Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kenapa dia tidak datang untukku?


__ADS_3

Ketika melewati pintu rumah Nadhira, Nadhira segera menghapus air mata tersebut, ia pun segera bergegas masuk kedalam kamarnya, tanpa ia sadari bahwa Bi Ira tengah melihatnya dan langsung bergegas mendatangi Nadhira dikamarnya.


Nadhira segera menutup pintu kamarnya dan menjatuhkan barang barang yang ia bawa termasuk juga tas dan hpnya, dengan perasaan yang begitu tersiksa akhirnya Nadhira juga menjatuhkan tubuhnya didekat ranjang tidurnya itu.


Nadhira pun mendekap sebuah boneka yang ada didalam kamarnya, dan langsung memeluknya dengan sangat erat, tanpa Nadhira sadari bahwa kini Bi Ira sudah ada didepannya dan Nadhira juga tidak menyadari bahwa pintunya telah dibuka oleh Bi Ira.


"Kamu kenapa Nak?" Tanya Bi Ira sambil mendekat kearah Nadhira.


"Ibu".


"Kenapa menangis, sini cerita dengan Ibu" Ucap Bi Ira sambil memeluk tubuh Nadhira.


Dan pelukan tersebut seketika membuat isak tangis Nadhira terdengar begitu jelas, isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pun pecah begitu saja didalam pelukan sang ibu angkat, dan Nadhira pun segera memeluk tubuh Bi Ira kembali.


"Ceritakan saja kepada Ibu, biar kamu bisa merasa lebih tenang Nak" Ucap Bi Ira sambil mengusap punggung Nadhira dengan lembut.


"Ibu, apakah ada yang kurang dari diriku?" Tanya Nadhira sambil menatap kearah Bi Ira.


"Tidak ada Nak, bagi Ibu Nadhira adalah perempuan yang sempurna, Nadhira baik, dan juga cantik, ada apa? Kenapa menanyakan hal itu?".


"Tapi kenapa Ibunya Rifki memintaku untuk menjauhi Rifki, padahal aku sangat mencintainya Bu, lalu bagaimana aku bisa melakukan itu hiks.. hiks.. hiks.. kenapa dia mengatakan hal itu kepadaku Bu? Apa kesalahan yang telah aku lakukan?"


"Kamu yang sabar ya Nak, mungkin dia memiliki maksud tertentu, pasrahkan segalanya kepada Allah, jika benar dia adalah jodohmu maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk bersatu denganmu, sekalipun maut sendiri yang memisahkannya".


"Aku tidak akan mampu untuk melakukan itu Bu, apalagi harus melihatnya dekat dengan wanita lain, aku tidak akan sanggup Bu".


"Dhira, kamu percaya takdir kan? Seberapapun kamu menghindarinya, takdir akan mampu untuk mencari jalannya sendiri, jika memang Rifki bukan yang terbaik untukmu maka dia akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik kepadamu, begitupun dengan sebaliknya, jika memang Rifki adalah takdirmu, kalian akan tetap bersama meskipun akan banyak rintangan yang menghadang kalian".


"Hatiku merasa sakit Bu, Tante Putri bilang kalau dia tidak akan pernah merestui hubunganku dengan Rifki, aku sangat terluka Bu".


Nadhira mengeratkan pelukannya kepada Bi Ira, air matanya pun bercucuran dengan derasnya, dan hal itu membuat Bi Ira juga merasa sedih ketika melihat Nadhira menangis seperti itu, ia pun kembali memeluk Nadhira dan sesekali membelainya dengan penuh kasih sayang.


Ini hal yang sangat menyakitkan bagi Nadhira, dimana dirinya harus menjauhi orang yang dia cintai karena keinginan dari orang tuanya, air mata pun tak lagi dapat dibendung kembali setelah mendengar bahwa orang yang dicintainya telah dijodohkan dengan orang lain.


"Sudah ya, jangan menangis lagi, serahkan semuanya kepada Allah, semuanya akan baik baik saja Nak".


"Aku hanya ingin bersama dengan Rifki Bu, dan aku tidak ingin yang lainnya, bagaimana aku bisa melihat dia bersama dengan orang lain nantinya?".


"Ibu tau Nak, ini akan sangat berat bagi dirimu, berpisah dengan orang yang sangat dicintai itu tidaklah mudah, tapi bersama dengan orang yang dicintai itu juga penuh perjuangan, berdoalah semoga keluarga Rifki segera merestui hubungan kalian berdua".


"Semoga saja Bu".


"Siang dan malam tidak akan pernah bisa bersatu Dhira, dan Allah mampu menyatukan keduanya jika Allah sudah berkehendak, maka terjadilah gerhana matahari total, tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika Allah sudah berkehendak, sudah pasrahkan saja semuanya kepada Allah".


"Aku tau itu Bu, tapi ini sangat menyakitkan bagi Dhira, bahkan aku tidak pernah bisa menjauh dari Rifki Bu, ini adalah mimpi buruk bagi Dhira Bu, bahkan tangan ini gemetaran disaat bersimbah darah, darah milik Rifki hiks.. hiks.. hiks.." Ucap Nadhira sambil memandangi kedua tangannya, "Aku tidak mau kehilangan Rifki Bu hiks.. hiks.. hiks.. aku juga tidak bisa berpisah darinya".


"Jika perasaan kalian sama sama saling mencintai, apapun rintangan kedepannya, kalian akan tetap bersama Nak, karena jodoh, maut, dan rezeki sudah ditentukan sebelumnya kita lahir didunia".


"Ibu, tolong temani Dhira tidur malam ini ya, Dhira ingin tidur bersama Ibu, Dhira tidak mau tidur sendiri malam ini Bu".


"Iya Nak".


Nadhira pun bangkit dari duduknya dan segera bergegas naik keatas kasurnya, hal itu diikuti oleh Bi Ira yang langsung merebahkan tubuhnya disamping Nadhira, masih terdengar isak tangis dari mulut Nadhira saat ini dan hal itu membuat Bi Ira merasa begitu sedih ketika mendengarnya.


*****


Keesokan paginya, Rifki terbangun dari tidurnya dan menatap kearah langit langit ruang kamar inapnya, ketika dirinya merasakan bahwa tangannya sedikit perih karena diberi suntikan oleh seorang Dokter wanita dipagi ini.


Rifki begitu terkejut karena pagi ini bukan Nadhira yang membangunkannya melainkan seorang Dokter yang tiba tiba memberikan sebuah suntikkan kepada dirinya, biasanya Nadhira akan membangun dirinya dan dia datang sebelum Dokter memeriksanya.


"Jam berapa sekarang Dok?" Tanya Rifki.

__ADS_1


"Sekarang masih jam 8 pagi Mas" Jawaban sambil mengganti tabung infus yang baru.


"Jam 8 pagi? Tapi kenapa Nadhira belum juga datang kemari? Apa dia lupa kalau aku akan pulang hari ini? Biasanya, jam 6 pagi sudah sampai disini saja" Guman Rifki pelan.


Setelah mengganti tabung infus tersebut, Dokter itu segera bergegas keluar dari ruangan Rifki, dan hal itu membuat Rifki segera bangkit dari tempat tidurnya, ia pun mengambil tabung infus yang terpasang didekatnya dan membawanya untuk bergegas keluar dari ruangan itu.


"Kenapa dia tidak datang? Apakah dia lupa dengan hari ini?"


Rifki berjalan dengan berhati hati, ia pun segera membuka pintu ruangannya setelah dirinya sampai didepan pintu tersebut, melihat Rifki yang tengah berdiri didepan pintu membuat anggota Gengcobra begitu terkejut dan segera mendatanginya.


"Tuan Muda mau kemana?" Tanya Reno ketika sudah berada didepan Rifki.


Rifki berdiri didepan pintu sambil menoleh kesana kemari untuk mencari sosok Nadhira, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan kehadiran Nadhira ditempat itu.


"Dimana Dhira? Apa dia belum datang kemari? Tidak biasanya dia jam segini belum datang untuk menjengukku" Tanya Rifki balik.


"Kami belum melihatnya datang kemari sejak dari tadi Tuan Muda"


"Tumben sekali dia belum datang sampai jam segini, apa telah terjadi sesuatu dengan Dhira? Apa Dhira dalam masalah sekarang?".


"Kami tidak tau Tuan Muda, salah satu anak Gengcobra yang mengawasi Nadhira tadi bagi bilang kalau Nadhira belum juga keluar dari rumahnya sejak sampai saat ini".


"Mana hp baru yang aku minta kemarin? Aku ingin menghubungi Nadhira sekarang juga, aku takut dia kenapa kenapa dijalan"


"Bentar Tuan Muda, saya ambilkan dulu".


Reno pun segera bergegas menuju ketempat dimana tadinya dirinya duduk bersama dengan anggota Gengcobra lainnya, Reno mengambil sebuah kantung yang ia taruh ditempat duduk itu, dan langsung menyerahkannya kepada Rifki.


"Ini Tuan Muda".


"Apa seluruh data datanya sudah lengkap? Apakah kau sudah memasukkan nomor Nadhira disini?".


"Baiklah".


Rifki segera menyalakan hp tersebut dan mencari kontak panggilan Nadhira, ia pun menekan nomor Nadhira dan segera meneleponnya, akan tetapi tidak ada sahutan dari Nadhira bahkan nomernya juga sudah tidak aktif untuk dihubungi.


Rifki berkali kali mencoba untuk menghubungi Nadhira, akan tetapi telponnya sama sekali tidak ada yang diangkat oleh Nadhira, dan hal itu sontak membuat Rifki merasa sangat cemas, ia takut kalau telah terjadi sesuatu dengan Nadhira.


"Kenapa nomor Nadhira tidak bisa dihubungi? Apakah Dhira mengalami sebuah masalah? Sampai sekarang dirinya juga tidak datang, apa telah terjadi sesuatu dengan Nadhira dijalan?"


"Kami tidak tau soal itu Tuan Muda, baiklah saya akan segera datang menemuinya untuk mengetahui kondisinya" Putus Reno.


"Itu tidak perlu" Tiba tiba suara seorang wanita terdenger begitu nyaring.


Dan hal itu sontak membuat Reno menundukkan kepalanya, ia sangat hafal dengan suara tersebut, sementara Rifki yang melihat itu segera menoleh kepada wanita yang tiba tiba mengatakan hal tersebut kepadanya.


Dari kejauhan wanita itu kini tengah berjalan mendekat kearah Rifki yang saat ini sedang berdiri didepan pintu kamar ruangannya, wanita itu tidak lain adalah Putri yang saat ini sedang menyusuri lorong rumah sakit itu.


"Kenapa Ma?" Tanya Rifki kebingungan dengan ucapan dari Mamanya itu.


"Dhira sedang sibuk saat ini, dia ada rapat mendadak diperusahannya, dia tidak akan datang kemari untuk menemanimu pulang kali ini" Ucap Putri beralasan kepada Rifki.


"Ha? Kenapa dia tidak memberitahukan hal ini kepadaku sebelumnya Ma? Tidak biasanya Dhira akan seperti ini, aku tidak percaya soal itu" Ucap Rifki sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Rifki, dia bilang kepada Mama kemarin dan dia lupa memberitahu hal ini kepadamu, apa kau sudah tidak percaya lagi dengan Mama?".


"Bukan seperti itu Ma, aku hanya tidak percaya bahwa Nadhira bisa tidak memberitahukan hal ini kepadaku, selama ini dia tidak pernah seperti itu dan akan memberitahukan apapun kepadaku Ma".


"Sudah ayo kembali kekamar, Mama tau kalau kau belum makan pagi ini, sini biar Mama suapin, Mama sudah masakin masakan kesukaanmu".


"Iya Ma".

__ADS_1


Putri segera memapah Rifki untuk kembali ketempat tidurnya dan membantu Rifki untuk tidur kembali diruangannya itu, setelah itu Putri segera menyiapkan peralatan makan untuk Rifki dan juga beberapa buah buahan sebagai cuci mulutnya.


Putri pun segera menyuapi Rifki dengan masakan yang telah ia masak sebelumnya, sementara Rifki langsung membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu secara perlahan lahan.


"Apa masakan Mama terasa enak Nak? Ini Mama yang memasaknya sendiri dengan penuh rasa cinta untuk Rifki" Tanya Putri.


"Sangat enak Ma, sudah lama aku tidak pernah merasakan masakan Mama, selama ini aku selalu makan masakan anggota Gengcobra, bahkan diluar negeri sekali pun itu anggota Gengcobra yang masak untuk Rifki".


Putri tersenyum mendengar pujian dari Rifki, ia pun kembali menyuapi Rifki dengan masakan itu, setelah makan Rifki kembali membaringkan tubuhnya dikasur tersebut, sementara Putri segera membersihkan peralatan makan Rifki dan menyimpannya disebuah kantung yang ia bawa sebelumnya.


"Nadhira bilang apa saja kepada Mama kemarin? Kenapa Mama tidak mengatakannya kepada Rifki kalau Nadhira tidak bisa datang kemari saat ini?" Tanya Rifki penasaran.


"Ngak bilang apa apa Nak, dia hanya bilang kalau hari ini dia ada rapat, jadi dia tidak bisa datang untuk menemanimu pulang kerumah, Mama lupa untuk menyampaikan hal itu kepadamu".


"Rifki hanya takut terjadi sesuatu kepadanya Ma, soalnya nomor hpnya tidak bisa dihubungi sejak tadi pagi Ma, Rifki sangat merasa cemas".


"Sudah, jangan cemaskan soal itu, sebentar lagi dirimu juga akan pulang kan? Seharusnya kamu merasa begitu senang bukan khawatir dengan persoalan seperti ini Rifki".


"Iya Ma, Rifki hanya merasa kurang lengkap tanpa adanya Nadhira disampingku".


"Kan ada Mama disini, lagian diluar sana juga kan ada anggota Gengcobra yang selalu bersamamu, apakah hal itu masih kurang?"


"Bukan seperti itu Ma, entah kenapa Rifki merasa takut terjadi sesuatu dengan Dhira, Rifki merasa bahwa Nadhira saat ini sedang bersedih".


"Sudah jangan dipikirkan lagi, mungkin saja itu hanya perasaanmu saja Nak".


"Iya Ma".


*****


Nadhira sedang mengemasi barang barangnya, dan seketika dirinya melihat kearah hpnya, disana tertera sebuah nomor yang tidak dirinya kenal dan nomor itu berulang ulang kali menghubunginya.


"Siapa sih ini? Kenapa menelfonku berulang ulang kali, apa aku angkat saja ya?" Guman Nadhira.


Nadhira pun memandangi hpnya begitu lama, ia sangat ragu untuk mengangkatnya karena dirinya tidak mengetahui siapa yang tengah menelfonnya, ia hanya takut bahwa nomor itu adalah nomor Rifki yang baru, dan dirinya tidak ingin berhubungan lagi dengan Rifki yang akan membuat hatinya semakin sakit karena mengingat apa yang dikatakan oleh Mamanya Rifki kepadanya.


"Maafkan aku Rif karena aku tidak bisa menemanimu kali ini, mulai saat ini kau harus bisa melupakan diriku secepatnya Rif dan menerima seorang wanita yang akan dijodohkan kepadamu, aku akan pergi keluar kota untuk beberapa hari kedepan untuk dapat menenangkan pikiranku".


Nadhira pun kembali menangis pagi ini, air matanya pun jauh membasahi baju yang ada ditangannya, dirinya pun segera memasukkan beberapa pakaiannya kedalam sebuah koper yang telah ia siapkan pagi ini, ia tidak pergi sendiri, melainkan seluruh penghuni rumahnya juga ikut bersamanya.


Mereka akan menginap ke sebuah hotel yang berada diluar kota, mereka akan kembali kerumah mereka ketika perasaan Nadhira benar benar tenang, entah sampai kapan dirinya akan pergi dan ini adalah keputusan untuk dapat melupakan Rifki.


"Dhira apa kau sudah siap?" Tanya Bi Ira yang tiba tiba masuk kedalam kamarnya, "Kenapa kau menangis Nak?" Tanyanya ketika melihat air mata Nadhira berjatuhan.


"Ibu hiks.. hiks.. aku tidak bisa melakukan ini Bu, aku tidak bisa jauh dari Rifki".


"Kau harus bisa Nak, Dhira adalah gadis ya tegar, Ibu yakin bahwa Dhira bisa melakukannya".


"Ini sangat sulit bagi Dhira, Dhira tidak bisa melakukan itu Bu, Dhira sangat mencintai Rifki".


"Ibu tau itu Dhira, Ibu yakin kau bisa melakukannya, sudah ya jangan nangis, sebaiknya kita segera pergi biar kau bisa melupakan dirinya secepatnya".


"Iya Bu".


"Sabarlah Dhira, aku tau ini berat untukmu" Ucap Nimas, Nimas tau bahwa Nadhira dan Rifki memang tidak mampu untuk bersama karena adanya permata itu.


"Iya Nimas, aku paham soal itu" Jawab Nadhira melalui batinnya.


Nadhira menghapus air matanya dengan perlahan, meskipun air mata itu tetap mampu menetes tanpa keinginannya, sementara Bi Ira segera membantu Nadhira untuk mengemasi barang barangnya, rencananya mereka akan berlibur dalam waktu yang sangat lama, itulah yang membuat mereka harus membawa begitu banyak peralatan yang akan mereka butuhkan disana.


Nadhira juga memerintahkan beberapa satpam yang bekerja diperusahannya untuk menjaga rumah tersebut, dan tak lupa dirinya juga mengunci dengan dapat seluruh pintu kamar yang ada didalam rumahnya tanpa terkecuali.

__ADS_1


__ADS_2