Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Acara pernikahan Rifki dan Nadhira


__ADS_3

Teriakan keputusasaan Ayu seketika membuat seseorang mengebrak meja yang ada didepannya itu agar Ayu berhenti untuk berteriak seperti itu, Ayu pun menyengir merasa tanpa memiliki salah melihat sosok yang ada didepannya, ya sosok itu adalah Rifki yang baru saja pulang setelah memilih gaun pengantin untuk acaranya.


"Kenapa teriak seperti itu? Sangat berisik tau kalo didengar" Tanya Rifki kepada Ayu yang tengah menyengir bagaikan kuda.


"Sejak kapan Kakak pulang? Kenapa aku tidak melihat Kakak pulang tadi?" Tanya Ayu basa basi kepada sosok Rifki yang ada didepannya.


"Apa pertanyaan itu sangat penting Ay?"


"Ih Kakak mah, bukannya jawab pertanyaan Ayu malah tanya balik seperti itu, ngak tau apa kalo Ayu sedang kesusahan saat ini" Keluh Ayu.


"Auah Kakak capek pengen tidur dulu, jangan ganggu Kakak hari ini, Kakak pengen bermalas malasan sehari ini, jangan buat keributan" Ucap Rifki sambil bergegas untuk pergi.


"Eh Kak tunggu dulu!" Teriak Ayu sambil berlari untuk menghentikan langkah Kakaknya.


"Ada apa lagi sih Ay? Kakak pengen istirahat Ay, Ada apa?" Tanya Rifki dengan malasnya.


"Tolong bantu Ayu Kakak, ini sangat penting dan tidak bisa dinegosiasikan lagi, sangat sangat penting!"


"Apa? Katakan sekarang, keburu Kakak pengen tidur".


"Ayu kebingungan untuk memilih undangan pernikahan yang cocok untuk Kakak, tolong bantu Ayu untuk memilihnya Kak, semuanya kelihatannya bagus bagus, tapi sepertinya tidak sesuai dengan pernikahan Kakak deh".


"Terserahmu saja Ay, Kakak capek" Rifki menghela nafas panjang mendengar penjelasan dari Ayu dan langsung menjauh dari Ayu karena dirinya sendiri juga tidak bisa memilihnya.


"Kakak! Sama saja seperti Mama, kenapa sih ngak ada gitu yang mau bantu Ayu, Ayu bingung tau" Ucap Ayu dengan cemberutnya itu.


Ayu pun kembali duduk dikursi sebelumnya dan menjabarkan sebuah undangan yang ada ditangannya saat ini, ia pun memandangi undangan itu satu persatu akan tetapi tidak ada sama sekali yang mampu menarik minatnya.


"Bagaimana kalo semua saja? Kan tamunya banyak, eh tidak, nanti malah dikira barang bekas lagi karena bentuknya berbeda beda disetiap orang nanti, aaaa... Adakah keajaiban untuk diriku".


Ayu hampir menyerah untuk memikirkan bentuk dari undangan pernikahan yang cocok untuk Kakaknya, bagi sebagian orang itu tidak terlalu penting untuk dipikirkan akan tetapi bagi Ayu hal itu sangatlah penting untuk dipilih.


Ayu merasa heran kenapa Kakaknya sama sekali tidak mau membantunya untuk memilihkan undangan pernikahan yang bagus, padahal itu adalah untuk pernikahannya dengan gadis yang dicintainya.


*****


Keesokan paginya Nadhira tengah dimake up i oleh salah satu MUA terkenal yang diundang oleh Rifki untuk acara pernikahan mereka, make up itu terlihat begitu natural akan tetapi mampu membuat Nadhira sangat sulit untuk dikenali.


Nadhira telah sampai disebuah gedung tempat dimana dirinya akan melaksanakan resepsi pernikahannya bersama dengan Rifki, setelah sampai di gedung tersebut pihak MUA langsung merias wajah Nadhira dan membawa Nadhira masuk kedalam sebuah ruangan yang telah disiapkan untuk merias pengantin wanita.


Setelah 2 jam penuh dirias akhirnya Nadhira selesai juga, setelah itu mereka membantu Nadhira untuk memakaikan gaun pengantin yang dibeli oleh Nadhira dan Rifki sebelumnya, dan Nadhira begitu cantik setelah memakai gaun tersebut.


"Cucu Oma terlihat sangat cantik" Puji Sarah.


"Benarkah Oma?" Tanya Nadhira dengan antusias.


"Iya sayang, semoga acaranya lancar sampai akhir"


"Aamiin"


Nadhira pun nampak terlihat sangat bahagia saat ini karena dapat dilihat bahwa sebuah senyuman terus terukir diwajahnya, senyuman itu nampak terlihat membahagiakan dan berbeda dari biasanya karena biasanya Nadhira tersenyum hanya karena ingin menutupi luka hatinya.


"Oma, Dhira takut" Ucap Nadhira seketika dan mendadak tubuhnya gemetaran.


"Takut kenapa Nak?" Tanya Sarah penuh selidik.


"Ngak tau Oma, tiba tiba Dhira merasa takut"


"Tenanglah, memang seperti itu jika akan menikah Nak, jangan terlalu banyak pikiran ya"


"Iya Oma".


"Baiklah, Oma mau memeriksa persiapan dulu diluar, mungkin sudah banyak tamu yang datang".


"Tolong panggilkan Ibu Ira untuk kemari Oma".


"Iya sayang".


Sarah pun keluar dari kamar dimana Nadhira dirias untuk memeriksa persiapan yang lainnya, tak beberapa lama kemudian Bi Ira masuk kedalam kamar rias Nadhira, ia begitu pangling dengan make up Nadhira kali ini dan hampir tidak mengenali anak angkatnya itu.


"Ya ampun cantik sekali anak Ibu, Ibu hampir tidak mengenalimu Nak" Ucap Bi Ira.


"Bu, apakah disetiap akan menikah selalu merasa gelisah seperti ini?" Tanya Nadhira dengan tubuh yang masih gemetaran.


"Ada apa Nak? Biasanya memang seperti itu, Ibu dulu juga begitu Nak, terus merasa gelisah disepanjang acara pernikahan".


"Tapi Bu, Nadhira merasa sangat gelisah kali ini, Nadhira merasa akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Rifki, Dhira sangat takut Bu".


"Jangan terlalu dipikirkan Nak, mungkin itu hanya perasaanmu saja, tidak akan terjadi sesuatu kepada Rifki, tenanglah".

__ADS_1


"Ini berbeda Bu, Dhira merasa sangat takut"


Nadhira pun menitihkan air matanya setelah selesai mengatakan itu, melihat itu Bi Ira langsung memeluk tubuh Nadhira yang gemetaran seperti itu, ia mencoba untuk menenangkan perasaan Nadhira yang semakin gelisah tersebut.


Entah mengapa tiba tiba Nadhira merasa sangat takut untuk kehilangan Rifki, ia takut akan terjadi sesuatu kepada Rifki hingga membuat dirinya akan kehilangan Rifki untuk selamanya dan hal itu membuatnya gemetaran jika membayangkan apa yang ada didalam pikirannya saat ini.


"Jangan takut Nak, semuanya akan baik baik saja".


"Apakah Dhira akan mati?"


"Shttt... Jangan katakan itu, jangan ada kata kata seperti itu dihari bahagia kalian berdua" Ucap Bi Ira sambil menempelkan telunjuknya dibibir Nadhira.


"Dhira sangat takut Ibu, benar benar takut".


"Berdoa saja, semoga semuanya baik baik saja Nak, jangan pernah berpikiran seperti itu, tidak baik".


"Iya Bu".


Dapat terdengar isak tangis lirih Nadhira yang berada didalam pelukan Bi Ira, Bi Ira pun terus mencoba untuk menenangkan pikiran Nadhira yang bercampur saat ini, entah apa penyebabnya sehingga dirinya berpikiran sedemikian rupanya.


"Sudah jangan nangis Nak, masak iya cantik cantik seperti ini make upnya luntur kena air mata"


Nadhira hanya menanggapi ucapan itu dengan anggukan, Bi Ira lalu meminta kepada pihak MUA untuk memperbaiki make up Nadhira yang luntur karena air mata tersebut dan dengan sigap mereka segera memperbaikinya.


"Apakah pernikahan ini adalah sebuah paksaan Mbak? Kenapa Mbaknya menangis?" Tanya salah satu anggota MUA yang disewa.


"Ngak Mbak, hanya saja firasatku mendadak tidak enak seperti ini" Jawab Nadhira.


"Yang sabar ya Mbak, tidak hanya Mbaknya saja kok yang menangis disaat hendak menikah selama ini, jadi itu adalah hal yang wajar"


"Apakah benar seperti itu?"


"Iya Mbak, bahkan ada yang sampai pingsan pas dimake up in, dan macem macem deh pokoknya".


"Jika benar seperti itu, mungkin ini hanya sebuah firasat saja kali ya?"


"Iya Mbak, jangan terlalu dipikirkan".


Nadhira pun mengangguk mendengar penjelasan dari MUA tersebut, mereka memperbaiki make up Nadhira menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya, dan kali ini Nadhira terlihat seperti bidadari yang baru turun kebumi.


Tak beberapa lama kemudian ada satu gadis yang berlarian menuju keruangan dimana Nadhira dimake up, dengan gembiranya gadis itu ingin melihat wajah Nadhira setelah dimake up in.


"Eh Fika, sejak kapan kamu datang?" Tanya Nadhira kepada Fika sang gadis yang saat ini menempel dengan dirinya itu.


"Baru saja Kak, ada Bu Fatimah juga diluar, mereka sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat mempelai wanitanya"


"Benarkah? Kau pun sendiri sudah tidak sabar bukan untuk melihat Kakakmu ini?"


"Tau saja, Fika memang pingin lihat wajah Kak Dhira, Kak Dhira cantik banget, pasti Kakak tampan itu akan terkejut dengan wajah Kakak saat ini"


"Kakak tampan? Sejak kapan kau memanggil dirinya seperti itu?"


"Kan calon suami Kakak memang tampan, diluar banyak sekali yang memujinya, bahkan banyak para gadis yang bermimpi untuk mendapatkannya".


"Kamu ini, masih kecil juga sudah tau mana orang yang tampan"


"Fika sudah besar Kakak, bukan anak kecil lagi"


"Iya besar, besar ibu jarinya".


Fika tertawa mendengar ucapan Nadhira, seketika tawa tersebut menyalur kewajah Nadhira hingga membuat Nadhira kembali tersenyum dengan bahagianya, kekhawatiran kini tengah sirna begitu saja sejak kedatangan Fika ditempat itu.


*****


Rifki sedang memandangi wajahnya sendiri melalui sebuah kaca yang ada didalam kamarnya saat ini, ini adalah hari yang dinanti nantikan oleh dirinya sejak begitu lama, dan dirinya pun terlihat sedikit gugup.


"Pa, apakah Rifki sudah terlihat tampan?" Tanya Rifki kepada Haris yang berada ditempat itu.


"Sangat tampan, bahkan pangeran dikerajaan pasti akan merasa iri denganmu" Ucap Haris.


Rifki tersenyum lebar mendengar pujian dari Papanya itu, entah itu kebenaran ataupun hanya sekedar ingin membuat Rifki merasa senang, akan tetapi Rifki tetap terlihat bahagia ketika dipuji seperti itu oleh Papanya.


"Kapan kita akan berangkat?" Tanya Rifki yang sudah tidak sabaran.


"Mamamu belum selesai untuk bersiap siap"


"Kenapa kalau wanita itu selalu lama dandannya? Apakah setiap wanita seperti itu Pa?"


"Kau ini sangat tidak sabaran sekali sih Nak"

__ADS_1


"Bukan seperti itu Pa, Rifki hanya bertanya saja, soalnya Nadhira juga baru selesai make up nya, padahal dia dirias sudah sejak jam 6 pagi tadi, sekarang sudah jam 8 lebih".


"Memang seperti itu, mulai sekarang biasakan diri untuk menunggu wanita berdandan"


Rifki tersenyum mendengar itu, mungkin Haris sudah terbiasa dengan Putri yang kalau dandan itu begitu lama sehingga membuatnya menasehati Rifki seperti itu, memang benar kalau wanita berdandan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.


Setelah segalanya siap, Rifki dan yang lainnya pun lalu masuk kedalam deretan mobil yang telah disiapkan didepan rumahnya itu, setelahnya mobil mobil itu segera melaju untuk menuju kesebuah gedung yang telah disiapkan untuk acara pernikahan.


Rifki mengirimkan sebuah pesan kepada Nadhira yang mengatakan bahwa dirinya sudah berangkat menuju ke lokasi dimana pernikahan itu akan berlangsung.


( Isi pesan : Hay Tuan Puteriku, aku sudah berangkat menuju ke lokasi, tunggu aku ya, see you)


Nadhira yang membaca pesan tersebut hanya bisa tersenyum dengan sendirinya, ia tampak semakin gugup saat ini karena sebentar lagi dirinya akan melepas masa kesendiriannya dan akan bersatu dengan Rifki.


"Cie Kakak senyum senyum sendiri" Goda Fika ketika melihat Nadhira tersenyum sambil menatap kearah layar ponselnya.


"Udah ah Fika, jangan menggoda Kakak seperti itu, sebaik kau keluar saja sana, sebentar lagi pengantin lelakinya akan datang" Ucap Nadhira.


"Benarkah? Sepertinya aku harus menyambutnya deh, aku akan memberitahu hal ini kepada yang lainnya" Ucap Fika dengan semangatnya.


Fika lalu bergegas keluar dari kamar tersebut sambil berlarian, apa yang dilakukan oleh Fika tersebut membuat Nadhira tertawa dan tindakan Fika yang begitu bersemangat kali ini membuat Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya.


"Semoga tidak akan terjadi sesuatu" Ucap Nadhira dan seketika senyuman diwajahnya memudar.


Nadhira kembali duduk didepan cermin yang ada digedung tersebut, ia memandangi wajahnya yang saat ini penuh dengan make up, tiba tiba Bi Ira masuk kedalam kamar tersebut dan menatap kearah Nadhira yang saat ini sedang mengaca.


"Bu, apakah didepan sudah sangat ramai saat ini?" Tanya Nadhira.


"Iya Nak, sudah banyak tamu undangan yang datang untuk menyaksikan acara pernikahan kalian"


"Bu Dhira merasa gugup, apakah Dhira sudah terlihat cantik atau belum?"


"Sangat cantik, ngak ada yang menyaingi kecantikan Nadhira hari ini, semua orang pasti akan terkejut dan terpesona karena wajahmu Nak".


"Benarkah Bu? Apa diluar ada anggota Gengcobra?"


"Seperti sudah banyak, tapi Ibu tidak paham soal anggota Gengcobra itu".


"Aku merasa semakin tidak tenang Bu, aku takut terjadi sesuatu dengan Rifki, kalau didepan ada anggota Gengcobra aku merasa sedikit tenang".


"Disana banyak pemuda Nak, mungkin mereka adalah anggota Gengcobra"


"Syukurlah jika seperti itu Bu".


Terdengar suara gemuruh dari luar, hal itu membuat Bi Ira dan Nadhira saling berpandangan satu sama lain, dan Bi Ira langsung bangkit untuk memeriksanya.


"Ada apa Bu?" Tanya Nadhira ketika melihat Bi Ira kembali setelah memeriksanya.


"Pengantin lelaki sudah datang" Ucap Bi Ira dengan senangnya.


"Benarkah?"


"Iya Nak, semua orang begitu terpana ketika melihat ketampanannya itu".


"Aku jadi cemburu ketika dia dipandangi oleh begitu banyak orang seperti itu".


"Kenapa cemburu? Dia akan menjadi milikmu seutuhnya nanti Nak".


Nadhira hanya tersenyum mendengarnya, dirinya sudah tidak sabar ingin pernikahan itu secepatnya berlangsung karena dirinya merasa kelelahan dengan hiasan wajah dan gaun pengantin yang lebar itu.


*****


Rifki tiba digedung yang telah disiapkan untuk pernikahannya, kedatangannya membuat semua orang menatap kearahnya hingga membuatnya merasa sedikit gemetaran karena dirinya yang akan menikah ditempat itu.


Rifki merasa sangat kagum dengan kerja keras seluruh anak buahnya untuk mendekorasi tempat pernikahan tersebut, gedung tersebut terlihat begitu mewah daripada sebelumnya dan hal itu membuatnya merasa sangat senang kali ini.


Mobil yang dirinya naiki saat ini pun berhenti depan gedung tersebut dan berhenti tepat dimana karpet merah digelar untuk dirinya lewati, ia pun turun dari mobil tersebut dan menginjakkan kakinya tepat digelaran karpet merah itu.


Haris dan Putri menggandeng tangan Rifki dan mencoba untuk mencairkan suasana hati Rifki yang sedikit gugup tersebut, Rifki yang memakai jas hitam berkalungkan bunga melati tersebut membuat wajahnya semakin terlihat menawan.


Rifki berjalan dengan mengangkat kepalanya sehingga dirinya nampak begitu gagah apalagi aura milik Rifki yang terpancar sehingga dirinya terlihat seperti begitu berkarisma hingga mampu membuat orang yang melihatnya akan terpana karenanya.


Deg


Ketika Rifki menginjakkan kaki dilantai gedung tersebut dirinya merasa sangat gelisah tiba tiba, tanpa sebab yang mampu membuatnya merasa sedemikian rupanya, Rifki pun menghentikan langkahnya tiba tiba hingga membuat Haris dan Aryabima terkejut.


"Apakah aku akan mati saat ini? Kenapa firasatku terasa begitu tidak enak dan sangat berat untuk melangkah" Batin Rifki.


"Ada apa Nak?" Tanya Haris.

__ADS_1


"Ngak apa apa Pa" Jawab Rifki dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kedalam gedung itu.


__ADS_2