
"Iya, orang yang menjadi calon istrinya akan sangat beruntung karena bisa memilikinya, memiliki orang yang baik seperti dirinya" Entah kenapa tiba tiba Nadhira mengagumi Rifki dan melupakan kejadian semalam dengannya.
"Tapi kenapa kau terlihat begitu sedih seperti itu? Apa kau juga mencintai Rifki?" Pertanyaan itu membuat Nadhira kembali teringat tentang kejadian yang sama sekali tidak ia ketahui itu.
"Haha.. Cinta? Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun dengan dirinya, aku hanya sedih karena kejadian semalam" Ucap Nadhira sambil memaksakan diri untuk tertawa.
"Kejadian seperti apa itu? Kenapa bisa membuatmu sedih seperti ini? Kita kan sudah berteman, jadi boleh dong kalau saling curhat".
"Bukan hal penting juga kok".
"Oh iya, beberapa minggu lagi kita akan tunangan, ku harap kau bisa hadir ya saat itu, lagian kau juga kan sahabatnya bagaimana mungkin sahabatnya tidak hadir dalam acara pertunangannya".
"Insya Allah aku akan hadir kok, kalau Rifki sendiri yang menyetujui diriku untuk hadir".
"Haduh Dhira, Rifki jelas setuju lah, nanti aku akan meminta kepadanya juga kok, pasti dia langsung setuju dengan ucapanku".
"Baiklah kita lihat nanti ya".
"Aku hanya berharap kau datang diacara yang sangat penting bagiku dan Rifki, oh iya aku boleh ngak meminta alamat rumahmu? Maaf nih sebelum nya, soalnya aq takutnya kamu ngak ada kendaraan untuk datang nanti diacara tunanganku".
"Untuk apa alamat rumahku? Aku tidak semiskin itu untuk dapat menyewa sebuah mobil mewah sekalipun itu, jadi kau tidak perlu repot repot untuk melakukan itu kepadaku".
"Kok kamu tersinggung sih, aku kan hanya berniat baik kepadamu saja kok, apa salahnya sih kalau untuk sahabat calon suamiku sendiri, aku sebagai calon istrinya harus bersikap baik kepadamu".
"Dan terima kasih atas niat baikmu itu, tapi sayang sekali .... Ah tidak, untuk apa aku menjelaskannya kepadamu".
"Maksudmu apa? Sayang apanya?".
"Kau akan tau nanti, kau kan calon istrinya maka tanyakan langsung saja kepadanya".
Nadhira tidak melanjutkan perkataannya dan hal itu sontak membuat Syaqila merasa begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Nadhira saat ini, akan tetapi Nadhira tidak mau melanjutkan perkataannya tersebut.
Entah mengapa disaat Syaqila menanyakan alamat rumahnya hanya untuk menjemputnya nanti hal itu membuat Nadhira merasa sangat tidak suka dengan dirinya itu, dari percakapan antara keduanya pun Nadhira dapat menebak latar belakang dari wanita yang ada disampingnya itu.
Mengetahui bahwa dia adalah calon tunangan dari Rifki membuat Nadhira merasa sedikit tidak nyaman dengan gadis itu, akan tetapi dirinya berpikir ulang bahwa gadis itu adalah pilihan kedua orang tuanya yang paling terbaik untuk Rifki.
Setelah apa yang dilakukan oleh Rifki kepadanya hal itu membuat Nadhira sangat membenci sosok seperti Rifki, akan tetapi setelah berkenalan dengan sosok Syaqila membuat rasa cemburu dihatinya mulai bergejolak dan berapi api.
Entah perasaan seperti apa yang tengah ia rasakan saat ini, kadang kala ia merasa sangat membenci Rifki akan tetapi kadang juga dirinya merasa cemburu ketika membayangkan Rifki bersama dengan orang lain selain dirinya itu.
"Menurutmu, apa yang paling disukai oleh Rifki?" Tanya Syaqila lagi lagi.
"Hemm.. semacam ilmu beladiri, dia sangat menyukai perkelahian, jadi menurutku dia lebih suka melawan musuh yang seimbang dengannya".
"Apa kau bisa beladiri Dhira?".
"Ngak, aku hanya sekedar tau saja".
"Oh, ku kira kamu bisa beladiri, soalnya aku ingin belajar beladiri darimu Dhira, kau kan lebih kenal dekat dengan Rifki, jadi aku ingin tau apa yang paling disukai olehnya".
"Kenapa kau tidak belajar langsung darinya? Bukankah Rifki adalah guru yang hebat dalam melatih ilmu beladiri?".
Pertanyaan itu seketika membuat Syaqila berhenti berbicara, jangankan untuk belajar dibawah bimbingan Rifki, Rifki bahkan sangat sulit untuk ditaklukkan apalagi untuk mengajarinya tentang ilmu beladiri tersebut.
"Rifki adalah guru terbaik untuk belajar beladiri, kenapa kau tidak memintanya untuk mengajarkan ilmu beladiri kepadamu juga? Bukankah kau bilang bahwa Rifki adalah calon tunanganmu, dia pasti akan mengabulkan keinginanmu itu".
"Aku pernah meminta kepada dia untuk mengajarkan ilmu beladiri kepadaku, tapi entah katanya dia tidak punya waktu untuk itu".
Mendengar ucapan Syqila membuat Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya, bahkan disaat apapun Rifki dapat datang untuk menemui dirinya bahkan hanya sekedar untuk mengajarkan ilmu beladiri kepadanya, ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk Nadhira.
"Bagaimana bisa Rifki tidak punya waktu untuk calon tunangannya sendiri?".
"Katanya dia sibuk bekerja di perusahaannya demi masa depan kita lah".
"Aku juga seorang pemimpin sebuah perusahaan, tapi aku masih bisa tuh menyempatkan waktu untuk orang yang ku cintai".
"Kalau boleh tau, siapa orang yang kamu cintai itu? Apakah dia adalah Rifki? Aku lihat kau begitu sangat dekat dengan dirinya".
__ADS_1
"Kami dekat karna kami adalah sahabat sejak kecil saja kok, lagian dia juga sudah punya calon tunangan jadi tidak sebaiknya ada perasaan diantara kami berdua bukan?".
"Baguslah kalau kamu sadar soal itu, aku hanya takut disaat aku menikah dengannya nanti, kau diam diam masih menaruh perasaan kepadanya".
"Tanpa kau beritahu sekalipun itu, aku tidak akan pernah merebut sesuatu yang bukan milikku".
"Tolong jangan tersinggung ya, mulai sekarang jangan pernah temui Rifki diam diam, aku tau bahwa kau adalah sahabat terbaiknya tapi setidaknya hormati diriku juga sebagai calonnya".
"Aku akan menghormati seseorang yang bisa menghormati yang lainnya, bukan hanya sekedar meminta untuk dihormati tapi tidak bisa untuk menghormati orang lain, bahkan aku pun akan menghormati orang yang hina sekalipun itu asalkan dia mampu menghormati diriku" Ucap Nadhira dengan tegasnya dihadapan Syaqila.
Setelah mengatakan itu Nadhira segera bangkit dari duduknya, dirinya seakan akan sudah tidak mood lagi untuk berlama lamaan dengan gadis yang mengaku sebagai tunangan Rifki tersebut, disana dirinya seakan akan orang yang bersalah hingga membuat Syaqila mengatakan kata kata yang merendahkan dirinya begitu saja.
Sejak percakapan pertama keduanya Nadhira sudah merasa tidak suka dengan Syaqila, Nadhira tidak pernah membenci seseorang hingga seperti ini, tidak biasanya dirinya akan mengatakan hal seperti itu kepada orang yang baru dirinya kenal selama ini.
Entah mengapa ketika dirinya mengobrol dengan Syaqila untuk pertama kali, dirinya merasa bahwa ada perasaan yang tidak suka dihati kecilnya itu, bukan karena Syaqila adalah tunangan dari Rifki melainkan perkataan perkataan yang dilontarkan oleh Syaqila kepadanya itu.
Ini kali pertama dirinya membenci seseorang disaat pertama kali bertemu, siapa dia? Hanya calon kan? Belum juga menjadi pasangan Rifki akan tetapi dirinya dengan berani mengatur ngatur apa yang dilakukan oleh Rifki ataupun Nadhira.
"Kau mau kemana? Aku belom selesai mengobrol denganmu Dhira" Ucap Syaqila ketika melihat Nadhira bangkit dari duduknya.
"Apa lagi yang perlu diobrolkan disini?".
Syaqila lalu menarik tangan Nadhira untuk tetap duduk disebelahnya itu, ia masih ingin berbicara kepada gadis yang ia ketahui adalah orang yang sangat dicintai oleh Rifki, ia tidak mau kalau sampai Nadhira merebut Rifki dan menggagalkan rencananya selama ini.
"Aku hanya ingin bertanya sesuatu tentang Rifki kepadamu Dhira".
"Kenapa kau tidak tanya langsung saja keorangnya? Tanyakan saja semuanya kepada Rifki pasti kau akan mendapatkan semua jawaban yang ingin kau ketahui itu, daripada bertanya kepadaku yang tidak tau apa apa tentang Rifki"
"Kau sahabatnya bagaimana mungkin kau tidak tau soal itu Dhira".
"Sahabatnya bukan hanya aku saja, tanya saja sana sama anak buahnya, mereka semua adalah sahabat dari Rifki juga kok".
"Tidak, mereka hanya orang rendahan bagaimana bisa aku mengobrol dengan orang orang itu".
"Ternyata orang yang dijodohkan dengan Rifki bukanlah orang yang baik, kasihan sekali Rifki"
"Rifki tidak pernah membeda bedakan kedudukan, dan Rifki paling benci dengan orang yang mengatakan bahwa dirinya lebih tinggi kedudukan daripada orang lain, seandainya dia mendengarnya langsung mungkin saja dia akan marah kepadamu" Sindir Nadhira yang kini tengah merasa enggan dengan sosok seperti Syaqila.
"Benarkah? Kenapa? Bukankah yang aku katakan memang benar? Kita kan emang beda level".
"Rifki tidak pernah membedakan level untuk berteman, bahkan anak buahnya rata rata adalah sahabat mereka, dan mereka juga adalah sahabatku, aku tidak suka kau menghina mereka seperti itu Syaqila" Ucap Nadhira sedikit tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Syaqila yang menganggap teman temannya adalah orang rendahan termasuk juga Bayu.
"Mereka sahabatmu? Pantas saja mereka selalu mendukungmu dengan Rifki".
"Itu urusan mereka, bukan urusanku".
Setelah mengatakan itu Nadhira kembali bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari tempat tersebut akan tetapi sebelum dirinya melangkah pandangannya tidak sengaja tertuju kepada seseorang yang kini tengah berdiri dan bersandar dibawah sebuah pohon dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya.
Melihat Nadhira yang berhenti melangkah membuat Syaqila merasa keheranan dan dia menatap kearah dimana Nadhira memandang saat ini dan menemukan sosok yang ia kenali ada disana.
"Rifki" Ucap Syaqila.
"Sudah selesai mendongengnya? Ternyata kau lebih tau tentang diriku sendiri daripada aku Dhira" Tanya Rifki kepada Nadhira yang tengah membuang muka darinya.
"Oh kau disini, kebetulan sekali, tolong ajari calon tunanganmu itu, ajari dia tentang berbicara yang sopan" Ucap Nadhira.
"Kenapa dengan dia? Apa kau marah karena ucapannya?"
Nadhira sama sekali tidak menanggapi ucapan dari Rifki yang akan semakin membuatnya marah itu, dapat dilihat bahwa adanya sebuah kekecewaan diwajah Nadhira kepada Rifki.
Melihat kedatangan Rifki ditempat itu membuat Syaqila segera mendekat kearah dimana Rifki berada akan tetapi dengan santainya Rifki menyematkan lengannya dipundak Syaqila, gadis yang akan menjadi calon tunangannya itu.
Perasaan bahwa Rifki memegangi pundaknya membuat Syaqila tersenyum penuh dengan kemenangan, entah sejak kapan Rifki bersikap seperti itu kepadanya saat ini, dan Rifki sengaja melakukan itu agar membuat Nadhira semakin membenci dirinya itu meskipun dia tidak terlalu suka untuk bersentuhan dengan seorang wanita.
"Kau cantik sekali siang ini" Ucap Rifki ditelinga Syaqila tapi pandangannya masih tertuju kepada Nadhira yang berada didepannya.
"Terima kasih" Ucap Syaqila dengan manja.
__ADS_1
Syaqila merasa hatinya tengah berbunga bunga saat ini mendengar pujian dari Rifki, akan tetapi sebenarnya Rifki memuji Nadhira yang masih terlihat marah kepadanya itu dengan menggunakan Syaqila.
"Jika kalian ingin bermesraan sebaiknya cari tempat yang lain saja, ini tempat umum, bukan tempat milik kalian berdua" Celetus Nadhira.
"Tempat umum? Bagaimana kalau aku akan membeli tempat ini agar ini menjadi tempatku, bukan tempat umum lagi, mungkin itu sangat menyenangkan, bukan begitu Nadhira?".
"Terserah apa maumu, kau adalah Tuan Muda Abriyanta yang bebas melakukan apapun yang kau mau bahkan kau bisa membeli seluruh dunia jika kau mau melakukan itu".
"Membeli seluruh dunia? Mungkin itu ide yang bagus, lalu dimana kau akan tinggal? Karena aku tidak mengizinkan dirimu untuk tinggal diduniaku".
"Kenapa kau mencemaskan aku tinggal dimana? Itu bukan urusanmu, jaga harga dirimu itu, disini banyak orang dan tidak pantas kau bermesraan didepan banyak orang".
"Orang? Bukannya disini hanya ada dirimu saja ya? Kenapa aku harus menjaga harga diriku didepanmu? Bukankah kau sangat menikmati acara kemarin malam bersamaku ya? Buktinya kau terus memikirkan tentang malam itu".
"Kau!" Ucap Nadhira sambil menuding kearah Rifki.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Syaqila yang bingung dengan perkataan keduanya.
Nadhira mengepalkan kedua tangannya dihadapan Rifki, Rifki memang sengaja mengatakan itu agar membuat Nadhira semakin marah dengan dirinya, Rifki pun berlagak menjilat bibirnya semdiri dan hal itu sontak membuat wajah Nadhira terlihat memerah karena kesalnya.
"Apa yang telah kau lakukan kepadaku Rifki!" Ucap Rifki dengan marahnya kepada Rifki.
"Apa yang aku lakukan? Seharusnya kau tanya kepada dirimu sendiri, apa yang kau lakukan denganku kemarin malam".
"Dasar baji*gan, akan ku pastikan aku akan memotong kedua tanganmu itu, aku tidak akan membiarkanmu hidup dalam waktu yang lama Rifki, kau akan menyesalinya nanti karena akulah yang akan merenggut nyawamu itu".
"Sepertinya akan asik jika keduanya bertarung" Batin Syaqila sambil tersenyum misterius.
"Kau ingin merenggut nyawaku? Gadis kecil seperti dirimu tidak akan pernah bisa melakukan itu".
"Apa kau meremehkan diriku?".
"Jika kau melakukan itu kepadaku apa kau tidak takut jika harus diburu oleh banyak orang nantinya? Karena aku adalah orang yang berpengaruh kepada dunia".
"Aku tidak takut bahkan jika harus melawan seluruh dunia sekalipun itu, dan kau akan mati ditanganku sendiri Rifki, suatu saat nanti aku akan datang untuk mengambil nyawamu".
Bukannya merasa takut dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira saat ini, Rifki justru menerbitkan sebuah senyuman yang sangat cerah diwajahnya dan Nadhira yang melihat itu menganggap bahwa Rifki saat ini tengah meremehkan dirinya.
"Aku akan menantikan hari itu, ku harap kau tidak membohongiku Dhira, karena aku sama sekali tidak suka jika dibohongi".
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, sampai kapanpun itu, kau jahat".
Rifki tertawa mendengar ucapan Nadhira, tetapi didalam hatinya kini dirinya tengah menangis, akan jauh lebih baik Nadhira yang akan mengakhiri hidupnya daripada dirinya yang harus mengakhiri kehidupan dari orang yang dicintainya.
Dengan tangis sesenggukan Nadhira bergegas pergi dari tempat itu, melihat kepergian dari Nadhira membuat Rifki memegangi dadanya yang terasa sakit dengan perkataan yang diucapkan oleh dirinya sendiri, Rifki mampu merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Nadhira.
"Kenapa dia mengatakan itu kepadamu Rif? Bukankah kalian adalah sahabat yang saling menyayangi, tapi kenapa dia justru ingin merenggut nyawamu?" Tanya Syaqila keheranan.
Mendengar pertanyaan itu membuat Rifki melepaskan pelukannya dari tubuh Syaqila, yang tadinya dirinya sengaja melakukan itu sekarang setelah kepergian dari Nadhira membuatnya kembali bersikap dingin dihadapan Syaqila.
"Bukan urusanmu" Jawab Rifki lalu bergegas pergi dari tempat itu meninggalkan Syaqila sendirian.
"Tunggu Rifki".
Syaqila lalu bergegas menuju kearah mobilnya yang terparkir, ia pun segera masuk kedalamnya tanpa mempedulikan Syaqila, sementara Syaqila langsung ikut masuk kedalam mobil tersebut tanpa menunggu Rifki angkat bicara terlebih dulu.
"Apa kau tidak punya tumpangan lain selain mobilku?" Tanya Rifki tanpa menoleh.
"Kenapa? Bukankah aku adalah calon tunanganmu, aku berhak dong untuk duduk dimobil ini dengan dirimu Rifki".
"Calon tunangan? Masih calon kan? Dan kau tidak berhak untuk mengatur diriku, apa yang telah kau adukan kepada Mama soal anak buahku? Mereka adalah saudaraku, kenapa kau juga merendahkan mereka semua? Apa begitu caramu jika kau akan menjadi istriku nantinya?".
"Rifki maafkan aku, aku akan merubah prilakuku nantinya, tapi tolong jangan marah kepada diriku, aku janji tidak akan melakukannya lagi".
"Baiklah aku akan memaafkan dirimu, tapi jangan ulangi kesalahan itu lagi".
"Iya Rifki aku janji".
__ADS_1