengan anak Dhira yang udah ngak ada"
"Iya udah kalo gitu, Papa ngak bisa maksa"
Sopir mobil itu pun melajukan mobilnya untuk meninggalkan halaman rumah sakit itu, Nadhira lalu memandang kearah cendela mobil tersebut dan melihat bahwa mereka telah pergi dari rumah sakit tersebut perlahan lahan.
Putri yang melihat Nadhira mengenggam erat ponsel Rifki yang ada ditangannya itu membuat Putri langsung memegangi tangan Nadhira hingga membuat Nadhira menoleh kearah Putri, Putri hanya mengangguk kepada Nadhira.
"Dia pasti baik baik saja" Bisik Putri kepada Nadhira.
Pernyataan itu seketika membuat Nadhira kembali teringat tentang bungkus sebuah obat yang ia temukan didalam tas milik Rifki, dan juga teringat wajah Rifki yang mengerut kesakitan yang pernah ia lihat ketika Rifki bangun tidur.
"Tas Rifki mana Ma?" Tanya Nadhira tiba tiba.
"Tas? Tas apa Nak?" Tanya Putri kebingungan.
"Tas yang berisikan sajadah dan kopyah milik Rifki"
"Ada dikursi belakang, ada apa? Kenapa tiba tiba menanyakan tas itu?"
"Kemaren Dhira ngak sengaja lihat bungkus obat disana, itu obat untuk luka yang parah, dan Dhira juga ngak sengaja lihat Rifki seperti meringis kesakitan waktu bangun tidur"
"Bentar Mama ambil tasnya dulu"
Putri lalu bangkit dari duduknya untuk meraih tas ransel milik Rifki yang ada dikursi belakang mobil itu, ia pun mengambilnya dan kembali duduk disebelah Nadhira, setelah itu Nadhira langsung membuka tas tersebut untuk mencari barang yang ia maksud.
"Kok ngak ada ya Ma, padahal tadinya ada kok Ma, kenapa sekarang udah ngak ada, apa jangan jangan Rifki sudah menyembunyikannya lagi" Ucap Nadhira setelah berusaha mencari bungkus obat tersebut.
"Mungkin kamu salah lihat kali Nak, Mama rasa dia tidak kenapa kenapa, kenapa dia harus mengonsumsi obat seperti itu?"
"Ngak Ma, beneran Dhira ngelihat bungkus obat itu kemarin kok Ma, tapi Rifki lalu mengambilnya dari tangan Dhira tanpa mau menjawab pertanyaan Dhira kepadanya Ma"
"Rifki sakit?" Tanya Haris.
"Dhira ngak yakin, tapi Dhira beneran lihat Pa, dia minum obat itu" Jawab Nadhira.
__ADS_1
"Baguslah" Jawab Haris acuh tak acuh.
"Papa kok gitu?"
"Bukankah kamu sudah ngak peduli dengan Rifki? Kenapa kamu khawatir soal dia? Seharusnya kamu senang dong, sebentar lagi dia pulang"
"MAS! Sebenarnya kamu kenapa sih? Dia anak kita Mas, kenapa ucapanmu seolah olah menginginkan dia pergi" Sentak Putri.
"Biarkan saja dia pergi"
"Tapi dia kan tetap suami Dhira, Pa"
"Kamu masih mencintainya?"
Pertanyaan tersebut langsung membuat Nadhira menundukkan kepalanya dalam, tidak bisa bohong jika dia tidak mencintai Rifki, Nadhira masih sangat mencintai Rifki akan tetapi dia masih marah dengan dirinya sampai saat ini.
*****
"Luka anda sudah mulai mengering saat ini, usahakan jangan terkena air dulu untuk beberapa minggu, atau ngak lukanya bakalan semakin parah nanti, apakah masih suka kambuh sakitnya?" Tanya seorang Dokter lelaki kepada Rifki didalam sebuah ruangan serba putih.
Rifki kini tengah berada didalam ruangan serba putih dan tengkurap di atas kasur rumah sakit untuk mengobati lukanya itu, lukanya itu terasa sangat panas dan perih tiba tiba hingga membuat Rifki tidak tahan dan langsung bergegas menuju UGD untuk mengobati lukanya itu.
"Kadang rasanya kambuh Dok, tapi setelah minum obat yang Dokter kasih rasanya sedikit berkurang, apakah butuh waktu selama itu untuk sembuh?" Tanya Rifki yang sedang tengkurap di atas bangkar rumah sakit sambil memeluk sebuah bantal yang biasanya digunakan oleh pasien.
"Tergantung anda bisa menjaga kondisi anda atau tidaknya, jika lukanya kembali terkena air maka akan sulit untuk disembuhkan, pilihan ada ditangan anda sendiri, jika kambuh lagi segera datang kemari saya akan buatkan resep baru nanti"
"Iya Dok, terima kasih, saya akan berusaha untuk menjaga lukanya agar tetap kering beberapa hari ini, dan tidak akan mengulangi kesalahan seperti yang sebelumnya Dok"
"Ya sudah, saya perban dulu ya lukanya"
"Iya Dok"
Dokter tersebut pun mengoleskan sesuatu diluka Rifki, rasanya perih dan panas bagi Rifki, Rifki harus menahannya agar lukanya itu segera sembuh sehingga dia bisa beraktivitas seperti biasanya lagi.
Semenjak adanya luka itu, Rifki tidak bisa bergerak dengan bebas, karena beberapa kali jika digunakan untuk bergerak paksa akan menimbulkan rasa sakit yang mendalam untuk Rifki, hal itu membuatnya harus berhati hati dalam bergerak.
"Apakah anda sering tidur dengan kondisi duduk?"
"Istri saya dirumah sakit Dok, jadi dengan terpaksa harus tidur di sofa"
"Iya Dok, untuk belakang ini saya akan istirahat total sampai benar benar sembuh"
"Baiklah kalo begitu, sudah selesai, semoga cepat sembuh" Ucap Dokter tersebut setelah selesai memasang perban diluka Rifki tersebut.
"Iya Dok, terima kasih"
*****
Nadhira kini telah sampai dirumah kedua orang tua Rifki, biasanya Nadhira akan datang ketempat itu bersama dengan Rifki akan tetapi kali ini ia datang sendiri sementara Rifki pergi entah kemana, dirinya pun tidak mengetahui tentang itu.
Haris lalu mengajak Nadhira untuk masuk kedalam rumah tersebut dan mengajak Nadhira untuk masuk kedalam kamar Rifki, kamar itu tertata dengan rapinya meskipun tidak ditinggali, pembantu yang ada dirumah itu tiap hari membersihkannya sehingga tidak ada debu yang menempel disana.
"Kamu tidur disini" Ucap Haris.
"Ini kan kamar Rifki, Pa" Ucap Nadhira.
"Iya memang kamar Rifki, kamar yang lainnya belum dibersihkan Nak, mau tidur sama Ayu? Apakah karena barang barang milik Rifki disini? Nanti Papa suruh Bi Nina untuk membuang semuanya saja"
"Jangan Pa, ini barang barang kesayangan Rifki, Dhira ngak apa apa kok tidur disini"
"Beneran kamu ngak akan terganggu dengan barang barang seperti ini disini?"
"Ngak Pa"
"Ya sudah kalo begitu, kamu istirahat dulu disini, Papa mau kekamar dulu, kalo ada apa apa bilang sama Papa atau panggil Bi Nina"
"Iya Pa"
Haris lalu meninggalkan kamar Nadhira sendirian dikamar itu dan menutup pintunya dengan perlahan lahan, Nadhira pun mendekat kearah meja Rifki dan memandangi buku buku yang ada disana, Rifki suka membaca buku jikalau dia merasa bosan sehingga buku buku yang ada disana sangat banyak.
"Kamu dimana Rif?" Guman Nadhira pelan.
Nadhira duduk disebuah kursi yang biasanya digunakan oleh Rifki ketika sedang membaca buku, Nadhira menemukan sebuah secarik kertas yang berada diselipan buku buku Rifki yang tertumbuk, dan lalu mengambilnya.
__ADS_1
Nadhira lalu membukanya dan membacanya dalam hati, Nadhira tersenyum sendiri ketika melihat tulisan yang ada didalam kertas tersebut, itu adalah tulisan dari Rifki karena Nadhira hafal bagaimana bentuk tulisan tangan Rifki.
"Kau selalu membuatku tersenyum Rif, bagaimana bisa aku marah marahan denganmu, tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakan itu kepadamu, dimana kamu sekarang Rif, aku rindu"
*****
Nadhira sendiri keluar dari rumah Rifki, entah kemana dia akan pergi saat ini, dia ingin mencari Rifki tapi dia tidak tau kemana perginya Rifki saat ini, sehingga dirinya terus melangkah entah kemana.
Dari kejauhan ia melihat seorang wanita tua yang tengah dipukuli oleh orang orang, melihat itu membuat Nadhira segera berlari kearahnya, untuk menghentikan aksi meraka yang tengah memukuli wanita tersebut.
"Pak ini ada apa? Kenapa dia dipukuli seperti ini!" Teriak Nadhira seraya menghentikan mereka.
Sepertinya teriakan itu sama sekali tidak didengar oleh mereka, mereka justru kembali menghantam tubuh wanita paruh baya tersebut, melihat itu membuat Nadhira segera menghadang serangan mereka untuk menghentikan tindakan mereka yang main hakim sendiri.
"Semuanya bisa dijelaskan! Ngak usah pukul pukul seperti ini! Jangan pernah menganggap bahwa kalian itu paling benar!" Teriak Nadhira membela wanita paruh baya tersebut.
"Dia seorang maling! Tidak pantas diberi ampunan" Jawab seorang lelaki berbadan gendut.
Nadhira menatap kearah wanita yang tengah ketakutan dan sedang ia pegangi itu, "Apakah itu benar Bu?" Tanya Nadhira.
"Maafkan saya, saya hanya mengambil sebungkus roti Mbak, saya belum makan dua hari, saya lapar dan saya ..."
Belum sempat wanita tersebut melanjutkan perkataannya tiba tiba tangan terkepal milik lelaki gendut tersebut mengenai kepala wanita paruh baya itu, hal itu langsung membuat Nadhira melotot dan melontarkan pukulan balik kepada lelaki tersebut.
"JANGAN KASAR DENGAN WANITA! AKU TAU DIA SALAH TAPI KAU TIDAK BERHAK MEMUKULNYA!" Bentak Nadhira dengan emosi yang memuncak.
"KENAPA KAU BELA DIA! APA JANGAN JANGAN KAU SEKUTUNYA! KALIAN SEMUA PUKULI WANITA INI JUGA!" Bentak lelaki itu balik.
Mendengar itu membuat Nadhira langsung memeluk wanita paruh baya tersebut untuk melindungi wanita itu dari amukan warga, para warga tersebut langsung menghujani keduanya pukulan yang sangat keras tiba tiba Nadhira merasakan ada seseorang yang memeluknya untuk melindungi dirinya.
Seorang lelaki tengah memeluk tubuhnya dari belakang untuk melindungi Nadhira dari pukulan orang orang tersebut, punggungnya yang terluka itu pun kembali mengeluarkan darah segar dengan deras hingga membasahi bajunya karena pukulan dari orang orang itu akan tetapi dia sama sekali tidak mempedulikannya.
"Kau tidak apa apa kan?" Suara lelaki itu nampak begitu berat dan Nadhira seperti mengenalinya.
"Polisi! Polisi!" Teriak beberapa warga mendekati mereka, untuk menghentikan aksi mereka itu.
Para warga pun berhamburan pergi dari tempat itu, begitupun dengan orang yang memeluk tubuh Nadhira dari belakang itu pun ikut menghilang seiring dengan orang orang yang tengah berlarian, belum sempat Nadhira melihat siapa orang itu akan tetapi dia tidak menemukannya setelah menoleh.
"Dimana dia? Kenapa dia pergi lagi? Rif, aku tau kamu disini untuk melindungiku, dimana kamu Rif?"
Nadhira mengenali suara tersebut adalah suara Rifki, akan tetapi dirinya tidak menemukan lelaki itu karena para warga yang ramai berlarian sehingga dirinya tidak bisa mengetahui kemana perginya Rifki setelah melindunginya.
"Ibu tidak apa apa kan?" Tanya Nadhira kepada wanita paruh baya tersebut.
"Terima kasih telah menolong saya, Mbak. Kamu wanita yang baik, gara gara saya, kamu jadi ikut dipukuli oleh orang orang itu"
"Ngak masalah kok Bu, sebenarnya ada apa? Kenapa anda bisa dipukuli oleh mereka?"
"Saya terpaksa harus mengambil sebungkus roti Mbak, anak saya belum makan sejak kemarin digubuk saya, saya tau ini dosa, tapi saya tidak punya cara lain Mbak, saya benar benar tidak punya uang, mau bekerja tapi tidak ada yang mau menerima saya, saya kasihan dengan anak saya karena belum makan"
"Jadi Ibu hanya mengambil sebungkus roti saja?"
"Iya Mbak" Wanita tersebut lalu mengeluarkan sebungkus roti yang ukuran kecil dan menyerahkannya kepada Nadhira, "ini dia buktinya, saya tidak mengambil yang lain, hanya mengambil roti ini saja Mbak"
"Bisa Ibu antarkan saya, ketempat dimana Ibu mengambilnya tadi?"
"Tapi Mbak, saya takut"
"Tenang, jangan takut Bu, ada aku disini"
( Author : banyak orang yang dibunuh karena hanya mencuri secuil roti demi mengisi perut mereka didunia nyata, secuil roti tidak akan membuat kalian jatuh miskin tapi dengan cara menghilangkan nyawa mereka apa kalian bisa mengembalikan nyawa mereka seperti semula? Kenapa harus mereka yang dibunuh? Kenapa bukan tikus berdasi saja yang kalian incar? Yang sudah jelas jelas merugikan banyak orang,, pikirkan baik baik, sudahkah kita bersyukur hari ini karena bisa mengisi perut kita? Jangan lupa bersyukur, karena diluar sana banyak orang yang tidak mampu untuk makan )
"Tapi Mbak, bagaimana nanti kita dipukuli mereka balik? Maafkan saya karena saya telah membuat anda terlibat dalam masalah saya"
"Ini roti bukan hak Ibu, jadi saya akan membelinya kepada orang itu, dan akan meminta maaf kepada penjual itu atas nama Ibu, jangan takut ya Bu"
"Baiklah Mbak, saya akan mengantarkan anda kepada penjual itu"
"Iya, ayo Bu, saya bantu berdiri ya"
Nadhira lalu membantu wanita paruh baya tersebut untuk berdiri kembali, ia pun membersihkan celananya karena banyak debu dan pasir yang menempel dicelana tersebut dengan cara mengibas ngibaskan tangannya dipakaiannya.
"Ibu masih bisa jalan kan?" Tanya Nadhira.
__ADS_1
"Bisa kok Mbak"
Keduanya pun bergegas pergi dari tempat itu untuk menuju ke warung dimana wanita paruh baya tersebut mengambil roti, Nadhira memegangi tangan wanita tersebut yang gemetaran dengan erat seraya menguatkan wanita itu.