
Nadhira begitu berarti baginya, ia tidak bisa membiarkan Nadhira meninggalkannya begitu saja, ia hanya mau Nadhira kembali sehat dan hidup bahagia, hanya kebahagiaan yang Rifki inginkan untuk Nadhira akan tetapi dia sadar bahwa dia sendiri yang merenggut kebahagiaan itu dari Nadhira.
Bertapa hancurnya perasaan Rifki saat ini, bahkan sakit yang ia rasakan dipunggungnya itu pun tidak bisa ia rasakan lagi karena adanya rasa sakit yang lebih parah daripada itu, sehingga rasa sakit dipunggungnya kalah dengan rasa sakit yang ada didalam hatinya.
"Aku tidak pantas hidup lebih lama lagi Bay, aku adalah seorang Ayah dan suami yang kejam, kenapa kau tidak bunuh aku saja sekarang Bay, kenapa harus kau mengobatiku seperti ini, mending kau akhiri saja hidupku saat ini Bay" Ucap Rifki tiba tiba.
"Jangan katakan itu Rif, jika kau tiada maka bagaimana mungkin Dhira bisa bertahan, apa kau tidak sedih melihat semua orang bersedih karena ucapanmu ini? Orang yang paling menderita nantinya adalah Kakek Arya, dia sudah menaruh harapan yang sangat besar kepadamu, tapi kau justru mudah menyerah dengan keadaan, pikirkan tentang perasaan Tante Putri juga"
"Untuk apa aku terus hidup didunia ini Bay, akhiri saja semuanya, aku sangat lelah, aku tidak sanggup untuk melanjutkan hidupku, ini terlalu menyakitkan bagiku, kenapa aku tidak bisa menjadi suami dan Ayah yang baik untuk keluarga kecilku"
"Lelah boleh tapi jangan menyerah begitu saja, sabarlah Rif, doakan saja semoga masalah ini cepat berakhir, bukan hidupmu yang berakhir"
*****
Rifki beserta kedua anak buahnya itu pun langsung bergegas menuju kerumah sakit setelah selesai mengobati luka yang ada dipunggungnya itu, Nadhira sudah dipindahkan keruang ICU saat ini, didepan ruangan tersebut terdapat kedua orang tua Rifki yang tengah duduk ketika melihat kedatangan Rifki membuat Putri langsung mendekat kearah Rifki.
"Bagaimana kondisinya Ma?" Tanya Rifki.
"Nadhira baru saja mengalami kejang kejang Nak, sekarang masih ditangani oleh Dokter" Ucap Putri.
"Apa! Bagaimana bisa Ma?" Rifki terkejut ketika mendengarnya.
"Mama juga tidak tau Nak, tiba tiba Dhira mengalami kejang kejang, waktu Mama menjenguknya tadi Mama melihatnya kejang kejang, lalu Mama panggilkan Dokter untuk memeriksanya"
"Ya Allah, tolong selamatkan Nadhira, ujian apa lagi ini Ma, kenapa harus Dhira yang mengalaminya kenapa bukan Rifki saja"
"Sabar Nak, kita doakan saja yang terbaik untuk Nadhira semoga dia baik baik saja"
Rifki pun menjatuhkan pelukannya untuk memeluk tubuh Putri dengan erat, ini pertama kalinya Putri melihat Rifki begitu rapuh, punggung anaknya itu bergetar menandakan bahwa anaknya tengah menangis sesenggukan.
"Ma, Dhira pasti baik baik saja kan? Rifki tidak akan kehilangan Nadhira kan Ma?" Tanya Rifki dengan nada sesenggukan.
"Dhira pasti baik baik saja, dia wanita yang kuat, dia pasti akan kembali membaik"
Rifki semakin mengeratkan pelukannya kepada Ibunya tersebut untuk mencurahkan segala isi hatinya saat ini, bisa dibayangkan bertapa sedihnya dia saat ini, ia sangat takut kehilangan orang yang paling ia sayangi itu, dan dia juga sudah kehilangan anak yang ia nanti nantikan selama ini.
"Dia membenci Rifki, dia tidak akan pernah bisa memaafkan Rifki, dia menghukum Rifki dengan cara seperti ini Ma, Rifki jahat kepadanya Ma, maafkan Rifki karena Rifki tidak bisa menjaga Dhira dengan baik Ma, maafkan Rifki"
"Rifki tidak salah, yang sabar ya Nak, kita doakan saja semoga Nadhira baik baik saja"
Tak beberapa lama kemudian keluarlah Dokter dan para suster yang tengah menangani Nadhira, Rifki dan Putri bergegas untuk mendatangi mereka demi menanyakan kondisi Nadhira.
"Bagaimana keadaan mantu saya Dok?" Tanya Putri.
"Dia mengalami masa kritis, kami sudah berusaha sebisa mungkin tapi...."
"Tapi kenapa Dok? Apa yang terjadi dengan Dhira? Kenapa Dok?" Pertanyaan itu meluncur dari mulut Rifki dengan air mata yang menetes.
"Dia seakan akan tidak mau merespon kami semua, dia merasa seperti tidak ada gunanya dia hidup lagi, dan dia tidak mau hidup lagi meskipun kita sudah berusaha untuk menolongnya"
"Tolong lakukan sesuatu untuknya Dok, anda harus bisa menyelamatkan Nadhira bagaimanapun caranya itu, Nadhira harus selamat" Rifki memohon.
"Berbicaralah kepadanya, mungkin saja dia mau mendengarkan ucapan kalian, mungkin dia akan merespon ucapan kalian sehingga dia mau bangkit dari kondisi kritisnya"
Kedua orang itu langsung bergegas untuk masuk, akan tetapi Dokter menyuruh mereka hanya satu orang yang boleh masuk sehingga Putri memilih untuk menemui Nadhira lebih dulu, Putri melihat tubuh Nadhira yang terbaring lemah diatas bangkar rumah sakit tersebut.
Putri pun duduk dikursi yang disediakan oleh rumah sakit tersebut disebelah Nadhira, ia memandangi wajah Nadhira yang sayup dengan selang oksigen yang terpasang dihidungnya itu, Putri pun mencium kening Nadhira dengan penuh kasih sayang.
"Bangunlah Nak, ceritakan semuanya kepada Mama apa yang kamu rasakan, kau boleh membenci Rifki tapi tolong jangan tinggalkan Mama, Mama sangat menyayangimu Nak, bangunlah demi Mama, kamu pasti kuat untuk menghadapi semuanya, jangan menyerah begitu saja Nak, Mama mohon kepadamu bertahanlah,
__ADS_1
Mama yakin bahwa kau adalah wanita yang kuat, wanita yang tangguh, bertahanlah demi Mama, Mama tidak mengizinkanmu pergi Nak, jangan tinggalkan Mama, meskipun Mama bukan Mama kandungmu tapi Mama menyayangimu dengan tulus, bangunlah Nak, jangan menyiksa Mama seperti ini,
Bangunlah Nak, bicara dengan Mama, Mama pasti akan menghukum Rifki kalo kamu tidak mau bangun, Mama sudah menganggapmu seperti anak Mama sendiri, kau boleh menyiksa Rifki tapi jangan kau menyiksa Mama juga, apa salah Mama kepadamu Nak, sehingga kau tidak mau berbicara kepada Mama saat ini,
Dhira sayang, kau harus bangun, bukan demi Rifki tapi kau harus bangun demi Mama ya Nak, Mama mohon kepadamu Nak, kau pasti bisa melewati masa kritismu Nak, Mama yakin"
Setetes air mata Nadhira pun mengalir dari ujung matanya ketika Putri mengatakan itu kepadanya akan tetapi Nadhira tidak menunjukkan responnya terhadap Putri, Putri pun kembali mendekatkan wajahnya diwajah Nadhira, ia pun mengecup kening Nadhira dengan penuh kasih sayang.
Kecupan itu begitu lama, air mata Putri pun jatuh mengenai Pipi Nadhira dan mengalir menuju ke telinga Nadhira, entah Nadhira mendengar atau tidak ucap Putri akan tetapi air matanya juga mengalir dari ujung mata kirinya.
"Dhira harus sembuh, demi Mama Putri, Mama Putri sangat menyayangi Nadhira, Dhira tidak pernah sendirian Nak, disini ada Mama yang akan selalu ada untukmu, Dhira harus kuat ya Nak" Bisik Putri.
Putri tidak kuasa menahan rasa sesak yang ada didadanya, ia pun bergegas pergi dari tempat itu untuk membiarkan Rifki masuk menemui Nadhira, Putri menutup pintu tersebut dengan perlahan lahan hal itu membuat Rifki mendekat kearahnya.
"Bagaimana Ma?"
"Masuklah, lihatlah sendiri Nak, dia bahkan tidak merespon ucapan Mama"
"Iya Ma, Rifki akan masuk"
Setelah memakai APD yang disediakan ditempat itu, Rifki pun masuk kedalam ruangan tersebut dengan linangan air mata, ruangan serba putih tersebut membuat jantung Rifki berdetak kencang apalagi ketika melihat tubuh Nadhira terbaring lemah diatas sebuah bangkar.
Rifki memandangi tubuh Nadhira yang terbaring dengan penuh peralatan medis yang melekat pada tubuhnya itu, dia lalu mendekat kearah Nadhira dengan perlahan lahan dan terus memandangi wajah orang yang ia sayangi itu.
"Sayang, aku datang"
Rifki mengusap pelan puncak kepala Nadhira, ia mengusapnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, ia mengecup lama kening Nadhira berhadap bahwa Nadhira merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Rifki tersebut.
"Sayang, apa kau tidak mau bangun untuk melihatku sebentar saja? Maafkan aku, iya aku salah, ini semua salahku, kau boleh menghukumku, tapi jangan seperti ini, hukuman ini terlalu berat bagiku, aku mohon sadarlah sayang, aku mohon kepadamu" Rifki pun menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Nadhira yang terbaring tidak berdaya itu.
Rifki dapat merasakan detak jantung Nadhira yang melemah ketika telinganya ia dekatkan didada Nadhira, hembusan nafas Nadhira pun terlihat sangat lirih, dan memang benar Nadhira tidak mau melawan masa kritisnya.
"Sayang, maafkan semua kesalahanku, aku egois, tolong bukalah matamu sayang, kau tidak mau melihatku lagi kan? Maka kau tidak perlu melihatku lagi, tapi kau harus tetap hidup untukku, ini sangat menyakitkan bagiku Dhira, kenapa kau menghukumku seperti ini beratnya?,
Biarkan aku yang menggantikan posisimu, bangunlah sayang aku mohon, setelah kau sadar nanti kau boleh untuk membunuhku untuk mengutarakan rasa sakit hati yang kau rasakan kepadaku, nyawaku tidak berarti bagiku jika kau pergi meninggalkanku seperti ini sayang,
Bangunlah demi diriku, aku mohon Dhira, kenapa kau begitu menyiksaku seperti ini? Apakah kesalahanku kali ini tidak bisa untuk mendapatkan maaf darimu? Ini sangat menyakitkan Dhira, aku sangat terluka,
Kau satu satunya penyemangatku Dhira, kalau kau pergi bagaimana dengan diriku? Aku tidak bisa hidup tanpamu Dhira, bangunlah sayang aku mohon kepadamu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian dengan benar, maafkan kelalaianku Dhira,
Andai saja waktu itu aku tidak meninggalkanmu dirumah, mungkin saat ini tidak akan pernah terjadi, aku sangat menyesal Dhira, tolong jangan menghukumku seperti ini, aku juga merasa kehilangan anak kita, aku tidak bisa kehilanganmu lagi sayang,
Kau tau Dhira? Sejak kau hadir dalam hidupku aku dapat merasakan indahnya cinta, jika kau pergi meninggalkanku maka dengan siapa aku akan bahagia? Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu didalam hatiku, selamanya tidak akan ada yang bisa melakukan itu,
Dhira, bangunlah sayang, aku mohon kepadamu kembalilah sayang, apa kau tidak ingin hidup bersama dengan diriku lagi? Aku telah menorehkan luka paling dalam untukmu, dan aku tidak pantas lagi untuk hidup didunia ini,
Jika kau pergi meninggalkanku saat ini, maka aku juga akan mengakhiri hidupku sendiri Dhira, aku tidak bisa hidup tanpamu disisiku, kau adalah pelita penerang dalam hidupku, jika pelita itu pergi maka hanya ada kegelapan dalam hidupku"
Rifki mengecup kening Nadhira lagi dengan begitu sangat lama, isak tangisnya itu pun tidak mampu untuk ditahannya, ruangan yang kedap suara itu membuat tangisan Rifki mendengung didalamnya hingga terdengar sangat memilukan.
"Dhira bangunlah sayang, kau harus bisa melewati masa kritis ini, jangan tinggalkan aku, aku mohon kepadamu sayang, aku telah gagal menjadi seorang Ayah sekaligus suami yang baik untuk kalian, maafkan aku sayang,
Aku harus menebus kesalahanku seperti apa lagi sayang? Agar kau bisa memaafkanku, aku benar benar meminta maaf kepadamu, aku mohon jangan tinggalkan aku sayang, apa kau sama sekali tidak mau melihatku?
Jika kau pergi, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri Dhira, aku telah gagal melindungimu dan membahagiakanmu sayang, aku gagal menjadi seorang suami yang baik untukmu dan juga gagal menjadi Ayah yang baik untuk anak kita, maafkan aku,
Aku tau dosaku ini tidak akan pernah bisa terampuni, lalu apa gunanya aku hidup Dhira? Apa gunanya aku bernafas jika tidak bisa menjadi yang terbaik untuk istri dan anak anakku, maafkan semua kesalahanku sayang, maafkan aku"
Rifki pun melepaskan pelukannya itu, ia lalu menggenggam erat tangan Nadhira yang terasa sedikit dingin itu, ia melihat diujung mata Nadhira terlihat adanya sebuah air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Rifki lalu menghapus air mata tersebut dengan ibu jarinya, ia lalu menciumi tanya Nadhira berhadap bahwa wanita itu akan membuka kedua matanya untuk menatap kearahnya.
Mata yang indah tersebut kini tengah tertutup dengan rapatnya, ia sangat merindukan sosok Nadhira yang selalu ceria dan selalu menganggu dirinya itu, mengingat hal itu membuat air mata Rifki meluncur dengan derasnya.
"Cepatlah bangun kesayanganku, aku sangat merindukan dirimu sayang, aku mencintaimu, ana uhibuka fillah zaujati" Bisik Rifki ditelinga Nadhira.
****
Dibawah alam sadar Nadhira, Nadhira kini tengah menangis seorang diri ditengah tengah kegelapan, ia duduk sambil memeluk lututnya dengan erat dan juga membenamkan wajahnya diantara lututnya, ia tidak mau kembali ke dunia lagi.
"Semuanya jahat, aku benci semuanya! Aku tidak mau kembali, aku benci semuanya, aku benci!" Teriak Nadhira dibalik kedua lututnya.
Tiba tiba sebuah cahaya putih mendekat kearahnya, seorang wanita cantik pun mendekat kearah Nadhira dan menyentuh pundak Nadhira perlahan, hal itu membuat Nadhira mendongak menatap kearah wanita tersebut.
Wanita itu membantu Nadhira untuk bangkit berdiri dari duduknya, ia memegangi tangan Nadhira dengan eratnya, Nadhira hanya berdiam diri beberapa saat sambil menatap kearah wanita yang nampak sedikit muda itu.
"Kenapa menangis sayang?" Tanya wanita itu.
"Oma" Ucap Nadhira lirih.
"Kenapa? Sini cerita sama Oma, siapa yang berani menyakiti kesayangan Oma? Katakan kepada Oma" Ucap Sarah dengan lembut kepada Nadhira.
"Semuanya jahat Oma" Nadhira lalu menghamburkan pelukannya ketubuh Sarah, "Aku benci semuanya Oma, Rifki juga jahat kepada Dhira, Dhira benci dengan Rifki"
"Apa yang telah dilakukan Rifki kepadamu Nak?"
"Dia menginginkan anakku mati Oma, anak yang selama ini aku jaga tapi dia justru menginginkan dia mati"
"Mungkin Rifki memiliki alasan tersendiri Nak, kasihan dia, dia tidak ingin anaknya mati sayang, tapi takdirlah yang telah menentukan segalanya, kita juga tidak tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan mendatang nanti,
Rifki adalah lelaki yang baik, dia tidak seperti itu Nak, percayalah kepada Oma, kembalilah dan temui dia, dia sedang menangis seorang diri dan menginginkan dirimu kembali bersamanya"
"Tidak Oma, aku tidak mau kembali, aku mau ikut dengan Oma saja, aku tidak mau bertemu dengan Rifki lagi, dia jahat"
"Belum saatnya kamu ikut dengan Oma, masih banyak hal yang harus kamu selesaikan Nak"
"Ngak Oma, Dhira ngak mau kembali, Dhira mau ikut bersama Oma saja, Dhira ngak mau hidup lagi, Dhira ngak mau bertemu Rifki, Dhira benci Rifki"
"Jika itu kemauanmu maka ikutlah dengan Oma, kita akan pergi dari dunia ini"
"Terima kasih Oma, karena telah mengizinkan Dhira untuk ikut bersama dengan Oma"
"Apa kau tidak ingin menyampaikan kata kata terakhir kepada Rifki?"
"Tidak Oma, aku tidak mau bertemu Rifki, aku membencinya Oma, orang yang paling aku sayangi kini menjadi orang yang paling aku benci"
"Kasihan Rifki, dia adalah suamimu, jangan pernah membencinya seperti itu"
"Jadi Oma lebih mendukung Rifki daripada aku? Oma sama saja dengan Rifki hiks.. hiks.. hiks.. Rifki telah membunuh anakku Oma, darah dagingku" Ucap Nadhira sambil melepaskan pegangan tangan.
"Tenanglah Nak, jangan marah kepada Rifki, begitu banyak beban yang ia tanggung saat ini, aku harus selalu ada untuk dirinya"
"Aku ngak mau Oma, aku ngak mau bertemu Rifki lagi, hatiku sangat terluka Oma"
"Baiklah ayo jalan"
Sarah pun kembali menggandeng tangan Nadhira untuk pergi entah kemana, akan tetapi tiba tiba langkah kaki Nadhira seakan akan memberat ketika dirinya mendengar suara Rifki yang terus memanggil namanya itu.
Nadhira nampak menundukkan kepalanya dalam karena langkahnya begitu berat saat ini, apalagi dengan suara suara tangisan dari Rifki yang ia dengar itu membuatnya hatinya semakin merasa tidak tenang dan dirinya pun menghentikan lankahnya.
__ADS_1
"Dhira jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Kembalilah sayang, aku mohon" Begitulah suara yang Nadhira dengar.