Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Menghancurkan keris pusaka xingsi


__ADS_3

Rifki pun tertawa mendengar jawaban dari orang tersebut, tawa yang sangat mengerikan. Tawa yang seakan akan mengandung keputusasaan yang teramat mendalam, tidak ada harapan lagi untuk selamat kali ini.


Dirinya tidak bisa berbuat apa apa, apalagi hanya untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut. Ketidak berdaya tersebut membuat energi dari keris pusaka xingsi langsung menyelimuti tubuhnya hingga membuat orang tersebut tidak mampu untuk menyakiti Rifki.


Rifki menoleh kearah tubuh dan tangannya secara bergantian, ia melihat sebuah energi gaib yang tengah menyelimuti tubuhnya itu. Mungkin hanya dirinya saja yang melihatnya, mereka semua tidak mampu untuk melihat cahaya itu.


Pakaian yang dipenuhi dengan darah itu pun perlahan lahan mengering, luka memar dan pukulan sudah tidak Rifki rasakan sakitnya. Energinya pun terasa sedikit bertambah daripada sebelumnya, kini dirinya terlihat sedikit segar.


"Kakek, anda datang," Ucap Rifki pelan.


Bayangan yang transparan kini sedang berdiri didepan Rifki, ia sangat yakin bahwa sosok itu adalah Chandra. Karena wajahnya yang sangat mirip dengan Aryabima, hanya saja bedanya Chandra memiliki tahilalat diwajahnya.


Mendengar ucapan dari Rifki membuat orang tersebut langsung menoleh kearah dimana Rifki menoleh saat ini, akan tetapi dirinya tidak menemukan apa apa disana. Ia pun menatap kembali kearah wajah Rifki yang sedang menampakkan sebuah senyuman.


"Omong kosong apa lagi yang kau katakan? Kakekmu tidak akan pernah datang ketempat ini,"


"Tidak ada yang bisa menghalangi Kakekku untuk datang ketempat ini, perisai apapun itu tidak mampu untuk menghalangi kedatangannya,"


"Kakekmu ada dalam genggamanku, tidak mungkin dia datang kemari,"


"Kakekku akan segera datang, cepat atau lambat dia akan datang ketempat ini,"


Burung burung pun berkicauan dengan saling bersahutan satu sama lain, mereka datang seakan akan tengah membimbing sesuatu untuk mendekat ketempat tersebut. Angin pun bertiup lirih dan terlihat seperti pohon pohon yang tengah melambai lambai, menarik seseorang untuk mendekat.


"Lakukan tugasmu Nak," Ucap Chandra kepada Rifki dan hanya didengar oleh Rifki seorang.


"Baik Kek, aku akan menghancurkan keris pusaka xingsi ini. Aku harap, Nadhira akan baik baik saja tanpa adanya diriku disampingnya,"


Rifki pun melakukan apa yang pernah ia lakukan sebelumnya, yakni menghancurkan secara paksa keris pusaka xingsi meskipun nyawanya yang akan ikut hancur bersama dengan hancurnya keris pusaka xingsi. Rifki pun memejamkan kedua matanya, merasakan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


"Arghhhh!!!" Teriak Rifki.


"Bodoh! Jangan lakukan itu!" Teriak orang yang ada dihadapan Rifki.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki keris pusaka xingsi ini! Arghhhhh... Benda itu harus hancur!" Teriak Rifki kesakitan sambil memejamkan kedua matanya dengan rapat.


Darah mengucur keluar dari ujung bibir Rifki, keringat dingin pun mengalir dengan derasnya disekujur tubuh Rifki. Rifki terlihat sangat lemah saat ini, karena rasa sakit itu semakin membuatnya melemah.


"Papa hentikan!" Teriak seorang anak kecil yang mampu didengar oleh Rifki.


Rifki langsung membuka matanya ketika mendengar teriakan seorang anak kecil itu, ia mencari sosok anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan 'Papa' itu. Akan tetapi, Rifki sama sekali tidak menemukan keberadaan dari anak kecil tersebut.


"Anakku, kau ada dimana Nak? Apakah itu benar benar dirimu?" Tanya Rifki lirih, penuh dengan linangan air mata.


Rifki terus mencari keberadaan dari anaknya tersebut akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya. Rifki pun menghentikan apa yang saat ini sedang ia lakukan, fokusnya teralihkan kepada suara anak kecil yang memanggilnya itu.


"Cepat lakukan, Nak. Tidak ada waktu lagi!" Teriak Chandra yang langsung membuat Rifki menoleh kearah sosok transparan itu.


"Aku ingin bertemu dengan anakku sebentar, Kek. Aku mendengar suaranya,"


"Kau bisa bertemu dengannya nanti. Sekarang, lakukan tugasmu itu!"


"Baik Kek,"


Rifki pun kembali fokus untuk menghancurkan keris pusaka xingsi tersebut, tubuhnya kembali terasa sakit saat ini. Rifki kembali memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa sakit tersebut, Rifki pun menitihkan setitik air mata ketika merasakan rasa sakit tersebut.


"Maafkan aku Dhira, maafkan aku," Ucap Rifki pelan dan tersirat perasaan sedih di lubuk hatinya.


Rifki yakin bahwa kali ini dirinya yang akan pergi telebih dahulu daripada Nadhira, pertemuannya dengan Nadhira pagi itu ternyata adalah pertemuan terakhir bagi keduanya. Rifki menangis ketika mengingat tentang Nadhira, ia bukan menangis karena akan kehilangan nyawa, akan tetapi dirinya menangis karena tidak bisa menepati janjinya.


"Papa! Jangan lakukan itu, jangan dengarkan ucapan mahluk itu," Teriak seorang anak kecil yang lagi lagi menggagalkan fokus Rifki.


Rifki kembali membuka kedua matanya, melihat itu membuat sosok transparan tersebut langsung mendekat kearah Rifki. Ia pun memegangi leher Rifki dengan sangat eratnya, Rifki dapat merasakan rasa sesak nafas akibat apa yang dilakukan oleh mahluk tersebut.


"Kenapa kau tidak segera menghancurkannya!" Sentak mahluk tersebut kepada Rifki.

__ADS_1


"Kakek, apa yang Kakek lakukan? Uhuk.. uhuk.." Rifki pun terbatuk batuk dengan sendirinya.


"Cepat hancurkan keris itu!" Sentaknya kepada Rifki.


"Ba- Baik kek," Jawab Rifki sambil terbata bata.


Rifki pun kembali fokus untuk menghancurkan keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya itu, melihat itu membuat sosok transparan tersebut langsung melepaskan tangannya dari leher Rifki. Rifki mampu bernafas dengan lega kembali, ia merasa bingung kenapa sosok tersebut terus memaksanya untuk menghancurkan keris pusaka xingsi.


Angin pun semakin berhembus dengan kencangnya, burung burung berterbangan menjauh dari tempat tersebut. Rifki kembali fokus untuk menghancurkan keris pusaka xingsi tersebut dengan semampu yang ia bisa, rasa sakit pun menyeruak disekujur tubuhnya.


*****


"Ayah, aku merasa khawatir dengan Rifki saat ini," Ucap Haris dengan gelisahnya.


"Jangan sampai dia berbuat nekat untuk menghancurkan keris itu sendirian, nyawanya bisa tidak tertolong. Jika Rifki melakukan itu, keris itu tidak akan bisa hancur justru orang orang jahat itu akan mudah untuk merebutnya," Aryabima pun merasakan kepanikan saat ini.


"Ayah, lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak boleh berdiam diri begitu saja disini, kita harus segera mencari Rifki,"


"Semoga anggota Gengcobra segera datang kemari dan mengusir mahluk mahluk buas itu. Dan semoga saja, Rifki tidak berbuat nekat,"


"Ayah, aku semakin takut,"


"Aku juga merasa sesuatu yang akan terjadi kepada Rifki, aku hanya takut kalau dia nekat untuk menghancurkan keris pusaka xingsi seorang diri, dia tidak akan mampu untuk melakukan itu,"


"Rifki tidak boleh kenapa kenapa, dia harus baik baik saja, apapun yang terjadi."


"Kita berdoa saja, semoga Nadhira segera sampai bersama anggota Gengcobra, anggota inti Gengcobra mengatakan kalo dia kabur dari rumah,"


"Tapi, dia sedang hamil, Yah. Aku takut dia dan anaknya dalam bahaya,"


"Aku juga takut, tapi kita tidak bisa berbuat apa apa sekarang."


*****


Nadhira seakan akan seperti dibimbing oleh sesuatu yang tidak terlihat, ia sangat merasa yakin bahwa dirinya bisa menemukan keberadaan dari Rifki ditempat itu. Entah mengapa dirinya bisa seyakin itu saat ini, sehingga dirinya begitu berani untuk mendatangi tempat tersebut demi mencari Rifki.


"Jangan sampai ada yang berpencar disini, kalian gadis saling melindungi satu sama lain," Ucap Nadhira memeringatkan kepada anggota Gengcobra.


"Baik Nona Muda, kami akan lebih berhati hati," Ucap mereka secara serempak.


Tanpa Nadhira dan yang lainnya sadari bahwa anggota Gengcobra yang bagian belakang sendiri perlahan lahan mulai menghilang tanpa ada yang tau. Awalnya mereka kesana dengan anggota Gengcobra sebanyak 30 orang, sementara yang 20 orang lagi sedang bergegas untuk kekantor polisi dan membantu Aryabima dan Haris.


Semakin mendekat kearah Desa Mawar Merah. Anggota Gengcobra kini hanya mencapai 20 orang, karena yang 10 itu sudah menghilang entah kemana. Akan tetapi, Nadhira sama sekali tidak merasakan hilangnya anggota Gengcobra tersebut, ia pun terus melangkah maju menuju Desa Mawar Merah.


Ketika anggota Gengcobra sudah berjumlah 15 orang, anggota ke 16 tersebut menarik baju teman yang ada didepannya sehingga hal itu membuat semua orang menyadari akan kehadiran orang lain ditempat tersebut. Sosok berjubah hitam pun muncul dihadapan mereka semua, hal itu langsung membuat Nadhira terkejut.


"Siapa kau?" Tanya Nadhira dengan nada tinggi.


"Kau tidak perlu tau siapa diriku, itu tidak penting."


Anggota Gengcobra yang tersisa itu pun langsung memutari Nadhira untuk menjaga wanita tersebut dari serangan yang akan mengenainya. Anggota Gengcobra langsung bergegas bersiaga untuk menjaga Nadhira, tak beberapa lama kemudian muncullah beberapa orang berpakaian hitam lainnya dari segala penjuru.


"Cepat lindungi Nona Muda!" Teriak Andre.


15 orang tersebut langsung melawan pria berjubah hitam yang kini tengah menyerang kearah mereka. Nadhira kembali berada ditengah tengah pertarungan antara mereka, Nadhira memandangi kearah sekelilingnya yang penuh dengan teriakan pukul dan balik memukul.


Nadhira tidak bisa keluar dari area pertarungan tersebut, anggota Gengcobra berusaha untuk terus melindunginya dengan sekuat tenaga yang mereka bisa. Terlihat bahwa sekawan pria berjubah tersebut memakai senjata tajam sehingga mampu melukai anggota Gengcobra itu.


"Kalian tidak akan bisa menghalangi seorang istri yang ingin menyelamatkan nyawa suaminya!" Ucap Nadhira dengan tegasnya.


Nadhira pun ikut serta bergabung dengan anggota Gengcobra untuk melawan sekawanan pria berjubah hitam. Dengan lincahnya Nadhira merampas senjata tajam milik musuhnya tersebut dan langsung menyerang balik kearah mereka.


Kedua mata Nadhira pun memerah karena menahan amarahnya saat ini, Nadhira menyerang mereka dengan penuh amarah ketika mengingat bahwa Rifki sedang dalam bahaya saat ini. Nadhira tidak akan pernah membiarkan Rifki dalam bahaya, dan dia tidak akan pernah membiarkan siapapun yang ingin berniat untuk menyakiti suaminya itu.


Nadhira sama sekali tidak mempedulikan anggota tubuhnya yang telah terluka saat ini, yang ada didalam pikirannya hanyalah mengenai keselamatan dari Rifki tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri saat ini.

__ADS_1


"Nona Muda, sebaiknya kita segera pergi dari sini, biarkan yang lainnya melawan mereka. Aku takut, kita tidak memiliki waktu lagi untuk menyelamatkan Tuan Muda," Ucap Andre yang sedikit berbisik kepada Nadhira dalam pertarungan itu.


"Habisi mereka secepat, sebelum kita meninggalkan tempat ini, usahakan musuh berkurang," Perintah Nadhira kepada anggota Gengcobra.


"Baik Nona Muda!" Jawab mereka.


*****


Wajah Rifki semakin lama semakin pucat, seakan akan tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya itu. Darah segar miliknya terus merembes keluar dari mulut dan lukanya itu, jika lama lama seperti itu maka dirinya akan perlahan lahan mati karena kehabisan darah didalam tubuhnya.


Jika bukan karena tali yang mengikatnya saat ini, Rifki mungkin sudah tumbang diatas tanah dengan linagan darah yang menggenang memutari dirinya. Kepalanya terasa begitu sangat berat bahkan dirinya sudah tidak mampu untuk menyangganya, sakit itu yang ia rasakan saat ini.


"Maafkan aku, Dhira. Aku sudah tidak bisa pulang, tolong iklaskan kepergianku, sayang. Maafkanlah suamimu ini yang telah mengingkari janjinya, aku harap kau akan baik baik saja. Maafkan aku, kali ini aku tidak akan kembali lagi," Ucap Rifki lirih.


Seluruh tubuhnya terasa sakit apalagi dibagian jantungnya, dirinya merasa bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi saat ini. Ia merasa sedih karena tidak mampu untuk menemani Nadhira lagi, dan bahkan dirinya yang akan pergi lebih dulu daripada Nadhira sesuai dengan janji yang ia ucapkan.


"RIFKI!!" Teriak seseorang dari kejauhan.


Rifki pun mengangkat kepalanya ketika mendengar teriakan tersebut, terlihat sosok Nadhira dan Andre dari kejauhan. Nadhira terlihat bersimbah darah dan terdapat bercak cipratan darah dibaju dan wajahnya itu, terlihat setitik air mata diwajah Rifki ketika melihat sosok orang yang dicintainya datang.


"Jangan lakukan itu, mereka sengaja menjebakmu agar kau kehilangan nyawamu. Tolong hentikan itu, jangan dengarkan ucapan mereka," Ucap Nadhira dengan nafas yang memburu.


Mahluk gaib yang menyamar menjadi sosok Chandra tersebut pun langsung bergerak kearah Nadhira, melihat itu pun langsung membuat Rifki melotot melihatnya. Tiba tiba bandul kalung yang dipakai oleh Nadhira tersebut bersinar merah darah, dan mendadak Nadhira mampu melihat alam gaib disekitarnya itu.


"Kau berani sekali menganggu urusanku!" Sentak mahluk gaib tersebut.


Melihat sosok seorang mahluk gaib yang hendak menyerangnya tersebut langsung membuat Nadhira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena takut. Ia mencoba untuk berlindung dengan kedua tangannya meskipun dirinya tau bahwa itu tidak akan pernah berhasil.


"DHIRA AWAS!!" Teriak Rifki histeris.


Nadhira merasa seperti tidak terjadi sesuatu kepadanya saat ini, sehingga Nadhira memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Ia melihat bahwa mahluk tersebut terpental begitu saja dari hadapannya, mahluk gaib itu langsung berubah wujud menjadi mahluk yang sangat jelek dan menakutkan.


"Dhira," Ucap Rifki ketika melihat bahwa tidak terjadi sesuatu kepada Nadhira.


"Sial! Ternyata permata iblis ada didalam tubuhmu," Umpat seorang lelaki kepada Nadhira.


Mendengar ucapan tersebut langsung membuat Rifki membelalakkan kedua matanya, rahasia yang selama ini dia jaga ternyata rahasia tersebut sudah diketahui oleh orang lain, dan itu artinya nyawa Nadhira akan dalam bahaya saat ini.


"Rifki, aku sudah tau semuanya. Oma pernah mengatakan kepadaku sebelum ia meninggal dunia waktu itu, inilah yang ditakutkan olehnya dan Mama Lia," Ucap Nadhira menatap kearah Rifki.


"Dhira, kenapa kau harus datang kemari?" Tanya Rifki dengan kedua mata yang berkaca kaca.


"Rifki, bagaimana bisa aku membiarkanmu dalam bahaya? Aku tidak mau kau kenapa kenapa, apapun akan aku lakukan untuk melindungimu,"


"Tidak, seharusnya kau tidak datang kemari, kau hanya akan membahayakan nyawamu disini. Aku ngak mau kamu kenapa kenapa Dhira, aku ngak mau itu terjadi,"


"Kita adalah suami istri, Rif. Apapun yang terjadi, harus kita hadapi berdua,"


"Bagaimana kau bisa mendapatkan permata itu?" Tanya lelaki tersebut dengan marahnya.


"Karena aku yang ditakdirkan untuk menghancurkan kedua benda itu, aku adalah keturunan dari Nyi Ratih pencipta keris pusaka xingsi yang sesungguhnya, yang kekuatannya telah terbagi menjadi dua buah benda pusaka."


"Tidak mungkin, bagaimana bisa keris pusaka xingsi dan permata iblis itu adalah kekuatan yang sama?"


"Karena Pangeran Kian yang telah membuatnya terbagi menjadi dua. Dia yang telah mengambil keris pusaka xingsi dari tangan Ayahandanya sendiri untuk melindungi warganya, dia sengaja membagi kekuatan itu untuk melindungi anak kandung dan anak angkatnya. Panji adalah anak kandung dari Pangeran Kian sementara Nimas adalah anak angkatnya, Rifki adalah keturunan dari Pangeran Kian, sementara kau! Kau bukanlah siapa siapa,"


"Tidak mungkin, Kakek Galih adalah anak pertama dari Abiyoga, seharusnya dia yang mendapatkan kekuatan keris pusaka xingsi bukan Chandra ataupun Aryabima"


"Galih adalah anak seorang penghianat! Galih bukanlah anak dari Abiyoga, justru dia adalah anak Danuarta. Sementara Danuarta adalah anak dari Birawa, seorang anak pelayan yang mengabdi kepada Pangeran Kian,"


"Kau hanya memutar balikkan kebenaran saja, dendam lama tidak akan pernah terhapuskan. Nyawa harus dibalas dengan nyawa,"


"Kau benar, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Akan ku tunjukkan kepadamu, dendam seorang Ibu yang kehilangan nyawa putranya sendiri yang bahkan anak itu belum sempat untuk melihat dunia,"


"Kau!"

__ADS_1


__ADS_2