Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira kenapa?


__ADS_3

Cukup jauh mereka berjalan untuk meninggalkan desa tersebut, dan sampai detik ini mereka belum juga menemukan kontrakan yang disewakan. Ada beberapa kontrakan yang telah mereka temukan, akan tetapi semuanya sudah terisi oleh orang orang yang ingin tinggal mengontrak.


"Kita akan tinggal dimana, Bu?" Tanya Nadhira sambil menerawang jauh kedepan.


"Kita cari kontrakan didekat sini saja, Nak. Mungkin ada kontrakan yang murah nantinya," Ucap Bu Siti.


"Kalian disini saja, biar aku yang nyari kontrakan terdekat dari sini, kalian pasti capek habis berjalan jauh. Apalagi Kak Dhira yang harus jalan sambil menggendong anaknya," Ucap Siska.


"Kamu hafal daerah sini, Sis? Kalo kamu terpisah nanti gimana?" Tanya Bu Siti kepada anaknya.


"Siska ngak hafal sih, Bu. Pasti orang disekitar sini tau tentang halte ini, nanti Siska bakal kemari kok," Ucap Siska sambil menunjuk kearah spanduk yang bertuliskan nama halte bus itu.


"Tapi Sis..." Nadhira tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.


"Tunggu aku disini, aku pasti akan segera kembali," Ucap Siska untuk menyakinkan keduanya.


Siska pun beranjak untuk pergi dari tempat itu sendirian, dirinya pun berjalan entah kemana kakinya akan membawanya untuk terus melangkah. Sambil menunggu kedatangan Siska, didekat situ ada sebuah ATM yang dirinya gunakan untuk menarik uang tunai sebelumnya itu.


"Bu, aku ambil uang dulu ya, siapa tau nanti butuh uang," Ucap Nadhira.


"Kamu masih ada uang untuk masa depan Kinara nanti? Simpan saja, Nak. Kemarin kamu sudah ngambil uang yang banyak," Ucap Bu Siti.


"Masih ada kok, Bu. Dia memberiku uang bulanan yang lebih dari cukup untuk hidup bertahun tahun,"


"Baiklah, Ibu antarkan kesana,"


"Ngak usah, Bu. Ibu disini saja sambil jagain kopernya, biar Dhida sendiri yang jalan kesana, lagian tempatnya juga tidak terlalu jauh dari sini,"


"Baiklah, hati hati ya,"


"Iya Bu,"


Nadhira pun langsung bangkit dari duduknya sambil menggendong anaknya itu, dirinya pun langsung bergegas menuju ke ATM yang berada tidak jauh darinya itu. Sementara Bu Siti tetap ditempatnya sambil memandangi Nadhira yang sedang berjalan sendirian itu, dirinya takut kalo Nadhira sampai kenapa kenapa.


Nadhira yang baru melahirkan itu harus berjalan cukup jauh, dan Bu Siti merasa kasihan dengan Nadhira karena harus mengalami hal seperti ini setelah melahirkan anaknya. 1 jam kemudian, Siska kembali dengan terlihat lesu dan lemas.


"Ada apa, Sis?" Tanya Nadhira ketika melihat wajah Siska yang murung.


"Disekitar sini ngak ada kontrakan, Kak. Jadi kita harus jalan lagi," Ucap Siska.


"Baiklah, mumpung belum larut malam kita lanjut lagi jalannya," Ucap Bu Siti.


"Iya Bu," Ucap Nadhira dan langsung berdiri sambil menggendong anaknya.


"Kakak masih sanggup berjalan? Kakak kan baru lahiran kemarin," Ucap Siska yang khawatir dengan luka jahitan Nadhira.


"Insya Allah," Ucap Nadhira.


Nadhira dan keduanya pun berjalan saat ini, sudah cukup lama mereka berada dihalte itu akan tetapi tidak ada bus atupun angkot yang bisa mereka naiki saat ini. Karena takut kemalaman dijalan akhinya mereka memutuskan untuk terus berjalan, meskipun dengan pelannya karena Nadhira yang baru melahirkan anaknya itu.


Nadhira pun merasakan bahwa dirinya sangat kecape'an saat ini, rasanya seperti jalan yang dirinya lalui tersebut tidak memiliki ujung. Seakan akan setiap langkahnya dirinya merasakan sangat jauh, dan kakinya mulai terasa sangat sakit disetiap langkah demi langkah yang tengah ia lalui.


"Bu, apakah apa kita ngak bisa berhenti sebentar? Kasihan Kak Dhira, dia pasti kecape'an," Ucap Siska kepada Ibunya.


"Kakak ngak papa kok, Sis. Kakak baik baik saja," Ucap Nadhira kepada Siska.


"Siska ngak percaya,"


"Didepan ada masjid, kita berhenti disana dulu ya," Ucap Bu Siti.


"Iya Bu," Jawab keduanya bersamaan.


Siska pun memegangi tubuh Nadhira yang terlihat sedikit oleng karena kecapekan, Nadhira memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Karena baru kemarin dirinya melahirkan dan menghabiskan begitu banyak tenaga, akan tetapi kali ini dirinya harus berjuang untuk terus berjalan.


"Kakak kenapa?" Tanya Siska panik.


"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Bu Siti yang panik.


"Bu, tolong gendong Kinara sebentar ya. Aku takut menjatuhkan dirinya nanti, dia masih bayi dan tulangnya masih belum kuat," Ucap Nadhira dengan wajah pucatnya.


"Baiklah, biar Ibu gendong."


Bu Siti pun langsung mengambil Kinara dari gendongan Nadhira itu, dan langsung menggendong tubuh mungil tersebut. Setelah melihat Kinara aman didalam gendongan Ibu angkatnya itu, kesadaran Nadhira pun hilang. Nadhira hanya melihat kegelapan yang tak berujung disebuah dimensi yang entah ada dimana, Nadhira pun kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan ditempat.


"Nak!" Teriak Bu Siti ketika melihat tubuh Nadhira terkurai tidak berdaya.


"Kak!" Teriak Siska sambil memegangi tubuh Nadhira agar tidak jatuh ketanah.

__ADS_1


"Tolong! Tolong!" Teriak keduanya untuk meminta pertolongan.


Keduanya mencoba untuk meminta bantuan kepada masyarakat sekitar tempat itu, akan tetapi karana disana sedang sepi sehingga tidak ada yang mendengar teriakan mereka yang meminta bantuan tersebut.


Tak beberapa lama kemudian, ada beberapa warga yang mendengar teriakan keduanya itu. Mereka langsung bergegas menuju ke sumber suara untuk melihat siapa yang tengah membutuhkan pertolongan itu.


"Ada apa ini, Bu?" Tanya salah satu warga.


"Anak saya ngak sadarkan diri, tolong bantu kami," Ucap Bu Siti.


"Tolong bawa kerumah saya saja, tempatnya tidak jauh dari sini," Ucap salah satu warga kepada warga yang lainnya.


Mereka pun langsung bergotong royong untuk mengangkat tubuh Nadhira yang sudah tidak sadarkan diri itu. Mereka lalu membawanya pergi dari tempat itu, Bu Siti dan Siska pun mengikuti mereka dari belakang.


*****


"Penarikan lagi 10 juta ditempat yang sama," Guman Rifki ketika menatap kearah layar ponselnya.


"Ada apa, Rif?" Tanya Bayu.


"Butuh berapa lama kita sampai disana?" Tanya Rifki lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Bayu.


"Sekitar 8 jam lagi, Rif. Sepertinya jalanan didepan sangat macet, kita sampai disana bakalan diwaktu subuh nanti,"


"Lama sekali, cari jalan yang lain. Aku ngak bisa nunggu terlalu lama," Perintah Rifki kepada Reno.


"Baik Tuan Muda," Jawab Reno.


Reno pun mencari jalan lainnya sesuai dengan perintah dari Rifki, ia pun masuk kesebuah gang yang memang cukup besar demi menghindari kemacetan yang ada didepannya. Ia semakin yakin bahwa Nadhira memang benar benar masih hidup saat ini, dan Nadhira sendiri yang tengah melakukan penarikan itu.


Karena Reno yang belum pernah masuk ke area sekitar itu, dirinya pun membawa mobil tersebut masuk kedalam sebuah gang yang cukup hanya dilewati oleh dua mobil saja. Ia pun mengandalkan gps, yang akan membawanya ke tempat yang ingin mereka tuju itu.


"Lo mau lewat mana?" Tanya Bayu yang menyadari jalan yang akan dilewati oleh Reno.


"Ngak tau, nih google map nunjukin arahnya. Aku juga ngak tau, belom pernah lewat sini soalnya," Jawab Reno sambil melihat kearah layar ponselnya.


"Sialan lo, Ren. Ini arah malah jauh dari tujuan, putar balik saja. Bisa bisa taun depan kita baru sampai ditempat tujuan," Ucap Bayu.


"Ha? Bagaimana mungkin? Kamu emang pernah lewat jalan ini?" Reno tidak mengerti dengan maksud dari Bayu itu.


"Terus gimana dong?"


"Berhenti bego!" Teriak Fajar yang duduk dibelakangnya itu, dan langsung berteriak disamping telinga Reno.


Cittttttt..


Reno pun langsung mengerem mendadak saat itu juga, dan hal itu langsung membuat seluruh penumpang yang ada didalamnya terbentur didepannya. Begitupun juga Rifki yang ikut terbentur kepada sandaran kursi yang ada didepannya itu, dan langsung bergegas menempelkan tangannya dijidatnya agar tidak terbentur sandaran.


"RENO!" Bentak Rifki sambil memegangi jidatnya.


"Maaf Tuan Muda, ini salah Fajar karena teriak ditelinga saya dengan mendadak, jadi saya reflek menekan rem mobilnya." Reno pun panik mendengar bentakkan dari Rifki.


"Kau dipecat," Ucap Bayu yang juga tengah mengusap jidatnya.


"APA!" Teriak Reno terkejut mendengarnya.


"Keluar dari mobil ini, biar Fajar yang menyetir sakarang," Ucap Bayu.


Reno pun langsung keluar dari dalam mobil itu, begitupun dengan Fajar saat ini. Fajar langsung bergegas masuk kedalam tempat pengemudi, sementara Reno langsung duduk disamping Rifki.


"Ngapain kau masuk?" Tanya Fajar kepada Reno.


"Numpang," Jawab Reno.


"Buang aja dia dijurang nanti," Ucap Bayu.


"Siap Tuan Bayu!" Teriak Fajar.


Fajar pun langsung menjalankan mobil tersebut, meskipun mereka hanya bercanda akan tetapi Rifki sama sekali tidak menanggapinya bahkan tersenyum pun tidak. Kini Reno memandang kearah Bayu, seakan akan tatapannya itu penuh dengan pertanyaan didalam kepalanya.


"Rif, kamu ngak papa kan?" Tanya Bayu kepada Rifki ketika melihat Rifki yang terus memijat keningnya.


"Dhira," Ucap Rifki lirih.


"Rif, ada apa?" Tanya Bayu sambil memegangi pundak Rifki.


"Perasaanku mendadak tidak enak, Bay. Aku kepikiran terus dengan Dhira, tambah kecepatannya Jar!" Perintah Rifki dengan gelisahnya.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda Rifki Abriyanta," Jawab Fajar yang saat ini tengah menyetir mobil tersebut.


Rifki merasa telah terjadi sesuatu dengan Nadhira, sehingga dirinya merasa sangat tidak tenang saat ini. Meskipun dirinya tidak mengetahui apakah Nadhira masih hidup atau sudah tiada, akan tetapi perasaannya begitu kuat untuk mengatakan bahwa Nadhira memang masih hidup.


Rifki pun memegangi cincin pernikahannya, cincin tersebut masih melingkar dijarinya. Ada perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan, Rifki pun memandangi cincin tersebut dengan tatapan sendu yang tercipta diwajahnya.


"Semuanya akan baik baik saja, Rif. Kita akan segera menemukan keberadaan dari Nadhira," Ucap Bayu.


"Semoga saja, Bay. Aku sangat takut dia kenapa kenapa," Ucap Rifki yang masih fokus menatap kearah cincin pernikahannya itu.


"Kurang 5 jam lagi kita akan sampai disana,"


*****


Nadhira pun perlahan lahan kembali membuka kedua matanya, dirinya melihat tempat yang sangat asing disekitarnya itu. Kepalanya masih terasa sangat sakit saat ini, hingga membuat dirinya pun memegangi kepalanya itu.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak." Bu Siti langsung bergegas untuk menghampiri Nadhira saat ini dan langsung membantu Nadhira untuk duduk.


Bu Siti pun langsung mengambil segelas air putih, dan membantu Nadhira untuk meminumnya. Setelah itu, dirinya kembali menaruh gelas tersebut ditempat sebelumnya dirinya mengambilnya.


"Kinara mana, Bu?" Tanya Nadhira.


"Dia masih tidur, untung saja kamu sudah sadarkan diri, Nak. Kami tadi berniat untuk membawamu ke puskesmas jika tidak sadar sadar," Jawab Bu Siti.


"Ini rumah siapa?" Tanya Nadhira sambil memandang kearah sekelilingnya itu.


"Alhamdulillah ada seorang warga yang membantu kita tadi, dan ini adalah rumah salah satu warga sekitar tempat kamu pingsan tadi. Untung saja, mereka sangat baik,"


"Terima kasih Ya Allah, karena telah mempertemukan hamba dengan orang orang baik seperti kalian."


Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara bayi yang sedang menangis. Nadhira pun merasa panik ketika mendengarnya, akan tetapi setelah itu dirinya melihat seorang wanita yang tengah menggendong anaknya untuk masuk kedalam kamar dimana dirinya terbaring saat ini.


"Nara," Panggil Nadhira kepada bayinya.


"Kamu sudah bangun, Mbak? Sepertinya anak Mbak haus saat ini," Ucap wanita itu.


Wanita tersebut langsung memberikan Kinara kecil kepada Nadhira, Nadhira pun segera menerimanya dan memeluk Kinara. Ketika digendong oleh Nadhira tiba tiba bayi mungil itu berhenti menangis, seakan akan dirinya sudah mengetahui bahwa dia sedang digendong oleh Ibunya.


"Anak Mama pintar sekali," Ucap Nadhira dengan senangnya.


Kinara kecil pun mencoba untuk membuka kedua matanya, melihat itu langsung membuat Nadhira bahagia. Bayi mungilnya kini tengah berusaha untuk bisa membuka matanya, itu adalah hal yang hebat bagi Nadhira.


Nadhira pun menyentuh bibir mungil milik Kinara itu, ia melihat gusinya yang belum ditumbuhi oleh gigi tersebut. Bayi tersebut seakan akan mencari sumber air minumnya, hal itu langsung membuat Nadhira tertawa melihatnya.


"Anak Mama haus ya?" Tanya Nadhira.


Nadhira pun memasukkan anaknya kedalam jilbab panjang miliknya, dirinya pun memberikan asi kepada Kinara kecil. Nadhira merasa tenang jika anaknya baik baik saja, disaat seperti ini dirinya akan merasakan kedekatan seorang anak kepada Ibunya.


"Kami dengar kalian sedang mencari kontrakan ya?" Tanya pemilik rumah itu.


Pemilik rumah tersebut terlihat seperti sepasang suami istri yang masih dikatakan muda, karena usia pernikahan mereka masih menginjak 10 tahun.


"Iya Mbak," Ucap Nadhira mengiyakan.


"Saya punya saudara yang punya kontrakan, Mbak. Mungkin Mbaknya minat, letaknya agak jauh sih dari sini dan dekat sebuah panti asuhan. Fasilitasnya juga lengkap, ada 2 kamar mandi didalam dan 3 kamar tidur. Kalo Mbaknya mau, kami bisa antarkan kesana,"


"Untuk biaya sewanya berapa?" Tanya Bu Siti.


"Kalo soal itu saya kurang paham, Bu. Mungkin kalian bisa menanyakan langsung kepada pemiliknya nanti,"


"Iya Mbak, kami minat," Ucap Nadhira.


"Kalo begitu, kami antarkan sekarang ya Mbak, keburu malam,"


Pemilik rumah tersebut langsung bergegas menyiapkan kendaraan yang akan membawanya menuju ke kontrakan. Mereka semua bergegas menuju kehalaman rumah tersebut, tempat dimana pemilik rumah telah menyiapkan sebuah mobil pick up disana.


"Maafkan kami Mbak, kami hanya punya mobil seperti ini saja untuk antar antar barang," Ucap pemilik rumah dengan rasa tidak enak.


"Terima kasih ya, Mbak. Ini juga sudah lebih dari cukup untuk kami naiki," Ucap Nadhira.


"Kalo begitu, mari naik."


Mereka semua pun naik keatas badan pick up yang telah diberi karpet itu. Nadhira sedikit kesusahan untuk naik, akan tetapi langsung dibantu oleh yang lainnya agar dirinya bisa naik. Nadhira sambil memangku anaknya yang tengah dirinya tutupi dengan selimut agar tidak silau itu, ia merasa kasihan dengan anaknya yang baru lahir itu dan harus diusir dari desa atas tuduhan yang sama sekali tidak benar itu.


"Maafin Mama ya, Nak. Kamu harus ikut Mama susah seperti ini," Ucap Nadhira sambil memandangi wajah anaknya yang masih terlihat merah itu.


Nadhira pun mencium kening anaknya cukup lama, melihat anaknya yang masih memejamkan mata tersebut membuat Nadhira merasa sangat rindu dengan Rifki. Mata, hidung, bibir Kinara sangat mirip dengan Rifki tanpa ada kemiripan dengan Nadhira.

__ADS_1


__ADS_2