
Mendengar itu membuat Bi Sari segera berlari menuju kekamarnya, dia ingin mengambil ponselnya untuk memberitahukan hal ini kepada Rifki, akan tetapi setelah dirinya sampai dikamarnya, Bi Ani langsung datang kesana dengan membawa sebuah pisau dapur yang tajam.
"Sari Sari, kau tidak akan selamat kali ini"
Bhuk
Ponsel yang ada ditangan Bi Sari mendadak terjatuh dari pegangannya karena terkejut, kedua matanya membulat ketika melihat pisau yang ada ditangan Bi Ani saat ini, ia tidak bisa kabur karena orang yang mengobrol dengan Bi Ani sebelumnya kini sudah berada dipintu kamarnya.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Bi Sari cemas.
"Nyawamu"
"Aku akan memberitahu hal ini kepada Nona Muda!"
"Dia tidak akan mendengar teriakanmu itu, dia berada jauh dari kita sekarang"
"Kau licik Ani! Tuan Muda tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama lagi"
"Dia tidak akan tau selama kau tidak mengatakan apapun kepadanya, karena kau akan mati"
Mendadak terjadilah pergulatan antara keduanya, Bi Sari mengalami luka sayatan yang banyak dibagian tangannya karena dia tidak bisa beladiri ataupun menghindar dari gerakan pisau yang dilakukan oleh Bi Ani kepadanya itu.
Bi Sari berusaha untuk mempertahankan dirinya, kejadian itu begitu cepat dan tidak mampu untuk terelakkan lagi sehingga pisau tersebut menancap pada perut Bi Sari, merasakan sakit yang menjalar itu membuat Bi Sari langsung terlentang dilantai.
Bi Sari menahan nafasnya ketika Bi Ani mendekatkan jari telunjuknya didekat lubang hidungnya hingga Bi Ani mengira bahwa Bi Sari telah tiada, setelah kepergian Bi Ani dari tempat itu membuat Bi Sari bernafas lega akan tetapi rasa sakit yang ia rasakan itu membuatnya tidak bisa berbuat apa apa.
"Aku harus menghubungi Tuan Muda"
Bi Sari mencoba untuk menahan sakitnya demi meraih sebuah benda pipih yang ia jatuhkan sebelumnya, karena benda itu berada jauh darinya sehingga ia berusaha mati matian untuk dapat meraihnya.
Ketika jari jarinya sudah menyentuh benda tersebut perlahan lahan kesadarannya menghilang, akhirnya Bi Sari jatuh tidak sadarkan diri dikamarnya itu.
*Flash back off*
"Tolong selamatkan nyawa Nona Muda saat ini Tuan" Ucap Bi Sari.
"Bi, Bi Sari kenapa!" Teriak Andre ketika Bi Sari mulai memejamkan kedua matanya kembali.
Setelah mengatakan itu, Bi Sari kembali tidak sadarkan diri sehingga ponsel yang dipegangi olehnya tersebut terjatuh dan hal itu sontak membuat Andre berteriak memanggil para Dokter untuk memeriksanya.
Mendengar teriakan tersebut membuat Rifki menutup ponselnya dan memutuskan sambungan telpon tersebut, demi memberitahukan hal ini kepada Rifki membuat Bi Sari harus berusaha untuk mempertahankan kesadarannya.
"Bay! Bay!" Teriak Rifki dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
Bayu yang masih berada dirumah tersebut langsung bergegas untuk mendatangi Rifki yang berteriak dengan penuh kemarahan itu, ia takut terjadi sesuatu dengan Rifki sehingga dirinya berlarian untuk segera menghadap didepan Rifki.
"Ada apa Rif?" Tanya Bayu.
"Tangkap wanita yang bernama Ani, sekap dia dan jangan biarkan dia lolos, siksa dia sampai dia mengaku kemana mereka membawa Nadhira pergi"
"Ani? Pembantumu itu? Baiklah, aku akan membawanya kemarkas dan mengikatnya dengan erat" Ucapan itu langsung dijawab anggukan oleh Rifki dan langsung dilaksanakan oleh Bayu.
Muka Bayu yang terlihat lebam akibat pukulan dari Rifki itu pun tetap bersikap biasa seperti seolah olah rasa sakit dari lukanya itu tidak berarti baginya, dengan tegasnya ia melangkah pergi untuk mencari orang yang bernama Ani tersebut.
Karena Ani yang masih tidak sadarkan diri itu dengan mudah diikat oleh Bayu, Bayu pun menyuruh Fajar untuk membawa wanita itu kemarkas dan menyiksanya sampai dia mengaku kemana orang orang itu membawa Nadhira pergi.
"Wanita jahanam! Gara gara kau kami dipukuli seperti ini, lihat nih muka kami semua, awas saja ya kau! Dendam aku dengan dirimu itu" Ucap Fajar yang kini tengah berada dimobil yang disopir oleh Rehan, anggota Gengcobra.
"Pukuli balik aja Jar! Lagian Tuan Muda juga memerintahkan kita menyiksanya" Ucap Rehan yang fokus menyetir saat ini.
"Ngak asik, dia belom sadar dan ngak akan ngerasa sakit, kalo sudah sadar saja nanti akan ku gintes nih orang dan ngak akan aku ampuni"
"Mantap"
*****
Nadhira terbaring disebuah tempat tidur yang terlihat seperti bangkar rumah sakit dengan kedua mata yang terpejam, tak beberapa lama kemudian ia pun mengernyitkan keningnya pertanda bahwa dirinya akan sadarkan diri.
Nadhira merasakan bahwa tangan dan kakinya saat ini sedang diikat oleh benda yang sangat kuat, dengan perlahan lahan dirinya mulai membuka kedua matanya.
Ia melihat sekelilingnya yang begitu asing baginya, entah sejak kapan dia terbaring ditempat ini dengan tubuh yang sudah ditutupi dengan selimut sampai didadanya, ketika ia menggerakkan tangannya ia baru menyadari bahwa dirinya sudah diikat.
"Dimana aku? Kenapa aku diikat"
Nadhira sama sekali tidak bisa menggerakkan tangannya ataupun kedua kakinya, dirinya merasakan bahwa adanya sebuah benda yang masuk kedalam area bahwanya, Nadhira menduga bahwa itu adalah alat kateter urine.
__ADS_1
"Rifki, aku takut"
Ruangan itu terlihat seperti kamar rumah sakit akan tetapi begitu banyak alat untuk pasien hamil disana seperti alat USG dan lain sebagainya, dan yang membuat Nadhira merasa aneh adalah kenapa tangan dan kakinya diikat seperti ini.
"Selamat datang dirumahku cantik" Ucap seseorang yang baru saja datang.
"Siapa kau? Kenapa kau mengikatku seperti ini? Apa yang kau inginkan dariku? Lepaskan aku!"
"Jangan takut, aku hanya menginginkan anak yang ada didalam perutmu itu"
"Tidak, aku tidak akan membiarkan dirimu mencelakai anakku, lepaskan aku"
Orang laki laki itu pun memegangi dagu Nadhira dengan erat, melihat itu pun membuat Nadhira mengepalkan tangannya dengan kuat, lelaki itu pun mengalihkan pandangannya untuk menatap kearah perut Nadhira yang membuncit tersebut dan menyentuh perut Nadhira.
"Apa yang ingin kau lakukan!" Teriak Nadhira.
"Ini mungkin sedikit sakit" Setelah mengatakan itu, lelaki tersebut langsung menekan perut Nadhira.
"Arghhhhhhhh... Lepaskan! Sakit!" Teriak Nadhira kesakitan ketika perutnya ditekan dengan kuat oleh orang tersebut.
"Luar biasa, anak ini sangat kuat"
"Hiks.. hiks.. lepaskan! Aku mohon lepaskan! Sakit!"
Keringat pun membasahi seluruh tubuh Nadhira karena rasa sakit yang ia rasakan itu, wajah Nadhira pun memerah karena menahan rasa sakit tersebut, lelaki itu tak henti hentinya untuk terus menekan perutnya, teriakan memilukan dari Nadhira itu pun memenuhi ruangan yang kedap suara itu.
"Lepaskan hiks.. hiks.. hiks.. aku mohon"
Setelah cukup lama merasakan sakit yang luar biasa itu, akhirnya Nadhira bisa bernafas lega ketika lelaki itu melepaskan pegangannya dari perutnya, tanpa kata kata lelaki itu langsung keluar begitu saja dari dalam ruangan tersebut.
Nadhira pun bermandikan keringat disekujur tubuhnya, udara dingin dari AC tersebut tidak mampu untuk menghilangkan keringat dikeningnya saat ini dengan cepat, tak beberapa lama kemudian masuklah seorang wanita cantik kedalam ruangan tersebut.
"Mbak ngak apa apa kan?" Tanya wanita itu.
"Anda siapa?" Tanya Nadhira yang eskpresinya masih merasakaan sedikit sakit.
"Saya Dokter Lila, saya ditugaskan untuk merawat anda disini"
"Perut saya sakit Dok, hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah seketika.
"Jangan berikan obat itu Dok, saya tidak mau anak yang ada didalam kandungan saya kenapa napa"
"Tapi saya tidak tega melihat anda kesakitan, Mbak"
"Asalkan anak saya baik baik saja, saya tidak masalah jika harus menahan semua rasa sakit itu, yang terpenting adalah kesehatan anak saya, Dok tolong usap perut saya ya, saya tidak bisa melakukan itu"
"Baik Mbak"
Dokter wanita itu lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap perut Nadhira dengan perlahan lahan sesuai dengan permintaan dari Nadhira, merasakan itu membuat Nadhira meneteskan air matanya dikedua ujung matanya.
"Kau harus baik baik saja Nak, kau adalah anak Rifki, kau harus kuat ya Nak, bertahanlah Nak, Papamu pasti akan segera datang untuk menolong kita" Ucap Nadhira dengan linangan air mata.
Usapan lembut tersebut perlahan lahan membuat Nadhira merasa tenang, ia pun memejamkan matanya karena kelelahan untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya itu, melihat Nadhira yang tertidur membuat Dokter cantik itu merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
*****
Fajar dan Andre kini tengah memperhatikan sosok wanita yang sedang keduanya dudukkan disebuah kursi, tiba tiba wanita tersebut mengernyitkan keningnya pertanda bahwa dirinya akan sadar, hal itu tak luput dari perhatian keduanya.
"Kalian!" Ucap Ani yang ketakutan melihat kedua lelaki yang ia ketahui sebagai anak buah dari Rifki.
"Kenapa? Terkejut melihat kami?" Tanya Fajar dengan tatapan tajam kearah Ani.
Tidak biasanya Fajar akan memberikan tatapan seperti itu kepada orang lain, lelaki yang terkenal suka bercanda itu pun terlihat sangat serius dengan tatapan yang mengintimidasi seseorang, ditatap seperti itu membuat Ani langsung bergidik ngeri karena wajah baru tersebut membuatnya takut.
"Tolong lepaskan aku" Cicit Ani pelan seraya meminta untuk dilepaskan.
"Tidak semudah itu!" Ucap Fajar lalu mengeluarkan sebuah cambuk yang cukup besar dan panjang.
"A.. apa yang ingin kau lakukan!" Ucap Ani terbata bata ketika melihat cambuk yang ada ditangan Fajar.
"Sebenarnya aku tidak suka melakukan ini, tapi kau sungguh keterlaluan, kau telah membahayakan nyawa Bi Sari, dan juga bekerja sama dengan orang yang ingin mencelakakan Nadhira"
"Tolong, ampuni aku, aku salah"
"Sebelum Tuan Muda sendiri yang menghajarmu nanti, cepat katakan! Kemana mereka membawa Nadhira pergi?"
__ADS_1
"Aku tidak tau!"
Ctiarr....
"Akh... Aku benar benar tidak tau!"
Ctiarr....
Cambukan demi cambukan diberikan oleh Fajar kepada tubuh wanita itu hingga membuat wanita tersebut meringis kesakitan dan tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, Fajar benar benar melupakan bahwa itu adalah seorang wanita.
Cambukan demi cambukan didapatkan oleh wanita itu, ia pun menangis dengan keringat yang membasahi tubuhnya karena rasa sakit, panas, dan perih kini tengah ia rasakan.
"Aku tidak pernah kasar dengan seorang wanita, tapi kau membuatku seperti iblis, cepat katakan! Dimana Nadhira saat ini" Fajar pun mencengkeram erat dagu wanita tersebut dengan tatapan tajam.
"Aku benar benar tidak tau dimana dia berada!" Teriak wanita itu.
"Masih tidak mau ngaku juga? Ndre tinggalkan dia, biarkan dia mati membusuk disini, jangan beri makan atau minum" Ucap Fajar.
"Kenapa ngak sekalian bunuh aku saja!" Teriak Ani.
"Jika kau macam macam, maka anakmu yang ada dirumah akan menjadi korban" Ancam Fajar.
"Jangan sakiti dia! Dia tidak bersalah!"
Fajar dan Andre sama sekali tidak mendengarkan teriakan dari wanita tersebut, keduanya lalu berlalu pergi dari tempat itu, tempat yang kedap suara dan bahkan sama sekali tidak ada cendela ataupun sela sela udara yang bisa keluar masuknya udara bersih.
Fajar mendapatkan informasi tentang anak dari Ani tersebut melalui yayasan yang ditempati oleh Ani sebelumnya, anggota Gengcobra lainnya juga telah menyelidiki kebenaran dari informasi tersebut sehingga Fajar bisa mengancamnya dengan cara mengikut sertakan anaknya.
*****
"Dhira, kamu dimana sayang? Harus kemana lagi aku mencarimu, ku harap kalian baik baik saja, aku tidak mau kau kenapa napa" Rifki tengah berada dijalanan, ia pun bertanya tanya kepada masyarakat sekitar tapi mereka sama sekali tidak mengetahui orang yang dimaksud.
Rifki terus berlarian tanpa arah untuk memberi wanita itu, sementara Reno pergi kekantor polisi untuk melaporkan penculikan itu, mungkin dengan cara itu Nadhira bisa ditemukan dengan cepat.
"Gimana Nak? Sudah ketemu?" Tiba tiba suara yang tidak asing bagi Rifki itu terdengar.
Sontak hal itu membuat Rifki menoleh kearah sumber suara dan mendapati sosok Aryabima tengah berdiri dibelakang, Rifki lalu mendekat kearah Aryabima.
"Belum Kek" Air mata Rifki seketika lolos begitu saja.
"Kita harus segera menemukannya sebelum terjadi sesuatu dengan Dhira, apalagi Dhira sedang mengandung anakmu Nak, akan sangat bahaya jika anakmu itu bersama dengan orang jahat"
"Kita harus mencari kemana lagi Kek? Rifki takut terjadi sesuatu dengan Nadhira, Rifki sangat mencintai Dhira Kek"
"Apa kamu bisa menggunakan energi keris pusaka xingsi? Coba gunakan Nak, kali aja kami bisa merasakan keberadaannya"
"Sudah Rifki coba, tapi gagal Kek, kekuatan keris itu melemah, sejak anak itu hadir, Rifki tidak merasakan adanya kekuatan itu didalam tubuh Rifki".
"Inilah yang Kakek takutkan selama ini, semoga saja Ratu iblis itu selalu melindungi Nadhira, hanya dia yang bisa merasakan keberadaan dari permata iblis"
"Kek, apakah mereka akan tau bahwa Nadhira juga memiliki permata iblis dalam tubuhnya? Jika mereka tau bagaimana Kek?"
"Mereka tidak akan tau soal itu selama Nadhira memakai kalung itu, kamu tenang saja Nadhira pasti baik baik saja, masih ada waktu untuk mencarinya, mereka tidak akan menyakiti Nadhira selama Nadhira belum lahiran karena yang diincar adalah anaknya"
"Usia kandungan Nadhira sudah 6 bulan, dan hanya ada waktu 3 bulan untuk dapat menemukannya, kita harus bisa menemukannya Kek"
"Selama itu, kita tidak boleh menyerah untuk terus mencarinya sampai ketemu"
"Iya Kek, Rifki tidak akan menyerah"
*****
Setiap 4 jam sekali, Dokter Lila akan mengosongkan kantung kateter urine yang terpasang ditubuh Nadhira, Nadhira yang dirantai tangan dan kakinya itu tidak diizinkan untuk bangkit dari kasurnya walaupun hanya pergi kekamar mandi saja sehingga dirinya harus dipasangkan dengan benda asing itu.
"Dok, apakah kandungan saya baik baik saja?" Tanya Nadhira yang perlahan lahan membuka kedua matanya ketika merasakan kedatangan dari Dokter Lila dikamar itu.
"Ada apa Mbak? Apa ada yang sakit?" Tanya Dokter Lila kepada Nadhira.
"Saya tidak merasakan dia menendang sejak tadi Dok, tolong periksa kandungan saya Dok, saya takut anak saya kenapa napa"
"Baiklah, saya akan memeriksanya"
Dokter Lila itu langsung mengeluarkan peralatan medis untuk memeriksa kandungan Nadhira, seteleh ia langsung memeriksanya, Nadhira sendiri kini terlihat sangat lemah, ia tidak bisa berbuat apa apa selain meminta tolong kepada Dokter Lila yang dipaksa untuk merawat Nadhira dan janin yang ada dikandungan Nadhira dengan ancaman akan dibunuh kedua orang tuanya jika dia melawan.
"Janinnya sehat sehat aja Mbak, tapi anehnya sejak tadi dia diam saja"
__ADS_1
"Syukurlah kalau dia baik baik saja, mungkin dia rindu Papanya, biasanya Papanya akan mengusap perutku hingga membuat dia menendang"